Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Engkau masih anak sekolah


__ADS_3

"Apa yang terjadi pada tempat usaha mu Arya?. Kenapa berantakan begini?. Siapa yang melakukannya?" Reaksi Satya keheranan, sesaat setelah dia sampai di hotel miliknya itu. dan langsung menghampiri Arya yang sedang sibuk mengawasi anak buahnya bekerja.


"Ceritanya panjang pak Satya!. Ada sekelompok orang yang tidak suka dengan kemajuan usaha ku, jadi mereka berusaha menghancurkannya." Jawab Arya apa adanya.


"Apakah pelakunya sudah ditangkap?" Tanya pak Satya ingin tahu.


"Sudah pak, bahkan sudah diberikan hukuman, dan selamanya tidak akan bisa mengganggu ku lagi." Jawab Arya berterus terang.


"Maksudmu?" Respon Satya penasaran.


"Ya, begitulah pak!. Mereka terpaksa harus..!" Jawab Arya terputus, dan langsung mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya pak Satya. Apakah izin ku sudah disetujui oleh pak Sentanu?"


"Ya sudah dong!. Satya gitu loh?" Jawabnya mencoba melucu. Kemudian seperti merenung dan menatap wajah Arya dalam dalam, lalu beralih mengamati gedung yang hampir roboh itu dan berkata. "Mau merehab gedung ini tentu membutuhkan biaya yang sangat besar. Apakah nak Arya mau menjual kembali perhiasan yang masih tersimpan itu?"Ujarnya berusaha menawarkan jasa.


Tapi Arya tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, Dia malah memandang wajah pak Satya lekat lekat, untuk memastikan apakah ucapannya tadi serius atau tidak.


Setelah memastikan bahwa ucapannya tadi serius, Arya langsung menjawabnya." Untuk saat ini, saya rasa belum pak Satya, karena uang yang kemarin masih banyak. Tapi jika pak Satya sudah kehabisan stok, maka saya akan menjualnya kepada anda." Jawab Arya apa adanya.


"Wah bagus itu!, karena kali ini bapak akan membeli emas-emas itu dalam jumlah banyak, agar persediaan emas juga yang lainnya tidak mudah habis."


"Kebetulan persediaan emas yang dibeli tempo hari sudah menipis, dan bapak sudah mulai bingung mau mencari ke mana?"


"Kebetulan nak Arya memilikinya, jadi apa salahnya kalau bapak membeli dengan nak Arya saja. Bagaimana?" Respon pak Satya senang, sambil menepuk-nepuk bahu Arya pertanda memberikan dukungan.


"Berapa banyak yang pak Satya butuhkan?, dan benda berharga apa saja yang mau dibeli?" Tanya Arya butuh ketegasan.


"Emas kalau bisa 10 kilogram. Berlian 1 sampai 5 karat setengah kilo atau tergantung ukuran, Safir biru setengah kilo. Zamrud hijau setengah kilo. Ruby merah juga setengah kilo, intan begitu juga, dan benda benda yang lain hanya sedikit saja." Jawab pak Satya berterus terang.


"Sebanyak itu pak Satya Apakah uangnya cu..?" Tanya Arya penasaran, tapi tidak jadi diucapkan.


"Jangan khawatir!. Uang bapak masih banyak, bahkan jika membeli tiga kali lipat dari itu uangnya pun masih cukup. Tapi untuk sekarang bapak hanya membutuhkan sejumlah yang bapak sebutkan tadi saja." Jawab pak Satya berterus terang.


"Tapi..?"


"Biar bapak jelaskan ya nak Arya?. Emas sekarang 1 gramnya Rp. 900.000, satu kilo berarti 1.000 gram ya?. Berarti 9 ratus juta, kali dua berarti 1.8 milyar. Bapak ingin 10 kilo berarti 9 milyar rupiah."


"Sedangkan berlian dengan karat sampai 5, yang bersertifikasi VVS1 seharga 1.727.692.000. Karena bapak minta 10, berarti jumlahnya menjadi 17.276.920.000 milyar Rupiah."


"Safir biru. Zamrud hijau,dan Ruby merah, jika ditotal mencapai 10 milyar rupiah. Sedangkan intan hanya 2,7 milyar saja."


"Jadi jika dijumlahkan semuanya menjadi. 36.171.920.000. yang akan bapak genap kan menjadi 40 milyar rupiah." Ujar pak Satya menjelaskan harga dan jumlah perhiasan yang ingin ia beli itu.


Arya tidak bisa berkomentar. Dia hanya berdiri bengong. seakan tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. 40 milyar itu bukanlah jumlah yang sedikit.

__ADS_1


Tapi tiba tiba dia teringat sesuatu."Tunggu dulu pak Satya!. Beberapa hari yang lalu, bapak membeli emas ku hanya satu kilo, tapi kenapa harganya bisa menjadi 18 milyar?. Apakah bapak tidak salah hitung?" Ujarnya tiba tiba penasaran .


"Ya. kau benar!. Waktu itu bapak sengaja menambahkannya dari harga dasar, yaitu 1.8 milyar menjadi 18 milyar. Dengan tujuan untuk membantu mu membeli bangunan itu. dan ternyata usaha bapak berhasil." Hehehehe!" Jawab pak Satya sambil terkekeh senang.


"Hari ini bapak akan membayar ku sekitar 40 milyar. jadi tolong potong dari pinjaman hari itu pak, agar saya tidak merasa berutang budi pada bapak." Ujar Arya tiba tiba menemukan ide cemerlang, agar kelebihan pembayaran dianggap hutang.


"O tidak, tidak!. Itu murni bantuan orang tua pada calon menan.....tu nya." Jawab pak Satya terdengar menggantung. Dan diujung kata semakin lirih ucapannya.


Tapi Arya sempat mendengar apa lanjutannya itu. Namun Arya hanya tersenyum tipis saja, karena dia tahu bahwa pak Satya dan istrinya ingin agar dia menjadi menantunya.


"Kenapa diam?. Apakah nak Arya tidak senang jika bapak membantu mu membuka usaha?. Toh pada akhirnya kamu juga bakal menjadi keluarga bapak juga?" Tanya Satya langsung membuka niatnya.


"Em?. Bagaimana ya pak?. 18 milyar itu bukanlah jumlah yang sedikit pak, tapi sangat banyak."


"Seumur umur saya belum pernah melihat uang sebanyak itu.Tapi mudah saja bapak berikan kepada saya. Apa bapak tidak merasa rugi?" Respon Arya merasa penasaran.


"Tidak juga tuh!. Uang bapak cukup banyak. jumlahnya T.an. Jadi kalau hanya segitu, belum ada apa apanya buat bapak."Jawab Satya apa adanya, dan ringan sekali saat mengucapkannya.


"Jadi bagaimana?. tetap mau menerima bantuan dari bapak atau tidak?" Tanya pak Satya mengagetkan Arya.


"Sa saya terima pak!" Jawab Arya ragu ragu. Kemudian menyalami pak Satya, dan mencium tangannya.


"Anak yang seperti ini sudah jarang ada. Kalau pun ada tapi jumlahnya tidak seberapa. Arya termasuk di dalamnya."


"Suatu saat nanti jika aku harus melepaskan Amanda untuk menikah, maka Arya lah orang yang aku percaya untuk menikahinya."


***


Dua setengah jam kemudian. atau tepatnya pukul 12.30 sore. sebuah notifikasi masuk ke handphone Arya. Dimana hasil penjualan emas dan benda-benda berharga lainnya, telah selesai dilakukan. dan pak Satya langsung mentransfer uangnya melalui rekening yang beberapa hari lalu dimiliki oleh Arya. Jumlahnya pas yaitu 40 miliar.


Jadi uang Arya sekarang, setelah dikurangi dengan pembelian gedung dan pembelian barang-barang lainnya menjadi 45 miliar, suatu jumlah yang sangat banyak sekali.


"Setelah ini apa yang akan nak Arya lakukan?. Apakah akan merenovasi atau membangun ulang tempat itu, ataupun membeli tempat usaha baru?" Tanya pak Satya, sesaat setelah transaksi yang mereka lakukan sudah selesai dibuat.


"Untuk sementara saya fokus dulu dengan tempat usaha itu pak. Mungkin akan merobohkan semuanya, dan dibangun tempat baru, yang jauh lebih besar dari bangunan semula." Jawab Arya apa adanya.


"Oh baguslah kalau begitu! Berarti kau punya pendirian, serta pandangan yang bagus, walau berkali kali mendapatkan cobaan, tapi tetap bangkit juga!. Luar biasa!" Respon pak Satya memuji keteguhan hati dari calon menantunya itu.


"Kalau begitu bapak pamit dulu, karena akan pergi menjemput Amanda, yang katanya hari ini minta dijemput oleh bapak?" Ujar Satya berterus terang. Padahal dia sengaja menggelitik hati Arya, agar mau menjemput calon istrinya itu.


"Biar saya saja pak!. Kebetulan hari ini hati saya sedang senang, pun ada sesuatu yang ingin saya katakan kepada Amanda." Respon Arya cepat, dan langsung mendapat persetujuan dari pak Satya.


"Wah kalau begitu terima kasih!. Kebetulan pula bapak barusan tadi dari sana, setelah mengadakan pertemuan singkat dengan guru-gurunya.Jadi bosan juga."


"Sekarang nak Arya pula yang menawarkan jasa, karena itu bapak sangat berterima kasih. Tapi hati-hati di jalan ya? Responnya senang.

__ADS_1


***


"Hai Arya!. kenapa tadi tidak sekolah, kemana saja dari tadi?" Sapa dan tanya Amanda bertubi tubi.


"Kau kan tahu sendiri, bahwa tempatku dirusak orang. jadi aku harus fokus untuk menyelesaikannya?"


"Jika aku tidak ada, anak buah ku tentu akan kebingungan untuk mengerjakan sesuatu. makanya aku tidak bisa sekolah, itu pun karena sudah mendapat izin dari pak Sentanu." Jawab Arya berterus terang.


"Iyalah tu!" Respon ananda cukup lugu.


"Oh ya Arya?. Tadi ada utusan dari kabupaten, yang datang untuk menemui kita. Tapi sayangnya kau tidak ada." Ujar Amanda.


"Utusan dari kabupaten, mencari kita, ada apa?" Respon Arya kebingungan.


"Apakah kau sudah lupa dengan prestasi kita beberapa hari yang lalu?, Mereka datang karena ingin melihat kita latihan, jadi pagi tadi di saat kegiatan bebas, kawan kawan kita termasuk aku ya terpaksa latihan lah!"


"Tapi sayangnya kau tidak ada, dan nampaknya mereka cukup kecewa. namun setelah dijelaskan oleh wali kelas kita, barulah mereka dapat memakluminya?" Jawab Amanda apa adanya.


"Terus kapan perhelatan olahraga tingkat provinsi itu diadakan?, Apakah jadwalnya diundur atau dimajukan?" Reaksi Arya penasaran.


"Kabarnya diundur, karena pihak provinsi sedang sibuk untuk membangun lapangannya. Kemungkinan dua minggu lagi baru selesai?" Jawab Amanda masih sabar meladeni rasa ingin tahu Arya.


"Tapi kan waktunya sangat mendesak sekali?. Apakah mereka sempat?" Tanya Arya lagi.


"Ya sempat lah!, yang tidak sempat adalah waktuku untuk menunggu pertanyaan mu selesai. Pun hari ini harusnya jadwal ayah untuk menjemput Amanda pulang.Tapi kenapa sampai jam segini belum datang juga?" Jawab Amanda membelokkan pembicaraan.


"Oh maaf!. Aku lupa memberitahu mu!. Kebetulan ayahmu mempercayakan mu kepadaku untuk dijemput. Jadi ayo ikut aku, dan naik ke motor ini!" Reaksi Arya tidak enak hati.


"Ayah mempercayakan mu untuk menjemput aku?. Tumben?" Ucap Amanda pura pura kebingungan.


"Ya jelaslah!. Katanya calon suami harus menjemput calon istrinya? Jawab Arya bercanda.


"Ihh!" Reaksi Amanda pura pura marah, dan reflek mencubit pinggang Arya, tapi segera naik ke motor Arya dan memeluk pinggangnya erat erat.


"Sakit tau?. Ngapain sih?"Reaksi Arya pura pura merasa sakit.


"Rasain!. Siapa suruh berkata seperti itu? Kan jadi malu?" Jawab Amanda berterus terang, kemudian tenggelam di bahu Arya, dan mendapatkan kedamaian di sana.


"Engkau masih anak sekolah, satu SMA.." Terdengar sebuah nyanyian merdu di belakang Arya, tapi segera di putusnya. karena Arya menoleh ke arahnya.


"Belum tepat tuk begitu begini. Anak sekolah datang kembali, dua atau tiga tahun lagi.." Sambung Arya ikut menyanyikan lagu tersebut.fan nampaknya sangat senang sekali.


Amanda semakin erat memeluk Arya, entah karena malu atau suka, tiada siapa pun yang tahu kecuali Amanda nya sendiri.


"Itukah anak yang selalu bersama dengan Amanda?" Tanya seseorang dengan reaksi tidak suka.

__ADS_1


"Benar bos!. Kabarnya dia pacar amanda?" Jawab anak buahnya membenarkan.


"Ikuti dia!. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya, sampai pak Satya mengizinkan Amanda bersama dengan dia?" Perintah orang tersebut tegas, dengan tangan terkepal erat, pertanda tidak suka.


__ADS_2