
Di tengah-tengah dansa itu, Peter terkejut mendengar pertanyaan dari Camille, yang seolah olah sedang menyatakan cinta padanya.
Mereka pun pergi ke taman Vanders untuk bicara berdua, disana tidak ada siapapun.
" Hehe.. tidak mungkin saya menolak wanita secantik tuan putri "
" jadi kau mau menikah denganku kan?" tanya Camille dengan mata berbinar-binar
" Me.. menikah? apa maksudnya?" tanya Peter heran
" Duke Peter, sebenarnya selama ini aku menyukai mu. Tapi, aku tidak berani mengatakan nya padamu "
Peter melepaskan tangannya dari Camille yang sedang memegang tangan gadis itu. Camille terpana melihat Peter, dan berfikir yang bukan-bukan. Wajah pria itu merah merona, seolah ia memakai pemerah wajah. Camille bingung karena tak bisa menebak apa arti ekspresi itu.
" Maafkan aku, aku membuatmu terkejut. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan nya" kata Camille
" Sudah jelas, dia tidak menyukai ku kan? Camille bodoh, memalukan.. bagaimana bisa seorang pria tertarik pada gadis yang mengatakan cintanya lebih dulu.. mana ada yang begitu? " batin Camille sedih
" Jangan seperti itu tuan putri, saya memang terkejut. Tapi saya ingin bertanya, tolong jawab dengan jujur" wajah Peter menatap serius ke arah Camille. Gadis itu berdiri mematung melihat ke arah Peter yang tampak serius.
" Apa ini mimpi? jika itu benar, maka rasa suka ku tidak bertepuk tangan selama ini. Tapi.. tuan putri menyukaiku, dan aku menyukainya. Apa aku bisa bersamanya?" batin Peter berfikir
" Kenapa aku deg degan begini? Duke Peter mau mengatakan apa ya? apa dia akan menolak ku? oh .. bagaimana ini?" batin Camille bingung
Gadis itu menghela napas dan memegang dadanya.
" Apa tuan putri benar-benar menyukai saya? " tanya Peter menanti jawaban
Deg
" Iya, saya benar-benar menyukai Duke Peter. " jawab Camille sambil menutup mata nya, karena takut melihat raut wajah Camille.
" Benarkah? " tanya Peter senang. Tangan pria itu membelai kedua pipi Camille. Gadis itu masih saja menutup matanya.
" Duke.. Duke Peter.. jangan lihat aku " kata Camille malu
" Kenapa dia menyentuhku? bukankah dia mau menolak ku? btw tangan nya terasa hangat" batin Camille nyaman
" Kau pasti mau menolak ku kan? anggap saja aku tidak pernah bilang.. " Camille cemberut dan masih menutup matanya. Peter tersenyum dan gemas melihat tingkah putri bungsu dari kerajaan Clariness itu.
" Bagaimana tuan putri bisa tau saya akan menolak? tuan putri saja tidak melihat raut wajah saya " kata Peter sambil tersenyum.
" Tidak mau.. kau pasti akan menolak ku !" ujar Camille
" Makanya buka mata mu dulu, tuan putri. Saya juga mau bilang sesuatu" Peter masih menyentuh pipi Camille
" Dia sangat imut " batin Peter gemas melihat Camille yang masih menutup matanya, wajah gadis itu terlihat malu-malu
" Tidak mau !"
" Ya sudah kalau tidak mau, tuan putri akan menyesal loh "
" Aku tidak akan.."
CUP
Peter mencium bibir Camille, lebih tepatnya mengecup bibirnya dengan lembut dan cepat. Camille yang kaget, akhirnya membuka matanya.
" Maafkan atas ketidaksopanan saya tuan putri" kata Peter sambil memalingkan wajahnya karena malu.
" dia mencium ku? benarkah dia mencium ku barusan? bibirku masih terasa hangat karena sentuhannya.. ada apa dengan jantungku?" batin Camille terpana
" Boleh lah aku mengartikan ciuman barusan sebagai.. pernyataan cinta dari tuan Duke?" tanya Camille malu-malu
Peter menjawab dengan senyuman, ia juga terlihat malu-malu. " Iya, saya juga menyukai tuan putri "
DUAR
DUAR
Camille loncat kegirangan, ia teramat senang mendengar pria yang ia sukai selama ini juga menyukainya.
" Jadi seperti ini rasanya? ketika orang yang kau cintai juga mencintai mu.. seperti ada kembang api dan petasan yang bergemuruh di hatiku.. rasanya sangat mengagetkan, tapi membahagiakan " batin Camille senang
" Aku sangat menyukai tuan Duke Peter !!" teriak Camille senang
Camille memeluk Peter dengan senang, tangannya melingkar di leher Peter. Bukan hanya Camille saja yang senang, tapi Peter juga merasakan perasaan yang sama. Ia membalas pelukan Camille dengan lembut.
PROK
PROK
PROK
" Woah.. woah.. akhirnya adik ipar ku tidak jomblo lagi " Ariana bertepuk tangan dan terlihat senang
" Ternyata wanita yang selama ini kau ceritakan adalah tuan putri?" tanya Ethan sambil tersenyum
Camille dan Peter melepaskan pelukan mereka dan terlihat malu-malu.
" Hai, putri Ariana dan sir Ethan " kata Camille menyapa dengan canggung
" Hai.. tuan putri.." jawab Ariana ramah
__ADS_1
" Se..sejak kapan kalian ada disitu?!" tanya Peter yang mendadak jadi gugup
" Sejak kapan ya? adegan ciuman yang tadi mungkin " jawab Ethan menggoda adiknya itu
Wajah pasangan yang baru saja jadian itu memerah dan terlihat malu-malu.
" Kakak !!" teriak Peter kesal
" Kalian sangat cocok, aku mendukung kalian kok " Ariana tersenyum lebar
" Jadi kapan nih?" tanya Ethan sambil menyenggol tubuh Peter
" Kapan apanya? huu.." Peter malu-malu.
Ethan, Ariana, Camille dan Peter tertawa dan bercanda bersama.
Dari kejauhan Arrabella tersenyum senang melihat kebahagiaan orang-orang di sekitarnya.
Aku merasa bersyukur bisa dilahirkan kembali dan melihat hal hal indah ini. Kebahagiaan kak Ethan, kak Peter yang sebelumnya tidak pernah kulihat di kehidupan ku sebelumnya. Orang-orang yang aku sayangi bahagia, dan aku juga senang... tapi kenapa aku masih merasa ada yang kurang dari diriku? kenapa aku tidak sepenuhnya bahagia?
GREP
Seseorang memeluk Arrabella dari belakang, pelukan itu terasa hangat untuknya. Wanita itu bisa merasakan kalau suaminya yang memeluknya.
" Kenapa kau sendirian di pojokan begini? " tanya Aiden berbisik ditelinga istrinya
" Aku hanya ingin melihat-lihat saja yang mulia, kenapa kau kesini? " tanya Arrabella
" Melihat istriku tidak ada disana, untuk apa aku berada disana " jawab Aiden yang semakin erat memeluk istrinya
" Yang mulia, apa kau bahagia?" tanya Arrabella
" Pertanyaan mu ini sangat aneh, Ratuku " Aiden keheranan
" Apa kau tidak berfikir untuk mencari selir?" tanya Arrabella ragu-ragu
" Apa harusnya aku tidak bertanya ? kenapa kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku?"
Aiden melepaskan pelukannya dan terlihat kaget mendengar kata-kata istrinya itu.
" Naomi.. apa yang kau... "
Tok
Tok
Tok
" Maaf saya menganggu yang mulia Raja " kata Lorenzo
" Sudah waktunya kita kembali yang mulia, pestanya sudah usai " kata Lorenzo patuh
" Baiklah "
Di sepanjang perjalanan pulang ke Clariness, Arrabella seperti punya pikiran sendiri, pandangannya kemana-mana, dan terlihat tidak fokus. Ia melamun dalam waktu yang lama, Aiden heran melihat nya. Ia ingin bertanya apa yang terjadi pada istrinya, tapi ia mengurungkan niatnya sampai mereka kembali ke istana Clariness.
***
Malam itu mereka sudah kembali ke istana Clariness, Aiden segera mengajak istrinya ke dalam kamar untuk bicara.
Arrabella duduk di ranjang dengan wajah yang sedih, sementara sang suami duduk di sebuah kursi yang ada di depannya.
" Yang mulia ingin bicara apa? tidak bisa kah kita bicara besok saja?" tanya wanita itu sambil memalingkan wajahnya
" Aku tidak akan bisa tidur sebelum rasa penasaran ku terjawab. Apa maksud kata-kata mu saat di istana Vanders tadi siang?" tanya Aiden tajam
" Kata-kata apa.." Wanita itu mengalihkan pandangan nya dari Aiden
" Jangan pura-pura tidak ingat, aku ingin kau mengatakan apa maksudmu itu? karena kata-katamu sangat menggangu ku " kata Aiden heran
" Baiklah.. aku bertanya padamu apa kau bahagia? " Arrabella menghela napas
" Maksudmu? "
" Apa kau bahagia menikah denganku?" tanya Arrabella sedih
" Kenapa kau bertanya hal yang sudah pasti jawabannya? ada apa denganmu?" tanya Aiden heran. " Apa ada seseorang yang mengatakan sesuatu padamu?" tanya Aiden tajam
" Tidak ada ! "
" Lalu kenapa kau begini? kau juga mengatakan soal selir? apa hubungan kebahagiaan ku dengan selir?!" tanya Aiden tak mengerti
" Kau harus berani Arrabella, ayo bicara.. ini demi kebaikan semuanya " batin Arrabella menahan napas nya sejenak
" Tentu saja ada hubungannya. Kau tau kan aku mungkin tidak akan bisa memberikan mu penerus, jika kau mengambil selir, kau mungkin akan memiliki anak dengannya "
Aiden tersentak dan berdiri dari kursinya, ia tak percaya bahwa Arrabella akan mengatakan hal yang tidak ingin ia dengar.
" Omong kosong apa ini?!! ini sangat tidak masuk akal, Naomi! kenapa kau bisa memikirkan hal itu? aku hanya akan memiliki anak denganmu, dan aku hanya akan menikah denganmu saja ! " teriak Aiden kesal
" Tapi aku tidak bisa.. aku tidak bisa memberikan mu kebahagiaan yang seutuhnya. Apalagi melahirkan seorang anak untukmu.. " kata Arrabella sedih
" Aku tidak percaya kau akan berkata seperti ini, kau menyakiti hatiku Naomi. " Aiden terlihat kecewa
__ADS_1
" Aku hanya mencoba berfikir realistis. Ini sudah hampir 2 tahun kita menikah, dan kita belum juga mendapatkan seorang anak. Dan aku tidak bisa memberikan itu, makanya aku berfikir kau mengambil selir saja. Jika ada wanita yang kau sukai, aku akan ..
Kedua tangan Aiden memegang pipi Arrabella dengan cepat, Aiden menyentuh bibir istrinya itu dengan bibirnya. Pria itu mencium istrinya dengan brutal dan kasar, berbeda dari biasanya.
" hmph..hmph.. Ai.. den.."
" Dia mencium ku, kenapa ciuman nya begitu kasar..Apa ini karena aku menyakiti hatinya ?" batin Arrabella sedih
" kenapa kau berfikir begitu? kau sangat kejam.. Naomi.." batin Aiden sambil menatap tajam istrinya
Ciuman pria itu semakin ganas, tidak seperti biasanya. Ada kemarahan dan kesedihan di matanya, Aiden membawa istrinya ke ranjang. Kini mereka berdua terhempas ke ranjang, tubuh Aiden menindih tubuh istrinya yang mungil itu.
Aiden benar-benar tidak memberikan kesempatan untuk Arrabella bernapas. Ia benar-benar marah, napas nya menggebu-gebu. Pria itu membuka gaun yang dikenakan istrinya. Arrabella yang kesulitan bernapas dan berusaha mendorong suaminya itu.
Namun, Aiden terlihat sangat marah dan terus menciumi istrinya dengan kasar, bahkan sesekali ia menggigit nya. Pria itu merobek baju istrinya dengan kasar, seperti hewan buas yang sedang marah. Wanita itu kini tidak memakai pakaian lengkap, bajunya juga sobek, bagian tubuh atasnya terpampang jelas.
Pria itu menyentuh bagian terlarang istrinya dengan kasar dan membuat wanita itu kesakitan. Menandakan bahwa ini bukanlah permainan yang lembut. Beberapa bagian tubuhnya memerah karena bekas ciuman ganas dari suaminya..
" Ah.. Aiden.. sa..kit..Ai.. den.. hentikan ! sudah..."
" Beraninya kau membicarakan wanita lain kepadaku? kau anggap aku ini apa ?! " batin Aiden kesal
Bagaimana bisa Aiden tidak marah? istrinya mengatakan sesuatu yang tak ia sukai?
Air mata mengalir deras dari mata biru cantik yang dimiliki wanita itu. Aiden mengakhiri aktivitas nya itu, termasuk mengakhiri ciuman nya pada bibir istrinya yang sudah bengkak, wanita itu akhirnya bisa bernapas lega.
" Haaaaa..."
hiks hiks
" Hentikan.. kumohon..ini menyakitkan " Arrabella menangis sembari memohon kepada suaminya.
" Kau juga sudah menyakiti ku Naomi ! mengatakan hal itu sama saja menancapkan pedang ke dalam hatiku " Aiden berkaca-kaca, terlihat kekecewaan ada di matanya.
" Aku hanya berfikir realistis ! kau akan bahagia kalau kau memiliki istri yang bisa memberimu keturunan.."
" jangan katakan itu lagi ! atau aku tidak akan bisa membuat mu pergi dari tempat tidur !" kata Aiden mengancam
Bibir Arrabella gemetaran, ia masih menangis. Kedua tangannya berusaha menggapai wajah Aiden, tapi pria itu menepis tangannya. Pasangan suami istri itu terlihat sama-sama terluka.
" Bagaimana bisa kau berfikir aku akan menikah dengan wanita selain dirimu? Apa aku pengkhianat bagimu?! Apa cintaku sedangkal itu untukmu?! Dan memangnya kau bisa menyerahkan aku pada wanita lain? JAWAB AKU !!" Pria itu bersuara keras dan setengah membentak, ada kekecewaan dan kesedihan di dalamnya.
Arrabella tak bisa menjawab pertanyaan suaminya, ia malah menangis.
" Kenapa sekarang kau malah diam saja? mana keberanian mu yang tadi?! berani kau mengatakan tentang wanita lain lagi, aku akan sangat marah padamu "
" Aku.. aku hanya takut kau tidak bahagia. Jika seandainya kau memiliki seseorang yang kau sukai, aku.. aku.."
Aiden memeluk istrinya yang sedang menangis itu.
" Bagaimana bisa kau berfikir aku akan menikahi wanita lain hanya karena kau tidak bisa memberi ku keturunan? apa aku adalah orang yang akan melakukan itu? jawab Naomi !"
" Tidak, kau tidak akan melakukan itu " jawab Arrabella sambil menggelengkan kepalanya
" Benar, aku tidak akan melakukan itu. Hanya kau satu satunya wanita dalam hidupku, aku menikahi mu karena mencintaimu, bukan karena kau alat untuk melahirkan anak untuk ku. Kau harus ingat itu " Aiden berusaha menghibur istrinya dengan kata-kata nya
" Semoga kata-kata ku bisa menghibur mu..semoga kau juga sadar akibat dari kata-kata mu.." batin Aiden
" Aku tau kau memang tidak akan pernah mengkhianati ku, tapi aku juga tau kalau di dalam hatimu kau ingin segera memiliki seorang anak, hanya saja kau tidak mau memberitahukan nya padaku, kau takut aku sedih dan berkecil hati. Maafkan aku Aiden, aku akan melakukan ini demi dirimu dan kerajaan ini.. apa yang akan aku lakukan selanjutnya pasti akan membuatmu membenciku..Tapi, aku hanya ingin kau bahagia " batin Arrabella sedih
" Aku minta maaf sudah mengatakan hal yang menyakiti hatimu, Aiden.."
" Jadi kau sadar kan itu sangat menyakiti hatiku? lalu apa yang harus kau lakukan untuk menebusnya?" tanya Aiden sambil tersenyum
" Aku benar-benar minta maaf " jawab Arrabella
" Aku tidak butuh itu, aku ingin kau berjanji padaku " kata Aiden
" Janji apa?"
" Kau harus bersamaku seumur hidup mu, jangan pernah tinggalkan aku. "
" Apa?"
" Cepat katakan ! kalau tidak, aku tidak akan memaafkan mu.." kata Aiden mengancam
" janji ya? apa aku bisa menepatinya? " batin Arrabella ragu
" Aku janji, akan selalu bersamamu seumur hidup. Aku tidak akan meninggalkan mu " kata Arrabella sambil tersenyum memandangi wajah Aiden
CUP
Aiden mengecup bibir istrinya dengan lembut.
" Aiden !!"
" ini cap perjanjian, jadi jangan berfikir untuk ingkar " Aiden serius.
Mereka pun tidur bersama sambil berpelukan. Arrabella melihat Aiden yang tertidur pulas disampingnya.
" Maafkan aku Aiden.. aku minta maaf sebelumnya untuk yang akan aku lakukan " gumam Arrabella yang menangis sambil menatap Aiden yang tertidur di sampingnya.
Tanpa wanita itu sadari, Aiden tidak tidur, ia berpura-pura tidur. Ia mendengar semua yang dikatakan istrinya itu.
__ADS_1
" Apa yang akan kau lakukan Naomi?"
...--***---...