
Aiden melepas kerinduan nya terhadap Arabella yang sedang berada di pelukannya. Sudah lama Aiden tidak melihat gadis itu, ia juga percaya tak percaya kalau sekarang Arabella ada di dalam pelukannya dan dalam keadaan baik-baik saja.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata merah menyala melihat kemesraan mereka dengan penuh kemarahan. Siapa lagi kalau bukan sang raja tiran?
" Beraninya dia memeluk Arabella.. beraninya dia menyentuh milikku !" batin Dominic penuh kemarahan
Arabella menyadari bahwa Dominic menatapnya dengan tajam. Ia melihat pria itu akan menyerang Aiden dengan sihirnya. Dengan cepat gadis itu menghalangi sihir Dominic dengan tubuhnya.
" Argh!!" Arabella terjatuh dan memegang dadanya yang kesakitan
" Naomi !" seru Aiden panik " Kau baik-baik saja?" tanya Aiden
" Iya, saya baik-baik saja yang mulia " jawab Arabella kembali berdiri tegak
Akhirnya mata kedua pria itu bertemu, mereka saling menatap tajam satu sama lain.
" Berani nya kau menyentuhnya ! aku akan membunuhmu " kata Dominic dingin
Tubuh Dominic melayang dan dari tubuhnya mengeluarkan sinar merah yang kuat seperti aliran listrik.
" Naomi, lari ! pergilah !" seru Aiden
" Aku tidak akan pergi, jika tidak denganmu !" kata Arabella membantah
" Jangan berharap kau bisa pergi hidup-hidup setelah menyentuh gadis ku !" seru Dominic dengan senyuman nya yang menakutkan
" Dia seperti kehilangan akal sehatnya? kemana tatapan lembutnya semalam itu, senyuman nya juga menakutkan. Ini tidak seperti dirinya .." batin Arabella takut
" Hentikan ! Yang mulia Raja, kau tidak boleh melakukan ini..Biarkan aku pergi, dan aku akan memaafkanmu " kata Arabella serius
" Aku tidak akan membiarkan kalian berdua pergi dari sini, dan pria itu harus MATI !" seru Dominic dengan raut wajahnya yang menyeramkan
Serangan demi serangan di lakukan oleh Dominic pada Aiden. Hal itu membuat Arabella cemas, karena kata-kata Gadis itu tak berhasil membuat Dominic berhenti menyerang Aiden.
Arabella pergi ke aula kerajaan Vanders untuk mencari bantuan untuk Aiden , ia melihat aula kerajaan yang sudah hancur berantakan karena sihir Dominic, ia melihat banyak orang yang terluka dan tiada disana.
" Apa dia yang melakukan ini?" gumam Arabella kaget
Eugene melihat Arabella dan menghampiri nya.
" Arabella, apa kau baik-baik saja?" tanya Eugene cemas
" Saya baik-baik saja yang mulia, tapi pangeran Aiden.. dia sedang bertarung dengan Raja Dominic, tolong dia.. kumohon bantulah dia .." kata Arabella memohon sambil menangis
" Apa kau sangat peduli pada kakakku? sampai-sampai kau memohon dan menangis agar aku membantunya. Tapi, kenapa?" batin Eugene heran
" Yang mulia putra mahkota, apa anda mendengar saya?" tanya Arabella
" Aku tidak boleh cemburu disaat-saat seperti ini, aku harus membantu Arabella dan Aiden. " batin Eugene
" Ya, aku akan membantunya. Tapi, kau tidak boleh menangis lagi " kata Eugene
" Benarkah? " tanya Arabella
" Iya, aku akan pergi dan membantunya " jawab Eugene sambil tersenyum
" Terimakasih, yang mulia" Arabella menyeka air mata nya dan tersenyum tulus melihat Eugene
Eugene terpana melihat Arabella untuk pertama kalinya tersenyum tulus padanya, ia sangat senang dan semakin bersemangat.
Tak lama kemudian, Felix melihat Arabella dan merasa lega bahwa nona nya itu baik-baik saja.
" Nona, syukurlah anda baik-baik saja. " kata Felix lega
" Iya, sudah lama kita tidak bertemu Felix.. " kata Arabella senang
" nona, ayo kita pergi ke depan dan bertemu dengan tuan muda Ethan dan tuan muda Peter " kata Felix
" tidak bisa, pangeran Aiden dan putra mahkota dalam bahaya. Aku masih harus tetap disini, Felix, kau bantulah kstaria yang terluka dan bantu kak Ashton juga kedua kakakku " kata Arabella
" Tapi nona.. bagaimana bisa saya meninggalkan anda disini ?" tanya Felix cemas
" Jangan khawatir, raja tiran itu tidak akan menyakiti ku " jawab Arabella
" Nona .."
" katakan pada semuanya kalau aku baik-baik saja !" seru Arabella
Felix melihat Arabella dengan penuh kecemasan, akhirnya ia meninggalkan gadis itu di tengah aula kerajaan dan pergi membantu kstaria yang terluka.
***
Di tengah pertarungan, Aiden dan Eugene mulai kewalahan melawan Dominic yang kuat. Tubuh Aiden dan Eugene pun memiliki banyak luka karena serangan dari Dominic.
" Kakak, kau baik-baik saja?" tanya Eugene dengan napas yang terengah-engah
" Bagaimana bisa baik-baik saja? kita akan segera tamat kalau terus-terusan di serang seperti ini " kata Aiden sambil memegang dadanya yang terasa sakit
" Lalu kita harus bagaimana?" tanya Eugene
" kalian terlalu lemah !!!"
Dominic menggunakan sihir nya dan membuat Eugene, juga Aiden tercekik dan merasa kesakitan.
" Le..lepaskan kami .!!" seru Eugene terbata-bata
" HAHAHA .. mati lah kalian para penganggu.." ujar Dominic yang semakin erat mencekik kedua pria itu
" AKH ! " Aiden dan Eugene berteriak kesakitan
Kedua pria itu berusaha berontak, namun sihir mereka tidak bisa membuat Dominic berhenti menyerang mereka.
Cane yang baru tersadar dari pingsan nya,kaget melihat Dominic sedang menyerang Aiden dan Eugene. Ia juga melihat istana yang sudah luluh lantak karena kekuatan sang Raja yang tidak terkendali.
" Yang mulia tidak pernah semarah ini.. dia akan meledak kalau terus menggunakan kekuatan nya seperti ini. Dia bahkan sudah kehilangan kendali !" batin Cane panik
" Yang mulia ! HENTIKAN ! anda bisa berada dalam bahaya kalau terus menggunakan kekuatan anda ! tenangkan diri anda !" seru Cane mencoba memanggil raja nya itu
" MATI ! kalian semua harus MATI !" Dominic tidak menghiraukan panggilan dari Cane dan semakin membuat Aiden dan Eugene kesakitan.
" Hentikan ini yang mulia Raja Dominic !" seru Arabella
" Dia memanggil namaku ?" batin Dominic tercekat
" Nona Arabella??" Cane terpana
" Arabella ??" batin Eugene kaget
" Naomi ?" batin Aiden kaget
Dominic melirik ke arah Arabella yang menatapnya dengan penuh kekecewaan, ia sedikit terganggu dengan tatapan gadis itu padanya. Namun, ia terus menyerang Aiden dan Eugene yang sudah tak berdaya.
" Dia tidak mendengarkan ku sama sekali! bagaimana ini ? apa yang harus aku lakukan? jika terus seperti ini pangeran Aiden dan Putra mahkota Eugene akan mati " batin Arabella takut
" Nona, Arabella tolong hentikan yang mulia raja. Dia menggunakan semua kekuatan nya dan akan kehilangan kendali, jika ini terus berlanjut dia bukan hanya akan membunuh Pangeran Aiden, putra mahkota Eugene, dan bahkan setengah rakyat Vanders akan musnah !" seru Cane memohon
" Bagaimana cara aku menghentikan nya? dia bahkan tidak mendengarkan ku !" tanya Arabella bingung
" Dia akan mendengarkan nona, cobalah bicara terus padanya..." jawab Cane dengan mata yang penuh kesedihan
" Baiklah ..daripada bicara, akan lebih baik aku bertindak " kata Arabella dengan penuh keyakinan
" Apa yang akan nona lakukan ?" tanya Cane
" Jika memang benar dia memiliki perasaan padaku, dia pasti akan berhenti. Tapi jika dia hanya terobsesi dengan ku, maka dia akan terus kehilangan kendali. Aku harus mencoba nya " kata Arabella dalam hatinya
__ADS_1
Arabella mengambil pedang Cane dari tangan nya.
" Nona !" teriak Cane
Gadis itu menusuk lehernya sendiri dengan pedang yang ia pegang, hingga lehernya berdarah.
" Yang mulia raja Dominic ! tolong lihat aku, aku akan terus melukai diriku jika kau tidak berhenti !" teriak Arabella berharap Dominic akan berhenti
Raja tiran itu sempat melihat ke arah Arabella, dan warna merah di mata nya perlahan-lahan memudar.
" Aku minta maaf, karena aku memang mengkhianati mu. Aku ingin pergi dari mu padahal aku sudah berjanji untuk bersamamu, semua itu kebohongan ku. Maafkan aku yang sudah membuat mu murka seperti ini dengan merusak kepercayaan mu..ini kesalahanku.. Aku mengerti perasaan mu sekarang, tapi aku tidak bisa tinggal bersamamu..." Gadis itu berlinang air mata dan menatap Dominic dalam-dalam.
Dominic mendengarkan Arabella berbicara dan perlahan-lahan ia mulai mengurangi serangan sihir nya pada Aiden dan Eugene.
" Sesungguhnya kau adalah orang yang baik, aku jujur mengatakan nya dari dalam hatiku. Selama aku disini kau juga tidak pernah menyakiti ku, kau selalu menuruti semua keinginan ku.. Meskipun kau selalu bersikap kasar dan dingin, tapi kau adalah orang yang baik dan kau mempunyai HATI. Namun, aku tidak bisa tinggal bersamamu, ini bukanlah rumah ku. Kau tidak bisa memaksa ku untuk tinggal bersama mu.. " kata Arabella sambil menangis
" Naomi.. " kata Aiden sedih
Cane terkejut melihat Dominic kembali normal dan sihir merah nya berada dalam kendali. Aiden dan Eugene juga terlepas dari sihir nya, dan mereka jatuh ke lantai bersamaan.
Dominic berjalan mendekati Arabella yang menangis, ia menatap gadis itu dengan pandangan penuh amarah dan sakit hati.
" Aku melakukan semua ini karena aku menyukaimu .." kata Dominic sambil menatap tajam ke arah gadis yang ada di depannya itu
" Aku tau yang mulia.. " kata Arabella mengerti
Gadis itu mengerti sekarang, alasan kenapa sang raja tidak mau membebaskan nya walaupun ia mendapatkan apa yang ia inginkan? ia mengerti, bahwa perasaan Dominic padanya mungkin adalah perasaan cinta. Dan rasa cinta itu adalah perasaan yang tidak bisa di kendalikan.
Bagi Arabella, di kehidupan nya yang dulu cinta itu adalah racun yang bisa membunuh seseorang, dan bisa membuat orang lain buta. Sama seperti yang dialami Dominic pada nya, Raja itu sedang buta arah dan tidak bisa mengendalikan cinta nya pada Arabella.
Tugas ku sekarang adalah menyadarkan mu, membuatmu mengerti bahwa tidak semua keinginan mu akan terwujud meskipun kau adalah seorang raja.
Begitulah kata hati dari Arabella..
" Aku tau perasaan mu, tapi cinta itu tidak bisa dipaksakan. " kata Arabella lembut
Entah apa yang dipikirkan raja tiran itu saat ini, ia hanya terdiam dan melihat Arabella. Yang jelas, matanya penuh kemarahan pada gadis itu.
Saat semua orang sedang lengah, Dominic menyerang kembali Aiden yang sudah terluka parah.
" Kakak !" teriak Eugene kaget
" Pangeran Aiden !" teriak Arabella panik
" kenapa kau lakukan ini padaku? apa aku tidak cukup baik untuk memiliki mu? berani nya kau menolakku !" teriak Dominic penuh amarah
" Kenapa kau masih tidak mengerti ?!" seru Arabella frustasi
" Kalau aku tidak bisa memiliki mu, kalau kau tidak bisa berada disisi ku, aku akan menghabisi pria yang menyentuhmu ini di depanmu " kata Dominic sinis
" Jangan !! jangan sakiti dia ! kumohon!" seru Arabella yang merasa terluka melihat Aiden di sakiti oleh Dominic.
Arabella merasakan perasaan yang menyakitkan saat melihat Aiden di sakiti oleh raja tiran itu, padahal ia belum lama mengenal Aiden tapi ia seperti sudah lama mengenal Aiden. Rasa sakit yang ia rasakan ini hampir sama dengan rasa sakit yang ia pernah alami dari kematian nya di kehidupan sebelumnya. Ia menyadari bahwa ia menyukai Aiden setulus hatinya.
Berkali-kali Dominic menyerang Aiden, berkali-kali juga Arabella memohon agar Dominic berhenti. Tapi, pria itu sama sekali tak menghiraukan perkataan dan permohonan Arabella , dan terus menyiksa Aiden. Eugene dan Cane yang melihatnya juga merasa iba.
" Katakan ! kalau kau akan terus bersama ku, lalu aku akan biarkan pria ini hidup ! "seru Dominic memaksa
" Tidak.. aku tidak bisa bersamamu ! tolong mengerti lah !" seru Arabella bimbang
" Baik, kalau itu jawabanmu. Jangan salahkan aku " kata Dominic sambil tersenyum menyeringai
Dominic mengarahkan sihir nya ke arah Aiden. Dengan berani gadis itu menghadang sihir yang menyerang Arabella. Dominic terpana dan kaget melihatnya. Eugene dan Aiden tercengang melihat Arabella yang terkena serangan itu. Dari mulut gadis itu mengeluarkan banyak darah.
Sebuah cahaya putih ada di depan gadis itu.
" Apa aku akan mati lagi?" kata gadis itu di dalam hati nya sambil merasakan kesakitan di seluruh tubuhnya.
Tiba-tiba Arabella berada di tempat yang pernah ia lihat sebelumnya, tempat yang semuanya berwarna putih dan bercahaya.
Di ruangan yang serba putih itu, ia melihat seorang gadis dengan rambut panjang dan wajah cantik berdiri di hadapan nya. Gadis itu tersenyum hangat pada Arabella.
" Nyonya, anda siapa?" tanya Arabella bingung
" Tidak heran, Aiden memberikan sesuatu hal yang berharga baginya untuk mu. Kau sangat spesial, Arabella .." kata Nyonya itu sambil tersenyum
" Anda mengenal saya nyonya?" tanya Arabella bingung
" Tidak, ini pertama kalinya aku melihat mu. Terimakasih sudah menyelamatkan Aiden dan menjaga nya " kata Nyonya itu ramah
" Siapa anda sebenarnya ?" tanya Arabella bingung
Gadis itu tak menjawab dan hanya tersenyum. Senyumannya seolah mengatakan bahwa ia punya maksud tertentu.
" Sebagai rasa terimakasih ku, aku akan memberikan mu hadiah " kata Gadis itu sambil tersenyum
" Hadiah ? "
" Sesuatu yang pasti sangat ingin kau tau " jawab Gadis itu
Arabella terpana mendengar nya, ia terlihat bingung dengan perkataan Nyonya yang ada di hadapannya itu.
Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dan membuat Arabella tersedot ke dalamnya.
" Nikmati lah hadiah mu, semoga kau suka.. " kata Gadis itu dengan wajah tenang
" Aa.. Apa yang terjadi ??! TIDAK !!" seru Arabella panik
BRUG !!
Tiba-tiba gadis itu terjatuh di daerah yang tidak asing untuk nya.
" Dimana ini ? ini seperti di Clarines, tapi kok kelihatan berbeda ?" tanya Arabella melihat-lihat di sekitarnya
Arabella melihat seorang ibu-ibu hamil sedang berjalan jalan disana. Ibu-ibu hamil itu ditemani seorang pria yang mungkin adalah suaminya.
" Nyonya, hati-hati !" seru Arabella berteriak saat ibu ibu hamil itu akan terjatuh. Namun, ibu-ibu itu tak mendengar nya seolah ia kasat mata.
" Dia tidak melihatku? dan tidak mendengar ku? apa jangan-jangan aku kembali ke masa lalu ?" gumam Arabella heran.
Akhir nya ia menyadari bahwa ia hanya lah bayangan bagi orang-orang di sekitarnya itu. Tapi Arabella lebih terkejut saat melihat ibu-ibu hamil itu adalah sosok ibu nya yang tidak pernah ia lihat sama sekali.
" Ibu.. dia ibu ku.. hiks" Arabella menangis melihat ibu nya
#FLASHBACK
Viona Atya De Reese( nama ibu Arabella ), sedang duduk sambil mengelus perutnya yang sudah membesar, ia tersenyum senang sambil menikmati pemandangan di jalan itu.
" Ibu.. ibu .. lihat ini, Ethan membeli hadiah untuk adik bayi nanti " kata Ethan (usia 5 tahun)
Ethan menunjukkan sepatu bayi berwarna pink pada ibu nya.
" Ethan sayang.. kenapa kau membeli sepatu nya dengan warna pink?" tanya Viona lembut
" Ethan ingin adik perempuan ! adik bayi perempuan !" seru Ethan semangat
Peter ( usia 4 tahun) menghampiri ibu dan kakaknya dengan wajah cemberut.
" Tidak boleh, adik bayi nya harus laki-laki! harus laki-laki !" seru Peter marah
" Tidak boleh ! ibu, adik bayi nya harus perempuan !" seru Ethan
Duke Reese melihat kedua putra nya itu berdebat karena yang satu ingin adik perempuan dan yang satu ingin adik laki-laki.
" Hem hem.. kalian berdebat lagi.. dengarkan ayah ya nak, mau adik nya laki-laki atau perempuan kalian harus menyayanginya. Ayo jangan bertengkar lagi, nanti adik bayi yang ada di perut ibu akan sedih " kata Duke Reese menasehati kedua anaknya dengan lembut
__ADS_1
Peter dan Ethan saling melirik lalu bersalaman.
" Baiklah kami tidak akan bertengkar lagi " kata Ethan
" Kita berbaikan ya kakak " kata Peter sambil tersenyum ceria
" Mau adik nya laki-laki atau perempuan, Ethan akan menyayangi dan menjaga adik ku " kata Ethan sambil tersenyum.
" Ya ya.. Peter juga akan menyayangi kak Ethan dan adik bayi " kata Peter
" Begini baru benar, kalian harus melindungi adik kalian nanti ya, kalian juga harus saling memaafkan, dan rukun selamanya " kata Viona sambil tersenyum.
Viona, Peter, Ethan dan Duke Reese berpelukan dan terlihat rukun.
Arabella yang melihat itu, sangat bahagia dengan kebahagiaan keluarganya dan menangis terharu. Ia bahagia bisa melihat ibu yang bahkan tidak pernah ia lihat seumur hidupnya. Karena ibu nya sudah meninggal bertepatan dengan hari dimana ia dilahirkan.
" Ibu.. ibu sangat cantik.. " kata Arabella memuji ibunya
Suatu hari, Duke Reese mendapatkan tugas dari raja untuk pergi ke Londo selama 1 minggu.
" Bagaimana ini, kau mungkin akan segera melahirkan ? dan aku harus pergi ke Londo " kata Duke Reese bingung
" Tidak apa, Herald kau pergi saja. Disini juga kan ada Daisy dan pengawal lain. Kalau aku melahirkan lebih cepat tidak apa, tidak ada dirimu juga" kata Viona menenangkan
" Mana bisa begitu. Kalau kau ikut dengan ku bagaimana ?" tanya Duke Reese
" Lalu bagaimana dengan Ethan dan Peter? apa mereka akan ikut juga ?" tanya Viona bingung
" Mereka tidak usah ikut, kebetulan ada bibi ku yang akan menjaganya " jawab Duke Reese
" Baiklah, kita pergi ke Londo " kata Viona setuju
Viona dan Duke Reese melakukan perjalanan ke Londo ditengah keadaan Viona yang sedang hamil besar. Mereka menginap di sebuah penginapan kecil milik Yurian dan Albert ( bibi dan paman Aiden ).
" Maaf kan saya nyonya, tempat saya memang agak terpencil dari masyarakat dan dunia luar. Semoga nyonya bisa nyaman selama berada disini " kata Yurian dengan ramah
" Aku rasa saya akan merasa nyaman disini, karena Aku suka tempat yang sepi, disini juga udara nya sejuk. Seperti nya bayi ku juga menyukai nya " kata Viona senang
" Benarkah ? kalau begitu syukurlah " kata Yurian senang
Seorang anak kecil berumur 3 tahun menghampiri Yurian dan memeluknya.
" Nona Yurian, apa ini putramu? dia tampan sekali " kata Viona terpesona dengan ketampanan anak itu.
Anak kecil bermata kuning keemasan itu melihat Viona dan tersenyum hangat.
" Dia adalah keponakan ku, nyonya. Saya belum punya anak hehe .." kata Yurian ramah. " Aiden, ayo beri salam pada nyonya Viona " kata Yurian pada Aiden kecil
" Salam nyonya " kata Aiden ramah
" Anak kecil yang lucu sekali .. kau pasti seumuran dengan putra kedua ku " kata Viona sambil mengelus kepala Aiden dengan lembut.
Arabella terkejut mendengar nama anak kecil itu disebutkan oleh Yurian.
" Aiden? apa dia adalah pangeran Aiden sewaktu kecil ? pantas saja, dia terlihat tidak asing.. dia terlihat lucu, dan imut waktu ia kecil tidak seperti pangeran Aiden ukuran dewasa ! aku tidak menyangka kalau kau tinggal di tempat terpencil seperti ini. Padahal kau adalah seorang pangeran.. jangan-jangan ratu yang sudah membuatmu menderita? " Arabella terpana dan keheranan
" Ternyata, kita sudah saling bertemu sebelum meskipun kita belum saling mengenal satu sama lain. Apa ini takdir?" batin Arabella
Arabella melihat Aiden kecil yang terlihat hangat dengan senyuman dan sikapnya yang ramah. Ia merasa Aiden kecil adalah anak yang sangat lucu berbeda dari Aiden dewasa yang cuek dan sifatnya agak dingin.
****
Setelah 3 hari berlalu, Viona selalu menghabiskan waktu nya bersama Yurian, dan Aiden kecil dan mereka semakin dekat.
" Bibi, kapan bayi di perut bibi akan keluar?" tanya Aiden polos
" Tidak tau juga, pokoknya secepatnya. Aiden kenapa ? apa Aiden ingin segera melihat dede bayi nya?" tanya Viona
" Iya, pasti bayinya sangat lucu. Apa bayinya cantik ?" tanya Aiden
" Bibi tidak tau bayi ini cantik atau tampan. Tapi bibi merasa kalau bayi ini akan menjadi bayi yang cantik " jawab Viona yakin
" Benarkah? kalau bayinya cantik bolehkah jika sudah besar nanti aku menikah dengan nya ?" tanya Aiden polos
" Aiden, jangan bicara sembarangan pada Nyonya Viona " kata Yurian memperingatkan
" Apa ? hehe.. kau ini masih kecil sudah memikirkan pernikahan ya haha " Viona tertawa senang
Aiden melihat Viona dengan wajah sedih dan cemberut.
" Maafkan bibi, kau marah ya?" tanya Viona
" Jadi bibi tidak memperbolehkan aku menikah dengan si cantik?" tanya Aiden polos
" Aku bahkan tidak tahu, bayi ini perempuan atau laki-laki dan anak ini ingin menikahi bayi yang belum lahir ini. Benar-benar anak yang lucu " batin Viona senang
" Hehe.. bukan begitu, baiklah bibi janji akan menikahkan si cantik dengan mu jika kau sudah dewasa kelak " kata Viona serius
" Nyonya Viona, tolong kata-kata anak ini jangan dimasukkan ke dalam hati " kata Yurian sambil tersenyum
" Nona Yurian saya serius. Tapi, Aiden kau harus menjadi pria yang kuat dan bisa melindungi putri bibi. " kata Viona
" Baiklah, jika sudah besar nanti Aiden akan menjaga si cantik, dan menjadi kuat. Aiden akan menikahi si cantik. " kata Aiden sambil tersenyum polos
" Kenapa kau sangat ingin menikahi si cantik ?" tanya Viona
" Karena bibi Viona sangat cantik, pasti bayi nya juga akan lebih cantik .." jawab Aiden sambil tersenyum
" Haha.. " Yurian dan Viona tertawa melihat tingkah dan bicara Aiden yang lucu.
Bukan hanya mereka saja yang tertawa melihat Aiden kecil, tapi juga Arabella yang saat itu berada disana merasa gemas dengan tingkah Aiden.
Arabella melihat di dalam masa lalu itu, Aiden dan ibu nya terlihat cukup dekat satu sama lain. Itu adalah salah satu hal yang Arabella tidak tahu.
Tiba-tiba gadis itu menghilang dan berpindah tempat ke taman istana.
" ini kan taman istana? kenapa aku tiba-tiba kesini? " tanya Arabella bingung
Gadis itu melihat dirinya sendiri waktu kecil dan sedang menolong seorang anak kecil pria berambut panjang dengan mata yang tidak asing. Anak kecil itu sedang diganggu beberapa anak bangsawan di istana.
" Aku.. aku tidak ingat aku memiliki ingatan ini.. " kata Arabella kaget
Arabella terus menonton ingatan masa kecil yang tidak ia ingat itu, sampai akhirnya dimana Aiden kecil menyerahkan kalung kristal pada Arabella sebagai hadiah pertemanan mereka.
" Jadi, ingatan yang ku lupakan itu adalah tentang mu pangeran Aiden?" gumam Arabella tak percaya
Aiden kecil memegang tangan Arabella dengan lembut.
" Terimakasih kau sudah menjadi temanku, aku janji aku akan menemui mu lagi. " kata Aiden ramah
" Ya, aku akan menunggu kakak. Kalau kakak tidak menemui ku, aku yang akan menemui kakak. " Arabella tersenyum polos
Aiden mencium pipi Arabella, gadis itu terkejut dan memegang pipi nya. Wajah Aiden memerah dan ia terlihat malu-malu.
" Aku akan kembali, kau harus tunggu aku !" seru Aiden
" I.. iya .. " kata Arabella gugup dan malu sambil memegang kalung pemberian Aiden dengan erat
Seiring waktu, Arabella mulai melupakan Aiden yang tadinya bilang akan menemuinya tapi tidak pernah muncul lagi.
Arabella pun mulai tertarik pada sosok Eugene yang tampan dan mengikutinya kemana-mana.
" Aku tidak tau kalau kau sangat mengenalku, kenapa kau tidak bilang kalau kita pernah bertemu sebelumnya dan pernah dekat?" tanya Arabella sedih
***
__ADS_1