
"Siapa kalian. Kenapa membuat keributan disini?"
Plak!
Bum!
Tidak sempat mendapatkan jawaban, orang yang bertanya barusan langsung ditampar wajahnya, dan berubah menjadi kabut darah.
Teman teman sesama anggota jadi tercekat diam. Seorang petarung level B mati begitu saja, tanpa sempat melawan. Padahal kekuatannya cukup besar. Banyak yang sudah mati ditangannya. Tapi hari ini hanya karena tamparan, nyawanya sudah dikirim ke neraka. Seberapa besarkah kekuatan lawannya?
"Mana pemimpin kalian. Panggil dia kemari!" ucap seseorang malah mengajukan pertanyaan.
"Serang dia!" sambut lawannya tidak peduli.
"Huh! Percuma bertanya! Lebih baik habisi saja!" batin orang tersebut yang ternyata adalah Arya.
Dia datang bersama dengan Suta, yang saat ini sedang mencari keberadaan Matsuya, karena berdasarkan persepsinya, dia sedang berada di markasnya.
Namun setelah dicari, dia hanya mendapati dua orang petinggi yang sedang berkelahi, maka langsung dibunuh saja. Setelah itu malah ditinggalkannya. Tapi tugas lanjutan diserahkan pada anak buahnya. Setelah itu baru dia pergi mencari Matsuya.
"Ternyata dia tidak disini. Hanya auranya saja yang tertinggal. Licik juga!" guman Suta.
Sebaliknya dibagian Arya. Geram karena pencariannya tidak berhasil. Maka kemarahannya itu dilampiaskan pada anak buah Matsuya saja, yang kebetulan waktu itu sedang berkumpul. Jadi mudah bagi Arya untuk menghabisi mereka semua. Apalagi dia dibantu oleh Arga juga Yang Cha, beserta seribu anak buahnya. Maka pembantaian sepihak jelas sangat terasa. Katakanlah berat sebelah. Itulah kenyataannya.
"Ampuni kami tuan! Tolong jangan bunuh kami. Kami juga punya keluarga untuk dihidupi. Mohon tuan bermurah hati sekali ini!" ucap seseorang saat nyawanya sudah berada diujung tanduk karena kalah melawan Arya.
"Kemana pikiran kalian saat membantai orang orang yang tidak bersalah. Kenapa dengan mudahnya kalian menghabisi mereka?" respon Arya malah membalikkan pertanyaan.
"Kami terpaksa melakukan itu karena kami dibawah tekanan. Jika kami menolak maka nyawa kami yang akan dikorbankan. Oleh karena itu kami terpaksa melakukannya!" jawab pimpinan tiga ratus lima puluh orang itu menjelaskan.
"Lalu dimana tuan kalian? Kenapa dia tidak memperlihatkan diri saat kalian kami bantai?"protes Arya.
"Untuk masalah itu kami tidak tahu, karena akhir akhir ini tuan kami jarang sekali pulang. Dia sering berada diluar negeri untuk entah urusan apa. Mungkin untuk mengurus organisasi yang satunya?"
"Organisasi yang satunya? Organisasi apa itu? Dimana?" reaksi Arya tidak menduga.
"Untuk masalah itu kami juga tidak tahu. Jadi percuma tuan menanyakannya." jawab Marvin mencoba membohongi Arya.
"Ah terlalu lama. Kesini kau!" reaksi Arya tidak senang. Sambil mengulurkan tangannya kedepan, dan menarik Marvin agar mendekatinya.
Tap!
Kepala Marvin langsung dicengkeram oleh Arya, untuk memindai ingatannya, juga mencari informasi dimana keberadaan Matsuya. Tapi ternyata tidak berhasil juga.
Kesal karena usahanya tidak berhasil, Arya merutuk sendiri dengan berkata."Alot juga Matsuya ini. Anak buahnya saja tidak tahu dimana dia. Mungkinkah dia saat ini ada diantara mereka. Baik aku edarkan aura mata dewa untuk melihat dimana dia?" batin Arya.Kemudian berkata. "Mata dewa aktifkan!" serunya.
__ADS_1
Blar!
"Tidak ada juga. Jangankan tubuhnya. Auranya saja tidak ada. Lalu dimana dia?" geram Arya dibuatnya.
Setelah itu dia berkata pada anak buahnya." Paman Yang Cha. Habisi saja mereka! Jangan biarkan satupun yang masih hidup. Aku akan mencari Matsuya, ditemani oleh panglima Arga. Setelah itu susul kami ke Utara!" titah Arya pada anak buahnya.
"Siap laksanakan pangeran!" jawab Yang Cha patuh saja. Kemudian memberi arahan pada anak buahnya untuk menghabisi seratus lima belas orang yang masih tersisa. Termasuk Marvin komandan mereka.
Maka dalam sekejap saja. Pertarungan tidak seimbang pun kembali terjadi. dan hasil akhirnya hanyalah kematian." Bukan lawan seimbang." guman Dyah Isma, yang terus memantau kegiatan mereka dari udara.
Lalu mengalihkan pandangannya kearah Suta, yang saat ini sedang didampingi oleh puluhan orang anak buahnya. Tiga diantaranya adalah trio panglima, dibawah pimpinan Langit.
Saat itu Suta berkata. "Paman Awan dan paman Bumi. Habisi saja mereka. Jangan ada yang tertinggal. Kecuali orang yang bernama Gendra juga Masea. Karena mereka orang orang kita." titah Suta.
"Baik tuan muda!" jawab keduanya.
"Paman Robin juga paman Langit! Ikut aku! Sementara yang lain menyebar ke segala arah. Dan habisi anak buah Matsuya! Mumpung mereka sedang lengah!" ujarnya. Lalu menghilang dari sana.
Sementara itu ditempat semula. Beberapa orang petarung level rendah dan sedang. Saat ini tengah menghadapi gempuran anak buah Suta, yang dipimpin oleh Awan, dengan pukulan pukulan yang sangat mematikan.
Melihat itu seorang komandan bergumam tidak senang. "Kurang ajar! Siapa sebenarnya kalian?" ujarnya.Tapi tidak mendapat jawaban.
Geram dengan situasi tersebut. Langsung saja dia berkata. "Ayo kawan kawan kita ladeni mereka! Ingat! Kita ini petarung! Jangan takut dengan serangan mereka!" ujarnya menyemangati ratusan anak buahnya.
Berhubung level mereka cuma petarung level B dan level C. Ada juga dua orang yang berlevel A. tidak ada yang sekelas dengan dua ketua mereka yaitu level SS. Maka pertarungan jadi tidak seimbang. Tentu saja keberadaan mereka, menjadi makanan empuk bagi lawan lawannya.
"Kuat sekali! Siapa sebenarnya mereka?" ucap komandan divisi pertahanan pada temannya.
"Bagaimana ini komandan? Jumlah kita semakin menyusut. Sementara ketua dua juga tiga sudah mati. Apa tidak sebaiknya kita mundur, dan bergabung dengan yang lainnya saja ?" tanya wakil divisi pada atasannya.
"Untuk sementara kita tetap bertahan. Sekuat apapun mereka, menghadapi senjata otomatis pasti akan mati juga." jawab atasannya cuek saja.
"Dengarkan semua!" serunya tiba tiba. "Keluarkan senjata kalian. Tembaki mereka semua!" perintahnya.
Maka dalam sekejap saja lagi. Bunyi tembakan pun santer terdengar, mengimbangi suara teriakan yang masih saja bergema.Tapi Awan dan anak buahnya, tidak terpengaruh karena tembakan itu. Tubuh mereka tidak bisa dihancurkan. Selain karena aura pertahanan yang keluar dari tubuh mereka. Mereka juga kebal peluru Jadi dengan mudahnya para penembak tersebut dibuat hancur dengan sekali pukulan. Walau dari jarak jauh sekalipun.
Bumi apalagi. Dengan beringasnya dia maju ke depan, dan tidak memperdulikan peluru yang mengarah padanya. Semua dibuat jatuh hanya dengan auranya. Maka dalam sekejap saja. puluhan penembak tersebut dibuat terkapar. Mati sia sia.
Kini dari sekitar dua ratus lima belas orang, hanya tersisa dua puluh enam orang saja. Itupun kondisi nya sudah sangat memperihatinkan. Termasuk satu orang komandan dan satu orang wakilnya.
"Tuan! Tolong ampuni kami. Kami berjanji tidak akan berbuat jahat lagi. Kami hanya dipaksa untuk berbuat begini!"
"Kalau ada pengampunan, maka kami berdua memilih untuk bertobat, dan kembali ke Nusantara!" ucap Gendra bergetar suaranya.
"Apa kamu yang bernama Gendra?" tanya Bumi mendahului temannya.
__ADS_1
"Benar tuan. Saya Gendra dan ini Masea. Kami berasal dari Nusantara. Mungkin sama dengan kalian?" jawabnya berterus terang.
"Keluar dari sana! Yang lain akan kami hancurkan!" respon Awan memberi arahan.
"Baik tuan!" jawabnya merasa senang.
"Dasar pengkhianat! Kalau tuan kita tahu akan hal ini. Kalian pasti akan dihabisi!" rutuk Char Kan tidak senang.
"Sudah terlambat untuk mengutuk kami Char Kan . Mungkin pemimpin kalian saat ini sudah mati. Karena sesungguhnya yang membunuh ketua dua dan ketua tiga adalah pemimpin mereka. Jadi kau tenang saja. Cukup menunggu malaikat maut mencabut nyawa kalian!" jawab Gendra memprovokasi mantan komandannya.
"Kurang ajar! Ku bunuh kau Gendra! Hiaaaaa!" responnya tidak senang. Lalu berkelebat kearah Gendra dengan maksud untuk menghabisinya.
Plak!
Bum!
Kabut darah lah jadinya. Tubuh yang sedang melayang diudara itu. barusan ditampar oleh Awan, hingga berubah menjadi serpihan kecil, lalu hilang ditiup angin.
Tidak berhenti sampai disitu saja. Sisa pasukan yang masih hidup juga menjadi sasaran amukan anak buah Awan. Dan Bumi lah yang paling banyak berperan.
Pembawaannya yang berangasan, menjadi momok yang paling menakutkan. Kemana pun dia melangkah. maka nyawa lawan sebagai tumbalnya. Hingga dalam sekejap saja, seluruh anak buah Matsuya sudah binasa. Tinggal mencari mangsa lain, demi memuaskan hasrat membunuh mereka.
"Huh! Terlalu membosankan!" gerutu Bumi jelas tidak bisa terpuaskan.
"Kalau tahu begini, lebih baik dari awal saja diledakkan. Jadi tidak membuatku merasa bosan!"
"Hiaaaaa!"
Swush! Swush!
Boom! Boom!
Dhuar!
Akibat tidak menemukan lawan sepadan. Bumi menjadi sangat marah.Lalu menghancurkan bangunan apa saja yang ada di depannya. Bahkan jasad jasad malang anak buah Matsuya, juga dihancurkan nya, dengan cara dibakar menggunakan api yang berasal dari teknik inti pedang. dan itu memang nyata.
"Sekarang aku merasa belum puas! Jadi mari kita mencari mangsa lainnya!" ujar bumi mengejutkan teman temannya. Tak lama kemudian pun, mereka semua menghilang, dan pergi entah kemana.
Sementara itu ditempat lain. Atau tepatnya di markas utama Matsuya. Arya saat ini tengah berhadapan dengan dua orang lawannya, yang keduanya merupakan kultivator pedang. Walau yang satunya lagi menggunakan samurai, untuk sementara Arya dibuat kewalahan karenanya.
"Menyerah lah kau anak muda! Percuma melawan! Lihat anak buahku. Mereka ramai. Sedangkan kalian hanya berdua!" ucap seseorang dari salah seorang diantara keduanya.
"Berdua atau seorangpun tidak ada bedanya. Kalian tetap akan mati!" jawab Arya.
"Dasar bocah sombong. Terima ini!" reaksi mereka.
__ADS_1