
Tiga hari kemudian, setelah leluhur bangsa denawa keluar dari pertapaannya. Tiba tiba terjadi penyerangan ke negara Kintan, yang dipimpin oleh panglima Diga. kultivator setengah dewa, yang sekarang berada di level saint awal.
Penyerangannya yang besar besaran kali ini. karena dia ingin menguasai negara Kintan, yang berada di daratan Libra. Setelah wilayah itu takluk, maka dia yang akan menjadi rajanya.
Sementara penyerangan ke negara Awan. dipimpin oleh pangeran Sura, dibantu oleh jenderal Govinda yang telah diangkat statusnya menjadi petinggi kerajaan, membawahi kurang lebih 195.700 prajurit pilihan.
Sedangkan penyerangan ke negara Naga, dipimpin oleh Braga, yang statusnya juga sudah dinaikkan menjadi seorang panglima. membawahi prajurit terlatih sebanyak 332.750 orang.
Semua pasukan itu dipersiapkan untuk membuka jalan. dan setelah semuanya terbuka, baru gelombang kedua akan didatangkan. serta ditutup dengan gelombang ketiga. yang kekuatannya jauh lebih mengerikan dari gelombang pertama dan kedua.
Dengan sistem itu diharapkan, ketiga negara tersebut akan tumbang dan dikuasai sesudahnya.
Setelah ketiganya tumbang, baru penyerangan akan dilanjutkan ke seluruh daratan benua, termasuk kota dimana Arya tinggal. Begitu juga dengan ibukota negara.
Namun yang mencengangkan. Tidak ada satupun negara kerajaan itu yang berhasil ditaklukkan, walau sudah diserang selama tiga hari tiga malam. Sampai membuat para jenderal dan panglimanya frustasi, dan ingin segera menyudahi penyerangan.
Ditambah dengan banyaknya prajurit yang mati ataupun terluka, semakin membuat semangat juang para jenderal dan panglima panglima tersebut menurun.
Namun mengingat itu merupakan perintah pangeran Sura. mereka tidak berani untuk membangkang, apalagi menentangnya.Jadi mau tidak mau mereka terus berperang juga.
"Badjingan!" Maki Sura Menggala tidak senang. sesaat setelah mendapatkan laporan dari para komandannya yang mengatakan, bahwa di semua lini pertarungan, pasukan yang dikirimnya telah banyak yang menjadi korban.
Mendengar semua laporan tersebut, tentu saja membuat Sura Menggala berang. Tak lama kemudian dia berkata." Ternyata perkiraan kita salah? Untuk menaklukkan satu kerajaan saja, sampai membutuhkan waktu yang begitu lama. Belum menaklukkan ketiganya. Bagaimana kalau menaklukkan seluruh dunia?" Ujar pangeran Sura tidak senang.
"Izin menjawab pangeran!. Menurutku, kegagalan ini dikarenakan ikut campurnya petarung dari golongan manusia, yang kekuatannya tidak bisa diremehkan."
"Contohnya manusia yang bernama Arya dengan pembantu pembantunya itu. Serangan yang kita lancarkan, dengan mudahnya mereka patahkan. Bahkan serangan balasan yang mereka berikan diluar perkiraan kita."
"Banyak prajurit yang berhadapan langsung dengannya dibuat tidak berdaya. Apalagi setelah manusia itu merilis ilmu saktinya."
"Puluhan ratusan ribu bahkan mungkin jutaan pedang keluar dari badannya, dan menghancurkan pertahanan pasukan kita hingga tidak tersisa."
"Di ketiga negara itu juga demikian. Lebih dari sepertiga pasukan kita dihancurkan, dengan hanya menggunakan kekuatan pedang. Belum lagi para pengikutnya yang terus membantu membantai dan menghancurkan prajurit prajurit kita."
"Jadi apa tidak sebaiknya kita meminta bantuan pada paduka raja, agar bersedia menghadapi manusia tersebut supaya tidak merajalela seperti itu?" ucap seorang panglima perang divisi delapan pada tuannya.
"Aku rasa tidak perlu!. Kita masih mempunyai kekuatan yang sengaja disembunyikan. Bila kekuatan itu dikeluarkan, aku yakin manusia hina seperti itu akan mudah dihancurkan." jawab pangeran Sura membanggakan pasukannya.
Namun disaat dia sedang senang tersebut. Tiba tiba datang seorang prajurit mata mata menghadap pada tuannya dengan berkata. "Lapor yang mulia pangeran! Pasukan yang menyerang negara Kintan sudah musnah semuanya. Mereka dibantai oleh seorang manusia yang menggunakan pedang. Termasuk panglima Diga."
"Kekuatan orang itu tidak biasa
__ADS_1
Jadi apa yang harus kita lakukan pangeran?" ucap mata mata itu melaporkan.
"Kurang ajar!. Semakin dibiarkan, semakin menjadi orang itu. Ini sudah sangat keterlaluan!" respon Sura Menggala emosi. Kemudian berkata pada mata mata itu, yang masih tetap menunggu perintah dari tuannya.
"Antar aku ketempat orang itu. Aku ingin menghancurkan kepalanya!" ujarnya.
"Siap laksanakan pangeran!" Jawab orang tersebut merasa senang, karena dia yakin, manusia yang sok digdaya itu akan segera dihancurkan.
"Jangan terburu buru anakku!
Orang itu tidak mudah dikalahkan.Tunggulah eyang Prabu menyelesaikan semedinya, guna memperkuat pondasi kesaktiannya."
"Jika ia sudah turun tangan. bocah itu tidak ada apa apanya buat dia. Jadi tunda dulu keinginanmu untuk bertemu dengannya." Ucap Dasamuka melalui cermin jiwa pada anaknya.
"Tapi pasukan kita sudah dikalahkannya ayah. Apakah aku harus diam, dan membiarkan penghinaan ini?" protes Sura tidak senang.
"Mau bagaimana lagi? Marah setinggi apapun tidak berguna juga. Kekuatan bocah itu tidak bisa diremehkan."
"Kekuatan kita berdua belum cukup untuk mengalahkannya. kecuali jika ditambah dengan kekuatan eyang dewa. Ayah yakin bocah itu akan bisa dikalahkan."
"Jadi untuk sementara, tahan dulu keinginan mu untuk membalas dendam. Tunggulah eyang prabu benar benar bangun dari pertapaannya." jawab Dasamuka menasehati anaknya.
"Ma ma maaf kan kami pangeran. Kami semua setuju dengan perkataan paduka raja. katena kekuatan anak itu sudah diluar jangkauan kita."
"Jika pangeran tetap nekat bertarung dengannya.Kami khawatir pangeran hanya akan mengantarkan nyawa." Ucap seorang panglima pertahanan menasehati tuannya.
"Hiiaaaa!"
Boom!
"Argh!" teriak panglima tersebut menjerit kesakitan.
"Kendalikan amarah mu pangeran. Panglima itu tidak salah. Memang bocah itu sangat luar biasa."
"Dikeroyok oleh 900 orang kuat pun masih bisa bersikap tenang. Bahkan membiarkan semua senjata yang dilemparkan ke arahnya untuk mengenai tubuhnya."
"Namun belum juga semua senjata itu sampai, mereka sudah meledak di udara, karena bertabrakan dengan kekuatan jutaan pedang yang mengelilingi tuannya."
"Belum lagi kekuatan anak buahnya, yang rata-rata berada di level awan, hingga dengan mudahnya menghancurkan 900 prajurit-prajurit kita, sampai tidak seorangpun yang tersisa."
"Oleh karena itu pikirkanlah pangeran, agar keberadaan yang mulia tetap menjadi penyemangat tempur buat pasukan kita, yang sebentar lagi akan datang." Ujar seorang penasehat militer pada pangerannya.
__ADS_1
"Hah!. Sialan! Aku tidak menyangka pelatihan ku selama 17 tahun ini akan sia sia saja. Siapa sebenarnya bocah itu, dan kenapa kekuatan bisa melebihi ku?" reaksi Sura tidak terima.
"Menurut telik sandi yang disebarkan, bocah itu ternyata adalah keturunan dari Wangsa Baladewa, diperkuat oleh keterangan dari paduka raja, yang mengatakan bahwa dia adalah cucu dari raja Jayabaya, putra pangeran Purbaya, yang pernah diasingkan ke dunia manusia." Jawab Amba, sang penasehat militer itu apa adanya.
"Apa kata mu? Dia keturunan raja Baladewa, musuh bebuyutan leluhur ku?. Bagaimana bisa?" Reaksi Sura tidak percaya.
"Itulah kenyataannya pangeran. Karena dia adalah putra Dewa, maka kekuatannya tentu saja tidak biasa. Oleh karena itu paduka Raja Dasamuka sangat mewanti-wanti agar pangeran Sura tidak melawannya untuk sementara."
"Jika pangeran nekat juga, maka peperangan ini akan menjadi sia-sia. Karena tujuan utama perang ini, adalah untuk menguasai benda pusaka, yang tersimpan di bawah bumi kerajaan Naga."
"Pusaka itu akan bisa dibuka, dengan darah seorang manusia yang bernama Amanda. Jadi menurut pendapat saya, peperangan ini kita akhiri saja. dan fokuskan semua kekuatan untuk menaklukkan kerajaan yang dimaksud itu."
"Jika kita memecah kekuatan untuk memerangi ketiganya. maka aku yakin lambat laun kekuatan kita akan dihancurkan, karena terpecah perhatiannya."
"Oleh karena itu mohon paduka pangeran, menunda dulu keinginan untuk bertarung dengan Arya."
"Setelah benda pusaka Dewa itu berhasil didapatkan, barulah yang mulia pangeran boleh menantang Arya." ujar penatua sepuh itu cukup bijaksana, dan berhasil meredam keinginan Sura untuk bertarung dengan Arya.
"Baiklah! Untuk sementara tarik dulu prajurit yang masih tersisa. dan pusatkan ke sini!"
"Aku ingin dalam waktu dua hari, semua pasukan tempur kita sudah berkumpul di teritorial negara Naga itu. Dihari ketiga baru kita gempur pasukannya." Reaksi Sura akhirnya menyetujui nasehat dari para abdinya tersebut, karena ingin fokus menaklukkan kerajaan Naga.
***
Sementara itu di tempat lain pada waktu yang sama. atau setelah Arya berhasil mengalahkan panglima Diga. Dia langsung memerintahkan kepada pasukannya, untuk membunuh seluruh prajurit yang masih tersisa, dan mengambil semua barang bawaannya.
Setelah pertarungan usai. Raja Maladewa berniat mengunjungi Arya, untuk mengucapkan terima kasih padanya.
"Salam paduka Raja!" Sapa seluruh pasukan kerajaan Kintan sangat sopan, sesaat setelah rajanya tersebut berada di depan Arya.
"Bangunlah!" Respon Maladewa cukup senang. Kemudian mengarahkan pandangannya pada Arya, dan tak lama kemudian dia berkata." Terima kasih pangeran Arya. Berkat bantuanmu, serangan musuh terkuat kami bisa dihancurkan."
"Tanpa bantuan pangeran. kami yakin negara ini sudah dikuasai oleh Diga, dan semua musuh musuhnya akan dihancurkan." Ucap Maladewa merendah pada Arya.
"Itu tidak benar paman. Kemenangan ini tidak terlepas dari kekompakan prajurit prajurit paman."
"Berkat merekalah kemenangan ini bisa didapatkan.Jika mereka tidak bersatu, dan tidak mematuhi perintah.Aku yakin kekuatan mereka akan mudah dihancurkan."Jawab Arya merendah juga.
"Hahahaha! Tidak salah saudaraku mempunyai talenta sehebat ini. Sikapnya cukup sopan. Kekuatannya tidak terukur, dan perbawa nya sangat luar biasa!"
"Aku yakin tidak lama lagi. kebesaran wangsa Baladewa akan muncul dan mendominasi dunia." Reaksi Maladewa sangat suka. Kemudian memeluk Arya dengan eratnya, sama seperti ia memeluk anaknya.
__ADS_1