Arrabella Twice Lives

Arrabella Twice Lives
Bab 119 Pertemuan dengan dua saudara


__ADS_3

🌷🌷🌷


Pagi itu adalah pagi yang cerah di Clariness..


Setelah upacara pemberkatan si kembar, hari-hari yang berjalan di Clariness menjadi lebih indah untuk orang-orang yang berada di dalam istana maupun yang diluar istana.


Rakyat Clariness ingin sekali melihat si kembar yang dirumorkan sangat mirip dengan Raja dan Ratu Clariness. Tapi, mereka tau bahwa tidak semudah itu melihat anggota keluarga kerajaan. Dan pagi itu terlihat 2 anak kecil berpakaian compang-camping, sedang mondar-mandir di sekitar istana Clariness. Lebih tepatnya bagian istana si kembar. Mereka berdua penasaran dan ingin melihat wajah si kembar.


" Kakak, apa kakak yakin kita akan masuk ke dalam istana?" tanya seorang gadis kecil pada kakak laki-laki nya. Yang usianya tak jauh berbeda dengannya.


" Bukankah kau ingin melihat Cahaya kerajaan Clariness? kita bisa melihatnya kok " jawab si kakak laki-laki polos


" Nanti kalau kita ketahuan oleh orang-orang di istana, bagaimana ?" tanya gadis kecil itu takut


" kalau kita tidak ketahuan kan tidak apa-apa " jawab pria kecil itu sambil tersenyum


" Tapi kakak.. aku takut " kata gadis kecil itu sambil menarik baju kakak nya dengan erat


" Jangan khawatir, kakak ada disini. "


Kedua kakak beradik itu berusaha menaiki tembok istana yang tinggi dengan kain yang dililitkan oleh pria kecil itu ke pohon. Terdengar suara tawa bayi dari balik tembok itu.


Demi memenuhi rasa penasaran adiknya yang ingin melihat si kembar, sang kakak rela menaiki tembok yang tinggi itu untuk memenuhi keinginan adiknya.


BUK


" Ah ! kakak !!" teriak si gadis kecil itu panik melihat kakak nya terjatuh dari atas pohon


BUK


GREP


Pria kecil itu menutup matanya, dan ia kaget begitu merasakan ada sepasang tangan yang menggendong nya dengan lembut. Si gadis kecil itu ketakutan saat melihat Arrabella dan beberapa pengawal istana ada disana.


" Kakak !" seru si gadis kecil


" Nak, apa kau baik-baik saja?" tanya Arrabella cemas


" Ya..yang..yang mulia.." pria kecil itu tergagap


Cantik sekali, seperti peri.


Tak lama setelah itu, Arrabella memerintahkan agar pengawal istana membantu si gadis kecil yang masih berada di atas pohon dan menurunkan nya. Akhirnya Ratu Clariness itu menjamu kedua anak kecil yang ada di depannya dengan baik.


" Jadi siapa nama mu pria kecil pemberani?" tanya Arrabella penasaran


" Nama saya Jade " jawab Jade sambil menunduk


" Dan gadis kecil ini?" tanya Arrabella


" Saya adik kak Jade, nama sana Ivana " jawab Ivana


Ivana dan Jade terlihat ketakutan saat melihat Arrabella. Ratu Clariness itu paham apa yang terjadi, dan ia berjanji kepada dua anak kecil itu untuk tidak marah. Karena ia memang tidak marah.


" Tolong maafkan ketidaksopanan saya dan adik saya Baginda Ratu !! ampuni nyawa kami !!" kata Jade dan Ivana sambil berlutut memohon ampun


" Kenapa kalian minta maaf? memangnya kalian salah apa? bangunlah, jangan berlutut seperti itu !" seru Arrabella sambil membantu kedua kakak beradik itu berdiri.


Ivana dan Jade tak berani menatap Arrabella, dan tubuh mereka berdua gemetar. Arrabella merasa kasihan dengan kakak adik itu yang ketakutan olehnya.


" Yang mulia Ratu sudah memerintahkan kalian untuk berdiri, jadi berdirilah !" seru Daisy tegas


Ivana dan Jade pun berdiri, namun pandangan mereka masih tetap menunduk. Arrabella tersenyum hangat dan ramah.


" Kalian tidak usah takut padaku, aku tidak marah pada kalian. Dan aku juga tidak akan menghukum kalian. " kata Arrabella


" Wa.. walaupun begitu kami tetap bersalah. Kami sudah masuk ke istana pangeran dan putri diam-diam " jawab Jade jujur


Anak ini sangat jujur, dia juga pemberani. Arrabella kagum kepada Jade yang berani mengakui kesalahannya.


" Lalu, apa aku bisa bertanya apa alasan kalian masuk ke istana pangeran dan putri tanpa izin?" tanya Arrabella sambil duduk di depan kakak beradik itu.


" Itu.. karena saya ingin melihat dua cahaya Kerajaan Clariness " jawab Jade


" Tidak yang mulia Ratu ! saya yang ingin melihat dua cahaya dari kerajaan Clariness. Kakak saya hanya menuruti keinginan saya " kata Ivana membela kakak nya


" Kalian sangat jujur, aku suka kejujuran dan keberanian kalian. Aku bisa memaafkan kesalahan dan kelancangan kalian yang sudah masuk ke istana pangeran dan putri tanpa izin " kata Arrabella


" benarkah yang mulia Ratu? anda mau memaafkan saya dan adik saya?" tanya Jade


" Tentu saja " jawab Arrabella sambil tersenyum


" Kami sangat berterima kasih pada yang mulia Ratu " kata Ivana dan Jade sambil membungkuk sopan


Yang mulia Ratu sangat cantik dan baik, seperti peri. batin Jade terpesona pada Ratu


" Berterimakasih lah pada diri kalian sendiri. Pada keberanian dan kejujuran kalian. Aku harap kalian bisa tetap mempertahankan sikap jujur kalian hingga kalian dewasa kelak " Arrabella tersenyum


Setelah itu Jade dan Ivana pamit pergi dari istana si kembar. Namun, Arrabella menghentikan mereka dan meminta mereka untuk menemui si kembar dulu.


" Apa benar kami boleh melihat yang mulia pangeran dan putri?" tanya Ivana polos


" tentu saja, kalian menyusup kesini karena penasaran dengan pangeran dan putri ku kan? jadi jangan pergi dulu dan lihatlah dulu si kembar " kata Arrabella senang


Pangeran Abercio dan putri Aneesa terbaring di roda bayi mereka. Jade dan Ivana terpesona saat melihat anak kembar itu.


" Lucu sekali, sangat menggemaskan " kata Ivana sambil tersenyum


" Ba..ba..bwah..." Aneesa berceloteh saat melihat Jade, bahkan si bayi mungil itu tersenyum pada Jade.


" Hai.. tuan putri yang cantik " Jade menyapa dan tersenyum pada bayi berambut gelap itu. Aneesa memegang tangan Jade, lalu tersenyum tipis.

__ADS_1


" Wah.. saya tidak menyangka tuan putri akan tersenyum pada seseorang selain Baginda Ratu dan Baginda Raja " kata Daisy heran


" Aku juga tidak menyangka nya bibi Daisy, ternyata putriku yang kalem bisa tersenyum juga pada orang lain " kata Arrabella keheranan


Aneesa bukan anak yang mudah akrab dengan orang lain. Bahkan dia selalu menangis jika tidak berada di dekatku, Aiden atau bibi Daisy. Tapi, anak ini bisa membuat Aneesa ku tersenyum padanya.


Setelah selesai bermain-main dengan si kembar, Jade segera mengajak Ivana adiknya untuk kembali ke tempat mereka. Arrabella juga memberikan beberapa pakaian kepada kedua kakak beradik itu, juga makanan untuk dibawa pulang oleh mereka. Ratu Clariness itu juga mengingatkan bahaya menaiki pohon yang tinggi kepada kakak adik itu.


" Rumah kalian dimana? pengawal kerajaan akan mengantar kalian " tanya Arrabella


" Tidak usah Baginda Ratu. Kami tidak enak sudah merepotkan yang mulia Ratu. Sudah untung kami tidak dihukum mati " kata Jade merasa tak enak hati


" Aku kan sudah memaafkan kalian, kenapa kalian masih membahasnya. Justru aku berterimakasih pada kalian karena sudah menemani Pangeran dan putri bermain " kata Arrabella tulus


Jade pun mengatakan bahwa mereka tidak punya rumah dan hanya tinggal di sebuah restoran sambil bekerja disana.


" Kalau kalian tidak punya rumah, kalian berdua bisa tinggal disini !" seru Arrabella


" Yang mulia, itu tidak bisa. Kami tidak bisa tinggal di istana. "kata Jade menolak


Meskipun yang mulia Ratu baik hati, tapi aku tidak mau disebut sebagai orang yang memanfaatkan kebaikan hati Baginda Ratu. Aku masih bisa hidup dengan adikku dan selamat hari ini karena Baginda Ratu.


Anak sekecil ini memiliki pemikiran yang begitu dewasa, orang tua mereka pasti bangga memiliki anak-anak seperti ini. Tapi kenapa orang tua mereka menelantarkan mereka? kasihan sekali. batin Arrabella terhenyak


Arrabella membujuk Jade dan Ivana untuk tinggal bersama nya di istana atau tinggal di panti penampungan anak yatim piatu di dekat kuil suci. Tapi, kedua anak itu menolak dan kembali ke restoran tempat mereka tinggal dengan diantar pengawal istana.


" Bukankah mereka anak-anak yang baik , bibi Daisy?" tanya Arrabella


" Benar yang mulia, yang pria sangat mengagumkan dan yang perempuan juga sangat imut. Anak sekecil mereka sudah bisa saling menjaga, sungguh sikap yang dewasa. " kata Daisy kagum


" Kau sependapat denganku bibi Daisy, aku suka kejujuran dan keberanian mereka. Terutama kakak nya itu. Orang tua mana yang tega menelantarkan anak anak luar biasa seperti mereka. " kata Arrabella heran


" Benar sekali yang mulia, apalagi kelihatan nya putri Aneesa menyukai anak yang bernama Jade itu " kata Daisy senang


" Putriku yang selalu kalem dan tidak tertarik pada sesuatu yang asing, bisa dengan mudahnya tersenyum pada anak yang bernama Jade itu? menakjubkan bukan?" tanya Arrabella


🍂🍂🍂


Jade dan Ivana diantarkan ke sebuah restoran yang jaraknya lumayan jauh dari kota. Pengawal kerajaan termasuk Felix, membantu membawa makanan dan pakaian untuk Jade dan Ivana ke restoran itu. Seorang pria paruh baya bertubuh gendut dan seorang anak kecil yang sebaya dengan Jade, menyambut mereka di depan restoran.


" Ayah, bukankah itu lambang keluarga kerajaan ?" bisik Marco pada ayahnya


" Kau benar nak, untuk apa kereta keluarga kerajaan ada di tempat terpencil seperti ini?" tanya Tuan Lucas keheranan


Jade dan Ivana turun dari kereta kerajaan Clariness itu, Tuan Lucas dan Marco terkejut saat melihat Jade dan Ivana turun dari kereta. Terlebih lagi saat para pengawal istana memperlakukan mereka dengan sopan dan hormat.


" Si pengemis jalanan itu, kenapa mereka bisa naik kereta kerajaan?!!" gerutu Marco tidak senang


" Sut.. Marco, diam dulu !" ujar tuan Lucas pada anaknya


Felix turun dan mengantarkan Jade,juga Ivana ke depan pintu Restoran. Tuan Lucas dan Marco memasang senyum ramah mereka pada Felix.


" Tuan tidak usah cemas, mereka tidak berbuat salah apa-apa. Saya hanya diperintahkan oleh Baginda Ratu untuk mengantarkan tuan Jade dan nona Ivana kembali kemari. " kata Felix sopan


Tuan Lucas sedikit terkejut, apa katanya? pengawal istana itu diperintahkan oleh Ratu? begitulah kata hatinya. Tuan Lucas tambah senang saat Felix dan pengawal istana membawakan makanan dan pakaian ke dalam restoran. Di depan Felix dan pengawal istana, Tuan Lucas bersikap baik, memperlakukan Ivana dan Jade layaknya anak mereka sendiri.


Tak lama setelah Felix dan pengawal istana lainnya kembali ke istana.


Saat itu lah ayah dan anak itu menunjukkan sifat asli mereka pada Jade dan Ivana.


" Kakak, lihat gaun yang diberikan Baginda Ratu sangat bagus kan?" tanya Ivana sambil memegang salah satu gaun berwarna biru dengan senang.


Marco dengan jahil merebut gaun itu dan melemparnya.


" kau ini mimpi ya? bagaimana bisa seorang pengemis seperti mu memakai gaun yang indah ini ! ini bukan milikmu " seru Marco


" Tapi, ini diberikan Baginda Ratu padaku !" seru Ivana sambil menangis


" Iya, ini milik adikku. Baginda Ratu yang memberikan nya !" seru Jade membela adiknya


" Ini bukan milik kalian, kalian itu berhutang banyak biaya hidup padaku. Belum lagi ayah kalian meninggalkan hutang yang banyak, tentu saja kalian yang harus membayarnya. Jadi, semua baju itu akan aku jual untuk membayar hutang ayah kalian juga !" kata tuan Lucas tegas


" ini tidak adil ! baju baju itu adalah pemberian Baginda Ratu untuk kami ! tuan tidak bisa mengambilnya begitu saja !" seru Jade kesal


" Kakak..."


" Dasar kalian anak-anak tidak tau diri ! berani nya menantang' ku !" seru Lucas sambil memukul Jade dengan sapu.


BUK


BUK


BUK


Ivana menangis dan memohon agar kakak nya tidak dipukuli lagi. Namun, tuan Lucas dan Marco tidak kenal ampun.


" Paman, tolong jangan pukul kakak ku ! pukul saja aku !" seru Ivana sambil menangis


" Ivana, diam !" ujar Jade yang wajah dan tangannya sudah biru biru karena pukulan dari tuan Lucas yang bengis..


Malam itu mereka berdua di kurung di ruang bawah tanah yang gelap, sementara ayah dan anak yang kejam itu mengambil semua baju pemberian Ratu Arrabella, lalu memakan semua makanan yang diberikan oleh Ratu Arrabella yang harusnya untuk Jade dan Ivana.


" Kakak, pasti kesakitan? kakak..huu.. " Ivana menangis tersedu-sedu


" Sudahlah jangan menangis, aku baik-baik saja kok " jawab Jade sambil tersenyum ceria


" Bagaimana bisa kakak baik-baik saja dan tersenyum seperti itu? itu pasti sakit.. ini semua gara-gara aku " kata Ivana sedih


" Tidak, ini bukan salah mu. Tolong jangan menyalahkan dirimu, ini karena aku juga ingin melihat pangeran dan putri. " kata Jade menghibur


Mereka melewati malam yang kelam dengan kedinginan dan kelaparan di ruang bawah tanah yang gelap itu. Tanpa selimut, dan hanya ada sedikit cahaya yang masuk ke ruangan yang pengap itu. Sementara ayah dan anak yang jahat itu, sedang asyik makan makan besar tanpa mempedulikan Jade dan Ivana.

__ADS_1


🍂🍂🍂


Di istana Clariness..


Malam itu, Arrabella baru selesai menidurkan kedua bayinya. Lalu menidurkan Aneesa dan Abercio di tempat tidur mereka masing-masing, yang tak jauh dari tempat tidurnya.


" Huft.. akhirnya mereka tidur juga " kata Arrabella sambil mengikat rambutnya yang awalnya tergerai


GREP


" Kyaa !!"


Aiden memeluk istrinya dari belakang, lalu mendudukkan nya di pangkuannya. Aiden memegang pinggul istrinya dan menatapnya dengan penuh cinta.


" Kau mengagetkan ku !" seru Arrabella kaget


" Anak anak sudah tidur ya?" tanya Aiden seperti mengisyaratkan sesuatu


" Kalau mereka sudah tidur, kau mau apa?" tanya Arrabella


" tidak, tidak apa apa. Aku hanya berfikir mungkin istriku lelah karena akhir-akhir ini kau begadang. "


" Anak-anak memang suka terbangun malam-malam, tapi itu sudah biasa kok "


" Kau terlihat lelah. Bukankah sebaiknya anak-anak saat malam hari kita berikan saja pada Daisy, Mary atau dayang lainnya? agar kau tidak lelah " tanya Aiden menyarankan


" Tidak mau, aku mau merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu. Hanya begadang begini saja, tidak apa kok " jawab Arrabella senang


" Kau terlihat senang hari ini, apa terjadi sesuatu?" tanya Aiden yang melihat istrinya tersenyum cerah


Arrabella menceritakan semua yang terjadi tadi siang. Termasuk pertemuan nya dengan Jade dan Ivana. Tentang Aneesa yang tersenyum saat melihat Jade, bahkan menggenggam tangannya. Aiden juga memberikan respon yang sama saat Arrabella menceritakan tentang Jade, ia kagum pada Jade yang bisa membuat Aneesa yang kalem tersenyum padanya.


" Wah... aku jadi ingin melihat seperti apa anak itu, aku penasaran " kata Aiden penasaran


" Iya kan? tadinya aku meminta mereka tinggal di istana dan menjadi teman Aneesa dan Kyrie, tapi anak itu menolak dengan tegas. Dan jawabannya sungguh diluar dugaan, aku tidak percaya dia adalah anak yang berusia 6 tahun " kata Arrabella kagum


" Kalau begitu, besok kau temui lah dia dan bawa dia ke istana. Aku juga ingin melihat siapa pria yang sudah membuat putri ku tersayang itu tersenyum " kata Aiden


" Apa? pria?! sayang, dia hanya anak-anak"


" walaupun dia anak anak, tetap saja dia pria " kata Aiden tegas


" Baiklah, kalau begitu. Kita sudahi saja dulu obrolannya sampai disini, dan mari kita tidur " kata Arrabella sambil menarik selimut nya.


Aiden cemberut dan terlihat sebal pada istrinya itu, ia pun menarik selimut yang menutupi badan istrinya. Arrabella semakin kaget dengan suaminya yang tiba-tiba sudah menindih badannya.


" Sa.. sayang? ada apa?" tanya Arrabella tak paham


Kenapa dia menindih badanku?


" Seriusan? kau mau langsung tidur saja?" tanya Aiden sambil melepaskan baju atasannya, dan kini terlihat otot dadanya


Kenapa dia buka baju? apa dia gerah?


" Tentu saja aku mau tidur, aku lelah. Sayang, apa kau gerah?" tanya Arrabella polos


" Iya aku sangat gerah, aku kepanasan" jawab Aiden sambil tersenyum


" Kalau begitu, aku akan buka jendela nya. Tolong kau minggir dulu " kata Arrabella sambil mendorong suaminya pelan-pelan


Aiden semakin kesal di buatnya, Arrabella rupanya tidak mengerti apa arti tindakan nya itu. Arrabella membuka jendela kamarnya, tiba-tiba saja Aiden menggendongnya dan melemparnya ke kasur.


BRAK


" Yang mulia apa yang kau lakukan?" tanya Arrabella kaget


" Aku harus bagaimana ya menghukum istriku yang tidak peka " Aiden membuka tali baju tidur yang mengikat tubuh istrinya. Otomatis baju istrinya jadi melorot dan terlihat lah bagian atas tubuh Arrabella tanpa terkecuali.


" Aku salah apa? kenapa kau harus menghukum ku?" tanya Arrabella polos


" Bersiaplah untuk begadang malam ini, aku tidak akan membiarkan mu turun dari tempat tidur "


Aiden tersenyum dan sudah bersiap melancarkan aksinya. Pria itu memegang dagu istrinya dan menatap nya dengan lembut, ia membuka mulutnya lalu melahap bibir istrinya dengan lembut.


Bibir mereka yang panas kini sudah bertaut, Arrabella yang semula tidak peka dengan suaminya pun mengikuti permainan suaminya.


" Haa..Aiden.. "


" Apa kau sudah paham sekarang nona Cassius?" tanya Aiden


" baiklah aku salah suamiku. Tapi, hukuman untukku ditunda saja ya ?" tanya Arrabella sambil tersenyum manis


" Ditunda? apa apaan? aku sudah menunggu untuk ini hampir setahun !" seru Aiden menggerutu


" Oh suamiku, daripada memberikanku hukuman. Lebih baik aku memberikan mu hadiah, bukankah itu lebih bagus?" tanya Arrabella sambil membalikkan posisi mereka. Kini Arrabella yang berdiri di atas tubuh Aiden.


" Ha..hadiah?" tanya Aiden kaget


" Malam ini, aku yang akan di atas dan melayani mu. Ini hadiah untukmu" kata Arrabella


" Geli juga mendengar istriku berkata hal mesum " Aiden tersenyum


Dan akhirnya malam itu menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua.


...---****---...


Bab selanjutnya 120 Final


Hai Readers.. makasih dukungannya ya buat karyaku ini. Maaf slow up nya, karena kesehatan author yang kurang bersahabat.. 😀


jangan lupa kalau udah baca, like, komen, rate dan hadiahnya 🙏🙂

__ADS_1


__ADS_2