
"Apa?. Mengambil api bumi, untuk apa?" Tanya Arya keheranan, sesaat setelah bayangan misterius muncul di depannya.
"Untuk bisa meracik obat tingkat sempurna, supaya bisa kau jual keluar, demi membesarkan perusahaan juga pengaruhnya di kancah bisnis dunia." Jawab bayangan itu apa adanya.
"Tapi dimana aku bisa mendapatkan api itu?Sedangkan aku sangat awam dengan informasi tersebut?" Balas Arya malah bertanya.
"Dasar bocah bodoh!. Bukankah api itu ada di istana awan, yang terletak di sumur tua itu. Apa kau sudah lupa?" Jawab bayangan misterius itu menjelaskan.
"Sumur tua dekat rumah ku dulu?" Tanya Arya lagi.
"Kalau bukan itu dimana lagi?. Jadi cepatlah bangun, pergi ke sana dan ambil api itu, agar sesudahnya kau bisa meracik pil tingkat tinggi untuk kau jual." Jawab bayangan tersebut mulai kesal.
"Tapi bagaimana aku bisa memasuki tempat itu, sedangkan penduduknya sangat memusuhi ku?" Tanya Arya ingin penjelasan.
"Ambillah benda ini. Pakaikan di badan mu, orang orang itu akan segan serta takut pada mu." Jawab sosok misterius itu mengambil peran.
"Benda apa ini?.kenapa auranya seperti aku kenal?. Apakah ini..?" Reaksi Arya penasaran.
"Ya, itu mustika sakti yang dulu aku berikan pada mu, dan sekarang sudah ku ubah menjadi rompi maha sakti, yang akan menyatu dengan rompi Antakusuma, yang selalu kau pakai itu."
..."Dengan dua benda pusaka yang sudah menyatu, ditambah dengan sepasang sepatu Kasutpada Kacarma, dan dilengkapi pula dengan cincin Brajamusti, yang ada di jari tengahmu itu, serta disempurnakan pula oleh kalung Pasopati. Maka urusan mu akan menjadi lancar."...
"Jadi gunakan itu untuk mengambil api bumi, niscaya segala urusan mu akan dipermudah olehnya." Jawabnya lagi.
"Setelah berhasil menguasai api bumi, maka kau akan dihadiahi api langit. salah satu api abadi yang ada di dunia ini."
"Api itu bisa digunakan untuk membuat pil tingkat dewa. Satu jenis pil yang selama ini sangat dicari oleh ahli metafisika, dan praktisi beladiri, serta praktisi tenaga dalam, untuk menaikkan level kemampuannya menjadi sepuluh kali lipat lebih tinggi dari level semula."
"Harga yang akan mereka tawarkan sangat tinggi, bisa setara dengan harga sebuah pulau besar, yang sekarang banyak dibeli oleh orang orang kaya."
"Jika kau bisa membuat pil itu. maka tak ayal, kau akan menjadi orang yang paling di cari, oleh orang orang sakti dari seluruh dunia."
"Mereka akan saling berebut pengaruh, untuk bisa berteman dengan mu. bahkan rela menjadi anak buah mu."
"Oleh karena itu cepatlah ambil api tersebut, agar kejayaan trah Wangsa dan Purbaya cepat bangkit, serta akan dikenal kembali oleh manusia di jaman modern ini." Ujar sosok misterius itu menjelaskan, disertai dengan ekspresi penuh harap.
Namun Arya hanya bisa diam saja. Dia tidak bisa berkata apa-apa, karena dia masih bingung, sesuatu hal yang sangat besar, tiba tiba muncul di depannya.
Namun tak lama kemudian dia pun berkata ."Kalau boleh tahu, siapakah penatua ini?. Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" Ujarnya malah bertanya.
"Hahahaha! Aku lupa untuk memperkenalkan diri pada cucu keturunan ku. Aku Prabu Jayabaya, keturunan langsung dari yang mulia ayahanda Prabu Wangsa Baladewa. pemilik istana atas awan itu, yang sekarang disembunyikan di dasar bumi, karena menghindari pergesekan perebutan kekuasaan di dalamnya."
"Istana itu sekarang ada di dasar sumur tua, di dekat rumah juga tanah mu tersebut. yang besok harus kamu kunjungi, untuk mengambil api bumi dan api abadi, sekaligus mengambil istana itu, untuk kau masukkan ke dalam cincin yang ada di jari tengah mu itu."
"Bawa kemana saja kau pergi, agar kau bisa mulai membangkitkan kejayaan trah Wangsa Baladewa di atas bumi ini" Jawab penatua tersebut, yang ternyata adalah Prabu Jayabaya, kakeknya Arya.
"Jadi....?" Respon Arya kebingungan. Seperti ingin menanyakan sesuatu pada kakeknya.
"Ya. Semua benda mustika yang ada pada mu itu adalah pemberian ku, yang diberikan melalui ayah mu. yang harus kau gunakan untuk membangun kembali trah Wangsa kita, agar
kembali berjaya di dunia." Jawab Jayabaya apa adanya.
"Jadi yang harus aku lakukan selanjutnya adalah..?" Tanya Arya masih saja kebingungan.
"Besok pagi pagi sekali, pergilah ke daerah itu, tanpa ada pengawalan!"
"Tinggalkan mereka di sini, dan jangan kasi tahu kemana kau akan pergi. atau suruh mereka pulang saja, agar usaha mu untuk mengambil api itu tidak ketahuan!" Jawab Jayabaya cukup tegas. hingga sempat mengejutkan Arya.
__ADS_1
"Tapi besok pagi, rencananya aku akan mengunjungi pak Satya juga anaknya itu, untuk memberitahu kedatanganku di ibukota ini." Protes Arya masih juga tidak terima.
"Satya ya?" Respon Jayabaya seperti mengingat sesuatu.
"Ya. Orang itulah yang ingin aku temui." Jawab Arya apa adanya.
"Tapi eh tunggu dulu?. Apakah eyang mengenalnya?" Reaksi Arya tiba tiba teringat sesuatu.
"Ya tidaklah!. Tapi menurut penglihatan eyang, terutama gadis yang bernama Amanda itu, dia bukanlah jodoh mu." Jawab Jayabaya berterus terang.
"Apa?. Dia bukan jodoh ku?. Apa alasannya, dan siapa jodoh ku nanti?" Respon Arya kebingungan.
"Ketahuilah cucu ku!. Amanda itu lahir tidak sendirian, tapi bersama dengan kembarannya."
"Waktu ibunya melahirkan, ada seseorang yang mengambil kembaran bayi laki-laki darinya, tanpa sepengetahuan orang tua Amanda. Begitu juga dengan dokter yang menanganinya, karena saat itu, mereka semua dibuat pingsan oleh orang tersebut."
"Setelah beberapa detik, mereka akhirnya siuman, dan mendapati keadaan masih tetap seperti semula, tidak ada keadaan yang mencurigakan.Tapi ada sesuatu yang aneh, karena perut calon ibu sudah kempes, dan bayi yang ada di dalamnya sudah tidak ada."
"Singkat kata, proses kelahiran itu selesai dilakukan. Bayi yang bernama Amanda mereka urus sebagaimana mestinya."
"Tapi kedua orang tua Amanda merasa heran, kenapa kembaran Amanda tidak ada disitu?. Dokter yang ditanyakan pun tidak tahu. Mereka beralasan, saat itu sengaja dibuat pingsan oleh seseorang. Jadi tidak tahu keberadaan bayi tersebut."
"Kesimpulan sementara, bayi laki-laki kembaran Amanda, diculik oleh sindikat perdagangan manusia. dan sampai sekarang tidak diketahui di mana rimbanya." Jawab Jayabaya menerangkan apa adanya, seperti yang ia lihat di masa lalu itu.
"Jadi Amanda itu bukan...?" Respon Arya ingin menanyakan kebenarannya. tapi sayangnya tidak jadi dia utarakan.
Tapi Jayabaya yang sudah mengetahui jalan ceritanya, langsung bisa menjawabnya, dan mampu memecahkan teka-teki yang ingin ditanyakan oleh Arya." Ya. Dia bukan jodoh mu!" Jawabnya singkat.
"Kenapa? Tanya Arya masih tidak percaya.
"Karena kembarannya itu akan membunuhnya." Jawab Jayabaya apa adanya..
"Nanti kau akan tahu sendiri, dan apa alasannya kau juga akan tahu." Jawab Jayabaya cuek saja.
"Ah, aku tidak percaya!" Reaksi Arya tetap pada pendiriannya.
"Terserah kau mau percaya atau tidak?. Tapi eyang sudah bisa melihat apa yang akan terjadi pada mu juga pada Amanda." Respon Jayabaya terpaksa harus pasrah juga.
"Kapan itu eyang?. Apakah waktunya masih lama?" Tanya Arya tiba tiba.
"Sesaat setelah dia dinyatakan lulus dari sekolahnya. Saat itulah kejadian besar akan terjadi padanya."
"Tapi apa dan bagaimana terjadinya, eyang tidak bisa mengatakannya."Jawab Jayabaya cuek saja, hingga membuat Arya jadi penasaran.
"Eyang pergi dulu. Lindungi diri mu saat kejadian besar tersebut. Tapi ingat!, sesuatu yang sudah ditakdirkan oleh yang mahakuasa, tidak akan bisa dirubah lagi oleh manusia."
"Tugas mu adalah melindunginya, sekuat yang kau bisa." Ujarnya lagi. Lalu berniat pergi.
"Tunggu eyang! Siapa jodoh ku?" Tanya Arya tiba tiba.
"Seseorang yang sangat cantik, dan kekayaannya hampir seimbang dengan kekayaan mu." Jawab Jayabaya masih saja menimbulkan tanda tanya buat Arya.
"Siapa, dan dimana aku bisa menemukannya, agar aku bisa menukarnya dengan keselamatan Amanda." Tanya Arya terdengar memaksa.
"Tidak jauh dari mu." Jawab Jayabaya lagi. Lalu menghilang dari tempat itu, dan meninggalkan Arya yang kebingungan sendirian.
"Eyang Prabu!. jawab pertanyaan ku!. Siapa gadis itu? kenapa harus Amanda?" Teriak Arya cukup kuat, hingga membuat orang orang yang ada di luar kamar itu bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Master dewa!. Bangunlah!.
Kenapa berteriak begitu? Siapa yang eyang prabu, dan siapa Amanda itu?" Ucap Kanaya jadi penasaran, dan mencoba ingin membangunkan Arya dari tidurnya.
"Amanda!" Responnya senang. Lalu bergegas bangun dari tempat tidurnya, serta langsung memeluk serta menciumi Kanaya, hingga membuatnya sedikit gelagapan.
"Master dewa? apa yang kau lakukan?. Aku Kanaya, bukan Amanda?" Reaksinya kebingungan. tapi bercampur dengan rasa senang, serta tidak berusaha untuk lepas dari pelukan lawan jenisnya.
Dia malah menikmati pelukan dan ciuman itu, dan terus meresapi pelukan dan sentuhan pertama dari seorang laki laki. yang baru pertama kali dia alami tersebut.
"Nona Kanaya?. Apa yang kau lakukan dikamar ku?Kenapa..?.Eh apa yang terjadi?. Maaf aku tidak sengaja. Aku kira kau itu..?" Reaksi Arya tentu saja kebingungan dan tidak bisa dipercaya. sesaat setelah dia menyadari, bahwa yang sedang dipeluknya itu bukanlah Amanda.
"Amanda kan?. Siapa dia?" Reaksi Kanaya sedikit cemburu, karena dia merasa penasaran, dengan gadis yang barusan disebutkan oleh laki laki yang dikaguminya itu.
"Tunggu dulu!. Aku dimana? Ini hari apa dan pukul berapa, dan apa yang terjadi pada....?" Tanya Arya seolah olah lupa, karena begitu bangun, dia menemukan Kanaya, yang dalam pandangannya adalah Amanda. Oleh karena itu, Arya langsung memeluknya. karena Kanaya disangka Amanda.
Arya takut Kanaya marah, serta menuduhnya yang bukan bukan.Tapi nyatanya Kanaya tidak marah, atau protes, karena dipeluk serta dicium olehnya.
Dia malah merasa senang. karena telah dipeluk serta dicium oleh laki laki yang disukainya. Malah kalau bisa, dipeluk dan disentuh selamanya.
"Nona Kanaya?. Apakah tadi..?" Tanya Arya tiba tiba menyadari kesalahannya.
"Tenanglah!. Sepertinya, anda tadi telah mengalami mimpi buruk, dan tidak sadar apa yang terjadi?"
"Sekarang anda sudah sadar, bahwa ini hanya mimpi saja" Jawab Kanaya kalem saja. Padahal hatinya berdebar kuat tidak karuan.
Mendengar itu, Arya jadi tersadar, dan berusaha mengingat kembali apa yang dialami dalam mimpinya tadi. Cukup lama juga dia berpikir, apakah itu hanya mimpi atau bunga tidur saja?
Namun setelah melihat sesuatu yang aneh di tubuhnya, barulah dia yakin, bahwa itu bukan sekedar mimpi. tapi sinyal dari kakeknya, agar dia melakukan sesuatu, seperti yang diinginkan olehnya.
"Nona Kanaya, maaf!. Kami harus kembali hari ini juga, karena ada pekerjaan besar di tempat lain."
"Sampaikan maaf kami, karena telah menjadi penyebab kejadian itu. Semoga kedepannya, ayahmu bisa melupakan apa yang dia lihat dan apa yang dia rasakan." Ujar Arya penuh penyesalan.
"Apa yang master dewa katakan?. Justru kami sangat berterima kasih padan anda. Karena berkatmu. pengkhianat keluarga ini bisa disingkirkan."
"Jika tidak ada campur tangan kalian, pasti saat ini mereka sudah menguasai rumah ini, dan membuat Dave Saga juga Kanaya jadi sengsara."
"Oleh karena itu atas nama keluarga, saya mengucapkan terima kasih sekali lagi pada anda, juga pada anak buah anda."
"Jika bukan karena anda semua, entah apa yang akan terjadi pada keluarga kami?" Ujar Dave tua, yang datang secara tiba tiba itu cukup mengejutkan.
"Tuan Dave...?"
"Tenanglah!. Saya sudah tahu tentang keinginan mu untuk meninggalkan rumah ini, karena diluar sana, masih ada sesuatu yang harus master dewa lakukan. Benarkan begitu master Arya?"Tanggapan Dave tua cukup melegakan.
"Benar seperti yang tuan Dave katakan. Kami memang harus kembali hari ini, karena ada pekerjaan besar yang harus kami lakukan di sana." Jawab Arya berterus terang.
Kemudian mempersilahkan Dave tua juga Kanaya, untuk beranjak dari kamar itu, karena Arya ingin membersihkan diri.
Setengah jam kemudian. Arya dan rombongannya sudah berada di meja makan, untuk menikmati sarapan pagi, tanpa sedikitpun menyinggung kejadian dua hari yang lalu itu.
Satu setengah jam kemudian. Arya sudah meninggalkan rumah itu, tanpa di dampingi oleh bawahannya, karena dia sudah menjelaskan alasan tidak mau ditemani, yang tentu saja banyak di kurangi nya.
Satu atau dua hari kemudian. Barulah mereka boleh menyusul Arya, itupun setelah dikonfirmasi waktunya.
"Ternyata aku harus kembali secepat ini?" Batin Arya dalam hati. Sambil memutuskan untuk terbang saja, guna menuju kampung tempat dia dibesarkan dulu.
__ADS_1
"Kampung Jatimulya!. Aku datang!" Ujarnya pada diri sendiri. Lalu terbang melintasi banyak bangunan, kota, desa kampung, gunung, hutan, bukit, lembah dan ngarai yang ada, supaya cepat bisa sampai di sana.