
Hai readers yang masih setia dengan novel ke dua ku ini 😁🙏
Apa kabar semuanya? semoga sehat-sehat selalu ya --😊
Welcome di season 3 novel Arrabella Twice Lives..
Di season kemarin, diceritakan Eugene yang mengetahui rahasia bahwa Layla adalah Claire yang sebenarnya pura-pura mati di dalam kebakaran. Ia datang untuk membalas dendam Arrabella. Namun, Eugene lah yang berakhir mati karena menyelamatkan Arrabella dari serangan Claire. Sakit hati dan merasa bersalah, Claire memutuskan untuk mengakhiri hidupnya....
****
...Bab 99...
...Tanggungjawab Ratu...
...(Season 3)...
**
Cahaya matahari menembus jendela kamar Raja dan Ratu. Menandakan hari sudah pagi, dan waktunya memulai aktivitas. Arrabella yang sudah mandi dan berias, segera membangunkan suaminya yang masih rebahan ditempat tidur.
" Yang mulia, ini sudah pagi. Kau bisa terlambat berburu nanti " kata Arrabella sambil menggoyangkan tubuh Aiden yang masih rebahan di ranjang mereka, wanita itu berbicara dengan penuh kasih sayang.
" Ini kan masih pagi, 5 menit lagi saja ya.." jawab Aiden malas, lalu menutup matanya kembali
" Raja ku, ayo cepat bangun atau aku akan..
" Kau akan apa? mencium ku? kalau itu bisa kau lakukan maka aku akan bangun deh " kata Aiden manja
CUP
Satu ciuman dari Arrabella mendarat di pipi Aiden, mata pria itu langsung terbuka dan menjadi bersemangat.
" Kau menjadi semakin berani ya "
GREP
Aiden bangun dan memeluk istrinya dari belakang dengan penuh kasih sayang.
" Baguslah kalau kau sudah bangun, ayo bersiaplah. Pagi ini kita ada pertemuan dengan para bangsawan dan siangnya kau ada acara berburu di hutan Clariness bukan?" tanya Arrabella sambil memegang tangan Aiden
" Kau tidak akan ikut bersamaku ke perburuan?" tanya Aiden berharap
" Aku sih ingin nya ikut, tapi aku tidak bisa. Banyak pekerjaan yang menumpuk di ruang kerja ku, belum lagi para nona bangsawan katanya akan berkunjung hari ini. Aku sangat sibuk " terang Arrabella
" Dasar para wanita, sukanya berpesta saja " Aiden menggerutu sebal
" Ini bukan pesta biasa. Kau tau kan, kalau aku sekarang adalah ibu negeri ini? perjamuan ini sangat penting untuk membangun relasi dan keharmonisan antara Ratu dan nona bangsawan lainnya. Ini adalah tanggungjawab ku mengadakan perjamuan seperti ini " kata Arrabella memberikan pengertian kepada suaminya itu
" Baiklah aku mengerti. Tapi, kapan waktu mu kosong? Apa minggu ini ada jadwal yang kosong? " tanya Aiden
" Sayang sekali, jadwalku minggu ini sangat padat. Memangnya ada apa?" tanya Arrabella
" Tidak ada apa-apa kok, jika jadwal mu sudah senggang. Segera beritahu aku ya "
" Naomi pasti senang dengan kejutan yang akan aku berikan nanti " batin Aiden
" Ya, baiklah. " jawab Arrabella sambil tersenyum ramah
" Aiden maafkan aku, benar-benar maaf. Ini demi kebaikan mu dan kerajaan ini" batin Arrabella merasa bersalah
Aiden tiba-tiba mencium bibir istrinya dengan lembut, tangannya merengkuh kedua pipi Arrabella.
Humph...
humph..
Haaaahh..
Ciuman itu terlepas, oleh Arrabella yang mendorong tubuh Aiden.
" Semalaman sudah membuatku begadang, apa sekarang kau mau lagi?" tanya Arrabella cemberut
" Maafkan aku, semalam aku lepas kendali. Habisnya kau sangat cantik, hari ini cukup berciuman saja kok " kata Aiden sambil tersenyum
" Baiklah, aku memaafkan mu karena kau bilang aku cantik."
" Aku mencintaimu " Aiden menatap Arrabella dengan penuh kasih sayang
__ADS_1
" Aku juga " jawab Arrabella sambil tersenyum
Wanita itu berdiri dan merapikan pakaian nya. Aiden juga ikut berdiri dan bergegas pergi ke kamar mandi.
Tidak seperti bangsawan atau anggota kerajaan yang biasanya ketika mandi atau berias di layani oleh para dayang, Arrabella dan Aiden adalah pengecualian. Mereka menolak ditemani saat mandi, dan bersiap-siap. Menurut Arrabella, sang Ratu Clariness, menyiapkan kebutuhan suaminya adalah sebagian dari tanggungjawab dan kewajiban nya sebagai seorang istri, Aiden juga berfikiran hal yang sama.
Maka dari itu, tidak pernah ada yang diizinkan ke dalam kamar mereka dengan alasan apapun, hanya Daisy yang boleh masuk ke kamar itu, dan tugasnya hanya untuk membenahi kamar Raja dan Ratu.
Kehidupan istana tidak banyak berubah setelah kematian Eugene dan Claire. Aiden dan Arrabella sama-sama sibuk dalam urusan negara. Terkadang mereka bertemu hanya pada saat malam atau pagi saja, atau bahkan jika Aiden ada urusan di luar daerah, pasangan itu mungkin tidak akan bertemu dalam berhari-hari.
KLAK
" Yang mulia Raja telah TIBA !!" teriak Demian dengan lantang
Pintu ruang rapat kerajaan para bangsawan terbuka. Disana sudah ada beberapa bangsawan yang duduk di kursi mereka. Saat kedatangan Aiden, semua langsung memberi hormat tanpa terkecuali.
Raja Aiden berjalan dengan penuh karisma, wajahnya yang serius dan terkadang ramah, tatapan mata tajam, membuat pria itu semakin di segani orang-orang di sekitarnya.
" Salam yang mulia Raja ! panjang umur, sehat selalu ! " ujar para bangsawan sambil membungkuk memberi hormat
Tap
Tap
Tap
Raja Clariness itu berjalan menuju kursi nya yang paling tengah, diantara para bangsawan itu. Kemanapun Raja itu pergi selalu ada Lorenzo yang berjalan di belakangnya.
Saat Raja Aiden duduk di kursinya, semua bangsawan yang ada disana juga mengikuti nya dan duduk setelah hormat mereka diterima oleh sang Raja.
" Mari kita mulai rapat hari ini " ujar Aiden dengan suara yang lantang
Raja Aiden dan para bangsawan mengadakan rapat mengenai penempatan posisi untuk para bangsawan. Setelah berdiskusi dengan musyawarah, mereka mencapai mufakat. Para bangsawan dan menteri menteri itu diberi kepercayaan memegang masing masing 1 wilayah.
Entah darimana datangnya pembicaraan yang mulai menimbulkan ketidaknyamanan bagi Raja Aiden itu, tiba-tiba saja beberapa bangsawan membicarakan soal pewaris kerajaan Clariness.
" Ini sudah mau 2 tahun, pernikahan yang mulia Raja dan yang mulia Ratu. Apa Baginda belum ada rencana untuk memiliki seorang anak? " tanya Marquez Elza
" Kenapa begitu terburu-buru? ini baru 2 tahun sejak pernikahan kami.. aku juga masih bisa memimpin negara " kata Aiden sinis dan menatap tajam para bangsawan itu
" Bu.. bukan begitu yang mulia " kata Marquez Elza gugup dan ketakutan
"' Maaf jika saya lancang yang mulia, tapi yang dikatakan Marquez Elza dan Viscount Carsiel tidak salah. Meskipun yang mulia masih bisa memimpin negeri kita, tapi seorang pewaris tetaplah di butuhkan. Saya mendengar desas-desus tentang penyakit yang mulia Ratu, yang mengatakan kalau Baginda ratu itu mandul, jika itu benar saya bisa mengusulkan Baginda Raja untuk mengambil selir " kata Duke Vantias ( mantan pendukung Eugene di masa lalu) menerangkan dengan berani
Aiden tercengang dan marah ketika mendengar perkataan Duke Vantias. Ia tak bisa menahan emosinya lagi. Raja Clariness itu menggebrak meja dan murka kepada Duke Vantias. Sementara itu para bangsawan melihat nya dengan kaget, karena Aiden tidak pernah begitu marah sebelumnya.
" Beraninya kau mengusulkan permintaan tidak masuk akal itu. Kau bahkan telah menghina Ratu negeri ini dan mengatakan nya mandul ! Keterlaluan sekali kau Duke Vantias !" teriak Aiden murka
" Yang mulia Raja begitu sensitif jika itu mengenai Baginda Ratu. Walaupun perkataan Duke Vantias itu benar, tapi membicarakan nya dengan terbuka seperti ini adalah kesalahan besar " batin Lorenzo
" Saya.. saya hanya mengatakan fakta, dan saya mengusulkan yang terbaik untuk negeri ini. Tidak ada salahnya bagi seorang Raja untuk memiliki selir " kata Duke Vantias sambil memalingkan wajahnya
Aiden semakin murka, ia memerintahkan Sir Demian ( yang sudah jadi ketua Black Knight ), untuk memberi hukuman pada Duke Vantias yang sudah menghina Ratu. Duke Vantias di seret keluar oleh sir Demian dan beberapa pengawal kerajaan untuk mendapatkan hukuman atas kelancangan nya. Raja Clariness itu membubarkan rapat itu dan memperingatkan semua orang agar tutup mulut dengan kejadian di rapat hari ini.
" Jika sampai kejadian ini bocor keluar, kalian semua yang ada di dalam ruangan ini akan terima akibatnya, tanpa terkecuali. Apalagi jika sampai terdengar ke telinga Ratu ku, kalian bersiap lah untuk mati " kata Aiden serius
GLEK
Para bangsawan yang hadir di sana terdiam ketakutan dan berkata akan mematuhi perintah Aiden.
Di dalam hati kecilnya ia mengakui bahwa yang dikatakan Duke Vantias adalah fakta, tapi di bagian hati nya yang lain ia tidak mau menerima fakta itu karena takut akan menyakiti Arrabella dan dirinya sendiri. Bukannya ia tidak ingin memiliki keturunan, ia juga pernah bermimpi tentang bermain dengan seorang anak yang mirip dengan nya dan Arrabella.
Namun, memang kenyataan nya istrinya itu mungkin tidak bisa memberikan nya keturunan. Meksipun sudah sembuh dari racun, meminum obat-obatan herbal, berobat kepada dokter terbaik, bahkan memakai giok merah pemberian Saint Lucia, usaha mereka memiliki anak belum juga berhasil.
" Selir? meskipun aku sangat ingin mempunyai anak, tapi sampai mengambil selir dan mengkhianati Arrabella.. itu tidak mungkin. Lebih baik aku tidak punya anak saja seumur hidup ku " gumam Aiden stress
Lorenzo merasa prihatin melihat Aiden yang begitu marah dan stress untuk pertama kalinya karena kata-kata para bangsawan tentang mempunyai keturunan. Ia berfikir, jika Raja nya saja seperti ini hanya dengan mendengar satu kata dari para bangsawan, apalagi dengan Ratu nya yang mungkin harus menghadapi ejekan nyinyir dari para wanita bangsawan.
****
Di ruang kerja Ratu Clariness..
Arrabella sedang memeriksa dan menandatangani beberapa dokumen yang mulai surut di mejanya.
__ADS_1
" Padahal tadi dokumen ini menumpuk setinggi gunung, tapi sekarang sudah surut saja " kata Grace senang
" Iya, syukurlah aku cepat mengerjakan nya. Hari ini kan ada jamuan minum teh para nona bangsawan di taman belakang " kata Arrabella sambil menandatangani beberapa kertas yang ada di mejanya
" Yang mulia benar-benar hebat, bisa menyelesaikan dokumen nya dengan cepat. Oh ya, katanya Ratu Megan dari Vanders juga akan menghadiri acara minum teh itu " kata Grace melaporkan
Wanita itu menghentikan aktivitas nya dan terdiam sejenak. Wajahnya terlihat senang begitu ia mengetahui bahwa sahabat dekat yang sudah seperti saudara nya itu akan datang ke perjamuan pesta minum teh nya. Namun, perlahan senyuman nya memudar saat ia teringat seseorang yang ia undang akan datang di pesta itu.
" Lalu bagaimana dengan nya ? apa kau sudah pastikan dia akan datang ?" tanya Arrabella dengan wajah serius dan tampak tidak nyaman
" Iya yang mulia, nona Valton sudah menyetujui undangan yang diberikan yang mulia. Bisa dipastikan beliau akan datang siang ini " jawab Grace
" Jadi ini waktunya ya ..haa.. " gumam Arrabella sambil menghela napas, tatapan wanita itu seperti menyimpan kesedihan dan luka.
1 jam berlalu, Arrabella dan Grace sudah menyelesaikan tugas mereka di ruang kerja. Perjamuan pesta teh di istana Ratu akan segera dimulai, para nona bangsawan sudah menunggu Ratu di taman belakang.
Mereka duduk di meja yang sudah di sediakan di istana Ratu. Kira-kira terlihat ada 15 nona bangsawan yang hadir disana, dan rata-rata semua yang hadir adalah wanita yang belum menikah, kecuali Megan.
Karena tujuan Arrabella mengadakan pesta jamuan minum teh ini adalah untuk melihat potensi para nona bangsawan dan meningkatkan relasi nya dengan para keluarga bangsawan juga.
" Yang mulia ratu telah tiba !!" teriak Felix yang mengumumkan kedatangan Ratu.
Semua nona bangsawan yang hadir segera membungkuk hormat dan memberi salam saat Arrabella datang menghampiri mereka. Ratu Clariness itu tersenyum ramah pada semua yang hadir.
" Salam yang mulia Ratu !!" ujar para nona bangsawan yang hadir
" Aku harap aku tidak menganggu waktu kalian karena mengajak kalian ke perjamuan ini " Arrabella tersenyum
" Tentu saja tidak yang mulia " kata salah seorang nona bangsawan
" Suatu kehormatan bagi kami untuk datang di perjamuan yang di adakan oleh Baginda Ratu " kata seorang nona bangsawan
" Baguslah, senang mendengar nya. Kalau begitu, bagaimana kalau kita semua duduk sambil mengobrol?" tanya Arrabella ramah
Ratu Clariness itu celingukan kesana kemari seperti mencari seseorang yang belum datang. Ia tampak cemas, tapi wanita itu menutupi kecemasan dengan senyuman.
Tak lama kemudian setelah nona nona bangsawan duduk di kursi mereka, Megan datang dengan membawa bayi dalam gendongan nya. Ratu Vanders itu ditemani dengan serombongan pengawal yang ditugaskan Dominic, Cane dan Wen juga ada dibelakang nya.
" Ratu Megan, kau sudah datang?" tanya Arrabella ramah
" Iya, maafkan aku ya. Aku terlambat, semuanya.. aku minta maaf " jawab Megan sambil tersenyum tipis pada semua nona bangsawan, dan menatap tajam pada Anna dan Lily.
Para nona bangsawan membungkuk memberi hormat pada Megan.
" Kenapa Ratu Megan tiba-tiba menatapku begitu? " batin Lily resah
" Kenapa Ratu Megan melihatku begitu? apa alu melakukan kesalahan?" batin Anna bingung
" Awas saja kalau kalian berkata macam-macam dan menyakiti kakak ku, aku tidak akan tinggal diam " batin Megan terlihat tak suka pada Lily dan Anna
" Ada apa dengan mereka?" batin Arrabella heran. Melihat Megan terlihat sinis pada Lily dan Anna.
" Ayo kita semuanya duduk, dan nikmati teh nya.. hehe " Arrabella berusaha mencairkan suasana
Mereka semua duduk dan menikmati teh yang sudah di sediakan. Para nona bangsawan terlihat mengobrol satu sama lain, begitu pula dengan Arrabella yang cepat membaur.
Semua suasana harmonis itu terpecahkan saat seorang wanita bangsawan yang hadir terlambat.
" Maafkan saya karena datang terlambat, saya tersesat. Perkenalkan, saya Sylvia Adelia Valton dari keluarga Count Valton " kata Sylvia sambil membungkuk hormat di depan Ratu Clariness.
Wanita berambut coklat, mata berwarna hijau seperti batu emerald, kulit putih, wajahnya mencerminkan kesederhanaan, baju yang dikenakan nya pun tidak terlalu mahal dan cenderung sederhana.
Arrabella menatap Sylvia dari atas sampai ke bawah, ia tersenyum ramah kepada gadis itu.
" Selamat datang di perjamuan pesta minum teh ini, nona Valton " Ratu Clariness itu menyambut kedatangan Valton dengan senang hati.
" Saya benar-benar minta maaf yang mulia Ratu. " Sylvia terlihat menyesal.
Ratu Arrabella, Ratu Megan dan para bangsawan duduk dan menikmati pesta minum teh nya. Arrabella terus memperhatikan gerak gerik Sylvia.
Wanita desa yang baru menerima gelar bangsawan itu, terlihat mudah akrab dengan orang lain. Kesan pertamanya adalah polos dan baik hati. Arrabella menyukai kesederhanaan wanita itu. Megan terpisah
Saat itu, Arrabella berpikir inilah pilihan terbaik untuk kebahagiaan suami nya dan kerajaan. Tapi, apakah pilihannya ini benar? untuk mengambil selir untuk suaminya? Apakah wanita ini benar-benar sepolos yang terlihat dari luar?
...---***---...
Readers, Author butuh dukungan kalian nih. Jangan lupa dong Like, vote dan komen nya ❤️🤗🙏🎉
__ADS_1