
.
.
Setelah membaca surat dari Demian itu, Dominic bergegas menemui Megan yang sedang makan buah mangga di taman.
" Yang mulia, ada apa?" tanya Megan dengan wajah belepotan
" Aku akan pergi ke istana Clariness sekarang, jika ada apa apa kau bisa menghubungi ku dengan cermin itu " kata Dominic
" Ada apa yang mulia? anda terlihat cemas " tanya Megan heran
" Ini bukan urusanmu " jawab Dominic dingin
" Baiklah, maaf saya lupa kesepakatan kontrak kita. Tapi, saya boleh bertanya kan?" tanya Megan
" Apa?"
" Anda mau bertemu siapa di istana Clariness?" tanya Megan penasaran
" Meskipun aku tau dia pasti kesana ingin menemui putri mahkota, tetap saja aku ingin tau " batin Megan sedih
" Bertemu putra mahkota Aiden dan putri mahkota juga " jawab Dominic
" Baiklah, berhati-hatilah " kata Megan sambil tersenyum pahit
" Kau juga Ratu " jawab Dominic dengan nada datar
SLING
WUSH
Megan terlihat sedih melihat Dominic pergi, ia menghentikan makan buahnya. Wen melihatnya dengan sedih, dan pelayan itu tau kalau Dominic masih mencintai Arrabella meskipun ia sudah menikah dengan Ratu nya. Wen berusaha menghibur Megan dengan mengajaknya berjalan-jalan agar hati wanita itu menjadi lebih baik.
***
Aiden sampai di istana, ia mencari Arrabella di ruang kerjanya, namun wanita itu tidak ada disana, yang ada hanya Grace yang sedang mengerjakan tugas nya.
" Salam yang mulia putra mahkota " Grace menundukkan kepala dengan hormat
" Grace, dimana putri mahkota? kenapa dia tidak bersamamu?" tanya Aiden
" Putri mahkota sedang tidak enak badan hari ini, beliau meminta istirahat sebentar. Dan sekarang sedang di kamarnya, yang mulia.." jawab Grace
" tidak enak badan?" gumam Aiden cemas
Di kamar nya, Layla menyeduh teh untuk Arrabella agar wanita itu merasa lebih baik.
" Yang mulia, saya berharap anda selalu sehat-sehat saja. " kata Layla dengan raut wajah yang khawatir
" Layla kau tenang saja, aku hanya sakit kepala biasa. Ngomong-ngomong terimakasih ya " Arrabella tersenyum
" Dia mirip sekali dengan Layla yang ku kenal, polos dan baik hati. " batin Arrabella
" Terimakasih untuk apa yang mulia? menyeduh kan teh untuk yang mulia sudah jadi tugas saya " kata Layla sambil tersenyum ramah
" Bukan terimakasih untuk itu. Maksud ku terimakasih untuk perhatian mu " jawab Arrabella tulus
" Saya tersanjung menerima ucapan terimakasih dari yang mulia. " kata Layla sambil tersenyum malu
Tak lama kemudian Daisy masuk membawa obat sakit kepala untuk Arrabella.
" Bagaimana Layla? apa kau senang bisa melayani yang mulia putri mahkota dari dekat " kata Daisy ramah
" Sa.. saya sangat senang, sebuah kehormatan dan keberuntungan saya bisa melayani putri mahkota dan menjadi dayang pribadinya " kata Layla senang
" Apa kau sesenang itu Layla?" tanya Arrabella
" Bagaimana bisa dia tidak senang? melayani yang mulia Putri mahkota, adalah keinginan nya sejak dulu " kata Daisy
" Be..benarkah?!!" tanya Arrabella tak percaya
" Sebenarnya saya penggemar berat yang mulia putri mahkota, sejak yang mulia putri mahkota menyelamatkan gadis gadis yang akan dijual.. " terang Layla
" Jadi kau sudah mengenalku selama itu?" tanya Arrabella kaget
" iya benar, sejak saat itu saya adalah fans yang mulia. "Layla tersenyum ceria
" Baiklah, kalau begitu aku minta bantuannya ya. Tolong layani aku dengan baik " kata Arrabella sambil meminum teh nya
" Saya akan dengan senang hati melayani yang mulia, bahkan untuk seumur hidup saya " Layla menunduk dan tersenyum menyeringai
" Kau bisa minum dengan santai sekarang, karena aku tidak memberi racun di teh mu. Tapi, kau akan merasakan kehancuran dari dalam hatimu. Bersiaplah untuk serangan dariku, wanita jalang " batin Layla penuh amarah
Daisy dan Layla pergi dari kamar Arrabella setelah mendengar bahwa diluar pintu kamar ada Aiden yang akan menemui Arrabella.
Pria itu berhadapan dengan istrinya, menatap istrinya dengan rasa bersalah, sementara Arrabella sendiri bersikap cuek kepada pria itu. Ia tidak tau harus berkata apa pada suaminya yang sebelumnya bersikap dingin padanya. Ditangan Aiden ada buket bunga dan ia juga membawa kantong kresek yang dibawanya dari toko pia Bakery.
" Naomi.. aku dengar kau sakit, apa kau sudah memeriksakan nya pada dokter istana?" tanya Aiden canggung
" Tidak usah, ini hanya sakit kepala biasa. "jawab Arrabella cuek
" kenapa dia membawa bunga mawar kesukaan ku? dan kenapa ada bungkusan dari pia bakery?" batin Arrabella yang fokus melihat apa yang dibawa suami nya itu
" Naomi, mari kita bicara " kata Aiden lembut
" Jadi, sekarang anda mau mendengarkan saya?" tanya Arrabella dengan nada dingin
" Dia pasti masih marah padaku, dia bahkan bicara formal. Ya, aku memang pantas diperlakukan seperti ini, aku sudah menampar nya.. " batin Aiden merasa bersalah
" Iya, aku rasa tidak baik kita terus berdiam diri. Apapun penjelasan mu, akan aku dengarkan. " kata Aiden
" Apa anda tidak akan mencurigai saya lagi? ah pertanyaan nya salah.. apa anda akan percaya pada saya?" Arrabella melirik ke arah suaminya itu dengan serius.
JLEB
Pertanyaan itu sangat menusuk hati Aiden, karena ia menyadari sebelumnya ia bersikap seperti seseorang yang tidak percaya pada istrinya dan menganggap istrinya sudah berkhianat padanya. Ia merasa malu dan kesal pada dirinya yang sudah diselimuti rasa cemburu. Pertanyaan dari Arrabella tidak bisa dijawab oleh Aiden.
" Jadi dia tidak bisa jawab?" batin Arrabella kecewa
" Baiklah, kalau anda tidak bisa jawab. Saya akan langsung menceritakan kejadian hari itu " kata Arrabella tanpa berbasa-basi
__ADS_1
Setelah menceritakan secara panjang lebar pada suaminya tentang kejadian pada hari itu, ia hanya berharap Aiden akan percaya kepadanya. Aiden terlihat kaget saat Arrabella bilang kalau Dominic menciumnya.
" Apa benar? dia mencium mu? berani nya dia berbuat hal memalukan seperti itu pada istri orang lain dihari pernikahan nya ??!" Aiden terlihat marah
" Yang mulia..tidak marah padaku?" tanya Arrabella heran
" Kenapa aku harus marah padamu? ini semua salah nya, dia yang mencium istriku dengan paksa ! aku harus memberinya pelajaran !" kata Aiden murka
" Itu artinya kau percaya padaku?" tanya Arrabella sambil menangis
Pria itu menghampiri Arrabella dan menyeka air mata istrinya dengan kedua tangannya. Tampak rasa bersalah dimatanya pada Arrabella.
" Tentu saja aku percaya padamu..aku min.."
Tok
Tok
Tok
" Siapa??!"
" Yang mulia, Baginda Raja Dominic dari kerajaan Vanders ingin bertemu dengan yang mulia " kata Demian yang ada di balik pintu
" Oh tepat waktu sekali, Naomi.. ayo kita temui dia bersama " kata Aiden
****
Dominic menunggu di ruang tamu pribadi milik putra mahkota. Pria itu sudah mempersiapkan kata-kata untuk menjelaskan pada Aiden, ia tidak ingin Arrabella disalahkan atas kejadian tak senonoh yang ia perbuat pada putri mahkota Clariness itu.
KLAK
Arrabella dan Aiden masuk bersamaan, begitu melihat wajah Dominic. Aiden begitu marah, ia langsung berlari ke arah raja tiran itu dan memukulnya. Tidak peduli, Dominic seorang Raja atau bukan.
BUK
" yang mulia !" Arrabella dan Demian yang melihat nya terkejut.
" Pria brengsek " batin Aiden kesal
Dominic berdiri dan mengusap darah yang ada di sudut bibirnya karena Aiden memukulnya dengan keras.
" Aku minta maaf putra mahkota Aiden, ini memang salah ku. Aku yang sudah mencium paksa putri mahkota " kata Dominic langsung pada intinya.
" Beraninya kau berkata seperti itu ! ternyata kau masih menyimpan rasa pada istriku, padahal kau sendiri sudah punya istri " kata Aiden marah
" Aku tidak akan menyangkal nya kalau itu memang benar. Makanya aku minta maaf padamu, terutama pada putri mahkota Arrabella. Perilaku ku saat itu sangat kurang ajar.. putri mahkota tidak bersalah, akulah yang memaksanya" kata Dominic menyesal
Aiden mengepal tangannya dengan kesal, ia ingin memukul pria itu. Tapi, Arrabella menahannya. Wanita itu mengatakan bahwa ia tak akan mempermasalahkan ini lagi karena Dominic sudah minta maaf, dan baginya yang terpenting adalah Aiden kembali percaya padanya. Setelah perbincangan yang singkat, Dominic berpamitan untuk kembali ke Vanders.
" Raja Dominic, tunggu !!" Arrabella memanggil
" Ada apa putri mahkota?"
" Tolong jaga Ratu Megan dan calon anakmu baik-baik " kata Arrabella tulus
" APA?? Apa maksudmu?" tanya Aiden yang tak tau kalau Megan sedang hamil
" Seperti yang putra mahkota dengar, aku akan segera menjadi seorang ayah. Jadi, aku tidak akan menganggu kalian lagi.. semoga kalian bahagia " kata Dominic sambil tersenyum pahit
" Secepat itu? kau akan menjadi seorang ayah?" Aiden tak percaya
" Kalau begitu, kalian cepat menyusul juga.. aku pamit "kata Dominic
" Baiklah, aku berdoa dengan tulus agar kau bisa bahagia " kata Aiden tulus
" Semoga " jawab Dominic sambil tersenyum pahit
Wush
KLING
Dominic sudah menghilang dengan menggunakan sihir nya. Masalah pun sudah selesai dengan penjelasan dan permintaan maaf dari Dominic. Akan tetapi, Aiden masih merasa malu untuk meminta maaf pada istrinya itu.
" Saya akan kembali bekerja yang mulia "kata Arrabella sopan
" Bukankah kau bilang tadi kau sedang sakit kepala?" tanya Aiden cemas
" Sudah tidak sakit lagi " jawab Arrabella sambil tersenyum pahit
" Kau istirahat saja "
" Saya banyak pekerjaan "
" Jangan bicara formal seperti ini, kau menyakiti hatiku " kata Aiden sedih
" Lalu saat kau menamparku? apa hatiku tidak sakit? aku tau dia mau minta maaf, tapi aku sedang tidak mau mendengarnya bicara saat ini. Kepalaku rasanya mau pecah " batin Arrabella masih kesal pada suaminya itu
" Maaf, saya harus kembali ke ruang kerja saya. Yang mulia juga banyak pekerjaan, bukan? " tanya Arrabella
" Tapi aku ingin bicara dengan mu " jawab Aiden tegas
" Kita bicara saja nanti malam " kata Arrabella sambil menunduk memberi hormat, dan tak lama kemudian ia melangkah pergi.
TAP
TAP
TAP
" yang mulia, kenapa anda tidak mengejarnya?" tanya Demian heran
" Itu.. aku akan mengejar..
TOk
TOk
TOk
Tak lama kemudian, Aiden mendapat kunjungan dari Duke Zena, Marquez Varant dan beberapa bangsawan lainnya, dan mereka membicarakan tentang bencana yang melanda daerah perbatasan Londo-Clariness. Hingga putra mahkota Clariness itu menjadi sibuk dan tidak punya waktu untuk mengejar Arrabella.
__ADS_1
Sementara itu Arrabella kembali ke ruang kerja nya dan menyelesaikan pekerjaan nya.
Setelah menyelesaikan pekerjaan nya ia dan Camille pergi ke penjara untuk menemui Eugene dan memberitahukan pembebasan nya.
" Kakak.. akhirnya kakak dibebaskan.. syukurlah " kata Camille sambil memeluk Eugene yang sudah keluar dari tahanan.Eugene terkejut karena ia baru saja di tahan selama 5 bulan, sudah dibebaskan.
" Aku dibebaskan? tapi kenapa?" batin Eugene terpana
Pria itu semakin terkejut saat melihat Arrabella dan kedua pelayan nya sudah ada disana dan memberitahukan mandat Raja Caesar untuk membebaskan dirinya dari hukuman dan tuntutan dari Arrabella padanya, sudah dicabut. Dan sungguh diluar dugaan, Eugene yang biasanya selalu bersikap tidak formal pada Arrabella. Kali ini memberi hormat pada wanita itu dengan sopan. Diam-diam pelayan yang bernama Layla itu melirik Eugene dengan penuh perasaan.
" Salam yang mulia putri mahkota, lama tidak bertemu " kata Eugene sopan
" Ada apa dengan nya? ini pertama kalinya dia bersikap formal padaku " batin Arrabella curiga
" Lama tidak bertemu pangeran Eugene " kata Arrabella membalas salam dengan sopan
" Aku sangat berterimakasih atas kebaikanmu yang sudah membebaskan ku dari tahanan " Eugene terlihat tulus
" Tidak masalah, saya ingin kita berdamai dengan masa lalu dan memulai hidup yang baru. Pangeran Eugene juga harus bisa begitu, saya dan yang mulia Raja sudah memberi kesempatan.. jadi jangan kecewakan saya dan yang mulia Raja "
" Aku berjanji tidak akan membuat kalian yang sudah membebaskan ku ini untuk kecewa" kata Eugene
" Terimakasih yang mulia putri mahkota, karena kau sudah membebaskan kakakku " kata Camille senang
" Aku senang kalau kau bahagia, jadi jangan berterimakasih padaku adik ipar. Dan panggil saja aku kakak seperti biasanya, aku akan sangat senang kalau hubungan kita seperti dulu lagi " kata Arrabella sambil tersenyum ramah
" Baiklah kakak " kata Camille sambil tersenyum
Eugene ternyata masih menatap Arrabella dengan penuh perasaan, mungkin saja memang masih ada cinta yang ia simpan untuk wanita itu di dalam hatinya. Sepertinya tingkahnya saat ini juga bukan akting, ia terlihat tulus dan bersungguh-sungguh menyesal atas perbuatannya. Setelah pembebasan nya, Camille mengantar kakak nya menemui Raja yang sedang sakit.
" Nak, kau sudah datang.." lirih Raja dengan suara yang lemah
Eugene mendekati sang Raja, ia tidak terlihat marah atau memendam kebencian, akan tetapi terlihat simpati dan sedih melihat ayahnya yang terbaring di ranjang itu.
" Sejak kapan ayah sakit? kenapa dia selemah ini?" batin Eugene cemas
Di wajah Raja yang pucat, terlihat sedikit senyuman. Pria yang sedang sakit itu memeluk Eugene dan Camille dengan penuh kasih sayang.
" Aku minta maaf, karena selama ini aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian berdua. Aku bahkan gagal melindungi ibu kalian dari kematian... aku harap kalian memaafkan ayah.." kata Raja penuh harapan
Eugene dan Camille terharu dengan perkataan Raja, mereka mengatakan bahwa mereka akan melupakan semuanya dan mulai dari awal. Eugene juga mengatakan penyesalan nya karena selama ini menjadi orang jahat, menutupi kejahatan mendiang Ratu, dan masih banyak lagi kejahatan yang ia lakukan di bawah provokasi Ratu. Pada akhirnya rekonsiliasi antara Raja dan Eugene pun terjadi dan berakhir dengan baik. Dan anehnya, Eugene tidak terlihat marah saat Raja mengatakan padanya bahwa Aiden akan segera diangkat menjadi Raja.
Eugene malah mengatakan bahwa ia juga akan membantu Aiden dalam mengurus istana dan pemerintahannya sebagai saudaranya. Raja yakin bahwa ini bukanlah tipu muslihat dari Eugene, mata pria itu terlihat tulus, ada penyesalan yang terlihat di wajahnya. Semoga saja perubahan ini benar !
***
Malam itu, Arrabella ditemani Daisy dan Layla pergi menuju ke taman belakang istana Clariness.
" Huft.. akhirnya, masalah selesai satu persatu.. sebaiknya aku mendinginkan kepalaku dengan melihat bunga bunga di taman. "
Tap
Tap
Tap
Di sepanjang perjalanan nya menuju taman bunga, ia melihat banyak pengawal membawa mawar ungu ditangannya. Dalam hati, wanita itu berkata " ada apa ini?"
Pengawal kerajaan itu memberikan bunga nya satu persatu kepada Arrabella, sampai sampai tangannya penuh dengan bunga.
" Eh.. ada apa ini?" tanya Arrabella tak mengerti
" yang mulia tolong jalan lurus saja, " kata Demian sambil tersenyum hangat dan menunjukkan jalan ke air mancur.
" Ah? apa?" wanita itu terlihat bingung.
Kedua pelayan nya yang mengerti waktu privasi Arrabella, akhirnya meninggalkan wanita itu di taman bersama para pengawal istana.
Wanita itu terus berjalan menuju ke air mancur. kerajaan dengan membawa banyak bunga mawar ungu di tangannya.
CLING
CLING
CLING
Setiap wanita itu berjalan, lampu lampu akan mulai menyala seolah olah mengikuti gerakan kaki dan langkahnya. Lampu yang berkelap-kelip malam itu terlihat sangat indah, seperti bintang yang bertaburan di gelap nya malam. Arrabella mengagumi keindahan nya, dan bertanya-tanya siapa yang melakukan hal ini. Ketika ia sampai di ujung jalan, ia melihat siluet seorang pria bertubuh tinggi seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Pria itu tepat berdiri di belakang air mancur.
Arrabella berjalan perlahan-lahan mendekati siluet pria itu, semakin ia mendekati nya semakin terlihat jelas wajah pria itu karena bersamaan dengan langkahnya, lampu akan menerangi jalannya.
Ternyata ia adalah Aiden, suaminya sendiri yang tersenyum hangat padanya.
" Yang mulia, apa yang anda lakukan ?" tanya Arrabella bingung
Pria itu berlutut di depan Arrabella.
" Apa yang kau lakukan? berdirilah yang mulia, tidak pantas bagi calon pemimpin negeri ini berlutut di depan seorang wanita !" kata Arrabella heran. Pria itu tetap berlutut di depannya.
" Naomi, aku minta maaf.. aku sudah salah paham, aku tidak mempercayai mu dan marah padamu. Aku bahkan bersikap kasar padamu, aku benar-benar malu.. aku minta maaf Naomi.." kata Aiden menyesal
Arrabella tersenyum dan akhirnya ia mengerti siapa yang menyiapkan kejutan kejutan itu untuknya.
" Berdirilah, yang mulia.." kata Arrabella sambil memegang tangan pria yang berlutut itu
" Aku tidak akan berdiri sampai kau bilang kau akan memaafkan ku.." kata Aiden sedih
" Dia bahkan sampai berlutut seperti ini hanya agar dimaafkan oleh ku.." batin Arrabella terharu
" Sikap seperti ini hanya boleh kau tunjukkan saat kau melakukan kesalahan besar, kau tidak berbuat kesalahan besar padaku. Jadi, kumohon berdirilah " kata Arrabella lembut
" Aku melakukan kesalahan besar, aku sudah menyakitimu.. Naomi aku bersalah" mata pria itu berkaca-kaca, terlihat penyesalan di wajahnya, ada juga rasa malu di dalam diri nya.
" Sekarang dia terlihat seperti anak kucing yang terlantar.. " batin Arrabella
Wanita itu tersenyum dan membantu Aiden berdiri dengan menggenggam tangan suaminya. Ia tersenyum hangat pada Aiden.
" Aku sudah memaafkan mu, jadi berhentilah.. jangan seperti ini, lagipula masalah ini sudah selesai bukan? kau sudah tidak salah paham lagi padaku, jadi sudah tidak apa apa "
" Padahal aku bersikap kasar padamu, dan tidak percaya padamu dan kau memaafkan ku semudah ini. Aku sangat malu pada diriku, Naomi jika kau ingin memukulku, pukul aku sekarang, ayo ! berapa kali pun tidak masalah, aku tidak bisa menanggung rasa bersalah dan rasa malu ini sebelum kau melakukannya !!" kata Aiden penuh penyesalan
" Aku tidak perlu melakukan itu, cukup kau mempercayai ku dan tidak meragukan ku lagi selamanya.. aku akan sangat senang " Arrabella tersenyum tulus.
__ADS_1
Aiden menangis dan terharu dengan kebijaksanaan istrinya itu.
...---***---...