
Arabella berjalan keluar dari camp dan terlihat marah. Lorenzo dan Demian ketakutan melihat Arabella yang marah, mereka pun memalingkan wajah mereka ke arah lain.
" Felix, ayo kita pulang!" seru Arabella
" Nona pasti habis menangis" batin Felix cemas
" Baik nona " Felix patuh
Aiden menyusulnya keluar, dan terlihat merasa bersalah.
" Demian, Lorenzo, pergilah antar nona Arabella!" seru Aiden
" Baik yang mulia " kata Lorenzo dan Demian patuh
" Tidak ! kalian tidak usah ikut,!" teriak Arabella marah-marah dan melirik kesal pada Aiden.
" Dia masih kelihatan marah, baiklah aku akan bicara dengannya besok dan menjelaskan semuanya ketika kemarahannya sudah mereda " batin Aiden
Arabella pergi dengan sedih, diam-diam Demian dan Lorenzo mengikuti Arabella atas perintah Aiden, meskipun Arabella melarangnya.
" Pantas saja dia bertanya seperti itu tadi pagi, ternyata kebohongan ini yang ia sembunyikan. Kenapa dia membohongiku? apa maksudnya itu? Dia bahkan membuatku bingung dengan perasaanku sendiri, menyebalkan " batin Arabella sedih
***
Malam itu..
Peter dan Ashton ada di mansion Reese untuk mengambil beberapa baju milik Peter.
" Peter, ayo cepat sedikit. Ini sudah malam loh" kata Ashton
" Iya iya sebentar lagi selesai kok " kata Peter sambil merapikan bajunya
" oh ya, apa Abel sudah tidur ya?" tanya Ashton
" Aku tidak tahu tuh, biasanya sih sudah " jawab Peter
" Tapi aku lihat lampu kamar nya masih menyala " kata Ashton penasaran
" Nona Abel belum pulang tuan muda " kata Daisy memberitahu
" Apa? dia belum pulang malam-malam begini?" tanya Peter kaget
Tak lama kemudian, ada seseorang membuka pintu dan itu adalah Arabella.
" Nona sudah pulang. Selamat datang nona " kata Daisy dan Layla menyambut
Kedua pelayan setia Arabella itu kaget melihat mata nona nya memerah dan penampilan nya acak-acakan seperti habis menangis. Begitu pula dengan Peter dan Ashton yang cemas
" Kenapa kau baru pulang?" tanya Peter cemas
" Kau habis menangis?" tanya Ashton sambil melihat mata Arabella yang merah
Arabella memeluk Peter lalu menangis tersedu-sedu.
" Kakak.. huu..huu.. "
" Eh? kau kenapa? kenapa kau menangis? " tanya Peter sambil mengelus elus kepala adiknya
" Apa terjadi sesuatu di perjalanan?" tanya Ashton cemas
" Tenanglah, ada apa?" tanya Peter
" Apa kau terluka?" tanya Ashton cemas
Arabella duduk dan minum teh dengan tenang, Ashton mengambil kotak obat.
" Kak Ashton kenapa kau mengambil kotak obat? siapa yang terluka?" tanya Arabella polos
" Kau yang terluka. Kau bahkan tidak menyadari nya?" kata Ashton sambil memegang tangan kanan Arabella yang terluka oleh luka goresan di jari telunjuknya.
Ashton membalut lukanya dengan lembut dan penuh perhatian.
" Tidak usah, aku bisa sendiri " kata Arabella
" Diam saja ! " seru Ashton
Beberapa menit kemudian, Peter dan Ashton sudah duduk di depan Arabella dan menatapnya dengan tajam.
" Kenapa aku merasa seakan-akan aku ini tersangka yang akan di sidang?" batin Arabella resah
" Katakan kenapa kau pulang pulang dan menangis seperti ini?" tanya Peter tegas
" Apa ada yang menganggumu? katakan, biar aku bereskan orang itu " kata Ashton sambik mengepalkan tangannya seperti akan memukul orang
" Aku harus bilang apa? aku harus bilang kalau aku menangis karena di serang pembunuh bayaran atau karena pangeran? kurasa aku tidak bisa mengatakan keduanya. Mereka akan cemas " batin Arabella berfikir
" Aku.. sebenarnya aku menangis karena .." Kata Arabella gugup
Peter dan Ashton menanti apa yang akan dikatakan Arabella selanjutnya.
" Aku melukai jariku saat berlatih pedang hari ini, jadi aku menangis " jawab Arabella dengan wajah memelas
Ashton dan Peter menatap Arabella seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan gadis itu.
" Kalau kalian tidak percaya, tanyakan saja pada Felix " kata Arabella sambil tersenyum
" tadi dia menangis sangat keras, mana mungkin hanya karena tergores pedang ?" batin Peter tak percaya
" Kelihatan nya mereka tidak percaya " batin Arabella
" Bukankah kalian harus segera pergi ke istana, ini sudah malam " kata Arabella mengalihkan pembicaraan
" Tidak apa, seperti nya kita bisa disini lebih lama " kata Ashton
" Iya benar, kita disini saja lebih lama. " kata Peter setuju
" Peter, kita bisa disini sampai Abel mau menceritakan yang terjadi sebenarnya " kata Ashton sambil tersenyum menakutkan
Arabella menjadi canggung, berkali-kali Peter dan Ashton menanyakan hal yang sama dan itu membuat gadis itu bosan. Akhirnya ia pura-pura tidur di sofa.
" Seperti nya dia sudah tidur " kata Peter
" Ya, dia pasti lelah. Kita bisa bertanya lagi padanya besok.." kata Ashton
" Baiklah, kita juga harus segera kembali ke camp " kata Peter sambil melihat Arabella yang tertidur lelap di sofa.
Peter menggendong adiknya dan membawanya ke kamarnya. Ashton tersentuh melihat Peter yang sangat menyayangi Arabella.
Peter menyelimuti adiknya itu dan menatapnya penuh kasih sayang.
Sementara itu di camp pedang sedang terjadi kegalauan, keadaan Aiden saat itu benar-benar kacau karena ia tak bisa tidur sama sekali. Ia terus memikirkan Arabella dan kemarahannya.
" Yang mulia, kenapa anda belum tidur? ini sudah sangat larut" kata Lorenzo cemas
" Katakan padaku bagaimana aku bisa tidur sekarang " kata Aiden dengan wajah yang lelah
" Iya Lorenzo, bagaimana bisa yang mulia tidur sekarang. Melihat nona Arabella marah-marah seperti tadi " kata Demian
" Bisakah kau mengatakan hal-hal yang berguna !" seru Lorenzo kesal
" Kenapa? aku salah ya?" tanya Demian polos
" Yang mulia, saya tahu anda sulit tidur karena memikirkan nona Arabella. Tapi, besok anda bisa bertemu dengannya lagi, dan menjelaskan semuanya. Dan juga besok anda akan pergi berperang. Anda harus terlihat sehat " terang Lorenzo
" Kau benar, aku harus tidur sekarang. " kata Aiden dengan nada yang lelah dan lemas
" Arabella, aku harap kau mau mendengarkan ku, aku akan terima semua kemarahanmu, asalkan kau mau memaafkan ku " batin Aiden pusing
***
Arabella melihat bayangan dirinya waktu kecil dan seorang anak laki laki sedang bermain bersama di sebuah taman. Wajah anak laki-laki itu tidak terlihat jelas karena sebuah cahaya dan rambutnya yang panjang menutupinya.
" Arabella cepatlah ingat aku.. " kata pria itu sambil tersenyum dengan penuh harapan
" Siapa kau? siapa kau sebenarnya?" tanya Arabella sambil berusaha meraih anak laki-laki yang semakin jauh darinya
" Aku orang yang tidak sengaja kau lupakan, aku sangat penting bagimu. Kau harus segera mengingatku Arabella .." kata anak laki-laki itu berharap
__ADS_1
" Tunggu ! jangan pergi ! katakan siapa dirimu!" seru Arabella sambil berlari mengejar anak laki-laki itu.
" Aku akan menunggumu sampai kau ingat padaku " Anak laki-laki itu tersenyum lalu menghilang di hadapan Arabella
Arabella terbangun dari tidurnya,dan ia bertanya-tanya sosok siapakah yang sudah 2 hari ini muncul dalam mimpinya. Seperti ingatan yang terpotong-potong, seperti sebuah teka-teki yang harus ia pecahkan. Hatinya terus bertanya-tanya, siapakah anak laki-laki yang mengatakan bahwa ia penting untuk diingatnya? Dalam mimpi itu ia terlihat akrab dengan anak itu, tapi ia tidak ingat sama sekali tentang masa kecilnya bersama anak laki-laki asing itu.
" Senyuman anak laki-laki itu terlihat tidak asing, seperti aku pernah melihatnya sebelumnya. Kenapa juga aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas? membuatku kepikiran saja " gumam Arabella bingung
***
Di istana, Aiden, Lorenzo dan Demian sedang beres-beres perlengkapan mereka untuk pergi perang.
" Yang mulia saya dengar kalau raja Vanders adalah seorang raja yang jahat dan seorang tirani yang kejam. " kata Demian
" Lalu?" tanya Aiden
" Menurut anda apa kita akan kalah oleh nya?" tanya Demian penasaran
" Kita akan menang pada akhirnya, tidak usah cemas " kata Aiden yakin
" Yang mulia, anda berbicara seolah-olah raja Vander memang akan kalah " kata Lorenzo
" Itu benar, karena di kehidupan sebelumnya aku dan Eugene yang mengalahkannya " batin Aiden percaya diri
Tak lama kemudian, Ethan datang menghampiri Aiden dan kedua temannya.
" Hormat kapten !" seru Lorenzo dan Demian bersamaan
" Yang mulia pangeran, tuan Lorenzo dan tuan Demian, jika sudah selesai beres-beres nya. Mari kita sarapan bersama " kata Ethan ramah
" Baiklah " kata Aiden setuju
***
Tak lama kemudian, Raja dan Ratu mengumumkan agar semua kandidat putri mahkota datang ke istana dan mereka semua berkumpul di aula kerajaan.
" Kira-kira ada apa ya yang mulia raja tiba-tiba memanggil kita semua kemari?" tanya Anna bingung
" Tidak tahu, bukankah ini terlalu tiba-tiba " jawab Lily tidak tahu
" Nona Arabella, apa mungkin kau tau kenapa raja dan ratu memanggil kita kemari?" tanya Megan
" Aku juga tidak tahu nona Megan " jawab Arabella tak mengerti
" Di kehidupan sebelumnya tidak seperti ini. Ada apa ini? " batin Arabella penasaran
" Ratu bilang akan merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan semua kandidat putri mahkota untukku, apa ini salah satu dari rencananya?" tanya Claire dalam hatinya
" Raja dan Ratu sudah tiba !" seru Philip
Semua gadis-gadis itu membungkuk hormat pada Raja dan Ratu. Ratu melirik sekilas ke arah Claire dan tersenyum seolah memberikan isyarat.
Raja dan ratu duduk di singgasana, Philip membacakan keputusan raja dan ratu.
" Saya berdiri disini akan menyampaikan hasil diskusi Raja, ratu dan para bangsawan yang di adakan secara mendadak tadi malam. Bahwasanya, demi menguji para calon kandidat putri mahkota. Semua calon kandidat putri mahkota akan pergi mengikuti perang Vanders dan membantu putra mahkota disana.." kata Philip menerangkan
Para calon kandidat putri mahkota kaget mendengar nya.
" Kita akan ikut perang?" tanya Lily berbisik
" Benar, kita akan ikut perang " jawab Anna
" kenapa malah harus ikut perang? " batin Claire kesal
" Rencana tak terduga apa ini?" batin Arabella terkejut
Philip meneruskan pengumuman Raja, yang mengatakan bahwa semua calon kandidat putri mahkota tidak bisa menolak perintah raja dan harus ikut semuanya tanpa terkecuali.
Arabella dan Megan terlihat biasa saja mendengar nya, tapi Anna, Lily dan Claire terlihat tidak senang mendengar nya. Ketiga gadis bangsawan itu mulai berfikir yang tidak-tidak karena mereka akan ikut para pria berperang dan membantu nya.
" Nona Arabella , apa ini bisa disebut sebagai salah satu tes juga ya?" tanya Megan
" Iya benar, nona Megan aku ingin kau tidak bicara formal padaku saat kita sedang berdua. Bukankah kita sudah jadi teman?" tanya Arabella
" benar juga nona.. maksud ku Abel..apa aku harus memanggilmu begitu?" tanya Megan ragu-ragu
" Baiklah, Abel " kata Megan
" Oke, Megan "
Arabella sedang berjalan dengan Megan, tiba-tiba saja ia terpeleset dan terjatuh dari tangga.
" Abel !" seru Megan kaget
" Ahhh !! "
Arabella terjatuh tepat di pelukan Eugene yang saat itu akan berjalan menaiki tangga. Arabella terkejut melihat dirinya sedang memeluk Eugene. Eugene malah tersenyum senang melihatnya. Ketiga gadis bangsawan itu terlihat kesal melihatnya.
" Yang mulia putra mahkota, syukurlah anda tepat waktu " kata Megan merasa lega
Arabella mendorong Eugene dan merapikan rambut dan baju nya dengan cepat.
" Maafkan ketidaksopanan saya yang mulia" kata Arabella sambil membungkuk
" Tidak apa-apa, apa kau terluka? bagaimana kau bisa jatuh?" tanya Eugene tenang
" Saya terpeleset yang mulia. " jawab Arabella cuek
" Sudah memelukku tadi, gadis ini bersikap seolah tidak ada yang terjadi " batin Eugene agak kesal
" Abel, bukankah seharusnya kau berterimakasih pada yang mulia sekarang?" tanya Megan berbisik pada temannya itu
" Terimakasih yang mulia sudah menolong saya " kata Arabella sambil mengalihkan pandangan ke arah yang lain
" Tidak apa-apa, lain kali aku mau teh buatan mu lagi sebagai tanda terimakasih " kata Eugene
" Dasar, dia perhitungan sekali " batin Arabella kesal
" Iya baiklah yang mulia " kata Arabella malas
" Cepatlah pergi Eugene, ya ampun kau ini " batin Arabella kesal
" Ya ampun, Abel. Sudah jelas yang mulia putra mahkota itu menyukai mu, tapi kau malah cuek begitu. " batin Megan heran
" Sayang sekali, padahal aku ingin di peluk lebih lama olehmu " kata Eugene sambil berbisik ke telinga gadis itu. Gadis itu kaget dan terlihat malu mendengar nya.
" Dia sudah gila ya? bagaimana kalau ada yang dengar " batin Arabella kesal
" Baiklah, aku akan menagihnya nanti. Kau berhutang padaku " kata Eugene sambil tersenyum ramah
Eugene pergi dengan wajah yang senang dan ceria. Sementara itu Arabella terlihat kesal melihat nya.
" Dasar gila, putra mahkota tidak waras !" seru Arabella sambil mengepalkan tangannya dengan marah
" Abel, jaga bicaramu ! bagaimana kalau yang mulia mendengar nya ?" tanya Megan cemas
" Biarkan saja si gila itu mendengar nya !" seru Arabella kesal
" Kadang aku heran padamu, kenapa orang sesempurna putra mahkota kau tolak begitu saja? padahal dia bisa membuat para gadis tergila-gila padanya? tanya Megan heran
" Lalu aku akan bertanya juga padamu, kenapa kau tidak suka putra mahkota? jika dia memang begitu sempurna bagimu?" tanya Arabella
" Ya karena aku tidak suka dia " jawab Megan polos
" Nah, aku pun begitu. " kata Arabella sebal
" ya sudah, maafkan pertanyaan ku ya.. hehe " Megan tersenyum
" Tidak apa kok " kata Arabella sambil tersenyum
Arabella dan Megan berjalan keluar istana, Aiden yang sedang berjalan dengan Ashton melihat Arabella.
" Abel ! Megan!" seru Ashton
" Kakak " kata Megan menyapa
Arabella melirik sekilas ke arah Aiden yang sedang bersama Ashton, namun ia kembali berjalan seolah tak melihat dan tak mendengar apa-apa.
__ADS_1
" Abel, kenapa kau buru-buru sekali? kita harus menyapa dulu pangeran Aiden " tanya Megan heran melihat Arabella berjalan dengan cepat
" Nona Arabella " kata Aiden memanggil
Gadis itu menghentikan langkahnya.
" Bukankah tidak sopan, ketika kau melihat ku disini dan pergi begitu saja ?" tanya Aiden sebal
" Kenapa dia terdengar kesal begitu? seharusnya aku kan yang kesal " batin Arabella kesal
" Yang mulia pangeran, tampaknya marah pada Abel.. " batin Megan resah
" Yang mulia pangeran, nona Arabella sedang terburu-buru pergi ke kamar mandi." kata Megan membela
" Oh, jadi kau kebelet?" tanya Aiden
Arabella semakin kesal dan ia pun membalikkan badannya.
" Akhirnya kau melihat ke sini juga" batin Aiden senang
" Ada apa dengan Abel dan pangeran ? kenapa mereka terlihat dekat?" batin Ashton merasa tak enak
" Salam yang mulia pangeran " kata Arabella terpaksa
" Wakil ketua, kau pergilah duluan ke ruang penyimpanan. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan nona Arabella tentang sopan santun " kata Aiden tajam
" Baik yang mulia, tolong jangan marahi Abel." kata Ashton dengan berat hati
" Ah.. kalau begitu saya juga permisi " kata Megan mengerti maksud dari Aiden
" Kenapa aku merasa mereka terlihat seperti pasangan yang sedang bertengkar ya?" batin Megan
***
Aiden menatap gadis di depannya itu dengan tajam, sementara gadis itu hanya buang muka di hadapannya.
" aku mengerti kau masih marah, tidakkah kau ingin aku menjelaskan nya?" tanya Aiden
" untuk apa saya menanyakan alasan anda melakukan ini, saya bahkan tidak berhak bertanya. Memangnya saya siapa?" kata Arabella ketus
" Kalau ada yang tidak kau pahami, bukankah seharusnya kau bertanya ? kata siapa kau tidak berhak bertanya padaku? atas dasar apa?" tanya Aiden mulai kesal
" mana berani saya bertanya kepada yang mulia pangeran, alasan anda menipu saya " jawab Arabella kesal
" kapten Ethan kau benar, ketika adikmu marah ia terlihat mengerikan. Apa semua perempuan seperti ini?" batin Aiden
" Aku tidak menipumu, aku akan jelaskan semuanya dengan jujur." kata Aiden serius
" .... " Arabella diam saja
" kau sudah lupa apa yang kau katakan kemarin? kau bilang kau akan memaafkan ku asalkan aku berkata jujur, dan kau akan mendengar kan penjelasan ku " kata Aiden tegas
" Iya baiklah, aku akan dengarkan " kata Arabella akhirnya
" Aku akan mengatakan semuanya sekarang padamu " kata Aiden
Aiden menceritakan secara perlahan kepada Arabella tentang reinkarnasi dan ia tahu kalau Arabella dilahirkan kembali.
" bagaimana dia bisa tau? apa dia ada hubungannya dengan kalung ini? apa dia tahu siapa pemilik nya? atau.. apakah dia bereinkarnasi kembali juga? atau dia adalah peramal?" batin Arabella penuh dengan pertanyaan
" Aku sudah tahu apa yang akan terjadi padamu di masa depan , kau pasti berfikir aku gila kan? " kata Aiden serius
" Saya tidak berfikir seperti itu. Saya percaya apa yang pangeran katakan. Karena memang saya mengalami nya, semua yang pangeran katakan itu benar. Tapi, yang saya tidak mengerti kenapa pangeran bisa tahu? dan apa hubungan nya kehidupan kedua saya dengan pangeran yang berpura-pura menjadi Cedric?" tanya Arabella penasaran
Aiden tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semuanya kepada gadis itu, sedangkan gadis itu saja tidak mengingatnya. Mengingat kenangan tentang mereka sewaktu kecil. Aiden bingung harus menjelaskan nya dari mana. Jadi, ia memilih untuk mengatakan kebenaran itu sebagian saja.
" Aku tahu kekuatan kalung yang kau pakai itu, kau meminta satu permintaan berharga dari kalung itu. Kau meminta kesempatan kedua. Dan dari mana aku tau tentang kalung itu, tolong jangan bertanya lagi " kata Aiden dengan ekspresi kecewa
" Kenapa dia memasang wajah seperti itu? apa ada pertanyaan ku yang salah? apakah ada sesuatu yang membuatnya kecewa " batin Arabella heran
" Baik, tapi tolong katakan apa yang mulia tau siapa yang memberikan kalung ini?" tanya Arabella sangat penasaran
" Lebih baik jika kau dapat mengingatnya sendiri " jawab Aiden sambil tersenyum pahit
" justru itu , saya bertanya karena saya tidak ingat, jadi yang mulia tidak bisa menjawab pertanyaan saya yang itu?" tanya Arabella
" iya, tidak bisa " jawab Aiden
" Jika kau tidak ingat, maka aku memang tidak berarti untukmu kan?" batin Aiden sedih
" Lalu apa hubungannya dengan kau menyembunyikan identitas anda sebagai pangeran dan berpura pura sebagai Cedric?" tanya Arabella
" Karena aku ingin kau menjauh dari putra mahkota " jawab Aiden
" Apa?" Arabella kaget " Apa maksud anda ?"
" Aku sudah tahu kalau dikehidupan mu sebelumnya kau kehilangan nyawamu karena putra mahkota, aku hanya tidak ingin kau mengalami hal yang sama " kata Aiden menerangkan
" Itu memang benar. Tapi, kata-kata yang mulia tidak masuk akal. Kenapa anda ikut campur dengan hubungan saya dan putra mahkota? jelaskan apa maksudmu ?" tanya Arabella penuh harapan
" Aku akan senang kalau kau bilang itu semua kau lakukan karena kau menyukaiku " batin Arabella penuh harapan
" Karena aku ingin melindungi semua keluarga mu dari eksekusi seperti di masa lalu. " jawab Aiden datang
" Maaf, aku tidak bisa mengatakan isi hatiku sekarang. Ini bukan waktunya, aku belum yakin kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Aku harus memastikan apa kau sudah melupakan Eugene atau belum.." batin Aiden ragu-ragu
" benarkah hanya itu saja?" tanya Arabella kecewa
" Sebenarnya apa sih yang ku harapkan dari nya? kenapa aku kecewa ?" batin Arabella sakit hati
" Iya benar, aku tidak ada maksud lain. Aku tahu di masa lalu keluargamu tidak bersalah, aku hanya ingin membantumu, kau jangan salah paham " kata Aiden
" Kenapa kau seperti ini? di satu sisi kau memberikanku harapan sebagai Cedric, tapi setelah kau jadi pangeran, kau memberikan aku batasan. Meski aku tak yakin perasaan ku pada mu ini perasaan apa, tapi kau berhasil membuat hatiku tidak tenang. Kenapa aku berharap kau menyukaiku? " batin Arabella sakit hati
" Baiklah, sudah jelas semuanya. Apa anda akan merahasiakannya ? semua yang pangeran tahu tentang saya?" tanya Arabella dengan nada kecewa
" Iya tentu saja, kau tenang saja. Aku akan melindungi mu " kata Aiden serius
" Saya percaya pada anda, terimakasih sudah menjelaskan " kata Arabella sambil melangkah pergi
" Jadi apakah kau memaafkan ku?" tanya Aiden
" Mana berani saya tidak memaafkan anda yang mulia " jawab Arabella sambil tersenyum pahit
" Kau tidak marah padaku lagi kan?" tanya Aiden
" Tidak yang mulia " jawab Arabella dingin
" Aku tidak marah padamu, aku tahu kau berbohong padaku dan tidak mengatakan semua kebenaran yang kau ketahui padaku, aku hanya kecewa padamu, sangat kecewa " batin Arabella merasa terluka
Arabella melangkah pergi dengan sakit hati dan perasaan kecewa pada Aiden.
Begitu pula dengan Aiden yang terlihat sedih sudah bersikap dingin pada Arabella. Ia masih tidak berani mengatakan semua kebenaran nya pada gadis yang ia cintai diam-diam selama hidupnya itu, hatinya masih di penuhi ketakutan dan keraguan. Ketakutan, kalau Arabella masih mencintai Eugene dan ketakutan kalau ia tak bisa melindungi Arabella di kehidupan nya kali ini, dan juga keraguan terbesar nya adalah ia takut kalau Eugene memiliki perasaan lebih pada Arabella tidak seperti Eugene di masa lalu yang selalu mengacuhkan Arabella.
Aiden masih belum siap mengatakan semuanya pada Arabella, ia berharap tanpa ia mengatakannya gadis itu akan segera mengingat pertemuan mereka di waktu kecil.
***
Kediaman Collete..
Claire terlihat marah-marah dan membanting banting kan barang yang ada di kamarnya. Oscar juga ada di sampingnya.
" Sialan ! orang-orang tidak berguna ! membunuh satu orang saja tidak bisa !" seru Claire penuh kemarahan
" Kenapa kau begitu gegabah? kau tidak mengatakan pada paman rencanamu, seenak nya sendiri kau mengambil keputusan tanpa merundingkan nya dulu denganku?" kata Count Oscar marah
" Paman, maafkan aku sebelum nya." kata Claire merasa bersalah
" Baik, untuk sekarang tidak apa-apa. Tapi, lain kali kau harus membicarakan nya denganku dulu. Untung saja para pembunuh bayaran mu itu tidak tertangkap oleh mereka, jika tertangkap maka akan berbahaya untukmu. Rencana sebesar ini, biar paman yang melakukannya untukmu " terang Count Oscar menenangkan
" Lalu aku harus bagaimana paman? aku harus menyingkirkan wanita penggoda itu, berani-berani nya dia berpelukan dengan putra mahkota di depanku ! aku sangat marah, paman !" seru Claire penuh kebencian
" Tenang saja, kau serahkan saja pada paman. Yang harus kau lakukan adalah terus berpura-pura menjadi orang baik di hadapan semua orang. Karena paman juga punya alasan besar kenapa gadis itu harus disingkirkan? mari kita singkirkan bersama " kata Count Oscar dengan tatapan tajam dan senyuman tipisnya yang menyeramkan
" Mari kita singkirkan satu persatu duri yang menghalangi jalan kita untuk menguasai Clarines " batin Count Oscar penuh ambisi
Claire tersenyum melihat pamannya itu terlihat merencanakan sesuatu.
__ADS_1