
...(Ilustrasi Claire Collete)...
Eugene menatap Arabella dengan tatapan mata yang lembut, namun Arabella bertindak sebaliknya. Eugene bisa merasakan tatapan mata kebencian yang ia lihat dari mata biru gadis yang ada dihadapannya itu.
Bukan hanya mereka yang ada disana, tapi Liam dan Felix juga ada disana. Eugene memberikan isyarat pada Felix dan Liam agar meninggalkan mereka berdua. Felix dan Liam pun menunggu di halaman depan dan meninggalkan mereka berdua untuk bicara.
" Siapa yang membuatmu menangis? Katakan!" tanya Eugene cemas
" Arabella kau harus tenang, jangan tunjukkan kelemahan mu pada nya " batin Arabella
Arabella menyeka sisa air matanya dengan cepat, dan merubah ekpresi nya dalam sekejap. Ia berusaha berakting senatural mungkin dihadapan pria yang ada dihadapan nya itu, dan menyapanya.
" Selamat sore yang mulia " Arabella membungkuk hormat
" Aku sedang bertanya padamu, tidak sopan sekali kau tidak menjawabnya ?" kata Eugene tegas
" Saya rasa saya tidak berhak menjawab pertanyaan yang mulia " jawab Arabella
" Apa maksudmu berkata begitu? kenapa kau tidak berhak?" tanya Eugene heran
" Karena saya bukan orang penting untuk yang mulia, sehingga saya menjawab pertanyaan yang mulia. " Arabella menerangkan dengan tegas
" Kau selalu membuatku kesal dan sekarang kau menatapku seperti itu." kata Eugene kesal
" Dia berbicara lagi omong kosong, saat ini mood ku sedang tidak baik. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Kenapa dia harus datang sekarang?" batin Arabella merasa kesal
" Maaf yang mulia, bukannya saya mengusir yang mulia, jika tidak ada kepentingan mendesak mari kita bicara lain hari " kata Arabella sopan
" Tidak mau, aku mau bicara sekarang denganmu " kata Eugene sambil tersenyum
" Eugene, aku tidak tahu kau adalah orang yang tidak tahu malu " kata Arabella dalam hatinya
Pada akhirnya, Arabella mempersilahkan putra mahkota Eugene masuk ke dalam rumahnya meskipun ia merasa kesal dan ingin sekali mengusirnya.
Eugene meminum teh yang di sajikan oleh Arabella dengan senang, Arabella juga sudah selesai berganti baju.
" Benar sekali, seperti kata Camille. Dia pandai membuat teh " batin Eugene
" Yang mulia, bisa kah anda langsung mengatakan apa maksud anda kemari, dihari ini pada waktu seperti ini?" Arabella menanyai Eugene dengan nada yang tajam
" Sudah kuduga kau sangat berani bersikap seperti ini padaku, aku ini putra mahkota loh " jawab Eugene santai
" Justru karena itu, kenapa anda melakukan ini? Karena anda seorang putra mahkota, anda harus menjaga diri anda sendiri dari rumor yang akan tersebar nantinya kalau anda datang ke kediaman saya seperti ini " tanya Arabella heran
" Aku tidak peduli, rumor yang mengatakan kalau kau akan menjadi putri mahkota, atau tentang aku yang menyukaimu, biarkan saja itu. " kata Eugene tak peduli
" Bagaimana bisa anda tidak peduli? tolong katakan alasan anda mengabaikan semua rumor ini?" tanya Arabella mulai kesal
" Gadis ini, sekarang ia berbicara dengan formal padaku. Sikapnya mudah berubah-ubah " barin Eugene berfikir
" Kenapa aku harus terganggu? memang sudah biasa kalau aku di rumorkan seperti itu, bukan hanya rumor ini saja " kata Eugene terlihat santai
" Tapi saya terganggu, bagaimana anda bisa sesantai ini?" tanya Arabella
" Karena aku menyukainya " jawab Eugene singkat
" Apa? Apa maksud anda?" tanya Arabella tak mengerti
" aku menyukai rumor tentang KITA " jawab Eugene sambil tersenyum
" Terus? apa karena anda menyukainya lalu anda membiarkannya? bagaimana perasaan orang yang anda cintai jika dia mendengar nya?" tanya Arabella sambil tersenyum
" Orang yang aku cintai? siapa maksudmu?" tanya Eugene
" Siapa lagi selain nona dari keluarga Collete. " jawab Arabella dengan santai
" Jadi kau cemburu?" tanya Eugene senang
Arabella tersenyum sinis mendengar nya.
" Haa.. saya sudah mengatakan berapa kali pada anda yang mulia, saya tidak tertarik dengan yang mulia. Mana mungkin saya cemburu pada anda " kata Arabella
" Kau ini memang lain di mulut lain di hati ya " kata Eugene tak percaya
" Anda tidak percaya? saya serius !" seru Arabella
Eugene mencium tangan Arabella dengan lembut seolah menggoda nya.
" Yang mulia.. Kau !!" Arabella kaget dan langsung menarik tangannya
" Lihat, mau berapa kali kau bilang kau tidak tertarik padaku. Aku tidak percaya. Dan walaupun kau bilang tidak tertarik padaku, aku tidak percaya kalau aku tidak bisa membuatmu tertarik padaku nanti " kata Eugene percaya diri
" Anda sangat percaya diri, dan sangat narsis rupanya ya.. saya tidak mungkin akan tertarik pada anda, karena saya tidak akan pernah jatuh ke lubang yang sama lagi " kata Arabella serius
" Jatuh? ke lubang yang sama?" Eugene berfikir
" haha.. sudah kuduga kau pernah memang sangat menyukaiku. Cara mu menarik ulur, aku akui itu sangat bagus. " kata Eugene senang
" Ini sudah mau malam, seperti nya yang mulia punya banyak waktu luang untuk datang kemari. " kata Arabella kesal
" Dia benar-benar berbeda dengan Eugene yang kasar dan dingin. Sekarang dia beraninya menggodaku dan menatapku dengan lembut. " batin Arabella bingung
" baiklah, kau beristirahat lah. Kau juga baru pulang kan? kau pasti lelah, Kali ini aku memaafkan mu masalah baju itu, dan aku harap nanti kau akan menerima hadiah dariku. " kata Eugene lembut
" Aku sangat penasaran dengan mata mu yang selalu menatapku dengan penuh kebencian itu, aku ingin bertanya. Tapi aku harus menahan nya untuk sekarang, aku bisa bertanya nanti karena mungkin kau sedang sedih" batin Eugene
" Pembunuh, aku membencimu meskipun kau bersikap lembut padaku. Aku tidak akan tersentuh, hatiku sudah jadi batu untukmu " batin Arabella penuh kebencian
***
Eugene kembali ke istana dan ia terus memikirkan Arabella. Liam, sang sekretaris sekaligus orang kepercayaan Eugene, sampai bingung karena Eugene bersikap lembut pada Arabella dan tidak marah meskipun Arabella bersikap kasar dan tidak sopan padanya.
" Yang mulia, kenapa yang mulia tidak marah pada nona Arabella?" tanya Liam heran
" Liam, sudah berapa lama kau mengenalku?" tanya Eugene tajam
" Kurang lebih 12 tahun, yang mulia " jawab Liam
" Kau mestinya tau kenapa aku tidak bisa marah padanya. Dia adalah pengecualian " kata Eugene dengan penuh perasaan
" saya mengerti yang mulia. Saya bertanya karena saya ingin memastikan perasaan yang mulia, baru pertama kali saya melihat yang mulia memperlakukan seorang gadis seperti ini. Meskipun yang mulia di perlakukan tidak baik oleh nona Arabella, tapi yang mulia tidak menghukum nya. Kalau saya jadi nona Arabella, saya akan merasa terhormat.. " terang Liam jujur
" Iya kan? aku ini sangat berjiwa besar, harusnya dia juga merasa senang karena aku memperlakukan dia dengan cara yang berbeda. Aku bahkan tidak marah padanya, dia itu seperti teka-teki yang sulit aku pecahkan. Aku sangat ingin tahu Liam, apa menurutmu dia membenciku?" tanya Eugene
" Maaf yang mulia, apa anda merasa nona Arabella membenci anda?" tanya Liam bingung
" Ya, aku merasa begitu. Setiap dia malah dan berkata sinis kepadaku, aku juga melihat sorot matanya itu. Seolah berkata padaku bahwa " aku membencimu " Jawab Eugene heran
" Sebenarnya yang mulia, saya juga merasa tatapan nona Arabella sedikit berbeda pada yang mulia. Dia terlihat menyimpan kebencian di matanya untuk yang mulia, tapi matanya juga seperti ada kesedihan saat dia melihat yang mulia " terang Liam jujur
" Kau benar, aku juga merasakan hal yang sama. Itulah sebabnya aku penasaran padanya, aku ingin memecahkan teka-teki tatapan matanya dan sikapnya itu padaku. Apa yang aku lakukan sehingga aku bisa mendapatkan tatapan mata yang seperti itu? Aku tak mengerti .." tanya Eugene pada dirinya sendiri
***
Di kamarnya...
Arabella mulai berfikir tentang kalungnya yang tadi tiba-tiba berwarna merah dan menyala seperti api saat tadi ia bicara dengan Claire.
__ADS_1
" Kenapa kalung ini menunjukkan reaksi aneh saat aku sedang berbicara dengan Claire? aku tidak mengerti.. aku berusaha mengingat ingat siapa yang memberikan kalung ini untukku, tapi kenapa aku tidak bisa ingat? aku harus mencari tau tentang kalung ini dari siapa dan dari mana? Baiklah.. besok aku akan bertemu Claire, dan aku akan melihat apakah kalung ini akan bereaksi seperti tadi atau tidak?" Arabella berfikir keras
Tok tok tok
Arabella membuka pintu kamarnya.
" Nona ! nona ! maaf saya menganggu malam-malam .. " kata Layla dengan wajah senang
" Oh Layla, ada apa?" tanya Arabella
" Tuan duke, tuan muda Ethan dan Tuan muda Peter sudah pulang " kata Layla memberi tahu
" Benarkah? kakak kakakku dan ayahku sudah pulang !!" Arabella kegirangan
Arabella berlari dan langsung menyambut ayah dan kedua kakaknya.
" Ayah, kak Ethan, kak Peter ! aku merindukan kalian !" Arabella memberi pelukan pada Ayah dan kedua kakaknya
" Kami juga merindukan mu nak " kata Duke Reese lembut
" Bagaimana keadaanmu? selama tidak ada kami di rumah?" tanya Ethan ramah
" Aku baik-baik saja, oh ya dan aku sudah belajar pedang loh " jawab Arabella semangat
Ethan, Peter, Duke Reese dan Arabella makan malam bersama-sama. Setelah selesai makan malam, ia pergi ke ruang kerja ayahnya untuk membicarakan suatu hal.
" Apa yang ingin kau katakan nak?" tanya Duke Reese
" Ayah, ini tentang pencalonan kandidat putri mahkota " jawab Arabella ragu-ragu
" Bukankah kita sudah selesai membicarakannya ? kau sudah setuju dan kau punya rencana untuk menggagalkan tes mu nanti " tanya Duke Reese heran
" Iya itu benar ayah, aku berencana seperti itu. Tapi, bagaimana jika putra mahkota menganggu selama tes itu?" tanya Arabella
" Menganggu? maksudmu?" tanya Duke Reese
" Putra mahkota kan selalu mengangguku ayah, aku hanya takut dia akan ikut campur dalam pemilihan putri mahkota. Jadi, ayah harus bantu aku agar dia tidak bisa melakukan itu " kata Arabella serius
" Benar juga, sejauh ini aku melihat putra mahkota menunjukkan ketertarikan nya pada putriku. Bukan hal yang mustahil, kalau putra mahkota akan ikut campur dalam pemilihan ini. Aku tidak ingin putriku terlibat keluarga kerajaan, itu tidak baik untuknya. Akan banyak bahaya ke depannya." Duke Reese berfikir dalam hatinya
" Ayah ? ayah mendengarku kan?" tanya Arabella
" Ayah harus membantumu apa?" tanya Duke Reese
" Tolong buat putra mahkota untuk tidak terlalu ikut campur dalam pemilihan putri mahkota, kalau bisa buat dia tidak bisa ikut campur. Aku akan berusaha sekuat tenaga ku untuk membuatku tereliminasi nanti " Arabella memohon kepada ayahnya itu
" Ayah akan berusaha membantumu, kau tenang saja nak. Maafkan ayah, membuat mu harus berada di dalam daftar nama kandidat putri mahkota " kata Duke Reese menyesal
" Tidak apa ayah, ini demi menjaga nama baik keluarga kita juga. " kata Arabella dengan senang hati
" Baiklah kau cepat tidur, ini sudah malam " kata Duke Reese
" Iya ayah, ayah juga ya. Selamat malam " Arabella ramah
Setelah Arabella kembali ke kamarnya.Duke Reese masih ada di ruang kerjanya. Ia nampaknya sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di dalam hatinya dan itu semua tentang Putra mahkota dan putri nya satu-satunya. Arabella sudah banyak berubah semenjak hari itu, ia tidak manja, cengeng dan kerasa kepala seperti sebelumnya. Ia berubah menjadi lebih dewasa, dan Duke Reese menyukai sifatnya yang sekarang. Tapi, satu hal yang tidak ia mengerti adalah kenapa putrinya yang dulu selalu memuja putra mahkota, kini berubah haluan dan seperti memusuhi putra mahkota. Ia bertanya-tanya, ada apa dengannya atau apa yang terjadi padanya hingga ia memusuhi putra mahkota. Namun, Arabella hanya menjawab bahwa ia tidak begitu terhadap putra mahkota, bahwa ia tidak memusuhinya tapi ia hanya tidak menyukai lagi seperti di waktu ia kecil. Duke Reese merasa mungkin putrinya itu sudah mulai dewasa, disisi lain juga ia merasa takut kalau putrinya semakin dewasa dan akan dihadapkan beberapa masalah yang rumit. Namun ia berharap bahwa putrinya selalu bahagia.
***
Di camp pelatihan pedang, malam itu Aiden sedang duduk di atas genting rumahnya. Demian dan Lorenzo melihatnya dari bawah.
" Yang mulia, apa yang sedang anda lakukan disana?" tanya Demian setengah berteriak
" Demian kau berisik sekali " kata Aiden cuek
" Ini sudah malam yang mulia, musim hujan akan segera tiba. Udaranya akan semakin dingin " kata Lorenzo mengingatkan
" Baiklah, kalau begitu kami bergabung kesana dan menemanimu " kata Demian semangat
" Hey ! tidak usah !" seru Aiden kesal
Tak lama kemudian, Demian dan Lorenzo loncat ke atas genting dan sudah duduk di samping Aiden dalam beberapa detik.
" Demian, seperti nya kau harus latihan lagi ilmu peringan tubuh " kata Lorenzo dengan senyuman tipis nya
" Apa maksudmu? jangan mentang-mentang kau lebih cepat sampai kemari dariku kau bisa meledekku !" seru Demian kesal
" Lorenzo benar, seperti nya kau harus diet " kata Aiden sambil tersenyum
" Yang mulia, apa anda berfikir saya ini gemuk? saya masih lah pria tertampan di Londo !" Demian merasa sedih
" Bahkan yang mulia juga sependapat denganku " Lorenzo tersenyum
Mereka bertiga bercanda dan tertawa bersama, terlihat akur seperti teman yang sesungguhnya. Dalam hati, Aiden bersyukur memiliki teman-teman yang baik dan tulus seperti Lorenzo dan Demian.
" Oh ya, Lorenzo, Demian, besok pergilah ke toko baju " kata Aiden
" Ke toko baju? untuk apa yang mulia?" tanya Demian dan Lorenzo bingung
" Kalian harus membeli baju yang rapi, karena kalian akan pergi ke istana bersamaku " jawab Aiden
" Apa? bukankah hanya yang mulia saja yang pergi?" tanya Demian bingung
" Tentu saja kita juga harus pergi, kita adalah orang terdekat yang mulia pangeran " jawab Lorenzo
" Benar, selain kalian adalah pengawal ku, kalian lebih seperti teman-teman ku. " kata Aiden tulus
" Kami terharu mendengar nya yang mulia " Demian tersenyum. Begitu pula dengan Lorenzo.
***
Keesokan harinya, pagi itu Arabella sedang menyiram bunga di taman nya.
" Daisy, Layla, kau harus ingat ya, ketika aku pergi ke istana jangan lupa menyiram semua bunga-bunga ku yang cantik ini " kata Arabella mengingatkan
" Tentu saja nona, saya akan merawat bunga-bunga dengan baik. " jawab Daisy
" Jadi kita tidak bisa ikut nona ke istana begitu nona akan mengikuti tes calon putri mahkota?" tanya Layla sedih
" Iya benar, disana calon putri harus belajar mandiri. Dan ada pelayan istana juga yang melayani " jawab Arabella
" Oh begitu, padahal saya ingin sekali ikut dengan nona " kata Layla berharap
" Layla, tenang saja aku tidak akan lama di istana hehe" Arabella tertawa kecil sambil memikirkan sesuatu
***
Di kediaman Collete..
" Claire, kau tahu apa harus kau lakukan kan?" tanya Oscar sambil menyerahkan 1 botol aneh pada Claire
" Apakah kita harus melakukan ini paman? " tanya Claire ragu
" Kalau kau ragu, aku tidak akan bisa membantumu menjadi putri mahkota. Kau harus punya ambisi dan keyakinan yang kuat ! melakukan ini hanya hal kecil saja bagimu " kata Oscar mengingatkan
" Baiklah, paman.. " kata Claire sambil menegang botol itu ditangannya
" Paman benar, aku harus mengambil langkah ini demi tujuanku. Aku harus menghancurkan semua orang yang menghalangi langkahku, hanya orang egois yang akan menang di dunia ini " batin Claire
__ADS_1
***
Siang itu, Aiden terlihat sedang menunggu sesuatu. Dari kejauhan, kedua temannya yang bersiap-siap akan pergi ke toko baju melihatnya sedang merenung.
" ada apa dengan yang mulia? " Lorenzo bergumam pelan
" Sepertinya yang mulia sedang menunggu seseorang " jawab Demian
" Tumben kau pintar " Lorenzo mengejek
" Memang kau saja yang boleh pintar! " Demian sebal pada temannya itu
" Aku tahu siapa yang sedang di pikirkan yang mulia " kata Lorenzo
" Melihat nona Arabella belum datang, seperti nya yang mulia sedang menunggunya " kata Demian menebak
" Benar, tumben sekali nona Arabella belum datang?" tanya Lorenzo
" Ngomong-ngomong kenapa kita menanggilnya nona Arabella? bukankah kita harusnya memanggilnya nona Naomi ?" tanga Demian
" Itu hanya di depan nya saja, kita harus berpura-pura tidak tahu identitas aslinya " jawab Lorenzo
" Lorenzo, kelihatan nya yang mulia sangat menyukai nona Arabella ya ?" tanya Demian
" Lebih dari suka, mungkin saja nona Arabella akan menjadi seorang putri untuk yang mulia pangeran di masa depan" Lorenzo tersenyum
Aiden masih tenggelam dalam pikirannya dan terlihat jelas bahwa ia terlihat cemas.
" Kemana dia? kenapa dia belum datang jam segini? apa terjadi sesuatu padanya? " batin Aiden bertanya-tanya
Lorenzo dan Demian menghampiri Aiden dan berpamitan untuk pergi ke toko baju. Lorenzo dan Demian menenangkan Aiden agar tidak mencemaskan Arabella, mungkin Arabella hanya terlambat karena ada urusan mendesak. Aiden berterimakasih kepada kedua temannya yang sudah menenangkannya dan membuat perasannya membaik.
Setelah menunggu 1 jam, Aiden semakin mencemaskan Arabella dan memutuskan untuk pergi melihat keadaan nya.
" Aku tidak bisa duduk dan diam saja, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya dalam perjalanan. Aku akan melihat keadaan nya" kata Aiden resah
" Tidak usah pergi guru " kata Felix yang tiba-tiba muncul di depannya
" Kenapa tuan Cedric sangat mengkhawatirkan nona? apa dia punya perasaan untuk nona?" batin Felix bertanya tanya
" Yah.. aku hanya mencemaskan kalian siapa tahu kalian kesulitan dalam perjalanan. " kata Aiden
" Saya kesini untuk menyampaikan pesan dari nona " kata Felix
" Apa terjadi sesuatu pada Naomi?" tanya Aiden dalam hatinya
Felix memberitahukan bahwa Arabella akan berlatih sore nanti, karena ia
***
Arabella sedang minum teh di kediaman Collete dan mengobrol dengan Claire dengan santai.
" Sebenarnya saya tidak apa-apa, nona Claire tidak usah meminta maaf. Jika aku jadi nona Claire yang mendengar rumor itu, aku juga akan salah paham. " kata Arabella santai
" Dia benar-benar cantik, elegan dan juga cerdas. Tidak heran, putra mahkota mulai tertarik padanya, aku harus bisa mengalahkannya " batin Claire berfikir
" Ternyata nona Arabella sangat baik hati, saya merasa lega mendengar nona mau memaafkan saya. Rumor itu benar-benar tidak berdasar.." kata Claire sambil tersenyum
" Busuk, kau tersenyum seperti itu lagi. Menjijikan " batin Arabella merasa jengkel
" Benar sekali. Tapi, aku sama sekali tidak cemas dengan semua rumor itu. Aku malah merasa cemas dengan mu, nona Claire " kata Arabella dengan nada cemas
" Cemas dengan saya? kenapa? " tanya Claire tak mengerti
" Nona Claire kan dekat dengan yang mulia putra mahkota, dan kalian selalu bersama-sama dalam suatu waktu tertentu. Aku takut, rumor tentang ku dan yang mulia putra mahkota akan menyinggung mu " Arabella menerangkan nya sambil tersenyum
" Ternyata dia menyadari, kalau aku menyimpan perasaan pada Putra mahkota dan mengira kami memiliki hubungan khusus. Bagus, jika dia berfikir begitu " Batin Claire senang
" Seperti nya nona Arabella salah paham, saya tidak memiliki hubungan khusus dengan putra mahkota " kata Claire menyangkal
" Haha.. ayolah, sekali lihat saja aku sudah tau bahwa kau memiliki perasaan pada putra mahkota dan juga kalian pasti memiliki hubungan khusus. Aku ingin menegaskan kepadamu, bahwa aku tidak menyukai putra mahkota dan tidak ada niat menjadi putri mahkota, aku melakukan ini demi nama baik keluargaku. Aku harap kau tidak berfikir negatif lagi tentangku, nona Claire .." terang Arabella sambil meneguk teh nya.
Claire tersenyum puas di dalam hatinya ketika Arabella meminum teh itu.
Suara hati Claire :
" Maafkan aku nona Arabella, demi menjaga keamanan diriku dan menjadi putri mahkota masa depan. Aku akan melakukan segala cara, meskipun aku tahu cara ini salah. Karena setelah ku sadari, kau adalah RIVAL KU yang kuat, salahmu sendiri karena membuat putra mahkota tertarik padamu. Apapun yang kau katakan padaku, itu tidak berguna "
Tiba-tiba, Arabella merasakan sesuatu terjadi pada kalungnya dan ia menyembunyikan kalungnya di balik gaun nya.
" Kalung ini bereaksi setiap aku di dekatnya, kalung ini seperti memperingatkan ku akan suatu hal. Tapi apa?" batin Arabella bingung
Claire menawarkan pertemanan pada Arabella dan ia setuju. Terlihat ada ketegangan di udara saat kedua gadis itu bersalaman sebagai tanda pertemanan.
***
Arabella dalam perjalanan menuju ke camp latihan pedang nya.
" Jelas sekali dia menunjukkan bahwa dia memusuhiku dan aku adalah rivalnya. Kali ini aku tidak akan mudah di bodohi seperti dulu, aku sudah hidup dua kali, dan aku tidak akan kalah dua kali. Kau yang harus kalah kali ini, dan aku yang harus menang, Claire .." Arabella bergumam sendiri
Di dalam perjalanan itu, ia melihat dari dalam kereta nya, seorang nenek-nenek berpakaian compang-camping, yang sedang di pukuli oleh 2 orang pria. Arabella terlihat kesal melihatnya dan ia turun dari kereta.
" Apa yang kalian lakukan?!!" Arabella terlihat kesal
" Nona tolong jangan ikut campur urusan kami " kata Pria 1 dengan wajah sangarnya
" Tentu aku harus ikut campur, karena aku melihat kalian memukuli nenek itu " kata Arabella kesal
" Memangnya dia siapa? nenek mu? haha " kata Pria 2
" Kalian membuat kesabaran ku habis " gumam Arabella pelan
Arabella memukul titik lemah pria yang tertawa itu hingga pria itu jatuh ke tanah. Dengan bantuan kusir, kedua pria itu pun pergi melarikan diri.
" Nona Arabella memang benar-benar sudah berubah, ia tidak sesuai dengan rumor gadis jahat yang selalu dibicarakan orang-orang " batin pak Kusir
Si nenek itu terdiam dengan wajah nya yang tak berdaya. Para pria itu rupanya perampok yang ingin merampok nenek yang terlihat seperti pengemis itu. Arabella menolongnya dan mengobati luka-luka nya dengan penuh perhatian.
Arabella terus berfikir keras, apa yang para perampok itu inginkan dari seorang nenek pengemis? ia keheranan.
" Nona, kau memiliki wajah yang cantik " kata Nenek itu sambil menyentuh pipi Arabella dengan lembut
" Nenek, tolong bersikap sopan kepada nona saya " kata Pak kusir mengingatkan
" Tuan Hugo, tidak apa " kata Arabella santai
" Maafkan saya, saya tidak bermaksud begitu. " kata si nenek dengan nada suara yang lembut, dan terdengar menyesal
" Tidak apa nek, lain kali hati-hati kalau jalan sendirian ya. Saya harap nenek selalu baik-baik saja " Arabella tersenyum tulus
" Terimakasih atas bantuan mu. Kau baik sekali nona. Tuhan selalu memberkati mu, kau akan selalu di lindungi oleh Nya. " kata Nenek itu sambil tersenyum
" Terimakasih nenek, saya juga berharap nenek akan selalu baik-baik saja " kata Arabella
Saat nenek itu akan pergi, ia melihat kalung yang akan di pakai Arabella dan terlihat sedikit terkejut.
" Jadi kau pemilik kalung itu?" tanya Nenek dengan senyuman di wajahnya yang keriput
" Nenek.. nenek tau tentang kalung ini?!!" Arabella terkejut
__ADS_1
Nenek itu tersenyum pada Arabella seakan ia tau segalanya, dan Arabella terlihat penasaran.