
Nenek itu tersenyum dan semakin mengundang rasa penasaran Arabella terhadapnya. Ia yakin bahwa nenek itu mengetahui siapa pemilik kalung yang ia pakai dan rahasianya.
" Nenek ! tolong katakan pada ku apa yang nenek ketahui tentang kalung ini?" tanya Arabella penasaran
" Kau sangat penasaran bukan dengan pemilik asli kalung ini dan yang memberikannya padamu?" tanya Nenek
" Iya, aku berusaha mengingat-ingat siapa yang memberikannya padaku. Tapi, aku tidak ingat sama sekali. " Arabella terlihat sedih
" Orang itu memang tidak bisa kau ingat sekarang, tapi nanti kau akan mengingatnya. Karena orang itu adalah penyelamat hidupmu, dan dia selalu ada di dekatmu " nenek tersenyum
" Nenek, tolong jangan membuatku semakin penasaran. Katakan saja siapa orangnya?" tanya Arabella semakin penasaran
" Kau akan segera mengingat nya, tanpa harus aku katakan. Nona, saya harus segera pergi " kata Nenek sambil melangkah pergi
" Tunggu ! kalau nenek tidak mau menjawab pertanyaan ku yang barusan, aku ingin nenek menjawab pertanyaan ku yang terakhir " kata Arabella memohon
Nenek itu tersenyum lagi seolah ia sudah tau segalanya yang ada di pikiran Arabella. Ia menjawab dengan yakin tanpa keraguan dan kebohongan
" Kalung itu akan berubah menjadi merah atau terasa panas seperti api, ketika nona berada di dalam bahaya. Atau ada seseorang yang berniat buruk pada nona. "
" Luar biasa, nenek ini sungguh tahu apa yang akan aku tanyakan bahkan sebelum aku bertanya. Apa dia punya kekuatan membaca pikiran? kenapa dia bisa tau semuanya?" batin Arabella kaget
" Nona sudah puas dengan jawaban saya kan? saya harus pergi, tolong jaga kalung itu baik-baik jangan sampai hilang. Jika kalung itu hilang, nyawamu akan jadi gantinya karena kau sudah menggunakan permintaan pada gadis suci di dalam kalung itu. Pergunakan hidupmu dengan baik.. " kata Nenek itu mengingat kan
" Dia bahkan tau tentang kekuatan gadis suci dan tentang kehidupan keduaku? Siapa nenek ini sebenarnya?" batin Arabella kaget
Tak lama kemudian ..
Terdengar suara kuda melaju ke arah Arabella.
" Nona Naomi !" seru Aiden sambil berlari menghampiri Arabella
" Nona !" teriak Felix memanggil dengan penuh kecemasan.
Arabella menoleh ke arah Aiden dan Felix yang berlari ke arah nya dengan terburu-buru." Guru? Felix? apa yang mereka lakukan disini?"
Arabella menoleh kembali ke arah nenek itu, tapi nenek yang bicara dengannya tadi sudah menghilang dalam sekejap mata.
" Kemana dia menghilang?" batin Arabella terkaget kaget
" Nona, anda baik-baik saja?" tanya Felix cemas
Arabella masih belum sadar sepenuhnya dan wajahnya masih terlihat syok.
" Nona Naomi? apa kau.. " kata Aiden cemas
Seketika badannya kehilangan keseimbangan dan ambruk. Aiden dengan sigap menjadi sandarannya, Aiden menangkap tubuh Arabella yang kehilangan kesadaran agar tidak jatuh. Wajah Aiden dan Felix berubah dari cemas menjadi panik melihat gadis itu jatuh pingsan.
" Nona ! nona ! anda kenapa?!!" seru Felix cemas
" Nona Naomi!" Aiden panik sambil memegang pipi Arabella berusaha menyadarkan nya.
" Nona !" teriak pak kusir yang terkejut juga
***
Beberapa saat kemudian...
" Suara berisik apa ini?" batin Arabella yang setengah sadar
Perlahan lahan Arabella membuka matanya, taj jauh dari tempat ia berbaring ada Felix, Aiden dan Dokter Louis disana. Arabella diam dan memperhatikan mereka.
" Kalian tolong tenanglah, aku yakin sebentar lagi nona Naomi akan segera siuman " kata Dokter Louis dengan wajah penuh keringat
" Kau bilang seperti itu dari tadi, tapi nona ku belum sadar juga !' seru Felix kesal
" Apa benar tidak ada yang serius ?" tanya Aiden tenang
" Kita harus menunggu sampai nona Naomi bangun dan saya akan memeriksanya. Saya mohon, kalian berdua tenanglah " terang dokter Louis
" Bagaimana bisa kami tenang? nona tiba-tiba pingsan seperti itu ?!" seru Felix cemas
" Kalian berisik sekali !" seru Arabella kesal
" Nona ! " Felix terlihat senang
" Nona Naomi, kau sudah sadar?" tanya Aiden cemas
" Kenapa mereka terlihat cemas begitu?" batin Arabella heran
" Aku baik-baik saja " jawab Arabella
" Baiklah, saya akan memeriksa nona Arabella sekarang. Bisakah kalian berdua tuan-tuan menunggu diluar?" kata Dokter Louis
Kedua pria itu keluar dari kamar tempat Arabella berbaring. Dokter Louis memeriksa keadaan Arabella.
" Kedua pria di luar itu membuatku pusing saja " gumam Dokter Louis sambil menghela napas
" Iya mereka berisik sekali, apa yang mereka ributkan ?" tanya Arabella dengan wajah polosnya
" Hehe.. nona bisa-bisa nya anda bertanya pada saya, jelas-jelas mereka ribut karena nona " kata Dokter Louis ramah
" Karena aku?" tanya Arabella heran
" Nona, tidak ku sangka kau begitu populer diantara para pria. Saya benar-benar tidak salah mengikuti orang " kata Dokter Louis senang
" Apa maksudmu dokter ? pria siapa?" tanya Arabella bingung
" Selain membuat putra mahkota jatuh hati, anda juga membuat tuan Felix yang tampan, dan tuan Aiden yang keren menyukai anda " kata Dokter Louis
" Apa?" Arabella kaget
" Huuh.. bicara sembarangan, dan jangan membawa nama putra mahkota " kata Arabella sebal
" Baiklah nona, saya minta maaf. Saya akan menyampaikan kepada dua tuan yang di depan itu tentang kondisi nona " kata Dokter Louis
Dokter Louis menjelaskan pada Felix dan Aiden bahwa Arabella pingsan, karena mengalami syok ringan dan keadaannya baik-baik saja. Aiden dan Felix merasa lega mendengar nya. Mereka berdua berhamburan masuk untuk menemui Arabella.
" Nona, nona anda jangan bangun. Istirahat lah dulu " kata Felix cemas melihat Arabella akan beranjak dari ranjangnya
" Aku mau latihan pedang Felix !" seru Arabella
" Tidak ada latihan pedang untukmu hari ini " kata Aiden tegas
" Tidak, aku harus latihan sekarang. Karena besok aku tidak bisa latihan " kata Arabella bersikeras
" Nona, lebih baik kita dengarkan tuan Cedric untuk saat ini. Nona, baru saja jatuh pingsan " kata Felix cemas
" Kalian sudah dengar kan apa kata Dokter Louis tadi? aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa " kata Arabella mulai kesal
" Tidak, hari ini kau pulang saja atau istirahat dulu disini terserah. Asalkan jangan berlatih hari ini, aku tidak mau melatih orang sakit " kata Aiden tegas
" Aku tidak sakit ! " seru Arabella kesal
Melihat mata Aiden dan kata-kata nya yang tegas, juga atas saran Felix, Arabella pun menyerah dan ia berpamitan pada Aiden dan murid-muridnya nya di camp. Lorenzo dan Demian baru pulang membeli baju.
" Nona Naomi, selamat sore " kata Lorenzo dan Demian menyapa
" Ah iya selamat sore " kata Arabella lesu
" Cepatlah kembali sebelum malam. " kata Aiden cuek
" Dasar pria berdarah dingin! " batin Arabella merasa kesal
" Loh, kenapa nona Naomi sudah mau pulang?" tanya Demian
" Lorenzo kau antar nona Naomi sampai ke rumahnya " kata Aiden memerintah
" Tidak usah, aku tidak bisa merepotkan guru lagi. Lagipula ada Felix bersamaku " kata Arabella menolak dengan tegas
" Aku tidak merasa di repotkan, jangan salah paham. Aku cuma tidak ingin besok ada berita seorang gadis di rampok di sekitar sini, atau gadis pingsan di jalan, tidak akan bagus untuk reputasi tempat ku " kata Aiden tegas
" Kenapa yang mulia mengatakan seperti itu pada nona Arabella? ya ampun yang mulia, bukan begitu caranya merayu gadis " batin Demian cemas
" Tenang saja aku tidak butuh bantuanmu. Aku tidak akan mempengaruhi reputasi tempat ini ! aku akan pulang bersama Felix saja !" seru Arabella kesal
Aiden menghela napas dan bertingkah cuek seolah tak peduli. Felix heran melihatnya, karena tadi saat Arabella jatuh pingsan, ia melihat bahwa Aiden sangat peduli kepada Arabella sampai berebutan dengannya untuk menggendong Arabella. Felix bertanya-tanya tentang Aiden, kenapa ia bersikap seolah tidak peduli pada Arabella padahal diam-diam ia sangat peduli pada nona nya itu.
Arabella pulang bersama Felix dan di dalam kereta Arabella terlihat kesal.
" Apa maksud nya si Cedric itu? sebentar-sebentar dia baik dan sebentar-sebentar dia bersikap cuek dan dingin. Memang dia itu tidak bisa ditebak orangnya seperti apa, dia begitu misterius. Haa.. ingin sekali aku melihat dengan jelas ekpresi wajahnya kalau aku melepas topengnya ! " Arabella bergumam sendiri dan terlihat jengkel
Arabella kembali teringat ketika bertemu nenek yang aneh itu, ia bertanya-tanya apa nenek yang ia temui itu manusia atau bukan. Yang jelas pertanyaan nya sudah terjawab sebagian.
__ADS_1
" Aku sangat berharap bisa bertemu dengan nenek itu lagi dan mengajukan banyak pertanyaan.. tapi dia malah menghilang begitu saja. Yang jelas aku tahu dari perkataan nenek itu kalau kalung ku akan berwarna merah dan terasa seperti api kalau ada yang berniat jahat padaku. Itu artinya si Claire berniat jahat padaku? tapi apa yang ia rencanakan?" Arabella berfikir keras
***
Di camp latihan pedang, Aiden terlihat cuek mendengar omelan dari Demian dan Lorenzo tentang sikapnya pada Arabella yang tidak mereka benarkan. Demian menasehati Aiden agar bersikap lembut pada wanita yang di sukai, tapi Aiden malah berubah sebaliknya.
" Yang mulia, kenapa anda bersikap seperti itu pada wanita yang anda sukai?" tanya Demian heran
" Aku tidak mau dia tau perasaanku. " jawab Aiden
" Yang mulia, jawaban macam apa itu? anda terdengar seperti sedang putus asa tau!" seru Demian kesal
" Ini bukan urusan kalian !" seru Aiden marah
" Ada apa dengan anda yang mulia?" tanya Lorenzo heran
Aiden mengabaikan pertanyaan Lorenzo dan ia melihat hujan mulai turun dengan wajah sedih. Ia teringat ketika sedang berada dalam perjalanan, orang-orang berbicara mengenai Arabella dan putra mahkota, mereka mengatakan bahwa Arabella menyukai putra mahkota dengan menggodanya. Aiden sakit hati mendengar nya dan terlihat kesal.
" Apakah rumor itu benar? bahwa kau juga menyukai putra mahkota? apa di kehidupan kali ini aku tidak bisa mendapatkan hatimu? apa dia selalu akan menjadi pria yang kau sukai ?Jika memang benar, maka menjaga jarak dengan mu adalah pilihan yang terbaik !" Aiden bertanya-tanya dalam hatinya
" Hari sudah mulai hujan, apa tidak apa-apa jika nona Naomi hanya di jaga oleh Felix saja. Bagaimana jika ada perampok lagi?" tanya Demian memanasi
" Atau bagaimana jika nona Naomi jatuh pingsan lagi " kata Lorenzo menambahkan
Aiden mulai terganggu mendengar ocehan kedua temannya itu. Akhirnya ia pun menyuruh Lorenzo dan Demian untuk mengikuti Arabella secara diam-diam mengawal nya sama ke rumahnya dengan selamat.
***
Sesampainya di mansion Reese.
" Nona Arabella sudah selamat sampai ke rumah, kita sebaiknya pulang sekarang " kata Lorenzo
" Iya kita harus segera pulang " kata Demian setuju
Saat mereka hendak pergi dengan menunggangi kuda, Ashton menghadang mereka dan mengeluarkan pedangnya.
" Kalian siapa? kenapa kalian mengikuti Abel?" tanya Ashton tajam
Arabella dan Felix menoleh ke belakang dan melihat Ashton yang mengancam mereka dengan pedang.
" Tolong singkirkan pedang anda tuan, kami bukan orang jahat " kata Lorenzo tegas
" Lalu kenapa kalian mengikuti Abel diam-diam?" tanya Ashton ketus
" Siapa pria ini? dia memanggil nona Arabella dengan nama yang akrab seperti itu?" batin Demian
" Siapa dia? dia tampan dan kuat, apa dia kakak nona Arabella?" tanya Lorenzo dalam hatinya
" Kenapa Lorenzo dan Demian mengikuti ku?" batin Arabella bingung
" Kak Ashton hentikan ! mereka bukan orang jahat, mereka teman-temanku " kata Arabella
" Kau pikir aku akan percaya? teman macam apa yang mengikuti teman nya diam-diam, mencurigakan !" Ashton tak percaya
" Aku sudah bilang kan, mereka teman-temanku. Kau tidak percaya padaku?" tanya Arabella sambil menatap tajam Ashton
" Ah.. iya iya baiklah " Ashton mengalah
" Simpan kembali pedangmu !" seru Arabella
Ashton memasukkan kembali pedangnya.
" Sekarang, pertanyaan untuk kalian? kenapa kalian mengikutiku?" tanya Arabella pada Lorenzo dan Demian
" Maafkan kami jika nona merasa tidak nyaman, kami hanya menjalankan perintah Tuan Cedric " kata Lorenzo
" Benar, kami tidak bermaksud jahat Nona... Tuan Cedric meminta kami mengawalmu sampai ke rumah, dan ini pun kami akan segera pulang " kata Demian
" Untuk apa dia melakukan itu? menyebalkan. " gumam Arabella kesal
" Tuan Cedric mungkin terlihat dingin di luar, tapi dia sebenarnya adalah orang yang hangat." Demian tersenyum
" Yang mulia, aku hanya bisa membantumu sampai sini " batin Demian
" Ya, bilang padanya aku berterimakasih. Tapi, aku tidak perlu perlindungan nya. " kata Arabella sebal
" Seperti nya nona Arabella masih marah pada yang mulia " batin Lorenzo sedih
" Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu " kata Lorenzo sambil membungkuk hormat
" Nampaknya identitas ku sudah ketahuan oleh mereka, sekalian saja aku jelaskan pada mereka " batin Arabella
" Ti.. tidak perlu nona .. " kata Lorenzo menolak
" Boleh nona, kebetulan saya memang ingin minum teh " kata Demian setuju
Lorenzo melirik kesal pada Demian yang tidak searah dengannya.
Pada akhirnya, Demian dan Lorenzo masuk ke kediaman Reese. Mereka minum teh hangat dan makan cemilan. Arabella juga menjelaskan tentang identitas nya yang seorang putri Duke. Dan namanya adalah Arabella Naomi De Reese.
" Oh ya, nona Arabella apa tuan ini adalah saudaramu?" tanya Demian melihat ke arah Ashton
" Izinkan aku memperkenalkan diriku secara resmi, Namaku Ashton Victor Benedict, aku dan Abel memang bukan kakak adik. Aku dan kakaknya bersahabat, jadi Arabella sudah seperti adikku sendiri " kata Ashton ramah
" Salam kenal tuan " kata Lorenzo dan Demian memberi hormat
" Oh ya, dia ini kstaria white knight loh " kata Arabella
" Benarkah? hebat sekali .." kata Demian kagum
" kalau anda kstaria white knight kenapa anda disini? bukankah harusnya anda berada di istana ?" tanya Lorenzo tajam
" Aku sedang mengambil cuti 3 hari, besok aku akan kembali ke istana.. " jawab Ashton
Melihat kedekatan Ashton dan Arabella, Lorenzo dan Demian terlihat curiga dan merasa bahwa Ashton menyukai Arabella.
Mereka kembali ke camp latihan pedang, Aiden sedang menunggunya.
" Kenapa kalian lama sekali?" tanya Aiden kesal
" Sebenarnya kami pergi ke kediaman Reese dulu " jawab Demian
" Kenapa bisa kalian kesana? bukankah sudah kubilang ikuti diam-diam? apa kalian ketahuan !" seru Aiden marah
" Emosi yang mulia saat ini tidak stabil, apa sebenarnya yang terjadi dengannya hari ini?" batin Lorenzo heran
" Iya maaf kami ketahuan, oleh seorang pria Ksatria white knight " jawab Demian
" Siapa?" tanya Aiden
" Dia bernama Ashton Victor Benedict, dia adalah keluarga Viscount dan dekat dekat nona Arabella juga, apa yang mulia mengenalnya?" tanya Demian
" Ashton V. Benedict? seingatku dia memang dekat dan bersahabat dengan Peter, kakak Arabella. Dan di masa lalu bukankah dia mati secara misterius saat pemilihan putri mahkota ?" batin Aiden berfikir
" aku tidak kenal. Kalian lebih baik kerjakan pekerjaan kalian ! aku malas bicara !" seru Aiden marah
Aiden meninggalkan kedua temannya yang terlihat kebingungan dengan sikapnya hari itu yang terus marah-marah.
***
Keesokan harinya, saat pesta kedewasaan Eugene di istana.
Semua tamu bangsawan hadir disana, dari mulai keluarga Earl sama Duke. Eugene terlihat sedang menunggu seseorang, begitu juga dengan sang raja.
" Ayah, benarkah kakak ku akan datang?" tanya Eugene
" Aku harap dia datang " jawab Raja tak yakin
" Aku yakin ayahanda, bahwa kakak akan datang. Dia sudah menerima undangan dari ayah " kata Eugene menenangkan
" Iya. Putra mahkota kau terlihat bahagia hari ini, seperti kau sedang menantikannya. " Raja melihat wajah Eugene yang ceria
" Apa terlihat jelas?" tanya Eugene sambil tersenyum
" kau terlihat lebih ceria dari biasanya " kata Raja senang
" Iya ayahanda memang benar, aku sangat senang karena menantikan hari ini " kata Eugene
Raja melihat ke arah para tamu, dan melihat Duke Reese dan keluarganya sudah hadir termasuk Arabella.
" Sepertinya yang sudah kau tunggu-tunggu sudah datang anakku " kata Raja sambil tersenyum
Eugene melihat ke arah Arabella yang mengenakan gaun berwarna merah muda, dan Eugene tersenyum melihatnya.
__ADS_1
" Dia selalu tampak cantik " kata Eugene dalam hatinya
Eugene berjalan menghampiri Arabella, tapi beberapa pria bangsawan mendekati Arabella. Eugene terlihat cemburu.
" Nona Arabella, maukah malam ini kau menjadi pasangan dansaku ?" tanya Sergio ( Putra Duke ) sambil mengulurkan tangannya
" Nona, lebih baik berdansa dengan saya saja " kata Derek ( putra Marques )
" Nona, bagaimana jika berdansa dengan saya? " tanya Zen ( putra Marques ) dengan tatapan menggoda
" Ah.. sebenarnya aku.. " Arabella terlihat gugup dan canggung.
Eugene menghampiri Arabella dan ketiga pria dari keluarga bangsawan itu. Mereka bertiga termasuk Arabella memberi salam pada Eugene dengan sopan.
" Maaf, seperti nya aku harus menyela kalian. Aku harus berbicara dengan nona Arabella " kata Eugene sambil menatap ketiga pria bangsawan itu dengan sinis
" Ya.. ba..baiklah yang mulia putra mahkota..kami akan pergi. " kata Derek gugup
Ketiga pria bangsawan itu pergi meninggalkan Eugene dan Arabella berdua. Dan Arabella pun menjadi pusat perhatian di pesta itu.
" Apa pria ini sengaja? menjadikan ku pusat perhatian untuk mengangguku? " batin Arabella merasa sebal
" Kalau begitu saya permisi dulu yang mulia " kata Arabella dengan senyuman
" Kau mau kemana? tidak tahu diri sekali, kau pergi begitu saja setelah aku menolongmu?" tanya Eugene kesal
" Ah.. baiklah.. Terimakasih yang mulia sudah menolong saya, kalau begitu saya permisi " kata Arabella formal
" Kau ! mana ada ucapan terimakasih seperti itu?" tanya Eugene kesal
" Lalu saya harus bagaimana mengucapkan terimakasih nya? " tanya Arabella sebal
" Kau harus mengucapkan nya dengan tulus " jawab Eugene
" Baiklah, aku harus turuti saja dulu keinginannya agar aku bisa cepat pergi" batin Arabella sebal
" Terimakasih yang mulia atas bantuan anda, saya sangat berterimakasih " kata Arabella sambil memaksakan tersenyum
Eugene memegang tangan Arabella dan mendorongnya ke pelukannya. Semua orang melihatnya.
" Aku berubah pikiran, seperti nya terimakasih saja tidak cukup " kata Eugene sambil tersenyum
" Yang mulia saya mohon jaga sikap anda, ini di aula pesta. Semua orang melihat kita " kata Arabella resah
" Entah kenapa aku senang melihat mu resah seperti ini, ayo memohonlah kepadaku agar aku melepaskan mu " kata Eugene sambil tersenyum puas
" Yang mulia .." Arabella menatap mata Eugene yang melihatnya dengan lembut
" Kenapa kau selalu menolakku? Kenapa?" batin Eugene sedih
" Eugene, kenapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu? dulu kau tidak pernah melihatku dengan tatapan begitu?" batin Arabella heran
Arabella dan Eugene terlihat seperti berpelukan di hadapan semua orang. Peter dan Ethan yang sedang berjaga merasa khawatir melihatnya. Orang-orang pun membicarakan hubungan mereka berdua, selain Claire, sang Ratu juga terlihat tidak senang dengan kedekatan Arabella dan Eugene.
" Ibu, lihatlah ibu. Kakak dan nona Arabella bukankah mereka pasangan yang serasi?" tanya Camille sambil melihat kearah Arabella dan Eugene
" Putri ku, apa kakakmu menyukai nona Arabella?" tanya Ratu dengan nada yang dingin
" Iya ibu, kakak menganggap nona Arabella itu berbeda dari gadis yang lainnya. Apa ibu tidak tau rumor tentang kakak dan nona Arabella?" tanya Camille heran
" Ibu tau nak, tapi ibu pikir itu hanya rumor " jawab Ratu sambil menatap tajam Arabella
" Itu bukan hanya rumor , ibu. Walaupun kakak belum mengatakan perasaannya pada nona Arabella tapi kakak benar-benar menyukainya " kata Camille menjelaskan
" Jika kakakmu benar-benar menyukai nya, maka itu adalah masalah" gumam Ratu
" Apa yang ibu katakan? kenapa kakak menyukai nona Arabella akan menjadi masalah?" tanya Camille kaget
" Ibu tidak mengatakan itu, kau salah dengar " Ratu tersenyum
" Benarkah aku salah dengar? jelas-jelas aku mendengar nya " batin Camille berfikir
" Bagaimana jika Eugene benar-benar menyukai gadis dari keluarga Duke Reese ? ini tidak baik untuk Claire , hanya dia yang harus jadi putri mahkota. Jika putri duke Reese itu hanya menjadi selir nya tidak apa-apa, tapi jika dia menjadi putri mahkota. Itu akan buruk bagiku dan keluarga Collete. " batin Ratu resah
Eugene semakin memegang erat tangan Arabella, Arabella terlihat kesal tapi ia tak bisa melawan.
" Apa yang harus saya lakukan agar anda melepaskan saya?" tanya Arabella kesal
" Apa ya? bagaimana jika dansa pertamaku hari ini ku lakukan denganmu? " Eugene tersenyum
" Iblis, kenapa kau tersenyum seperti itu. " batin Arabella semakin jengkel
Arabella melihat Eugene dengan tatapan penuh kebencian dan ketidaksukaan nya itu secara terang-terangan.
Tak lama kemudian, seorang pria tak dikenal menarik tangan Arabella. Semua orang melihatnya. Arabella kaget melihatnya.
" Siapa dia? tampan sekali !" seru salah satu gadis bangsawan terpesona
" Benar sekali, ya ampun. Rambutnya juga sangat keren " kata Aida terpesona
" Siapa dia ya? datang-datang langsung merebut perhatian semua orang dengan ketampanannya. Kita bahkan baru pertama kali melihatnya " kata Megan berfikir
" Apa dia seorang pangeran?" tanya seorang gadis bangsawan lainnya.
Eugene menatap tajam pada Aiden yang disangkanya pria asing yang menarik tangan Arabella itu. Arabella berada dalam pelukannya, dan ia merasa tidak asing dengan tatapan pria itu.
" Pria ini, aku tidak pernah melihatnya. Tapi, kenapa dia terasa familiar untukku?" batin Arabella
" Jika dengan menjadi pangeran aku bisa melindungimu, akan ku lakukan apapun " batin Aiden penuh keyakinan
Raja dan Ratu seperti nya mengenali Aiden karena mereka terlihat kaget saat melihat Aiden.
Saat itu Arabella memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri dari Eugene dan Aiden dan ia berlari ke arah Aida, Megan dan wanita bangsawan lainnya yang sedang mengobrol.
" Lama tidak berjumpa, Adikku . Atau sekarang harus ku panggil Putra Mahkota" kata Aiden sambil membungkuk memberi salam
" Kakak? " Eugene kaget dan tercekat mendengar Aiden memanggilnya adik
Sang Raja berdiri dari singgasananya dan berjalan menghampiri Aiden. Raja menangis dan memeluk Aiden dengan penuh kasih sayang. Sementara itu disisi lain, sang Ratu terlihat tidak senang.
" Kau akhirnya datang, anakku " kata Raja sedih
" Maaf kan saya karena datang terlambat yang mulia Raja " kata Aiden.
Arabella dan semua orang disana kaget mendengar percakapan mereka dan mengetahui bahwa Aiden adalah pangeran pertama yang sudah lama tinggal di daerah pengasingan.
" Jadi, dia adalah pangeran Aiden? pangeran yang katanya dibuang oleh raja ke negeri Londo?" tanya Megan tak percaya
" Dia sangat tampan, dan berkarisma " kata Aida memuji
" Pangeran Aiden.. " Arabella terkejut dan ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari Aiden, karena ia mengenali baju yang dikenakan Aiden.
Sore itu Aiden menjadi perbincangan para bangsawan dan juga para gadis bangsawan karena ketampanannya. Di hadapan semua orang Ratu menunjukkan sikap ramah pada Aiden, karena ia tau ia tak bisa membantah perintah raja untuk membuat Aiden tinggal diistana lagi.
Arabella menyindiri di balkon istana dan ia berfikir tentang Aiden dan guru nya yang memiliki beberapa kemiripan.
" jelas-jelas warna mata dan tatapan mata nya sama, guru dan pangeran Aiden. Bagaimana bisa ada orang yang begitu mirip? dan kenapa baju yang dipakai pangeran Aiden sangat mirip dengan baju yang ku pilihkan untuk guru. Apa ini kebetulan saja?" gumam Arabella
Arabella mendengar suara orang yang sedang bicara dan ia bersembunyi.
" anda sudah berjanji pada saya yang mulia ratu " kata Oscar tajam
" Aku tahu, aku pasti akan menepati janjiku. " kata Ratu
( " Ratu berbicara dengan siapa? )Arabella bettanya dalam hatinya
" Saya akan menunggu, keponakkan saya harus menjadi putri mahkota. " kata Oscar tegas
" beraninya kau mengancam ku, aku ini seorang Ratu !" seru Ratu marah
" Oh, apa yang mulia merasa terancam dengan saya yang hanya seorang Count ini? " tanya Oscar sambil tersenyum sinis
" Aku pasti akan menjadi kan keponakkan mu itu sebagai putri mahkota, sebaiknya kau tetap tutup mulutmu rapat-rapat " kata Ratu sinis
" Baiklah, saya hanya mengingatkan anda saja. Jika anda lupa atau mengabaikan permintaan saya, saya akan membongkar insiden dibalik kematian nona Canaria kepada yang mulia Raja " kata Oscar tajam
" Apa? ratu terlibat dalam insiden kematian istri pertama raja?" batin Arabella kaget
" Kau bisa tutup mulutmu tidak sih? bagaimana jika ada yang dengar !" Ratu kesal
" Maka dari itu anda harus segera bertindak yang mulia ratu, jangan biarkan saya menunggu anda lebih lama lagi " Oscar tersenyum licik
Ratu dan Oscar pun pergi.
__ADS_1
Arabella kaget mendengar semuanya, ia tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
" Jadi mungkin, rencana penggulingan ku sebagai putri mahkota di masa lalu ada kaitannya dengan ratu juga? .. Count Oscar sudah bekerja sama dengan ratu sejak lama.. jadi ini sudah di rencanakan untuk mengangkat Claire jadi putri mahkota, benar-benar jahat ! " kata Arabella dalam hatinya