
...( Ilustrasi Felix )...
Aiden tersenyum tipis mendengar permintaan Arabella itu, tersenyum yang meremehkan. Itulah yang dirasakan Arabella saat menatap pria bertopeng itu dan melihat matanya, tapi ia tetap menunduk dan berkali-kali meminta agar Aiden menerimanya sebagai murid.
" Maaf, aku tidak bisa menerima mu sebagai murid ku nona " kata Aiden datar
" Apa? kenapa kau menolakku secepat ini? setidaknya pikirkan lah dulu! " seru Arabella yang mulai kesal
" Tidak usah ku pikirkan, aku tidak bisa menerimamu. Silahkan pergi " kata Aiden mengusir
" Apa yang gadis ini pikirkan? kenapa dia mau belajar pedang? di kehidupan nya sebelumnya dia bahkan tidak pernah melakukan pekerjaan apapun dengan benar karena tubuh nya lemah" batin Aiden heran
" Aku tidak bisa membiarkan dia bersikap begitu arogan dan menolakku. Aku harus belajar darinya agar aku menjadi kuat, seperti pangeran Aiden " Arabella berkata dalam hatinya
" Kau tidak bisa mengusirku begitu saja. Setidaknya, berikan aku kesempatan dulu !" seru Arabella tetap teguh
" Tidak ada, pergilah. " Aiden berjalan pergi
Arabella menghadang jalan Aiden seperti anak kecil yang sedang bermain tangkap kejar, kedua teman Aiden dan Felix hanya menontonnya.
" Kalau begitu, bisa kau bicara padaku kenapa kau menolakku dengan tegas tanpa berfikir dulu? " tanya Arabella kesal
" Karena kau seorang perempuan " jawab Aiden datar
" A..APA????!" Arabella kaget
" Cukup jelas bukan?" tanya Aiden cuek
" Hanya karena itu? kenapa memangnya kalau aku perempuan? kenapa aku tidak boleh belajar berpedang?" tanya Arabella heran
" Tolong tanya satu persatu " kata Aiden sambil menghela napas
" Apa dia tidak lelah berbicara seperti rel kereta seperti itu?" batin Aiden keheranan
" Jawab aku tuan bertopeng jelek !" seru Arabella marah
" Kau panggil aku jelek? " tanya Aiden sebal
" Maaf .. maaf aku salah bicara, maksudku tuan bertopeng tampan. " kata Arabella memuji
" Karena aku tidak menerima murid perempuan, apa itu masih kurang jelas?" Aiden menatap Arabella dengan tajam
" Anggaplah aku pengecualian, tuan bertopeng. Kumohon .. terima aku jadi murid mu, aku ini orangnya cepat belajar, dan aku juga pintar membuat teh ! " Arabella berusaha membujuk dengan wajah sedihnya
" Kenapa kau ingin belajar pedang? untuk apa? " tanya Aiden
" Itu karena .. " Arabella terlihat kebingungan
" Kenapa tidak menjawab tegas seperti tadi? kalau kau menggunakan ilmu pedang untuk balas dendam, maka lupakan saja. Tidak akan ada yang mengajari mu kalau niat mu seperti itu " kata Aiden menebak
" Karena jika kau ingin balas dendam, biarkan aku yang membalasnya untukmu Bella. Karena aku tau penderitaan mu dimasa lalu, rasa sakit mu karena orang-orang itu. Aku tak akan mengizinkanmu mengotori tanganmu. " batin Aiden cemas
" Kenapa kau berasumsi berlebihan tuan bertopeng? aku tidak ada niatan seperti itu, 3 hari yang lalu aku di culik dan ..." Arabella tiba-tiba merasakan sesuatu di punggungnya
" kenapa punggung ku sakit lagi? lukanya seperti terbuka..kenapa harus disaat seperti ini ?" Arabella panik dalam hatinya
" Nona ! nona !" seru Felix sambil berlari panik melihat punggung Arabella berdarah.
" Ada apa denganmu?" tanya Aiden cemas
" Aku seperti nya harus pergi sekarang.." jawab Arabella sambil menahan rasa sakitnya
" Dimana yang sakit?" tanya Aiden cemas
" Nona, kita harus segera ke dokter !" seru Felix
" Felix aku tidak apa-apa, tidak perlu sepanik itu " kata Arabella tenang
Aiden melihat punggung Arabella yang berdarah.
" Kau jangan pulang dulu, tunggu lah di rumah prajurit disana!" seru Aiden
" Tidak apa, aku akan pulang " kata Arabella
" Bagaimana bisa kau pulang seperti itu!!!?" tanya Aiden membentak
" Kenapa dia? tiba-tiba membentak ku begitu?" batin Arabella keheranan
" Baiklah, aku akan tinggal kalau kau bilang akan memberiku kesempatan menjadi murid mu!" seru Arabella
" Disaat saat seperti ini kau masih bisa mengajukan permintaan?!" seru Aiden kesal
" Kalau kau tidak mau, aku akan pulang dengan keadaan luka terbuka dan berdarah-darah, lalu aku akan kehabisan darah dan pingsan dijalan. " Arabella menunjukkan ekspresi sedihnya
(" Nona sampai melakukan ini karena bersikeras ingin belajar berpedang") batin Felix cemas
(" Aku bisa tau kalau nona ini berpura-pura, kenapa dia tidak jadi aktris saja?") batin Demian
(" Nona, semoga pangeran tidak marah padamu. ") batin Lorenzo
" Aku tidak tahu kau penuh trik seperti ini dulu, Bella " batin Aiden bingung
" Baiklah, aku akan memberimu kesempatan. Sebelum itu, lukamu harus diobati dulu bukan?" kata Aiden luluh
" Benarkah? kau tidak boleh menarik kata-kata mu lagi ya. " Arabella terlihat senang
" Tidak sia-sia juga aku terluka seperti ini" batin Arabella senang
" Yang mulia yang dingin terhadap wanita, bisa luluh dengan mudahnya oleh nona ini, hanya dengan beberapa trik? hebat, nona kau memang reinkarnasi dewi cinta untuk yang mulia pangeran " batin Demian kagum
" Tidak heran, yang mulia menyukaimu. Jadi inilah pesona nona Arabella itu. " batin Lorenzo
" kenapa kalian bengong? panggilkan dokter kemari sekarang!" seru Aiden keras
" Baik.. oke yang.. guru !" seru Lorenzo dan Demian patuh
***
Di dalam ruangan tertutup...
Dokter wanita memeriksa Arabella dan membalut kembali luka jahitannya yang terbuka.
__ADS_1
" Dokter, apa luka ku baik-baik saja?" tanya Arabella
" Jahitannya terbuka lagi, tapi saya sudah membalutnya. Untuk jaga-jaga lukanya jangan dulu kena air ya, dan juga jangan banyak bergerak dengan tangan kanan anda. Karena jahitan nya ada dipunggung kanan, itu akan terhubung dengan pergerakan tangan kanan " terang Dokter ramah
" Begitu ya.. jadi aku belum bisa belajar berpedang?" tanya Arabella merasa sedih
" Iya untuk sementara ini, dua atau 3 hari Anda tidak boleh melakukan aktivitas berlebihan dengan tangan anda nona Arabella " kata Dokter ramah
" Kau mengenaliku?" tanya Arabella kaget
" Bagaimana mungkin saya tidak mengenali putri bungsu Duke Herald de Reese? saat itu saya hadir di pesta penghargaan anda. Saya sangat senang bertemu dengan anda secara langsung " terang Dokter senang
" Ooh jadi begitu, bisakah dokter merahasiakan identitas ku disini? " tanya Arabella meminta
" Eh? kenapa nona ?" tanya Dokter
" Sebagai gantinya kau merahasiakan identitas ku, aku akan memberimu hadiah. Apapun yang kau mau?" tanya Arabella
" Oh nona, anda ingin bernegosiasi dengan saya?" Dokter tersenyum
" Iya anggap saja begitu, dokter ingin apa?" tanya Arabella tanpa basa-basi
" Nama saya Louis, nona. Nona bisa memanggil saya dokter Louis. Dan saya ingin menjadi salah satu dokter pribadi keluarga Duke Reese !" seru Dokter Louis berbinar-binar
" Kalau aku menjadi dokter di keluarga Duke, aku akan menjadi terkenal dan bisa bertemu tuan duke Herald yang tampan setiap hari hehe " batin Dokter Louis senang
" Baiklah, kau bisa mulai bekerja besok sebafai dokter pribadiku Dokter Louis " Arabella langsung setuju
Dokter Louis merasa senang karena Arabella langsung menyetujui permintaan nya.
Sementara itu diluar ruangan tempat Arabella di periksa, kedua pria diluar terlihat resah seperti menunggu sesuatu.
" Kenapa nona Abel, lama sekali? dia tidak akan kenapa-napa kan?" batin Felix cemas
" Sebenarnya apa yang dilakukan dokter itu di dalam sana? apakah luka nya terbuka sangat parah sampai mereka lama di dalam sana? Haa.. awas saja kalau dokter itu tidak mengerjakan pekerjaan nya dengan baik " batin Aiden resah
Di sisi lain kedua teman Aiden, sedang duduk di kursi sambil minum teh dengan santai.
" Hey Lorenzo, kau sedang memikirkan apa?" tanya Demian sambil menonton Aiden dan Felix yang terus mondar-mandir di depan ruang an Arabella.
" Seperti nya kali ini kita sepemikiran, Demian " jawab Lorenzo
" Lorenzo meskipun kau cuek padaku, tapi kau ini memang sahabatku " kata Demian sambil merangkul Lorenzo
" Ya baiklah " kata Lorenzo cuek
" Hey Lorenzo, sudah jelas kan kalau yang mulia menyukai nona itu?" tanya Demian penasaran
" Kau bodoh ya, pakai tanya segala? itu sudah jelas. " kata Lorenzo dengan nada datar
" Apa ini cinta segitiga?" gumam Demian yang berfikiran kalau Felix juga menyukai
" Kelihatannya pengawal nya yang bernama Felix itu menyukai nona nya?" batin Demian yang merasa peka
Beberapa saat kemudian, dokter Louis dan Arabella keluar dari ruangan itu. Dokter Louis menjelaskan kondisi Arabella kepada Felix dan Aiden bahwa Arabella tidak boleh melakukan aktivitas berat dan harus beristirahat selama 2-3 hari sampai jahitan di punggungnya benar-benar kering.
Demian mengantar Dokter Louis pulang. Karena hari itu sudah siang, Aiden mengajak Arabella makan bersama dengannya.
" Kau sudah dengar apa kata dokter tadi kan? bagaimana kau akan berlatih pedang?" tanya Aiden
" Kenapa?" tanya Aiden
" Aku akan melihat kalian berlatih, dan melihat guru juga " jawab Arabella dengan nada polos
" Melihatku? Ada apa?" tanya Aiden dengan wajah memerah
" Maksudku melihatmu berlatih juga, oh ya kenapa wajahmu memerah? apa kau kepanasan ? apa kau tidak bisa membuka topengmu ?" tanya Arabella bingung
" Ti..tidak bisa, aku tidak mau sembarang orang bisa melihat wajahku. Aku tidak suka " jawab Aiden gugup
" Kenapa dia terdengar gugup? kenapa dia menutupi wajahnya dengan topeng? dan kenapa telinga nya memerah?" begitu banyak pertanyaan dalam hati Arabella
" Guru aku mengerti, baiklah kalau kau tidak mau membuka topengmu. Tapi, wajah jelek bukan lah kesalahan ataupun aib " kata Arabella merasa kasihan
" Apa kau bilang? aku jelek?" Aiden melongo kaget
" Aku salah yah? bukannya kau memakai topeng itu karena wajahmu jelek? atau bukan?" tanya Arabella polos
" Nona maaf, itu bukan alasan guru memakai topeng. Itu karena .. " kata Lorenzo berusaha menjelaskan kesalahpahaman. Lalu dengan cepat, Aiden memberi isyarat agar Lorenzo diam.
" Iya itu benar, aku memang memiliki wajah jelek. " kata Aiden dengan wajah memelas
" Yang mulia kenapa kau biarkan dia beranggapan kau jelek? kau bahkan jauh dari kata jelek!" batin Lorenzo kesal
" benar kan aku sudah tau, guru maafkan aku sudah menyakiti hatimu. " kata Arabella menyesal
" Tidak apa, ini memang sudah nasibku " kata Aiden berakting sedih
" Maaf, Bella aku belum bisa mengungkapkan identitas ku sekarang. Tapi, dekat dengan mu seperti ini aku merasa senang. Aku akan melindungimu di kehidupan ini, aku berjanji " batin Aiden bersungguh-sungguh
" Oh ya, aku belum tau namamu guru. " kata Arabella
" Panggil saja aku Cedric, dan namamu?" tanya Aiden
" Aku.. namaku Naomi " jawab Arabella
" Naomi itu nama tengahku, tidak akan ada yang tau kan? kalau aku menggunakan nama Arabella aku akan mudah dikenali. " batin Arabella
" Dasar, kau pikir kau bisa menipuku. " batin Aiden
Hari itu Arabella melihat latihan pedang Aiden bersama para prajurit nya, dan Arabella terlihat kagum dengan kemampuan pedang Aiden. Meskipun Aiden masih muda, dia bisa menguasai strategi pedang dengan mudah dan serangannya yang cepat.
Dalam hatinya Arabella semakin penasaran dengan sosok pangeran Aiden, dan ia ingin bertemu dengannya.
***
Di istana putra mahkota..
Eugene baru tiba ke kediamannya setelah pergi ke laut Barat dan melihat keadaan disana. Ia terlihat lelah dan duduk sejenak di ranjangnya. Adiknya, Camille menghampiri nya.
" Kakak, kakak sudah kembali ?" kata Camille menyapa
" Ya baru saja, ada apa adikku?" tanya Eugene
__ADS_1
" Kakak pasti lelah, aku sudah membawakan teh segar spesial untuk kakak " jawab Camille sambil tersenyum ceria
" Tumben sekali adikku bersikap manis, ada apa ini?" tanya Eugene ramah
" kakak minum saja dulu teh nya, ayo ayo !" seru Camille
Camille menantikan ekspresi wajah kakak nya saat meminum teh itu. Eugene meminum teh nya, dan terlihat terkejut.
" Rasa ini.. ini " batin Eugene terperangah
" Ada apa kakak? teh nya tidak enak?" tanya Camille ketakutan
" Aku sangat terkejut Camille. Kau bisa membuat teh yang sesuai dengan selera ku, ini enak sekali. Kau mencampur kan apa saja ke dalamnya, ini sangat segar " Eugene memuji teh buatan adiknya itu. Terlihat wajah Camille yang berbinar-binar dan terlihat gembira.
" Kakak ! benarkah? teh nya enak??" tanya Camille tak percaya
" Iya ini sungguh-sungguh enak. Sering-sering ya buat teh seperti ini .. " jawab Eugene senang
" Ternyata resep teh kak Arabella memang benar-benar bagus ! tidak sia-sia aku belajar darinya " kata Camille gembira
" Apa maksudmu? Kau belajar dari Arabella?" tanya Eugene
" Iya kakak, kak Arabella yang mengajarkan nya padaku. " jawab Camille
Camille menceritakan pada Kakaknya itu, bahwa saat Arabella masih di istana ia meminum teh buatannya sendiri dan Camille juga dibuatkan teh yang sama, Camille merasa teh itu sangat enak dan ingin meminta resepnya. Arabella pun memberitahu resep nya pada Camille.
" Wanita itu? apa-apaan dia? bertindak seolah membenciku dan tidak suka padaku, tapi diam-diam dia mendekati Camille, untuk apa tujuannya kalau bukan karena ia menyukaiku? Aku tidak mengerti wanita itu !" batin Eugene kesal sendiri
" Oh ya kak, aku diundang oleh nona Megan Benedict loh " kata Camille
" Undangan apa?" tanya Eugene
" Pesta teh di rumahnya, dia juga mengundang kak Naomi juga " jawab Camille senang
" Kenapa kau memanggil nona Arabella dengan nama tengahnya? kau sudah berasa akrab dengannya?" tanya Eugene heran
" Iya tentu saja, dia sudah setuju menjadi temanku kak. Aku heran kenapa semua orang memanggilnya gadis jahat, padahal dia itu gadis yang baik. Dia juga berani dan sikapnya dewasa, ah.. seandainya aku punya kakak perempuan " Camille membayangkan Arabella menjadi kakak perempuan nya.
" Arabella, kau bisa membuat adikku menjadi sangat patuh padamu. Dia tidak mudah dekat dengan orang lain apalagi berteman, tapi kau bisa membuat nya berteman denganmu dengan mudah. Kau hebat " batin Eugene penuh kekaguman
Tak lama kemudian, Claire datang menemui Camille dan membawa hadiah untuk Camille.
" Yang mulia putri, saya datang " kata Claire dengan wajah manis dan ramah
" Mau apa kau kesini?" tanya Camille ketus
" Tentu saja untuk melihat kondisi tuan putri dan saya juga membawakan sesuatu untuk tuan putri " jawab Claire
" Tidak usah basa-basi, bukannya kau senang kalau aku kenapa-napa " kata Camille sini
" Tuan Putri, kenapa anda bicara seperti itu? mana bisa saya membiarkan tuan putri terluka.. tuan putri adalah teman saya .." kata Claire dengan wajah memelas
" Teman macam apa yang akan meninggalkan teman nya saat temannya berada dalam bahaya? kau malah kabur kan?" tanya Camille kesal
" yang mulia sepertinya anda salah paham. Saat itu saya tidak kabur kok, saya pergi untuk memberitahu pengawal istana tentang kejadian penculikan itu. " kata Claire dengan mata berkaca-kaca
(" Aku tidak percaya kalau kemampuan akting ku buruk Tuan putri") batin Claire yakin
" Oh, begitu ya? tapi kenapa aku tidak tau kalau kau yang melaporkannya? " tanya Camille bingung
" Mungkin karena para pengawal istana yang terburu-buru saat itu, jadi mereka lupa mengatakan nya pada yang mulia putri. Yang mulia putri tolong maafkan saya" terang Claire terlihat sedih
" Baiklah, kali ini aku akan memaafkanmu." kata Camille sambil menghela napas seperti terpaksa
(" Dasar tuan putri bodoh ") batin Claire senang
(" aku memaafkanmu, tapi kepercayaan ku padamu sudah sangat berkurang nona Claire ") batin Camille
Sore itu, Arabella dan Felix kembali ke mansion duke Reese. Arabella disambut ramah oleh orang-orang yang bekerja di rumahnya.
" Suasana rumah semakin bagus dan nyaman. Berbeda dengan yang dulu " batin Arabella merasa senang
" Nona, mau saya siapkan air untuk mandi nya sekarang?" tanya Daisy
" Iya, aku sangat lelah aku harus mandi sekarang " jawab Arabella
" Baiklah nona " kata Daisy
Suasana hati Arabella membaik karena ia telah mendapatkan izin menjadi murid dari guru besar pedang legendaris. Layla dan Daisy berkata bahwa Arabella sangat cantik kalau tersenyum dan seharusnya Arabella bersikap seperti ini dari dulu, Arabella mengiyakan nya dan dalam kehidupan kali ini ia akan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan membalas dendam pada Claire dan Eugene.
Arabella membuka hadiah-hadiah yang di kirim oleh Megan dan Aida padanya.
" Mereka seharusnya tidak perlu melakukan ini, aku merasa tersanjung. " Arabella tersenyum sambil melihat kotak hadiah dari Megan yang isinya sebuah gross berwarna merah. Lalu Arabella membuka kotak hadiah dari Aida yang isinya sebuah gelang berlian yang indah.
" Oh ya, pesta teh di rumah keluarga Benedict. Pasti Claire akan datang juga kan? ini akan menyenangkan. Apalagi nanti kak Ashton juga ada disana, lihat saja kau Claire Collete " kata Arabella sambil tersenyum seolah merencanakan sesuatu.
Disisi lain, Aiden sedang memikirkan Arabella. Ia terus tersenyum saat memikirkan Arabella, namun ia juga takut bahwa kejadian masa lalu akan terulang lagi padanya.
" Kalau bukan karena kekuatan kalung itu, kau mungkin tidak akan berada disini Bella. Syukurlah kalung itu ada padamu, kalau tidak. Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpamu sekarang.. " gumam Aiden dengan penuh rasa syukur
bersambung...
Pertanyaan untuk Bab berikutnya
Apa rencana yang akan dibuat Arabella untuk Claire di pesta teh nanti?
Benarkah putra mahkota tertarik pada Arabella, atau hanya kagum saja?
Apa hubungannya kalung kristal milik Arabella dengan Pangeran Aiden di masa lalu?
__ADS_1
Apakah semua pertanyaan itu akan terjawab di Bab berikutnya?