
"Pimpinan sidang dan anggota dari komisi dua, yang menjadi wakil rakyat juga negara. Tolong katakan pada kami. Apa kendala yang menjadikan perundingan menjadi alot? Apakah karena menyangkut masalah kekuasaan serta keamanan di sembilan pulau itu, atau ada masalah lain?"
"Jika demikian adanya. Silakan ajukan keberatan dalam pertemuan ini. Mumpung kami masih berminat untuk mengembangkan wilayah tersebut menjadi lebih baik." cecar Arya berapi api, saat diundang bersama Satya dan Dave tua, untuk menghadiri rapat terbatas, guna membahas masalah pembelian pulau yang dia inginkan itu.
Mendengar pernyataan serta pertanyaan yang tegas tersebut, membuat seluruh anggota rapat menjadi terpana. Termasuk pimpinan serta wakil wakilnya.
Mereka tidak mengira, kalau anak muda yang belum lulus SMA itu bisa berbuat demikian. Mereka mengira Arya mudah untuk diintimidasi. karena belum begitu mengenal siapa dia. Jadi seperti sengaja mengulur waktu untuk menyetujui keinginannya.
Namun saat Arya mengeluarkan aura penindasan pada mereka, barulah mata mereka jadi terbuka, dan menyadari bahwa Arya bukanlah orang sembarangan.dan bisa seenaknya dipermainkan.
"Kenalkan, saya Arya. Pemilik paviliun obat Kianshi Bumi, dan seratus lima perusahaan besar, yang tersebar di empat belas kota juga desa yang ada di negara ini!"
"Kedatangan saya kesini, karena ingin mendengarkan ada masalah apa pada kita, hingga membuat rencana pembelian sembilan pulau jadi berlarut begini. Padahal saya sudah mendapatkan persetujuan dari pemerintah daerah, juga menteri yang terkait."
"Tapi kenapa saat akan dilakukan pembayaran. Kalian malah menggagalkannya. Apa ada masalah yang menjadi penyebab dalam transaksi tersebut?"
"Jadi tolong jangan berbelit belit. Katakan apa mau kalian? Ingat! Kita bekerja untuk rakyat, negara juga bangsa."
"Jika terus begini. Mau sampai kapan negara kita akan maju. Belum apa apa sudah dihambat keinginannya. Padahal tujuan kami ini tulus, demi terciptanya lapangan pekerjaan, dan menambah income perkapita penduduk setempat menjadi tinggi. Bahkan menjadikan negara ini semakin dipandang dunia?"
"Namun jika begini caranya. kemungkinan kami akan mundur, dan mencari tempat lain untuk berusaha!" ujar Arya.
Sekali lagi mereka hanya bisa terdiam, dan tidak tahu dengan apa harus menjawabnya. Hingga pada menit yang ketiga. barulah seorang anggota sidang berusaha untuk menjawabnya." Sejatinya kami tahu, bahwa saudara ingin mengembangkan daerah itu menjadi sebuah kota lengkap dengan fasilitasnya."
"Ya benar. Anda tidak salah!" jawab Arya.
"Lalu apa masalahnya?" ucapnya lagi.
"Kami juga masih ragu, apakah saudara bisa mengamankan daerah tersebut dari gangguan bangsa lain, karena dua diantara pulau pulau itu, sedang menjadi sengketa antar tiga negara."
"Jika kami menjual pulau pulau tersebut, tentu saja akan menimbulkan konflik antar kepentingan?"
"Menyadari hal tersebut, apa saudara tidak takut jika terkena konflik, karena telah berani membeli pulau yang sedang dalam sengketa itu?" tanya anggota sidang tersebut meragukan Arya.
"Jika itu masalahnya. Serahkan saja pada ku. Saya jamin bisa menyelesaikannya!" jawab Arya cukup jumawa.
__ADS_1
"Jangan sombong anak muda! Anda tidak tahu kekuatan apa yang ada dibelakang sengketa dua pulau tersebut. Militer yang mendukungnya sangat kuat sekali. Apalagi negara naga itu?"
"Jika anda nekat ingin memiliki pulau tersebut. Anda harus siap kehilangan uang yang begitu banyak. Karena katanya sengketa dua pulau itu, akan dibawa ke sidang perserikatan bangsa bangsa di dunia."
"Tapi jika anda punya kekuatan. Mungkin kami akan merestui kepemilikan sembilan pulau itu. dengan syarat, anda mengakomodir seluruh kebutuhan kami, saat melakukan kunjungan kesana. terutama di dua pulau yang sedang disengketakan."
"Namun jika anda tidak punya kekuatan. Kami tidak mengizinkan anda melakukannya, kecuali jika anda...?"
"Mempunyai uang. Kekuasaan. Komisi. Saham atau apa,.Begitu?" potong Arya terkesan tidak suka.
"Itu tidak termasuk di dalamnya. Namun jika anda berkenan, ya tidak apa apa?" jawab salah seorang anggota sidang apa adanya.
"Apa anda menganggap saya sebagai sapi perah, yang bisa seenaknya di permainkan? Jika itu sangkaan anda, maka anda salah besar!"
"Saya berkeinginan membeli serta mengembangkan pulau tersebut, bukan untuk memisahkan diri dari negara kesatuan. Tapi untuk menjaga kedaulatan negara dari direbut bangsa asing, termasuk dua pulau itu!"
"Dengan adanya kota yang akan saya bangun, otomatis orang lain akan berpikir, bahwa negara kita tidak main main dalam mempertahankan wilayahnya."
"Mengenai dua kekuatan besar yang anda katakan tadi, kalau boleh saya katakan, jangan dihiraukan, karena mereka tidak akan berani memprovokasi kekuatan kita."
"Kekuatan apa yang anda punya, karena kami lihat anda masih sangat muda. Kemungkinan belum lulus SMA? Benarkan begitu saudara Arya?" celetuk seorang anggota cuek saja, yang cukup membuat Dave tua serta Satya terpana.
Pimpinan sidang juga terkejut mendengar pertanyaan anggotanya. Menurutnya, pertanyaan tersebut kurang pantas diutarakan pada pemilik ratusan perusahaan tersebut. Apalagi jika menyangkut paviliun Kianshi Bumi, yang sudah sangat terkenal keberadaannya.
Namun yang anehnya, kok mereka tidak tahu, bahwa Arya sebagai pemiliknya. Lalu kemana saja mereka selama ini. Apa terus sembunyi dibelakang meja?
Saat Arya mengatakan tadi pun, mereka terkesan cuek saja, dan menganggap bahwa Arya hanya bercanda, sebab usianya masih terlalu muda. Tidak mungkin mempunyai ratusan perusahaan, apalagi sebagai pemilik Paviliun Kianshi Bumi yang sudah sangat terkenal di dunia.
Namun saat memandang pada dua orang pengusaha yang sudah sangat mereka kenal itu menggelengkan kepalanya tanda tidak suka, barulah pimpinan sidang jadi tertarik untuk terus membicarakannya.
Dari tadi dia sengaja menekan Arya, setelah aura intimidasi dihilangkan oleh lawan bicaranya. serta berharap bahwa yang akan menjadi juru bicara dalam pertemuan tersebut adalah Satya atau Dave tua, bukan anak muda yang belum mereka kenal sama sekali.
Tapi apa boleh buat. karena baik Dave tua maupun Satya, dari awal telah mempersilahkan Arya untuk duduk di tengah tengah mereka sebagai juru bicaranya.
"Saya memang masih tergolong muda. bahkan benar saya belum lulus SMA. Baru tahun ini mudah mudahan saya akan meninggalkan bangku sekolah anak anak itu. Dan berencana melanjutkannya ke bangku kuliah."
__ADS_1
"Namun bukan berarti saya tidak bisa berbuat apa apa. Termasuk melenyapkan seluruh kekuatan yang akan mencoba menghalangi saya!"
"Jika kekuatan yang anda maksud itu adalah kekuatan dua negara juga kekuatan individu yang ada disini. Maka saya tidak akan takut apalagi gentar?"
"Kekuatan yang lebih besar serta berbahaya saja bisa saya hadapi, apalagi kekuatan yang hanya mengandalkan kata kata saja. Bisa dikatakan itu kecil buat saya." menohok bicara Arya, dan terkesan sarkas sekali. Hingga membuat pimpinan sidang yang semula menyalahkan anggotanya, jadi berbalik membelanya.
"Sejujurnya tadi saya menyalahkan anggota saya, yang melontarkan pernyataan kurang terpuji tersebut. Tetapi setelah mendengar pernyataan anda yang terkesan meremehkan kami, maka membuat kami menjadi tidak suka!"
"Sekarang begini saja. Apakah anda benar-benar menginginkan pulau itu untuk dikembangkan menjadi tempat usaha, kota atau apalah yang anda katakan dalam proposal itu terwujud?"
"Jika memang iya, maka tunjukkan kepada kami sebagian kekuatan anda yang barusan anda banggakan itu.Agar kami bisa mempertimbangkannya." balas pimpinan sidang sengaja memprovokasi Arya.
"Keberatan ketua! Ketua agung kami hanya ingin memiliki pulau itu dengan segala resiko yang pasti sanggup dipikulnya. Bukan untuk pamer kekuatan di ruang sidang ini!"
"Jadi mohon pertimbangkan lagi keinginan anda. agar tidak ada masalah yang timbul antara kita!" ujar Dave tua mengingatkan pimpinan sidang agar tidak terus memprovokasi Arya.
"Tidak apa pak Dave Rama. Kami hanya ....?"
Blush!
Belum juga dia selesai bicara. Tiba tiba di ruangan itu muncul aura yang sangat menakutkan. Dimana mereka melihat bukan ruangan rapat mewah yang selalu mereka tempati. Tapi sudah berubah menjadi kawah yang penuh dengan lava. Berhawa panas dan serasa membakar.
Bukan hanya itu saja yang mereka lihat. Seluruh anggota sidang berubah menjadi hewan melata dan siap memangsa siapa saja yang melewatinya
Dave tua yang melihat itu jadi keheranan. Begitu juga dengan pak Satya.serta beberapa orang yang selalu bersikap jujur. Mereka memang tidak ikut terpengaruh dengan formasi yang dibuat oleh Arya, karena memang orang orang yang berhati bersih serta jujur, akan keluar dari pengaruh tersebut, dan tidak merasakan kengerian seperti yang teman temannya alami.
Dalam pandangan mereka. orang orang tersebut melolong cukup kuat, mencakar cakar meja serta jok kursi yang mereka duduki, hingga membuat sebagian barang barang tersebut hancur serta meninggalkan bekas yang begitu nyata.
Arya yang punya kerja hanya tersenyum saja, dan membiarkan apa yang terjadi di depan matanya. Kepada mereka Arya memang sengaja untuk memberi pelajaran, agar kedepannya tidak menganggap rendah orang lain lagi.
Namun setelah berlalu hampir setengah jam. barulah Arya menghilangkan aura intimidasi, dan membiarkan mereka sadar dengan apa yang terjadi.
Limbung tubuh tubuh mereka, dan tenaga serta keangkuhannya sudah habis. Yang tersisa hanya kebingungan serta hal hal yang tidak pantas untuk dilihat.
Arya tentu saja tidak membiarkan hal itu terus terjadi. Dia segera mengembalikan keadaan seperti semula, dan seperti tidak pernah terjadi apa apa.
__ADS_1
Akhirnya setelah berlalu sekitar sepuluh menit. Palu sidang pun diketuk, pertanda rencana Arya terpenuhi. Dengan demikian, Arya berhak atas kepemilikan sembilan pulau yang dia inginkan. dengan segala resikonya.