
Gadis itu mulai kebingungan dengan kelembutan yang ditunjukkan sang raja tiran. Ia bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan sang raja tiran itu.
" Hentikan semua ini ! apa yang kau lakukan sebenarnya?" tanya Arabella dengan wajah terkejut
" Kenapa dia memelukku seperti itu?" batin Arabella kesal
" Apa aku menakutinya? padahal aku bersikap lembut padanya, kenapa?" batin Dominic heran
" Memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Dominic
" Kau bersikap lembut padaku, seolah aku adalah domba yang akan disembelih. Apa maksudmu? kau .. kau mau membunuh ku kan?" tanya Arabella menuduh
" Mem..membunuh mu? siapa yang mau membunuh mu?" tanya Dominic mengernyitkan dahi nya
" tentu saja kau yang mulia.. apakah ada alasan lain kau bersikap lembut padaku?" tanya Arabella dengan raut wajah memelas nya
Dominic tertawa mendengarnya.
" Pfutt.. haha..."
Arabella melongo melihat Dominic tertawa, begitu pula dengan Cane, Wen beberapa pelayan dan pengawal yang mengintip.
" Apa kalian dengar? barusan yang mulia raja tertawa?" tanya salah satu pengawal tak percaya
" Percaya atau tidak, itu benar " jawab Wen melongo
" Akhirnya.. istana Vanders mempunyai masa depan ! yang mulia akan mendapatkan keturunan !" seru salah satu pengawal senang
" Yang mulia akhirnya akan mengakhiri masa lajangnya !" seru pengawal yang lainnya senang
" Hidup nona Arabella !" seru salah satu pelayan
" Cane, kau lihat itu? yang mulia.. dia tertawa.. dia tertawa .. sudah kuduga.. tidak sia-sia aku berdoa setiap hari, untuk datangnya hari ini " kata Wen senang
" Jangan senang dulu, aku masih merasa ada sesuatu " kata Cane berfikir
Raja itu tertawa mendengar ucapan Arabella.
" Astaga, dia malah tertawa padahal tidak ada yang lucu sama sekali. Dia sepertinya bersikap baik padaku lalu dia akan membunuhku !" batin Arabella
" Dari mana datangnya pemikiran aneh mu itu? kau masih bermanfaat bagiku, jadi aku tidak mengizinkan mu mati begitu saja " kata Dominic santai
" Benarkah? kau tidak marah karena aku menyiapkan pesta ulang tahun mu?" tanya Arabella polos
" Ya, ini tidak buruk. " jawab Dominic
" ini bisa ku artikan bahwa kau tidak marah?" tanya Arabella
" Ya, aku tidak marah. " jawab Dominic
" Bagaimana bisa aku marah padamu? pada orang yang sudah mendobrak dinding di hatiku " batin Dominic
Dominic melihat dekorasi yang sudah dibuat oleh Arabella dan ia terlihat puas melihatnya. Arabella dan Dominic pun makan malam bersama.
" Sudah, jangan di makan lagi kue nya. Kue nya mungkin sudah kotor " kata Arabella
" tidak, ini tidak kotor. Ini baik-baik saja " kata Dominic sambil makan kue yang jatuh itu
" Maafkan aku, ini mungkin terakhir kalinya kita bersama. Karena aku harus segera pergi dari sini " batin Arabella merasa bersalah
" Aku harap kau senang dengan apa yang sudah di siapkan di hari ulang tahunmu. Aku tidak tau kau suka yang seperti apa. Aku juga tau kalau kau tidak suka merayakan ulang tahun mu, tapi untukku setiap kelahiran itu berharga jadi aku merayakan nya untuk mu " kata Arabella lembut
" Aku tidak tau kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulut mu, aku pikir kau hanya bisa marah-marah pada ku " kata Dominic
" Kalau kau bersikap baik padaku, aku juga tidak akan marah-marah. " kata Arabella sebal
" Ya, baiklah karena ini malam terakhir aku melihatmu aku akan bersikap baik padamu " batin Arabella
" Kenapa kau memakai baju seperti itu?" tanya Dominic kesal
" ini, Cane yang memberikan nya untukku. Gimana ? bagus kan?" tanya Arabella
Dominic melempar jubahnya ke wajah gadis itu dengan kasar.
" Hey! apa yang kau lakukan?!!" seru Arabella kesal
" Pakai itu, kalau kau tidak ingin pergi ke menara Gionda lagi " kata Dominic tegas
" Jika aku memakai ini ? kau akan membiarkan ku tinggal di sini ?" tanya Arabella senang
" Iya, untuk malam ini saja " jawab Dominic
" Terimakasih banyak, aku senang sekali!" seru Arabella girang
" Aku tidak akan mengurung mu lagi, karena ku pikir kau mulai merasa nyaman dari ku. Semoga kau tidak melarikan diri dari ku " batin Dominic
" Rencana ku berjalan lancar, semoga saja kakak, putra mahkota, atau pangeran Aiden segera menerima surat ku " batin Arabella berharap
" Yang mulia raja, tunggu sebentar. Aku ada permintaan " kata Arabella serius
" apa itu? katakanlah " kata Dominic santai
" Bisakah kau berhenti membunuh orang tanpa alasan? " tanya Arabella
" Apa ini permintaan mu ?" tanya Dominic
" Jika kau bisa, kau harus berjanji jangan membunuh atau menyakiti orang lain tanpa alasan. Maaf jika aku meminta hal yang aneh dari mu, tolong jangan marah" kata Arabella lembut
Raja itu sedikit berfikir.
" Baiklah, aku tidak akan menyakiti orang dan membunuh orang tanpa alasan. Aku janji " kata Dominic serius
" Kau harus pegang janji itu " kata Arabella sambil tersenyum
" Kau juga harus janji padaku, kau akan selalu bersama ku.. " kata Dominic dengan tatapn hangat
" Ya, aku akan berada disisi mu " jawab Arabella sambil tersenyum
" Maaf, aku berbohong lagi. Tapi, aku benar-benar ingin pergi dari sini " batin Arabella sedih
#FLASHBACK
2 jam sebelumnya...
Arabella yang sedang mempersiapkan pesta kejutan ulang tahun untuk Dominic. Ia berbicara secara diam-diam dengan seorang pelayan yang akan keluar dari istana Vanders malam itu.
" Tunggu, kau bilang kau akan pergi keluar dari sini kan?" tanya Arabella menghentikan langkah si pelayan pria di depannya
" Iya nona, saya akan pergi keluar dari istana. Karena masa kerja saya sudah habis disini " kata pelayan pria itu
" Bagus, ini mungkin kesempatan ku " batin Arabella
" Siapa nama mu ?" tanya Arabella
" Nama saya Ian, nona " jawab Ian
" Ian, bisakah aku minta tolong padamu. " kata Arabella
" Minta tolong apa nona ?" tanya Ian
" Tolong pergi ke camp orang-orang dari kerajaan Clarines dan berikan surat ini pada mereka " kata Arabella dengan wajah memelas sambil menyerahkan surat itu
" Apa nona berniat melarikan diri dari sini?" tanya Ian kaget
" Iya, kau tau kan ini bukan rumah ku. Keluarga ku ada di Clarines, dan aku harus kembali. Aku mohon kau harus membantu ku, cukup berikan ini saja pada mereka.. " kata Arabella memohon
" Nona, jika yang mulia raja tau dia pasti akan membunuh saya dan keluarga saya, saya tidak bisa membantu nona .." kata Ian menolak
" Kumohon.. bantu aku, aku harus kembali.. jika .. jika terjadi sesuatu padamu atau keluarga mu aku akan bertanggung-jawab" Arabella berlutut di depan Ian sambil menangis
" Nona, tolong jangan seperti ini " kata Ian merasa tak enak hati
" Aku tidak akan berdiri kalau kau tidak mau setuju membantu ku, aku akan tetap seperti ini " kata Arabella keras kepala
" Baiklah nona, saya akan membantu nona. Tapi, surat itu mungkin akan sampai dini hari atau pagi hari nanti. " kata Ian terpaksa setuju
Arabella kembali berdiri dan memberikan surat dan sebuah gelang pada Ian.
" Aku benar-benar berterimakasih, sebelumnya .. pertolongan mu ini sangat berharga untukku. Semoga kau selamat sampai tujuan, aku berhutang padamu " kata Arabella sambil tersenyum
" Iya nona, saya akan sampaikan surat dan gelang ini " kata Ian
__ADS_1
" Semoga yang mulia raja tidak mengetahui nya " batin Ian berharap
#END FLASHBACK
" Bagaimana ini ?" gumam Arabella sedih
" Ada apa ?" tanya Dominic
" Tadinya aku sudah menyalakan lilin di kue nya agar kau bisa membuat permohonan, tapi kau membuat ku menjatuhkan kue nya " jawab Arabella sebal
" memangnya itu harus?" tanya Dominic tak mengerti apapun soal ulang tahun dan pesta
" Acara tiup lilin adalah inti dari pesta ulang tahun, tentu saja penting " jawab Arabella
Dominic menyalakan api dengan tangan nya pada kue yang rusak itu.
" Wah .. kau juga bisa menyalakan api " kata Arabella kagum
" Apa ini cukup ?" tanya Dominic
" Iya, sekarang ayo buat permohonan sebelum tiup lilin nya. " kata Arabella semangat
" Apa aku harus buat permohonan juga ?" tanya Dominic heran
" Tentu saja, katanya permohonan yang diucapkan pada hari kelahiran kita akan terkabul " jawab Arabella
" dia memang benar-benar tidak tahu apapun tentang hari ulang tahun" batin Arabella merasa kasihan
" Baiklah " kata Dominic
" Tutup mata mu dan katakan permohonan mu di dalam hati. Berharap dengan sepenuh hati " kata Arabella sambil tersenyum
Raja itu menutup matanya perlahan.
" Tuhan, aku ingin Arabella selalu disisi ku selamanya " batin Dominic berharap
Raja kembali membuka matanya dan ia menatap Arabella yang ada di hadapan nya itu.
" Entah kenapa malam ini raja tiran terlihat berbeda? apa dia benar-benar senang dengan kejutan ulang tahun yang aku rencanakan ini?maka nya dia bersikap lebih lembut dari biasanya? meskipun dia terlihat aneh, tapi melihat sosok nya yang lembut seperti ini, dia terlihat baik " batin Arabella senang
" Tidurlah, kau pasti lelah ini juga sudah mau dini hari " kata Dominic cemas
" Iya, kau juga segera tidur ya.. sekali selamat ulang tahun " kata Arabella ceria
" Iya "
" Oh ya, apa besok kau ada acara?" tanya Arabella
" Ada, aku akan pergi ke wilayah selatan Vanders. Memang kenapa?" kata Dominic dingin
" Tidak apa-apa, aku hanya bertanya. " jawab Arabella
" Maafkan aku yang mulia raja, aku bohong padamu " batin Arabella merasa bersalah
Dominic tidak menyadari atau curiga kalau ada sesuatu dibalik sikap Arabella yang tiba-tiba baik padanya karena ia terlalu senang malam itu dan telah menyadari perasaan nya pada Arabella tidak sederhana, namun Cane lebih peka dan menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Arabella dibalik sikap nya pada Raja Dominic.
Gadis itu pergi ke kamar yang sudah disiapkan untuk nya, ia tak bisa tidur malam itu dan berharap pagi segera datang.
" Ayo, cepatlah pagi.." gumam Arabella penuh keresahan
Arabella pun tertidur di dekat jendela saking lelahnya. Dominic melihat nya dan membelai rambutnya dengan lembut.
" Domba kecilku, kau bisa terkena flu kalau tidur disini .." kata Dominic lembut
Dominic menggendong Arabella yang sudah tertidur pulas dan menurunkan gadis itu di ranjang. Ia menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut.
" Dia tertidur sangat pulas " gumam Dominic sambil menatap gadis itu dengan perasaan senang dan senyuman hangat.
" Aku tidak akan berharap apapun lagi, asalkan kau ada disisiku selamanya. Kalau kau berani melarikan diri, atau mengharapkan seseorang selain diri ku, kau dan orang itu harus menanggung konsekuensi nya dengan kematian karena kau hanya bisa jadi Milikku, Arabella .. Aku bersumpah .." kata Dominic dengan mata yang tajam, dan senyuman menyeramkan nya melihat Arabella yang tertidur pulas.
Dominic pergi dari kamar gadis itu, ternyata Arabella tidak tertidur pulas ia mendengar semua yang dikatakan Dominic dan terlihat syok.
" Dia tidak akan melepaskan ku walaupun Putra mahkota memberikan permintaan nya, tindakan ku sudah benar untuk pergi dari sini. Aku tidak tau sebelumnya kalau psikopat itu, memiliki sisi menyeramkan lainnya. Kenapa dia melakukan ini? kenapa dia ingin aku berada disisinya? " batin Arabella merasa terancam,takut dengan kata-kata Dominic padanya
***
Di bagian utara Vanders..
" Permisi ! tuan tunggu !" seru Ian memanggil
" Apa kau memanggil kami?" tanya Ashton
" Apa kalian rombongan dari kerajaan Clarines?" tanya Ian terburu-buru
" Benar, ada apa tuan ?" tanya Ethan heran melihat Ian yang terlihat buru-buru
" Syukurlah saya bisa bertemu kalian, ada titipan dari nona untuk kalian. " jawab Ian sambil menyerahkan sebuah surat dan gelang pada Ethan.
Ethan,Peter, Felix, dan Ashton melihatnya dan mengenali gelang itu mereka terlihat terkejut.
" Kakak, ini adalah gelang hadiah ulang tahun Abel yang aku berikan " kata Peter
" Iya benar tuan muda, gelang ini milik nona Abel " kata Felix membenarkan
" Nona yang mengirim surat ini, apa dia baik-baik saja?" tanya Aiden cemas
" Dia baik-baik saja, syukurlah saya bisa menyampaikan surat ini pada kalian orang yang tepat. Nona, bilang kalau dia menunggu kalian " kata Ian merasa lega
" Terimakasih, kau sudah menyampaikan surat ini. " kata Eugene senang
" Kalau begitu saya harus segera pergi, karena jika yang mulia raja tau, akan berbahaya untuk saya " kata Ian
" Baiklah, sekali lagi terimakasih " kata Aiden
Ethan dan Peter membuka surat itu dan membaca isinya.
Siapapun yang membuka surat ini, kalian harus mendengarkan ku ..
Untuk saat ini aku baik-baik saja,
Kalian jangan cemas..
sekarang aku berada di kastil Vanders, disini tidak ada sihir pelindung yang kuat seperti di menara Gionda. Jika kalian ingin menyelamatkan ku, kalian bisa datang ke istana Vanders saat raja iblis itu tidak ada di tempat, aku dengar dia akan pergi ke wilayah selatan Vanders. Beritahu pada pangeran Aiden dan Putra mahkota akan jangan menyerahkan permintaan nya, dia tetap tidak akan melepaskan ku meski permintaan nya terpenuhi.
Kalian harus cepat, aku menunggu kalian!
Arabella
" Bagaimana ? apa isi suratnya ?" tanya Aiden penasaran
" Yang mulia, kita tidak usah pergi ke menara Gionda lagi. Karena Abel ada di kastil Vanders " jawab Ethan
" Apa benar Raja Dominic ingin mengurung Abel selama nya?" batin Ethan
" Baiklah, kita harus segera bergegas !" seru Eugene
***
Arabella terbangun pagi-pagi sekali, ia mondar-mandir di dalam kamarnya dengan gelisah.
" Pasti kakak dan yang lainnya sudah menerima surat ku. Mereka akan menyelamatkan ku, membawaku dari sini, aku harus tenang.. tentang .." batin Arabella resah
BRUK
" Suara apa itu?" tanya Arabella kaget
Arabella keluar dari kamarnya dan melihat Dominic sedang menyiksa pelayan yang ia suruh membawa surat nya pada Kakak nya. Disana juga ada Cane yang terlihat merasa bersalah pada Arabella.
" Yang mulia, apa yang kau lakukan? hentikan ! hentikan !" seru Arabella sambil membantu Ian berdiri
" No..na..." Ian berbicara dengan nada yang lemah tak berdaya
" Kenapa dia seperti ini lagi? kemarin dia sangat baik ? dan aku juga sudah dengar dari beberapa pelayan kalau selama aku berada disini, dia tidak pernah membunuh orang lagi " batin Arabella kaget
Gadis itu syok melihat Ian penuh luka dan berbaring tak berdaya, pelayan itu bahkan tak mampu berdiri, terlebih lagi wajah Ian penuh darah.
" Nona Arabella maafkan saya, saya tidak ingin anda pergi. Jika anda pergi, yang mulia tidak akan bisa menjadi manusia seutuhnya, hanya anda yang bisa membuatnya menjadi manusia " batin Cane merasa bersalah
" Kau sudah berjanji padaku tidak akan menyakiti orang lain tanpa alasan ! kenapa kau lakukan ini ?" tanya Arabella tak percaya
" haha.. aku ada alasannya kenapa aku melakukan ini. Kau tau bukan Arabella? kalau aku tidak akan memberi ampun pada pengkhianat, seperti nya kau tidak menganggap serius perkataan ku. Kalau begitu akan ku tunjukkan secara langsung padamu !" Dominic tertawa sinis seperti orang yang kehilangan akal sehat
__ADS_1
Raja tiran itu mengayunkan pedangnya menuju ke leher Ian. Arabella menghentikan nya tepat waktu, kali ini gadis itu benar-benar ketakutan melihat sosok Dominic kembali menjadi menyeramkan.
Alhasil pedang itu terhenti di leher Arabella yang berdiri di depan Ian untuk menghalangi pedang Dominic yang hampir menebas leher si pelayan itu. Mata Dominic yang di penuhi kemarahan sekarang, berbeda dengan tatapan yang dilihat gadis itu semalam. Ya, benar Arabella sudah bisa menebak bahwa rencananya untuk melarikan diri sudah ketahuan oleh Dominic.
" Kau sudah berjanji. Kenapa.. kenapa kau seperti ini lagi.. " Arabella menahan tangisnya
" minggir kau ! dia sudah mengkhianati ku, orang yang mengkhianati ku harus MATI !" teriak Dominic menggila
" Aku .. aku yang mengkhianati mu, aku yang berbohong padamu. Apa kau juga akan membunuhku?" tanya Arabella dengan mata berkaca-kaca
" Kau benar-benar gadis yang jahat, setelah semua yang kau lakukan kau masih ingin pergi dari sini! kau bahkan membuat janji palsu akan selalu disisiku, kau mempermainkan perasaanku, menghancurkan kepercayaan ku, jangan harap kau bisa pergi dari sini " batin Dominic yang penuh dengan kemarahan dan kekecewaan
" Dia pasti sangat marah padaku, itu sudah jelas. Dia pasti akan membunuh ku, kehidupan kedua ku, apakah hanya sampai sini saja?" batin Arabella ketakutan
" Cane, bawa si pelayan ini ke penjara dan siksa dia sampai MATI " kata Dominic dingin
" Tidak ! jangan ! kumohon lepaskan pelayan ini , dia hanya menjalankan perintah ku ! aku yang mengkhianati mu .." kata Arabella memohon
" Kau harusnya merasa bersyukur karena meskipun kau berkhianat padaku, aku tidak membunuhmu. Jangan meminta hal yang lebih lagi " kata Dominic sinis
" Kumohon jangan seperti ini, yang mulia Raja ! bebaskan dia !" seru Arabella
" Cane, bawa dia ke penjara. Dan biarkan dia disana, jangan lakukan apa-apa padanya " kata Dominic tegas
" Pengaruh nona Arabella sangat besar untuk yang mulia raja, dia bahkan bisa membuat yang mulia raja mengampuni seorang pengkhianat." batin Cane takjub
" Baik yang mulia " kata Cane patuh
Cane membawa si pelayan itu ke dalam penjara dan mengurung nya disana.
" Dan kau, kau ikut aku !" seru Dominic sambil menyeret paksa gadis itu
" Lepas.. lepaskan aku.. kau sudah gila ! sa..kit.. sakit .. !! "
Raja tiran itu tak mempedulikan Arabella yang merasa kesakitan karena ia menarik tangan gadis itu terlalu kuat. Ia terus menyeret Arabella menuju ke arah gudang.
" jika kau tetap keras kepala seperti ini, jangan salahkan aku bersikap kejam. Aku hanya ingin kau ada disisiku, meskipun kau memikirkan pria lain. Kau hanya boleh berada disisiku, Arabella !" seru Dominic penuh dengan rasa posesif terhadap gadis itu
Arabella terpana mendengar nya, harapan Arabella untuk merubah Dominic menjadi orang baik, musnah semuanya. Kini ia tau bahwa pria dihadapannya ini hatinya sudah ditutupi oleh rasa posesif yang luar biasa dan egois yang tinggi tak terbantahkan lagi.
" Kenapa kau seperti ini lagi? yang mulia raja, tolong biarkan saya pergi.. " kata Arabella memohon
" Tidak ada gunanya kau memohon sekarang !" seru Dominic dengan tatapan mata membunuh
Dominic mendorong gadis itu ke ranjang dan mengikat erat kedua tangan nya dengan sebuah tali.
" Kau sudah gila ya ! lepaskan aku ! " Arabella berusaha memberontak, namun raja itu terlalu kuat untuknya.
" Dia benar-benar keterlaluan kali ini, dia sangat menyeramkan.. dari pertama kita bertemu, aku belum pernah melihat dia semarah ini.. Bagaimana ini.." batin Arabella resah
Tanpa bicara apapun, Dominic memberikan sihir nya pada tali itu agar tidak bisa lepas dengan mudah.
" Beristirahat lah disini, kau tidak akan bisa kabur.. kalau kau kabur, aku akan membakar mu hidup-hidup !" Dominic mengancam
Tak lama kemudian Cane datang menemui Dominic dan memberitahu nya bahwa istana mereka di serang oleh prajurit dan para kstaria dari Clarines.
" Jadi ini rencana mu domba kecil ku? lihat saja, aku akan menghancurkan semua rencanamu itu " kata Dominic sambil membelai rambut Arabella.
Arabella melihatnya dengan tatapan tidak suka dan memalingkan wajahnya dari pria itu.
" Aku akan membunuh semua orang yang mencoba membawa mu pergi dari sini, aku berjanji " kata Dominic sambil tersenyum sinis melihat Arabella yang terpana.
Tatapan menakutkan dari pria itu, dan rasa posesif nya yang tinggi, membuat Arabella yakin bahwa Dominic benar-benar psikopat. Namun, gadis itu tidak menyadari penyebab Dominic bersikap seperti itu padanya, gadis itu terlalu tidak peka terhadap perasaan Dominic hingga ia tak menyadari bahwa posesif nya Dominic padanya adalah ungkapan dari rasa suka nya. Arabella menganggap bahwa sikap Dominic sekarang ini karena terobsesi padanya.
***
Di dalam kastil Vanders, beberapa prajurit dan kstaria dari kerajaan Clarines menyerang pengawal dan prajurit di Vanders. Dan terjadilah pertarungan sengit prajurit Vanders dan Clarines. Ethan, Peter, Ashton dan Felix sibuk bertarung dengan para prajurit Vanders penjaga kastil.
" Selagi mereka sibuk, kita harus mencari Arabella " kata Aiden
" Benar, kita berpencar !" seru Eugene
Eugene dan Aiden berpencar dan mencari-cari Arabella di dalam kastil.
Aiden melihat Cane sedang menjaga pintu kamar.
Cane mengangkat pedangnya ke arah Aiden
" Anda mau kemana yang mulia pangeran?"
" Aku yakin Naomi, ada disini .." batin Aiden
" Biarkan aku lewat, lalu aku akan membiarkanmu hidup " kata Aiden tajam
" anda mengancam saya? " tanya Cane sinis
" Hentikan basa basi nya !"
Aiden dan Cane akhirnya beradu pedang, dan saling menyerang.
Sementara itu, Dominic sangat marah melihat prajurit Clarines menyerang prajurit nya. Ia pun menyerang semua prajurit Clarines dengan sihirnya, hanya dengan satu tangannya ia membuat prajurit Clarines terluka dan terlempar ke lantai.
" Peter, kau tidak apa apa?" tanya Ashton
" Aku baik-baik saja " jawab Peter sambil memegang dadanya
" Mustahil kita bisa melawan nya, tapi kita harus mengulur waktu agar pangeran dan putra mahkota bisa menyelamatkan Abel " kata Ethan mengingatkan
" Baik, kita harus bertahan " kata Felix
Dengan mata merah yang menyala, Dominic menyerang pasukan Clarines dengan membabi buta. Ia seperti kehilangan kendali atas dirinya, hingga membuat beberapa pasukan Clarines kehilangan nyawanya. Ethan sebagai pemimpin pasukan terlihat cemas dan resah, karena jumlah mereka berkurang dan Dominic semakin kuat terlebih lagi dengan amarah nya yang meledak.
Terlihat aula kastil Vanders yang kokoh pun, luluh lantak hancur berantakan karena kemarahan Dominic yang meluap-luap.
" Apa yang mulia putra mahkota dan pangeran belum menemukan Abel?" tanya Ashton cemas
" Seperti nya belum, atau ada sesuatu yang menghambat mereka " kata Peter
" Tuan muda, saya akan pergi dan membantu pangeran menemukan nona. " kata Felix
" Baik, cepatlah ! aku tidak tau berapa lama lagi kita bisa menahan raja iblis ini " kata Ethan
***
Di dalam kamar Arabella, ia mendengar keributan dari luar. Samar-samar ia mendengar suara Aiden.
" ada ribut-ribut apa diluar? itu .. seperti suara pangeran Aiden.. apa aku sedang berhalusinasi karena terlalu lelah?" tanya Arabella sedih
BRAK
Pintu kamar Arabella hancur ditendang oleh seseorang. Terlebih lagi Cane, sudah tergeletak pingsan di depan pintu.
Gadis itu begitu kaget ketika melihat pria yang membuka pintunya itu. Ia tak percaya bahwa pria itu akan dihadapannya.
" Akhirnya .. aku menemukan mu " kata Aiden lega
" Yang mulia pangeran.. " Arabella terpana dengan mata berkaca-kaca
Aiden tersenyum dan berjalan menghampiri gadis itu, dengan pedangnya yang dilumuri darah dan wajahnya yang terlihat lelah. Arabella menatap pria itu dalam-dalam.
" Apa ini mimpi?" gumam Arabella tak percaya
Aiden membuka ikatan yang mengikat tangan gadis itu dengan sihirnya. Ia menatap Arabella dengan penuh kerinduan.
" Aku pasti bermimpi.. aku pasti sedang berhalusinasi.. ya.. benar .. Karena saat ini aku sedang lelah, jadi aku berhalusinasi.." kata Arabella tak percaya
Aiden tak bisa menahan lagi kerinduan nya pada gadis itu, ia menyempatkan dirinya untuk memeluk Arabella.
" Syukurlah .. aku bisa melihatmu lagi .." kata Aiden senang
" Aku tidak bermimpi.. syukurlah..aku tau kalau yang mulia akan datang " Arabella tak mampu menahan lagi air matanya dan membalas pelukan Aiden yang hangat
" pangeran Aiden, aku tau kau akan datang. Aku tau.. syukurlah " batin Arabella merasa lega dan senang
" Maafkan aku, aku tidak melindungi dengan baik " kata Aiden merasa bersalah
" Tidak apa, yang penting kau sudah datang yang mulia.." Arabella senang sekaligus terharu karena pria yang ia tunggu tunggu datang untuk menyelamatkan nya sesuai harapannya
Ketika Arabella berada dalam situasi romantis bersama Aiden, sepasang mata merah menyala melihat mereka dengan penuh kemarahan.
*** Tunggu kelanjutannya di bab berikutnya ya.. jangan lupa kasih like, rate dan komen nya. Terimakasih juga kepada pembaca yang sudah mendukung Author dan buat Author semangat menulis sampe bab 32 ini. Terus pantengin karya terbaru author ya, kalau suka karya ini jangan lupa klik Favorit juga **
__ADS_1
Hatur nuhun, Thanks 😉👍