
Mansion Reese..
Daisy dan Layla sedang merapikan baju-baju Arabella di kamarnya.
" Nona, apa baju nya mau ditambah lagi?" tanya Daisy
Arabella masih tenggelam dalam lamunan nya dan kebingungan nya sendiri.
" Nona Abel?? " tanya Layla bingung melihat Arabella melamun
" Apakah kau pernah memikirkan perasaanku? atau kau tidak ingin melihat perasaanku? jadi, tujuanmu hanya ingin melindungi ku? itu saja? Haa.. aku tidak percaya ini.. Pangeran Aiden, aku sungguh tak mengerti dirimu orang yang seperti apa.. " batin Arabella kesal
Kedua pelayan setia Arabella terlihat cemas melihat nona mereka yang melamun seperti memikirkan sesuatu yang berat.
" Ada apa dengan nona ya, bibi Daisy?" tanya Layla
" Aku juga tidak tahu, akhir-akhir ini nona sering melamun " jawab Daisy penuh kecemasan
" Apa mungkin nona takut ikut ke dalam peperangan itu?" tanya Layla
" Layla, kau tau kan nona Abel tidak mungkin seperti itu. Dia adalah nona bangsawan pemberani, dia tidak takut apapun " kata Daisy sambil tersenyum
" Iya, bibi Daisy kau benar " kata Layla setuju
Padahal gadis itu sudah sering mengatakan pada hati dan pikirannya berkali-kali bahwa ia tidak akan lemah karena seorang pria. Apalagi jika itu karena cinta, ternyata nyatanya pertahanan nya mulai runtuh oleh sosok Aiden yang membuat hati nya bergetar lagi setelah pernah hatinya itu di hancurkan oleh Eugene, Aiden memberikannya kenyamanan yang sudah lama ingin ia rasakan dari seorang pria. Namun, ia tak tahu bahwa kenyamanan itu akan membawanya pada tahap dimana ia akan menyukai seseorang atau mencintai seseorang.
Karena sudah lama ia tak mencintai seseorang, selain Eugene yang adalah cinta pertamanya. Ia juga membuat gadis itu tidak percaya cinta. Tapi, kehadiran Aiden membuat keruntuhan di dalam hatinya. Saat ini ia tidak ingin mengakui bahwa perasaan yang ia rasakan adalah cinta. Yang ia tahu, ia hanya kecewa dengan kata-kata Aiden padanya dan merasa harapan nya pada pria itu hanyalah akan jadi khayalan. Dalam hati dan pikirannya, Arabella memang berharap Aiden memiliki perasaan lebih padanya. Namun, Aiden sudah memberikan batasan untuknya agar tak mendekat lagi. Maka ia akan menjauhi pangeran itu sejauh mungkin karena ia takut terluka lagi dan memiliki perasaan " cinta " dalam hatinya.
" ya, menghindar darinya mungkin lebih baik. Memang seharusnya sejak awal kita tak pernah bertemu. " gumam Arabella sambil tersenyum pahit
***
Di camp White Knight..
Aiden menceritakan pada Lorenzo dan Demian tentang pembicaraannya dengan Arabella. Ia bertanya pada kedua temannya ini apakah yang ia katakan itu salah atau tidak?
Kedua temannya itu berpendapat sama, bahwa Aiden tanpa sengaja mengatakan hal yang menyakiti Arabella.
" Kalau yang mulia benar-benar berkata seperti itu pada nona Arabella, secara tidak langsung yang mulia berkata padanya supaya menjauhi yang mulia " kata Demian memberitahu
" Saya sependapat dengan Demian kali ini, dia mungkin memang konyol tapi dia tidak sebodoh itu " kata Lorenzo
" Oh terimakasih Lorenzo, untuk pertama kalinya kau memujiku. Aku sangat SENANG " Demian sebal pada Lorenzo
" Tapi aku tidak bermaksud seperti itu, apa dia benar-benar berfikir begitu?" tanya Aiden tak percaya
" Jujur saja pada kami, yang mulia cemburu kan melihat nona Arabella berpelukan dengan Putra mahkota? " tanya Demian
" Aku cemburu, itu tidak mungkin " jawab Aiden ragu-ragu
" Yang mulia anda itu sedang cemburu dan itulah sebabnya yang mulia melampiaskan semua kekesalan anda pada nona Arabella, karena sebelum nya yang mulia kan melihat nona Arabella dan putra mahkota berpelukan. Padahal yang mula belum tahu kan kalau mungkin mereka ada alasan lain berpelukan seperti itu. " terang Lorenzo berpendapat
" Jadi, menurut kalian aku sedang cemburu?" tanya Aiden serius
Lorenzo dan Demian mengangguk setuju.
" Aku tidak cemburu " kata Aiden menyangkal
" yang mulia, mungkin anda tidak merasakannya atau melihatnya. Tapi, kami sebagai pengamat cinta bisa melihatnya " kata Demian sambil tersenyum ceria
" Kali ini juga aku setuju denganmu, Demian " kata Lorenzo manggut-manggut
" Jadi, apa kata-kata ku padanya keterlaluan?" tanya Aiden penasaran
" Kalau menurut saya, yang mulia terlalu dingin dan cuek pada nona Arabella. Dan menurut cerita yang mulia barusan, saya yakin nanti nona Arabella akan menghindari yang mulia " kata Lorenzo yakin
" Woah.. aku tidak tahu kau bisa mengatakan apa yang aku mau katakan kepada yang mulia. Kita sehati rupanya " kata Demian senang
" Benarkah? kenapa dia mau menghindariku?" tanya Aiden polos
" Tidak ku sangka yang mulia begitu polos dalam hal asmara " batin Demian prihatin
" Bukankah itu sudah jelas yang mulia, tadi saya sudah katakan. Itu karena secara tidak langsung yang mulia sudah membuat batasan " kata Demian tegas
" Yang mulia, terkadang anda harus menggunakan hati anda bukan pikiran anda " kata Lorenzo menasehati
" Kalian ini sok menasehati ku, padahal kalian juga belum punya pasangan ! huuh " Aiden marah
" Baiklah baiklah, kami hanya memberitahu yang mulia saja pendapat kami " kata Demian
" Saya juga yakin bahwa nona Arabella akan menjauhi yang mulia " kata Lorenzo yakin 100 persen
" Yang mulia mau bertaruh dengan kami?" tanya Demian menantang
" Baiklah, aku percaya dia tidak akan menghindari ku. " kata Aiden yakin
" Oke, dan kita berdua yakin kalau nona Arabella akan menghindari yang mulia " kata Demian yakin
" Dia tidak akan mungkin melakukan itu, aku yakin " kata Aiden dalam hatinya
" Yang mulia, anda terlalu terbelit belit. Nona Arabella pasti kebingungan karena anda " kata Lorenzo sambil tersenyum tipis
***
Sore itu, semua prajurit white knight dan juga para kandidat putri mahkota berkumpul di istana. Mereka bersiap-siap untuk pergi ke Vanders , beberapa kereta dan kuda terlihat di depan istana.
Ashton, dan Peter melihat Arabella terlihat cemberut dan murung. Kedua pria itu menghampiri Arabella.
" Hey, ada apa denganmu?" tanya Ashton heran
" Ada apa, apanya?" kata Arabella tak semangat
" Kemana semangat adikku hari ini?" tanya Peter
" Aku sedang malas saja " jawab Arabella malas
" Semalam kau menangis kan? bisa kau katakan yang sebenarnya?" tanya Ashton curiga
" Sudah kubilang itu karena tanganku terluka oleh pedang " jawab Arabella singkat
Semua kstaria sibuk akan berangkat ke negeri Vanders.
Sementara Ashton membantu Arabella dan Megan untuk membawa barang-barang mereka ke dalam kereta. Arabella terlihat tidak fokus dan terus melamun.
" Megan, kau tau apa yang terjadi pada Abel?" tanya Ashton
" Tidak tahu, tadi dia melamun terus dan terlihat tidak fokus. " jawab Megan cemas
" Ada apa ya? " tanya Ashton sambil melihat Arabella yang duduk melamun di dalam kereta dengan wajah nya yang tidak semangat.
Arabella satu kereta dengan semua kandidat putri mahkota dan Camille juga ikut. Beberapa dari mereka terus menganggu Arabella, tapi gadis itu mengabaikan nya.
__ADS_1
Di dalam perjalanan ..
" Nona Arabella apa kau sedang tidak sehat?" tanya Claire dengan wajah memelas
" Claire, aku sudah terbiasa dengan wajah memelas mu itu. Menjijikan " batin Arabella kesal
" Iya aku kurang sehat " jawab Arabella malas
" Nona Arabella, apa nona masih marah karena ucapanku waktu itu?" tanya Claire sedih
" Maaf nona Claire, aku bukan tipe orang yang pendendam " jawab Arabella
" Lalu kenapa kau bersikap ketus padaku? saya kan sudah minta maaf .." tanya Claire sedih
" Itu mungkin perasaanmu saja " jawab Arabella singkat
Claire menangis tersedu-sedu setelah mendengar ucapan Arabella yang terkesan cuek. Dua gadis bangsawan lain , langsung melirik tak suka pada Arabella. Seolah-olah Claire sedang ditindas oleh Arabella.
" Nona Arabella, kau ini sombong sekali ya. Apa kau tidak lihat nona Claire sampai menangis seperti ini?" tanya Anna kesal
" Aku malas sekali meladeni mereka, kepala ku pusing sekali. " batin Arabella geram
" memangnya kakak Arabella berbuat apa sampai nona Claire menangis?" tanya Camulle bingung
" Tuan putri, apa tuan putri tidak melihat kalau nona Arabella sedang menindas nona Claire?" tanya Lily heran
" Tidak tuh, kakak Arabella hanya bicara biasa saja bukan menindas " jawab Camille tegas
" bahkan tuan putri saja sudah ada dipihaknya, kau hebat sekali kau gadis penggoda " batin Claire kesal
" Sudahlah tidak apa nona Anna, nona Lily, saya memang sudah bersalah pada nona Arabella sebelumnya jadi wajar saja jika saya diperlakukan seperti ini sekarang " kata Claire semakin memelas
" Cukup ya, aku sudah lama menonton drama ini. Sebaiknya kau segera hentikan nona Claire, jangan melebih-lebihkan !" seru Megan kesal
" Ya ampun, aku benar-benar malas terlibat drama hari ini " batin Arabella kesal
" Nona Megan, kau harusnya membuka matamu dong. Kau terus terusan membela nona Arabella yang jelas-jelas sudah bersalah " kata Anna marah
" Apa? nona Anna, sebaiknya kau yang membuka mata mu. Kau tidak lihat kalau nina Claire sedang memainkan drama nya?" tanya Megan kesal
" Hentikan ! cukup kalian semua !" teriak Arabella kesal
" Claire, kenapa kau selalu membuat masalah ?" batin Arabella heran
Megan dan Anna yang akan bertengkar pun jadi diam karena teriakan Arabella. Kereta mereka pun mendadak berhenti, Eugene dan Ashton turun dari kuda mereka dan langsung melihat ke dalam kereta para gadis.
" Ada apa ini?" tanya Ashton cemas
" aku mendengar nona Arabella berteriak, ada apa?" tanya Eugene sambil melihat ke arah Arabella yang wajahnya terlihat galau.
Para gadis bangsawan yang lain cemburu melihat putra mahkota dan Ashton memperhatikan Arabella bahkan rela turun dari kuda mereka hanya untuk melihat Arabella baik-baik saha atau tidak.
" Nona Arabella apa kau tidak sehat?" tanya Eugene
" Tidak yang mulia, saya baik-baik saja. Maafkan saya, tadi ada keributan sedikit. Maafkan saya menganggu " kata Arabella menerangkan
" Kenapa dia sampai turun dari kudanya dan memberhentikan perjalanan hanya karena mendengar teriakan ku? apa itu masuk akal?" kata hati Arabella keheranan
" ada apa ini? bahkan kak Ashton juga ikut-ikutan putra mahkota, apa jangan-jangan perasaan kak Ashton sudah berubah haluan?" batin Megan menebak-nebak
" Yang mulia, ini semua kesalahan saya. Karena nona Arabella marah pada saya, maafkan saya karena sudah menimbulkan keributan. Silahkan yang mulia lanjut kan perjalanan " kata Claire sedih
" Baguslah kalau tidak ada apa-apa " kata Eugene sambil melirik ke arah Arabella yang duduk di pojok dan tersenyum padanya.
" Eugene apa-apaan senyumanmu itu " batin Arabella sebal
" wajah cemberut mu itu sangat imut " batin Eugene senang
" Kakakku, rupanya kau benar-benar jatuh cinta dengan nona Arabella. Tenang saja, aku akan membantumu " batin Camille semangat
Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Vanders, Eugene dan Ashton kembali menaiki kuda mereka.
Disisi lain Lorenzo dan Demian terus memanas manasi Aiden yang melihat ke arah Arabella yang berada dalam kereta, tapi Arabella mengabaikan nya dan memalingkan muka saat pria itu menatapnya
" Wah wah.. Lorenzo, seperti nya kita sudah menang taruhan " kata Demian senang
" Yang mulia, apa anda yakin tidak cemburu? melihat putra mahkota dan wakil ketua Benedict memperhatikan nona Arabella sampai segitunya ?" tanya Lorenzo memanasi
" Sudah jelas tidak lah Lorenzo, kan yang mulia sudah bilang kalau dia tidak cemburu. Tidak peduli siapa yang mendekati nona Arabella, yang mulia tidak akan CEMBURU " kata Demian sambil menggoda Aiden yang sudah cemberut
" Kalian mau ku kirim kembali ke Londo?" tanya Aiden menahan kesal
" Baiklah kami akan diam yang mulia " kata Lorenzo dan Demian kompak
" Yang mulia ada kalanya anda harus jujur pada dirimu sendiri. Saya harap anda tidak menyesal saat nona Arabella, memilih orang lain suatu hari nanti " kata Lorenzo mengingatkan
Aiden sedikit terganggu mendengar nya, karena wajahnya langsung tercengang mendengar ucapan Lorenzo yang mengingatkannya.
" Aku tidak peduli dia mau bersama siapapun yang penting dia bahagia. Itu kan mau ku? benar kah itu mau ku?" batin Aiden bingung sendiri
***
Setelah 1 setengah hari perjalanan mereka sampai di perbatasan yang akan menuju ke negeri Vanders.
Negeri yang memiliki udara yang sejuk, angin berhembus, semilir daun yang melambai lambai dan terlihat hamparan rumput hijau nan indah.
" Yang mulia, tidak disangka ya meskipun dibawah kepemimpinan raja Tiran yang terkenal kejam. Namun, wilayah nya terlihat seindah ini di siang hari " kata Liam sambil melihat-lihat pemandangan
" Benar juga, bunga-bunga yang ditanam disini juga sangat indah berbeda dengan di Clarines. Udaranya terasa sejuk " kata Eugene sambil menikmati angin sejuk yang berhembus ke arahnya
" Yang mulia, di dekat sana ada sebuah sungai yang air nya jernih, disana memiliki pemandangan yang indah. Apalagi jika dilihat saat malam " kata Liam memberitahu
" Benarkah? kau sudah kesana?" tanya Eugene
" sudah yang mulia, tadi saya kesana untuk mengambil air " jawab Liam
" Seperti nya aku harus mengajak nya melihat pemandangan indah ini " gumam Eugene sembari berfikir
" Siapa maksud yang mulia?" tanya Liam
Eugene hanya tersenyum mendengar pertanyaan Liam.
" Baiklah saya mengerti yang mulia " Liam tersenyum senang melihat Eugene dalam mood yang baik dan terlihat bahagia
***
Di tenda tempat makanan, para gadis bangsawan sedang memasak untuk para prajurit dan pria yang ada di sana.
" Menyebalkan, kenapa kita harus melakukan semua ini?" tanya Anna sebal
" Kita ini seorang calon putri, seharusnya kita tidak melakukan pekerjaan pembantu " kata Lily mengeluh
__ADS_1
" Kalian berdua bisa berhenti mengeluh tidak sih? kalian lihat nona Arabella dan nona Megan, mereka santai saja mengerjakan pekerjaan mereka " kata Camille kesal
" Maafkan kami tuan putri " kata Anna dan Lily meminta maaf
" Bagaimana bisa orang seperti mereka pantas menjadi saingan ku untuk menjadi putri mahkota? haa.. " batin Claire meremehkan
Para calon putri mahkota saling membagi tugas, ada yang memasak, mencuci piring, mengambil air, dan membereskan tempat tidur. Mereka mengerjakan tugas secara bergantian. Dan kini giliran Arabella untuk mengisi air ke sungai, ia ditemani Peter ke sungai itu.
Aiden dan Ashton yang sedang duduk santai, memperhatikan Arabella dan Peter dari kejauhan.
" sungai ini airnya jernih sekali ya " kata Arabella terpesona
" iya, berbeda dengan di Clarines. Udaranya pun sejuk " kata Peter
" Iya kakak benar, bunga bunga disini juga sangat indah " kata Arabella senang
" syukurlah dia sudah kembali tersenyum, berarti mood nya sudah mulai membaik " batin Peter lega
Peter membantu adiknya mengambil air dari sungai, dan membawanya ke tenda peristirahatan para calon kandidat putri.
" Sudah selesai ? segitu saja?" tanya Peter
" Iya kak, memang hanya 5 ember saja. Terimakasih kak " kata Arabella
" Kalau begitu ayo kita kembali ke camp " kata Peter
" Kakak duluan saja, aku ingin melihat dulu pemandangan disini " kata Arabella
" Kita pergi bersama saja, berbahaya kalau kau disini sendirian. Memangnya kau tidak ada pekerjaan lain setelah ini?" tanya Peter
" Tidak ada, karena semuanya sudah selesai. Kakak kembali saja duluan, aku akan baik-baik saja. Pasti kak Ethan nanti mencari kakak " kara Arabella menenangkan
" Aku memang ada pekerjaan sih, tapi masa aku meninggalkan Abel sendirian di tepi sungai begini?" batin Peter
" Aku akan panggil Felix kemari untuk menemani mu " kata Peter sambil menghela napas
" baiklah, panggil saja dia. Aku tunggu disini, aku tidak akan kemana-mana " kata Arabella sambil tersenyum
" Ya, jangan kemana-mana " kata Peter mengingatkan
Arabella mengangguk pelan. Ia melihat Peter sudah tak terlihat dari pandangannya lagi. Gadis itu melihat wajah nya di air.
" benar-benar.. air nya benar-benar jernih, bahkan wajahku juga terlihat jelas disini. Pemandangan disini juga sangat bagus, udaranya sejuk, cocok untuk melakukan piknik. Ah.. kapan aku bisa piknik dengan ayah dan kedua kakakku ya? mereka selalu sibuk " Arabella bergumam sendiri
Arabella duduk ditepi sungai dan melihat langit biru yang cerah, hari itu tak begitu panas karena sudah menjelang sore dan udaranya pun sejuk. Angin berhembus menerjang tubuhnya, Arabella merasakan ketenangan yang luar biasa saat duduk di padang rumput itu. Air sungai yang tenang membuat perasaan nya lebih baik.
" Negeri Vanders ini benar-benar indah, meskipun Raja nya terkenal sebagai tirani dan iblis terkejam sepanjang sejarah. Tapi, dia bisa mengurus kerajaan nya dengan baik. " kata Arabella senang
" apa itu adalah pujian, nona?" kata seorang pria
" ada suara seorang pria dibelakang ku? siapa?" batin Arabella
Arabella membalikkan tubuhnya, dan ia melihat sesosok pria dengan wajah penuh bercak darah tepat di belakangnya. Pria itu memegang pedang berlumuran darah dan sebuah kain berisi sesuatu yang berdarah.
" Anda siapa?" tanya Arabella terkejut
" Apa aku bertemu pembunuh bayaran lagi? tidak, tidak mungkin kan? aku tidak membawa pedang ku .!!" batin Arabella panik
Pria itu tersenyum menyeramkan ke arah Arabella, dan berjalan mendekati Arabella. Gadis itu berjalan mundur, dan akhirnya terjatuh ke sungai.
BYUR...
" Akhh !!"
Pria itu menarik tangan Arabella, dan dengan mudahnya mengeluarkan Arabella dari sungai.
" Hati-hati nona, kau bisa saja mati " kata Pria itu sambil melihat Arabella dengan mata yang tajam
" Menarik, biasanya wanita yang melihatku akan langsung lari, kabur, berteriak, tapi gadis ini malah tenang-tenang saja. Dia seperti tidak takut mati, tapi karena aku benci perempuan cantik seperti dia, maka dia harus mati" batin Pria itu
" Siapa pria dengan mata merah menyala ini? dia sangat menyeramkan, dia seperti habis membunuh orang. Aku harus tenang" batin Arabella sedikit takut
" Kepala siapa yang kau penggal itu tuan?" tanya Arabella tanpa rasa takut
" Apa aku harus menjawab pertanyaan nu nona?" tanya Pria itu sinis
" Kau habis membunuh orang kan?" tanya Arabella tanpa keraguan
Pria itu mencekik Arabella sambil tersenyum sinis.
" Kau sudah gila ya? lepaskan aku !" seru Arabella meronta-ronta minta di lepaskan
" Beraninya kau, berbicara denganku dengan nada seperti itu. Apa kau mau menggantikan kepala yang ada di dalam bungkusan ini? " tanya pria itu dengan tatapan mata yang tajam
" Sial, pria ini pasti punya penyakit mental tiba-tiba mencekik orang " batin Arabella kesal
Dengan sekuat tenaga, Arabella memukul titik vital pria itu hingga pria itu kesakitan.
" Hey wanita, kau .." kata Pria itu kesal
" Apa? kau mau mencekikku lagi? aku akan berteriak sekarang. Kalau kau berani mencekikku lagi " kata Arabella
Arabella dan pria itu melihat Felix sedang berjalan ke arah mereka.
" Oh kebetulan sekali " kata Arabella sambil tersenyum sinis
" Kalau aku sampai melihatmu lagi, aku akan menghabisimu nona " kata Pria itu sambil tersenyum
Pria misterius itu menghilang dari pandangan Arabella dalam sekejap. Felix melihat Arabella terlihat syok, dengan pakaian basah dan ada bercak darah di rerumputan tak jauh dari tempatnya berdiri.
" Nona, apa yang terjadi? apa nona jatuh ke sungai?" tanya Felix
" Kenapa kau lama sekali? aku hampir mati tau " kata Arabella kedinginan
Felix tercengang melihat ada bekas cekikan di leher Arabella.
" nona, siapa yang ingin mencelakai nona? apa pembunuh itu lagi?" tanya Felix cemas dan waspada
" Bukan, dia pasti orang sini dan bukan dari Clarines " jawab Arabella
***
Pria itu membersihkan wajahnya di kamar mewah nya di istana Vanders. Ia tersenyum sendiri dan mengingat pertemuan nya dengan Arabella.
" yang mulia raja, anda dari mana saja? kami sudah mencari-cari mu kemana-mana?" tanya Cane cemas
" Aku habis membersihkan cecunguk kecil. Dan aku bertemu dengan domba kecil yang manis " kata Dominic sambil tersenyum sinis
Cane sang tangan kanan Raja terlihat bingung melihat rajanya tersenyum sinis.
Senyuman nya yang seperti itu memiliki arti yang tersembunyi bagi Cane.
__ADS_1