
"Untuk masalah itu saya tidak begitu tahu detailnya ketua! Konsorsium atau group besar yang selama ratusan tahun merajai dunia, menurut kabarnya ada dibalik itu? Namun siapa pemiliknya tidak ada yang tahu?" jawab Wangkara apa adanya.
"Hemm! Ternyata begitu? Pantas bocah itu berani menerimanya. Dia kira apartemen tersebut berasal dari organisasi kecilnya. Jadi dia mau menggunakannya."
"Kalau dia tahu bahwa pemilik yang sesungguhnya bukanlah dia, mungkin dia akan mati rasa?" respon Wasudewa mengerti akhirnya.
"Hehehehe! Ternyata otak mu cerdas juga Wasu? Tapi sudah sangat terlambat."
"Orang yang akan kau hadapi bukankah orang sembarangan. Dia cicit dari abdi ku yang paling setia."
"Karena pengabdiannya itu, aku memberikan kepada leluhurnya sebuah kekuatan, yang bisa merubah benda menjadi emas, juga merobek ruang waktu untuk mendirikan kerajaan."
"Jika kau ingin berurusan dengannya, maka bersiaplah untuk berhadapan dengan Wangsa Dewa dan saudara saudaranya itu, juga keturunannya." Guman seorang pria yang menyerupai seseorang sakti pada jaman dulu. Lalu menghilang sesudahnya.
"Apa kau sudah lupa pada tuan mu Wangsa?" ucap seorang pria bermahkota pada abdinya, yang sedang bersemedi di lautan spritual Arya.
"Yang mulia Ditya Prabu. Apakah benar itu anda?" reaksi Wangsa terkejut dibuatnya. Lalu buru buru bersujud di depannya.
"Kalau bukan aku siapa lagi Wangsa?" jawab Ditya.
"Sungguh hamba tidak menyangka akan bisa bertemu dengan anda lagi yang mulia? Hamba kira tuan ku sudah moksa dan tinggal di nirwana?" ujarnya.
"Hus! Aku memang sudah mati! Tapi berkat cicit keturunanku. Jiwa ku bisa dipanggil kembali. Dan sekarang pecahan jiwa ku ada di tubuhnya."
"Apalagi setelah dia mampu menyerap semua ilmu ku juga ilmu ilmu semesta. Laduni juga ilmu dewa. Menjadikan jiwa ku semakin nyata, dan sekarang baru bisa kemana mana."
"Kebetulan dalam pengembaraan ku. Aku melihat sebuah aura yang mirip dengan aura mu. Jadi aku segera memindainya. Siapa tahu dari sana aku bisa menemukan murid murid ku, sekaligus abdi ku yang paling setia?"
"Ternyata usaha ku tidak sia sia. Orang pertama yang aku temui adalah kamu. Yang bersembunyi ditubuh seorang pemuda bernama Arya. Jadi aku bergegas menemui mu, untuk memastikan kebenarannya." jawab Ditya.
"Maafkan hamba yang mulia. Hamba terpaksa bersembunyi ditubuh anak itu, karena sampai sekarang terus dikejar oleh Baureksa, dari klan dewa, saudara sepupu Prabudita, yang tewas di tangan Arya."
"Jika hamba tidak bersembunyi disana, maka jiwaku tidak akan bisa moksa, dan melihat cucu keturunan ku kembali jaya!" ucap Wangsa apa adanya.
"Kemana Jayabaya.Maladewa juga Yun Wangsa? Kenapa sampai sekarang mereka belum datang? Apakah mereka juga sudah tiada?" ucap Ditya mengejutkan Wangsa.
__ADS_1
"Apakah yang mulia tahu tentang mereka?" reaksi Wangsa.
"Ya! Aku tahu mereka berkat cucu keturunanku yang sakti mandraguna. Apalagi setelah putra pertamanya lahir. Kekuatannya sudah tidak ada duanya."
"Cucumu yang bernama Arya ini. tidak ada apa apa dengannya. Melawan putranya saja kalah, apalagi orang tuanya?" jawab Ditya.
"Kalau boleh hamba tahu siapa orang itu yang mulia? Siapa tahu cucu ku ini akan ketemu dengannya?" reaksi Wangsa.
"Pangeran Sutawijaya! Putra dari Dragon Birawa. Cucu Dion Mahesa Birawa!" jawab Ditya apa adanya.
"Dimanakah yang mulia pangeran Suta saat ini yang mulia? Agar bila Arya ketemu tidak akan menimbulkan kemurkaannya." tanya Wangsa.
"Saat ini dia sedang berada di padepokan yang sama dengan cucu mu Arya. Cuma tingkatnya saja yang berbeda."
"Pangeran Suta sekarang berada di perguruan dalam. Sedangkan cucu mu ini masih menjadi murid luar. Jadi kemungkinan mereka berdua akan sulit untuk bertemu. Kecuali Arya mampu mensejajarkan kedudukannya di perguruan?" jawab Ditya.
"Maksud yang mulia pangeran Suta juga berada di padepokan ini untuk menuntut ilmu dunia?" Tanya Wangsa.
"Kurang lebih begitu. Tapi tepatnya aku kurang tahu?"
"Kau peringatkan saja pada cucumu, agar tidak mencari gara gara dengannya." jawab Ditya tidak berdaya.
"Apakah kau juga merasakannya Wangsa?" tanya Ditya heran dibuatnya.
"Iya yang mulia! Itupun berkat ilmu yang anda berikan pada hamba. Jadi hamba bisa merasakan kemunculan aura aneh dari dalam laut Ara."
"Jika tebakan ku benar. Kemunculannya akibat terusik dengan kegiatan cucu hamba, yang berkeinginan membangun kembali trah Wangsa disana?"
"Jika itu benar. Maka dunia akan merasakan dampaknya." jawab Wangsa mantap hatinya.
"Kalau kau sudah tahu, kenapa tidak memberitahunya. Kenapa kau malah diam saja?" reaksi Ditya heran dibuatnya.
"Hamba belum begitu yakin yang mulia. Karena getarannya hanya terasa sekali. Sedangkan auranya menghilang sesudahnya." jawab Wangsa apa adanya.
"Kau nya saja yang sekarang lemah. Padahal getarannya terjadi berulang kali. Akibat terusik pemancangan tiang juga penimbunan rawa dan sebagainya."
__ADS_1
"Jika itu terus terjadi. Perkiraan ku mengatakan. dalam waktu yang tidak lama, makhluk berwujud naga itu akan keluar dari istananya, dan menghancurkan apa yang sudah dibuat Arya." ucap Ditya.
"Jadi macam mana yang mulia? Apakah hamba perlu turun tangan, dengan menggunakan warisan yang mulia berikan itu. Atau apakah harus mengorbankan cucu hamba untuk menanganinya?" tanya Wangsa panik dibuatnya.
"Aku rasa tidak perlu! Tubuh anak ini tidak biasa. Ada kekuatan yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa."
"Walau tingkatannya jauh lebih rendah dari milik Suta. Tapi kekuatannya sudah mampu meledakkan pesilat di level semesta. Namun itupun tergantung dari pengalamannya."
"Jika dia turun tangan. Aku yakin dia akan bisa disejajarkan dengan kehebatan Suta dalam hal keberuntungan. Namun sekali lagi dibutuhkan keberanian."
"Jadi biarkan dia menjadi Arya yang sesungguhnya. Yaitu Arya Sang Penakluk Naga!" jawab Ditya.
"Baiklah kalau begitu yang mulia! Hamba ikut saja. Mudah mudahan yang mulia pangeran Suta mau turun tangan, guna membantu cucu hamba?" respon Wangsa penuh berharap pada junjungannya.
"Kau siapkan saja mental mu wangsa! Karena pangeran Suta itu bukan manusia biasa. Dia jelmaan makhluk tertinggi di alam semesta."
"Jangankan Dasamuka. Ziangga atau Dirgantara. Ratu ular terkuat di seluruh alam semesta saja bukan tandingannya."
"Mungkin jika kita bertarung walau berdua. Belum tentu bisa mengalahkannya, kecuali Dragon Sang Naga Dunia, yaitu ayahnya. Karena dia itu bagaikan dewa. yang tidak akan mati walau petasan nuklir yang meledakkannya."
"Kekuatannya sudah tidak terukur lagi. Begitu juga dengan adiknya Dyah Isma Prameswari. Mereka berdua sudah moksa. Dalam artian mengasingkan diri. Tapi sekali kali muncul kembali ke dunia. bila keadaan membutuhkan kehadiran mereka." ucap Ditya menjelaskan keadaan cucu cucunya.
"Semengerikan itukah kekuatannya yang mulia ? Apa tidak ada lagi senjata yang mampu melukai mereka?" tanya Wangsa lemas dibuatnya.
"Aku rasa sudah tidak ada. Karena waktu terjadi perang dengan Ziangga serta keturunannya. Hanya dengan sekali lihat, tubuhnya jadi hancur semua. Yang dibunuh oleh cucu mu itu hanya bayangannya saja. Sedangkan raga aslinya dihancurkan oleh Suta." jawab Ditya.
"Luar biasa! Hamba kira cuma cucu hamba yang mempunyai kekuatan sehebat itu? Ternyata masih ada orang lain, dan dia tidak mampu mengalahkannya." keluh Wangsa.
"Yang penting mereka berdua bukan musuh. Mungkin antara hamba dan majikan?"
"Tapi itu terpulang Suta dan Arya. Apakah mereka berdua akan akur. karena mereka berdua sama sama seorang pengusaha."
"Lagipula usia mereka tidak terpaut jauh. Suta sekarang sudah 20 tahun. Sedangkan Arya mungkin baru 18. Jadi perbedaan mereka tidak begitu kentara, dan masih bisa dikejar ketertinggalannya?" jawab Ditya.
"Baiklah Wangsa. Aku pergi dulu. Katakan pada Jayabaya, Yun Wangsa juga Maladewa, bahwa suatu saat nanti aku akan menemui mereka untuk memberikan hukuman!" ucap Ditya.
__ADS_1
"Ba ba baik yang mulia! Akan hamba sampaikan!" jawab Wangsa cukup ketakutan.
Dia tidak menyangka kalau raja, majikan serta junjungannya dulu akan berkata begitu. Apalagi ini mengenai hukuman. Tapi hukuman yang seperti apa? Apakah hukuman mati atau hukuman ringan. Wangsa belum bisa menebaknya.