Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Diperas


__ADS_3

"Kalian pulanglah dulu.Aku ingin melihat secara langsung, bagaimana karyawanku melayani tamu?" ucap Arya setelah penghinaan terhadapnya selesai diatasi.


"Maaf tuan muda!. Bagaimana kalau kejadian di gerbang ini terjadi lagi. Jadi mohon izinkan kami untuk mendampingi anda!" reaksi Dave tua tidak terima.


"Kalau begitu kalian masuk kedalam dulu. Aku masih ingin berada disini. Menemani paman Yaksa juga yang lain menerima tamu."jawab Arya.


"Baik! Akan kami lakukan. Tapi tolong jangan marah, kalau tuan akan kami awasi, karena kami tidak mau kejadian tadi terulang lagi!"jawab Prana.


"Terserah kalian!" jawab Arya cukup ringan. Kemudian meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi. Lalu menuju restoran tempat orang orang kaya biasa makan.


"Tolong tunjukkan kartu anggotanya tuan!" sapa seorang resepsionis cukup sopan. Sesaat setelah Arya sampai di tempat yang ingin dikunjunginya.


"Kartu anggota? Apa tidak boleh masuk dan langsung makan?"respon Arya keheranan.


"Bisa tuan! Tapi harus janji dulu atau reservasi, dan akan ditempatkan pada kamar yang dipesan!" ucapnya lagi.


"Lalu bagaimana kalau tidak reservasi? Apa tidak bisa makan walau orang sudah kelaparan?"tanya Arya.


"Iya tuan!"jawab Vania.


"Kenapa? Siapa yang membuat aturannya. Apakah pemilik perusahaan?" cecar Arya.


"Kau mau makan atau Wawancara? Ini restoran. Apa kau mau melamar kerja. Tidak jelas kah penjelasan dari si bodoh ini? yaitu orang yang tidak reservasi tidak diperkenankan masuk, kecuali kalau mempunyai kartu anggota?" ujar rekan kerja Vania cukup arogan.


"Kak Nadia! Dia calon pelanggan kita. Jadi bersikap lunak sedikit saja kenapa?" protes Vania tidak suka.


Plak!


"Ahh!" jerit Vania kesakitan.


"Jangan kurang ajar kau ya! Baru karyawan magang saja sudah sok mengatur ku. Pergi sana, dan biarkan aku yang akan mengusir orang tak tahu diri ini!"reaksi Nadia tidak terima.sambil mendorong tubuh Vania, hingga tersungkur ke lantai dan menabrak kaki meja.


Arya yang melihat itu jadi geram. Dia ingin langsung melabrak karyawan yang bernama Nadia untuk diberi pelajaran.Tapi segera diurungkannya, karena dia ingin mencari siapa orang yang ada dibelakangnya.


"Masih belum pergi juga kau gembel? Disini restoran mahal!Jadi jangan bermimpi untuk bisa memasukinya. Kecuali kalau kau sanggup membayar deposit seharga 75 juta, baru kau akan diizinkan masuk. Jika tidak. pergi sana!" ucap Nadia sangat kasar.


"Baik! Aku akan menyerahkan depositnya." jawab Arya cuek saja.


"Hehehe! Apa kau yakin?"reaksi Nadia.


"Ya, aku yakin. Ini uangnya!"jawab Arya santai saja. Sambil pura pura merogoh saku celananya. Lalu mengambil ATM dari sana.


Nadia yang melihat itu sempat terpana. Tapi kemudian biasa biasa saja, dan berkata."Kemari kan uangnya! Eh maksud ku ATM nya. Sebutkan pin nya, agar aku bisa menarik sejumlah yang aku minta."


"Jika kau bohong, maka bersiap siaplah untuk digelandang satpam dan di seret kesana!" ucapnya.


"Ini rumah makan atau sarang maling. Bagaimana aku akan menyebutkan pin nya pada orang yang tidak aku kenal?. Ada ada saja!"respon Arya sudah mulai kesal.


Reaksi Nadia."Dengar ya bocah!. Ini memang sudah aturannya. Pelanggan yang tidak mempunyai kartu anggota atau temu janji. Jangan harap bisa makan disini. Dengar kau?" kasar Nadia dalam menanggapinya.


"Aturan dari mana dan siapa yang...?"tanya Arya tapi dipotong perkataannya.


"Aturan dari ku Jadi kau mau apa?" ucap seseorang yang tiba tiba datang menyela.

__ADS_1


"Manajer!" respon Nadia.


"Kerja bagus! Terus desak dia, agar mau memberikan nomor


pin nya. Setelah dapat langsung kuras isinya." bisik Raksa di telinga Nadia.


"Huh! Mau menipu ku ya? Tunggu saja!"Batin Arya. Lalu berpura pura seperti mengingat ingat berapa nomor pin ATM nya.


"Anu? Begini!" ucap Arya pura pura gugup. Aku lupa nomor pin nya. Apa bisa masuk ke dalam begitu saja. dan setelah makan baru gesek kartu itu di mesin pembayarannya. Bagaimana?" ujarnya.


"Tidak bisa! Bayar dulu deposit pembayarannya. Setelah itu baru boleh masuk. Jika tidak..?" jawab Nadia sambil mengancam.


"Kalau tidak apa?" tanya Dave tua yang mendengar percakapan tersebut merasa geram.


"Tu tu tuan Dave? Silakan masuk ke dalam!" respon Reksa langsung ketakutan.


"Pakai kartu anggota?" sindirnya.


"Ti ti tidak tuan! Hanya berlaku bagi yang tidak di kenal saja." jawab Reksa.


"Apa termasuk orang ini?" tanya Dave kembali.


"I i iya tuan!"


Plak!


Bugh!


"Kurang ajar! Lihat dulu pada siapa kau bicara. Orang yang kau peras tadi adalah pemilik restoran ini. Apa kau mau mati?" reaksi Prana tidak sabar jadinya.


"Urus tikus tikus ini! Aku tidak ingin keberadaan mereka dibiarkan!"


"Usut siapa siapa saja yang sering melakukan kecurangan!" ucap Arya.


"Baik tuan muda!" jawab Prana juga yang lain serempak. Kemudian berpaling pada dua orang yang telah berani memeras Arya dan langsung berkata."Pergi kalian dari sini. Nanti tim ku akan datang untuk membuat perhitungan dengan kalian!" ucap Dave tua pada karyawan Arya.


"Tu tu tuan muda!. Tolong ampuni hamba. Sungguh kami tidak tahu kalau..?"reaksi Reksa gugup jadinya.


Bugh!


"Masih berani juga!. Master Prana! Seret orang ini dan ikat tangannya, serta introgasi siapa siapa saja yang terlibat di dalamnya!" ucap Dave tua mewakili Arya.


"Siapa nama mu?" tanya Arya.


"Vania tuan muda!"jawabnya


"Kau karyawan magang ya? Sudah berapa lama?" tanya Arya lagi.


"Baru enam bulan tuan. Itupun sering di suruh berhenti bekerja karena saya...?" jawab Vania ragu ragu.


"Dimintai uang?" sambung Arya.


"Be be benar tuan muda!"jawab Vania.

__ADS_1


"Oleh orang orang itu?"ucap Arya.


"Ya tuan muda!" Berani Vania dalam menjawabnya.


"Ya sudah! Mereka telah di pecat, dan akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku."reaksi Arya.


"Siap tuan muda!"reaksi Vania mulai lega


"Oh ya? Walau berstatus magang. Tapi ku amati kualitas pelayanan mu cukup bagus. Jadi mulai saat ini, kamu yang akan menggantikan orang itu."


"Jangan khawatir, kamu tidak sendiri. Aku juga mengangkat orang orang yang akan aku pilih. untuk menggantikan orang yang tidak becus itu."


"Mengenai siapa yang akan menjaga ruang informasi ini. Serahkan pada ahlinya."ujar Arya.


"Tapi tuan..?" protes Vania.


"Tidak ada tapi tapi. kerjakan saja!" bantah Arya.


"Baik tuan muda. Akan saya coba!" reaksi Vania bersuka cita.


Entah mimpi apa Vania semalam. Baru saja lututnya cidera karena tubuhnya di dorong oleh Nadia. Tiba tiba saja ketiban durian runtuh, dan langsung naik jabatannya.


Tidak tanggung tanggung. Langsung menjadi pemimpin tertinggi restoran, membawahi ratusan karyawan yang ada."Apa ada yang keberatan?" tanya Arya, saat dipertemukan dengan para petinggi restorannya.


"Tidak tuan muda!" serempak mereka menjawabnya.Walau di dalam hati merasa tidak senang.dan pada masanya nanti, akan membuat perhitungan.


Satu setengah jam kemudian. Arya dan rekan rekannya sudah selesai makan. Namun secara diam diam dia memberi arahan, pada dua orang kepercayaannya untuk membersihkan tikus tikus perusahaan, dan langsung diberi hukuman.


Akhirnya tidak sampai sepuluh menit. 31 orang karyawan berhasil diamankan. Dari mulai karyawan senior, sampai kepada bawahan. Termasuk lima orang karyawan magang. dan kepada mereka Arya menetapkan hukuman tidak ringan. Dipecat dan harus mengembalikan uang perusahaan yang mereka curi, serta menyita harta kekayaan mereka.


Dengan demikian. Ada 47 orang karyawan yang terkena penjaringan. Dipecat dengan tidak hormat, serta dihukum tidak ringan. Dari pada harus mendekam di penjara.


Maka mulai malam itu. Karyawan jujur yang masih tersisa jadi tahu. bahwa pemilik tempat hiburan sekaligus restoran mewah itu adalah Arya. Walau dengan isi kepala penuh dengan tanda tanya.


Kekuasaannya sangat besar. Kenal dengan orang orang penting, bahkan mereka mendukungnya.


Terhadap Vania merekapun tidak berani macam macam. Terbukti orang orang yang ingin membuat perhitungan dengannya rontok semua. Padahal sejatinya mereka ingin tetap bertahan, dan mengeruk keuntungan semakin dalam.


Namun karena Arya. Posisi nyaman mereka jadi bergeser. Bahkan dipecat karenanya. Bahkan didenda lagi. Ini baru satu perusahaan, bagaimana dengan perusahaan perusahaan lainnya. Mungkin masih banyak tikus tikus yang berkeliaran. Maling berkedok pekerja dibalik penampilan.


Nampaknya harus ada tim pengawasan. Arga dan Yun Cha lah pilihannya. Karena cctv bisa dimodifikasi, dihapus dan dipalsukan. Tapi keberadaan mereka berdua, ditambah dengan ribuan anak buahnya tidak akan ketahuan.


Karena kasus itulah Arya jadi bertanya tanya. Apa sudah tidak ada lagi orang jujur di muka bumi ini? Dimana mana ada maling. Setiap hari kerjanya menumpuk kekayaan. Tidak peduli diluaran sana masih banyak orang yang kelaparan. Mungkin Itu yang dinamakan definisi kekuasaan?


***


Tujuh jam kemudian. atau tepatnya pukul 5 pagi. Arya sudah bangun, dan akan beraktifitas sesudahnya.


"Hari libur begini mau kemana ya?" batin Arya saat tubuhnya masih berada di atas tempat tidur.


"Bagaimana kalau mengajak Manda jalan jalan. Pun sudah lama tidak bersama dengannya saat di luaran?"monolognya lagi.


Tok! tok! tok!

__ADS_1


Tok! tok! tok!


"Eh? Siapa yang pagi pagi begini datang bertamu?"Guman Arya, sambil melepaskan persepsinya ke seluruh ruangan, dan meneruskannya ke depan pintu.


__ADS_2