
Arabella merasakan atmosfer aneh diantara Eugene dan Aiden yang saling bertatapan tidak suka.
" mereka sedang memikirkan apa? sampai-sampai salam ku tidak dijawab?" batin Arabella heran
" Oh ya, nona Arabella " kata Eugene menyapa ramah
" Iya. Kalian kenapa? saya memberi salam barusan tapi kalian tidak dengar " tanya Arabella
" Apa yang mereka bicarakan sampai seserius itu?" batin Arabella
" Kami sedang membicarakan persiapan untuk perang nanti, benar kan yang mulia?" jawab Aiden
" Benar " kata Eugene setuju
" Kalau begitu, saya permisi duluan. " kata Arabella sopan
" Kau mau kemana?" tanya Aiden dan Eugene bersamaan
Gadis itu merasa keheranan karena melihat Eugene dan Aiden terlihat kompak.
" Apa tadi aku salah lihat ya? tadi tatapan mereka seperti ingin berkelahi tapi sekarang mereka kelihatan kompak. " kata Arabella di dalam hatinya
" Saya akan mengunjungi putri Camille dan yang mulia ratu " kata Arabella sopan
" Biar aku temani!" seru Aiden dan Eugene bersamaan
" Ini memalukan, kami pasti terlihat aneh sekarang " batin Aiden kesal
" Kenapa kami selalu bicara bersamaan? itu membuatku terdengar lebih akrab dengannya " batin Eugene merasa sebal
***
Di kerajaan Vanders...
Seorang pria tampan memakai mahkota dengan wajah yang dingin duduk di singgasana nya dengan elegan. Terlihat ada seorang pria berpakaian lusuh yang berdiri di hadapannya.
" Yang mulia Raja, dia adalah mata-mata dari kerajaan Clarines " kata seorang pria berpakaian prajurit
" Cane, buat dia bicara " kata Raja Dominic dengan nada yang dingin
Pria berpakaian lusuh itu gemetaran dan membungkuk hormat di hadapan sang raja Tiran itu. Cane ,sang tangan kanan Raja mengangkat pedang nya ke arah leher pria itu.
" Ampuni saya yang mulia.." kata pria itu ketakutan
" Katakan saja, atau yang mulia sendiri yang akan memenggal kepalamu " kata Cane mengancam dengan pedangnya
" Situasi di Clarines .. saya dengar bahwa kerajaan Clarines akan menyatakan perang dengan kerajaan Vanders " kata Pria itu
" Jadi mereka berfikir untuk perang secepat ini? bagus, aku menantikannya " kata Raja Dominic sambil tersenyum menakutkan
" Tolong bebaskan saya yang mulia, saya sudah memberitahu semuanya pada yang mulia. Dan berikan saya imbalan nya " kata Pria itu sambil tersenyum
Raja Dominic mengambil pedang dan dalam sekejap langsung memenggal kepala Pria itu. Hingga kepalanya bergelinding di karpet merah dan beberapa pengawal kerajaan itu melihatnya. Wajah Dominic juga terkena cipratan darah dari pria yang ia penggal itu.
" Pengkhianat itu pantas mati ! ini imbalanmu " kata Raja Dominic sambil tersenyum senang
" Yang mulia Raja sangat membenci pengkhianat dan tidak akan memberi ampun pada orang yang berkhianat. Ini memang sudah jadi sifatnya sejak dulu, pria itu adalah pengkhianat di kerajaan Clarines tentu saja yang mulia akan langsung menghabisi nya " batin Cane
Pembunuhan demi pembunuhan yang di lakukan Raja Dominic sudah menjadi hal yang biasa di lihat oleh rakyat nya. Ia memiliki reputasi yang buruk sebelum menjadi raja, dan juga masa lalu yang menyedihkan.
Semua rakyat nya tau sebelum Dominic menjadi raja dia hanyalah anak tidak sah ayah nya dari seorang pelacur, ia dibawa ke kerajaan dan mengalami kekerasan dan penyiksaan dari saudara-saudara nya yang lain. Demi membalas dendam, Raja Dominic membalas semua perlakuan kakak kakak nya dan mengkudeta kerajaan Vanders dan mengklaim dirinya sebagai pewaris satu-satunya dan menjadi Raja.
Ia membunuh ke 5 kakak nya dan juga istri-istri mereka, lalu mayatnya digantung di alun-alun kota. Sebelum menjadi raja, ia mendapat banyak pertentangan dari kaum bangsawan Vanders dan juga rakyat karena perilaku nya yang tidak manusiawi. Namun, karena rakyat dan bangsawan takut terhadap kekuatan Dominic mereka memilih takluk dan menjadikan Dominic sebagai raja Vanders.
Salah satu alasan terkuat Dominic menjadi Raja adalah karena ia sudah menaklukan banyak wilayah dan ia memiliki kekuatan yang besar, ia sering disebut " Iblis Vanders " oleh rakyat nya sendiri.
Meskipun begitu, Dominic memimpin rakyatnya dengan baik dan kerajaan nya pun menjadi kerajaan termaju dan terbesar di wilayah itu dan ia akan menghabisi siapa saja yang ketahuan berkhianat tidak peduli orang itu adalah perempuan atau laki-laki.
" Cane, bereskan mayatnya!" seru Raja Dominic sambil melangkah pergi
" Baik yang mulia, tapi yang mulia anda mau kemana?" tanya Cane bingung
" Cih ...Aku mau mandi " jawab Dominic sambil mengusap bercak darah di pipinya " Darah pengkhianat memang menjijikan " kata Dominic dengan wajah yang terlihat jijik dan sorot mata yang tajam seperti manusia tanpa perasaan.
" Entah kapan yang mulia bisa berubah? apakah ada seseorang yang bisa merubahnya? Terkadang aku merasa takut sewaktu-waktu aku akan ditebas oleh yang mulia jika suatu hari nanti aku mengatakan atau melakukan hal yang salah. " batin Cane membayangkan
***
Di istana Ratu. Camille ingin mengunjungi Ratu.
" Maaf tuan putri, tapi hari ini yang mulia ratu kurang sehat dan sedang beristirahat " kata Deborah sopan
" Bukankah kalau ibu sedang tidak sehat aku harus melihatnya? Deborah, biarkan aku masuk ya ?" kata Camille membujuk
" Maafkan saya putri, tapi yang mulia benar-benar sedang beristirahat " Deborah melarang keras
" Apa yang di rencanakan ibu? siapa gadis yang ingin dicelakai ibu?" batin Camille bertanya-tanya
Arabella dan Eugene yang akan mengunjungi ratu, juga melihat Camille disana.
" Kakak, kakak Naomi !" kata Camille ceria
" Camille, apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Eugene
" Aku kesini untuk mengunjungi ibu. Tapi, seperti nya hari ini tidak bisa. Deborah bilang ibu sedang tidak sehat dan beristirahat " jawab Camille
" Oh begitu ya, kalau begitu apa kau bisa memberikan makanan yang ku bawa untuk yang mulia ratu?" tanya Arabella pada Deborah
__ADS_1
Deborah melihat ke arah Arabella dengan tatapan curiga dan sinis.
" Pelayan ini benar-benar tidak sopan, melihatku dengan tatapan seperti itu. " batin Arabella kesal
" Kalau kau curiga ada racun di dalamnya, baiklah tidak usah diberikan saja. Buang saja " kata Arabella sedih
" Nona Arabella kenapa kau bilang begitu, Deborah ! kau sangat tidak sopan ya menatap nona Arabella seperti itu, kau pikir kau siapa?" tanya Eugene marah pada Deborah
" sudah lah saya tidak apa-apa yang mulia, seperti nya rumor tentang saya sudah menjadi fakta bagi sebagian orang yang mendengar nya , saya akan permisi saja " kata Arabella dengan ekspresi memelas dan sedih
" Sudah jelas-jelas Arabella tidak bersalah, tapi pelayan ini berani sekali tidak sopan pada Arabella. " batin Eugene kesal
" Deborah sangat tidak sopan pada kakak Naomi, dari tatapan nya dia kelihatan curiga dan tidak suka pada nona Arabella. Dia harus di hukum " batin Camille kesal
" Arabella tunggu ! Deborah kau akan ku hukum " kata Eugene tegas
Arabella menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Eugene, matanya berkaca-kaca. Eugene dan Camille semakin simpati melihat nya dab marah pada Deborah.
" Aku tidak percaya, aku akan menggunakan cara Claire untuk membuat pelayan tidak sopan ini di hukum. Tapi, tidak apa-apa. Hanya sekali saja, meskipun aku sekarang merasa jijik karena harus berpura-pura sedih " batin Arabella kesal
" Apa? tapi apa salah saya yang mulia?" tanya Deborah pura-pura tak mengerti
" Masih tidak mengerti juga ! kakak sepertinya pelayan ini harus dihukum !" seru Camille marah
" Cepat berlutut minta maaf pada nona Arabella!" seru Eugene marah
" putra mahkota dan tuan putri benar-benar marah padaku hanya karena rubah ini? padahal mereka sebelum nya tidak seperti ini padaku " batin Deborah kesal
" Tidak perlu yang mulia putra mahkota, saya memang sudah sering mendapatkan perlakuan ini dari para pelayan di istana. Saya sudah terbiasa " kata Arabella sambil menangis
" Kakak jangan menangis, kita akan buat pelayan ini berlutut minta maaf padamu " kata Camille berusaha membujuk
" Saya baik-baik saja tuan putri.. " kata Arabella semakin memelas
" Aku suka ini, mengerjai pelayan Ratu ,sedikit saja tidak masalah bukan?" batin Arabella senang
" Kenapa saya harus minta maaf pada nya? saya adalah pelayan yang melayani yang mulia Ratu ! Ratu akan marah kalau tau saya di perlakukan seperti ini ! " seru Deborah kesal
" Deborah, seperti nya kau belum menyadari kesalahanmu ya. Kau bahkan berani beraninya membawa nama ibuku disini " kata Eugene dengan tatapan sinis
Eugene memerintahkan beberapa pengawal untuk menyeret Deborah pergi dan membawa nya ke penjara.
" Masih tidak mau minta maaf? apa perlu aku robek mulutmu itu? atau mencongkel mata mu !" seru Eugene marah
" Tidak, kalau aku pergi ke penjara. Aku tidak bisa membantu ratu. Aku harus minta maaf pada si rubah ini " kata Deborah dalam hatinya
Deborah berlutut di depan Arabella, diam-diam Arabella tersenyum tipis melihatnya. Ia berpura pura sedih di depan Eugene dan Camille.
" Ini tidak seru, kalau dia harus menyerah begitu saja. Haa.. " batin Arabella merasa tidak puas
" Ma.. maafkan saya nona " kata Deborah pelan
" MAAFKAN atas ketidaksopanan saya nona Arabella.. Saya pantas mati.. " kata Deborah dengan tangan gemetaran karena menahan marah
" Sudah cukup, kau tidak usah minta maaf. Aku tidak apa-apa, " kata Arabella sambil tersenyum ramah
" Rubah ini, benar kata yang mulia ratu. Dia wanita yang berbahaya dan bisa memperbudak yang mulia putra mahkota bila jadi pasangannya kelak " batin Deborah yang merasa terancam dengan Arabella
" Kau pasti sangat marah kan? kau sampai gemetaran seperti itu. Ini menyenangkan, tapi sudah cukup untuk hari ini " batin Arabella merasa puas
" Berdiri lah, aku sudah memaafkanmu. Tapi, lain kali kau harus jaga sikapmu di hadapan orang yang jelas-jelas statusnya lebih tinggi darimu, kau harus tau diri. Dan kau jangan coba-coba main-main denganku, jika kau main-main denganku atau menyentuhku, aku akan membalasmu berlipat-lipat " Arabella berbisik ke telinga Deborah dan ia terlihat tercengang.
Arabella membantu Deborah berdiri dan menyuruh nya untuk terus melayani yang mulia ratu dengan baik. Dalam hatinya, Arabella merasa senang karena ia berhasil mengerjai Deborah yang selalu tidak sopan padanya setiap kali bertemu.
***
Sementara itu Aiden sedang berada di Camp White Knight. Ethan dan anggota white Knight lainnya sedang berlatih dan mempersiapkan untuk perang dengan Vanders.
" Yang mulia pangeran, kita belum berkenalan secara resmi bukan? namaku Ashton Benedict " kata Ashton ramah
" Iya salam kenal tuan Ashton " kata Aiden ramah
" Hey Ashton !" seru Peter sambil melambaikan tangannya dari kejauhan.
Peter menghampiri Ashton dan Aiden, dan langsung membungkuk hormat pada Aiden.
" Saya senang sekali bisa melihat anda dari dekat yang mulia pangeran " kata Peter sopan
Aiden tersenyum mendengar nya. " Apa dia kakak Arabella juga kan?" batin Aiden
" Pangeran memang benar-benar seperti rumor yang beredar, anda tampan dan begitu karismatik " kata Peter memuji
" kau bisa saja tuan Peter " kata Aiden
" Seperti nya aku pergi saja, mereka kelihatnnya ingin berbicara " batin Aiden
Aiden berlatih pedang sendirian, sementara Ashton dan Peter mengobrol.
" Kenapa kau bisa ada disini, Peter?" tanya Ashton heran
" Bukankah harusnya dia berada di akademi ?" batin Ashton
" Aku datang kesini untuk melaksanakan perintah negara, aku juga akan ikut ke Vanders bersama kalian. " jawab Peter
" benarkah? lalu bagaimana dengan sekolahmu akademi?" tanya Ashton
" Aku tinggal menunggu hari kelulusan ku, sekolahku sudah selesai " jawab Peter
__ADS_1
" Wah wah.. selamat ya, kalau begitu kau akan segera mewarisi pangkat Duke " Ashton senang
" Sebenarnya aku lebih suka jadi Kstaria, tapi karena kak Ethan tidak mau menjadi Duke, jadi aku lah yang harus maju " kata Peter senang
" Kau cocok menjadi duke, kok. " kata Ashton
" Oh ya ada yang ingin ku tanyakan padamu, kau harus menjawab jujur !" seru Peter serius
" Apa ini? serius sekali " tanya Ashton sambil tersenyum tipis
" Kau tidak menyukai adikku kan?" tanya Peter dengan wajah serius
Aiden yang sedang berlatih pedang dengan Ethan pun menjadi terdiam mendengarnyam Ethan juga ikutan tidak fokus karena mendengar obrolan mereka
" Tentu saja aku menyukainya " jawab Ashton tanpa ragu
" Bukan rasa suka seperti kakak pada adiknya, maksud ku kau tidak melihat adikku sebagai perempuan kan?" tanya Peter penasaran
Ashton kaget mendengar pertanyaan Peter yang terdengar serius itu. Aiden dan Ethan juga kaget mendengar nya.
" Aku.. sebenarnya aku juga tidak tahu "kata Ashton polos dan bingung
" Apa maksudmu tidak tahu? hah ?" tanya Ethan yang tiba-tiba mendekat ke arah Ashton sambil membawa pedang.
" Kapten, tolong bicara baik-baik letakkan dulu pedangmu !" seru Ashton ketakutan
" Apa wakil ketua Ashton juga menyukai Arabella?" batin Aiden berfikir
" Kak Ethan, tenanglah !" seru Peter
" Aku tidak bermaksud apa-apa, aku membawa pedang karena sedang latihan saja tadi !" seru Ethan
Ashton di interogasi oleh kedua kakak Arabella itu dan mereka mempertanyakan perasaan Ashton pada Arabella. Dan Ashton tetap menjawab bahwa ia tidak tau perasaan seperti apa yang ia miliki untuk Arabella. Yang jelas ia hanya ingin melindungi nya, dan melihatnya bahagia. Hal itu terdengar oleh Aiden, dan ia merasa terganggu ketika mengetahui itu.
***
Di tengah-tengah latihan pedang para ksatria, Arabella akan menemui Aiden dan memberikan sesuatu sebagai tanda terimakasih nya. Tapi, ia berpapasan dengan Claire.
" Mau apa dia kesini?" batin Arabella kesal
" Selamat pagi nona Arabella " kata Claire sopan
" Selamat pagi juga nona Claire " kata Arabella cuek
" Sepagi ini dia sudah berada di istana, apa dia bermaksud menggoda putra mahkota?" batin Claire tidak senang
" Nona Arabella, apakah ini tidak terlalu pagi untuk datang ke istana?" tanya Claire
" Jangan berfikir yang bukan-bukan nona Claire, aku datang kesini untuk menemui yang mulia ratu dan juga menemui yang mulia Raja karena aku punya kepentingan" kata Arabella tidak senang
" Oh maaf, saya bukan bermaksud bertanya macam-macam kok. hehe " Claire tertawa kecil
Tanpa mereka sadari Camille mendengar percakapan mereka dan semakin tidak respek pada Claire.
" Kenapa dia jadi lebih serius dari sebelumnya?" batin Claire heran
" Aku harap kau lebih menjaga kata-kata mu ya nona Claire, jangan mentang-mentang kau dekat dengan Ibu ku, lalu kau bisa bertanya dan mengatakan sesuatu yang menyinggung orang lain " kata Camille tidak senang
Claire dan Arabella kaget karena Camille tiba-tiba ada diantara mereka. Sontak, mereka pun memberi hormat kepada Camille.
" Apa kau dengar kata-kataku barusan nona Claire ?" tanya Camille sinis pada Claire
" demi gadis ini, bahkan sikap tuan putri sudah berubah padaku. Dia tidak pernah berkata sinis kepadaku?" batin Claire
" Maafkan saya tuan putri, maafkan saya nona Arabella. Saya benar-benar tidak bermaksud menyinggung nona Arabella, saya hanya bertanya saja " kata Claire dengan wajah memelas
" Aku tidak pernah berfikir panjang sebelumnya bahwa nona Claire mempunyai sikap yang seperti ini di belakang ku. Dia ternyata hanya pura-pura baik, dia juga menyebarkan rumor tidak benar tentang kak Arabella. Benar-benar keterlaluan, gadis berkepala dua " batin Camille tidak senang
" Terimakasih putri, sudah membantu ku " batin Arabella senang
" Tidak apa apa putri, mungkin nona Claire tidak sengaja mengatakannya. " kata Arabella pura-pura membela
" Di kehidupan kali ini kau tidak akan pernah menang dariku Claire, kau tidak boleh " batin Arabella penuh amarah
Arabella dan Camille pun pergi ke camp White Knight dan mengabaikan Claire. Claire terlihat kesal dengan mereka berdua.
" Aku bersumpah ketika aku menjadi putri mahkota, aku akan menyingkirkan kalian berdua lebih dulu " gumam Claire penuh kemarahan
Arabella dan Camille menyapa Aiden.
" Selamat pagi kakak " kata Camille ramah
" Selamat pagi, tuan putri " kata Aiden ramah
" Meskipun aku tidak dekat dengan kak Aiden ,tapi sepertinya dia bukan orang yang jahat " batin Camille
" Selamat pagi yang mulia pangeran" Arabella membungkuk sopan
" Kakak, katanya nona Arabella ingin bicara denganmu " kata Camille
" Benarkah?" tanya Aiden
" Ada yang ingin saya bicarakan dengan pangeran, itu pun kalau pangeran bersedia " kata Arabella
" Tentu saja, baiklah " jawab Aiden senang
" Kak Arabella, kalau begitu aku temui dulu kak Eugene yah " kata Camille
__ADS_1
Aiden dan Arabella berbicara tak jauh dari camp, tanpa mereka sadari ada beberapa pria yang menatap mereka dengan tajam