Arrabella Twice Lives

Arrabella Twice Lives
Bab 12 Menikmati Pemandangan


__ADS_3

Pesta teh masih berlanjut, dan para gadis bangsawan itu masih bergosip dengan semangat. Berbicara tentang politik, hubungan asmara, perhiasan, dan lain-lainnya. Namun, Arabella terlihat tidak tertarik dengan hal itu. Karena ia akan berusaha menggagalkan dirinya dalam pemilihan kandidat putri mahkota, dan dia tidak ingin Putra mahkota menganggunya lagi. Maka dari itu ia sengaja menyebarkan berita tentang dirinya sendiri yang menyukai seseorang, agar semua orang mendengarnya dan rumornya tentang ia yang menggoda putra mahkota akan menghilang dengan sendirinya.


Arabella pergi ke balkon rumah keluarga Benedict, dan ia melihat Ashton sedang sendirian disana dan terlihat muram.


" Kak Ashton? apa yang kau lakukan disini?" tanya Arabella ramah


" Kau disini juga rupanya? aku baru saja menemui paman, lalu kemari dan melihat pemandangan " jawab Ashton lesu


" seperti nya bukan hanya pemandangan saja yang kau lihat " kata Arabella sambil melihat Ashton yang melihat ke arah Claire


" Apa maksudmu? memangnya apa yang kau lihat?" tanya Ashton gelagapan


" mungkin seorang GADIS. Ayolah kak Ashton, aku bisa melihatnya dengan mata tertutup" kata Arabella menggoda


"Bahkan kau bisa melihatnya? kenapa dia tidak bisa ?" tanya Ashton sedih


" Lalu kenapa kakak tidak cepat bertindak? bukankah bertindak lebih dulu akan bagus untukmu?" tanya Arabella memberikan saran


" Apa maksudmu itu?" tanya Ashton


" Setahuku kakak belum mengungkapkan cinta pada nya secara langsung bukan? hubungan akan berkembang dan berubah kalau kalian saling mengetahui perasaan satu sama lain. " jawab Arabella


" Bagaimana bisa kau memikirkan hal yang bahkan tidak ku pikirkan? seolah kau lebih dewasa dariku, aku tahu kau masih anak-anak ! seorang bocah Beraninya menasehati ku soal cinta ! huhh " seru Ashton sambil cemberut


" Ayolah, ini bukan inti pembicaraan nya kak. Kau mengerti kan apa maksud ku ?" tanya Arabella sambil tersenyum


" Maksud mu, apa aku harus mengungkapkan perasaan ku pada nona Claire?" tanya Ashton mengerti


" Iya itu maksudku " jawab Arabella membenarkan


" Dia tidak akan menanggapi perasaanku, semua orang tahu dia menyukai putra mahkota " kata Ashton tak semangat


" Aku tidak tahu kalau kau ini payah, kak Ashton. Seorang kstaria mana boleh begini " kata Arabella tak senang


" Beraninya kau mengejek kstaria White Knight seperti ku !" seru Ashton sebal


" Bagaimana aku tidak mengejek mu? seorang kstaria yang bahkan tidak berani untuk menyatakan cinta pada seorang gadis. Bukankah itu namanya payah?" tanya Arabella menyindir


" aku diejek seorang gadis kecil? aku ? seorang kstaria?" batin Ashton kesal


" Kak Ashton, aku benar-benar minta maaf dari dalam hatiku. Aku tahu kau akan ditolak olehnya, karena itu aku mendesak mu mengatakan cinta padanya. Itu karena aku hanya ingin kau tahu kalau dia tidak pantas untukmu. " batin Arabella merasa bersalah


" Sudahlah aku mau saja, aku tidak mau berbicara dengan ksatria pengecut " kata Arabella sambil membalikkan badannya


Ashton memegang tangan Arabella dan mengentikan nya. Ia tidak tahu bahwa Megan, Aida dan Camille melihat mereka dari kejauhan dan menjadi salah paham.


" Nona Arabella bilang dia menyukai seseorang, kan?" tanya Aida


" Mungkinkah, Apa dia menyukai ksatria Ashton?( sepupumu) " tanya Camille tak percaya


" Itu tidak mungkin, kak Ashton selalu bilang kalau nona Arabella sudah seperti adik baginya. " kata Megan sambil tersenyum


" Benarkah? tapi mereka terlihat mesra, sampai berpegangan tangan segala. Mereka juga terlihat serasi loh " kata Aida dengan polosnya


" Nona Aida, sungguh bukan seperti itu " kata Megan


" Aku ingin menyangkal apa kata nona Aida, tapi kak Ashton memang terlihat cocok dengan nona Arabella. Apa kak Ashton punya perasaan lebih padanya?" tanya Megan dalam hatinya


Camille terlihat kesal mendengar nya.


" Jadi orang yang disukai calon kakak iparku di masa depan adalah Ksatria Ashton? dia bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kakakku. Tidak bisa, aku harus melaporkan ini pada kakak. Kakakku terlalu lambat dalam cinta, dia selalu mengurusi urusan negara" batin Camille kesal


" tuan putri, apa anda baik-baik saja?" tanya Megan yang keheranan melihat Camille terlihat kesal


" Aku baik-baik saja " jawab Camille dengan nada kesal


" Jelas-jelas kau terlihat kesal " batin Megan merasa tak enak hati


Arabella terlihat membisikkan sesuatu pada Ashton, lalu Ashton tersenyum. Ashton berjalan ke arah Claire dengan membawa bunga 🌹 ditangannya, dan saat itu banyak semua orang memperhatikan nya.


" Kenapa dia berdiri di depanku? mau apa dia?" tanya Claire dalan hatinya


" Nona Claire, aku sudah lama menahan perasaan ini padamu. Aku tidak bisa menahan nya lebih lama lagi, rasanya hatiku akan meledak kalau tidak mengatakan sekarang.. " Ashton memasang wajah serius dengan sedikit senyuman di wajahnya.


Dari kejauhan, Arabella melihat itu dari jauh dan tersenyum senang menyemangati Ashton. Ashton melihatnya dan meneruskan kata-kata nya.


" Sudah sejak lama, aku menyukai mu nona Claire " Ashton berbicara dengan nada lembut dan memberikan bunga 🌹 itu pada Claire. Namun, Claire belum menerima bunga itu di tangannya. Ia terlihat terkejut, terlebih lagi melihat tatapan orang-orang di pesta itu terhadapnya, yang membuatnya makin canggung. Bagaikan Skak mat, Claire bingung ingin berbuat dan mengatakan apa!


" Apa ? jadi tuan Ashton menyukai nona Claire dan bukannya nona Arabella?" tanya Aida kaget


" Kenapa nona Aida berfikir begitu? kan aku sudah bilang " kata Megan tersenyum heran


" Sebenarnya aku juga tidak tahu kalau dia menyukai nona Claire, aku baru tahu sekarang " batin Megan kaget


" Syukurlah ! " Camille yang paling terlihat senang


Ashton membungkukkan badannya dan tersenyum senang. Namun, raut wajahnya berubah saat melihat Claire yang terlihat tegang. Ashton kembali berdiri.


" Aku seperti nya membuatmu terkejut, aku tidak akan meminta jawaban darimu sekarang. Aku hanya ingin kau tau perasaanku padamu, terimalah bunga ini sebagai tanda kau sudah mengetahui perasaanku " kata Ashton lembut


" Seandainya putra mahkota selembut ini juga padaku dan bukannya Ksatria Ashton.." batin Claire berharap


" Tidak ku sangka, orang yang humoris seperti kak Ashton bisa romantis juga. Nah, apa yang akan dibicarakan orang-orang di pesta ini? Claire apa yang akan kau lakukan? Masa, kau akan diam saja?" batin Arabella


Semua gadis bangsawan yang hadir di pesta itu mulai berbisik-bisik tentang Claire dan Ashton. Dan itu membuat Claire tidak nyaman.


" Benar, aku tidak bisa diam saja. Paman Oscar sudah berusaha keras memasukkan namaku dalam kandidat putri mahkota. Jika rumor tentangku dan ksatria Ashton menyebar, aku akan dikeluarkan dari daftar calon itu. " batin Claire panik


" Maaf ksatria Ashton, seperti nya saya harus menjawab pernyataan cinta anda sekarang juga. Saya, sama sekali tidak menyukai anda. Dan anda sudah tahu saya menyukai siapa, saya menghargai perasaan anda tapi saya tidak bisa menerima anda.. " kata Claire tegas. Claire mematahkan tangkai bunga mawar yang di berikan Ashton padanya lalu menginjak-injak nya.


" Tolong, jangan buat orang lain salah paham dengan perkataan anda!" seru Claire sinis


" Jahat sekali, nona Claire menolaknya mentah-mentah " bisik-bisik seorang gadis bangsawan


Ashton terlihat kecewa dan berdiri mematung. Sudah jelas dengan sekali melihat ekspresinya itu orang-orang pun sudah tau bahwa Ashton patah hati.


Claire pamit pulang lebih dulu dari pesta, ia pergi dengan cepat dan terburu-buru. Arabella terlihat sedih dan merasa bersalah melihat Ashton patah hati.


***


Setelah pesta usai, Megan dan Arabella mencoba menghibur Ashton dengan mengajak nya berbicara.


" Berani sekali dia yang hanya anak seorang Count, menolak dirimu yang begitu hebat ini !" seru Megan mencoba menghibur


" Aku tahu Megan berusaha menghiburnya, tapi ini bukan cara yang baik " batin Arabella


" Megan, kau berisik !" seru Ashton kesal


" Maafkan aku, ini salahku kak Ashton " kata Arabella menyesal


" Kenapa kau minta maaf?" tanya Ashton heran


" Karena saran ku, kau jadi dipermalukan. Aku tidak tahu akan begini jadinya, harusnya aku tidak bicara " Arabella merasa bersalah


" Maaf, kak Ashton. Tapi, aku sungguh beneran menyesal " batin Arabella sedih


" Haha.. bukan salahmu aku dipermalukan, ini kesalahanku sendiri. Jadi, jangan salahkan dirimu ya " kata Ashton sambil mengelus-elus kepala Arabella


" Aku bukan anak kecil lagi, jangan pegang-pegang kepalaku seperti itu " kata Arabella merasa sebal


" Baiklah, tidak akan lagi. Aku lupa kau sudah dewasa ya sekarang" kata Ashton sambil tersenyum


" Ternyata kak Ashton bisa sedekat ini dengan nona Arabella. Dan nona Arabella juga bisa menghibur nya. Seperti nya ini bagus juga kalau nona Arabella tidak jadi putri mahkota dan dia bisa ku jodohkan dengan kak Ashton.. " batin Megan senang

__ADS_1


Mereka bertiga mengobrol dengan senang, sambil tertawa. Ayah megan, Viscount Michael Benedict senang melihat mereka dari jauh.


" Anda terlihat senang tuan Viscount " kata seorang pria berkacamata


" Bagaimana bisa aku tidak senang Lance, melihat kedua anakku bahagia " jawab Viscount Michael dengan raut wajah senang


" Saya juga senang melihat tuan Ashton dan nona Megan bahagia " kata Lance dengan senyuman


" Aku merasa lega Ashton berteman dengan putri duke Reese, karena dia bisa membuat Ashton tersenyum dan ceria. Saat kakakku dan kakak ipar ku meninggal dunia, aku sudah berjanji akan menjaga Ashton dengan baik dan membuatnya bahagia. Tapi, aku rasa nona Arabella lebih bisa membuat Ashton bahagia daripada aku " kata Viscount Michael senang


" Anda benar tuan Viscount " kata Lance setuju


***


Arabella terlihat kelelahan setelah pesta, sesampainya di rumah ia langsung merebahkan badannya di ranjang.


" Nona.. nona belum ganti baju .." kata Daisy


" Tunggu sebentar Daisy, aku sangat lelah hari ini. Biarkan aku seperti ini sebentar.. saja " kata Arabella dengan napas yang tersengal-sengal


" Baiklah nona, apa pestanya menyenangkan?" tanya Layla


" Benar,sangat menyenangkan. Ada beberapa kejadian yang membuatku tidak bisa melupakannya " Arabella bernapas lega


Kedua pelayannya itu senang melihat nya tersenyum. Arabella pun pergi mandi dan bersiap-siap untuk makan malam dan menunggu kedua kakak dan ayahnya pulang.


***


Di istana Clarines..


Eugene terlihat sibuk dan lelah setelah mengerjakan beberapa dokumen. Sekretaris nya datang lagi dan membawakannya lebih banyak dokumen yang harus ia tangani.


" Berapa lama lagi ini akan berakhir, Liam?" tanya Eugene kesal pada sekretaris nya itu


" Yang mulia anda akan sibuk dalam beberapa hari ke depan " jawab Liam sambil tersenyum


" Bukankah harusnya aku istirahat lebih dulu sebelum pesta kedewasaan ku ? kenapa aku malah diberikan tugas yang banyak seperti ini !" tanya Eugene kesal


" Hehe.. saya tidak tahu yang mulia saya hanya di perintahkan yang mulia Raja. Oh ya, yang mulia Raja juga berpesan kalau dokumen ini harus sudah selesai sebelum pesta kedewasaan anda " Terang Liam


" Haa.. apa? ini menyebalkan " gumam Eugene kesal


" Apa singa kecil itu sudah menerima semua baju yang ku beli dari toko itu? harusnya sudah kan, aku penasaran ingin langsung melihat reaksinya yang terkejut dan senang menerima baju-baju yang begitu banyak itu, lalu dia akan terpesona padaku ?" batin Eugene merasa percaya diri


" Yang mulia, putri Camille datang menemui Yang mulia, katanya ada hal penting ! " teriak salah satu pengawal Putra mahkota yang berjaga di depan pintu ruang kerja nya


" Persilahkan dia masuk " kata Eugene


Camille berlari terburu buru menghampiri kakaknya. Mereka berdua diruangan kerja Putra mahkota.


" Ada apa Camille, kau tidak lihat aku sedang sibuk? sebaiknya ini penting " kata Eugene terlihat lelah


" Tentu saja ini penting, ini tentang kakak ipar masa depanku. Dan tentang masalah asmara kakakku " kata Camille


" Siapa calon kakak ipar masa depanmu?" tanya Eugene


" tentu saja kakak Naomi " jawab Camille senang


" Dia mungkin tidak akan menjadi kakak ipar mu dimasa depan, jangan bicara sembarangan seperti itu. " kata Eugene seolah tak peduli


" Kakak ini memang keterlaluan, jelas-jelas kau menyukainya. Masih menyangkalnya " kata Camille


" kenapa kau sangat berantusias tentang nya? dan berhentilah memanggilnya kakak Naomi, kau jadi terdengar akrab dengannya " kata Eugene tak suka


" Kakak bertengkar ya dengan kak Naomi? sebenarnya kakak suka tidak sih pada nya?" tanya Camille kesal


" Apa? suka? aku tidak mungkin suka padanya kan? ini hanya rasa kesenangan karena aku bisa menganggunya, ini ketertarikan biasa. Ya aku hanya suka menganggunya itu membuatku senang.. " batin Eugene bingung


" Jadi begitu ya, kalau begitu aku tidak bisa berharap banyak darimu. Tadinya aku punya info penting tentang percintaan kak Naomi, karena kau tidak tertarik. Aku pergi saja " kata Camille terlihat sedih


" A..Apa kau bilang? berita tentang siapa?" tanya Eugene


" Sudah ku duga, kakakku ini memang payah dalam urusan asmara. " batin Camille


" Selamat malam yang mulia putra mahkota, maaf menganggu waktumu " kata Camille pamit


" tanpa izinku kau tidak bisa pergi begitu saja, teruskan dulu kata-kata mu itu !" seru Eugene kesal


Camille tersenyum menang melihat Eugene yang penasaran tentang Arabella. Camille menceritakan semua yang terjadi di pesta minum teh tadi sore.


" Apa? kau bilang dia menyukai seseorang? maksud ku apa dia benar-benar bilang begitu?" tanya Eugene kaget


" Iya, dia bilang sendiri di hadapan semua orang. Bahwa dia mempunyai seseorang yang disukainya " jawab Camille


" lalu apa kau tau siapa ?" tanya Eugene penasaran


" Rupanya kakakku ini sangat penasaran ya, kau ingin tau saja atau ingin tau sekali ?" tanya Camille menggoda


" Aku tidak ingin tahu, sudahlah kau pergi saja " kata Eugene gugup


" Kenapa aku penasaran padanya dan ingin tahu siapa yang dia suka? memangnya dia siapa?" batin Eugene kesal


" Sudah jelas kau penasaran pada nya. Kakak kalau kau menyukai nya suatu hari nanti, aku tidak keberatan, aku menyukai dia, kalau dia jadi kakak ipar ku aku akan sangat senang" Camille tersenyum senang


" Kau ini bicara apa? anak kecil jangan bicara sembarangan, kembalilah ke kamarmu ini sudah malam " kata Eugene lembut


" Haa. baiklah.. setidaknya kau harus berterimakasih padaku dong, aku sudah memberimu informasi berharga " kata Camille merasa sebal


Camille keluar dari ruangan kerja Eugene. Setelah itu Eugene melamun dan mulai memikirkan Arabella.


***


Keesokan harinya, Arabella sendirian di ruang makan dan terlihat sedih, kedua pelayan nya melihatmu dengan cemas.


" Bibi Daisy, nona pasti sedang sedih kan karena tuan Duke, dan kedua tuan muda tidak pulang tadi malam " kata Layla pada Daisy


" Iya, kau benar Layla. " kata Daisy


" Aku tahu ini akan terjadi saat mereka sibuk di perbatasan, di masa lalu juga begitu. Sudahlah, asalkan mereka baik-baik saja aku sudah tenang. Syukurlah, kak Peter mengirimkan pesan agar aku tidak cemas " Batin Arabella sedih


Arabella memakan sarapannya sendirian dan a mulai merasa kesepian. Layla dan Daisy tiba-tiba bertanya tentang gaun yang dikirimkan oleh putra mahkota.


" Gaun itu? kalian boleh memiliki nya, menjualnya juga boleh " kata Arabella dengan santainya


" Apa? nona mana bisa kita melakukan itu?" tanya Daisy kaget


" Kalau begitu buang saja " jawab Arabella


" NONA !" Daisy dan Layla semakin terkejut


" Aku tidak mau gaun nya, dan juga aku sudah punya banyak gaun. " kata Arabella cuek


" Nona, bukankah tidak sopan menolak pemberian putra mahkota dengan menjualnya atau membuangnya?" tanya Daisy


" Ah baiklah, kalau begitu siapkan beberapa kereta dari mansion. Dan antarkan kembali gaun-gaun itu ke Istana putra mahkota " Arabella memberikan perintah


Daisy dan Layla terkejut mendengar perintah Arabella dan tak bisa berkata apa-apa lagi.


" Tenang saja, jika putra mahkota marah. Aku akan menghadapinya. Salah sendiri orang itu membuat rumahku menjadi toko baju" kata Arabella merasa sebal


" Nona.. " Daisy dan Layla memelas


" Ini perintah, kalian tidak bisa membantahku !" seru Arabella tegas " Dan juga, jangan membela putra mahkota di depanku, aku tidak suka "

__ADS_1


***


Di camp latihan pedang, Aiden sedang melatih para muridnya berlatih pedang dengan semangat. Arabella dan Felix melihatnya.


" Felix lihatlah, bukankah guru bertopeng sangat hebat?' tanya Arabella


" Meskipun saya kurang menyukai guru nona, tapi saya akui beliau memang hebat " jawab Felix


" Ayolah Felix, sebenarnya guru itu baik kok. Hanya saja dia memang terasa dingin hehe " Arabella tersenyum


" Tetap saja saya kurang suka padanya nona " kata Felix


" Oke oke. Tapi, cobalah berteman baik dengannya. Kau juga akan belajar pedang bersama denganku juga dengannya " kata Arabella


" Saya juga ikut ?" tanya Felix heran


" tentu saja, ini juga bermanfaat untuk meningkatan kuaitas berpedang mu " jawab Arabella


" Haa.. nona .. " kata Felix sambil menghela napas


" jangan membantah ku, ini perintah!" Arabella tersenyum


Aiden melihat Arabella dari jauh, juga ke dua teman nya.


" Nampaknya ada yang tidak senang melihat orang bahagia ya, Lorenzo " kata Demian sambil mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Aiden yang bermuka masam.


" Demian, aku tidak mau terkena masalah karena omong kosong mu " kata Lorenzo malas


" ayolah Lorenzo, bersemangat sedikit. Ini pertama kalinya aku melihat Yang mulia terlibat dalam masalah percintaan. Dulu aku berfikir kalau suatu hari yang mulia mungkin akan menikahi pedangnya dan bukannya seorang gadis " kata Demian senang


" Demian, Lorenzo ! seperti nya aku terlalu lembut pada kalian, hingga kalian bisa mengobrol santai seperti wanita disini " Aiden memancarkan aura kemarahan


" Aku tidak ikut-ikutan yang mulia, Demian saja yang bicara " kata Lorenzo sambil mengangkat tangannya


" wah.. wah kau tidak setia kawan, Lorenzo " kata Demian kesal


" Aku sudah memperingatkan mu kan?" Kata Lorenzo tak berekspresi


" kalian berdua berhenti berdebat ! pergi ke koridor hukuman !" teriak Aiden


*Koridor hukuman artinya tempat para ksatria di camp pedang menerima hukuman dan menjalanankan hukuman


" A..apa?" Demian dan Lorenzo kaget


" Kalian mau membangkangku?!!" teriak Aiden


" Baik yang mulia.. " kata Demian dan Lorenzo tak semangat


" Ini semua gara-gara kau, aku jadi kebawa-bawa kan ?" tanya Lorenzo kesal


" Kau tidak setia kawan ! huhh !" seru Demian marah


Kedua teman setia Aiden pun pergi menjalankan hukuman mereka. Arabella dan Felix menghampiri Aiden.


" Selamat pagi guru " kata Arabella


" Kau sudah datang. " kata Aiden dingin


" Iya, aku siap menerima pelajaran pertamaku hari ini " kata Arabella semangat


" Kau yakin luka mu sudah sembuh?" tanya Aiden khawatir


" Sudah, dokter Louis sudah memeriksaku " jawab Arabella


" Baiklah, kita mulai latihan dasar dulu " kata Aiden tegas


Aiden mengajarkan Arabella cara memegang pedang, memasang kuda-kuda sebelum berpedang dan juga mengatur napas. Arabella mengalami kesulitan dalam memasang kuda-kuda.


" Caramu memegang pedang sudah bagus, tapi caramu memasang kuda-kuda belum cukup baik " kata Aiden


" Aku sedang berusaha guru " kata Arabella sambil jongkok memasang kuda-kuda


Aiden memegang tangan Arabella dan memegang punggung nya agar tidak kaku. Arabella malah semakin kaku.


" Ada apa denganmu? aku mencoba melenturkan badanmu, kenapa kau malah semakin kaku?" tanya Aiden


" ma.. maaf guru.. " Arabella gugup melihat mata Aiden


" Ada apa ini? kenapa aku gugup seperti ini ketika disentuh olehnya?" batin Arabella merasa resah


Aiden melepaskan pegangan tangannya dari Arabella, dan Arabella tiba-tiba oleng.


" Aaakhh !" Arabella berteriak kaget karena tubuhnya tidak terkontrol


" Nona !" seru Felix kaget


Dan pada akhirnya, Arabella terjatuh di atas tubuh Aiden.


" Ini sangat dekat, wajahku dan wajah guru sangat dekat ! kalau dilihat dari dekat bibir guru berwarna merah dan menggoda, tubuhnya terutama dadanya, sangat berotot. Aku semakin penasaran ingin melihat wajahnya " batin Arabella terpesona


" Gawat! bisa-bisa aku terkena serangan jantung mendadak, dia mungkin bisa mendengar detak jantungku yang berdetak tidak benar saat ini. Aku ingin kembali berdiri, tapi aku masih ingin melihat pemandangan ini. Melihat mu dari dekat.. Bulu mata mu yang lentik, mata biru mu yang indah, rambut pirang mu yang terurai panjang, membuat ku sulit berpaling darimu. Bagaimana ini? " batin Aiden panik


Arabella tersadar dan ia kembali berdiri, ia terlihat begitu grogi dan merapikan kembali bajunya. Ia juga membantu Aiden berdiri. Felix menghampiri nya dengan cemas.


" Nona, nona baik-baik saja?" tanya Felix cemas


" Iya aku baik. Guru apa kau baik-baik saja?" Arabella bertanya pada Aiden


" Aku baik-baik saja. Bagaimana bisa kau jatuh dan kehilangan keseimbangan begitu? sudah kuduga kau benar-benar kaku dalam mengatur kuda-kuda mu " kata Aiden marah


" Iya guru, tiba-tiba kaki ku kram tadi. Maafkan aku guru " kata Arabella menyesal


" Tidak apa, kita lanjutkan lain kali " kata Aiden sambil memalingkan wajahnya


" Sepertinya dia.. benar-benar marah, apa aku benar-benar sulit diajari?" batin Arabella sedih


" Guru, kita baru latihan sebentar kenapa kau mengakhiri nya? kau marah padaku?" tanya Arabella sedih


" Aku bukan marah padamu, tapi aku tidak ingin melihatmu sekarang. Kalau tidak jantungku tidak bisa menahannya lagi" batin Aiden panik


" Aku tidak marah, aku akan pergi ke koridor hukuman dulu. Kau beristirahat dulu saja. Kita lanjutkan setelah beristirahat " kata Aiden dingin


Aiden berjalan pergi ke koridor hukuman dan melihat Lorenzo dan Demian sedang menjalani hukuman dengan menyalin peraturan berpedang.


" Yang mulia ! selamat datang yang mulia, anda datang kesini untuk mengakhiri hukuman kami ya?" tanya Demian berharap


" dalam mimpimu, aku kesini untuk melihat sampai mana kalian mengerjakan nya !" seru Aiden


" Saya sudah hampir selesai yang mulia " kata Lorenzo


Aiden membuka topengnya dan terlihat berkeringat.


" Yang mulia, ada apa dengan wajahmu?" tanya Demian kaget


" Aku kenapa?" tanya Aiden cuek


" Kau memerah yang mulia " Demian tersenyum


" Diam kau demian ! mau aku tambah lagi hukuman mu !" seru Aiden mengancam


" Aku tidak tahu akan sesulit ini berada di dekat mu, Bella. Bisa-bisa aku terkena serangan jantung kalau begini terus.. setiap hari aku juga harus bertemu dengannya. Aku bisa meledak, aku ingin sekali memeluknya "


Aiden menutup kembali wajahnya karena malu.

__ADS_1


__ADS_2