
Aiden mengajak Arabella duduk di sebuah kursi.
" Maafkan ketidaksopanan saya yang mulia, saya mengajak anda berbicara berdua saja " kata Arabella lembut
" Kenapa dia selalu marah-marah saat aku menjadi Cedric? tapi di depan pangeran dia selalu bersikap lembut. Apa ini? aku cemburu pada diriku sendiri?" batin Aiden kesal
" Tidak apa-apa, kebetulan aku juga ingin berbicara sesuatu denganmu " jawab Aiden tak keberatan
" Oh begitu. " kata Arabella
" kau (anda ) lebih dulu !" kata Arabella dan Aiden bersamaan
" Haha.. " Arabella dan Aiden tertawa bersama
Dari kejauhan, beberapa pria dengan tatapan penuh kemarahan melihatnya kebersamaan Aiden dan Arabella.
" Aku tidak mengerti kenapa aku marah saat Abel dekat-dekat dengannya ?" batin Ashton tak mengerti
" Ini adalah pesona Abel, dia begitu populer di kalangan para pria !" seru Ethan kesal
" Kita harus membantu Abel memilih pasangannya, sejauh ini kita belum tahu pangeran Aiden orangnya seperti apa " kata Peter
" Kau yakin dia menyukai adik kita?" tanya Ethan
" kakak tidak lihat, pangeran Aiden yang selalu berwajah dingin bisa tertawa seperti itu saat bersama Abel. Bukankah kau merasa ada yang aneh?" tanya Peter
" Benar juga. Siapapun orangnya, mau itu pangeran, putra mahkota atau raja sekalipun. Jika mereka serius pada Abel, harus melewati ujian dari ku dulu " kata Ethan sambil memegang pedangnya dan menatap tajam pada Aiden
" Kalau begitu aku juga ikut ! Kita tak bisa menyerahkan adik kita yang sangat berharga pada mereka begitu saja " seru Peter tegas
Sementara itu Ashton malah melamun dan tampak memikirkan sesuatu. Di dalam pikiran nya ia teringat perbincangan nya dengan Viscount Michael Benedict.
#FLASHBACK
Mansion Benedict..
Viscount Michael dan Ashton sedang menikmati pemandangan di kebun belakang mansion mereka sambil duduk di sebuah kursi.
" Sudah lama sekali ya, Ashton. Kita tidak minum teh bersama " kata Viscount dengan wajah yang ramah dan ceria
" Benar paman " kata Ashton
" Ashton, pernahkah kau berfikir untuk segera memilih tunangan mu?" tanya Viscount Michael sambil tersenyum santai
" Paman.. kenapa tiba-tiba paman menanyakan soal itu?" tanya Ashton kaget dan wajahnya memerah
" Tahun ini kau berusia 19 tahun bukan? paman hanya menyarankan mu memilih calon tunangan mu, bukannya menikah kok " Viscount Michael tersenyum
" Aku belum ada pikiran sampai ke sana paman " jawab Ashton
" Aku dengar kau menyukai seseorang dari keluarga Collete dan kau di tolak olehnya? benar kah itu?" tanya Viscount Michael prihatin
" Iya itu benar paman " jawab Ashton
" Paman hanya memberikan saran untukmu, keputusan nya itu terserah kau saja. Karena di sudah menolakmu, paman sudah ada nama calon tunangan untukmu. " terang Viscount Michael
" Aku tidak keberatan paman. Tapi siapa yang paman maksud?" tanya Ashton penasaran
" Bagaimana menurutmu tentang nona Arabella Naomi De Reese? putri duke Reese?" tanya Viscount Michael
Tanpa diduga, Viscount Michael mengajukan nama Arabella sebagai calon tunangan Ashton. Ashton kaget mendengar nya.
" Paman tau hubungan mu dengannya yang katanya hanya sebatas kakak adik saja. Tapi, paman lihat kau cocok dengannya. Tuan duke juga pernah bilang pada paman, kalau dia tidak ingin putri nya masuk ke dalam keluarga kerajaan, jadi masih ada kesempatan. " terang Viscount Michael
" Iya paman, aku dan Abel sudah seperti saudara. Jadi mana mungkin kami mempunyai hubungan lebih dari itu. " kata Ashton sambil tersenyum
" Baiklah, itu adalah keputusan mu sendiri. Paman hanya memberikanmu saran saja, lagi pula putri duke itu cantik, baik, pintar dan pemberani. Dia juga gadis yang bisa diandalkan di masa depan, menurutku dia lebih baik dari nona Collete " terang Viscount Michael
" Paman, memang benar. Izinkan aku memikirkan nya dulu paman. Terimakasih sarannya " Ashton tersenyum
Tak bisa Ashton pungkiri, bahwa ia sedikit terganggu dengan saran paman nya itu. Apalagi jika itu hal hal tentang pertunangan dan pernikahan. Ia memiliki cinta sepihak pada Claire Collete selama 2 tahun, dan menurut pikirannya ia tak bisa melupakannya begitu saja.
Namun, tanpa ia sadari perasaan nya pada Arabella tumbuh seiring waktu. Pria itu mulai melihat Arabella bukan sebagai adiknya melainkan sebagai seorang wanita. Entah kapan Ashton akan menyadarinya? menyadari bahwa perasaan yang ia sebut aneh itu adalah rasa suka pria dewasa terhadap seorang wanita.
#END FLASHBACK
***
" kau duluan saja yang berbicara " kata Aiden mempersilahkan
Arabella tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari saku rok nya, sebuah gelang berwarna merah.
" Apa ini?" tanya Aiden
" Saya ingin memberikan gelang ini sebagai tanda terimakasih saya, jika anda bersedia menerima nya. Gelang ini saya dapatkan saat berdoa di kuil , gelang ini telah mendapatkan berkat dari kuil suci yang disebut sebagai gelang keberuntungan " terang Arabella
Gelang keberuntungan atau benang merah dewa, biasanya diberikan seorang perempuan kepada salah satu orang yang penting, atau keluarga. Ketika para pria akan bepergian jauh atau pergi berperang, sebagai tanda atau janji kepada perempuan bahwa mereka akan kembali selamat sampai ke rumah.
" kenapa kau memberikan nya padaku ? " tanya Aiden
" Apa dia menganggap aku orang yang berharga untuknya?" batin Aiden berharap
" Kan saya sudah bilang, saya berikan ini sebagai tanda terimakasih karena yang mulia sudah banyak menolong saya. " jawab Arabella
" Jadi hanya karena terimakasih?" gumam Aiden pelan
" Yang mulia, apa anda mengatakan sesuatu?" tanya Arabella
" Tidak. Maksud ku, bisakah kau memasangkan gelang nya di tanganku?" tanya Aiden
" Yang mulia, anda mau menerimanya?" tanya Arabella senang
" Aku tidak mungkin menolak niat baik seseorang yang sudah mendoakan ku?" kata Aiden sambil tersenyum
" benar, ini hanya perasaan ku saja. Senyuman guru di dalam topengnya itu terlihat seperti pangeran Aiden. Ah.. apa yang ku pikirkan?" batin Arabella bingung
Arabella memasangkan gelang merah itu di tangan kiri Aiden. Diam-diam, Aiden memandangi nya sambil tersenyum.
" Sudah selesai, terimakasih yang mulia sudah menerima hadiah kecil dari saya " kata Arabella senang
" Seharusnya aku yang berterimakasih padamu Tidak, memberikan gelang ini kau harus mendapatkan lebih dari kata terimakasih. Karena gelang ini sangat berharga " Aiden tersenyum ramah
" Benarkah? syukurlah kalau begitu, saya senang mendengar nya. Oh ya, yang mulia pangeran tadi ingin membicarakan sesuatu dengan saya. Apa itu?" tanya Arabella penasaran
" Ini tentang temanku Cedric " jawab Aiden
" kenapa membahas dia ? aku kan sedang kesal padanya" batin Arabella kesal
" seperti nya kau tidak mau mendengar kan ya?" tanya Aiden sedih
" Tidak yang mulia, akan saya dengarkan. Silahkan bicara " jawab Arabella dengan cepat
" Aku ingin tanya pendapat mu soal dia? Apa kau membencinya?" tanya Aiden
" Apa guru mengatakan sesuatu pada yang mulia tentang saya?" tanya Arabella kaget
" Tidak, dia hanya bercerita bahwa kau dan dia selalu bertengkar " jawab Aiden gugup
" Iya kami memang selalu bertengkar. Tapi, menurutku itulah cara kami bisa akrab satu sama lain. Guru adalah orang misterius dan tidak bisa ku tebak, sejujurnya beberapa hari yang lalu saya marah pada nya. " terang Arabella
" Marah? kenapa?" tanya Aiden
" Saya marah karena seperti nya yang mulia dan guru menyembunyikan sesuatu dari saya. " jawab Arabella dengan hati-hati
" Jadi, dia benar-benar berfikir seperti itu? Tapi kenapa dia sangat ingin tau tentang guru nya? maksud ku tentang ku " batin Aiden bingung
" Yang mulia, maafkan ketidaksopanan saya. Tanpa sadar saya sudah bicara yang tidak-tidak " kata Arabella meminta maaf
__ADS_1
" Tidak apa. Nona Arabella, ini hanya jika... andaikan aku dan guru Cedric menyimpan suatu rahasia yang berkaitan dengan dirimu apakah kau akan marah ?" tanya Aiden serius
" Kenapa pangeran Aiden menanyakan ini? jangan-jangan dia benar-benar menyembunyikan sesuatu dariku?" batin Arabella berfikir keras
" Tentu saja saya akan marah. Tapi sebelum itu saya akan menanyakan alasannya dulu alasan kenapa membohongi saya? jika seseorang itu sudah mau jujur, akan saya hargai kejujuran nya dengan memaafkan ..." kata Arabella serius
" Baiklah aku akan jujur padamu saat berangkat perang nanti. Aku tak bisa menyimpan rahasia ini lebih lama lagi, tidak peduli kau akan marah atau tidak. Yang pasti kau akan memaafkan ku " batin Aiden yakin
" Terimakasih sudah memberikan jawaban yang baik, ini sebenarnya saran untuk temanku. " kata Aiden mengalihkan perhatian
" Oh begitu, baguslah kalau saya bisa membantu anda yang mulia " Arabella tersenyum
Gadis itu merasa aneh dengan ucapan Aiden padanya, dan ia juga merasa aneh dengan ucapan guru pedang nya kemarin. Ia ingin ingat apa yang ia bicarakan dengan guru pedangnya itu saat ia mabuk tapi ia tak ingat.
***
Setelah percakapan nya dengan Aiden selesai, Arabella menghampiri Ashton dan Kedua kakaknya yang terlihat marah.
" Abel, kenapa kau dekat-dekat dengan yang mulia pangeran?!" tanya Peter kesal
" ada apa dengan kalian bertiga? wajah kalian sangat lucu " kata Arabella heran melihat Ashton kedua kakak nya
" Lucu apanya? kau tidak lihat ya kami sedang marah !" seru Ashton kesal
" Kalian ini kenapa? jangan-jangan kalian sedang berebutan perempuan lagi haha " Arabella tertawa
Ethan mencubit pipi Arabella dengan gemas nya.
" Ah.. kakak ! sakit ! " seru Arabella sambil cemberut
" Jadi menurutmu wajah kami yang sedang kesal ini adalah lelucon bagimu?" tanya Ethan dengan mata yang tajam
" Ya.. maafkan aku kak. Lalu kenapa kalian bertiga kesal begitu?" tanya Arabella serius
" Kenapa kau berduaan dengan pangeran seperti itu?" tanya Peter dengan nada mengintrogasi
" Jadi kalian marah karena itu? kalian salah paham, aku cuma ingin berterimakasih padanya karena pangeran kan sudah banyak membantuku " jawab Arabella santai
" Benarkah? lalu kenapa kau sampai memegang tangannya segala?" tanya Ethan
" Aku memberikan gelang dari kuil suci, sebagai tanda terimakasih ku " jawab Arabella
" Oh jadi begitu ya, Abel kau tidak ada perasaan pada nya kan?" tanya Ashton curiga
" Tidak ada, aku sudah pernah bilang kalau aku tidak mau memiliki hubungan dengan anggota kerajaan " jawab Arabella
" semoga itu benar, semoga kata-katamu itu benar " batin Ashton berharap
" Jika kau punya seseorang yang kau sukai, biarkan kami melihatnya lebih dulu apakah dia layak untukmu atau tidak " kata Ethan tegas
" ya ampun kalian sangat memperhatikan masalah asmara ku ya. Kak Ethan, kak Peter , kalian bahkan belum punya orang yang kalian sukai. Aku tidak akan mendahului kalian " kata Arabella sambil tersenyum mengejek
" Apa kau bilang? " tanya Peter marah
" Wah.. kau mengejek kami ya !" seru Ethan
" Haha.. "
Arabella dan kedua kakak nya bercanda sambil tertawa. Ashton juga ikut-ikutan mengejar ngejar Arabella dan mereka terlihat gembira.
" Kak Ethan, kak Peter, Kak Ashton, aku sangat bahagia sekali bisa bercanda dengan kalian seperti ini. Aku menyesal dulu , aku tidak terlalu banyak bicara bahkan bercanda dengan kalian, karena aku sibuk dengan obsesiku mengejar Eugene. Aku selalu bersyukur kepada tuhan setiap saat, karena aku bisa kembali hidup dan merasakan momen bahagia ini bersama kalian." Arabella berbicara dalam hati nya
***
Di camp latihan pedang, Arabella berlatih pedang dengan Lorenzo dan Felix karena Aiden tidak berada disana.
" Kemampuan nona Arabella semakin bagus? aku hampir saja kalah " kata Lorenzo
" Haha.. kau jangan mengejekku tuan Lorenzo " kata Arabella tak percaya
" Kau terlalu berlebihan tuan Lorenzo. Ngomong-ngomong kapan guru kembali?" tanya Arabella
" Guru bilang dia akan kembali sore nanti " jawab Lorenzo
" Apa? sore nanti? kau bilang kan dia cuma pergi membeli makanan. Kenapa sampai sore?" tanya Arabella curiga
" Sebenarnya dia berada di istana dan sedang latihan disana. Makanya agak sedikit lama, masa aku bilang begitu? yang mulia, aku mohon segera akhiri semua sandiwara mu, apa anda tidak lelah" batin Lorenzo berharap
" Mungkin dia akan pergi ke tempat lain juga " jawab Lorenzo dengan senyuman ramah
" Dia tidak mengatakan kemana dia akan pergi?" tanya Arabella
" Guru hanya bilang kalau dia mau beli makanan " jawab Lorenzo
" Begitu ya, aku akan menunggunya. " kata Arabella
" Tapi nona, mungkin saja guru masih lama " kata Lorenzo
" Tidak apa-apa aku akan menunggunya " jawab Arabella santai
Hari sudah semakin sore menjelang malam, Arabella sudah menunggu Aiden berjam-jam tapi Aiden belum datang juga. Felix mengingatkan nona nya itu untuk segera pulang karena hari sudah mulai gelap.
Arabella pun memutuskan untuk pulang dengan wajah kecewa karena Aiden tidak datang hari itu ke camp pedang.
Arabella, Felix dan pak kusir sedang dalam perjalanan pulang.
" sebenarnya apa yang membuat guru sangat sibuk sampai-sampai hari mulai gelap seperti ini dia belum pulang. Apa dia bertemu dengan wanita yang waktu itu pernah dia bicarakan? kenapa juga aku peduli !" gumam Arabella kesal
Tiba-tiba sebuah senjata tajam hampir mengenai kepala Arabella yang ada di dalam kereta. Dan kalungnya kembali menunjukkan reaksi panas seperti api.
" Nona ! " seru Felix panik
" Aku baik-baik saja! Felix, ada apa?" tanya Arabella panik
" Nona, ada beberapa orang aneh yang mengepung kita " kata Felix
Arabella membawa pedangnya sambil membulatkan tekadnya.
" Ini saatnya aku menguji seberapa baik keahlian pedang ku " kata Arabella dalam hatinya
Dengan membawa pedang di tangannya, gadis itu keluar dari kereta dan melihat beberapa orang berpakaian serba hitam berada di atas pohon dan sebagian lagi ada di depannya. Felix dan pak kusir juga sudah mempersiapkan diri mereka untuk menyerang.
" Nona, kita tidak akan bisa kabur begitu saja. Mereka terlalu banyak " kata Felix
" Kalau kita tidak bisa kabur, lalu kita akan menyerang " kata Arabella santai
" Nona ! " seru Pak kusir panik
" semuanya ada 6 orang, bagaimana kalau kita bagi-bagi tugas " kata Arabella sambil meluhat ke arah orang-orang itu
" Apa yang nona bicarakan? nona !" Felix kaget dan bingung
" Baiklah, kita akan coba negosiasi dulu dengan mereka " kata Arabella santai
" bagaimana bisa nona begitu santai dalam situasi genting ini? kalau nona yang dulu pasti akan kabur, marah-marah atau bersembunyi " batin Pak kusir keheranan
" Nona, saya akan mengulur waktu. Nona lebih baik pergi saja " kata Felix
" Felix, kau diamlah dulu !" seru Arabella
Arabella berjalan maju ke depan menghampiri para pria itu dengan berani.
" Kalian mau apa? uang? kereta ? atau apa?" tanya Arabella
" Kami tidak menginginkan semua itu nona " kata seorang pria tegas
" Lalu kalian mau apa? menghadang jalanku saja! kalian mau ku hajar ya?" seru Arabella marah
__ADS_1
" Berani sekali kau, hanya seorang gadis kecil saja menggertak kami. " kata salah satu pria lainnya dengan tegas
" Jadi kalian tidak mau diajak bernegosiasi ya?" tanya Arabella sambil mengangkat pedangnya dengan percaya diri
" woah.. woa .. tenang nona kecil, jangan bermain-main dengan senjata anak laki-laki. Bisa berbahaya untukmu " kata Pria itu meremehkan
" Katakan kalian ingin apa dari ku?" tanya Arabella tegas
" Kami ingin nyawamu malam ini " jawab Pria itu tegas
" Apa ini rencana Ratu? Claire? atau Count Oscar?" batin Arabella bertanya-tanya
" Kalau begitu, kita lihat siapa yang kalah malam ini !" seru Arabella
Terjadi pertarungan hebat antara Arabella, Felix, Pak kusir dan pembunuh bayaran itu. Felix dan pak kusir merasa kagum karena kemampuan berpedang Arabella semakin bagus dan baik. Ia berhasil melumpuhkan 2 orang diantara mereka.
" Bagaimana Felix?" tanya Arabella dengan napas tersendat-sendat
" Lumayan nona, tapi jangan senang dulu. Mereka terlihat masih bisa bangun " kata Felix memuji
" Kalau begitu kita harus membuat mereka tidak bisa bangun " kata Arabella tajam
Felix semakin kagum dengan nona nya itu, karena memiliki keberanian yang besar dan mau menghadapi tantangan. Padahal nona yang ia kenal sejak kecil adalah nona yang manja, cengeng, pemarah, dan tempramen nya buruk. Arabella yang dulu tidak mau belajar atau mengangkat pedang sekalipun, dan Arabella yang sekarang melebihi harapan dan fantasi nya. Ia yakin bahwa nona yang ia kenal sudah benar-benar berubah menjadi lebih dewasa.
" Felix, bukankah nona kita sangat keren?" tanya Pak kusir kagum
" Dia lebih dari keren !" jawab Felix sambil tersenyum
Felix dengan cepat melumpuhkan 3 orang diantara mereka, Arabella memuji keterampilan Felix dalam berkelahi dan memakai pedang. Tidak heran, karena Felix juga dulunya adalah kstaria Whits Knight (mantan kstaria).
Gadis itu sempat lengah dan seseorang dari mereka memanah nya diam-diam. Panah itu melesat dengan cepat mengarah ke arah Arabella.
" Nona ! hati-hati !" seru Felix panik
Arabella melihat ke arah panah itu, namun sayang jarak panah itu sudah tidak bisa dihindari lagi dari tubuhnya.
Seseorang memeluk Arabella dan menghadang panah itu dengan tubuhnya. Panah itu menancap di punggungnya.
" Guru !" teriak Arabella panik
" Kau jangan lengah.." kata Aiden sambil menahan sakit
" Guru, kau baik-baik saja? guru !" seru Arabella panik
Demian, Lorenzo dan prajurit lain nya dari camp datang membantu, terjadi banyak perkelahian hingga mereka semua yang ingin mencelakai Arabella, kabur tanpa jejak.
" Yang mul.. guru, orang-orang itu kabur " kata Demian hampir keceplosan
" Seharusnya kita bisa tangkap mereka.." kata Aiden kesal
" Apa itu penting? kau terkena panah, sekarang !' seru Arabella panik
" Ini bukan apa-apa, tenang saja " kata Aiden tenang
" Bagaimana bisa tidak apa-apa? kau terluka !" seru Arabella hampir menangis
" Maafkan aku Arabella, saat ini aku senang karena melihatmu mencemaskan ku. Ini adalah momen yang selalu aku tunggu-tunggu " batin Aiden senang
***
Di camp pedang, Aiden di obati oleh Lorenzo. Panahnya di cabut, dan luka di punggung nya di balut oleh perban.
" Sudah selesai ?" Tanya Arabella cemas
" Sudah, nona Arabella, guru baik-baik saja. Ku mohon tenanglah " kata Lorenzo menenangkan
" Syukurlah " kata Arabella merasa lega
" Sebaiknya kau pulang, ini sudah malam. Lorenzo, Demian dan beberapa prajurit akan mengawal mu kembali " kata Aiden tegas
" Tapi, kau benar tidak apa-apa kan?" tanya Arabella meyakinkan dirinya
" Memangnya kau tidak dengar apa kata Lorenzo tadi? " kata Aiden kesal
" Baiklah kalau begitu, aku akan pulang. Kau beristirahat lah, aku akan melihatmu lagi nanti " kata Arabella sedih
" iya, berhati-hati lah " kata Aiden
Arabella dalam perjalanan pulang, dalam hatinya ia terus mengkhawatirkan Aiden. Tiba-tiba ia teringat sesuatu tentang Aiden.
" Gelang itu? kenapa dia bisa memakainya ? aku yakin itu gelang yang sama karena aku sendiri yang memilihnya " batin Arabella teringat gelang yang ia berikan pada pangeran
" tunggu, kita kembali lagi ke camp !" seru Arabella pak kusir
" aku harus memastikannya, sekalian aku akan memberikan makanan ini padanya " batin Arabella
***
Di kamar Aiden, ia terlihat masih berbaring.
Aiden berfikir siapa orang yang ingin mencelakai Arabella dan masih kesal dengan kejadian tadi, belum lagi keesokan harinya ia harus ikut berperang di Vanders.
Aiden bercermin dan membuka topengnya, saat itu ia tidak sadar bahwa Arabella sudah ada di belakangnya dan menatapnya dengan kaget. Aiden tersadar dan melihat sosok Arabella ada di cermin.
" Selamat malam guru, atau harus ku panggil yang mulia pangeran Aiden?" tanya Arabella dengan nada yang kesal
Aiden membalikan badannya dan akhirnya terbongkar lah semua rahasia penyamaran nya menjadi guru Cedric.
" Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Aiden kaget
" Aku ketahuan " kata pria itu panik dalam hatinya
" Saya kembali lagi karena saya mencemaskan mu dan ingin memberikan yang mulia sesuatu untuk di makan. Tapi, saya melihat sesuatu yang menarik " kata Arabella tidak senang
" Aku bisa jelaskan, tapi kau harus tenang dulu" kata Aiden berusaha menjelaskan
" Yang mulia kelihatan nya senang sudah mempermainkan saya. " kata Arabella sakit hati
" Bagaimana ini? dia kelihatan marah " batin Aiden resah
" Selama ini dia berpura-pura menjadi Cedric, dengan akting yang sempurna. Aku tidak menyangka kau adalah orang yang penuh dengan tipu muslihat. Aku seperti orang bodoh, padahal aku sudah curiga, tapi aku masih saja tertipu " batin Arabella kesal
" Aku akan menjelaskan semuanya, jadi kumohon tenanglah dulu. Mari kita bicara " kata Aiden membujuk
" Cukup! saya tidak tahu apa tujuan yang mulia membodohi saya selama ini untuk apa? tapi anda berhasil membuat saya menjadi orang bodoh. Anda berhasil membuat saya bingung tentang perasaan saya sendiri !" Arabella murka
Kemarahan Arabella terdengar sampai keluar ruangan, dan terdengar orang-orang yang ada di luar.
" Seperti nya nona Arabella sangat marah " kata Demian cemas
" Bagaimana dia tidak marah, dia tau dengan cara seperti ini. Pasti seperti di tusuk dari belakang " kata Lorenzo
***
Aiden memegang tangan Arabella dan menatap wajahnya, namun gadis itu memalingkan wajahnya dan menangis. Arabella menepis tangan Aiden yang memeganginya.
" Aku berniat membuat nya bahagia, tapi aku malah membuatnya menangis. Ada apa denganku?" batin Aiden merasa bersalah
" Saya permisi yang mulia, semoga anda cepat sembuh " kata Arabella sambil menyeka air matanya
Aiden semakin merasa bersalah, terlebih lagi setelah melihat gadis itu menangis karena sakit hati olehnya. Aiden ingin menjelaskan semua nya saat itu juga , tapi Arabella bersikeras tidak mau mendengar nya.
" Nona Arabella.. aku akan jelaskan, sebenarnya aku .
" Saya bilang hentikan, saya tidak mau mendengar penjelasan anda saat ini. " kata Arabella marah
Arabella membungkuk hormat pada Aiden, lalu pergi begitu saja. Aiden mengejar Arabella namun ia pun mengurungkan niatnya dan hanya menatap gadis itu dengan sedih.
__ADS_1