
Setengah hari kemudian. Apa yang direncanakan serta diperintahkan oleh Arya sudah selesai dilaksanakan.
Peralatan elektronik dan peralatan-peralatan lainnya sudah mereka beli, dan sudah mereka tempatkan di dalam bangunan rumah makan milik bosnya. yang tinggal hanya mengaturnya saja.
Melihat itu Arya sangat senang sekali, karena lima orang anak buahnya tersebut sangat jujur dan bisa dipercaya. dan itu bisa dibuktikan saat nota pembelian barang-barang tersebut, mereka serahkan pada Arya, dan harganya sesuai dengan harga pasar yang ada.
Suatu saat nanti, jika rencananya terkabul, mereka akan diangkat menjadi petinggi sebuah perusahaan, yang akan mulai Arya rintis itu. Dan itulah tekadnya.
Pada malam harinya. Arya memutuskan untuk bertemu dengan pemilik lahan, juga bangunan bertingkat tiga itu, untuk melakukan pembicaraan.
"Sebenarnya bapak berat untuk menjual bangunan itu nak Arya, karena tempat itu sangat bersejarah buat bapak. Tapi karena bapak sekarang tinggal sendiri, dan sudah tidak sanggup lagi untuk mengelolanya, maka bapak setuju jika nak Arya membelinya."
"Hitung-hitung sebagai sumbangsih bapak buat nak Arya, yang sebentar lagi akan menjadi orang besar di kota ini". Ucap pak Romi, pemilik bangunan itu terdengar nelangsa.
"Ah pucuk dicinta ulam pun tiba. Kalau begitu tinggal bapak sebutkan saja berapa harganya, agar saya bisa melakukan pembayaran sekarang juga." Reaksi Arya dengan ekspresi senang.
"Tidak begitu mahal nak Arya. Hanya sekitar 12 milyar saja, untuk luas tanah dan bangunannya yang sudah bersertifikat itu."
"Tentang pembayarannya, boleh di angsur atau dibayar langsung.dan terserah mau berapa tahun jangka waktunya, asal jangan menunggu bapak pikun saja." Jawab pak Romi Pama apa adanya.
"Berapa luas tanah yang bapak miliki?, karena saya lihat patok tanahnya sudah dipindah orang, dan didirikan kios liar pula di sana. Apakah dalam masalah ini pak Pama bisa menjelaskannya?" Tanya Arya ingin penjelasan.
"Luas tanah sesuai dengan sertifikat yang ada, yaitu sekitar 6.000 meter persegi. atau setengah hektar lebih. Sedangkan luas bangunannya yaitu 25x40, atau sekitar 1.000 meter persegi tiap lantainya."
"Sedangkan masalah patok tanah itu memang bapak akui, bahwa pedagang kios itu yang memindahkannya, tapi itu bisa bapak atasi dengan sertifikat ini." Jawab pak Pama apa adanya.
"Baiklah kalau begitu pak Pama. terima kasih atas penjelasannya."
"Tapi apakah bapak tidak merasa rugi menjual tanah strategis seperti itu hanya dengan 12 miliar saja?. Karena menurut orang yang ingin membelinya dulu, bapak mematok harga sebesar 35 miliar, tidak kurang tidak lebih."
"Namun saat ingin menjual kepada saya, bapak malah menurunkannya sampai harga begitu. Bukankah bapak akan mengalami rugi yang sangat banyak?" Respon Arya sekaligus bertanya saking jujurnya.
"Dulu lain nak Arya, karena bapak tidak ingin menjualnya, tapi pengusaha itu terus saja memaksa, maka bapak naikkan saja harganya segitu."
"Namun semenjak istri bapak sudah tidak ada, bapak tidak sanggup lagi untuk mengelolanya, lagi pula warisan bapak yang di kampung masih banyak. Jadi setelah ini bapak ingin pulang ke sana dan ingin menjadi petani saja." Jawab pak Romi apa adanya.
"Wah kalau begitu selamat ya pak. Semoga menjadi petani yang sukses di sana" Respon Arya spontan saja
"Kau begitu juga ya?. Semoga kedepannya kau juga sukses, dan menjadi anak muda yang bisa diandalkan." Balas pak Romi juga mendoakan.
"Oke kalau begitu pak. Saya setuju dengan harganya." Respon Arya
"Apa tidak ditawar lagi nak Arya?. Kalau merasa kemahalan ya nanti boleh bapak kurang kan." Tanya pak Romi Pama inginkan jawaban.
__ADS_1
"Oh tidak pak!. Justru saya merasa beruntung dengan harga segitu, karena lokasi tanah bapak itu sangat strategis sekali."
"Ada hotel, ada bank, ada supermarket dan lain lain, yang tak jauh dari lokasi itu. jadi saya merasa sangat beruntung sekali"
"Jika dibuat restoran atau usaha lain, saya yakin tempat itu akan maju. Oleh karena itu tanpa menawar lagi, saya setuju dengan harga tersebut." Jawabnya berterus terang.
"Tapi apakah pembayarannya cash atau melalui transfer saja?" Tanya Arya pula.
"Kalau bisa transfer saja. kebetulan bapak mempunyai rekening di salah satu bank yang ada di kota ini, jadi nak Arya boleh mengirimkannya ke sana."
"Oke pak!. Apakah ditransfer sekarang saja?" Tanya Arya.
"Oh Jangan!. Nanti setelah surat-suratnya selesai, baru nak Arya boleh mentransfernya. Namun sebagai tanda jadi nak Arya boleh memberi bapak sedikit uang." Jawab pak Romi Pama cukup cepat.
"Baik pak!. Saya berikan satu juta saja dulu ya, sisanya besok siang. Bagaimana menurut pak Pama?"
"Oh boleh juga!. Kalau nak Arya langsung mentransfernya malam ini, itu sudah salah, karena bapak juga tidak mempunyai kwitansi, jadi lebih baik besok siang saja." Jawab pak Romi cukup bijaksana.
"Oke deal!. 12 miliar rupiah ya pak?" Tanya Arya.
"Ya itu harganya!" Jawab pak Romi cepat, sambil menyalami tangan Arya. kemudian memintanya untuk meminum minuman yang sudah ia siapkan dari tadi.
Sekitar setengah jam kemudian. Arya sudah tidak ada lagi di rumah Romi Pama, dan memutuskan untuk kembali ke rumahnya saja. Tapi tidak jadi ia lakukan, karena saat di tengah perjalanan, ia melihat Alam Dirga, preman yang pernah dikalahkannya itu, tengah dikeroyok oleh beberapa orang preman, yang kekuatannya lebih besar daripada dia.
Melihat itu Arya tidak terima, karena walau bagaimanapun Alam Dirga adalah anak buahnya. lalu tanpa pikir panjang lagi, dia turun dari motornya, dan langsung terbang menuju mereka.
Plak!
Bugh!
Bugh!
Tiga orang yang terkena pukulan serta tamparan Arya, tubuhnya terbang kemana mana, karena Arya saat menyerang itu tidak main-main, walaupun hanya menggunakan sedikit tenaganya saja, tapi akibatnya tubuh tiga orang yang tadi menyiksa Dirga dibuat tidak berdaya. Mereka pingsan saat itu juga.
Tiga orang yang masih tersisa dibuat melongo atas tindakan Arya barusan. Kemudian refleks menyerang Arya, dan meninggalkan Alam Dirga. Tapi naas tubuh mereka malah menjadi sasaran empuj amukan Arya dan pingsan juga tak lama sesudah itu.
"Kamu tidak apa-apa Dirga?. Kenapa mereka memukulimu?. Ke mana anak buahmu yang banyak itu?" Tanya Arya bertubi tubi, sesaat setelah berhasil mengarahkan para preman itu, karena dia merasa penasaran, kenapa seorang Alam bisa dibiarkan tanpa pengawalan.
"Bos Arya!. Ternyata itu kau?" Reaksi Dirga kaget, sesaat setelah terbebas dari kungkungan kekuatan 6 orang yang mengeroyoknya tadi.
"Ya, ini aku!" Jawab Arya.
"Kenapa kau jadi begini? mana anak buahmu?" Ujarnya lagi.
__ADS_1
"Maaf bos!. Sekarang aku laki laki yang tidak berguna. Sejak kalah darimu itu, dan dihukum untuk menyapu jalan, aku ditinggalkan oleh mereka, dan sekarang aku bukan siapa-siapa lagi."
"Seluruh anak buahku, diambil alih oleh Theo, dan dijadikan budaknya. Sementara aku tidak mau, karena aku sudah berikrar setia padamu." Jawab Dirga apa adanya.
"Lalu siapa mereka itu?. Kenapa mereka memukuli mu?, dan kenapa kau tidak melawan?" Reaksi Arya tambah penasaran.
"Mereka anak buah Theo, yang ditugaskan untuk menghajar ku, karena aku sudah berani menolak tawarannya." Jawab Dirga berterus terang.
"Theo?. Baru dengar?. Siapa dia?" Respon Arya semakin penasaran.
"Dia ketua gangster rajawali merah, yang merajai dua kota, bahkan sudah merambah ke kota sebelah. Anak buahnya cukup banyak, tersebar hampir di merata kota."
"Alex yang bos kalahkan itu, juga merupakan bawahannya, walau organisasinya berdiri sendiri, tapi mereka menyatakan setia kepada orang yang bernama Theo tersebut."
"Organisasi mu juga?" Tanya Arya memotong penjelasan dari Dirga.
"Tidak bos!, karena saya tegas menolaknya!" Jawabnya.
"Lalu apa reaksinya?" Tanya Arya lagi.
"Ya tentu saja dia marah, tapi belum berani untuk berhadapan denganku karena saat itu saya didukung oleh orang lain, yang kekuatannya lebih tinggi dari si Theo itu."
"Tapi sejak dikalahkan olehmu, mereka jadi berani, karena tanpa dukungan dari anak buahku, kekuatanku tidak sebanding dengan mereka." Jawab Dirga apa adanya.
"Terus?"
"Sebenarnya saat bos mengalahkan Alex dulu, Saya ada di sana. Namun hanya mengawasi dari jauh saja, karena belum mengetahui duduk permasalahannya."
"Tapi setelah bos mengalahkannya, saya jadi penasaran. Bagaimana anak muda seperti bos bisa mengalahkan Alex yang kuat itu?. Jadi saya dan anak buah saya berpura-pura mendatangi tempat tersebut, dan membuat kekacauan di sana."
"Ternyata saya dan mereka juga dikalahkan oleh bos, dan itu diketahui oleh orang yang bernama Theo, lalu memanfaatkan kelemahan anak buah saya untuk diambil alih." Jawabnya menjelaskan. sambil menyeka darah yang keluar dari lukanya.
"Hemm!. Ternyata begitu. Aku kira kau sudah lupa padaku?. Ternyata tidak begitu." Respon Arya baru paham. Lalu mengobati luka Dirga dan sembuh seketika.
"Terima kasih bos. Budi baik bos ini tidak akan pernah saya lupakan." Reaksi Dirga senang. kemudian menunduk dengan sikap hormat ke arah Arya, pertanda dia benar-benar takluk.
"Setelah ini kau mau ke mana?. Apakah mau pulang kampung atau membentuk organisasi baru?" Tanya Arya ingin tahu.
"Saya tidak akan kemana-mana bos!. Saya ingin mengikuti bos dalam susah maupun senang." Jawab Dirga berterus terang.
"Yakin?"
"Sangat yakin bos!" Jawabnya tegas.
__ADS_1
"Bagus!. Kalau begitu mari ikut aku, dan bergabung dengan Jodi dan anak buahnya di sana." Respon Arya cukup senang. Kemudian membonceng Dirga untuk ikut dengannya.