
...ARRABELLA TWICE LIVES...
...BAB 26...
...NEGOSIASI DENGAN IBLIS...
Tak jauh dari camp, Aiden dan Eugene sedang latihan pedang bersama. Para prajurit yang melihat mereka berlatih bersama, berfikir bahwa mereka akrab satu sama lain dengan kata lain bahwa mereka memiliki hubungan yang baik walaupun hanya sebatas saudara tiri. Namun, mereka tidak tahu jika dilihat dari dekat ada percikan api permusuhan dan jarak yang besar diantara mereka seperti jurang pemisah.
" Kakak, aku tidak tahu kalau kemampuan mu bermain pedang cukup bagus " kata Eugene memuji
" Sudah ku bilang jangan panggil aku kakak " kata Aiden dingin
" Lalu aku harus memanggilmu apa? tidak mungkin, Aiden kan?" tanya Eugene
" Yang jelas aku tidak punya adik sepertimu " jawab Aiden ketus
" Baiklah kalau kau memang keras kepala. Tidak apa, hanya dihadapan orang lain saja kita harus berpura-pura menjadi saudara yang baik " kata Eugene kesal
" Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Aiden sinis
" Ini demi reputasi kerajaan, dan juga dirimu " jawab Eugene
" haa.. " Aiden menghela napas
" Aku heran, kenapa dia selalu bersikap sinis padaku? apa aku pernah menyinggungnya?" batin Eugene heran
Saat orang-orang memperhatikan mereka, Aiden dan Eugene berakting pura-pura menjadi saudara yang akur.
" Kemampuan mu bermain pedang, sangat bagus adik " kata Aiden setuju berakting
Eugene tersenyum menyeringai mendengar nya.
" Terimakasih atas pujian nya, kakak " kata Eugene sambil tersenyum ramah
Tak lama kemudian, Liam menghampiri Eugene dengan terburu-buru.
" Yang mulia, sudah saat nya kita pergi ke istana Vanders " kata Liam
" Baiklah, aku akan bersiap. Negosiasi dengan raja iblis itu harus segera kita lakukan secepatnya " kata Eugene dengan sorot mata yang tajam
" pangeran Aiden, sebaiknya anda juga bersiap " kata Liam ramah
" Tentu saja " jawab Aiden
***
Aiden berjalan menuju ke tenda nya, ia berpapasan dengan Arabella dan Felix. Ia melihat tubuh dan baju gadis itu basah kuyup.
Mata mereka saling bertemu, dan Arabella tak sempat untuk menghindar.
" Salam yang mulia pangeran " kata Arabella dan Felix
Arabella dan Felix melangkah pergi, tapi Aiden memanggil nya." Tunggu !"
Gadis itu membalikkan badannya dan melihat Aiden dengan dingin.
Ashton, Lorenzo dan Demian yang kebetulan lewat melihat mereka dari kejauhan.
" Kenapa tatapan nya seperti itu padaku?" batin Aiden terpana
" Abel, tetap lah tenang. Kau memang harus bersikap seperti ini " batin Arabella
" Ada apa yang mulia?" tanya Arabella datar
" Apa yang terjadi denganmu? kenapa kau bisa basah kuyup?" tanya Aiden cemas
" Apa maksudmu bersikap seperti ini? seolah memberiku harapan saja, hentikan ini " batin Arabella kesal
" Saya terpeleset dan jatuh ke sungai " jawab Arabella dingin
" Apa kau baik-baik saja?" tanya Aiden
" Yang mulia sebaiknya anda hentikan ini " kata Arabella sinis
" Apa? apa maksudmu ?" tanya Aiden tak mengerti
" Setelah mempermainkan perasaan orang lain, anda bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi. Saya tidak tahan melihat sikap anda " kata Arabella kesal
" Bagaimana bisa kau bersikap lurus seperti tidak ada yang terjadi? setelah kau berhasil mengacaukan perasaan ku, lalu kau pura-pura cemas padaku? " batin Arabella sakit hati
" Apa yang terjadi dengan mereka? kenapa pembicaraan mereka sedalam ini? kenapa nona Abel semarah ini pada pangeran? " batin Felix heran
Aiden terpana mendengar kata-kata Arabella, ia semakin tidak mengerti maksud kata-kata gadis itu.
" Tuan Felix, bisa kau pergi dulu. Aku ingin bicara dengan nona Arabella " kata Aiden tegas
" Tidak, tidak ada yang perlu saya bicarakan lagi dengan anda. Maaf yang mulia, saya sudah kedinginan dan saya segera harus ganti baju. " kata Arabella dingin
" Kenapa jadi seperti ini?" batin Aiden sedih
" Baiklah, kita bisa bicara nanti. Kau harus segera ganti baju, kalau tidak nanti kau terkena flu " kata Aiden cemas
" Terimakasih yang mulia, saya undur diri " kata Arabella membungkuk hormat
Aiden melihat gadis itu dan terlihat sedih, bercampur bingung.
" Kenapa situasinya jadi seperti ini? bukankah awalnya kita sangat dekat, apa benar kata Lorenzo dan Demian? kalau tanpa sengaja aku sudah melukai perasaan nya " gumam Aiden sedih
***
Sore itu..
Aiden, Liam, Eugene dan beberapa prajurit pergi ke istana Vanders untuk bertemu Dominic. Mereka disuruh menunggu di aula kerajaan.
" Semoga negosiasi nya berjalan lancar, tanpa ada nya perang " kata Eugene berharap
" Dia bukan orang yang mudah diajak bernegosiasi " kata Aiden
" Kenapa kakak yakin sekali?" tanya Eugene heran
" Kau lihat saja nanti " jawab Aiden santai
" Aku tahu karena di masa lalu, dia adalah raja yang keras kepala. Dan jika dia menginginkan sesuatu, dia pasti harus mendapatkan nya meskipun harus membunuh. Dia juga tidak akan setuju dengan negosiasi yang akan ditawarkan" batin Aiden
" istana nya terlihat menyeramkan seperti istana kegelapan " batin Liam takut
Tak lama kemudian, Raja Dominic datang ke aula kerajaan bersama Cane disampingnya.
...( Ilustrasi Dominic Al De Vanders )...
" Selamat datang di istana ku, putra mahkota Eugene dan Pangeran Aiden " kata Dominic sambil tersenyum menyeringai
" Astaga! bahkan senyumannya menyeramkan " batin Liam semakin takut
" Tidak heran kalau dia disebut raja iblis " batin Demian terpana
Setelah memberikan hormat satu sama lain, mereka semua duduk. Dan raja Dominic juga duduk disinggasana nya.
" Katakan, apa tujuan putra mahkota dan pangeran dari Clarines yang terhormat sampai datang jauh-jauh kemari?" tanya Dominic
" Kami kesini tidak ada maksud lain, selain ber negosiasi dengan Raja Dominic Al de Vanders " kata Eugene tegas
" Bernegosiasi dengan ku? baiklah, katakan saja. Siapa tau aku tertarik?" tanya Dominic penasaran
" Kami ingin anda mengentikan penyerangan ke wilayah perbatasan kerajaan kami " kata Eugene tegas
Dominic kembali menyeringai, ia terlihat tidak senang dengan kata-kata Eugene. Ketegangan pun mulai terasa saat Dominic mengubah wajahnya yang ramah menjadi dingin dalam sekejap.
Ya, Dominic memang paling membenci negosiasi atau ada seseorang yang meminta sesuatu darinya yang ia suka hanyalah menjajah, menghancurkan dan membunuh, untuk mendapatkan apa yang ia inginkan ia akan melakukan apa saja.
" Kenapa aku harus menuruti perintah anda putra mahkota dari Clarines ?" tanya Dominic tajam
" Karena ini menyangkut keselamatan nyawa rakyat di negeri kami, maka dari itu anda harus mendengarkan usulan dari saya" jawab Eugene tegas
" Bukankah anda sudah punya banyak negeri jajahan yang lebih besar dan makmur dari Clarines? sebenarnya apa yang anda inginkan? kerajaan kita sudah berteman dan melakukan perjanjian damai selama puluhan tahun, apa anda akan mengabaikannya?" tanya Aiden sinis
" Perjanjian perdamaian ya? Haha.. yang melakukan perjanjian perdamaian itu adalah leluhur ku, aku sama sekali tidak peduli " Dominic tertawa
" Sudah kuduga dia tidak bisa diajak bicara " batin Aiden
" Raja ini benar-benar mirip dengan rumor nya " batin Ethan
" Raja mana yang bisa mengabaikan perjanjian perdamaian? " tanya Eugene kesal
" Bisa, itu aku orangnya " jawab Dominic
" Baiklah, kau mau tanah perbatasan Clarines kan? bagaimana kalau kita bagi dua, dan kedua negeri kita tidak usah berperang?" tanya Aiden menawarkan
" Semoga ini berhasil untuk membujuknya, daripada banyak rakyat yang terluka dan meninggal. Menyerahkan sedikit tanah, mungkin bukan masalah besar " batin Aiden penuh harapan
__ADS_1
" Kakak, bagaimana bisa kau menawarkan hal ini. Itu adalah sebuah lahan subur kita di Clarines ?" kata Eugene berbisik
" Banyak rakyat yang akan kehilangan nyawa dan tempat tinggal mereka, kalau kita melakukan perang. " kata Aiden tegas
" Tapi, seharusnya kau berunding dulu denganku " kata Eugene kesal
" Kita bicara lagi nanti, kita harus membujuk dia dulu " kata Aiden berbisik
" Sudah selesai belum berbisik-bisik nya?" tanya Dominic kesal
***
Di camp perbatasan..
Arabella, Megan dan Camille sedang makan kue bersama.
" Tuan putri terimakasih sudah membawa kue ini, kebetulan sekali aku sedang ingin memakannya " kata Arabella senang
" Aku tahu kakak suka kue dari Pia Bakery, makanya aku sengaja belikan untukmu. Tapi, nona Megan apa kau juga suka?" tanya Camille
" Ini enak sekali, aku suka sekali kue nya. Aku tidak tahu kalau kue di Pia bakery itu sangat enak, pantas saja nona Abel menyukainya " kata Megan sambil makan kue nya dengan bersemangat
" Hehe seperti nya nona Megan benar-benar menyukai nya " Camille tersenyum senang
Terdengar keributan dari luar tenda, Arabella melihat sedikit ke luar tenda. Ia nampak terkejut karena prajurit disana diserang beberapa orang tak di kenal.
" Kenapa alurnya jadi berubah? seharusnya pasukan rahasia milik Raja Dominic itu menyerang istana..Bukan camp ini? itu artinya putri Camile .. dalam bahaya " batin Arabella panik
" kak Abel, kenapa wajahmu terlihat panik?" tanya Camille cemas
" Ada apa Abel?" tanya Megan
" Cepat kalian pergi dari sini, Megan.. lindungi tuan Puteri !" seru Arabella panik
Arabella mengambil pedangnya, dan pergi keluar tenda. Sementara Megan dan Camille melarikan diri, putri bangsawan yang lain juga sudah melarikan diri termasuk Claire.
Ashton, Peter, Felix, Lorenzo terlihat sedang mati-mati an bertarung melawan orang-orang itu.
" Abel kau jangan ikut-ikutan bertarung !" seru Peter melarang
" Kakak, percaya padaku. Aku bisa !" seru Arabella penuh keyakinan
" Baiklah, aku akan melindungi mu " kata Peter
" Ini benar-benar berbeda dengan apa yang terjadi di masa lalu. Raja iblis itu tidak mengikuti alurnya, ia benar-benar memiliki banyak rencana. Apa negosiasi nya tidak berjalan baik ? Semoga pangeran, kak Ethan baik-baik saja disana " batin Arabella cemas
***
Camille dan keempat gadis bangsawan lainnya di temani beberapa prajurit sedang berlari ke tempat yang aman.
" Tuan putri, kita harus cepat !" seru salah satu prajurit
" Tapi, bagaimana dengan nona Arabella yang lainnya?" tanya Camille
" yang mulia tidak usah khawatir, nona Arabella bisa menjaga dirinya sendiri. Karena dia sudah belajar pedang. Kita akan menyelamatkan nya dengan melarikan diri dan tidak membuat beban baginya " kata Megan memberitahu
" Nona Megan, kau benar " kata Camille
" Semoga kak Arabella baik-baik saja. Kalian semua para kstaria juga harus selamat " batin Camille berharap
" Ayo yang mulia putri, kita harus mencari tempat yang aman " kata Claire panik
" Sebenarnya aku ingin bermain pahlawan dan penjahat, tapi sekarang waktunya tidak tepat. Karena paman pernah berkata padaku, jika tertangkap pasukan kerajaan Vanders, nasib ku tidak akan berakhir baik. Aku berdoa semoga nasib mu buruk Arabella " batin Claire mengutuk Arabella
" Abel, semoga kau baik-baik saja. Semoga para kstaria juga baik-baik saja" batin Megan berharap
Camille, dan ketiga putri bangsawan itu sudah berada di tempat aman dan jauh dari penyerangan pasukan kerajaan Vanders. Mereka akan dipulangkan kembali ke negeri Clarines supaya lebih aman.
Arabella dan yang lainnya masih bertarung melawan pasukan kerajaan Vanders. Namun, seseorang mencekik Arabella dari belakang secara tiba-tiba.
" lepaskan aku ! kakak ! Tolong!" seru Arabella berteriak
" berisik !" seru Pria itu sambil memukul kepala gadis itu. Hingga gadis itu pingsan, dan pria itu menggendong Arabella di pundaknya.
" Lepaskan dia ! Lepaskan adikku !" seru Peter sambil menyerang orang itu dengan pedang
" Nona !" seru Felix panik
" Peter ! hati-hati !' seru Ashton
KLANG
Pedang Peter terjatuh..
Saat semuanya sedang lengah, pria misterius itu membawa Arabella yang pingsan dengan berlari cepat menuju ke arah hutan. Ashton, Felix dan Peter mengejarnya ke dalam hutan.
" Kemana putri yang lain?" tanya Pria 1
" Mereka sudah melarikan diri, hanya gadis ini yang tersisa " jawab Pria 2
" Bagaimana kita tau dia adalah orang yang penting untuk Clarines ? " tanya Pria 3
" Mungkin dia memang bukan tuan putri, tapi kelihatan nya nona ini bukan orang biasa.." jawab pria 2
" Ya sudah, kita bawa dia pada yang mulia raja " kata Pria 1
" Benar, siapa tahu wanita ini memang berguna " kata Pria 3
Peter, Ashton dan Felix kehilangan jejak orang-orang yang membawa Arabella. Darah Peter terus mengucur dari tangannya dan wajahnya semakin pucat.
" Bagaimana ini? kita kehilangan jejak mereka !" seru Felix panik
" Sial ! sialan !" Ashton kesal sendiri
" Tuan muda Peter, anda terluka parah. Kita harus kembali ke camp untuk segera mengobati luka mu " kata Felix cemas
" Tidak, kita harus mencari Abel. Apa yang akan aku katakan pada ayah dan Kak Ethan nanti.. " kata Peter sedih
Ketiga pria itu terlihat Frustasi karena Arabella dibawa pergi di hadapan mereka.
***
Setelah negosiasi gagal di lakukan, Eugene, Aiden, Ethan, Demian, Liam dan beberapa prajurit mereka kembali ke camp. Dan mereka terkejut saat melihat orang-orang di Camp yang terluka dan camp peristirahatan itu terlihat sangat berantakan.
" Ada apa ini??!!" seru Eugene kaget
" Yang mulia pangeran, yang mulia Putra mahkota. Terjadi penyerangan disini saat kalian tidak ada " kata Lorenzo
" Apa? bagaimana keadaan para gadis ? Putri Camille apa dia baik-baik saja?" tanya Aiden cemas
" Di masa lalu mereka menjadi kan Camille sebagai tawanan. Tapi, ini benar-benar berbeda dari cerita di masa lalu. " batin Aiden heran
" Tuan putri dan para nona bangsawan lainnya sudah melarikan diri ke tempat yang aman dengan beberapa prajurit" jawab Lorenzo
" Apa yang akan dilakukan pangeran dan putra mahkota kalau aku mengatakan tentang Nona Arabella yang di culik mereka?" batin Lorenzo ragu
" Benarkah para gadis selamat? kalau begitu itu bagus " kata Eugene lega
" Tuan Lorenzo, apa adikku juga baik-baik saja?" tanya Ethan
" Sebenarnya.. ini yang akan saya katakan. Semua gadis sudah pergi, tapi nona Arabella dia... " kata Lorenzo ragu-ragu
" Apa maksudmu? kau jangan berbelit-belit !" seru Aiden dengan tatapan membara
" Nona Arabella.. dia dibawa oleh mereka " jawab Lorenzo
" APA????!!!" Eugene, Ethan dan Aiden kaget
Bagaikan petir menyambar di siang bolong, mereka terkejut bercampur cemas saat mendengar bahwa Arabella dibawa pergi oleh para penyerang itu dan kehilangan jejak.
" Aku tidak akan mengampuni raja iblis itu jika benar dia yang melakukannya !" Kata Eugene dengan penuh kemarahan
" Dia benar-benar licik, tidak disangka dia membuat kita lengah. Dia sudah merencanakan semuanya dengan sangat baik, sial sial !! " kata Aiden frustasi
" Arabella kau harus baik-baik saja, jika tidak aku akan menghancurkan dunia ini !" batin Aiden penuh kemarahan
Ethan melihat kondisi Peter yang terluka parah karena tebasan pedang di tangannya.
" kakak, maafkan aku tidak bisa menjaga Abel." kata Peter lemas
" Jangan menyalahkan dirimu lagi, serangan ini terjadi tiba-tiba. " kata Ethan sedih
" Kakak.. bagaimana ini, bagaimana jika terjadi sesuatu pada adik kita " kata Peter sambil menangis
" Tenanglah, Abel akan baik-baik saja. Kau harus beristirahat, menyelamatkan nya sekarang itu adalah tugas ku. Kau sudah berusaha " kata Ethan menenangkan Peter
" Jika bukan karena ku yang lemah.. Abel tidak akan dibawa oleh mereka " kata Peter menyalahkan dirinya sendiri
" Sudahlah, cukup ! sekarang kau istirahat saja, kau harus sembuh. Ini perintah!" seru Ethan tegas
Dalam hatinya Ethan juga merasa sangat cemas pada keadaan Arabella yang di culik sama hal nya seperti Ashton, Peter dan Felix.
__ADS_1
***
Eugene dan Aiden mengumumkan pada semua prajurit nya bahwa mereka akan berperang melawan Vanders. Kedua bersaudara itu sangat marah karena Arabella dibawa oleh orang-orang itu dengan mudahnya, padahal ada banyak orang di camp. Eugene dan Aiden juga tidak segan-segan menghukum prajurit yang ada disana saat kejadian itu terjadi tanpa terkecuali.
" Yang mulia, apa anda yakin akan berperang dengan Vanders? " tanya Liam
" Iya, aku sudah muak dengan Raja iblis itu " jawab Eugene penuh kemarahan
" tapi bisa saja bukan Raja Vanders yang membawa nona Arabella kan?" tanya Liam
" Apa maksudmu ? sudah jelas-jelas itu dia ! " seru Eugene
" Yang mulia tenangkan diri anda, tolong pikirkan kembali mengenai perang dengan matang-matang dan dengan kepala yang dingin " kata Liam menasehati
" Aku tidak bisa tahan lagi, dia yang sudah memulai perangnya duluan " kata Eugene keras kepala
" Baiklah jika itu keinginan yang mulia, maka kira harus membicarakan nya dengan yang mulia Raja terlebih dahulu. Juga memastikan
***
Arabella terbangun di sebuah ruangan yang gelap seperti penjara, ia tersadar bahwa ia dalam kondisi terikat.
" Ini dimana? aku dimana ?" tanya Arabella sambil melihat-lihat ruangan yang mirip seperti penjara itu
" Seingat ku aku pingsan di pukul salah satu anggota pasukan itu, jadi mereka berhasil membawaku? " batin Arabella sedih
" kau sudah bangun nona ?" tanya Cane sambil tersenyum
" Kau siapa? aku ada dimana?" tanya Arabella bingung
" Ayo makan dulu nona " kata Cane ramah sambil memberikan seporsi makanan pada Arabella
" Kau bodoh ya? di saat saat seperti ini mana mungkin aku mau makan?" tanya Arabella kesal
" tidak disangka putri kerajaan begitu pemarah " kata Cane
" apa? aku bukan putri kerajaan ! rupanya kalian salah paham. " kata Arabella kaget
" Jadi mereka menculikku karena mengira aku putri?" batin Arabella
" Jadi kau bukan putri?" tanya Cane
" Benar, aku hanya orang biasa. Aku bukan putri " jawab Arabella polos
" sial, jika dugaanku benar. Aku sekarang sedang ditawan oleh si iblis itu, dan mungkin ini adalah kastilnya " batin Arabella
" Benarkah? kalau begitu, berharaplah kalau kau akan berguna untuk yang mulia raja " kata Cane sambil tersenyum sinis
" Gadis ini tidak terlihat takut sama sekali, dia cukup berani " batin Cane berfikir
" Apa? lebih baik kau lepaskan aku sekarang, aku benar-benar tidak akan berguna untuk Raja mu itu. Aku bukan orang penting bagi Clarines " kata Arabella
" Wah.. nona cerdik juga karena tau tujuan kami membawa mu kesini. Pasti nona bukan orang biasa kan?" tanya Cane sambil tersenyum
" Aku.. aku memang orang biasa, jadi lebih baik kau melepaskan aku " kata Arabella gugup
" kau ini lucu sekali ya nona, mana mungkin aku bisa melepaskan mu. Aku bukanlah orang yang menawan mu " kata Cane
" Apa ini? apa dia bukan raja iblis ?" batin Arabella bingung
" Kau bisa dibebaskan atau tidak, berguna atau tidak, hanya yang mulia Raja yang bisa menentukannya " kata Cane dengan sorot mata tajam
Suara langkah kaki terdengar, seperti berjalan mendekat ke arah Cane dan Arabella. Alangkah terkejutnya Arabella saat ia melihat sosok raja itu. Begitupun dengan Raja, ia terkejut saat melihat Arabella.
" Kau?" tanya Dominic terkejut
" Dia gadis yang tadi ada disungai itu " batin Dominic
" Jadi anda lah Raja iblis itu?" tanya Arabella tanpa rasa takut
" Cane, biar aku yang urus ini. Kau pergilah kirim pesan pada putra mahkota dan pangeran dari Clarines itu bahwa seorang gadis ada disini " kata Dominic tegas
" Baik yang mulia " kata Cane
Cane pergi meninggalkan Arabella dan Dominic di dalam penjara.
" Jadi psikopat gila ini adalah raja? wajahnya saja tampan, tapi kelakuannya menyeramkan " batin Arabella
" Percuma saja anda membawa saya kesini untuk mengancam mereka, saya hanya gadis biasa yang tidak akan berguna bagi anda " kata Arabella sambil tersenyum
" Lucu sekali, gadis ini berusaha membodohi ku? kau pikir kau adalah tandingan ku? bodoh " batin Dominic meremehkan
" Jadi, kau bukan tuan putri dari kerajaan Clarines?" tanya Dominic sambil tersenyum menyeringai
" Benar. Jadi jangan sia-siakan waktu anda untuk menahan saya disini. " jawab Arabella penuh keyakinan
" Kita akan tau kau berharga atau tidak, setelah mengetahui reaksi dari Putra mahkota dan pangeran dari Clarines itu " kata Dominic sambil memegang dagu Arabella dengan keras.
Dominic menunjukkan raut wajah yang menakutkan di hadapan gadis itu dan berharap gadis itu takut padanya. Namun, Arabella tetap berusaha tenang menghadapi Dominic yang berusaha menakutinya.
" Kau ingin menakuti ku dengan wajahmu itu? jangan mimpi, aku pernah melihat hal yang lebih menakutkan dari pada dirimu. " batin Arabella sambil tersenyum meremehkan pada Dominic
" Beraninya kau menunjukkan senyuman seperti itu? kau tidak takut mati ya?" tanya Dominic kesal
" Mana mungkin saya tidak takut mati, semua orang pasti takut mati " jawab Arabella dengan nada santai
Gerak-gerik Arabella yang terlihat santai dan tenang membuat Dominic semakin kesal, karena sama sekali Arabella tak terlihat takut padanya. Biasanya orang-orang yang ia temui akan langsung ketakutan hanya dengan melihat wajahnya yang dingin, dan jika orang itu adalah perempuan dia pasti akan lari ketakutan, menangis, sampai terkencing kencing.
Dominic kesal sendiri pada Arabella yang santai santai saja saat melihatnya, padahal semua orang takut padanya. Ia ingin membuat gadis itu menangis dan ketakutan sama seperti gadis lainnya yang pernah ia temui.
" Yang mulia Raja, saya lapar. Saya belum makan " kata Arabella memelas
" Makanan ada di depanmu, beraninya kau mengatakan itu padaku??!" teriak Dominic kesal
" Memang nya saya bilang apa? saya cuma ingin bilang tolong lepaskan ikatan saya, saya tidak bisa makan dengan tangan terikat begini " kata Arabella polos
Dominic menatap Arabella dengan tatapan mata tajam, ia menyuruh pengawal itu membukakan ikatan di tangan Arabella. Lalu gadis itu makan dengan lahap tanpa mempedulikan Dominic yang melihatnya dengan tajam.
" Memang sih wajahnya menyeramkan, tapi dia masih mengizinkan ku makan dengan tangan. Dia tidak terlalu buruk " batin Arabella
" Gadis tidak tahu malu, bagaimana bisa dia makan dengan lahap begitu? dia tidak takut mati ya?" batin Dominic keheranan
" Hey ! apa kau seorang bangsawan?" tanya Dominic
" Bukan, aku bukan bangsawan " jawab Arabella cuek
" Jangan bohong, karena kalau kau bohong aku akan tau. " kata Dominic tajam
" Ya baiklah " kata Arabella sambil melahap makanan nya dengan santai
" Bagaimana bisa dia bersikap seolah-olah ini rumahnya dan bicara santai seperti ini padaku?" batin Dominic kesal
" Bagaimana ? apa dagingnya sangat enak?" tanya Dominic
" Iya, ini daging sapi ya?" tanya Arabella polos
" Iya itu hasil buruanku sendiri loh, itu adalah daging yang aku potong-potong sendiri. " jawab Dominic sambil tersenyum menyeramkan
" Benarkah? ini benar-benar daging sapi?" tanya Arabella penasaran
" Daging itu berasal dari seorang pengkhianat di kerajaan ku, bagaimana enak kan?" tanya Dominic sambil tersenyum menyeringai
" Apa? jadi ini daging ..." Arabella kaget dan langsung memuntahkan nya. Ia mual mual dan merasa kesal setelah Dominic mengatakan itu adalah daging manusia.
" uo.. uo..."
" Nah, ini baru reaksi yang benar. Aku ingin melihatnya terus " kata Dominic sambil memegang rambut Arabella dengan senyuman tipis di wajahnya
Arabella menatap pria itu dengan kemarahan dan kebencian.
" Kau benar-benar psikopat gila ! kau raja yang tidak waras !" seru Arabella marah
" Ya, aku memang tidak waras. Jadi, takutlah padaku " kata Dominic
" Kau memang gila! kau sudah gila ! kau seorang psikopat !" teriak Arabella marah-marah
" tidak disangka dia adalah seorang psikopat yang mampu melakukan apapun, dia juga tidak waras.. Tenanglah Arabella.. kau harus tenang.. jangan takut.. kau harus cari cara untuk kabur.. " batin Arabella menenangkan dirinya
Dalam hatinya Arabella ingin sekali menangis karena ia merasa jijik sudah makan daging manusia, tapi ia tak mau menunjukkan kelemahan nya di depan Dominic karena ia tau hal itu akan membuat Raja iblis itu senang.
Sesaat ia memikirkan Aiden dan kedua kakaknya.
" Kakak, apa kalian baik-baik saja? apa kalian mencemaskan ku? aku baik-baik saja .. Pangeran Aiden.. apa kau juga mencemaskan diriku?" hatinya bertanya-tanya penuh harapan
***
Aiden sedang duduk di rerumputan dengan wajah penuh kecemasan.
" Arabella .. apa kau baik-baik saja disana? tenanglah, kau harus bertahan. Karena aku akan menyelamatkan mu, jadi tunggulah aku " batin Aiden sedih
Cane menyampaikan surat diam-diam ke Camp peristirahatan White Knight. Aiden yang menerima surat itu dan membaca isinya, ia tercengang melihat isi surat itu.
__ADS_1
" Kurang ajar ! beraninya dia ! " Teriak Aiden dengan nada yang penuh kemarahan di matanya