
🌷🌷🌷
Megan yang penasaran kenapa Arrabella terus memperhatikan Sylvia, akhirnya ia mengajak Arrabella berbicara berdua saja dan berpisah dengan para nona bangsawan.
" Ada apa ratu Megan?" tanya Arrabella
" Ratu Arrabella.. kenapa anda terus memuji muji dan memperhatikan nona Valton? apa ada sesuatu?" tanya Megan tak mengerti
" Karena Ratu Megan cukup peka, maka aku tidak akan sungkan lagi mengatakan nya padamu. Tapi, tolong jangan mengatakan hal ini pada siapapun " kata Arrabella pelan-pelan
" Kau tau aku tidak akan melakukan itu Ratu Arrabella.. kau bisa percaya padaku.. katakan lah apa yang menganggu mu ini? " tanya Megan
" semoga saja tebakan ku tidak benar " batin Megan berharap
" Ratu Megan, kau tau bagaimana keadaan ku bukan? Aku tidak bisa memberikan keturunan untuk suamiku, apalagi pewaris untuk kerajaan ini. Aku sungguh tidak berguna sebagai seorang wanita. Aku tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut. Jadi, aku memutuskan untuk memilih selir untuk Raja "
Deg
Megan terpana dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, ia tidak menyangka bahwa tebakan dan kekhawatiran nya tentang Arrabella itu benar. Megan kaget dan tidak setuju dengan usul Arrabella, ia mencoba memberikan pengaruh kepada Arrabella agar wanita itu mengurungkan niat nya.
" jangan berbuat hal yang kau sesali nantinya, Ratu Arrabella.. " kata Megan menyayangkan
" Ratu Megan.. aku mengambil keputusan ini bukan tanpa pertimbangan. Aku berfikir siang dan malam, setiap hari, setiap detik, segala cara sudah kulakukan untuk mengobati penyakit ku. Tapi, aku tidak bisa begini terus, hanya diam dan tidak melakukan apapun untuk orang yang aku cintai. Aku tau Raja selalu mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan keturunan atau apapun selama dia bersamaku, aku tau dia tidak berkata jujur, aku pernah mendengar nya beberapa kali mengigau tentang seorang anak..Dia juga sering berbicara tentang seorang anak pada sir Demian atau tuan Lorenzo, tapi dia tidak mau bicara padaku.. Aku tau dia sangat menginginkan nya...hiks "
Tanpa sadar ia sadari, wanita itu mulai meneteskan air mata, ia tak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Megan terlihat sedih dan terluka melihat Arrabella. Untunglah mereka berdua berbicara di ruangan tertutup dan tidak akan ada yang mendengar mereka.
" Aku tau penderitaan ku, jika aku jadi dirimu.. aku tidak akan sekuat ini. Kau sudah menahan nya selama ini, tapi Ratu Arrabella.. keputusan ini sangatlah berat untukmu bukan? bukankah kau harus memikirkan nya lagi? ini bukan hanya menyangkut hidupmu, tapi kerajaan dan juga hidup Baginda Raja. " Megan menepuk pundak Arrabella untuk menghibur nya.
Di dalam lubuk hatinya, Arrabella juga tidak ingin melakukan ini. Ia ingin memiliki Aiden seutuhnya hanya untuk dirinya saja. Namun, keadaan memaksanya melakukan hal yang tidak diinginkan nya, hal yang tidak pernah ia pikirkan sekalipun dalam hidupnya.
Wanita itu hanya ingin hidup bahagia bersama Aiden. Seandainya saja, ia dalam keadaan sehat dan bisa memberikan keturunan untuk Aiden, ia pun tidak akan melakukan hal yang akan menyakiti hatinya sendiri, jika masalah ini terpecahkan, mungkin saja Arrabella akan mengurungkan niatnya untuk memilih selir untuk suaminya.
Megan berusaha mempengaruhi dan menasehati Arrabella agar jangan bertindak gegabah dan menunggu lebih lama.
" Mungkin kita harus menunggu sebentar lagi, Ratu Arrabella.. kau selalu bilang padaku untuk percaya pada keajaiban. Dan keajaiban mungkin akan datang padamu .. "
Kata-kata Megan, hanya dianggapnya sebagai penghiburan terhadap keadaan nya yang mandul. Bukanlah sebuah nasihat.
" Aku percaya keajaiban, aku juga sudah menunggu. Tapi, fakta ada di depan mata. Terimakasih sudah menghibur ku, Ratu Megan " Arrabella menyeka air mata di wajahnya dengan sapu tangan, lalu memperlihatkan senyuman nya
" Kau ini benar-benar keras kepala, apa kau tidak takut terluka? jika kau benar-benar melakukan ini kau akan terluka ! kau mau menjodohkan suamimu dengan wanita lain? aku tidak habis pikir denganmu !" Megan terlihat sedih dan kesal pada sahabatnya itu.
" Maafkan aku, aku tau kau kesal padaku. Tapi, aku tidak punya pilihan lain..." Arrabella tersenyum
" Jangan tersenyum seperti itu! aku tidak suka melihat senyuman palsu mu " Megan berkaca-kaca dan menahan air matanya, ia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Arrabella. Jika Ratu Vanders itu ada disisinya, mungkin ia akan mengambil pilihan untuk minta cerai dengan suaminya, bukan memilih wanita lain menjadi selir dari suaminya.
Baginya itu sama sama menyakitkan, sama seperti jalan buntu. Seperti pilihan mati disana atau mati disini, sama sama menyakitkan. Dan Arrabella memilih pilihan yang paling menyakitkan.
🍂🍂🍂🍂
Setelah pembicaraan nya dengan Megan selesai, dan perjamuan nya selesai, semua nona bangsawan pergi dari istana.
Arrabella meminta bertemu dan mengobrol secara pribadi dengan Sylvia.
" Salam kepada Baginda Ratu " Sylvia membungkuk hormat
" Silahkan duduk " kata Arrabella tegas
Dengan anggunnya wanita itu duduk di kursi yang berhadapan dengan Ratu Clariness.
" Grace, tinggalkan kami berdua. Dan pastikan tidak ada yang masuk kemari sebelum aku dan nona Valton keluar dari ruangan ini " ujar Arrabella kepada Grace yang berdiri di belakang nya.
" Baik yang mulia " jawab Grace sambil membungkuk hormat pada Arrabella dan melangkah pergi keluar dari ruang pribadi Ratu Clariness.
KLAK
Pintu ruangan itu tertutup rapat. Sylvia tersenyum ramah saat melihat Ratu Arrabella.
" Apa ada sesuatu di wajah ku?" tanya Arrabella yang bingung karena Sylvia terus menatapnya
" Ma.. maafkan atas kelancangan saya Baginda Ratu. Saya hanya terpesona melihat Baginda Ratu, seperti nya.. kata orang-orang tentang anda itu bukanlah rumor semata "
" Memangnya apa kata orang-orang tentangku? ada rumor apa?" tanya Arrabella
" Mereka berkata bahwa yang mulia sangat cantik, berkarisma dan anggun. Yang mulia Ratu juga orang yang pemberani. " Sylvia memuji Arrabella sambil mempertahankan senyuman nya.
" Kau pandai sekali memuji, nona Valton "
" Apa dia cocok menjadi selir untuk Aiden? dilihat-lihat seperti nya dia bukan wanita yang haus kekuasaan, dia sederhana dan aku suka keanggunan nya. Tapi, masalahnya.. apakah nanti aku bisa melihat Aiden dan wanita ini bermesraan di depanku? Tidak, aku tidak boleh mundur. Ini adalah pilihan ku, jadi aku harus menerima resikonya." batin Arrabella yakin
" Dia sangat cantik, berkarisma dan baik hati. Dia juga adalah Ratu yang disegani, dihormati dan disayangi rakyatnya, dia memiliki segalanya. Beruntung nya dia, aku ingin seperti dia.. " batin Sylvia berharap
" Saya hanya mengatakan kebenaran nya yang mulia " kata Sylvia merendah
" Dia tidak sombong, itu poin yang bagus " batu. Arrabella menilai Sylvia
" Begitu kah? apa kau tau rumor yang lainnya tentangku? ini bukan rumor yang baik " tanya Arrabella
" Saya tau, tapi saya tidak berani mengatakan nya pada yang mulia " jawab Sylvia dengan cepat
__ADS_1
" Dia orang yang jujur, jika orang lain.. mungkin mereka akan bilang kalau mereka tidak tau apapun. " batin Arrabella senang
" Kau tau tujuanku memanggilmu kemari, bukan?" tanya Arrabella sambil meneguk teh nya dengan pelan
" Saya tau yang mulia, anda sudah berbicara dengan ayah saya tentang ini. Dan ayah saya juga sudah setuju dengan yang mulia Ratu" jawab Sylvia
" Count Valton sudah setuju, tapi apa kau juga setuju?" tanya Arrabella tajam
Sylvia tersentak, ia terlihat berfikir dan melihat ke arah Arrabella dengan penuh pertanyaan. Arrabella juga menatap tajam gadis yang ada di hadapannya itu.
🍂🍂🍂
Sementara itu, Aiden dan beberapa teman-teman nya ( bangsawan ) pergi ke hutan Clariness untuk berburu.
JLEB
JLEB
Panah melesat dengan cepat menuju ke hewan buruan, mata berwarna hitam pekat. Dialah pemanah nya.
" Wah, seperti biasanya. Baginda Raja mendapatkan hewan buruan yang bagus " kata Duke Zena memuji
" Aku hanya sedang bersemangat saja, hari ini " kata Aiden sambil tersenyum
" Sebenarnya mood ku tidak baik setelah rapat tadi. " batin Aiden kesal
" Jangan dengarkan omongan mereka yang mulia. Duke Vantias mengatakan itu hanya karena ia ingin mencari-cari kesalahan yang mulia. Saya yakin, dan percaya akan adanya keajaiban. " kata Viscount Benedict menghibur Aiden
" Ya, Viscount kau benar juga " jawab Aiden malas
" Baru mendengar perkataan mereka saja aku sudah malas, lalu bagaimana dengan Naomi yang mengalami nya? apa dia juga merasa tidak nyaman sama seperti ku? dia pasti tertekan sekali.. apalagi hari ini pesta minum teh, tempat gosip dan rumor berkumpul. " batin Aiden cemas
Setelah berhasil memburu satu beruang dan satu rusa, Aiden berpamitan kepada semua bangsawan untuk pulang ke istana ebih awal sore itu. Ia ingin segera menemui istrinya, diperjalanan pulang ke istana ia mampir ke toko Pia Bakery dan ke toko bunga yang ada di tengah kota. Ia ditemani Lorenzo dan Demian juga.
Setiap keluar dari istana, atau pergi ke tempat ramai. Aiden, dan kedua teman nya itu selalu melakukan penyamaran agar tidak mencolok.
Di depan toko bunga..
Aiden sedang melihat-lihat bunga, disana banyak orang yang berlalu lalang meskipun hari sudah sore menjelang malam.
" Mood nya pasti akan membaik kan? aku harus memberinya dukungan, agar dia tidak terlalu tertekan. Selama ini aku tidak mengerti perasaan nya " batin Aiden merasa bersalah
" Tolong bungkus kan satu buket bunga mawar ungu ya !" ujar Aiden pada seorang pedagang bunga
'" Baik tuan ! tunggu sebentar ya " jawab nyonya pedagang bunga dengan nada yang ramah dan bersahabat
" Eh, kau dengar tidak rumornya tentang Baginda Ratu?" kata salah seorang nona bangsawan yang lewat
" Huss.. jangan sembarang berbicara tentang Baginda Ratu.. memangnya ada apa sih?" tanya seorang nona bangsawan penasaran
" Kabarnya tentang kemandulan Baginda Ratu itu memang benar ya, ini sudah 2 tahun kan? tapi Baginda Ratu belum juga memiliki keturunan. Padahal kerajaan kita membutuhkan penerus " bisik nona bangsawan itu
" Benar juga, kalau tidak melahirkan seorang anak. Apa gunanya jadi wanita? apalagi jadi Ratu.. solusinya ya hanya satu, seharusnya Ratu tau diri dan meminta cerai saja dari Baginda Raja " kata nona bangsawan itu sambil tersenyum tipis
" Ya, kau benar juga. Atau kalau Baginda Ratu tidak mau bercerai, beliau bisa mengadakan pemilihan selir untuk Baginda Raja. Memiliki selir kan itu sah sah saja di kerajaan kita "
" Benar sekali, kita kan tidak bisa menunggu yang mulia Ratu sampai mengandung. Sedangkan faktanya dia tidak bisa mempunyai anak "
Deg
Pembicaraan itu terdengar oleh Aiden, Demian dan Lorenzo yang berdiri tak jauh dari ke tiga nyonya bangsawan yang sedang bergosip itu. Aiden tercengang, dan bertanya-tanya apakah Arrabella sering di gosip kan seperti ini? Raja Clariness itu sangat marah dan rasanya ingin memotong-motong tubuh si para penggosip itu. Hati Aiden terasa sakit mendengar istrinya di hina seperti itu. Bukan hanya Aiden saja yang marah, tapi Demian dan Lorenzo juga ikut marah.
Aiden sudah siap-siap mengangkat pedang nya, tapi Lorenzo menghentikan nya.
" yang mulia, jangan ! tolong kendalikan diri anda " ujar Lorenzo sambil menahan pedang yang dipegang Aiden.
Aiden mendengus kesal dan kembali menyimpan pedangnya.
Raja Clariness itu sudah naik pitam, terutama kepada tiga nona bangsawan itu. Ia ingin membalas semua omongan mereka, tapi ia tidak bisa bertindak sembarangan.
" Demian, cari tau siapa ke tiga nyonya bangsawan yang tadi. Aku ingin informasi nya malam ini juga " kata Aiden dengan nada suara yang marah, pria itu mengepal tangannya seperti menahan kesal.
" Baik yang mulia " jawab Demian patuh
" Habislah ketiga nyonya bangsawan itu, kenapa mereka bicara sembarangan? kasihan Baginda Ratu jika mendengar ini secara langsung.. syukurlah yang mulia Ratu tidak ada disini " batin Demian merasa prihatin
" Rasanya aku ingin mencabik-cabik tubuh mereka dan menjadikan mereka makanan anjing ! keterlaluan sekali mereka menghina Naomi-ku .." batin Aiden sedih dan marah
Nyonya penjual bunga itu membawa buket bunga yang sudah dirangkai, dan ia memberikannya kepada Aiden.
" Terimakasih tuan, silahkan datang lagi " kara nyonya penjual bunga
Aiden hanya mengangguk dan pergi bersama kedua teman nya itu.
💧💧💧
Sesampainya di istana Clariness, Aiden dengan membawa buket bunga ditangannya berjalan dengan cepat karena ingin segera bertemu dengan Arrabella. Saat Raja Clariness itu berjalan di tangga dengan terburu-buru, tak sengaja ia menabrak seorang gadis hingga jatuh. Dan dia adalah Sylvia..
" Ah.. ! aduh !"
__ADS_1
" Maaf, aku tidak sengaja. Kau baik-baik saja?" tanya Aiden dingin
" Baginda Raja apa anda baik baik saja?" tanya Lorenzo sambil melihat ke arah Aiden
" Woah.. jadi dia adalah Baginda Raja, tampan sekali. Beruntung sekali Ratu Arrabella itu " batin Sylvia sambil tersenyum dan terpesona melihat Aiden
" Aku baik-baik saja, kau bantu gadis ini berdiri " ujar Aiden yang melangkah pergi begitu saja meninggalkan Sylvia yang masih duduk di lantai.
Lorenzo mengulurkan tangannya dan menolong Sylvia untuk berdiri.
" Tolong maafkan yang mulia Raja, beliau sedang buru buru " kata Lorenzo
" Aku harus mengejar Baginda Raja " batin Sylvia
Sylvia berlari dan mengejar Aiden yang berjalan belum jauh di lorong istana itu. Dengan sengaja Sylvia memeluk Aiden. Raja Clariness itu marah dan mendorong Sylvia.
Tepat saat mereka terlihat berpelukan, Camille dan Arrabella melihat itu. Ratu Clariness itu berusaha agar tidak memperlihatkan bahwa ia cemburu, ia berusaha tenang. Karena ini memang skenario nya. Camille dan Arrabella melihat Aiden dari jauh.
" Apa apaan gadis itu? Yang mulia Ratu, dia mencoba untuk merayu Baginda Raja loh !" Camille terlihat tidak suka melihat Sylvia.
" Biarkan saja, kita kembali saja dan bersiap untuk makan malam " kata Arrabella dengan nada tenang
" tapi yang mulia Ratu.."
Camille terpana melihat Arrabella yang terlihat biasa saja melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain. Tapi, Camille tau dari tatapan mata nya, bahwa wanita itu sedang menyembunyikan lukanya. Daisy yang ada dibelakang Arrabella juga kaget melihat Arrabella bersikap tenang seperti itu.
" Kenapa Ratu bersikap seperti ini? " batin Daisy kaget
Entah apa yang dibicarakan oleh Aiden dan Sylvia. Wajah pria itu terlihat marah, Camille berpendapat bahwa kakak nya itu mengusir Sylvia.
Sementara Arrabella terus berjalan, ia seperti tidak ingin melihat apa yang terjadi diantara Aiden dan Sylvia. Aiden berlari menghampirinya Arrabella yang belum jauh darinya.
Drap
Drap
Drap
" Selamat malam yang mulia " kata Arrabella menyapa suaminya itu dengan penuh hormat
" Selamat malam, katamu?" tanya Aiden yang terlihat kesal
" Ada apa dengan atmosfer ini? kenapa kak Aiden terlihat sangat marah " batin Camille yang cemas melihat raut wajah Aiden yang marah dan raut wajah Arrabella yang tenang
" Sepertinya dia sudah tau, makanya dia bereskpresi seperti ini " batin Arrabella sudah menduga
" Mari kita makan malam bersama bersama, yang mulia " Arrabella mengajak dengan ramah
" Bagaimana bisa kau tersenyum seperti ini sekarang? " batin Aiden kesal
" Putri Camille, pergilah duluan ke ruang makan. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Ratu " ujar Aiden kepada adik nya itu.
" Baiklah yang mulia Raja, aku duluan ya. Kalian jangan bertengkar ya, " kata Camille mencemaskan kedua orang itu.
Camille masuk ke ruang makan.
Sementara Arrabella dan Aiden saling bertatapan. Aiden terlihat kesal dan sedih melihat istrinya itu.
" Bukankah kau habis pulang berburu, kita makan dulu saja. Setelah itu baru bicara " kata Arrabella cemas
" Kau masih mencemaskan ku sekarang? bagaimana aku bisa makan dengan tenang, kalau keadaan nya seperti ini?" tanya Aiden sedih
Wanita itu melihat bunga yang sedang dipegang oleh Aiden. Akhirnya mereka berbicara secara privat di kamar mereka. Aiden mengatakan bahwa ia sudah tau semuanya dari Sylvia bahwa Arrabella memilih wanita itu untuk menjadi selirnya.
Aiden marah dan kecewa pada istrinya itu, dia mengambil langkah yang berat tanpa membicarakan dulu dengannya.
" aku mengerti, kau seperti ini karena rumor dan gosip yang beredar. Tapi, kau tidak perlu sejauh ini. Abaikan saja rumor dan gosip itu !"
" Rumor? gosip? itu bukan rumor atau gosip, yang mereka katakan itu adalah fakta. Dan sebagai Ratu negeri ini aku tidak bisa mengabaikan nya " kata Arrabella sambil menahan air matanya
Aiden tak bisa menyangkal apa yang dikatakan Arrabella. Pria itu berusaha menghibur Arrabella agar hatinya tidak terlalu tertekan, ia berusaha bersikap lembut dan memberikan bunga pada istrinya itu. Membujuk istrinya agar menarik kembali perintah nya memilih selir.
" Kumohon jangan seperti ini, Naomi.. " Aiden memohon dengan sangat kepada istrinya.
" Aku juga tidak mau seperti ini, tapi mungkin ini sudah takdirnya. Kau harus menikahi wanita itu " kata Arrabella
" Apa kau mencintaiku? apa kau pernah sekalipun mencintaiku?" tanya Aiden yang sudah habis kesabaran nya
" Bicara apa kau ini? kenapa kau menanyakan hal yang sudah pasti jawabannya!" seru Arrabella
" Lalu kenapa kau melakukan ini? jangan bilang ini agar aku bahagia, atau demi kerajaan, ini hanyalah demi keegoisan mu saja kan?!!" teriak Aiden marah
" Aku tidak egois.. Aiden, aku melakukan ini demi dirimu " batin Arrabella sedih
" Aku tidak akan pernah mau menikah dengan wanita lain, selain dirimu. Kau tidak akan pernah bisa memaksa seorang Raja " kata Aiden tegas
Ratu Clariness itu terkejut mendengar nya.
...----***----...
__ADS_1