Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Bersekongkol


__ADS_3

Satu jam kemudian. Seluruh transaksi pembelian tanah sudah selesai dilakukan. Kini Arya telah menjadi pemilik tanah itu, dan tidak ada lagi yang berhak melarangnya untuk tinggal di sana.


Seluruh penduduk kampung yang dulunya meremehkan Arya, sekarang mendadak menjadi takut dan segan padanya. Termasuk ketua kampung juga kepala desanya.


Sikap mereka tiba tiba berubah, dan hormat sekali pada Arya, serta berusaha untuk menyenangkan hatinya.


Perubahan sikap itu tentu saja diketahui oleh Arya. dan tidak menanggapinya secara serius. Dia malah bersikap jumawa, untuk sekedar memberi pelajaran pada mereka, bahwa merendahkan orang lain itu tidak baik.


"Arya!. Eh tuan muda Arya!. Mohon maafkan sikap kami selama ini. Sungguh kami telah dibuat buta, karena tidak tahu tingginya gunung di depan mata."


"Jadi mohon jangan diambil hati. Karena kami tidak tahu siapa anda. Sekarang katakan saja, apa yang bisa kami lakukan untuk anda?" Ujar kepala desa cukup sopan, dengan ekspresi hormat yang dibuat buat.


"Sudahlah, jangan dibahas lagi, karena masih banyak yang lebih penting daripada itu."


"Sekarang aku ingin fokus, untuk menggarap tanah ini, karena dalam tiga hari, tempat ini harus sudah bersih dari sampah sampah itu. Jadi mohon jangan menghalangi jalan ku. Permisi!" Reaksi Arya cukup tegas, dan sungguh membuat orang yang mendengarnya jadi bergidik ngeri. Lalu pergi.


"Kurang ajar!. Sombong betul dia sekarang. Beraninya tidak hormat lagi pada kita. Lihatlah sikapnya tadi, luar biasa arogan!" Reaksi si Danu merasa tidak senang.


"Ya wajarlah!. Sekarang dia sudah kaya. Berteman dengan orang terkaya pula. Ditambah lagi dengan anak buahnya yang banyak. Jadi tidak menghormati kita lagi. Yah biarkan saja." Respon kepala desa ikut menimpali.


"Tidak boleh dibiarkan. Mentang mentang sudah kaya, tidak memandang kita lagi. Dasar manusia lupa diri!" Bantah Danu tetap tidak senang.


"Lalu apa yang akan kau lakukan, menentangnya?, atau menghalanginya. Memangnya kau bisa?" Tanggapan Lesmana cukup merendahkan.


"Lihat saja nanti. Aku akan menggagalkan usahanya itu." Jawab Danu penuh rencana.


"Bagaimana caranya?" Respon kepala desa penasaran.


"Begini!" Jawabnya tenang. Lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Lesmana, dan membisikkan sesuatu padanya, hingga membuat Lesmana mengangguk tanda paham. Dan tak lama kemudian dia pun tersenyum senang.


Tapi tanpa disadari oleh mereka, anak buah Arga sudah menguping apa yang mereka bicarakan, bahkan merekam ucapan mereka, walau diucapkan dengan cara berbisik.


"Hati hati!. Jangan Gegabah!. Arya yang sekarang bukan Arya yang dulu?"


"Sekarang pendukungnya cukup banyak.Jika salah dalam bertindak, akibatnya sangat mengerikan, ingat itu!. Jadi jangan bertindak sembarangan" Reaksi kepala distrik Pranaya sekedar mengingatkan.


"Saudara Pranaya tenang saja!. Masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan anda, atau yang akan melibatkan anda."


"Jadi saudara boleh bawa betenang, karena yang akan melakukannya itu kami berdua. dan tidak akan melibatkan anda." Jawab Lesmana mewakili sahabatnya. Sambil tertawa tawa senang.


"Lapor yang mulia.Tiga orang itu sedang membicarakan anda. Mereka, terutama yang dua orang itu, berencana ingin menggagalkan rencana, dengan menggunakan isu, bahwa yang mulia telah menjadi simpanan orang kaya di kota. Juga telah menjadi orang yang paling dicari oleh pihak berwenang." Ujar Arga melaporkan pada tuannya.


"Mereka berkata begitu?" Respon Arya tidak senang.

__ADS_1


"Benar yang mulia!. Bahkan rencananya akan dilaksanakan hari ini juga, yaitu sesaat setelah Dave tua pergi, juga anak buah nya itu."


"Jadi bagaimana yang mulia, apakah rencana mereka akan dibiarkan. begitu saja tanpa ada usaha pencegahan?" Jawab Arga melaporkan.


"Gagalkan saja!. Buat mereka yang akan memetik hasilnya. Bahkan yang akan membuat mereka terusir dari kampung ini, karena aku sudah sangat bosan dengan sikap mereka yang sewenang wenang itu!" Jawab Arya tegas juga.


"Siap yang mulia!" Respon Arga berubah jadi senang.


"Master dewa!. Karena masalah tanah ini sudah selesai. mohon izinkan kami kembali ke ibukota, karena masih ada sesuatu yang harus dilakukan di sana." Ujar Dave tua sopan, pada Arya, setelah berbincang empat mata dengan Bhaskara.


"Apa tidak sebaiknya besok saja tuan Dave, karena ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan anda." Ujar Bhaskara mendahului Arya.


"Bukankah segala sesuatu sudah kita bicarakan tadi, apa masih ada yang perlu kita bahas lagi?" Jawab Dave tua keheranan.


"Masih ada yang belum berani saya bicarakan dengan anda, karena menunggu persetujuan dari master dewa, apakah boleh atau tidak?" Jawabnya menimbulkan tanda tanya.


"Tentang apa itu?" Tanya Dave tua jadi penasaran.


"Tentang mereka. Barusan telingaku ada mendengar, bahwa mereka ingin menggagalkan rencana tuan muda, karena ada dua orang yang sangat membencinya."


"Siapa?"


"Kepala desa dan kepala kampung ini. Mereka merasa tidak dihargai lagi oleh master Arya, karena katanya tuan muda sudah tidak manut lagi pada mereka. jadi?"


"Dari mana kau tahu berita itu?. apakah kau punya mata mata?" Respon Dave tua memotong penjelasan dari anak buahnya.


"Jadi menurut saya, orang orang itu harus diberi pelajaran!" Jawab Bhaskara berterus terang.


"Kurang ajar!, beraninya mereka?" Respon Dave tua tidak senang. Kemudian menyuruh orang orangnya untuk mengambil paksa kedua orang itu, lalu mengintrogasinya.


"Beraninya kalian ingin mencelakai orang ku?. Apakah kalian tidak tahu kalau dia berada dibawah perlindunganku?" Ucap Dave tua sesaat setelah Danu dan Lesmana sampai dihadapannya.


"Apa yang tuan bicarakan? memangnya kami salah apa?" Respon Lesmana langsung mengajukan pertanyaan.


"Salah apa?. Kalian dengar ini!" Reaksi Dave tua tidak suka. Kemudian memutar rekaman suara yang berisi percakapan antara mereka berdua. Ditambah dengan suara kepala distrik setempat.


Benar saja seperti yang diperkirakan. Mereka bertiga tidak bisa mengelak dari tuduhan, terutama Danu dan Lesmana. Dan akhirnya mereka mengakui perbuatannya, karena berada di bawah tekanan.


"Tuan muda Arya! Mohon maafkan kami. Sungguh kami tidak bermaksud demikian. Kami hanya ingin..?" Ujar Lesmana mencoba memberi penjelasan.


"Diam!. Sudah terbukti bersalah masih ngotot juga!. Dasar orang orang tidak punya perasan!"


"Daerah tidak maju begini, yang bakal dibangun perusahaan, ingin pula kalian gagalkan. Memang ini kampung milik nenek moyang kalian, ha?"

__ADS_1


"Ini tanah milik tuan kami!. Terserah dia mau berbuat apa?. kalian tidak berhak ikut campur, walau kalian itu perangkat desa!"


"Jadi atas kesalahan kalian itu, aku akan membawa kalian ke pengadilan!" Ucap Bhaskara dengan ekspresi tidak senang.


"Tuan Bhaskara!.Mohon dengar dulu penjelasan ku. Kami cuma..?"Bantah Lesmana mencoba mencari alasan.


"Cukup!. Jangan beralasan lagi!. Sudah jelas jelas kalian punya niat untuk mencelakai tuan kami. masih juga mencari pembenaran. Kalian pikir kami akan tinggal diam!" Hardik Bhaskara cukup garang.


"Pengawal!.Tembak orang orang ini, dan buang mayatnya di hutan!" Perintah Bhaskara cukup mengejutkan.


"A a ampun tuan!. Jangan bunuh kami. Kami berjanji akan pergi dari kampung ini, dan tidak akan kembali lagi." Reaksi Lesmana dan Danu berbarengan.


"Tuan muda. Apakah anda puas dengan pelayan ku?. Katakan saja mereka mau diapakan, tinggal bilang saja, maka dor!" Ujar Bhaskara pada Arya.


"Lepaskan mereka. Aku tidak ingin membuat masalah di kampung ku sendiri. Jika mereka mau pergi silakan. Mau tetap tinggal pun boleh?"


"Bagaimana pun mereka penduduk kampung ini, penatua lagi. Jadi lepaskan mereka biar mereka menyadari kesalahannya." Jawab Arya cukup bijaksana.


"Kalian dengar itu?. Nyawa kalian telah diampuni oleh tuan muda. Mulai sekarang, jangan lagi berani macam macam dengannya!"


"Jika dikemudian hari aku dengar kalian berani mengganggunya lagi, Maka siap siap kami akan membuat perhitungan dengan kalian!" Ujar Bhaskara sekedar mengingatkan.


"Penakut juga dua orang itu. baru digertak begitu saja sudah ngompol di celana. Padahal Bhaskara bukannya serius. Dia hanya menggertak saja. Tapi mereka sudah ketakutan seperti itu. Dasar Cemen!" Batin Dave tua dalam hati, sambil memberi kode pada Arya.


"Orang orang kampung, dengarkan perkataan ku. yang sedang berdiri di depan kalian ini adalah tuan muda Arya. Atasan ku juga atasan Bhaskara."


"Jika kalian berani mengganggunya, Maka kalian akan berhadapan dengar ku. Jadi berhati hatilah, jangan berbuat macam macam lagi!" Ucap Dave tua pada mereka.


Mendengar perkataan itu, membuat yang ada jadi terdiam. Tidak mungkin mereka akan berani melawan, apalagi merendahkan Arya lagi.


Sekarang mereka hanya bisa diam. karena Arya ternyata adalah orang kaya. punya orang kuat lagi


Kalau dulunya mereka berani merendahkannya, itu karena Arya miskin. Tapi sekarang kalau berani mengulangi lagi, habislah mereka.


"Rasain!. Kalau orang miskin, berani pula kalian menghina. tapi setelah kaya, takut pula?" Batin Pranaya dalam hati, dan bersyukur karena anak buahnya tidak jadi di hukum, serta di usir dari kampungnya.


"Pranaya!. Kau sebagai atasan mereka, harus selalu mengawasi. Tidak boleh bersekongkol untuk menjatuhkan seseorang."


"Jika kau tidak becus, mudah bagiku untuk memindahkan mu jadi tukang sapu jalan. Jika kau tidak percaya, cobalah!" Ujar Dave tua pada Pranaya.


"Tidak tuan, aku tidak berani!" Respon Pranaya berterus terang.


"Bagus!. Kau tahu maksud ku kan?" Reaksi Dave tua merasa senang. Sambil memberi kode pada Pranaya, agar kedua orang anak buahnya itu di tindak, atau tidak diberi jabatan lagi.

__ADS_1


"Siap tuan!. Saya akan melakukannya setelah berkordinasi dengan kepala daerah yang ada." Jawab Pranaya langsung paham.


"Bagus!. Aku tidak mau mereka bangkit, dan menjadi penghalang buat tuan muda mendirikan perusahaan." Respon Dave tua merasa senang.


__ADS_2