
Aiden mengajak Arabella jalan-jalan berdua di Londo, tempat dimana pangeran itu di besarkan sebelum mereka kembali ke Clarines.
" Yang mulia, apa kau yakin kau baik baik saja jika kita berjalan-jalan?" tanya Arabella
" Tidak apa, kenapa kau meremehkan kekuatan suami mu ini?" tanya Aiden
" Apa? suami?" tanya Arabella kaget
" Sebentar lagi kita akan segera menikah, jadi kau harus mulai membiasakan diri memanggil ku suami " kata Aiden ceria
" Haa .. apa yang mulia lupa apa kata ayah ku? dia bilang kalau kita bisa menikah ketika kedua kakak ku sudah menemukan pasangan mereka. " Kata Arabella
" Tapi aku tidak sabar, bagaimana ini?" tanya Aiden sambil memegang pinggang Arabella
" Yang mulia tolong jangan menggoda ku lagi " kata Arabella gugup
" Setelah kami saling menyatakan perasaan dan persetujuan pernikahan, dia menjadi semakin berani dan agresif. Apa ini sisi nya yang lain? entah kenapa sikapnya yang seperti ini malah membuatnya semakin terlihat tampan?" batin Arabella terpana
" Sudah lama tidak bertemu, kau semakin cantik saja Naomi " kata Aiden memuji
" Kau jadi pandai menggombal sekarang? belajar dari siapa? Demian? Johny? " tanya Arabella tak percaya
" Aku hanya berkata jujur " jawab Aiden polos
Tiba-tiba saja Yuriel mengagetkan mereka dan membuat pelukan mereka terlepas otomatis.
" peri cantik dan paman pangeran sedang apa?" tanya Yuriel polos
" Kami.. kami tidak sedang melakukan apa apa kok " jawab Arabella gugup
" Ini untuk kakak peri cantik !" seru Yuriel sambil menyerahkan permen lolipop pada Arabella
" Yuriel kau tidak boleh pilih kasih, mana untuk paman ?" tanya Aiden sambil tersenyum manja
Arabella menjilat lolipop nya sambil menahan tawa melihat tingkah Aiden yang manja.
" Yah bagaimana ini? permennya tinggal satu, aku tidak punya lagi " kata Yuriel polos
" Kalau begitu istriku, mari kita berbagi permennya " kata Aiden sambil mengambil permen lolipop yang ada di tangan Arabella
" Yang mulia !" seru Arabella sebal
Aiden dan Yuriel tertawa melihat Arabella yang ngambek seperti anak kecil. Paman dan keponakan itu mengejek Arabella hingga gadis itu kesal sendiri karena geregetan dengan pasangan paman dan keponakan itu.
Perhatian Arabella tiba-tiba teralihkan karena ia melihat bayangan sesosok wanita yang tidak asing baginya.
" Tolong jaga anak ku, aku percaya kau bisa melakukannya " kata Canaria sambil tersenyum pada Arabella.
Arabella hanya mengangguk dan tersenyum melihat bayangan Canaria di depannya. Canaria tersenyum bahagia melihat Aiden yang sedang asyik tertawa dengan Yuriel. Arabella melihat bayangan Canaria menghilang perlahan.
******---
Di Clarines, ada perkumpulan para bangsawan yang membahas tentang Eugene dan Aiden. Sebagian besar dari bangsawan itu mendukung Eugene dan setengahnya lagi mendukung Aiden. Dan itu membuat para bangsawan terpecah menjadi dua bagian yang menimbulkan kelompok Pro dan Kontra.
" bukankah anak pertama Raja adalah pangeran Aiden? harusnya dia yang berhak menduduki tahta dan menjadi raja selanjutnya?" tanya Duke Zena
" Hey ! mana mungkin darah rakyat jelata menjadi raja di negeri kita. Meskipun pangeran Aiden banyak berjasa untuk negeri kita, tapi dia berasal dari golongan bangsawan terlebih lagi ibu nya juga bukan lah seorang Ratu atau pun bangsawan " kata Count Oscar menantang
" Aku setuju dengan Count Oscar, walaupun pangeran Aiden adalah anak pertama Raja. Tapi, dia tidak menerima pendidikan dan pangeran Aiden tidak memiliki darah kerajaan yang murni. Jelas kan, kalau putra mahkota lebih berhak untuk menduduki posisi Raja selanjutnya?" kata Marquez Elza sependapat dengan Count Oscar
" kenapa kalian berfikiran sangat pendek? hanya karena pangeran Aiden tidak berdarah murni, kalian mengabaikan potensi nya dan statusnya sebagai anak sulung Raja? kalian tidak tau atau bagaimana? dukungan terhadap pangeran Aiden semakin lama semakin meningkat, dia sudah membuktikan kemampuan nya dengan mengorbankan diri nya untuk mengalahkan Kiton dan melindungi daerah perbatasan. Kalau pendapat ku sih, darah murni atau campuran itu tidak penting, yang penting adalah kemampuan " terang Viscount Benedict tegas
Keributan terjadi diantara para bangsawan antara pendukung putra mahkota Eugene dan pangeran Aiden menjadi Raja.
Hal itu di laporkan oleh Count Oscar pada Ratu.
" Apa kata mu? sekarang sebagian dari bangsawan mendukung pangeran Aiden?" tanya Ratu marah
" Benar, rupanya pangeran Aiden sudah berhasil memenangkan hati sebagian rakyat Clarines. Belum lagi dia sudah mencapai banyak prestasi, apalagi dalam perang di Lokhan kemarin. " terang Count Oscar
" Lalu bagaimana?" tanya Ratu
" Bagaimana apa nya yang mulia? bukan kah sudah jelas kalau pangeran Aiden mengincar tahta putra mahkota? dia pasti sengaja mendekati rakyat dan memprovokasi rakyat untuk mendapatkan tahta " kata Oscar memanasi
" Dia dan ibu nya itu sama saja. Dia tidak boleh menghalangi anak ku untuk menjadi raja, tidak bisa dibiarkan !" seru Ratu kesal
" Yang mulia ratu tenang saja, saya sudah ada rencana untuk menjatuhkan nama pangeran Aiden. Dia tidak akan bisa mengincar posisi putra mahkota " kata Oscar tersenyum
" Kau memang selalu ada di pihak ku Oscar. m Terimakasih " kata Ratu tulus
" Dengan senang hati yang mulia, saya akan tetap melayani yang mulia ratu semampu saya." kata Oscar
" Kalau begitu, pergilah. Nanti orang akan curiga kalau melihat kita bicara disini " ujar Ratu
" Hamba pamit undur diri yang mulia Ratu " kata Oscar sambil membungkuk hormat
Oscar keluar dari istana Ratu, Camille melihat nya dengan curiga. " Apa lagi yang ibu rencana kan dengan Count Oscar?" gumam Camille pelan.
__ADS_1
Berita tentang keributan bangsawan mengenai tahta Raja Clarines, rupanya sampai juga ke telinga Eugene.
" kenapa para bangsawan jadi meributkan hal ini? apa mereka tidak menghargai ku sebagai putra mahkota lagi?" tanya Eugene murka
" Yang mulia, saya mohon anda untuk tetap tenang. " kata Liam membujuk
" Bagaimana aku bisa tetap tenang? ternyata kakak ku itu mengincar tahta ku? padahal dia bilang dia tidak mau, apa apaan ini?!" seru Eugene marah
" Yang mulia tenang saja , dukungan terhadap yang mulia putra mahkota masih lebih besar daripada pangeran Aiden. Yang mulia tidak usah takut, karena latar belakang pangeran Aiden tidak memungkinkan untuk dia menjadi Raja di masa depan. Saya yakin itu !" kata Liam meyakinkan
" Aku harus menenangkan dulu putra mahkota, agar emosinya tidak meluap luap lagi. Bisa bisa barang barang di ruangan ini harus diganti lagi dengan yang baru. " batin Liam pusing
" tetap saja , Liam ! dia bisa saja mengancam posisi ku karena dia adalah anak sulung yang mulia Raja. Dan ayah juga sangat menyayangi nya, bisa jadi yang mulia Raja menyerahkan tahta kepada nya " kata Eugene resah
" Itu memang benar. Tapi,anda lah yang ditunjuk sebagai putra mahkota dan calon Raja negeri ini. Anda memiliki darah murni bangsawan dan pendidikan sebagai putra mahkota, meskipun pangeran Aiden dekat dengan rakyat tapi dia tidak memiliki hal yang dimiliki oleh yang mulia putra mahkota " terang Liam
" Kau mungkin benar Liam, tapi tetap saja aku kepikiran karena sudah ada pro kontra begini. Aku harus mendapatkan dukungan rakyat dan para bangsawan yang memihak pangeran Aiden. Dia tidak boleh berada di atas angin " kata Eugene dengan mata yang tajam
" Arabella ataupun tahta, aku tidak akan membiarkan kau memiliki keduanya. Keduanya adalah milikku " batin Eugene
***
Di Londo, Aiden dan Arabella pergi jalan jalan ke sebuah taman di Londo sebelum mereka pulang.
" Yang mulia, lebih baik kita kembali saja. " kata Arabella dengan wajah yang cemas
" Aku sudah bilang kan kalau aku baik baik saja, lagipula ini tidak seberapa. Aku merasa bersalah sudah melewatkan hari ulang tahun mu, debutante mu, aku tidak bisa mengulang waktu lagi " kata Aiden sedih
" Bukankah aku sudah bilang pada yang mulia kalau aku baik baik saja, aku tidak mempermasalahkan nya, jadi jangan merasa bersalah. Ini bukanlah kesalahan yang mulia " kata Arabella menenangkan
" kau mungkin baik baik saja dan tidak mempermasalahkan nya, tapi ini masalah buat ku dan aku tidak baik baik saja. Aku ini kekasih yang tidak berguna kan? menepati janji saja tidak bisa, harusnya aku ada di saat ulang tahun mu, bahkan memberi hadiah pun aku tidak !" gerutu Aiden kesal pada dirinya sendiri
" Kenapa kau jadi menggerutu seperti perempuan? yang mulia aku bilang tidak apa, lagipula ulang tahun ku bukan lah hal penting juga. Melihatmu baik baik saja, itulah hal terpenting bagiku, melihat mu selamat dengan mata ku sendiri adalah hadiah berharga untukku " kata Arabella lega
" Tetap saja aku merasa bersalah, sebelum kita pergi mari kita habiskan waktu bersama " kata Aiden sambil menggandeng tangan Arabella
" Yang mulia.."
Melihat nya yang begitu bersemangat aku tidak bisa menolaknya. Sepertinya keadaan nya memang sudah lebih baik, hari itu kami berjalan jalan dan menghabiskan waktu bersama seharian. Ia menceritakan masa kecilnya di Londo, dan dia menunjukkan pada ku tempat saat ia suka bermain waktu kecil. Dia juga menceritakan tentang Lorenzo dan Demian yang sudah seperti saudara baginya yang selalu ada saat suka dan duka nya. Juga bibi Yurian dan Paman Lart yang sudah mengasuhnya sejak kecil terasa seperti orang tuanya sendiri.
" yang mulia, aku sudah bilang aku tidak apa apa kok." Arabella tersenyum lebar
" Padahal kita sudah berjalan cukup lama, tapi tidak bisa menemukan apa pun yang kau suka di kota ini " kata Aiden sedih
" Maaf kan aku, memang tidak ada yang mau ku beli dan tidak ada yang aku suka " kata Arabella tak enak hati
" Aku tidak terlalu suka, waktu Raja Dominic memberiku banyak perhiasan bahkan aku tidak memakainya dan waktu putra mahkota memberikan ku gaun aku malah memberikannya pada orang lain karena aku punya banyak " kata Arabella santai
Suasana hati Aiden langsung berubah saat mendengar ada kata Raja Dominic dan Eugene. Arabella langsung menyadari itu dan merasa tak enak hati.
" Astaga, aku keceplosan " batin Arabella panik
" bagus sekali, mereka bahkan memberikan perhiasan dan gaun mahal untuk calon istriku " Aiden terlihat kesal
" Ta..tapi aku tidak menerimanya, aku langsung membuangnya dan memberikan nya pada orang lain .." kata Arabella gugup
" Mati aku, dia marah " batin Arabella panik
" Naomi, sekarang kau terlihat seperti wanita yang ketahuan selingkuh oleh suami nya " kata Aiden
" Apa?? a..aku tidak mungkin.. " Arabella gugup
" Bagaimana bisa aku kalah dari mereka? aku juga seorang pangeran dan punya uang banyak, apa aku tidak bisa memberikan hadiah untuk kekasih ku sampai mereka harus memberikan hadiah untuk Naomi ku " batin Aiden kesal
Aiden diam saja dan terlihat kesal, Arabella berusaha membujuknya untuk bicara tapi Aiden tetap diam saja. Sampai mereka kembali ke rumah Yurian, Aiden diam saja dan begitu cuek pada Arabella.
" Ayo kita makan bersama dulu sebelum kalian kembali ke Clarines " kata Yurian ramah
" Ada apa dengan mereka? apa mereka bertengkar? bukankah mereka habis jalan-jalan?" batin Yurian heran melihat Aiden dan Arabella saling cuek dan tidak mesra seperti biasanya
Yurian, Raja, Lart, Duke Reese, Yuriel, Arabell dan Aiden makan malam bersama. Setelah itu mereka berpamitan pada Yurian dan Lart.
" terimakasih sudah menjaga dan merawat Aiden dengan baik selama disini " kata Raja
" Yang mulia raja tidak usah berterimakasih, saya juga adalah bibi pangeran Aiden, ini adalah kewajiban sebagai keluarga " kata Yurian
" Tetap saja, aku harus berterimakasih. Ah ya tuan Lart terima kasih juga " kata Raja
" Yang mulia raja tidak usah sungkan, pangeran Aiden sudah seperti putra saya sendiri " kata Lart tulus
Yurian memeluk Aiden dengan penuh kasih sayang.
" Kalau ada waktu bermainlah kemari yang mulia, saya akan sangat senang " kata Yulian
" Bibi, jangan begitu. Panggil saja aku Aiden seperti biasanya " kata Aiden
" Tidak bisa, kau adalah pangeran sekarang. " kata Yurian
__ADS_1
" tapi aku tetap keponakan bibi " Aiden tersenyum
" Benar, yang mulia adalah keponakan saya. Tapi, kau juga adalah pangeran Clarines. Bibi harus tetap menunjukkan kesopanan bibi. Jangan membantah lagi ya.. " kata Yurian
Yurian berbisik kepada Aiden, lalu Aiden terlihat tak tenang. Arabella penasaran dengan apa yang dibicarakan mereka.
Pada akhirnya kami kembali ke Clarines, dilakukan 1 hari penuh perjalanan. Bahkan setelah kami sampai di Clarines , pangeran Aiden yang keras kepala ini tetap tidak mau bicara pada ku. Apa dia marah hanya karena masalah sepele ini? aku benar-benar bingung harus berbuat apa untuk membuatnya bicara dan tidak marah lagi padaku. Begitu aku kembali ke rumah Daisy, Layla, Kak Ethan dan Kak Peter mengatakan bahwa aku lebih baik dari sebelumnya, ya memang suasana hatiku selalu buruk semenjak kepergian kak Ashton dan hilangnya pangeran Aiden. Namun sekarang aku memang merasa lebih baik karena pangeran Aiden sudah ditemukan dalam keadaan baik baik saja, itu yang penting.
Aiden kembali ke camp white knight dan disambut semua orang dengan gembira terutama Demian dan Lorenzo yang sudah menantikan kedatangan nya.
" Yang mulia, syukurlah kau sudah kembali. Kami sangat ketakutan saat kau pergi ! kami merindukanmu..!" Demian memeluk Aiden dengan erat sambil menangis
" iya..iya.. aku tau.. Demian .. kau mencekik ku !" seru Aiden sambil berusaha menyingkirkan pelukan Demian. Lorenzo menyeret Demian.
" Demian, kau jangan keterlaluan " kata Lorenzo kesal
" Maaf, aku terlalu terbawa suasana. " kata Demian
" Yang mulia, Demian, Lorenzo, ayo kita sarapan bersama. Hari ini Kstaria Johny yang membuat sarapan nya loh " kata Roy semangat
" Oh baiklah, ayo kita makan bersama " kata Aiden ramah
Para kstaria White Knight dan Black knight mengadakan acara makan makan besar besaran untuk menyambut kedatangan Aiden kembali ke camp dan ke istana. Di dalam acara itu, Aiden mendengar keributan para bangsawan tentang tahta antara dirinya dan putra mahkota. Aiden kaget mendengar itu, karena ia sama sekali tidak menginginkan tahta Raja.
" Pembicaraan dari mana ini? kenapa ada gosip seperti ini? dari awal aku sudah mengatakan bahwa aku tidak menginginkan tahta. Sepertinya aku harus meluruskan kesalahan ini " batin Aiden berfikir
Raja juga terkejut karena mendapat berita ini secara tiba-tiba, dan sekarang bangsawan terbagi menjadi dua kubu yang saling bertentangan dan tidak hanya memihak putra mahkota lagi.
***
Siang itu Arabella makan cemilan bersama Daisy dan Layla dengan semangat.
" Nona, bagaimana perjalanan anda di Londo? apa disana suasana nya menyenangkan?" tanya Layla penasaran
" Disana udaranya sejuk dan suasana nya itu layaknya pedesaan. Tapi disana tidak ada toko Pia bakery " kata Arabella sebal
" Haha.. kalau begitu makan yang banyak kue nya ya nona, nanti saya akan suruh Felix belikan lagi kue nya yang banyak " kata Daisy senang
" Syukurlah nona sudah baik baik saja " batin Daisy senang
" Ya, aku akan makan banyak sampai puas " kata Arabella sambil memakan kue coklat hingga wajahnya belepotan
Peter dan Duke Reese pulang ke rumah siang itu dan wajah mereka terlihat tidak baik.
" kakak ? ayah? kenapa siang begini kalian sudah pulang?" tanya Arabella heran
" Oh .. Abel, kami akan segera pergi lagi ke istana kok." kata Peter
" Tapi kenapa kalian kelihatan resah? apa terjadi sesuatu di istana?" tanya Arabella heran
Duke Reese menceritakan pada putrinya bahwa terjadi keributan di istana antara pendukung putra mahkota dan pangeran Aiden tentang tahta kerajaan, dan hal itu membuat Raja marah padahal sudah jelas bahwa Eugene yang akan menjadi raja. Namun, rakyat banyak yang berada di pihak Aiden dan merasa Aiden pantas menjadi putra mahkota, tapi tidak sedikit orang yang masih mendukung putra mahkota Eugene.
" Ini tidak terjadi di masa lalu, kenapa bisa ada hal seperti ini terjadi? apa benar yang mulia ingin menjadi raja? tidak.. dia bilang dia tidak menginginkan tahta, pasti ada seseorang di balik ini yang menjadi pendukung pangeran Aiden.. tapi siapa? " ucap Arabella dalam hatinya
" Lalu ayah dan kakak akan berada di pihak siapa?" tanya Arabella
" Apa maksudmu?" tanya Peter
" Kalian ada di pihak putra mahkota atau pangeran Aiden?" tanya Arabella serius
Duke Reese dan Peter bingung dan tidak bisa menjawabnya.
***
Aiden akan menemui Raja dan ia berpapasan dengan Eugene.
" Kau selalu bilang tidak menginginkan tahta, lalu apa ini?" tanya Eugene sinis
" Itu benar, dan saya tidak pernah menarik kata-kata saya " jawab Aiden dingin
" Haa.. pangeran ini lucu sekali, lalu dari mana datangnya dukungan untuk mu? sebenarnya apa tujuan mu mengincar posisiku?" tanya Eugene penasaran
" Terserah anda mau percaya atau tidak, saya tidak berniat mengincar posisi anda " kata Aiden
Aiden melangkah pergi lalu Eugene memanggilnya lagi.
" Bagaimana kalau kita bernegosiasi? aku bisa menyerahkan posisi putra mahkota padamu " kata Eugene santai
" yang mulia bagaimana bisa .." kata Liam kaget mendengarnya
" Diam Liam !" seru Eugene
" Lalu apa yang kau mau dari ku yang tidak punya apa apa ini?" tanya Aiden merendah
" Aku ingin Arabella " jawab Eugene
Aiden terpana mendengar jawaban Eugene
__ADS_1
......****......