
...***...
Aiden terpana mendengar kata-kata bijak dari istrinya itu yang bersedia memaafkan semua perlakuan nya.
" Kau akan memaafkan ku setelah semua yang ku lakukan?' tanya Aiden tak percaya diri
" Asalkan kau percaya padaku dan tidak meragukan ku lagi, aku akan memaafkan mu. " kata Arrabella serius
" Kenapa..kenapa kau bersikap seperti ini? aku sudah berbuat kasar padamu.. aku tidak mempercayai cinta mu.. seharusnya kau tidak memaafkan ku " Aiden menangis tulus
" Jadi kau ingin aku tidak memaafkan mu? apa itu yang kau mau? " tanya Arrabella serius
Aiden menggeleng dan terlihat malu di depan istrinya.
" Kau melakukan ini semua agar aku memaafkan mu bukan? sudah sudah.. aku sudah memaafkan mu, jadi jangan menangis seperti itu.. nanti kalau para pengawal melihatnya bagaimana? mau ditaruh dimana calon Raja kita ini? Hem.. apalagi kalau sampai Demian dan Lorenzo tau, mereka akan mengejek yang mulia.." kata Arrabella sambil tersenyum dan menyeka air mata yang ada di pipi Aiden dengan lembut.
Melihatnya tersenyum, aku pikir dia sudah baik-baik saja. Tapi masa sih perlakuan ku saat itu dilupakan olehnya begitu saja? aku malu, aku ingin mengubur diriku hidup hidup, bagaimana bisa aku tidak percaya kepada orang yang aku cintai dan meragukan cintanya padaku? aku bahkan berfikiran macam-macam kepada nya, padahal aku sudah mengenalnya cukup lama....aku seharusnya sudah tau bagaimana sifatnya. Tapi kenapa aku seperti ini padanya? dan dia memaafkan ku seolah itu bukanlah masalah yang besar, saat dia tersenyum dan mengatakan hal bijak seperti ini, aku malah merasa malu. Dia sudah menjadi istri yang baik, tapi aku belum menjadi suami yang baik untuknya. Aku menyesal.. ini terakhir kalinya aku mengecewakan nya..
" Yang mulia kenapa kau diam saja?" tanya Arrabella heran melihat Aiden yang melamun
GREP
Pria itu memeluk istrinya, dan lagi-lagi ia menangis. Menangis bahagia, menangis terharu, dan menangis karena menyesal.
" Yang mulia sudah ku bilang jangan menangis' lagi " kata Arrabella yang masih berada dalam pelukan Aiden.
" Aku menyesal.. aku janji ini terakhir kalinya aku seperti ini. Aku sangat.. aku sangat.. berterimakasih karena kau sudah mau memaafkan diriku yang sudah berfikiran kotor tentang mu.. aku minta maaf " kata Aiden penuh penyesalan
" Dalam keluarga tidak perlu ada kata terimakasih dan kata maaf, kau harus ingat itu yang mulia " kata Arrabella tegas
" Aku janji akan selalu mempercayai mu.. aku tidak akan melakukannya lagi "
" Jika kau menyesal, maka perlakukan aku dengan baik dan jaga janjimu itu " kata Arrabella
" Aku janji istriku " Aiden tersenyum
Setelah itu mereka makan malam bersama di meja dan kursi yang sudah disiapkan oleh anak anak buah Aiden.
" Aku tidak tau kalau kau akan terpikirkan cara seperti ini untuk minta maaf " kata Arrabella tak menyangka
" Memangnya kenapa? kau tidak suka?" tanya Aiden
" Aku suka. Hanya saja aku heran, kenapa yang mulia yang tidak romantis ini bisa terpikirkan cara seperti ini untuk minta maaf. Aneh " kata Arrabella tak percaya
" Sebenarnya ini bukan hanya ide ku saja "
" Haa.. sudah kuduga " Arrabella tersenyum sambil memakan kue coklat kesukaan nya
" Jadi kau kecewa ya?"
" Tidak kok, aku suka..tidak peduli ini ide mu atau bukan, didalam nya ada ketulusan hati mu untuk meminta maaf " kata Arrabella
" Ehem.. Bagaimana dengan pangeran Eugene? aku dengar kau sudah membebaskan nya dari penjara " tanya Aiden sedikit tak suka
" Iya, seperti nya pangeran Eugene sudah mulai berubah. Dia bersikap sopan padaku, dan tidak seperti biasanya. Aku harap dia tidak berpura-pura " jawab Arrabella
" Benarkah? " tanya Aiden yang terlihat tidak senang
" Saudara mu keluar dari tahanan, tapi sepertinya yang mulia terlihat tidak senang "
" Bagaimana bisa aku senang melihat pria yang sebelumnya terobsesi pada istriku, akan berkeliaran dengan bebas di sekitar kita?" tanya Aiden heran
" Ya aku tau kau masih marah padanya, tapi cobalah berdamai dengannya. Karena aku juga sudah memaafkannya, aku tidak ingin mempunyai musuh yang nantinya akan menyimpan dendam untukku " kata Arrabella berharap
" Kau sangat tidak ingin punya musuh?"
" Memangnya siapa yang mau punya musuh? Aiden, kau tau kan kalau kehidupan pertama ku sangat tidak beruntung. Karena banyak orang yang membenciku, dendam padaku dan aku berada di dalam kematian berkali-kali. Aku tidak mau mengalami hal yang sama di dalam kehidupan kedua ku kali, tadinya aku berfikir balas dendam pada mereka yang sudah menyakitiku di masa lalu. Tapi, aku rasa itu adalah hal yang buruk menghabiskan kehidupan yang berharga untuk balas dendam. Aku ingin kehidupan yang damai, keluarga yang bahagia, hati yang tentram.."
Aiden tersenyum dan terharu dengan kata-kata istrinya itu. Ia mengatakan bahwa istrinya sangat bijak dan ia memuji sikap istrinya yang berlapang dada mau memaafkan orang-orang yang sudah menyakitinya.
Pria itu memberitahu pada Arrabella kalau Claire sudah benar-benar tiada, karena ia sudah mengeceknya secara langsung. Sungguh diluar dugaan, Arrabella bukannya senang mendengar berita itu tapi malah merasa prihatin dan sedih seperti kehilangan teman nya sendiri. Walaupun Claire dan ia bermusuhan, tapi dulu mereka berteman baik, Arrabella tulus di dalam hatinya ingin Claire berubah, akan tetapi Tuhan tak memberikannya kesempatan untuk hidup lebih lama.
" Sekarang, masalah sudah selesai. Bagaimana kalau kita pergi untuk olahraga malam?" tanya Aiden sambil tersenyum genit
" Olahraga malam?" Arrabella tak mengerti apa maksud pria itu
GREP
" Kyaa !! yang mulia apa yang kau lakukan?!" tanya Arrabella yang kaget karena tiba-tiba saja digendong seperti tuan putri oleh suaminya.
Ia juga malu karena beberapa pengawal dan dayang yang ada di sana melihat pasangan kerajaan itu.
" Istriku, mari kita berusaha lebih keras. Bukankah ini saatnya kita mempunyai anak?" tanya Aiden
__ADS_1
" Kau ini mesum ya ! tapi.. aku juga akan berusaha keras " kata Arrabella sambil tersenyum
" Kalau begitu, ayo kita ke kamar, sayang..." kata Aiden lembut
" Ba..baiklah..." jawab Arrabella gugup
Aiden berjalan sambil menggendong istrinya, semua orang yang melihatnya merasa senang dengan keromantisan dan keharmonisan pasangan itu. Sementara itu, Arrabella menyembunyikan wajahnya di balik dekapan suaminya, karena merasa malu dengan tatapan orang orang di sekitarnya.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan pintu kamar mereka.
KLAK
Aiden meletakkan istrinya di ranjang dengan penuh perhatian, dan kehati-hatian. Pria itu menatap istrinya dengan penuh cinta dan mata yang berbinar-binar seakan menantikan sesuatu. Perlahan-lahan pria itu membuka bajunya, dan kini ia sudah bertelanjang dada di depan istrinya. Wajah Arrabella memerah, ia malu-malu dan tak berani melihat ke arah Aiden yang sedang menatapnya.
Tubuh kekar pria itu kini sudah ada di atas tubuh istrinya yang mungil.
" Kenapa kau malu-malu begitu? ini bukan pertama kalinya lagi untuk kita.. " tangan Aiden membelai rambut pirang istrinya dengan lembut.
" Iya sih, ta..tapi aku masih merasa malu dan takut " jawab wanita itu sambil menunduk malu-malu
" Kalau kau terus seperti ini, kau akan membuatku semakin bersemangat. Apa kau tau?" Aiden membuka resleting gaun yang dipakai istrinya dengan perlahan.
" A..Apa? bersemangat?!!" mata Arrabella terbelalak, ia takut kalau mereka akan seperti yang pertama kali.
" Tenang saja, ini tidak akan sesakit yang pertama kali. " Aiden tersenyum dan meyakinkan istrinya bahwa ia akan bermain lembut
" Baiklah, tolong yang lembut.." lirih wanita itu dengan nada suara yang lembut
Aiden terdiam dan melihat ke wajah istrinya yang cantik, ia melihat bibir merah wanita itu yang menggoda hasratnya.
Hmphh.. hmphh.. haa..
Dengan cepat, Aiden mencium bibir istrinya. Ia sangat terburu-buru, seperti akan ketinggalan sesuatu saja. Pria itu menggenggam kedua tangan istrinya dengan erat, dan mulai memberi hujan ciuman pada tubuh istrinya.
cup
cup
cup
" Ah.. Aiden.. " wanita itu mendesah karena merasa kenikmatan dengan sentuhan Aiden.
Tubuh mereka berdua mulai memanas, napas pria itu mulai memburu. Akhirnya malam itu mereka melewatkan malam yang panas lagi, diiringi dengan kata-kata cinta.
" Aku sangat mencintaimu Naomi.."
***
Pagi itu, di istana Vanders...
Megan terbangun dan samar-samar ia melihat ada seseorang yang sedang tidur disampingnya.
" Eh? siapa?"
Megan mengusap-usap matanya, dan ia terkejut melihat Dominic tidur di ranjang yang sama dengannya.
" Ah !! tidak !"
Saking kagetnya, Megan sampai tergelincir dan hampir terjatuh. Dominic juga kaget, dan ia langsung menangkap Megan ke dalam pelukannya agar wanita itu tidak jatuh.
" Hey ! hati-hati !"
Kini tubuh Megan ada di atas tubuh pria itu dan menindih nya, mereka saling bertatapan satu sama lain.
" Dia cantik juga " batin Dominic
" Dia sangat tampan, bahkan saat bangun tidur pun dia sangat tampan..dan tubuhnya adalah tipeku " batin Megan yang terpesona melihat ketampanan Dominic
Deg
Deg
Deg
" Aku mendengar suara detak jantung yang begitu keras, apa ini suara jantungku? tapi kenapa?" batin Dominic kaget dengan dirinya sendiri
" Ratu, kau tidak apa apa?" tanya Dominic dengan nada lembut
" Megan, apa yang kau lakukan? sadarlah !" batin Megan
Wanita hamil itu beranjak dari tubuh Dominic, ia terlihat gugup. Dominic juga ikutan beranjak dari ranjangnya.
" Yang mulia maafkan saya, saya tidak sengaja"
" Kalau tidak ada aku bagaimana? kau bisa saja jatuh dan terluka, kau harus ingat kalau sekarang kau tidak sendirian !" kata Dominic dengan nada kesal atau mungkin cemas
__ADS_1
" Maaf, saya akan lebih berhati-hati.." kata Megan sambil berkaca-kaca
" Tidak tidak ! aku yang harus nya minta maaf karena aku mengagetkan mu, apa kau ada merasa tidak enak? apa perutmu sakit?" tanya Dominic cemas
" Kyaa!! .. apa yang harus aku lakukan? aku senang dengan perhatian nya " batin Megan senang
" Saya tidak apa apa, bayinya juga tidak apa-apa " jawab Megan sambil tersenyum
" Hari ini aku sedang tidak sibuk, apa kau mau jalan-jalan denganku? sekalian ada yang ingin aku katakan padamu " kata Dominic serius
" Apa yang mau dia bicarakan ya? aku sangat penasaran deh " batin Megan
" Iya, aku mau. " jawab Megan senang
" Tapi, sebelum itu aku ingin dokter istana memeriksa keadaan mu dulu. " kata Dominic tegas
" Iya baiklah "
Beberapa saat kemudian, Megan diperiksa oleh Dokter istana Vanders yang bernama Celia. Dokter itu memeriksa Megan dengan hati-hati, dan itu adalah dokter wanita pertama yang diperkerjakan oleh Dominic, khusus untuk memeriksa Megan.
" Bagaimana keadaan nya?" tanya Dominic
" Ini memasuki usia 4 bulan dan sudah melewati masa masa rentan. Bayinya juga sehat, yang mulia " kata Dokter Celia menjelaskan
" Syukurlah .. bayiku baik-baik saja " Megan lega
" Tetap kontrol kondisi emosional ibu dan bayinya ya, dan jaga kesehatan. Hindari makan makanan yang bisa membahayakan janin " Dokter Celia menjelaskan
Raja Vanders itu tampak serius mendengarkan penjelasan tentang istri dan anaknya dari dokter Celia. Setelah itu Dominic mengajak Megan jalan-jalan ke taman yang sudah ia buat khusus untuk Megan dan bayinya kelak. Wanita itu tidak menyangka bahwa Dominic akan berubah sikapnya dalam semalam.
Meskipun ia masih terlihat dingin, tapi sikapnya mulai berubah dan tidak sedingin sebelumnya. Mungkin pria itu sudah melupakan Arrabella, atau mungkin ia ingin mencoba bahagia dengan takdir yang sudah ditetapkan oleh Tuhan padanya. Setelah mendengarkan penjelasan dari dokter, ia membuat perlindungan untuk Megan di kastilnya dan jadi lebih perhatian pada ibu dari calon anaknya itu. Ia bahkan memperhatikan setiap detail makanan yang dimakan oleh Megan dan kegiatan apa saja yang di lakukan oleh Megan.
Apakah ini adalah awal dari benih cinta mereka?
Suatu hari pasangan Vanders itu sedang duduk di rerumputan taman..
" Apa ada yang ingin kau makan lagi?" tanya Dominic sambil melihat wanita itu dengan cemas
" Tidak ada yang mulia, saya rasa saya sudah tidak mengidam lagi " jawab Megan sambil memegang perutnya
Tiba-tiba saja, Dominic memegang perut Megan. Wanita itu terlihat malu-malu dan tersenyum senang.
" Yang mulia.."
" Maaf, aku hanya ingin merasakan bayi kita " kata Dominic sambil menyingkirkan tangannya dari perut Megan.
" Apa dia merasa tidak nyaman karena perlakuan ku selama ini?" batin Dominic merasa bersalah
" Bayi kita? Sebelumnya dia selalu bilang kalau ini bayinya.. ini pertama kalinya dia mengatakan ini bayi kita.. apa dia mulai membuka hatinya untukku juga?" batin Megan terpana
Megan memegang tangan Dominic dan meletakkan tangan pria itu di perutnya. Dominic terlihat kaget, tangannya seperti kesetrum saat Megan menyentuh tangannya.
" Tidak apa yang mulia, bayi kita senang kok. Malahan ini terasa sangat nyaman saat yang mulia menyentuh nya "
Kupikir aku tidak akan bisa lagi jatuh cinta atau merasakan berdebar-debar selain kepada Arrabella..
Tapi sekarang..
Sepertinya sudah berbeda...
Seperti kata orang, cinta datang karena terbiasa. Terbiasa melihat satu sama lain, terbiasa bersama satu sama lain, dari situlah muncul perhatian yang tidak biasa. Apakah hubungan mereka hanya akan sebatas kontrak?
Raja Vanders itu tiba-tiba membawakan surat kontrak ke hadapan Megan. Wanita itu bingung, apa yang mau dilakukan Dominic dengan surat kontrak itu.
" Ratu Megan.. lihatlah ini baik-baik " Dominic menatap Megan dengan tatapan tajam
SRET
SRET
" Yang mulia !" Megan terpana saat melihat surat kontrak pernikahan mereka dirobek di depan matanya.
" Kenapa dia merobek suratnya? " batin Megan kaget
" Mari kita jalani pernikahan yang sesungguhnya, Ratu Megan "
" Apa? Apa yang dia katakan?!" batin Megan kaget dan tak percaya
Baiklah, mungkin ini awalnya..
aku akan memulai awal yang baru dengan memulai hubungan yang baru dengan ibu dari anakku ..
...---***---...
__ADS_1