
"Berapa lama aku berada di dalam sumur itu. Apakah hanya satu jam saja?" Tanya Arya pada anak buahnya.
"Bukan satu jam yang mulia, tapi tiga hari." Jawab Arga apa adanya.
"Tiga hari? Selama itukah?" Respon Arya tentu saja tidak percaya.
"Benar yang mulia!" Jawab Arga menjelaskan.
"Humm!. Ternyata begitu?. Aku kira cuma satu jam saja?" Respon Arya merasa lega.
"Berarti..?" Ah sudahlah!. Sekarang yang penting melaksanakan pesan eyang Baya, untuk membeli tempat ini, agar bisa dibuat tempat usaha." Ujarnya.
Lalu mengajukan pertanyaan, tentang apa yang selama ini dipikirkannya. "Apa kalian bisa melakukan sesuatu untuk ku, yaitu mencari pemilik tanah ini, atau setidaknya ahli warisnya?" Tanya Arya pada mereka.
"Izin menjawab yang mulia!. Waktu anda berada di dalam dunia awan itu, yang mulia prabu Baya mengirim utusannya, untuk menemui kami, agar segera mencari pemilik tanah ini, dan membawanya kemari."
"Orang tersebut sebentar lagi akan datang, bersama dengan pemuka kampung, desa serta kecamatan yang ada."
"Mereka sengaja dipertemukan, agar urusan yang mulia jadi lancar." Jawab Arga apa adanya.
"Oh bagus itu?. Kapan mereka sampainya?" Respon Arya merasa senang.
"Sebentar lagi yang mulia. Mereka sedang dalam perjalanan kemari, dengan membawa lima peralatan berat untuk membuka jalan dan lahan." Jawab Arga berterus terang.
"Wah bagus itu!. Jadi tidak susah susah lagi mencari peralatan, ternyata iya nya datang sendiri kesini." Reaksi Arya terus saja merasa senang.
"Oh ya?. Apa kalian bisa mendatangkan master Prana juga teman temannya itu kemari, sesaat sebelum orang orang itu datang?" Tanya Arya cukup mustahil untuk dikerjakan.
"Bisa yang mulia!" Jawab Arga cukup mengejutkan.
"Benarkah?. Kalau begitu...?"
Brum! Brum! Brum!
Terdengar bunyi mesin alat alat berat, yang digunakan untuk membuka jalan, dengan diikuti oleh dua mobil Jeep, dan beberapa buah mobil besar di belakangnya.
Sebentar saja, lokasi yang semula belukar, kini sudah menjadi agak lapang, karena kendaraan berat itu, terus saja melakukan tugasnya.
Ternyata yang ada di dalam mobil itu, salah satunya adalah pemilik tanah tersebut, yang datang dengan dikawal oleh puluhan anak buahnya. di ikuti pula oleh pemuka daerah setempat . Berarti dia itu orang kaya dan bukan orang sembarangan.
"Bagaimana yang mulia. Apakah jadi mendatangkan para master itu dan di kirim kemari?" Tanya Arga mengagetkan Arya.
"Ya, jadilah!. Aku ingin mereka menjadi tameng ku, agar aku kelihatan masih seperti dulu."
"Bawa juga beberapa ratus anak buahnya, ditambah dengan seluruh anak buah mu, dan datangkan kemari, saat mereka sudah bertindak kelewatan." Jawab Arya memberi arahan.
"Siap laksanakan yang mulia!" Respon Arga cepat. Kemudian
menghilang dari tempat itu, untuk menjemput mereka.
"Lihat!. Bukankah itu Arya?. Kenapa dia ada disini. Apa yang dia lakukan di sana?" Ujar seorang warga, yang ikut dalam rombongan itu merasa heran.
"Benar, itu memang Arya!. Nampaknya dia sedang kebingungan. Entah apa yang sedang dia lakukan disitu?" Respon warga lainnya membenarkan.
"Siapa anak itu?. kenapa dia berada di atas tanah ku apakah dia penduduk asli kampung ini?" Tanya Bhaskara, pada ketua kampung tersebut ingin penjelasan.
"Oh, dia itu dulunya penduduk kampung ini, tapi sekarang sudah tidak lagi, karena dia telah diusir, disebabkan telah berbuat kesalahan." Jawab Danu berterus terang.
__ADS_1
"Humm!.Ternyata begitu. Lalu apa yang akan kalian lakukan, saat melihat dia sudah kembali?" Tanya Bhaskara ingin ketegasan.
"Ya tentu saja mengusirnya, dan melarangnya untuk kembali?" Jawab Danu berterus terang.
"Baguslah kalau begitu! Aku tidak mau dia menjadi penyebab gagalnya perundingan masalah tanah ini dengan orang kaya itu." Respon Bhaskara merasa senang.
"Anda tenang saja!. Masalah anak itu jangan dirisaukan. Kami akan menanganinya dengan baik." Jawab Danu merasa sungkan.
Tak lama kemudian. Seluruh iring-iringan mobil sudah sampai, dan di parkir tak jauh dari tempat Arya berdiri itu. Lalu seluruh penumpangnya pun keluar, dan langsung memandang ke arah Arya seperti seorang pesakitan.
"Apa yang kau lakukan disitu pecundang?. Kau sudah di usir dari kampung ini, dan tak diizinkan untuk menginjak tempat ini lagi!" Ujar seseorang cukup lantang.
"Diusir?. Kau bilang aku diusir?"
"Kapan kalian mengusir ku, ha?. Bukankah aku sendiri yang berinisiatif ingin pergi dari sini, karena sudah muak melihat sikap kalian yang semena mena pada ku?. Terutama si Tanu itu?"
"Kenapa kau bilang kalian telah mengusirku?. kapan itu?. Kok aku tidak tahu?" Respon Arya tidak senang.
sambil mengedarkan pandangannya, ke seluruh tempat itu, untuk menghitung jumlahnya.
"Humm. Hanya sekelompok idiot, yang dipekerjakan untuk memuluskan rencana orang itu saja. Aku pikir sekawanan Serigala, yang datang ingin memangsa ku?" Batin Arya dalam hati.
"Arya!" Ucap seseorang cukup kuat. hingga membuatnya terpaksa harus fokus pada orang itu.
"Aku Lesmana!, kepala desa yang baru, menggantikan kepala desa terdahulu yang sudah pensiun itu."
"Sebagai kepala desa, yang bertanggung jawab terhadap keamanan kampung, desa dan tempat RT, RW yang berada di bawah wewenang ku, tentu ingin tempat yang berada dibawah naungan ku tetap aman."
"Jadi sebagai kepala desa, tentunya sedikit banyak mempunyai hak untuk mengambil tindakan. termasuk melarang mu untuk tinggal di kampung ini, karena kau sudah berbuat kesalahan."
"Jadi intinya adalah, kau tidak diterima disini, dan harus pergi sekarang juga, agar tidak menjadi bahan amukan warga." Ujarnya cukup mengejutkan.
Dia juga setuju jika Arya yang disebut bermasalah itu pergi dari kampung tersebut, karena takut di kemudian hari akan membuat masalah lagi.
Lalu berinisiatif untuk menambahkan alasan, agar Arya segera pergi dari tempat itu. karena sebentar lagi orang yang ingin membeli tanahnya akan datang. "Anak muda!. Aku tahu kau butuh uang untuk makan. Bagaimana kalau aku beri kau uang, dan segera pergi dari tempat ini, dan jangan kembali lagi ke sini?" Ujarnya cukup lantang. dengan sikap mentang mentang nya itu.
"Anda adalah..?" Respon Arya masih tetap sopan.
"Aku Bhaskara, pemilik tempat ini. Tanah yang sedang kau injak itu adalah tanah ku, dan aku melarang mu untuk berdiri disitu." Jawab Bhaskara cukup gamblang, dan sempat membuat orang orang yang ada di situ merasa tegang.
"Bhaskara ya?" Reaksi Arya cuek saja. Kemudian menyambung perkataannya kembali. "Tanah ini memang milik mu, tapi hanya sebatas pohon besar ini saja. Sedangkan yang di sebelah kanan ku adalah tanah ku. dan kau tidak bisa melarang ku untuk berdiri di situ."
"Sekarang aku sedang berdiri diperbatasan antara tanah mu dan tanah ku. Jika aku angkat kaki kiri ku, maka otomatis aku sudah tidak berada di tanah mu lagi. Jadi kau bisa berbuat apa. melarang ku?. tidak mungkin?" Jawab Arya cukup mencengangkan.
"Apa kau bilang?. Tanah yang ada di kaki kanan mu itu adalah tanah mu. jangan macam macam kau!"
"Aku tahu persis, bahwa seluruh tanah kosong ini adalah milik mendiang kakek ku, yang diwariskan pada ayah ku, dan sekarang telah menjadi milikku!"
"Jadi kau jangan mengada ada, dan mengaku sebagai pemilik tanah itu!" Respon Bhaskara tidak senang.
"Terserah kau mau percaya atau tidak?. Karena aku punya surat suratnya."
"Jika kau mengaku sebagai pemilik tanah ini, coba kau tunjukkan suratnya pada ku, agar aku jadi paham." Jawab Arya penuh perlawanan.
"Kepala desa, bagaimana ini?. Apakah ucapannya tadi benar?" Reaksi Bhaskara tidak terima.
"Pak Danu, kau yang lebih tau tentang itu. Coba jelaskan pada tamu kita, agar Arya tidak ngelunjak seperti itu." Jawab Lesmana malah melemparkan tanggung jawab pada aparat desanya.
__ADS_1
"Ya, apa yang dikatakan oleh bocah itu memang benar. Tanah yang sedang dia pijak itu adalah miliknya. Warisan dari orang tua angkatnya."
"Luas tanah yang dia miliki sekitar dua hektar, berbatasan langsung dengan tanah pak Bhaskara ini. Jadi apa yang dikatakannya itu benar." Jawab Danu menjelaskan apa adanya.
"Mustahil?. Bagaimana mungkin?. Ayah ku bilang, bahwa tanah seluas 12 hektar ini adalah miliknya. Lalu dari mana bocah itu bisa mengakui, kalau tanah yang sedang dia injak itu adalah miliknya?" Respon Bhaskara tidak mau terima.
"Tapi itulah kenyataannya pak Bhaskara, karena yang mengurus sertifikat tanah itu adalah saya. Jadi saya tahu persis mana batas batasnya." Jawab Danu membantah pula.
"Tidak bisa!. Pokoknya aku mau tanah itu semuanya menjadi milik ku, karena tuan yang akan membeli membutuhkan luas tanah sejumlah itu!"
"Jadi sekarang kau katakan, berapa akan kau jual tanah mu itu, agar aku bisa memilikinya?" Reaksi Bhaskara dengan sikap arogannya itu, dan terkesan meremehkan Arya.
"Aku tidak akan menjualnya, karena ini warisan dari orang tua ku, dan kau tidak bisa memaksanya!" Jawab Arya cukup tegas. hingga menimbulkan kemurkaan Bhaskara dan beberapa orang warga yang mendengarnya.
Mereka ingin mengeroyok Arya dan memukulinya. Tapi segan saja, karena disitu ada kepala desa, dan beberapa orang perangkatnya. Ditambah pula ada camat yang mengepalai sebuah distrik yang di sana.
Namun salah seorang pengawal Bhaskara tidak mau tahu dan terima. Dia tetap maju dan berkata pada Arya. "Beraninya kau?" Responnya. dan berusaha mendekati Arya, karena ingin menghajarnya. tapi dihalangi oleh tuannya.
"Begini saja anak muda!. Sebutkan berapa yang kau mau?. Niscaya aku akan membayarnya, walaupun harganya hingga ratusan juta!" Ujar Bhaskara merasa bangga.
"Ratusan juta?. Kau pikir aku semiskin itu, ha?. Sekarang aku pula yang bertanya pada mu. Berapa harga tanah ini, biar aku yang membelinya!" Jawab Arya malah balik bertanya.
"Hahahaha!." Reaksi seluruh warga serempak karena merasa lucu.
"Pecundang bergaya seperti mu, ingin membeli tanah yang luas ini?. Apakah aku tidak salah dengar?" Tanggapan salah seorang warga cukup menyakitkan.
"Arya!. Mau sampai kapan kau begitu?. Sadar oi! orang yang sedang kau hadapi itu adalah tuan Bhaskara, pengelola banyak perusahaan di negara ini. Dia merupakan orang kepercayaan dari tuan Dave yang kaya raya itu."
"Jika kau berani macam macam dengannya. Aku jamin riwayat mu akan segera berakhir!" Ucap seseorang yang tiba tiba muncul dari kerumunan warga, dan langsung mengintimidasi Arya.
"Oh Dave tua ya?. Sepertinya orang itu aku kenal?. Tapi siapa dan dimana aku sudah lupa?"
"Jadi tunggu sebentar ya? Biar aku bisa mengingat siapa orang tua malang itu?. Siapa tahu aku bisa menghubunginya, untuk sekedar mengabarkan, bahwa anak buahnya sekarang sedang merendahkan ku." Reaksi Arya cuek saja.
Tapi reaksi Bhaskara malah lain. Dia jelas marah, karena bosnya yang kaya raya itu, direndahkan oleh Arya sedemikian rupa. dengan berkata. "Jangan kurang ajar kau!. Kau tau dia itu siapa. Ha?"
"Berdiri di dekatnya saja, orang merasa segan. Bahkan orang orang kaya serta pejabat yang ada pun merasa sungkan dengannya?"
"Tapi kau malah mengatainya dengan sebutan Dave tua saja. Apa kau tidak takut jika kami akan membahas dendam?" Respon Bhaskara tidak terima bosnya direndahkan.
"Dia memang sudah tua. Punya tiga orang anak. yang satu sudah mati karena ditembak. Tinggal Dave muda dan Kanaya saja. Benarkan apa yang aku katakan barusan?" Tanggapan Arya malah membuat Bhaskara kebingungan.
"Bagaimana kau tau kalau...?"
Tut Tut Tut...!
Bunyi dering telepon yang dipegang oleh Bhaskara mengagetkannya.
"Uh tuan Dave!. Ada apa ya dia menghubungi ku. Apakah ada sesuatu hal penting yang ingin dikatakannya?" Reaksi Bhaskara tiba tiba ketakutan.
"Ha ha halo tuan Dave?.Apa yang bisa saya lakukan untuk anda?" Ujarnya bertanya.
"Apa yang kau lakukan?. Beraninya kau bersikap kurang ajar pada dewa penolong ku?. Apakah kau sudah bosan hidup?" Jawab Dave tua malah mengajukan pertanyaan.
"Si si siapa yang tuan maksudkan?. Di sini tidak ada orang yang seperti itu?. Adanya cuma pecundang...dan se.." Jawab Bhaskara malah balik mengajukan pertanyaan, tapi terputus, dan tidak jadi diucapkan.
"Diam!.Ternyata kau ingin cepat mati ya?.Tunggu saja!" Reaksi Dave tua tidak senang. Kemudian menutup teleponnya begitu saja.
__ADS_1
"Sekretaris Chao!" Ujarnya melalui telepon." Cepat siapkan lima helikopter puma besar. Aku ingin pergi ke daerah selatan, untuk menemui dewa penolong ku, karena dia sedang menghadapi kesulitan." Ujarnya tegas, sambil menggenggam erat teleponnya seperti ingin dipecahkan.