
"Sudah siap Arya?"
"Siap pak!"
Priiit!
Wus!
Tap!
"Wah itu bukan lompat lagi namanya. tapi terbang." Reaksi orang orang yang melihat pertunjukan Arya kagum bercampur keheranan.
"SMA Tunas Bangsa berhasil lulus seleksi, dan akan menjadi wakil Kabupaten untuk berlaga di tingkat provinsi, dalam cabang olahraga lompat tinggi." Ucap ketua panitia dengan suara lantang.
"Katanya kau punya rencana?. tapi kenapa Arya malah mendapat pujian seperti itu?. kemana rencana mu tadi?" Tanya peserta dari SMA Mardika mengejek temannya.
"Entahlah!. Aku juga tidak tahu!"
"Tiba-tiba otakku blank, dan seperti tidak bisa berpikir apa apa. Makanya aku hanya diam saja saat Arya melompat tadi."
"Padahal seharusnya aku pura-pura jatuh atau melintas saat Arya sedang berlari tadi, dan melanggar tiang itu, agar langkah Arya terhalang."
"Tapi entah mengapa kakiku terasa berat. otakku juga tidak bisa berpikir jernih. Sepertinya ada sesuatu yang menghalangi langkah ku?, tapi itu apa aku juga tidak tahu?."Jawab Andika berterus terang.
"An. An?. Kalau kalah ya kalah. Jangan berbuat curang lagi. SMA kita tahun ini memang jeblok."
"Dari 6 siswa yang dikirim, tak ada satupun yang bisa lolos, termasuk kau!"
"Biasanya kaulah yang merajai cabang lompat tinggi, sesuai dengan gelar mu si kijang terbang."
"Tapi hari ini kau dibuat tidak berdaya oleh siswa yang bernama Arya itu."
"Jadi menurutku kau harus bersikap legawa, karena Arya jauh lebih hebat darimu."
"Lagi pula kijang terbang yang kau sandang itu sekarang telah berubah menjadi kura-kura telentang." Reaksi temannya cukup menyakitkan.
"Sialan kau!. Kawan lagi kesusahan malah diejek seperti itu."
"Awas ya!. Aku tidak akan mentraktir mu lagi." Respon Andika tidak senang. Kemudian memanfaatkan kelebihannya dalam masalah uang, untuk menakut-nakuti temannya.
"Jangan begitulah kawan?. Kalau kau tidak mentraktir ku, bakalan aku kelaparan nanti nya. karena orang tuaku tidak mau memberi ku uang jajan."
"Katanya setelah sarapan di rumah, tidak perlu lagi makan di sekolah. cukup minum saja." Ujarnya terkesan pasrah.
"Tuh makanya jangan meledek ku. Bukannya membantu kawan malah meremehkan pula."
"Sudah tahu miskin belagu lagi!" Ucap Andika terdengar berlebihan. mentang-mentang dia kaya raya.
"Ya ya, aku minta maaf!. Lain kali tidak akan diulangi lagi." Reaksi Udin tidak enak hati.
"Tapi nasi sudah menjadi bubur kan?. Sekolah kita sudah kalah. mau bagaimana lagi?"
"Marah-marah pun tiada guna. Lebih baik diam, dan menerima kekalahan kita dengan lapang dada."
"Kau lihat guru kita itu!. wajahnya bertekuk tanda kesal."
"Biasanya setelah bertanding, kita pasti keluar sebagai juaranya, walau hanya menduduki posisi ketiga."
"Tapi kali ini harus pulang dengan tangan hampa, karena ada sekolah yang siswanya jauh lebih hebat dari kita."
"Jadi tidak ada yang bisa dibawa pulang untuk membuat sekolah kita merasa bangga." Ujar Udin lagi seperti memberi nasehat kepada Andika.
"Hah sudahlah!, jangan sok menasehati pula."
"Pergi sana!. Ambilkan aku minum, aku haus!" Hardik Andika tidak terduga.
***
Sore harinya. Saat istirahat sudah selesai. Perlombaan dilanjutkan lagi dengan cabang olahraga lainnya, yaitu lompat galah.
Kali ini giliran SMA Mardika yang tampil pertama, tapi tanpa kehadiran Andika.Dia dikabarkan mendadak sakit dan tidak bisa berjalan karena kram. Jadi terpaksa absen dari perlombaan.
Selain dia, ada tujuh anak lagi yang tidak bisa ikut karena kakinya terkilir. Jadi otomatis gugur tanpa harus bertanding.
__ADS_1
Rupanya itu hasil kerja anak buah Arya, yang mendapati mereka berdelapan itulah yang akan membuat Arya mendapat kesulitan, dengan trik-trik curang nya nanti.
Daripada harus kena hukum dan didiskualifikasi sekolahnya, maka anak buah Arya bertindak duluan. Maka jadilah kedelapan orang itu hanya terbaring lemah di kamar penginapannya tanpa bisa berbuat apa-apa.
Saat semuanya sudah berkumpul, pak Wirya sebagai ketua panitia, memberi arahan kepada para peserta yang akan tampil.
Salah satu yang diucapkannya itu adalah. "Tinggi mistar yang dipasang kali ini adalah 4,5 meter. yang harus kalian lalui dengan galah itu."
"Bagi yang berhasil melaluinya tanpa mistar itu terjatuh, maka dia yang akan dinyatakan sebagai pemenangnya, dan berhak untuk maju ke tingkat provinsi."
"Tapi jika gagal, maka segera kuburkan keinginan kalian untuk berlaga di tingkat yang lebih tinggi."
"Oleh karena itu, berusaha bersungguh-sungguh dan lewati mistar tersebut tanpa harus terjatuh." ucapnya memberi pengarahan
Kemudian mempersilakan peserta dari SMA Mardika untuk tampil.
Setelah berjalan kurang lebih satu setengah jam, belum ada yang mampu melewatinya, karena rata-rata mereka hanya bisa melompat setinggi 3 meter lebih, itu pun hanya satu dua yang mampu melaluinya dengan baik.
Tapi giliran SMA Tunas Bangsa, semuanya lancar-lancar saja. Mister yang tingginya cuma 4.5 meter itu, mampu mereka lewati dengan baik, bahkan mendarat mulus di bawahnya.
Sementara untuk tim putri, mereka juga mampu melaluinya. namun tingginya hanya 3.01 meter
Saat Arya melompat itu, tidak ada yang menyadari, bahwa sebenarnya tubuh Arya itu terbang, bahkan ketinggiannya melebihi 4,5 meter, berkat adanya galah tersebut.
Dengan demikian. SMA Tunas Bangsa berhak diikutsertakan dalam cabang olahraga lompat galah di ibukota provinsi nanti.
***
Malam harinya. Arya mendapatkan panggilan telepon dari anak buahnya yang sedang menjalankan bisnis rumah makan di kota sebelah.
Katanya ada sekelompok orang yang datang ingin membuat kekacauan. Tapi mereka tidak meladeninya, malah mempersilakan pengacau tersebut untuk duduk, walaupun jumlah kursi dan mejanya tidak mencukupi.
Kebetulan di tempat itu ada beberapa orang yang sepertinya tentara. Kebetulan mereka di situ sedang makan, tapi mereka berpakaian seperti orang biasa, tidak menggunakan seragam tentara, tapi potongan mereka seharusnya para pengacau itu tahu, bahwa mereka bukan orang sembarangan.
Tapi karena jumlahnya cukup banyak, mereka nekat menerobos tempat itu, dan memporak porandakan meja yang ada di halaman yang di pasangi tenda tersebut.
Namun saat giliran ingin mengusir dan membalikkan meja 6 orang tentara yang sedang makan itu, barulah mereka menyadari, bahwa orang yang ingin mereka usir itu adalah tentara.
Tapi belum juga niat mereka terlaksana semua, sesuatu yang sangat luar biasa pun terjadi.
Tubuh-tubuh mereka tiba tiba beterbangan dan berjatuhan ke lantai semen. Bahkan ada yang roboh di jalan.
Pemimpinnya yang bernama Teja juga tidak luput dari hukuman itu.
Bahkan tubuhnya tersangkut di pohon peneduh jalan, dan terjepit. di antara dahan dahannya.
Melihat itu Alex, Jodi dan yang lainnya menjadi keheranan. Padahal mereka tidak melakukan sesuatu, tapi entah bagaimana 65 orang itu dibuat bertumbangan tanpa mereka harus turun tangan.
Dalam masa kebingungan seperti itu Arya pun datang, dan kemunculan nya yang tiba tiba tersebut tentu saja mengejutkan anak buahnya.
Bagi mereka itu hal yang mustahil, karena jarak kota untuk pertandingan olahraga tersebut cukup jauh, dan keberadaannya di kota sebelah. Tapi bagi Arya itu mudah saja.
Sepatu saktinya lah yang membantunya untuk sampai dalam waktu yang tepat.
Begitu dia sampai, Alex dan Jodi lah yang langsung menyambutnya. Kemudian salah seorang dari mereka berkata". Selamat datang bos!. Mereka itu..?" Ucap Jodi mencoba menjelaskan duduk permasalahannya.
"Ya aku sudah tahu. Mereka adalah kelompok yang dibayar oleh Teddy dan Tanu untuk mengganggu usaha kita."
"Tapi anak buahku yang lain sudah mengatasinya." Sambung Arya mengatakan apa adanya.
"Anak buah bos yang lain?. Siapa?" Tanya Alex merasa penasaran.
"Lupakan saja, dan jangan tanyakan lagi masalah itu."
"Bereskan saja mereka dan baringkan di sini!" Jawab Arya memberi instruksi.
"Baik bos!" Jawab Alex patuh. Kemudian menyuruh anak buahnya untuk mengumpulkan tubuh para pengacau tersebut di depan bos nya.
"Maaf!. Apakah saudara ketua dari orang orang ini?" Tanya salah seorang tentara pada Arya.
"Maksudnya?" Reaksi Arya spontan.
"Bos dari orang orang yang sedang mengumpulkan para preman itu." Jawab tentara tersebut memperbaiki pertanyaan nya.
__ADS_1
"Oh iya benar!. Kebetulan tempat usaha rumah makan ini milikku, dan mereka bekerja padaku."
"Jadi otomatis akulah pemimpin mereka, atau katakanlah bos.Tapi ada apa ya pak?" Jawab Arya sekaligus bertanya.
"Kalau begitu bisakah ikut kami ke kantor?, karena ada sesuatu ingin kami tanyakan kepada anda?" Respon tentara tersebut membingungkan.
"Ikut ke kantor?. Ada urusan apa?" Reaksi Arya kebingungan.
"Ikut saja jangan banyak tanya!" Bentak tentara yang lainnya tidak senang.
"Maaf!. Aku tidak bisa memenuhi permintaan kalian!. karena ini tidak ada hubungannya dengan kalian."
"Kau lihat sendiri kondisi tempat usaha ku ini. Jika aku pergi kesana, lalu siapa yang akan memimpin pembersihan tempat ini?. Apakah kalian?" Jawab Arya cukup mengejutkan.
"Kau berani melawan aparat?" Tanya tentara itu tidak senang.
"Masalahnya bukan berani atau tidak berani. Tapi permintaan kalian itu terdengar aneh?"
"Yang membuat kekacauan itu mereka, dan kami sebagai korban. lalu kenapa kami yang harus memberi keterangan kepada kalian?. Lagi pula ini bukan tupoksi kalian?" Jawab Arya cukup mengejutkan.
"Hah ikut saja!. Jangan banyak bacot kau!" Reaksi tentara itu sudah mulai terbuka belang nya.
"Kalian ini sebenarnya aparat atau bukan sih?. Kenapa seenaknya memaksakan kehendak pada orang awam seperti kami?"
"Apakah kalian tidak takut kalau tindakan kalian ini akan merugikan institusi?, dan membuat namanya tidak bagus di mata kami?" Respon Arya mencoba bertahan.
"Hah! Jangan banyak omong kau!"
"Seret saja dia!. Jangan pedulikan apa yang dia katakan itu!"
"Cepat lakukan!. Aku sudah geram ingin merobek mulutnya yang pedas itu!" Reaksi seorang tentara yang kemungkinan adalah pemimpinnya.
"Tuan!. Mereka bukan tentara, tetapi orang yang menyamar sebagai tentara."
"Oh gadungan ternyata?. Kurang ajar!"
"Buat malu komunitas saja!" Respon Arya tidak senang.
Lalu mencari ide untuk memberi pelajaran pada mereka." Bisakah kalian memindahkan tubuh-tubuh mereka, dan sangkutkan di atas pohon itu?"
"Buka juga pakaian mereka kecuali pakaian dalamnya."
"Aku ingin melihat apa reaksi mereka?. Apakah marah atau tertawa?" Ujarnya setelah mendapatkan ide.
"Siap tuan!. Kami akan melakukan itu untuk anda." Jawab Argani patuh, kemudian memerintahkan pada 9 anak buahnya untuk mengangkat tubuh-tubuh mereka ke atas pohon, sekaligus membuka bajunya.
"Ah sialan!. Apa yang terjadi?. Kenapa tubuh kita tiba-tiba terangkat, dan mana pakaian ku?" Reaksi salah seorang tentara pada temannya.
"Aku juga tidak tahu! Tiba-tiba tubuh kita terangkat seperti ini. dan sekarang tergantung di pohon ini."
"Tapi siapa yang melakukannya?. Apakah bocah itu?" Jawab temannya tidak tahu.
"Loh?. Katanya mau membawa ku ke kantor?, tapi kenapa kalian malah bergelantungan di pohon seperti itu?"
"Jadi atau tidak nih?" Tanya Arya meledek mereka.
"Jangan kurang ajar ya?. Cepat turunkan kami!. Jangan berani macam macam dengan kami!. Kami ini tentara!" Respon salah seorang diantara mereka cukup lantang.
"Tentara gadungan kan?. Buat malu saja!"
"Jika kalian tentara beneran?, tak mungkin bersikap seperti itu?. Macam preman saja!"
"Yang terkena musibah itu kami, tapi kami pula yang harus memberikan keterangan pada kalian!"
"Mana ada ceritanya seperti itu?"
"Kalau kalian mau benar-benar aparat?, Tuh tangkap mereka!, karena merekalah yang telah menghancurkan tempat kami. Mengerti kalian?" Jawab Arya sungguh mengejutkan
Kemudian mendatangi kelompok pengacau tersebut, yang sekarang tubuh mereka sudah lumpuh.
Sementara 6 orang tentara gadungan tersebut masih bergelantungan di atas pohon.
Sepertinya mereka senang berada di sana?
__ADS_1