Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Bunglon Matsuya


__ADS_3

Di suatu tempat searah jarum jam yang ditunjuk oleh Suta. Terlihatlah segerombolan anak muda yang sedang asyik bermain poker. Sementara sebagiannya lagi sedang asyik dengan kegiatannya masing masing.


Ada yang duduk sambil merokok. Ada pula yang sedang menelepon seseorang. Bahkan ada yang juga yang sedang rebahan di lantai markas besar mereka, sambil menerawang langit langit ruangan.


Diantara mereka itu ada juga beberapa orang yang sedang duduk melamun, sambil memainkan jari jarinya. Mereka tidak peduli dengan aktivitas teman temannya yang lain, yang saat ini sedang asyik mengadu nasib dan peruntungannya dengan bermain judi. Mereka malah sedang tenggelam dengan lamunan dan pikirannya masing masing. Pikiran itu adalah apakah harus tetap bertahan, ataukah mengundurkan diri.


Jika bertahan. Maka mereka harus siap dengan segala konsekwensinya. Yaitu tetap berada dibawah dominasi dan tekanan ketua gangster Matsuya, yang nama lengkapnya adalah Alex Matsuya. Seorang pria keturunan Nihon. Berdarah campuran Eropa dari ibunya. dan Nihon dari ayahnya. Jika mengundurkan. Mati adalah jalan tengahnya.


Sebagai seorang ketua. Dia dikenal sebagai orang yang sangat kuat. yang menguasai ilmu tenaga dalam dan metafisika. Keterampilan tempur lainnya juga ada. Maklum mantan tentara bayaran. Memainkan segala jenis senjata itu keahliannya. Pokoknya serba sempurna.


Dia sangat ditakuti, sekaligus disegani di wilayah Utara tersebut. Bila dia sudah tampil, tidak ada yang berani membantahnya, apalagi melawannya.Jadi praktis dia dianggap sebagai raja, yang perintahnya tidak boleh dibantah.


Anak buahnya saja berjumlah ribuan. Tersebar di beberapa kota besar Eropa. Jadi kekuasaan sangat mutlak, yang tentu saja ditakuti oleh sesama gangster yang ada.


Namun yang anehnya. Bila sedang diam. Sikap dan pembawaannya sangat tenang. Seperti air yang mengalir. Sejuk bila dipandang. Tapi begitu mendapati kesalahan. apalagi itu berasal dari musuh musuhnya. sifat liarnya akan muncul tiba tiba. Tidak jarang dia langsung turun tangan, guna menghabisi lawan lawannya. Walau musuhnya itu lemah, namun dia tidak peduli. Tangkap langsung bunuh. Begitulah sifat asli orang itu sebenarnya. Bunglon Matsuya, itulah gelarnya.


"Pelan kan suaramu teman! Jangan sembarangan kalau bicara!" tegur seseorang pada rekannya.


"Memangnya tidak boleh? Aku sudah bosan terus menerus begini. Aku ingin tobat." bantah temannya tidak terima.


"Percuma kau katakan itu. Kita ini hanya anak buah. yang hidup dari belas kasihan orang lain. Bila beruntung dapat banyak. Tapi bila sedang sial tidak dapat apa apa!"


"Jadi aku sarankan. Urungkan niatmu untuk mundur, dan teruslah bekerja pada Matsuya. Karena aku yakin masa depan kita akan cerah. Lagipula sekarang ini kita mau kerja apa selain menjadi penjahat?"nasehat temannya.


"Aku ingin pulang ke Nusantara. karena di sana ada keluargaku yang sedang menungguku untuk kembali!" jawab temannya yang bernama Gendra terdengar nelangsa.


"Sebenarnya aku juga ingin pulang. Tapi sayangnya keluargaku sudah tidak ada. Yang ada hanya paman dan keponakan ku saja. Itupun hubunganku sudah jauh karena mereka tidak mengakui ku sebagai keluarga. Jadi...?" ujar Masea sengaja menggantung ucapannya.


"Jadi bagaimana? Apakah kita harus keluar atau tetap disini saja?" Gendra merasa tidak sabaran. Maka mendesak temannya untuk meneruskan perkataannya.

__ADS_1


"Ya, apa boleh buat. Kita bekerja pada orang. Jadi menurutku kita....?"


"Kau dipanggil ketua dua untuk menghadap. Sekarang juga!" tiba tiba seseorang muncul di tengah tengah perbincangan mereka hingga memutus ucapan Masea.


"Saya atau kami semua?" tanya orang yang ditunjuk tadi memberanikan diri.


"Kalian berlima. Ketua sedang menunggu kalian di halaman rumahnya." jawab utusan tersebut berubah niatnya.


"Untuk apa? Apa kami ada berbuat kesalahan? Bukankah sekarang saat nya istirahat?" protes yang lainnya pula.


"Untuk itu silakan tanyakan pada ketua. Aku hanya menyampaikannya saja!" jawab Av Kea tidak senang reaksinya.


"Baiklah! Sebentar lagi kami akan datang!" sambung temannya.


"Beraninya kalian! Tahukah kamu bahwa ketua dua sedang melihat kearah kita?" ujar utusan itu sudah mulai tersulut emosi. Sambil mengeluarkan aura intimidasi kearah mereka.


"Sekali lagi kalian berani melawan perintahku! Aku bunuh kalian!" tiba tiba orang yang saat ini menjabat sebagai ketua dua muncul di depan mereka.


Plak!


Bruk!


Tanpa banyak tanya. langsung saja menampar orang itu hingga terjengkang. Dari mulutnya mengalir darah segar, dan membasahi gigi giginya yang sudah mulai goyah. Rasa takut segera melanda hatinya.


"Aku sudah berbaik hati tidak membunuhmu kemarin. Tapi hari ini kamu kembali membuatku kesal. Lebih baik kau mati saja!" respon ketua dua, yang bernama lengkap Ivan Mavana sambil melambaikan tangannya kearah Gendra, seorang ketua divisi tempur, yang berada langsung dibawah komando ketua tiga.


Namun pukulan ringan dengan aura kekejaman ketua dua tidak bisa mengenai Gendra. Malah berbelok kearah anak buahnya. Dan...


Dhuar!

__ADS_1


"Tahan emosimu Ganda!Jangan sembarangan melakukan pemukulan. Gendra adalah anak buahku. Kau tidak berhak memukulnya!" ucap seseorang mencoba menengahi pertikaian mereka.


"Sebagai ketua dua. Aku berhak mengatur semua lini, karena itu aturannya. Kau jangan ikut campur urusanku Mavea!" jawab orang yang dipanggil Ganda tidak senang.


"Kau mau apa. Mau bertarung?" balas Mavea tidak suka. Dan langsung melakukan serangan kearah Ganda.


Aksinya yang gampang marah serta tersinggung itu sontak memicu keributan di lokasi tersebut. Semua yang sedang bermain dan melamun segera menghentikan aktivitasnya. Mereka ingin tahu ada apa dengan dua orang pemimpinnya. Apakah mereka sedang latihan atau bercanda?


Namun setelah melihat beberapa pukulan masuk mengenai keduanya, barulah mereka sadar bahwa itu bukan latihan, tapi perkelahian antar sesama. yang kebetulan dilakukan oleh dua orang petinggi Geng Naga, yang saat ini sedang mempertahankan egonya.


"Hentikan Mavea. Ini hanya salah paham!" teriak Ganda sambil mengusap dadanya karena sakit akibat pukulan lawan.


Krak!


Bamm!


"Argh! Badjingan kau Mavea! Ku bunuh kau!" reaksi Ganda tidak terima, saat pergelangan tangan kirinya dipatahkan oleh lawannya, sambil melakukan tendangan memutar dan langsung menerbangkan Ganda.


Dia sangat marah atas jejadian itu. Maksud hati hanya bertukar satu atau dua buah pukulan, tapi malah begini jadinya. Pertikaian antar ketua dua dengan Gendra bukanlah pemicu utama, tapi hanya sebagai alasan kedua untuk bersitegang dengan Ganda. Peristiwa sebenarnya adalah karena Mavea tidak terima saat pemimpin besar mereka melengserkan kedudukannya, dari ketua dua menjadi ketua tiga. Itu jelas membuat Mavea sakit hati, dan hari ini adalah kesempatan untuk melampiaskan kemarahannya. Itu hanya alasannya saja.


Tapi saat mereka sedang berkelahi tersebut, tiba tiba datang sebuah serangan entah dari mana, yang langsung menghancurkan tubuh keduanya hingga tidak tersisa. Walau hanya tulang belulangnya saja.


Kejadian itu tentu saja membuat semuanya terdiam. Antara takut dan ngeri menyelimuti mereka. Jelas mereka tidak tahu siapa yang melakukannya. Apakah itu musuh atau pemimpin besarnya, masih perlu dipikirkan.


Namun sekian detik ditunggu tidak ada juga yang datang. Membuat suasana jadi mencekam. Walaupun hari masih siang, tapi perbawa nya jelas sangat terasa.


"Aneh? Apa yang terjadi? Kemana pemimpin besar kita? Kenapa dia tidak datang? Biasanya keributan kecil saja, memicu emosinya naik. tapi kali ini berbeda. Dimana dia?" ujar seorang komandan pada temannya. keheranan.


"Aku juga tidak tahu. Mungkin..?

__ADS_1


Boom!


Belum selesai ucapannya. Dari arah tenggara terdengar bunyi ledakan. Disusul oleh robohnya sebuah bangunan permanen, akibat perkelahian antar dua orang, yang kekuatannya sangat mengerikan. Entah siapa mereka?


__ADS_2