Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Dominasi Arya


__ADS_3

Sementara itu di tempat Arya. penduduk kampung tersebut masih terus membullynya.Namun Arya masih tetap tenang, dan tidak terpengaruh oleh perkataan mereka, walaupun yang diucapkan adalah umpatan, makian dan hinaan yang cukup menyakitkan.


Tapi sampai sejauh ini, Arya tidak menanggapinya, dan tetap membiarkan kejadian itu terus berlangsung.


Bagi Arya, ocehan mereka bagai angin lalu saja, karena menurutnya, mereka tidak tahu Arya yang sekarang itu bagaimana. Andai mereka tahu, mungkin akan berpikir seribu kali saat mengucapkannya.


"Tuan Bhaskara, sebenarnya siapa orang yang sedang anda tunggu itu? Kenapa sampai sekarang orangnya belum datang?" Tanya Lesmana ingin penjelasan.


"Benar tuan Mana, kami juga penasaran, dan membutuhkan penjelasan dari anda. Sebenarnya siapa yang sedang anda tunggu. Apakah orangnya memang ada?" Sambung Pranaya datang menyela.


"Pak camat juga pak kades. Saya juga tidak tahu siapa orang yang sedang saya tunggu itu. Sekretarisnya hanya mengatakan, bahwa orang yang ingin membeli tanah ku adalah tuan muda Arya. Tapi saya tidak tahu siapa orang nya?" Jawab Bhaskara apa adanya.


"Tuan muda Arya?.Siapa dia?. Mungkinkah anak itu?" Reaksi Lesmana jadi terpana.


Lalu memandang ke arah Arya, kemudian beralih pada warganya. dan sejurus kemudian dia pun berkata. "Saudara saudara sekalian!. Di kampung ini nama Arya hanya ada satu, dan itu adalah dia!"


"Tadi tuan Bhaskara mengatakan, bahwa yang ingin membeli tanah ini adalah tuan muda Arya. Apakah diantara kalian ada yang tahu, siapa orang itu?Apakah kalian mengenalnya?" Tanya Lesmana pada warganya. dan menunggu apa respon dari mereka.


Tapi semua orang hanya bisa diam, karena tidak ada yang tahu siapa tuan muda itu. Mereka hanya menduga kalau orang tersebut bukan penduduk kampung ini, dan pasti dari luar. Jadi praktis mereka tidak bisa menjawabnya, karena teka teki itu cukup rancu buat mereka.


Tidaklah mungkin yang dikatakan oleh orang itu adalah Arya, karena warga mengetahui siapa Arya dulunya. Jadi tidak mungkin yang dipanggil tuan muda itu adalah Arya? Lalu siapa lagi kalau bukan dia?


"Pak lurah Mana!. Kami semua tidak tahu siapa orang itu. Mungkin tuan tersebut tersalah dengar. Yang dipanggil tuan muda itu bukan Arya tapi orang lain."


"Jadi kita tunggu saja beberapa menit lagi. Kalau orang itu sudah datang, baru bisa dipastikan siapa yang tuan muda itu sebenarnya?" Ujar kepala kampung tersebut memberi masukan.


"Humm!. Cukup masuk akal juga?" Reaksi Lesmana mulai senang.


"Lalu bagaimana dengan bocah itu, apakah akan dibiarkan berada dikampung ini, dan membuat keributan?" Reaksinya lagi.


"Tuan tenang saja! Masalah anak itu biar kami yang urus. karena dulunya dia telah berbuat kesalahan, maka kami akan menangkapnya, dan memberinya pelajaran." Jawab Danu yang pertama memberi penegasan.


"Bagus!.Itu keputusan yang aku tunggu.Jadi cepat kerjakan. karena aku sudah tidak punya banyak waktu di kampung ini." Respon Bhaskara merasa senang.


Kemudian menyuruh anak buahnya untuk mengepung Arya, dan diserahkan pada kepala desanya. dengan ekspresi penuh dendam.


Bukan hanya mereka saja yang beraksi. Seluruh warga yang ikut dalam rombongan, juga bergerak dan mengepung Arya, agar cepat tertangkapnya.


Salah seorang warga yang tidak menyukai Arya, dibantu oleh tiga temannya berniat maju duluan, dan ingin langsung memukul Arya, dengan menggunakan balok kayu panjang.


Saat mereka sedang mengayunkan kayu itu, salah seorang dari mereka berkata." Sekarang kau bisa apa?. Tidak mungkin mampu melawan kami yang banyak ini. Jadi terima saja nasib mu yang akan mati." Teriaknya. Lalu..


"Hiaaaaaa!"


Krak!


Bamm!


"Argh!"


Teriak orang itu kesakitan, saat kayu yang ia gunakan untuk memukul Arya hancur sebelum sampai, dan itu berimbas pada tangan yang memegangnya.


"Sialan!. Siapa yang melakukan itu?. Tunjukkan di..


Bugh!


"Argh!" Teriaknya lagi, dan.. Bugh! Bugh Bugh!


Empat orang yang tadi ingin memukul Arya, sekarang sudah terbaring kesakitan di tanah, karena tubuh tubuh mereka, dihantam oleh sebuah kekuatan cukup besar, yang dilancarkan dari jarak jauh, hingga membuat aksi mereka gagal.


Serempak semuanya memandang ke arah belakang, dan mendapati ratusan orang sedang berdiri tak jauh dari mereka, dengan aura yang cukup mengintimidasi.


Salah seorang dari mereka adalah master Prana, yang didampingi oleh seratusan orang lebih anak buahnya, termasuk lima master lainnya kecuali master Teja.


Saat mereka mengalihkan pandangannya ke arah Arya. Tiba tiba mereka berdiri kebingungan, karena di belakangnya, berdiri seribuan orang lebih, yang berpakaian ala pendekar, yang dilengkapi pula dengan berbagai macam senjata, hingga membuat perbawa Arya jadi sangat menakutkan.


Belum hilang rasa terkejut mereka, terdengar bunyi suara yang berasal dari lima puma besar. Kemungkinan berisi banyak pengawal, yang mendampingi Dave tua untuk menemui Arya.

__ADS_1


Begitu mereka turun dan sampai. Bhaskara yang sangat mengenali Dave tua jadi ketakutan.Ternyata kata awas yang diucapkannya tadi, benar benar dilaksanakannya.


Bagaimana tidak takut?. Bhaskara kenal betul sifat bosnya itu. Jika dia sudah marah, maka tamatlah riwayat orang tersebut, kecuali kalau sesudah itu dia bisa beralasan yang cukup masuk akal.


"Tu tu tuan Dave!. Ternyata itu anda?. Ada gerangan apakah, hingga tuan yang mulia mau mengunjungi tempat yang kotor ini? Apakah ada sesuatu yang sangat besar yang ingin anda kerjakan?" Reaksi Bhaskara cukup sopan, sambil tangannya di letakkan di kedua pahanya. karena takut bersikap arogan.


Tapi Dave tua mengacuhkan Bhaskara. Dia malah melangkah ke arah Arya, dan langsung membungkuk ke arahnya.


"A a a apa?. Bagaimana mungkin?. Tuan Dave yang berkuasa, bersikap sopan pada bocah itu. A a a apakah dia..?" Respon Bhaskara keheranan, sambil berkata terbata bata, hingga tidak jadi diucapkan.


"Apa kabar master dewa?. Apakah ada orang disini yang menyulitkan mu? Katakan saja padaku. niscaya aku akan mengatasinya!" Sapa Dave tua pada Arya. Kemudian. berbincang akrab satu sama lain, seperti orang yang sudah lama kenal.


"Master dewa?. Arya dipanggil master dewa?" Reaksi terkejut dari orang orang kampung itu merasa penasaran.


Mulanya saat Dave tua datang. Mereka saling berbisik satu sama lain, dan mengira ngira siapa dia sebenarnya?.


Waktu Prana dan anak buahnya datang, mereka juga berbisik bisik tetangga, apalagi saat kemunculan para pengawal Arya yang berjumlah ribuan itu. Semakin membuat mereka penasaran, sekaligus ketakutan, karena aura mereka sangat menakutkan.


"Tuan Bhaskara!. Siapa orang orang ini?. Kenapa anda...?" Tanya Lesmana mencoba memahami keadaan.


"Diam!. Jangan berani bersuara, kalau tidak mau celaka?" Reaksinya mengejutkan. dan terus menunduk ke arah Dave tua, dengan harapan tidak dihukum olehnya


"Beraninya kau..?"


Plak!


"Argh!" Jerit Lesmana kesakitan, saat ditampar oleh anak buah Bhaskara, hingga membuat wajahnya berpaling ke belakang.


Mendapat tamparan keras seperti itu, membuat Lesmana menjadi ketakutan. Apalagi setelah ditodong dengan puluhan senjata otomatis, semakin menambah rasa takutnya tersebut membesar.


Pranaya yang membawahi lesmana menjadi tidak senang. Kemudian dengan suara lantang berkata."Apa yang kalian lakukan?. Tidak tahukah kalian kalau dia itu ..?"


"Kau juga diam!. Walau kau pegawai pemerintahan. Dia tidak mau tahu. Hanya dengan sekali ucap, jabatan mu bisa hilang!" Bentak Bhaskara tidak senang.


"Siapa dia sebenarnya?. Kenapa tuan takut sekali padanya?" Ucap Pranaya sempat sempatnya bertanya.


"Kau yang membawahi distrik ini bukan" Tanya Bhaskara tiba tiba.


"Kenalkan, dia itu bos ku, Dave Bharata. Pemilik seratus lima puluh sembilan perusahaan di seluruh dunia."


"Aset perusahaannya mencapai triliunan dolar amerika. Dan sekarang sedang berekspansi untuk menguasai sebagian besar tambang emas dan batu bara dunia."


"Jika ada yang berani


menentangnya, maka dalam sekejap saja,baik jabatan besar maupun kecil akan hilang karenanya."


"Oleh karena itu berhati hatilah, dan lebih baik diam dari pada harus kehilangan pekerjaan!" Jawab Bhaskara berterus terang. sambil terus menunduk ke arah Dave tua.


"Semenakutkan itukah?. Bisik Pranaya pada Bhaskara.


"Diam lah!. Jangan banyak tanya!" Hardik Bhaskara tidak suka. Sambil terus menunduk ke arah Dave tua.


"Kau tahu siapa orang itu Bhas?" Tanya Dave tua tiba tiba.


"Ti ti ti tidak tuan!. Mo mo mohon pencerahannya." Jawab Bhaskara apa adanya.


"Aku tanya kau dulu. Apa ada seseorang yang menyuruh mu datang ke sini?"Ujarnya.


"I i iya tuan!" Jawab Bhaskara berterus terang.


"Siapa yang menghubungi mu, dan apa yang dia katakan?"


"Kata orang itu, aku harus datang, karena ada seseorang yang ingin membeli tanah ku."


"Siapa?"


"Sekretarisnya tuan."

__ADS_1


"Lalu dia panggil orang itu apa?"


"Tuan muda Arya!" Jawab Bhaskara berterus terang.


"Kau tahu dia?"


"Ti ti tidak tuan!"


"Ketahuilah, orang yang kau panggil tuan muda itu adalah atasan ku. Dialah orangnya." Ujar Dave tua berterus terang juga.


"A a apa?. Di di dia orangnya?" Respon Bhaskara mulai ketakutan.


"Ya! Kenapa? Penasaran?" Jawab Dave tua memberi penegasan.


"Ja jadi?"


"Segera minta maaf!. Kalau kau masih ingin hidup!" Jawab Dave tua kembali menegaskan.


"Ta tapi tuan?"


"Masih berani melawan?. Aku bilang minta maaf ya minta maaf, jangan berani membangkang!" Respon Dave tua tidak senang.


"Pengawal!. Cepat tembak orang ini berikut anak buahnya!" Perintah Dave tua cukup mengejutkan.


"Ba ba baik tuan!. Aku akan meminta maaf padanya." Reaksi Bhaskara gelagapan. Kemudian merangkak ke arah Arya, dan berlutut dibawah kakinya.


"Maaf kan aku tuan muda! Sungguh aku tidak tahu siapa anda. Mohon ampuni nyawa ku, karena telah. berani kurang ajar pada anda." Ucap tulus Bhaskara pada Arya.


"Masih berminat untuk membeli tanah ku?" Respon Arya malah bertanya.


"Tidak tuan muda!. Saya tidak berani." Jawab Bhaskara tidak berdaya.


"Kalian bagaimana? Apakah masih berminat memprovokasi ku ?" Tanya Arya beralih pula pada penduduk desa.


Tapi tidak ada seorang pun yang berani bersuara, termasuk kepala desa, camat juga kepala kampung itu. apalagi warganya.


Mereka hanya berdiri diam, karena tadi telah berani menghina Arya. Apalagi empat orang itu, sambil berharap harap cemas, takutnya Arya akan membalas dendam.


Tapi yang ditakutkan tidak terjadi juga, karena perhatian Arya beralih pada Bhaskara." Setelah kau tahu siapa aku, apakah kau masih berani merendahkan ku?" Tanya Arya.


"Tidak tuan muda!" Jawab Bhaskara sudah mulai tenang.


"Aku ingin tanah mu. karena aku ingin mendirikan perusahaan di atasnya. Apakah kau keberatan?" Ujarnya tiba tiba.


"Tidak tuan muda!. Anda tidak perlu membelinya, karena saya akan memberikannya secara cuma cuma pada anda." Jawab Bhaskara mencoba menyogok Arya.


"Aku tidak mau!. Katakan saja berapa harganya?" Respon Arya tidak suka.


"Cepat jawab pertanyaannya!. Kalau berani lambat, ku tembak kau!" Ujar Dave tua mulai murka.


"Ba ba baik tuan muda!. Anda cukup membayar seharga dua milyar saja." Jawab Bhaskara


"Kenapa?" Tanya Arya.


"Karena harga tanah di sini memang rendah, tidak sama harganya dengan tanah di kota. Ditambah lokasinya yang cukup jauh. Jadi hanya sejumlah itu, sudah bisa memilikinya." Jawab Bhaskara malu malu.


"Yakin?" Tanya Dave tua ikut menyela.


"Yakin tuan!" Jawab Bhaskara tanpa ragu ragu.


"Bagaimana master dewa? Apakah anda berminat membelinya?"Tanya Dave tua pada Arya.


"Ya, aku berminat memilikinya." Jawab Arya apa adanya.


"Biar saya yang membayarnya. Hitung hitung sebagai sumbangsih saya pada anda." Respon Dave tua menawarkan jasa.


"Tidak usah!. Biar aku saja." Tangkis Arya menolak bantuan dari Dave tua.

__ADS_1


"Sebutkan nomor rekening mu, aku akan mentransfer uang itu ke situ." Ujar Arya beralih pada Bhaskara.


"Ini rekeningnya. Silakan anda scan barcode nya, dan langsung kirimkan ke situ." Respon Bhaskara merasa senang. karena sudah bisa menjalin hubungan baik dengan atasan tuannya.


__ADS_2