
"Setelah ini aku harus hati hati. Takut kejadian serupa terulang kembali."batin Arya bergidik ngeri. Kemudian menggabungkan diri dengan kelompok Suta.
Sementara itu ditempat lain. Atau tepatnya di udara Lonia. Dyah Isma Prameswari. Terlihat sedang memberi pengarahan pada dua orang bawahannya. Saat itu terdengar dia sedang berkata. "Jenifer dan kau Jena! Lapisi mata dan tubuh kalian dengan aura nirwana, karena pengaruh sihir dari mata Medusa bisa membuat lawannya menjadi batu, dan mudah dihancurkan sesudahnya. Aku tidak mau kalian terpedaya oleh tipu dayanya!" ujarnya.
"Selain itu. Gunakan juga teknik mata dewa, untuk melihat pergerakannya. karena tubuhnya itu tidak nyata. Tubuh aslinya masih ada di dasar Samudra. Oleh karena itu pancing agar dia keluar. Setelah itu baru tugas mereka." sambungnya. Kemudian menunggu mereka melakukan itu. Baru beralih pada keponakannya.
"Berdasarkan petunjuk dari ayahmu. Tubuh asli Medusa bukan yang sedang mengambang di udara. Itu hanya tubuh sihir saja.Tubuh aslinya ada di dasar lautan, dan sedang menunggu untuk menyerang kita!"
"Oleh karena itu pancing tubuh aslinya, dengan cara menghancurkan tubuh samarannya. agar rasa sakit juga dirasakannya!" ujar Dyah Isma melalui tranmisi suara pada Suta. Lalu bersama dengan bawahannya memasang segel di udara, untuk mencegah Medusa agar tidak melarikan diri, atau menyerang mereka.
Sebaliknya. Suta yang mendapat pencerahan itu, segera memberitahukan masalah tersebut pada bawahannya. Dengan cara berteriak lantang, untuk menyadarkan keterpanaan mereka." Kalian semua! Makhluk yang ada di udara itu bukan Medusa. tapi samarannya!"
"Mumpung dia belum sadar dan sudah disegel. Cepat kerahkan kemampuan terbaik kalian untuk menghancurkannya!" teriak Suta.
Maka bergegaslah semua mengeluarkan ilmu kesaktiannya. Agar tidak ketinggalan dalam menghancurkan tubuh samaran Medusa. Masing masing tidak mau kecolongan untuk yang kedua kalinya.
Arya yang sudah terlanjur kesal. segera merilis teknik kehancuran semesta level dua. yang apabila mengenai tubuh lawannya bisa mati seketika.
Robin. Burgon, Langit, Awan dan Bumi juga demikian. Masing masing mengeluarkan teknik terbaik mereka. agar pertarungan satu lawan duapuluh lima tidak mengecewakan mereka.
Sementara anak buah Arya belum dimunculkan. Begitu juga dengan avatar Dragon. Mereka masih berada di dunia jiwa milik Dragon juga Arya. Sedangkan yang ada saat ini hanya bawahan Suta saja. Tidak termasuk Arya."Lepaskan pakulan kalian!" seru Suta.
Whus!
Slash!
Ngung!
Boom!
Boom!
Dhuar!
Tubuh samaran Medusa segera terbakar. Yang pertama hancur adalah ekornya. Baru disusul dengan kepalanya. Semua mengira bahwa Medusa sudah tiada. Namun tidak buat Dragon juga Dyah Isma. Mereka tahu kalau yang hancur itu bukan Medusa. Tapi tubuh sihirnya. Sedangkan tubuh samarannya masih berada di atas mereka." Lihat diatas sana! Samaran Medusa masih ada! Cepat menghindar agar tidak menjadi korban!" teriak Dyah Isma tiba tiba.
"Dasar ceroboh! Menghabisi satu musuh saja perlu orang sebanyak itu. Bagaimana kalau musuhnya banyak. Mungkin mereka akan celaka?" guman Dragon dari atas singgananya.
__ADS_1
Walaupun dia tidak berada di lokasi pertempuran. Tapi dia tahu apa yang sedang terjadi dengan bawahannya. Mereka terlihat begitu kewalahan, saat berhadapan dengan makhluk seperti Medusa. yang mempunyai puluhan nyawa cadangan, serta trik trik sihirnya. Hingga mampu mengelabui mereka termasuk Arya.
Walaupun saat ini dia sedang memakai kasutpada kacarma, serta rompi antakusuma. Namun tetap saja dia kecolongan .
Tentu saja Arya tidak sadar, kalau kasutpada kacarma yang asli ada pada Dragon. Begitu juga dengan rompi antakusuma. Sementara yang ada ditubuh Arya itu hanya tiruannya saja. Tapi walau demikian. keampuhannya hampir menyamai bentuk aslinya.
"Paman Awan! Gunakan teknik inti pedang, dan rubah menjadi gumpalan awan untuk mengurung medusa!"
"Sedangkan untuk paman langit! Gunakan cakra penghancur saat tubuh Medusa sudah terkurung gumpalan awan! Sementara paman Bumi. Rubah gumpalan awan yang sudah terbentuk menjadi keras, agar tidak bisa dihancurkan oleh medusa!"
"Untuk yang lainnya. Bentuk segel kehampaan! Aku tidak ingin kejadian serupa terulang kembali!" teriak Suta. Kemudian bersama sama merilis segel yang barusan dia sebutkan.
Setelah itu dia memandang ke arah bibinya. termasuk pada Jenifer dan Jane Achara.Saat ini mereka hanya berdiam diri saja. dan mengawasi usaha Suta dari udara. Tapi tentu saja dengan perubahan tubuh phonik apinya.
"Bersiap semua! Lakukan pengurungan!" seru Suta.
Whus!
Whus!
"Grouuuucch!" teriak Medusa marah. Dia tidak terima diperlakukan seperti itu, dan berusaha melawan kekangan aura penindasan dari lawan lawannya.
Sedaya upaya berusaha menghancurkan segel panas yang mengurungnya. Dengan mengandalkan tembakan sinar berbahaya dari matanya. Bukan hanya itu saja. Ekornya juga berperan. Kurungan awan panas yang bisa melelehkan besi juga dihantamnya. Tapi tidak berhasil juga.
"Grouuuchh!" semakin marahlah dia, akibat usahanya tidak berhasil. Semburuan api panas juga keluar dari mulutnya. Dan berusaha membakar apa saja yang ada di sekelilingnya.Namun sia dia.
"Ini saatnya! Aktifkan segel penghancuran!" teriak Suta.
Ngung!
Krak!
Ctar!
Boom!
Tubuh Medusa hancur dan beterbangan diudara.Namun ada dua sinar cukup terang diantara serpihan tubuhnya. Dyah Isma yang pertama kali sadar. Itupun atas petunjuk Kakaknya. Tak mau kecolongan. Cepat cepat dia berkata. "Kalian semua! Cepat hancurkan dua batu delima yang sedang melayang di udara! Itu nyawa cadangannya!" seru Dyah Isma mengingatkan mereka.
__ADS_1
"Arya!" giliran suta memanggil bawahannya."Gunakan kujang emas yang ada dalam tubuhmu itu! Hancurkan batu yang sedang melayang tersebut sebelum tubuh Medusa kembali menyatu!" ujar Suta.
"Baik pangeran!" jawab Arya. Lalu bergegas mengeluarkan senjata tersebut dari badannya, dan segera melemparkannya ke udara.
"Dengan musnahnya jiwa Medusa. Semoga keamanan dunia bisa tercipta!" teriak Arya, sesaat setelah melemparkan kedua kujang emas itu ke udara. Lalu..
Slash! Slash!
Dhuar! Dhuar!
"Grouuuuch!"
Boom!
Kabut darah segera tercipta. Mencemari udara dan membuatnya merah. Hampir saja mengenai mereka.
"Bagus! Ternyata Arya ada gunanya juga." guman sang naga dari atas singgasananya.
"Dengarkan kalian semua! Musuh yang sesungguhnya masih ada. Sebentar lagi dia akan keluar. Jadi bersiaplah!" seru Dragon Sang Naga Dunia melalui tranmisi suara pada mereka.
"Kalian dengar itu! Segera bentuk formasi, dan jauhi medan gravitasinya.agar tidak terkena dampaknya!" seru Suta!
Maka bergegaslah mereka melakukan perintah Suta. dengan cara membentuk formasi pengaman, agar kemunculan Medusa dua tidak terlalu berdampak buruk pada mereka.
Dalam sekejap saja diatas langit Lonia. Garis pembatas lautan di sekitar pusat gravitasi segel Seiya sudah terbentuk. dan menjelma menjadi kubus berukuran besar, yang diharapkan mampu menahan efek ledakan kemunculan Medusa.
Namun secara tidak terduga. Formasi berbentuk kubus itu tidak bisa menahan ledakannya. yang mengakibatkan Suta dan bawahan nya terdiam, dan hanya melongo saja.
"Luar biasa! Kekuatan gabungan yang sebesar itu. tidak mampu menahan efek kemunculannya. Jika bukan karena peran Suta. Mungkin mereka akan mati?Beruntung sebelum ledakan itu. Mereka sudah pergi dan segera mengantisipasinya."guman Dyah Isma.
Lalu menoleh kearah bawahannya dan berkata. "Bibi jeni! Hadapi Medusa. Karena hanya kau yang bisa melawannya."
"Baik nona!" jawabnya.
Tapi belum juga dia bergerak. Tiba tiba entah darimana mulanya. Tubuh Arya ditarik secara paksa oleh sebuah kekuatan yang tidak mampu dia lawan, dan terus saja melayang mendekati Medusa.
"Arya!" pekik Suta. Lalu terbang menujunya, dan berusaha menahan laju tarikannya."Tak akan kubiarkan!" teriak Suta.
__ADS_1