
.
.
.
Pembicaraan kedua pria besar dari Clarines dan Vanders itu tampak serius. Mereka berbicara berdua di ruangan tertutup dan pembahasan mereka tidak jauh dari Arabella. Aiden menanyakan tentang penawar racun yang bisa menolong Arabella dan membuatnya sembuh.
Dominic menjelaskan bahwa wajar saja Arabella tidak tahu kalau makanan atau minuman yang ia konsumsi mengandung racun karena racun nya tidak akan bisa dilihat dan dirasakan oleh manusia biasa.
" Aku akan mencari tau penawarnya, dan setelah itu aku akan memberitahu mu " kata Dominic
" baik lah, terimakasih sudah mau membantu " kata Aiden tulus
" Aku bukan membantumu, ini demi Arabella. Bukan untukmu " kata Dominic cuek
" Baiklah baiklah, aku tau. Pasti berat untukmu, tapi terimakasih sudah ikhlas " kata Aiden
" Apa kau sedang mengejekku?" tanya Dominic kesal
" Aku tidak begitu " jawab Aiden
" Semoga kalian selalu bahagia. " kata Dominic tulus
" Apa itu tulus?" tanya Aiden ragu
" kalau tidak tulus, mana mungkin aku akan membiarkan kalian bertunangan. Kenapa kau sepertinya masih merasa aku adalah rival mu?" tanya Dominic heran
" Ya, akan bohong bilang aku bilang bukan. Tapi, aku masih menganggap mu , sebagai Rival. Jika tidak ada aku dalam hidupnya dia pasti akan memilihmu " kata Aiden sambil tersenyum pahit
" Kenapa kau bicara begitu? kau terdengar tidak percaya diri ya pangeran?" tanya Dominic heran
" Tidak, aku hanya tau kalau kau adalah rival yang setara denganku " jawab Aiden sambil tersenyum
" Bukannya aku tidak percaya diri, tapi aku tau kalau Arabella memiliki sedikit perasaan pada nya, aku tidak bisa menutup mata akan hal itu. Tapi aku juga tau kalau cinta Arabella padaku sangat besar " batin Aiden
" Walaupun begitu, dia akan tetap memilihmu. " kata Dominic sambil tersenyum tipis
Dominic beranjak pergi lalu ia mengingatkan pada Aiden kalau ia mencurigai salah satu pelayan Arabella yang meracuni nya. Aiden membenarkan hal itu dan ia memang sedang menyelidiki nya.
***
Malam itu, berulang kali Arabella berusaha kabur dari rumah nya. Tapi, Demian, Felix dan para penjaga berjaga dengan ketat di rumah nya.
" Baiklah, karena aku tidak bisa kabur lewat pintu depan atau pintu belakang, aku akan kabur lewat jendela saja. Mereka tidak akan berjaga di luar jendela kan?" gumam Arabella sambil membuka jendela kamar nya.
" ASTAGA !!"
Gadis itu tercengang saat melihat Demian sudah ada di depan jendela kamar nya dan tersenyum lebar " Tuan putri, anda mau kemana?"
" Aku.. aku tidak mau kemana-mana, hanya mau menutup jendela saja. Jendela nya kurang rapat " kata Arabella sambil nyengir
" Kenapa dia berjaga disini juga? bagaimana caranya aku menemui Duke Zena ?" batin Arabella
" Kenapa tuan putri mencoba kabur? apa sebenarnya yang ia rencanakan? aku tidak boleh lengah, aku harus menjaganya agar dia tidak berbuat macam-macam, jika yang mulia pangeran tau kalau putri mencoba kabur, ini akan jadi masalah " batin Demian berfikir
" Sebaiknya tuan putri jangan mencoba untuk kabur, karena nanti saya yang akan terkena masalah. Tuan putri tau kan bagaimana pangeran kalau marah?" kata Demian mengingatkan
" Iya baiklah, aku akan tidur saja. Ah ya, satu lagi! jangan panggil aku tuan putri, nona saja seperti biasanya !" seru Arrabella
" Mana bisa seperti itu, sekarang tuan putri sudah resmi menjadi tunangan yang mulia pangeran dan anggota keluarga kerajaan juga. Saya tidak bisa memanggil tuan putri, nona lagi. " terang Demian menjelaskan
" Kau bisa tegas juga ya tuan Demian, baiklah aku tak akan membuat masalah untukmu. " kata Arabella
" Sepertinya aku tidak bisa berbuat apa apa malam ini " batin Arabella sedih
***
Ratu dan Claire masih memohon pada Eugene untuk membebaskan mereka dan melepaskan mereka untuk terakhir kalinya. Namun, Eugene sudah tidak tahan dengan perbuatan jahat Ratu yang sudah sering ia tutupi termasuk membunuh beberapa nyawa yang tidak berdosa.
" Cukup ! ibu kali ini aku akan menegakkan keadilan, aku tidak bisa menutup mata ku lagi akan semua ini !" seru Eugene tegas sambil melangkah pergi
" Eugene !"
Prang
.
.
Eugene kembali menoleh kebelakang karena mendengar suara benda pecah. Ia terkejut melihat ibu nya memegang pecahan kaca di tangannya seperti akan melakukan sesuatu yang tidak normal.
" Yang mulia ratu ! apa yang akan yang mulia ratu lakukan?!!" Claire terpana
" Kalau kau tetap bersikeras, lebih baik ibu mati saja disini ! ibu serius Eugene !" teriak Ratu histeris
" Ibu ! jangan membuat kesabaran ku habis " kata Eugene tajam
" Aku tidak pernah melihat tatapan putra mahkota yang seperti ini, selama ini aku selalu melihatnya dari kejauhan tatapan matanya selalu lembut, dan hangat. Tapi kenapa sekarang dia terlihat menyeramkan? hanya karena wanita jalang itu dia jadi seperti ini?" batin Claire terpana
SRAT
Dengan berani ratu melukai tangannya dan keluar darah dari tangannya itu.
" IBU !!" kata Eugene kaget
" Baginda Ratu !" teriak Claire panik
Eugene dan Claire menghampiri Ratu dan terlihat cemas.
" Ibu, aku akan panggil tabib !" seru Eugene
__ADS_1
" Tidak mau ! kau harus janji dulu pada ibu, kalau kau akan menolong ibu dan tidak memberi tahu ini pada siapapun!" seru Ratu bersikeras
" Ibu ! jangan begini..ibu bisa kehabisan darah !" kata Eugene cemas
" Ancaman ibu ini serius, Eugene... kau harus menolong ibu " Ratu memeluk Eugene dengan erat
Pada akhirnya Eugene kembali luluh oleh keadaan ibunya dan ia berjanji pada ibu nya untuk merahasiakan perbuatan nya dan Claire pada Arabella. Tapi Eugene juga minta agar kedua orang itu berjanji pada nya untuk tidak melukai Arabella lagi, dan mereka berdua menyanggupinya.
Bukannya makin dekat dengan Claire, tapi Eugene malah semakin jauh dari Claire karena perbuatan jahat nya itu, Eugene sangat membenci istrinya itu. Dalam hatinya, Eugene merasa bersalah pada Arabella.
***
Keesokan harinya, Arabella keluar dari kamarnya karena mendengar keributan dan ia melihat semua orang sedang berkumpul di ruangan depan.
Bahkan semua pelayan di kumpulkan ruang depan mansion Reese. Duke Reese dan kedua kakak Arabella juga ada disana, mereka terlihat seperti sedang menginterogasi para pelayan itu karena wajah para pelayan itu tampak tegang.
" Ada apa ini? " tanya Arabella kepada semua orang yang terlihat cemas dan gelisah itu
" Abel, kau sudah bangun nak?" tanya Duke Reese memasang wajah ramah
" Ada apa? kenapa semua pelayan berkumpul disini?" batin Arabella heran
" Ayah, aku akan panggil dokter Louis untuk memeriksa Abel " kata Peter gugup
" Tidak usah kakak, tolong katakan padaku ada apa ini? kenapa kalian terlihat gelisah dan gugup? Kenapa kalian semua berkumpul disini? " tanya Arabella penasaran
Ethan, Peter dan Duke Reese saling melirik tak tau mau menjawab apa. Arabella yang peka, tau bahwa ada sesuatu yang keluarganya itu sembunyikan dari nya, karena kegelisahan di wajah mereka tidak bisa disembunyikan dari gadis itu.
" Abel.. kita bicara saja nanti " ucap Ethan bingung
" Jadi tidak ada yang mau jawab pertanyaan ku? Bibi Daisy, ada apa ini?" tanya Arabella
" Tuan Putri.. saya.. " Daisy gugup seperti mau menangis
" Bagaimana aku harus mengatakan nya? aku takut tuan putri tidak akan percaya " batin Daisy resah
" Mana Layla? aku baru ingat kalau aku tidak melihatnya setelah kembali ke rumah? dia kemana?" tanya Arabella bingung
" Bagaimana pun juga Layla adalah orang terdekatnya, apa bagus jika dia tau soal Layla ?" batin Peter
Lagi lagi tidak ada yang menjawab pertanyaan gadis itu, dan semuanya hening. Arabella semakin bingung dengan semua orang di rumahnya itu.
" Tidak ada yang mau bicara? aku sedang bertanya " kata Arabella
" Ayah, kita beritahu saja " kata Ethan pada Duke Reese
Duke Reese menghela napas panjang dan menyuruh Arabella juga kedua kakak nya untuk duduk terlebih dahulu.
" Layla, sudah tidak ada di mansion kita lagi.. Abel " kata Duke Reese tenang
" Tapi kenapa? apa terjadi sesuatu padanya? dia diculik lagi oleh pedagang manusia ?" tanya Arabella cemas
" Kenapa kau masih mencemaskan serigala berbulu domba itu ?!" seru Ethan marah
" Dia adalah orang yang memberikan racun kepadamu setiap hari " jawab Duke Reese tegas
" Haa.. apa? tidak mungkin, bukan Layla pelakunya. Aku yakin itu, kalian jangan mengada-ada ! jika itu orang lain, aku akan percaya. Tapi Layla tidak akan begitu ! " Arabella tak percaya
" Seperti dugaan ayah dan Kak Ethan, bahwa Abel tidak akan percaya kalau Layla adalah pelakunya " batin Peter
" Tuan putri sangat mempercayai Layla dan menganggap Layla seperti adik nya sendiri, bagaimana bisa Layla berbuat seperti ini.. " batin Daisy sedih
" Kami punya bukti !" ujar Ethan tegas
Ethan menunjukkan botol racun, pakaian Layla, ke hadapan Arabella sebagai barang bukti pengkhianatan Layla.
" Ini adalah barang-barang punya Layla .." kata Arabella yang mengenali pakaian Layla, ia terkejut saat melihat botol aneh.
" Ya benar, aku akan membuat mu tidak akan bisa bertanya lagi. Layla adalah orang yang meracuni mu dan ini buktinya, botol ini adalah botol racunnya, selain itu di pakaian Layla ada noda dari racun itu. " Ethan menjelaskan
" Tidak mungkin, pasti Layla di fitnah. Dia tidak mungkin melakukan ini ! Layla tidak akan pernah melakukannya padaku " Arabella tetap tidak percaya
" Kalau dia di fitnah, lalu kenapa dia melarikan diri? semuanya sudah jelas Abel, dia yang meracuni mu. Tentang siapa yang menyuruhnya kita bisa tau jika kita bisa menangkap Layla " kata Peter mencoba meyakinkan
" Tapi kenapa.. Layla tidak punya alasan untuk melakukan ini, dia sudah seperti adik ku sendiri .. dia sangat baik padaku. Kalian pasti salah.." kata Arabella tak percaya dan pada akhirnya air mata nya jatuh tak tertahankan lagi.
Suara Ethan :
Aku tau tidak mudah meyakinkan Abel, bahwa Layla adalah orang yang meracuni nya selama ini. Tapi ini adalah fakta yang harus ia terima, Layla adalah orang terdekat nya dan dia lah pelakunya. Semua bukti mengarah padanya, karena dia dekat dengan Abel, seseorang memanfaatkannya untuk meracuni Abel. Ini pasti menyakitkan untuk Abel. Dikhianati oleh orang terdekat nya.
Daisy memeluk Arabella dan ikutan menangis melihat gadis itu menangis. Gadis itu terus menyangkal fakta bahwa Layla adalah pelakunya, tapi ia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa bukti dan fakta itu benar. Kini ia tau bahwa ada kenyataan yang se menyakitkan ini dalam hidupnya.
***
Di istana Clarines, Aiden sedang berbicara dengan raja, dan Ratu tentang insiden racun yang menimpa Arabella.
" Bagaimana keadaan putri Arabella?" tanya Raja cemas
" Dibilang baik baik saja juga tidak, namun dokter mengatakan bahwa ia harus banyak beristirahat untuk memulihkan kondisi nya. " jawab Aiden
" Lalu bagaimana dengan pelaku nya? aku dengar kau sudah menemukan pelakunya " kata Raja penasaran
Ratu terhenyak mendengar Raja menanyakan soal pelaku yang meracuni Arabella pada Aiden.
" Pelaku nya sudah ditemukan, dia adalah pelayan di kediaman mansion Reese. Akan tetapi, dalangnya masih belum diketahui " kata Aiden sambil menatap ratu tajam, seolah kata-kata itu ia tujukan untuk ratu.
" Kenapa dia menatap ku seperti itu? apa jangan jangan.. dia .." batin Ratu mengira ngira
" Apa kau yakin kalau insiden ini ada dalang nya?" tanya Raja serius
" Iya, saya yakin kalau pelayan yang bernama Layla di suruh oleh seseorang untuk melakukan ini. Dan orang itu saya yakin tidak jauh dari sini " kata Aiden sambil tersenyum menyeringai dan melihat ke arah Ratu
__ADS_1
" Benarkah? kalau begitu, apakah pangeran Aiden membutuhkan bantuan untuk menangkap pelaku nya?" tanya Ratu tenang
"Saya dengan senang hati akan menerima bantuan yang mulia Ratu, apabila yang mulia ratu memang berniat membantu saya. " kata Aiden dengan senyuman tipisnya
" Aku yakin anak ini tau sesuatu, apa mungkin gadis itu sudah mengatakan segalanya?" batin Ratu bertanya tanya
" Apa yang mulia ratu mau membantu pangeran Aiden menangkap pelakunya?" tanya Raja
" Tentu saja baginda raja, pangeran Aiden sudah seperti anakku sendiri. Dan juga putri Arabella sudah menjadi tunangan pangeran, jika aku membantu pangeran, berarti aku membantu keluarga kerajaan " terang Ratu dengan senyuman ramahnya
" Benarkah? aku senang mendengarnya Ratu " kata Raja singkat
" Kenapa dia berkata semanis ini pada Aiden? dia kan sangat tidak suka dengan Aiden " batin Raja heran
" Kalau begitu boleh kan saya meminta bantuan baginda Ratu?" tanya Aiden
" Tentu saja, apapun yang pangeran butuhkan " jawab Ratu ramah
" Saya ingin meminjam ksatria black knight dan juga menteri hukum untuk mengusut kasus ini sampai tuntas " kata Aiden tegas
" APA?" Ratu terkejut mendengarnya
" Meminjam kstaria black knight sama saja dengan meminjam kekuatan putra mahkota dan meminta bantuan putra mahkota, dengan kata lain putra mahkota akan terlibat dalam penyelidikan ini, apalagi membawa menteri hukum ke dalam permasalahan ini, akan semakin menarik " batin Aiden senang melihat Ratu yang tercengang
" Apa yang anak ini ingin lakukan?" batin Ratu kesal
" Ada apa yang mulia ratu? apa saya tidak bisa meminta bantuan itu?" tanya Aiden dengan wajah memelas
" Ti..tidak bukan begitu " jawab Ratu gelagapan
" Ada masalah apa Ratu?" tanya Raja menatap tajam ratu
" kalau aku menolak permintaan anak sialan ini, pasti Raja akan curiga. Sebaiknya aku terima saja permintaan nya, dan mencoba membujuk nya " batin Ratu memutar otak untuk berfikir
" Aku setuju kalau pangeran ingin meminta bantuan kstaria black knight. Tapi, bukan kah ini terlalu berlebihan membawa kasus ini ke jalur hukum? lagi pula putri Arabella baik baik saja " kata Ratu santai
" Bagaimana bisa yang mulia ratu berkata seperti itu? jadi yang mulia ratu menganggap kalau kejadian ini adalah kejadian sepele? begitu?" tanya Aiden dengan nada kecewa
" Tidak, aku tidak bicara begitu pangeran " kata Ratu menyangkal
" Sejak kapan dia bisa bertingkah seperti ini. Aku kira dia hanya tikus pendiam yang hanya bisa bersembunyi. Berani nya dia ! " batin Ratu marah
" Apa ayahanda raja sependapat dengan saya? bagaimana bisa kita membiarkan tunangan saya yang sudah menjadi bagian dari anggota kerajaan membiarkan kejadian seperti ini?" tanya Aiden tajam
" Pangeran Aiden benar, bagaimana bisa Ratu bicara seolah ini adalah hal yang sepele? melibatkan menteri hukum bukan lah suatu hal yang berlebihan, aku tentu saja mendukung hal ini " kata Raja tegas
" Sial, aku tidak bisa bicara apa apa lagi " batin Ratu kesal
" Hah lihat itu? apa kau punya pilihan sekarang?" batin Aiden senang
Setelah permintaan nya di setujui, ia segera pergi dan berniat mencari Layla yang melarikan diri. Namun, sebelum itu ia berniat melihat keadaan Arabella terlebih dahulu. Saat di depan gerbang istana, ia berpapasan dengan Eugene dan Camille yang juga akan pergi menjenguk Arabella.
" Selamat pagi kakak " kata Camille menyapa Aiden
" Selamat pagi juga putri Camille, yang mulia putra mahkota " Aiden menyapa
" Kakak, mau kemana?" tanya Camille
" Aku akan pergi ke rumah tunangan ku lalu mencari pelaku yang meracuni nya " jawab Aiden blak blakan
" Kebetulan sekali, berangkat saja bersama kami. Kami juga akan menjenguk kakak ipar " kata Camille
Akhirnya ketiga bersaudara itu naik kereta yang sama menuju ke mansion Reese. Camille bisa merasakan kecanggungan antara Aiden dan Eugene karena memang hubungan mereka tidak baik.
" Apa mereka tidak akan bicara ya? padahal kita kan saudara?" batin Camille heran
" Ehem.. kak Aiden, bagaimana keadaan kak Arabella? " tanya Camille
" Aku tidak tau, kan ini aku juga mau melihatnya " jawab Aiden cuek
" kenapa dia ikut juga? menyebalkan " batin Aiden sebal
" Tenang saja, aku hanya ingin memastikan keadaan nya. Bukan bermaksud macam-macam " kata Eugene tiba-tiba
" Memangnya aku bilang apa?" tanya Aiden sinis
" Mata mu menunjukkan kalau kau melarang ku ikut " jawab Eugene
" Oh jadi kau sudah paham? baguslah " kata Aiden dingin
" Jadi kau tidak suka?" tanya Eugene
" Ya, aku tidak suka. " jawab Aiden blak blakan
" terus terang sekali " kata Eugene sinis
" Aku lihat kau masih berharap pada tunangan ku, tentu saja aku harus waspada bukan?" tanya Aiden ketus
" Kau benar sekali, aku memang masih berharap pada nya " jawab Eugene sambil menyeringai
" Kalau putri mahkota mendengar ini dia akan sedih loh. Sebaiknya kau ingat saja istrimu di rumah, jangan tertarik dengan tunangan orang lain " kata Aiden sarkatis
" Pergi sana kau !" batin Aiden sambil menatap tajam Eugene
" Menyingkir lah !" batin Eugene sambil menatap sinis pada Aiden yang duduk di depan nya
" Hehe.. kak Aiden, kak Eugene sudahlah kalian jangan berdebat lagi. " kata Camille canggung
" Ya ampun kedua kakak ku ini seperti sedang bermain pedang. Tatapan mereka sangat tajam, bahkan aku bisa merasakan hawa dingin yang menusuk disini. Ayo cepatlah sampai " batin Camille tak nyaman
Tak lama kemudian di mansion Reese..
__ADS_1
Peter menyambut kedatangan Aiden, Eugene dan Camille. Terlihat Camille senang saat melihat Peter dan menunjukkan ketertarikan nya pada calon Duke muda itu. Aiden menanyakan keadaan Arabella, namun Peter menjawab Arabella pergi dari rumah dan ikut dengan Ethan untuk mencari Layla.
...---***--...