
...ARRABELLA TWICE LIVES...
...BAB 42...
...PERJODOHAN...
...( Ilustrasi Peter De Reese )...
Di pesta dansa....
Melihat keadaan adiknya yang begitu terdesak, Peter pun dengan tepaksa menghampiri kedua pria yang hampir berseteru itu dan berusaha menengahi mereka.
" Yang mulia Raja Dominic, tolong turunkan adik saya !" seru Peter tajam
" Kakak, syukurlah kau datang" batin Arabella merasa lega
" Ini salah mu kenapa kau begitu populer, kalau bukan karena kau akan menimbulkan peperangan negara, aku juga tidak mau melakukan ini. " batin Peter sebal
" Aku akan bersama kakakku, yang mulia tolong turunkan aku " kata Arabella pelan
" bantuan dari kakak ya? baiklah, aku akan melepaskan mu kali ini " batin Dominic
Sang raja tiran itu akhirnya mau menurunkan Arabella dari gendongan nya. Wajah Aiden terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
" Jangan kira setelah ini urusan kita sudah selesai ya !" seru Aiden kesal pada Dominic
" Aku juga tidak menganggap ini sudah selesai, ceritanya masih bersambung .." kata Dominic santai
" Kau sudah memiliki hati nya, tapi kau malah berdansa dengan pria lain. " batin Dominic kesal
" Kalian sudahlah, pangeran, yang mulia raja jangan bertengkar. Banyak orang melihat nya " kata Peter berbisik kepada kedua pria itu.
" Jika kedua pria ini berkelahi sekarang, yang ada istana Clarines akan hancur. Atau bahkan lebih buruknya kedua kerajaan yang akan hancur karena mereka. Anggap saja aku sedang menyelamatkan negara sekarang " batin Peter
" Kakak, bawa aku pergi..." bisik gadis itu pada Peter
" Baiklah, ayo " kata Peter mengajak
Arabella dan Peter berjalan meninggalkan kedua pria itu, belum jauh berjalan gadis itu oleng dan akan terjatuh karena kakinya sakit.
" Ah !"
" Hati-hati !" seru Dominic dan Aiden bersamaan
Secara bersamaan kedua pria itu memegang tangan Arabella agar gadis itu tidak jatuh.
" Kau , lepaskan tangannya !" seru Aiden
" Kau yang lepaskan !" seru Dominic tegas
" Mereka seperti anak usia 5 tahun saja, astaga " batin Arabella sebal
" Ya ampun, apa benar mereka seorang raja dan pangeran?" batin Peter keheranan
Pertikaian mereka berakhir saat Peter membawa Arabella pergi menjauh dari kedua pria itu.
Setelah melihat kejadian itu semua orang di pesta itu mulai bergosip tentang Arabella, Raja Dominic dan pangeran Aiden. Duke Reese, terlihat tidak senang mendengar rumor tentang putrinya itu.
***
Di ruang istirahat istana..
Peter mengobati kaki Arabella yang keseleo saat di pesta dansa.
" Kau hampir saja membuat masalah yang besar untuk kedua kerajaan besar yang baru berdamai " kata Peter sambil membalut kaki kanan Arabella dengan perban
" Memangnya apa yang ku lakukan?" tanya Arabella polos
" Aih.. kau ini ya. Sudahlah jangan dibahas lagi, apa kaki mu ini sakit?" tanya Peter cemas
" Iya sedikit sakit " jawab Arabella
" Kenapa kau bisa berdansa dengan Raja iblis itu? kak Ethan dan yang lain nya marah melihat mu dekat-dekat dengan nya. Kau pasti sudah tau jelas alasannya " kata Peter serius
" Tidak biasanya kak Peter yang suka bercanda, menjadi serius seperti ini " kata Arabella heran
" Tentu saja, aku serius jika soal dirimu. Aku kan sayang padamu " Peter tersenyum hangat
Peter duduk di samping Arabella dan mulai berbicara serius dengan adiknya itu.
" Sebelum ayah dan kak Ethan yang menanyakan ini padamu, aku ingin tau siapa yang kau sukai diantara Pangeran Aiden dan Raja Dominic?" tanya Peter
Gadis itu terpana dengan pertanyaan kakak nya yang tiba-tiba, to the poin tanpa aba-aba. Ia terlihat bingung menjawabnya.
" Kakak sebenarnya aku menyukai...
BRAK
Suara pintu terbuka itu menghentikan Arabella yang sedang menjawab pertanyaan Peter. Adik kakak itu menoleh ke arah orang yang membuka pintu begitu saja.
" Ayah ! "Arabella langsung berdiri kaget saat melihat raut wajah ayahnya yang tidak terlihat baik
" Ayah, ada apa?" tanya Peter yang menyadari bahwa raut wajah Duke Reese terlihat tidak baik
" Abel, kau tidak boleh bersama dengan Raja Dominic ataupun pangeran Aiden ! karena ayah tidak akan menyetujui nya !" seru Duke Reese marah
" Ayah!!" Arabella terpana mendengar ucapan spontan yang keluar dari mulut ayahnya dengan penuh ketegasan itu
" Apa yang terjadi dengan ayah? dia terlihat sangat marah " batin Peter kaget
Ethan terlihat berlari dari luar dengan terburu-buru, ia menghampiri Duke Reese dan kedua adiknya.
" Ayah, tenanglah ! kita bicara kan dirumah, ini masih di istana " kata Ethan menenangkan
" Baik, kita bicara di rumah. Abel, kau ikut ayah pulang sekarang " kata Duke Reese tegas
" ayah, tapi pestanya belum selesai.." kata Arabella heran
" PULANG!" teriak Duke Reese setengah membentak
" Ayah, tenang !" seru Peter kaget
" Ayah.. " Arabella heran melihat ayah nya begitu marah
" Abel, kau pulang saja duluan dengan ayah dan Peter " bisik Ethan pada Arabella
" Iya kakak " kata Arabella menurut
***
Sementara itu di aula kerajaan, pesta sudah selesai dan Dominic menghadap Raja Caesar juga Ratu Freya.
" Salam pada Raja Caesar dan Ratu Freya " kata Dominic
" Terimakasih atas kehadiran anda yang mulia Raja Dominic" kata Raja ramah
" Aku tidak menyangka kalau dia akan menghadiri undangan ku. Bukankah dia tidak pernah menghadiri acara seperti ini?" batin Raja heran
" saya juga senang menerima undangan dari anda yang mulia raja, saya mohon maaf jika kehadiran saya begitu mengejutkan " kata Dominic
" Tidak apa, yang penting anda datang. Suatu kehormatan bagi kami karena Raja Dominic sendiri yang menghadiri pesta penobatan Putri mahkota " kata Ratu ramah
" tidak heran dia dipanggil raja iblis, aura nya begitu kuat dan sangat mendominasi" batin Ratu dalam hatinya
" Saya sangat senang dan berterimakasih saat yang mulia Raja Dominic memutuskan untuk berdamai dengan Clarines " kata Raja senang
" Jika bukan karena dia, saya tidak akan pernah berdamai dengan siapapun " kata Dominic sambil tersenyum
" Dia ? dia siapa?" tanya Raja heran
" Nona Arabella Naomi De Reese, dialah yang menyadarkan dan mengingat kan saya agar menjadi manusia sesungguhnya.. " jawab Dominic lembut
Raja dan Ratu terpana mendengar Dominic berkata dengan lembut ketika ia membicarakan Arabella. Ekpresi Dominic yang tidak terduga itulah yang membuat Raja dan Ratu terpana.
Setelah berbincang sedikit dengan Raja dan Ratu, Dominic menghampiri Eugene dan Claire yang masih duduk di singgasana mereka.
" Lama tidak bertemu Putra mahkota Eugene " kata Dominic menyapa
" Rupanya anda sudah bisa menyapa orang dengan benar sekarang " kata Eugene menyeringai
" Aku membawakan hadiah untuk mu dan putri mahkota, selamat atas pernikahan kalian " kata Dominic sambil tersenyum tipis
" Terimakasih " kata Eugene
" Tidak tidak, aku yang harusnya berterimakasih. Aku sangat bahagia dengan pernikahan mu dan mengucapkan selamat dengan tulus, karena saingan ku berkurang satu orang " kata Dominic senang
" Apa kau bilang?" tanya Eugene kaget
__ADS_1
" Apakah dia masih terobsesi dengan Arabella?aku pikir dia sudah menyerah " batin Eugene kaget
" Pokonya selamat ya " kata Dominic sambil tersenyum
" Dia mengejekku !" batin Eugene kesal
" Sekali lagi terimakasih " kata Eugene menahan kesal
" Lucu sekali, melihatnya menahan amarah seperti itu. " batin Dominic merasa terhibur
" Terimakasih atas hadiah pernikahan yang ada berikan pada kami, yang mulia Raja Dominic " kata Claire sopan
" sama-sama, aku berharap semoga kalian akan langgeng selamanya. Harus ya !" seru Dominic antusias
" Terimakasih " kata Claire sambil tersenyum ramah
Dominic kembali dengan ekspresi dinginnya dan ia berjalan pergi keluar dari istana, tak sengaja ia berpapasan dengan Aiden dan Ariana.
" Senang bertemu denganmu Raja iblis Dominic " kata Ariana sambil memberi hormat
" Tidak usah repot-repot memberi salam, aku tidak senang tuh bertemu denganmu " kata Dominic sinis
" Kalian saling kenal?" tanya Aiden penasaran
" Kebetulan ada pangeran Aiden disini, menurutku kalian berdua sangat cocok " kata Dominic dingin
" Iya benar kan? kami sangat cocok, terimakasih atas penilaian anda yang mulia Raja " kata Ariana setuju
" Apa maksud kalian ? " tanya Aiden kesal
" Gadis ini benar-benar menyebalkan " batin Aiden jengkel
" Jadi dia pria baru mu ? kau pikir kau akan berhasil?" tanya Dominic sinis pada Ariana
" Lebih baik kau jangan banyak bicara yang mulia raja ! " kata Ariana tak suka
" Jika dia membongkar rahasia ku, maka aku tidak bisa mendapatkan si tampan ini " batin Ariana kesal
" Apa maksud nya yang mulia Raja? bisa anda jelaskan?" tanya Aiden
" aku cuma mau bilang,jangan tertipu dengan wajah cantiknya. Dia itu adalah wanita beracun " kata Dominic sambil tersenyum sinis
" Kurang ajar, kau iblis !" batin Ariana kesal
" Tolong perhatikan kata-kata anda Raja Dominic, saya ini seorang putri kerajaan. Anda tidak takut kalau perjanjian perdamaian diplomatik kita akan rusak karena anda?" tanya Ariana mengancam
" Oh kau mau mengancam ku? sejak dulu aku bukanlah Raja yang peduli dengan hal-hal seperti itu. Aku bisa saja menjajah negeri mu itu dengan mudah sekarang, kalau kau masih berani mengancam ku !" Dominic menyeringai dan menunjukkan tatapan membunuh pada Ariana
Ariana kelihatan takut, bahkan gemetaran saat mendengar ucapan Dominic, Aiden memperhatikan itu dengan seksama dan berfikir bahwa memang ada yang aneh dengan Ariana.
Pembicaraan mereka berakhir saat Ariana memaksa Aiden untuk mengantar nya ke kamar karena tidak enak badan.
" Yang mulia pangeran, saya agak tidak enak badan. Tolong, antarkan saya kembali ke kamar saya " kata Ariana sambil memegang kepalanya seolah ia sedang sakit
" Dia seperti ini lagi, persis seperti waktu itu. " batin Dominic menyeringai
" Kau pelayan Putri kan? " tanya Aiden pada seorang pelayan yang ada dibelakang Ariana
" benar yang mulia pangeran" jawab pelayan yang bernama Berry itu
" Antarkan tuan putri ke kamar nya, seperti nya dia kurang sehat " kata Aiden dingin
" pangeran benar-benar menyeramkan " batin Berry ketakutan
" Baik pangeran !" seru Berry
" Maafkan saya tuan putri, anda pergilah dengan pelayan anda. Saya masih ada urusan " kata Aiden sinis
" Bukankah itu tidak sopan yang mulia pangeran? " kata Ariana kesal
" Saya mohon maaf yang mulia, kalau anda tidak enak badan sebaiknya anda cepat berisitirahat. Saya akan panggilkan dokter sekalian " kata Aiden dingin
" Kenapa dia bersikap sedingin ini di depan si raja iblis ? membuat ku malu saja, tunggu saja kau pangeran! aku akan membuat mu jatuh cinta padaku cepat atau lambat " batin Ariana kesal
Dengan terpaksa Ariana dan pelayannya pergi menuju kamar mereka.
Sementara itu Aiden mengajak Dominic bicara berdua saja secara pribadi.
" Cane, kau pergi saja. Tunggu aku di luar !" ujar Dominic
" Baik yang mulia " jawab Cane patuh
" Ada apa pangeran? " tanya Dominic
" saya tidak akan banyak berbasa-basi dengan yang mulia Raja, saya ingin anda menjauhi Arrabella " kata Aiden tajam
" Atas dasar apa kau melarang ku mendekati nya?" tanya Dominic heran
" Aku baru tau dia ternyata memiliki sisi yang posesif, aku kira dia orang yang cuek " batin Dominic
" Saya bicara begini karena saya punya alasan yang kuat, dia sudah memilih saya dan saat ini saya adalah kekasihnya " kata Aiden tegas
" Lalu ? karena kau kekasihnya jadi dia tidak boleh dekat-dekat dengan pria lain?" tanya Dominic
" Apa katamu?" Aiden terpana
" Selagi dia belum menikah atau bertunangan secara resmi dengan siapapun, tidak ada batasan yang tidak memperbolehkan dia untuk berdekatan dengan pria lain. " Terang Dominic tajam
" Jadi maksud mu anda masih belum menyerah? meskipun anda tau dia sudah memilih saya ?" tanya Aiden tak percaya
" Benar sekali.. pangeran kau jangan lupa, hati seseorang bisa saja berubah. " Dominic tersenyum menyeringai
" dia mencoba memanasiku ? aku tahu bahwa hati seseorang bisa berubah, tapi Arabella tidak akan begitu " batin Aiden kesal
" Yang mulia raja, perasaan saya dan Arabella tidak setipis dan tidak semudah itu untuk dihancurkan. " kata Aiden kesal
" Kenapa kau bicara begini? apa kau takut aku akan menggoyahkan hatinya? atau kau tidak percaya padanya?" tanya Dominic tersenyum tipis
" Bukan karena itu. Saya bicara seperti ini bukan karena saya tidak percaya padanya, tapi saya tidak percaya pada anda !" seru Aiden tegas
" jawaban yang lugas, aku suka " batin Dominic
" Kalau kau percaya padanya, kau tidak seharusnya takut aku akan merebut nya. " kata Dominic
" Tapi saya tetap tidak percaya pada anda !" seru Aiden
" Aku sudah tau dari nya kalau kalian adalah sepasang kekasih, tapi aku juga bilang padanya kalau aku akan tetap mengejar nya. Kau tau apa yang dia katakan? dia bilang dia percaya bahwa ia tak akan goyah perasaan nya darimu, dan dia menyuruhku untuk mencoba mengejar nya jika bisa " terang Dominic
" Dia sungguh bicara seperti itu? " gumam Aiden terharu
" Aku tidak menyangka bahwa Naomi akan berkata seperti itu pada Raja iblis ini, itu artinya dia percaya padaku dan perasaan nya padaku. Senang mendengar nya mempercayai ku sebesar itu " batin Aiden lega
" Aku bisa saja membunuhmu dengan mudah, lalu membawa nya pergi dari mu, tapi aku tidak mau melakukan hal yang membuatnya menjauhi ku, kenapa aku bisa se rela ini? Apa sekarang aku sudah mulai punya hati? " batin Dominic kesal sendiri
" Kita bicara sampai disini saja " kata Dominic dingin
" Tunggu, aku masih ada pertanyaan! apa maksudmu kalau putri Ariana itu gadis beracun?" tanya Aiden penasaran
Dominic menghela napas sebentar, dan ia tak menjelaskan banyak tentang Ariana. Dominic mengatakan bahwa dulu Ariana pernah menggoda nya, tapi tidak berhasil jadi mereka saling membenci. Ariana adalah gadis yang berambisi dan ingin membuat semua pria bertekuk lutut padanya.
" Hati-hati saja saat kau di dekatnya, oh ya jangan lupa. Kalau kau masih belum meresmikan hubungan mu dengan Arabella, aku masih akan tetap mengejar nya " Dominic menantang
" Kau tidak akan punya kesempatan itu " kata Aiden penuh percaya diri
" Semoga saja " kata Dominic meremehkan
" Semoga saja, gadis beracun itu tidak mengganggu hubungan kalian, jika aku tau dia menyentuh Arabella, maka aku tidak akan diam saja " batin Dominic
***
Di mansion Reese, Duke Reese terlihat sangat marah dan wajahnya serius saat berbicara dengan putri nya tentang kedua pria yang dekat dengannya itu.
" Tapi kenapa ayah seperti ini? ayah membenci mereka?" tanya Arabella heran
" Tidak, ayah tidak benci mereka! ayah hanya tidak suka kau terlibat dengan keluarga kerajaan atau menikah dengan anggota keluarga kerajaan " terang Duke Reese
" Ayah sebenarnya aku menyukai seseorang dari keluarga kerajaan " kata Arabella
Peter dan Duke Reese terpana mendengar nya.
" Siapapun itu tidak boleh! ayah sudah menerima lamaran dari beberapa pria bangsawan, ayah rasa salah satu dari mereka akan cocoknya dengan mu " kata Duke Reese tak bisa dibantah
" Ayah ! aku sudah bilang ada seseorang yang ku sukai !" seru Arabella tegas
" Dan ayah juga bilang, ayah tidak mau dibantah ! berhubungan dengan keluarga kerajaan akan membuat mu menderita dan itu tidak akan baik untukmu ! mengerti lah ayah lakukan ini untukmu !" seru Duke Reese
" Tapi ayah..Dia adalah pria yang baik, ayah.. " Arabella berusaha membujuk ayahnya
Duke Reese yang memasang wajah tidak bisa dibantah, dan itu membuat kedua anaknya itu terdiam. Mau tidak mau Arabella harus melakukan perjodohan itu untuk menyenangkan ayahnya.
__ADS_1
" Kakak bagaimana ini?" tanya Arabella bingung
" Aku tidak tau kalau ayah akan sangat menentang mu, dan menjadi keras padamu seperti ini. " kata Peter heran
" Lalu aku harus bagaimana? ayah bahkan tidak mau mendengarkan ku !" seru Arabella
" Tenang saja, kau turuti saja perkataan ayah dan pergi ke perjodohan itu. Sisanya biar aku yang mengerjakan nya " Peter tersenyum seperti memiliki ide tersembunyi
" Eh? apa yang kakak rencana kan?" tanya Arabella penasaran
" Nanti aku jelaskan, pokoknya turuti saja untuk saat ini. " Peter tersenyum
***
Keesokan harinya, pagi itu Daisy dan Layla sudah membangunkan Arabella dan merias wajahnya. Gadis itu kelihatan malas dan tidak bersemangat.
" Nona, nona harus berdandan yang cantik ya " kata Daisy
" Ini adalah hari besar untuk nona memilih pasangan " kata Layla senang
" kenapa kalian sangat senang? apa hal ini bagus?" tanya Arabella heran
" Tentu saja kami senang ,karena setelah ikut acara perjodohan mungkin nona akan segera menikah " kata Daisy senang
" Jadi kalian senang ya kalau nanti di rumah ini tidak ada aku lagi?" tanya Arabella muram
" Tidak.. bukan begitu nona " kata Daisy dan Layla bersamaan
" aku hanya bercanda, kenapa kalian serius sekali. " kata Arabella cemberut
" Apa yang terjadi pada pangeran Aiden ya kalau dia tau semua ini? tidak, dia jangan sampai tau " batin Arabella resah
" Oh ya Daisy, Layla jangan sampai berita ini sampai ke istana ya. " kata Arabella memperingatkan
" Tenang saja nona, tuan Duke bilang kalau ia tidak mengatakan apapun tentang ini pada siapapun " kata Daisy
" syukurlah, aku pikir ayah akan mengatakannya pada orang-orang di istana. Jadi dia tidak akan mendengar apapun " kata Arabella senang
***
Di istana Clarines, Aiden hendak pergi ke camp pedangnya dan berniat ingin menjemput Arabella untuk ikut ke camp bersamanya.
Sebelum ia pergi ke rumah kekasihnya itu, ia memetik bunga mawar ungu yang langka dengan tangannya sendiri.
" Aku belum pernah memberikannya bunga, dia pasti akan sangat senang " batin Aiden sambil asyik merangkai bunga
" Yang mulia pangeran, kenapa anda tidak menyuruh para pelayan saja yang melakukan nya. Anda tidak perlu bersusah payah " kata Demian heran
" Untuk gadisku, aku akan melakukannya sendiri " kata Aiden santai
" Yang mulia, seperti nya anda sudah benar-benar jatuh cinta pada nona Arabella, hingga tak memperhatikan wanita lain lagi " kata Lorenzo sambil tersenyum
" Aku mencintainya selama bertahun-tahun, perasaanku padanya tidak dangkal. " Aiden tersenyum senang
Ariana dan Berry menghampiri Aiden dan langsung mengambil bunga yang sudah dirangkai Aiden.
Para pelayan disana melihatnya dan salah paham bahwa Aiden memberikan bunga untuk nona Ariana.
" Terimakasih yang mulia pangeran, bunga nya sangat indah " kata Ariana sambil mencium bunga mawar ungu itu
" tidak disangka seorang tuan putri cantik seperti dia menggoda yang mulia. Pesona yang mulia memang luar biasa " batin Demian kagum
" Memang sih dia seorang putri, tapi kelakuan nya itu tidak bisa dibenarkan " batin Lorenzo tak suka
" Apa apaan anda tuan putri?" tanya Aiden sinis
" Bunga ini untukku kan? walaupun aku tidak suka mawar ungu, tapi kalau ini darimu aku suka kok. Oh ya aku beritahu ya, lain kali kalau kau ingin memberiku bunga.. berikan aku bunga Lily,aku suka itu " kata Ariana sambil tersenyum
" Kita lihat, apakah kau masih akan diam melihat senyuman indah ku?" batin Ariana
Gadis itu menantikan reaksi dan respon dari Aiden, akan tetapi pangeran itu tetap saja bersikap dingin padanya.
" Dia wanita yang menyebalkan " batin Aiden
" Apa-apaan reaksinya ini?" batin Ariana kesal
" Maaf, jadi bunga ini untukku ya?" tanya Ariana dengan wajah sedihnya
" ..... " Aiden diam saja
" sial, dia berani mengacuhkan aku. Ariana.. tenanglah, setidaknya para pelayan sudah mulai bergosip itu bagus " batin Ariana
" Ohoho.. tipuan seperti itu tidak akan berguna di hadapan yang mulia " batin Demian meremehkan
" Baiklah, ini bunga nya aku kembalikan.. ini pasti untuk seseorang kan? " kata Ariana sambil menyodorkan bunga di tangannya
" Haa.. bunga itu untuk yang mulia saja, lagian saya tidak mau bunga yang sudah disentuh oleh wanita lain saya serahkan pada kekasih saya, itu tidak bagus " kata Aiden sinis
" Jadi, yang mulia pangeran sudah punya kekasih?" tanya Ariana pura-pura kaget
" Benar, yang mulia pangeran sudah punya kekasih. " Lorenzo membantu Aiden menjawab nya
" Saya izin pergi yang mulia putri " kata Aiden dingin
Aiden pergi begitu saja dan itu membuat Ariana sangat kesal karena penolakan tegas dan sikap dingin Aiden padanya. Namun, ia semakin tertarik pada Aiden dan ingin mendapatkan nya.
***
Lorenzo dan Demian merasa heran karena acara penobatan Putri mahkota sudah selesai tapi Ariana masih ada di istana. Hal itu membuat Aiden semakin tidak suka padanya, seperti ada motif tersembunyi dari kedatangannya, ia juga memikirkan perkataan Dominic padanya semalam. Kedua pengawal setia Aiden berasumsi bahwa Ariana mungkin tertarik pada Aiden.
Beberapa saat kemudian..
Di mansion Reese..
Aiden begitu terkejut begitu melihat di depan rumah kekasihnya itu ada 6 orang pria sambil membawa bingkisan dan bunga sedang berdiri di depan rumah Arabella seperti mengantri untuk sesuatu.
" ada apa ini? kenapa begitu banyak pria bangsawan disini?" tanya Aiden kaget
" Yang mulia, apa perlu saya cari tau?" tanya Lorenzo
" Tidak usah, biar aku cari tau sendiri " jawab Aiden kesal
Sambil membawa buket bunga mawar yang baru dibelinya di perjalanan, Aiden berjalan di belakang pria-pria yang mengantri itu. Pangeran itu mendengarkan pembicaraan mereka tentang pencarian jodoh untuk Arabella.
Aiden sangat kesal mendengar nya dan cemburu.
" Yang mulia, tenanglah ! mungkin ini tidak seperti yang anda pikirkan!" seru Demian panik
" Saya heran yang mulia, kenapa Duke menyembunyikan ini dari istana ? Apa mungkin seperti yang saya pikirkan .." Lorenzo berfikir
Aiden terlihat memikirkan sesuatu.
Felix yang sedang mengawasi antrian, melihat Aiden dan langsung menyapanya.
" Selamat pagi yang mulia pangeran, tuan Lorenzo dan tuan Demian .." kata Felix sopan
" Selamat pagi tuan Felix " kata Demian dan Lorenzo ramah
" Ngomong-ngomong ada apa ini? apa benar nona Arabella sedang memilih calon suami?" tanya Demian hati-hati
" Sebenarnya ini adalah rencana tuan Duke.. " jawab Felix terlihat ragu
" Apa aku harus mengatakan bahwa tuan Duke bertengkar dengan nona semalam?" batin Felix
" yang mulia yang diam saja seperti ini sangat menakutkan " batin Demian ngeri
" Yang mulia tidak bicara apa-apa, artinya dia sangat marah " batin Lorenzo merasa kedinginan
Sementara itu Arabella masih ada di kamarnya dan ia terlihat pusing. Daisy dan Layla berkali-kali memanggilnya tapi tidak terdengar
" Setelah di paksa kan dan setelah aku pikirkan baik-baik, aku tidak mau keluar dan menemui mereka !" seru Arabella frustasi
TOK TOK TOK
" Ada suara orang menggedor kaca jendela? apa itu kak Ashton " batin Arabella berfikir
" Kak Ashton, kau ini kebiasaan ya ! bukankah sudah bilang untuk masuk lewat pintu !" teriak Arabella sambil membuka jendela kamarnya.
Ia begitu terkejut melihat raut wajah Aiden yang terlihat marah ada dihadapannya.
" Yang mulia pangeran .." Lirih Arabella pelan
" ya ampun, aku bicara apa barusan? dia pasti mendengar nya kan?" batin Arabella takut
" Bagus sekali, kekasihnya datang dan mendapatkan sambutan dengan nama pria lain " kata Aiden dingin
Aiden mengepalkan tangannya dengan kesal, tangan satunya memegang bunga. Arabella menatap bingung pada pria itu.
--- Tunggu bab selanjutnya ya, jangan lupa like nya, rate, komen bantu dukungan buat Author nya --makasih yang udah tetap setia baca novel ini 🥰😉
__ADS_1