
" berani nya si wakil ketua itu masuk ke kamar Naomi ku? dan seperti nya lebih dari satu kali " batin Aiden penuh kecemburuan
" Kenapa aku merasa udara di sekitar ku terasa panas? aduh.. apa yang harus aku katakan ? dia pasti sudah tau dan melihat apa yang terjadi di depan. " batin Arabella cemas
Aiden diam saja dan menatap gadis itu seolah ia membutuhkan penjelasan. Arabella mempersilahkan Aiden masuk ke dalam kamarnya untuk bicara.
" Apa yang kau lakukan disini? bukankah kau mau ke camp pedang?" tanya Arabella gugup
" Kau bertanya mau apa aku kesini?" tanya Aiden dingin
" Te.. tenanglah akan aku jelaskan " Arabella terbata-bata
" Dia terlihat benar-benar marah, tapi aku merasa senang melihatnya begini. Karena mungkin dia sedang cemburu " batin Arabella senang
" Apa kau selalu mengizinkan si Ashton itu masuk ke dalam kamar mu?" tanya Aiden curiga
" Apa? kenapa pertanyaan yang mulia begitu ?" tanya Arabella tak mengerti
" Atau kau selalu mengizinkan pria lain yang mengetuk pintu kamar jendela mu, lalu membiarkan nya masuk? lalu apa yang terjadi dengan pria-pria di luar sana itu?" tanya Aiden marah
" Kyaa.. bagaimana ini dia benar-benar cemburu? aku senang sekali tuhan, ya ampun ini bukan saat nya senang. Aku harus memenangkan nya agar ia tak menghunuskan pedangnya pada mereka " batin Arabella senang'
Aiden tertegun dan teringat perkataan Dominic padanya semalam " , oh ya jangan lupa. Kalau kau masih belum meresmikan hubungan mu dengan Arabella, aku masih akan tetap mengejar nya"
Arabella duduk di ranjangnya dan ia menjelaskan dengan jujur tentang perdebatan ayahnya dan dirinya semalam, ayahnya tidak setuju ia berhubungan dengan keluarga kerajaan.
" Tapi alasannya kenapa?" tanya Aiden
" Dia hanya tidak mau aku hidup terkekang di istana, dari dulu dia memang begitu.Itulah sebabnya dia tidak setuju hubungan ku dengan putra mahkota dulu. " terang Arabella
" Jadi, masalahnya adalah restu?" batin Aiden berfikir
" Kalau aku bukan pangeran, apa Duke akan setuju dengan hubungan kita?" tanya Aiden
" Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? kau ini seorang pangeran " Arabella heran
" Maksud ku, jika aku kembali menjadi Aiden saja. Apa ayahmu akan setuju dengan hubungan kita?" tanya Aiden serius
" Tidak, tidak boleh. Kau tidak boleh melepaskan status pangeran mu !" seru Arabella tegas
" Kau tidak boleh melakukan itu, kau harus membalaskan dendam ibu mu, juga menghancurkan ratu dan Oscar. Kau bisa melakukan itu dengan status pangeran mu. Kalau kau melepaskan semua itu demi diriku, aku akan merasa sedih.. " batin Arabella bingung
" Katakan apa yang kau pikirkan? kenapa kau menentangnya? lagipula aku tidak punya alasan lagi untuk menjadi pangeran, karena aku sudah mendapatkan mu disisi ku. " kata Aiden bingung
" Kau tidak bisa!" seru Arabella
" Tapi kenapa? jelaskan alasannya kenapa aku harus tetap menjadi pangeran !" seru Aiden tegas
" Apa aku harus memberitahu tentang pembicaraan Count Oscar dan Ratu padanya sekarang juga? Tapi, bagaimana cara aku mengatakannya dan dari mana? yang lebih aku takutkan adalah reaksi nya setelah mendengar ini.. " batin Arabella bingung
" Apa karena kau tidak mau bersama ku? dan mau memilih pria-pria brengsek yang ada di depan itu!" Aiden marah
" A.. apa? kenapa kau bicara begitu? mana mungkin aku .." Arabella kaget saat melihat Aiden marah dan terlihat seperti anak kecil di matanya.
" Dia terlihat sangat lucu saat sedang cemburu, tapi aku tidak boleh tertawa sekarang " batin Arabella
" Apa aku tidak lebih baik dari mereka? Demian dan Lorenzo bilang aku lebih tampan dari mereka !" tanya Aiden cemberut
" mungkin lebih baik kalau aku menyembunyikan tentang ibu nya untuk sementara waktu, itu akan membuat nya aman dari Count Oscar dan Ratu, kalau dia tau rahasia ini, nyawanya akan berada dalam bahaya. Aku akan mencari buktinya dan menunjukkan padanya nanti " batin Arabella teguh
Aiden memegang tangan Arabella dan menggenggam nya sambil menatapnya dengan lembut. Ia memaksa gadis itu untuk menjawab pertanyaan nya segera.
" Kau yang paling tampan yang mulia, kau yang terbaik, paling sempurna "Gadis itu tersenyum tulus
" Lalu kenapa kau tidak mau aku meninggalkan status pangeran ku? " tanya Aiden heran
" Bukankah itu berlebihan jika kau melakukan nya hanya untuk bersama ku? kau tenanglah, aku juga tidak akan memilih salah satu diantara mereka. Aku melakukan ini untuk menyenangkan ayahku saja " Arabella menerangkan nya dengan hati-hati
" Benarkah? walaupun benar begitu aku tetap marah " kata Aiden
" Sudahlah, kau jangan marah lagi ya Aiden " kata Arabella lembut
Suara gadis itu yang memanggil namanya, membuat hati Aiden berdegup kencang dan pikiran nya meleleh. Ia menyerahkan bunga yang dibawanya untuk kekasihnya itu.
" Ini indah sekali, kesukaan ku " kata Arabella senang
" Maafkan aku semalam aku berdansa dengan putri Ariana dan tidak mengatakan nya padamu lebih dulu " kata Aiden menyesal
" Awalnya aku memang marah, sampai sekarang pun masih sih sedikit. Tapi, karena kau sudah membawa bunga, bukankah tidak sopan kalau aku menolak permintaan maaf mu?" Arabella tersenyum
" Padahal aku ingin melihatmu cemburu, tapi kau malah memaafkan ku dengan mudah. " Aiden kecewa
" siapa bilang aku tidak cemburu? aku sangat cemburu " Gadis itu cemberut
" Kau cemburu lalu berdansa dengan si raja iblis itu untuk memanasi ku?" tanya Aiden
" Kenapa kau berfikir begitu? aku tidak bermaksud begitu " kata Arabella polos
" Baiklah, lain kali kau tidak boleh begitu.. " kata Aiden sedih
" Kau pikir hanya kau saja yang cemburu? aku juga cemburu kau berdansa dengan putri itu. Apalagi dia itu seorang putri yang cantik, aku takut kau akan tergoda olehnya " Gadis itu menggerutu mengatakan keluh kesah nya
Aiden jongkok di depan Arabella dan tersenyum manis.
" Tidak ada yang lebih cantik dari mu didunia ini " kata Aiden dengan wajah kalem nya
" Pfutt.. Hahahaa.." Arabella tertawa
" Kenapa kau malah tertawa?" tanya Aiden heran
" Bagaimana bisa kau mengatakan hal manis seperti itu dengan wajah datar? itu membuatku ingin tertawa .." Arabella menahan tawa nya
" Jadi aku tidak cocok mengatakan hal hal seperti itu?" tanya Aiden polos
" Kau habis makan permen ya? atau coklat? soalnya mulut mu mengeluarkan kata-kata yang manis dan itu aneh " Arabella tertawa lagi
" Oh begitu ? kalau kau tidak suka dengan kata-kata, biarkan aku melakukan nya dengan tindakan " Aiden menyeringai
Tangan Aiden mendorong gadis itu hingga ia berbaring di ranjangnya. Aiden tepat berada di atas tubuh gadis itu dan menatapnya dengan lembut.
" Aiden.. apa yang kau.." kata Arabella gugup
" Apa yang mau dia lakukan?" batin Arabella gugup
__ADS_1
Deg
Deg
Jantung gadis itu berdetak sangat kencang, perlahan lahan pangeran itu semakin mendekat padanya. Gadis itu terkejut dan terlihat merona.
" Lihatlah dia malu-malu " batin Aiden
Aiden mencium kening Arabella dengan mesra dan membuat gadis itu mematung.
" Ai..den.. kau.. "
" Ciuman pertama di kening?? kyaa.. " batin Arabella terpana
" Kau ingin aku melakukan nya lagi?" tanya Aiden menggoda
Arabella hampir saja tergoda oleh rayuan pria itu karena hatinya bergetar saat pria itu mencium keningnya dengan mesra. Ia mendorong pria itu dan merasa canggung setelahnya.
TOk TOK TOK
" Nona.. nona ! tuan Duke sudah pulang !" seru Daisy terburu-buru
" a.. ayah sudah pulang? bukan kah dia dan kak Peter sedang pergi?" batin Arabella heran
Arabella menyuruh agar Aiden segera pergi sebelum ayahnya pulang, pria itu menurut dan ia berkata bahwa dalam beberapa hari ia akan tinggal di camp untuk menghindari putri Ariana yang menganggu nya.
" Aku akan merindukan mu " kata Aiden
" Aku juga berhati-hati lah " kata Arabella
" Jangan bermain dengan pria lain, karena aku akan tau !" seru Aiden mengancam
" Baiklah aku tau, pergilah sebelum ayah ku menemukan mu " kata Arabella
" Setelah pekerjaan ku selesai aku akan meminta pada raja untuk melamar mu.. jadi tunggu aku" batin Aiden penuh keyakinan
" Iya, pergilah ke camp jika kau sempat. Mari kita berlatih pedang lagi " Aiden tersenyum
Arrabella mengangguk, ia melihat kekasihnya itu pergi dengan perasaan sedih dan rasa bersalah karena telah menyembunyikan rahasia tentang ibu nya.
" Maaf Aiden, tapi aku belum bisa mengatakan kebenaran nya padamu sebelum aku benar-benar yakin dan mempunyai bukti bahwa Ratu dan Count Oscar memang sudah membunuh ibu mu " batin Arabella merasa bersalah
***
Istana Clarines, Eugene sedang berada di ruang kerjanya dan bekerja dengan fokus. Claire menyiapkan cemilan dan teh untuk suaminya itu.
" Yang mulia, lebih baik anda beristirahat dulu. Anda sudah semalaman bekerja " kata Claire dengan senyuman manisnya
" Dia bahkan menjadikan pekerjaan sebagai alasan agar dia tidak menghabiskan malam pertama bersama ku " batin Claire sedih
" Simpan saja disitu, aku masih banyak pekerjaan " kata Eugene dingin
" kalau bukan karena hubungan baik ibu dengan Count Oscar, aku tidak akan pernah menjadikan dia istriku. Ini seperti mimpi buruk bagiku " batin Eugene kesal
" Yang mulia, sebaiknya anda minum dulu teh nya dan makan dulu. Saya takut anda sakit " kata Claire sambil tersenyum
" Apa kau tidak sibuk? " tanya Eugene dingin
" Apa?" Claire tak paham
" Maafkan saya yang mulia, saya hanya mengkhawatirkan kesehatan yang mulia. Jadi saya datang kesini " kata Claire merendah
" Kau seharusnya tau posisi mu! kerjakan tugas mu sebagai putri mahkota dengan baik, tapi jangan bersikap seolah kau ini istriku !" seru Eugene dingin
" menyebalkan sekali, aku di marahi di depan seorang pelayan dan sekretaris nya. Seharusnya jika dia mau marah, saat tidak ada orang saja. Kenapa dia mempermalukan ku seperti ini? Apa dia masih memikirkan wanita jalang itu? " batin Claire sakit hati dan kesal
" Kasihan sekali putri mahkota, baru hari pertama di istana tapi ia tidak diperlakukan dengan baik oleh putra mahkota. " batin Liam merasa iba
" Apa mereka tidur bersama saat itu karena terpaksa dan bukan karena suka sama suka? yang mulia putra Mahkota begitu dingin dan kelihatan membenci putri mahkota. " batin seorang pelayan di sana
" Kau tidak pergi juga !' teriak Eugene membentak
" Ba..baik saya akan pergi. Saya pamit dulu yang mulia.. " kata Claire mengalah
Claire dan pelayan baru nya di istana itu pun keluar dari ruangan kerja Eugene. Claire terlihat sedih karena menahan amarah nya diperlakukan dengan dingin dan kasar oleh Eugene.
" Liam, antarkan beberapa pekerjaan untuk putri mahkota! dia tidak diperbolehkan keluar dari ruangan kerjanya sebelum menyelesaikan semuanya !" seru Eugene tegas
" Tapi yang mulia, bukankah hari ini pekerjaan yang mulia putri dan putra mahkota di liburkan?" tanya Liam hati-hati
" Sejak kapan kau mulai mempertanyakan perintahku, Liam !" teriak Eugene marah
" Yang mulia, anda menakutkan sekali ketika marah. Emosi yang mulia tidak stabil sejak skandal nya dengan putri mahkota sebelumnya " batin Liam
" Baik yang mulia, akan saya laksanakan !" seru Liam patuh
Dan begitulah kehidupan Claire di hari pertama nya menjadi putri mahkota, ia memang mendapat hormat dari semua orang di istana, status nya juga naik, tapi ia menerima sikap dingin dan penuh kebencian dari Eugene yang sangat menyakitkan hatinya. Setiap Claire mencari kesempatan untuk bersama dengan putra mahkota, pria itu selalu saja menyuruh orang untuk membuatnya sibuk dengan pekerjaan sebagai putri mahkota.
Suatu hari Claire bertemu dengan putri Ariana yang masih tinggal di istana karena keinginan Raja untuk mendekat kan Aiden dengan putri dari kerajaan Monique itu.
Putri Ariana melihat Claire yang sedang bersedih dan mencoba melakukan sesuatu.
" Semua orang bilang putri mahkota dan putra mahkota saling mencintai,tapi kenapa saya selalu melihat anda bersedih ? sebenarnya apa penyebab anda tidak bahagia ?" tanya Ariana dengan wajah yang penuh rasa empati
" Apa saya bisa bercerita pada anda? kita bahkan tida berteman " kata Claire canggung
" Ayolah yang mulia, mungkin saja kita bisa bekerja sama untuk memecahkan masalah nya. Mari kita berteman, yang mulia." kata Ariana mengajak
Ariana berusaha sekuat tenaga nya untuk membujuk Claire agar bercerita tentang apa yang terjadi pada nya dengan putra mahkota. Ia memancing nya dengan bercerita terlebih dahulu pada Claire.
" kalau yang mulia tidak bisa cerita sekarang, tidak apa. Mungkin yang mulia belum percaya pada saya sepenuhnya.. lalu apa saya bisa cerita pada anda masalah saya sekalian meminta saran?" tanya Ariana dengan mata yang berkaca-kaca
" Tidak ada salahnya aku mendengarkan dia, tidak ada ruginya juga " batin Claire
" Baiklah, kau boleh cerita kok Putri" Claire setuju
" Bagus, ikan sudah memakan umpan. Karena kita punya musuh yang sama, maka kita harus bekerja sama" batin Claire
#FLASHBACK
Setelah perbincangan nya dengan Aiden, Ariana terlihat marah. Putri itu duduk di taman dan terlihat kesal.
" Kau dengar itu Berry? pangeran itu punya kekasih?" tanya Ariana gusar
__ADS_1
" Iya saya mendengar nya yang mulia, berani sekali dia yang hanya seorang pangeran saja menolak mu " kata Berry tidak senang
" Aku bersumpah akan membuatnya bertekuk lutut dihadapan ku !" Ariana penuh percaya diri
Ia menyuruh Berry untuk memeriksa siapa kekasih yang disebutkan oleh Aiden. Tak lama kemudian ia menerima informasi dari mata-mata suruhan nya yang menjelaskan kalau Arrabella adalah wanita yang sangat dekat dengan Aiden, maka saat itu juga Ariana yakin bahwa Arabella memang kekasih Aiden. Ia mendapatkan informasi Aiden dan Arabella dengan detail dari mata-mata nya itu.
" Jadi, putra mahkota juga dulu nya tergila-gila dengan putri Duke itu?" tanya Ariana meremehkan
" Benar yang mulia putri " jawab Berry cepat
" Sehebat apa dia ? hanya seorang putri duke biasa saja, bisa membuat kedua pria dari kerajaan Clarines, dan bahkan Raja iblis yang susah payah aku dapatkan, bisa jatuh hati padanya dengan mudah?. Dia pasti sangat sombong, karena sekarang aku disini aku akan menghentikan wanita penggoda itu. Tidak ada yang bisa mengalahkan Ariana Grisel La Monique !" kata Ariana sambil tersenyum meremehkan
" Benar, yang mulia putri adalah wanita yang paling cantik di dunia. " kata Berry membenarkan
" Berry, seperti nya aku sudah menemukan saingan yang lumayan " Ariana tersenyum menyeramkan
" Yang mulia Putri, apa perlu saya bertindak untuk menyingkirkan gadis itu?" tanya Berry
" Tidak perlu, aku tidak mau melihat dia mati begitu saja. Gadis sombong itu, harus mengalami penyiksaan dulu baru dengan itu aku bisa bahagia. " Ariana tersenyum puas
Berry tersenyum menyeringai mendengarkan perkataan Putri Ariana yang terdengar menyeramkan.
" Oh ya Berry, kau bilang kalau Putri mahkota Claire memiliki kebencian pada nya?" tanya Ariana
" Benar yang mulia, bahkan mereka selalu terlibat konflik " jawab Berry
" Kalau begitu kita serang mulai dari putri mahkota " Ariana menyeringai
#END FLASHBACK
Baru kali ini Ariana merasakan sesuatu yang berbeda dan menantang nya, dari kecil tuan putri ini selalu mendapatkan apa yang ia mau tanpa perlu bersusah payah. Ariana terlahir dengan sendok emas, segala keinginan nya pasti terpenuhi, kakak yang memanjakannya dan orang tua yang sayang padanya selalu membuat nya tidak pernah kekurangan apapun. Ketika ia suka dengan sesuatu, ia akan dapatkan dengan cara apapun, meskipun dengan mengambil nya paksa (merebut) walaupun ia tau bahwa sesuatu itu adalah milik seseorang. Ariana selalu menghalalkan segala cara untuk menindas seseorang dengan cara yang tidak terfikirkan oleh orang biasa. Gadis itu ibaratkan mawar indah tapi berduri dan tajam.
Namun, hanya sedikit orang yang tau sifat aslinya itu. Orang-orang luar hanya tau Ariana adalah putri kerajaan yang cantik, baik hati dan cerdas. Selain itu ia memiliki daya tarik sebagai wanita tercantik dari kerajaan Monique dan wanita yang mempesona. Semua pria di kerajaan Monique yang tidak tahu sifat aslinya, bertekuk lutut padanya, lamaran demi lamaran terus berdatangan dari berbagai keluarga bangsawan. Entah itu keluarga Duke, Marques, Count, atau Viscount, bahkan pangeran dari kerajaan kerajaan lainnya pernah melamarnya. Tapi, semua lamaran itu ia tolak !
Entah karena sombong atau alasan lain, para pria tampan itu tidak terlalu mempesona dan mengambil tidak bisa mengambil hati putri itu.
***
" sebenarnya aku tertarik dan menyukai pangeran Aiden " kata Ariana pada Claire
" Oh, benarkah? apa kau sudah coba mendekati nya?" tanya Claire
" Iya, aku pikir dia juga tertarik padaku. Tapi, seorang putri Duke terus sana mendekati nya. Saat pesta dansa malam itu, pangeran Aiden bahkan meninggalkan ku untuk menemui gadis itu " terang Ariana sedih
" Apa jangan jangan Arrabella lagi? tidak mungkin pangeran Aiden akan mengabaikan kecantikan putri Ariana, ini pasti karena gadis murahan itu lagi " batin Claire
" Putri Duke yang bernama Arabella bukan? apa dia orangnya?" tanya Claire dengan penuh kebencian
" Benar, dia orangnya.. " jawab Ariana memelas
" Bagus putri mahkota, ini reaksi yang aku ingin lihat darimu. Penuh kebencian, aku suka " batin Ariana senang
" Dia itu memang wanita yang tidak baik dan menyebalkan, dia adalah wanita yang menggoda putra mahkota sebelumnya, sekarang dia menggoda pangeran Aiden, bahkan sampai Raja Dominic juga tertarik padanya. Aku tidak percaya dia akan merebut semua pria didunia ini " Claire menggerutu kesal
" Benarkah? apa benar nona Arabella adalah gadis yang seperti itu?" tanya Ariana tak percaya
" Benar, kau jangan tertipu olehnya. Putri Ariana kau jangan khawatir, aku akan membantu mu menegakan keadilan! aku akan membantu mu dan pangeran Aiden bersama, karena kita seorang wanita yang harus menjaga orang yang kita cintai. Wanita seperti dia, harus mendapatkan pelajaran " kata Claire menatap tajam
" Reaksi yang bagus sekali, bravo ! bantuan untukku sudah datang. Aku tidak perlu bersusah-payah menyingkirkan gadis itu, memanfaatkan putri mahkota ini akan lebih baik agar tidak mengotori tanganku " batin Ariana
" Arabella kau masih saja menggoda para pria! karena kau juga masih mengancam posisi ku sebagai putri mahkota, maka aku harus menuntaskan mu sampai ke akar nya. Aku tidak akan biarkan kau bahagia, setelah merebut pria orang lain dan menyakiti hati putri Ariana. " batin Claire
***
Di mansion Reese, setelah para pria bangsawan itu pergi Arabella terlihat lelah karena harus menolak mereka semua yang datang. Duke Reese terus berada disamping putri nya dan membuat nya sebal.
" Jadi kau tidak mau memilih satu pun diantara mereka?" tanya Duke Reese kesal
" Ya ayah, bagaimana ini? tidak ada yang sesuai tipe ku di antara mereka. " kata Arabella pura-pura sedih
" maaf ayah " batin Arabella
" Anak ini pasti sengaja " batin Duke Reese kesal
" Abel tenang saja, ayah sudah mempersiapkan seseorang, ketika kau menolak mereka semua. " Duke Reese tersenyum
" A..Apa? seseorang? siapa?" tanya Arabella kaget
" Mungkin dia sedang ada dalam perjalanan sekarang, kau akan segera melihatnya " jawab Duke Reese
" Ayah ! mana bisa begitu !" seru Arabella sebal
" Tenanglah putri ku sayang, ayah yakin kau tidak akan menolak pria ini. Kau sangat mengenal pria ini, kau akan menyukainya" kata Duke Reese tersenyum lebar
" Saat ayah tersenyum manis seperti ini, aku rasa ada sesuatu yang mencurigakan dan aku merasa merinding melihatnya" batin Arabella bingung
Sebuah kereta berhenti di depan rumah mereka, Arabella tercekat melihatnya dan bertanya-tanya siapakah orang yang ada di dalam kereta.
" sepertinya aku pernah melihat kereta itu deh?" gumam Arabella pelan
" Oh, itu dia pria nya sudah datang. Abel, mari kita sambut dia di depan !" seru Duke Reese senang
" Tapi.. ayah ...siapa.." Gadis itu kebingungan
" Ikut saja, ayo !" seru Duke Reese
Duke Reese dan Arrabella berjalan sedikit ke depan mansion mereka, seseorang dari kereta itu turun dan mengagetkan Arabella, juga Felix, Daisy dan Layla yang ada disana.
" Selamat datang di kediaman saya Viscount Michael " kata Duke Reese ramah
" Paman Michael? apa-apaan ini ?" batin Arabella kaget
" Terimakasih sudah menyambut ku, maaf sudah merepotkan mu dan Arabella juga " kaga Viscount Benedict ramah
Gadis itu tak bisa berkata-kata dan sedang mencerna apa yang terjadi. Daisy, Layla dan Felix yang ada di belakang mulai berbisik bisik dan merasa terpana.
" Apa nona akan menikah dengan nya?" tanya Layla kaget
" Dia memang tampan, tapi masa nona kita menikah dengannya?" tanya Daisy tak percaya
" Bagaimana ini kasihan nona ?" kata Layla sedih
Felix tak bisa berkomentar dan hanya mengangguk-angguk saja, dengan wajah kaget nya.
__ADS_1
" Ayah keterlaluan !! apa-apaan ini? masa aku mau dinikahkan dengan nya !! aku ini masih lajang ayah !!" seru Arrabella kesal
Duke Reese dan Viscount Benedict melihat ke arah Arabella yang terlihat marah dan hampir menangis.