
***
" Felix, tolong sampaikan surat ini pada Baginda Raja dengan burung pengantar surat ya. Cepat ya !" ujar Arrabella sambil menyerahkan secarik surat pada Felix
" Ya yang mulia " jawab Felix patuh
Dengan cepat Felix memanggil burung merpati dengan siulan nya, burung itu terbang ke arahnya. Lalu pria itu mengikat kan tali dan surat di kaki burung merpati nya.
" Sampaikan surat ini kepada Raja Aiden, cepat ya " ucap Felix bicara pada burung itu.
WUSH
Burung itu terbang dengan cepat. Tak terasa waktu pun berlalu, burung itu sudah terbang jauh selama satu hari menuju ke Lokhan. Cuaca disana sangat buruk, sehingga membuat burung itu ambruk karena kelelahan dan kehujanan. Demian yang sedang duduk, kejatuhan oleh burung merpati itu.
" Eh, ini kan burung merpati pengirim surat dari istana. Ada surat juga? ini pasti dari Ratu Arrabella " gumam Demian sambil membawa burung merpati yang terluka itu dan suratnya.
Demian segera menghampiri Aiden yang sedang berada di tenda pengungsian, Raja Clariness itu baru selesai mengganti bajunya yang basah.
" Maafkan saya yang mulia, ada yang ingin saya sampaikan " ucap Demian sambil ngos ngosan karena berlari.
" Ada apa sir Demian?" tanya Aiden
" Ada surat dari istana, maksud saya dari Baginda Ratu " jawab Demian
Aiden mengambil surat yang ada di kaki burung itu, melihat burung merpati yang terluka itu. Aiden menyuruh Demian mengobatinya sementara ia akan membaca surat dari istrinya yang sudah lama ia rindukan itu.
SREK
Raja Clariness itu membuka suratnya dengan hati yang berdebar.
Suamiku tercinta,
Bagaimana kabarmu disana? apa kau baik-baik saja? apa kau makan teratur? apa kau masih saja terbiasa tidur menggunakan kaus kaki mu yang bau?
Baru membaca awal surat nya, Aiden tersenyum senang. " Iya, aku masih tidur menggunakan kaus kaki bau ku " gumam Aiden
Aku harap kau beristirahat dengan teratur, makan teratur. Aku harap kau akan baik-baik saja disana. Aku dan Aimi kita baik-baik saja, kau jangan cemas. Oh ya, apa kau tau? kalau Aimi kecil kita sudah mulai menendang nendang perutku, dia juga sering berbicara denganku..Dia seolah mengerti perkataan ibunya, perutku sudah membesar. Usia kandungan ku sudah 5 bulan lebih. Begitu juga dengan kepergian mu, kau sudah 4 bulan lamanya pergi meninggalkan istana Clariness. Bohong, jika aku bilang aku tidak merindukan mu. Setiap hari aku dan Aimi kecil selalu mendoakan keselamatan dan kesehatan mu, kami merindukan mu.
Aiden menangis saat membaca isi tengah tengah dari surat itu. " Aku juga merindukan mu, aku juga ingin melihatmu dan Aimi kecil kita, Naomi.. "
Oh ya, sekitar seminggu lagi Putri Camille dan Kak Peter akan menikah. Sebenarnya mereka ingin kau datang sebagai wali putri Camille, tapi jika kau belum bisa kembali. Ayahku yang akan menjadi wali putri Camille. Aku mengerti kau dan para kstaria belum bisa kembali kemari, karena jalannya yang rusak dan tidak bisa dilewati. Aku baik-baik saja.. tapi aku harap kau tetap kembali. Aku rasa Aimi juga merindukan ayahnya.
Salam cinta dari istrimu..
Naomi
Raja Clariness itu terlihat sedih dan merasa bersalah pada istri dan anaknya karena belum bisa kembali ke Clariness. Karena disisi lain ia memiliki tugas penting sebagai Raja untuk memperhatikan rakyatnya. Ia sangat ingin pulang, tapi keadaan tidak mendukung nya untuk pulang.
" Ah ... bagaimana ini, aku ingin pulang. Aku rindu Naomi dan Aimi.. rasanya aku mau mati Aish.. sial ! aku ingin pulang !!" Aiden bergumam sambil meratapi nasibnya yang belum bisa pulang ke Clariness
Pembangunan jalan akan selesai dalam 5 hari, apakah aku bisa pulang sebelum pernikahan Camille dan Duke Peter? ya, harus bisa. Aku bisa memerintahkan para kstaria untuk mempercepat proses nya. Mereka juga pasti ingin cepat pulang ke Clariness dan bertemu keluarga mereka.
Raja Clariness itu bergegas keluar dari tendanya, ia segera menyuruh para kstaria yang sedang menganggur untuk membantu pembangunan jalan penghubung antara kota Lokhan dan Clariness, agar segera selesai dengan cepat. Semua patuh pada perintah nya, dan bersemangat. Karena mereka juga ingin cepat pulang dan tidak tahan terus-terusan berada di tempat bencana.
🌷🌷🌷
Hari itu Arrabella dan Camille sedang sibuk menulis nama-nama tamu undangan yang akan diundang pada acara hari pernikahan Camille dan Arrabella.
" Keponakan ku, aku tidak sabar menunggu kalian nih. Katanya kalian kembar ya? pasti sangat imut " Camille mengelus perut kakak ipar nya dengan lembut dan berusaha mendengar kan suara perutnya. " Kakak ipar, aku merasakan sebuah gerakan !"
" Aku juga merasakan nya, mereka sering melakukan itu kok " jawab Arrabella sambil tersenyum dan melihat lihat undangan yang ada di meja
" Apa mereka sedang menendang? apa jangan jangan mereka sedang rebutan tempat di dalam sini??" tanya Camille polos
" Seperti nya begitu haha " Arrabella tertawa melihat tingkah polos Camille
" Kalau ayahanda ada disini, dia pasti akan sangat bahagia melihat kakak ipar sedang mengandung cucunya. Dulu ayah selalu bilang kalau dia ingin melihat cucunya. " kata Camille sambil tersenyum
" Ayahanda melihatnya dari atas sana, kau jangan khawatir putri Camille. " kata Arrabella
" Kakak ipar benar.. " Camille membenarkan
" Kalau begitu, sekarang tinggal kau tuliskan nama teman teman yang mau kau undang. "
" Aku sudah selesai ! oh ya, kakak ipar.. apa kakak akan datang pada hari pernikahan ku?" tanya Camille ragu
" Aku belum dapat surat balasan darinya, namun aku punya keyakinan kalau dia akan datang. " kata Arrabella yakin
" Sebenarnya tidak apa kalau kakak tidak bisa datang, aku mengerti keadaan nya. Aku hanya berharap kakak baik-baik saja disana. " kata Camille
Arrabella terdiam seolah membenarkan apa yang dikatakan Camille. Wanita itu ingin suaminya dalam keadaan baik-baik saja, tapi ia juga sangat merindukan suaminya dan berharap suaminya cepat kembali.
Rasa khawatirnya, resah gelisah menyelimuti hatinya. Walaupun hati mereka sudah menyatu, tapi raga mereka terpisah jauh, di kota bencana itu Aiden dan para kstaria kerajaan terjebak disana, setiap hari, setiap detik ia memikirkan bagaimana keadaan Aiden disana, makan teratur atau tidak, tidur atau tidak, terluka atau tidak, apa suaminya itu merindukan nya juga sama seperti dirinya?
Rindu itu semakin membuncah, terkadang wanita itu menangis di tengah malam sambil memikirkan suaminya. Meskipun mendapat surat balasan dari suaminya bahwa keadaan nya baik-baik saja, ia tetap saja merasa cemas karena belum bertatap muka dengan suaminya secara langsung. Hatinya belum tenang.
🍂🍂🍂
1 minggu kemudian..
__ADS_1
Tibalah hari dimana pernikahan Camille dan Peter dilaksanakan. Namun, belum ada kabar dari Aiden akan hadir ke pernikahan adiknya atau tidak.
Banyak tamu undangan yang sudah datang ke acara pernikahan dengan tema outdoor itu.
" Seharusnya jalanan sudah selesai diperbaiki. Jika dia tidak benar-benar datang hari ini, awas saja " gerutu Arrabella kesal
" Ratu Arrabella, apa kabar?" tanya Megan ramah. Megan menggandeng tangan putra nya yang sudah bisa berjalan.
" Aku baik. Ah.. putra mahkota Edgar sudah bisa berjalan ya? lucu sekali " Arrabella terlihat gemas melihat Edgar yang sedang berjalan dengan kaki kecilnya.
" Kandungan mu sudah besar ya, tapi bukankah 5 bulan terlalu besar? dulu waktu usia kandungan ku 5 bulan tidak sebesar ini" gumam Megan heran
" Dokter bilang kalau bayi ku kembar, jadi ukuran nya lebih besar daripada kehamilan pada umumnya. Dan lebih berat" jawab Arrabella
" kembar? benarkah?? ah.. pasti sangat lucu " Megan terlihat senang. " Beruntung nya dirimu, keajaiban datang padamu. "
" Iya, aku tidak menyangka kalau aku akan mengandung anak kembar. Padahal aku dan Baginda sama-sama tidak memiliki keturunan anak kembar " Arrabella terlihat senang
Di tengah-tengah saat Arrabella dan Megan asyik mengobrol, Felix menghampiri Arrabella dan memberitahukan pada nya bahwa upacara pernikahan akan dimulai.
" Ratu Megan, silahkan nikmati pestanya. Aku harus memeriksa pengantin wanita nya dulu " kata Arrabella sopan
" Baiklah, berhati-hati lah Ratu Arrabella. "
Ratu Clariness itu pergi ke tempat rias pengantin wanita. Ia kagum melihat Camille mengenakan gaun putih yang cantik, dan juga tudung berwarna putih. Rambutnya di Gelung, tidak seperti biasanya yang selalu di gerai. Wanita yang akan menjadi pengantin itu terlihat gugup, disampingnya juga ada Aida dan Anna yang menjadi Bridesmaids nya.
" Salam Baginda Ratu " Aida dan Anna memberi hormat pada Arrabella. Wanita itu menjawab nya dengan senyuman.
" Kakak, bagaimana penampilan ku?" tanya Camille dengan nada suara yang sedikit bergetar
Suara nya sampai bergetar begitu, dia pasti sangat gugup. Sama seperti ku saat dulu menikah dengan Aiden.
" Kau sempurna, hari ini kau adalah pengantin tercantik. Jangan cemss, walaupun Raja tidak ada memberikan kabar. Tapi, ada aku dan kak Peter. " kata Arrabella sambil menggenggam tangan Camille
" Uh.. aku benar-benar gugup, apa benar hari ini aku akan menikah? aku tidak menyangka " pipi Putri Camille memerah
" Kegugupan mu adalah hal yang wajar, tidak apa kok. Dulu aku juga begitu, hati berdebar-debar, jantung yang berdegup kencang, perasaan bahagia dan cemas campur aduk menjadi satu. Itu adalah perasaan seorang calon pengantin. Ingatlah ini, tanamkan dalam hatimu bahwa hari ini kau akan menjadi istri dari seseorang, kau akan terikat dengannya seumur hidup. Suka duka akan kalian lewati bersama-sama. Aku yakin kau dan kak Peter akan hidup bahagia, aku percaya kak Peter akan membahagiakan mu putri Camille " Arrabella menasehati adik iparnya itu atau mungkin bisa juga disebut sebagai kakak ipar?
Camille terlihat akan menangis, para Bridesmaids nya mengingatkan nya agar jangan menangis. Karena riasannya akan luntur. Arrabella juga mengingatkan hal yang sama.
Tak lama kemudian, Duke Reese datang dan bersiap untuk mendampingi Camille sebagai walinya di upacara pernikahan.
" Menantu ku sangat cantik " Duke Reese memuji
" tuan Duke?" Camille beranjak dari kursi nya dan memberi salam kepada ayah mertuanya itu.
" Apa??"
" Ratu Arrabella benar, kau adalah menantuku. Kau bisa memanggilku ayah atau ayah mertua juga boleh " kata Duke Reese senang
Camille memeluk Duke Reese dengan perasaan haru. Duke Reese juga memeluk Camille, ia sudah menganggap Camille sebagai putrinya sendiri. Sama halnya dengan Arrabella.
" sudah, jangan dulu menangis ya. Riasan mu akan luntur nanti. Sebaiknya sekarang kita cepat keluar, para tamu sudah menunggu upacara pernikahan nya " kata Arrabella sambil berkaca-kaca
" Baiklah, ayo nak kita pergi !" seru Duke Reese sambil menggandeng tangan Camille. Putri itu tersenyum bahagia.
" Yang mulia Ratu !!" seru Felix yang tiba-tiba datang
" Ada apa Felix?" tanya Arrabella
" Baginda Raja dan para kstaria sudah kembali. Sekarang beliau ada di depan gerbang istana. " jawab Felix dengan ceria
Yang mulia Ratu pasti akan sangat senang mendengar nya. batin Felix.
Camille, Duke Reese terutama Arrabella terkejut mendengar nya. Pria yang hampir 5 bulan tidak kelihatan batang hidungnya itu akhirnya kembali ke Clariness.
" Kakak kembali?" tanya Camille
" Aiden.. " gumam Arrabella pelan.
" Karena Raja sudah datang, dia akan mendampingi Camille. Ayah baik-baik saja kan?" tanya Arrabella
" Tidak apa. Ayah juga merasa senang, akhirnya Baginda Raja sudah kembali. " jawab Duke Reese
" Aku akan menemuinya dulu, Camille tunggu disini sebentar " ucap Arrabella sambil melangkah pergi.
Dalam hatinya ia sangat senang bahwa suaminya sudah pulang, di sepanjang langkahnya ia bersemangat ingin segera melihat wajah suaminya.
Begitu sampai di depan gerbang istana..
" Ratuku.. Aimi kecil .. " Aiden tersenyum dan menghampiri Arrabella yang sedang berdiri mematung di depannya. Raja Clariness itu merasa senang, melihat Arrabella dan perutnya yang semakin membesar. Tapi, rasa bersalah juga ada di hatinya.
Bagus, dia baik-baik saja. Syukurlah. batin Arrabella lega
Saat Aiden akan memeluk istrinya, wanita itu menghentikan nya dan menolak pelukan nya. Aiden sudah berfikir yang bukan-bukan dengan penolakan itu, istrinya pasti marah karena ia pergi begitu lama meninggalkan nya dan anak mereka.
" Baguslah yang mulia sudah memakai baju yang rapi, cepat pergi temui Putri Camille. Upacara pernikahan nya akan segera di mulai. " kata Arrabella
" Apa kau tidak mau memeluk suami mu dulu?" tanya Aiden sedih
__ADS_1
" Pergilah dulu, putri Camille sudah menunggu mu " jawab Arrabella tegas
Terlihat kekecewaan dan kesedihan di wajah Aiden. " Apa dia marah padaku? tentu saja marah kan? aku sudah meninggalkan nya begitu lama, bagaimana dia tidak marah? aku harus minta maaf dengan benar padanya dan Aimi kecil."
Upacara pernikahan berlangsung lancar, Aiden yang menjadi pendamping yang mengiring adik tirinya itu ke pelaminan. Camille dan Peter mengucapkan janji suci di depan pendeta. Mereka terlihat sangat bahagia, para tamu juga bersorak gembira saat menyaksikan pernikahan itu. Syukurlah hari itu cuacanya mendukung untuk melakukan pernikahan outdoor.
Para tamu berdatangan dan memberikan selamat pada Camille dan Peter. Melihat Camille yang kelelahan, Peter menggendong istrinya itu di depan semua orang.
" KYaaa !! Kak Peter !!" Camille tercengang.
" bukankah kau lelah terus berdiri memakai sepatu itu? biarkan aku menggendong mu sampai ke kursi disana " kata Peter perhatian
" Kak Peter.. kau.. " Camille malu-malu dan terharu
" Seperti nya kau harus mulai memanggilku sayang, atau suami " kata Peter sambil tersenyum
Disisi lain ada para jomblo yang iri dengan kemesraan pasangan yang ada disana. Lorenzo, Demian dan Felix, si trio jomblo itu sedang menggigit jari mereka karena melihat kemesraan di sekitar mereka.
" kenapa kita selalu mengalami situasi seperti ini?" gerutu Demian sebal
" Nasib jadi jomblo ya memang begini. Iya kan tuan Lorenzo?" tanya Felix santai
" Aku sih tidak begitu " jawab Lorenzo cuek
" Ayolah, kita ini berada di dalam perahu yang sama. Kita ini sama-sama jomblo " Demian meraih pundak Lorenzo
" Aku tidak begitu tuh, dan aku tidak mau berada di perahu yang sama denganmu." jawab Lorenzo sambil melihat ke arah yang lain.
" Tuan Lorenzo, kau lihat apa sih?" tanya Felix
Felix dan Demian melihat pandangan Lorenzo sedang tertuju pada Grace dan Daisy.
" Jangan jangan kau suka Daisy ya?" tanya Demian
" Kau gila ya ? dia lebih cocok jadi ibuku !" Lorenzo marah
" Apa jangan-jangan kau suka nona Grace? " tanya Felix yakin
" Ti..tidak aku tidak suka dia " jawab Lorenzo gugup
" Wah.. jangan jangan.. haha " Felix dan Demian tertawa melihat wajah Lorenzo yang memerah.
" Kalian.. ini.. kan tidak lucu. " gumam Lorenzo
" Ternyata benar ya? Lorenzo yang dingin sudah jatuh cinta pada nona Grace ya?" tanya Demian
Lorenzo membungkam mulut Demian dengan tangannya. " Kau berisik !"
" tuan Lorenzo malu nih haha " kata Felix sambil menahan tawanya.
" haruskah kita menjadi cupid?" tanya Demian dengan senyum jahilnya.
" Kau ini mau mati ya !" Lorenzo kesal
PLETAK
Lorenzo memukul kepala Demian dengan keras.
" Aduh kau ini. Baiklah aku anggap pukulan mu ini sebagai rasa sayang mu " kata Demian cemberut
Selama Aiden pergi ke Lokhan, Lorenzo yang menggantikan pekerjaan nya selalu bertemu dengan Grace untuk membantu pekerjaan masing-masing. Dari situlah mereka mulai dekat.
Tak lama kemudian, Grace mendekati Lorenzo, Demian dan Felix. Dengan gerakan cepatnya, Lorenzo langsung kembali memasang wajah datarnya.
" Tuan tuan apa kalian tidak minum? hanya berdiri saja disini kan bosan?" tanya Grace ramah
" Oh ya kami akan minum haha " jawab Felix dan Demian sambil tertawa
Dengan sengaja Demian mendorong Lorenzo, hingga pria itu hampir jatuh dan memeluk Grace. Asisten Ratu itu kaget dan wajahnya memerah.
GREP
Lorenzo langsung melepaskan pelukannya.
" Ma..maaf atas ketidaksopanan saya nona Grace " kata Lorenzo
Demian sialan. gerutu Lorenzo dalam hatinya
Ohoho. Dia pasti sedang memaki ku di dalam hatinya. batin Demian sambil melihat wajah Lorenzo.
Grace hanya tersenyum memandangi Lorenzo dengan kebingungan. Akankah cupid datang kepada mereka berdua?
...---***---...
Bab selanjutnya 116 : Happiness
Hai readers.. mohon maaf untuk novel ini up nya jadi 2 hari sekali..😘🙏
tetap dukung karya ku ya vote, komen dan , jempolnya juga jangan lupa..❤️
__ADS_1