
Syut!
Bugh!
Bamm!
Hanya dengan sekali pukul tubuh salah seorang kultivator itupun meledak, dan berubah menjadi kabut darah. Lalu menguap di udara.
Pemandangan itu sedikit banyaknya mempengaruhi mental yang satunya lagi. Dia jadi ragu apakah tetap melanjutkan pertarungan, atau memilih melarikan diri. Itu masih menjadi dilema buatnya.
Namun alih alih memikirkan keselamatannya. Dia berinisiatif mengulur waktu, dengan menyuruh yang lainnya untuk maju. Toh lawannya hanya berdua. Itupun yang satunya lagi dianggap lemah.
"Keterlaluan! Kultivator pedang sekuat mu pun jadi setakut ini! Bagaimana kalau komunitasmu tahu, bahwa salah seorang anggotanya menghindari pertarungan. Tentu saja mereka akan malu?" reaksi Arya sambil menggelengkan kepalanya, saat melihat tujuh puluh delapan orang segera mengepung mereka karena perintah itu.
Ternyata yang barusan bertarung dengan Arya tadi adalah pemimpin mereka. Tapi saat melihat rekannya yang paling kuat mati. Dia jadi ragu untuk melanjutkan. Maka mencari alasan untuk menyuruh anak buahnya guna menghadapi Arya.
"Paman Arga! Aku serahkan mereka padamu. Sementara aku akan mengurus ketuanya!" perintah Arya.
"Siap laksanakan pangeran. Dengan senang hati paman akan membunuh mereka!" reaksi Arga. Lalu menghilang dari tempat duduknya, dan muncul ditengah tengah mereka.
"Cepat sekali! Siapa dia?" reaksi kultivator pedang itu bergumam sendiri. Lalu memandang kearah Arya dan berkata. "Apa yang kau katakan itu memang benar anak muda! Tapi aku mempunyai sedikit logika. Mati itu tidak enak. Jadi aku memilih untuk menyerah saja. Namun tentunya setelah kau mati!" ucapnya mengejutkan Arya.
"Lakukan lah jika kau mampu?" reaksi Arya cuek saja.
"Tapi tunggu dulu! Mari kita berunding sebentar pendekar. Orang sekuat mu itu sayang sekali kalau harus mati muda. Bagaimana kalau kau bekerja pada tuan Tatsuya saja? Aku yakin kau akan diterima. Gajinya juga besar. Dari pada harus mati muda?" ujar lawan bicara Arya.
"Tatsuya? Siapa dia? Apakah maksudnya Alex Matsuya?" tanya Arya.
"Benar sekali! Ternyata kau pintar juga? Hahahaha!" jawab kultivator pedang tersebut mengejek Arya. Dengan tujuan untuk mengulur waktu, karena disebelah sana dia melihat, puluhan anak buahnya sudah mati. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih hidup. Itupun tidak lengkap anggota tubuhnya.
Ternyata Arga sadis juga. Dengan entengnya dia menghabisi anak buah Matsuya, dengan menggunakan teknik tingkat tinggi, yang dia pelajari dari Arya, yaitu teknik keserakahan jiwa.
Hanya dengan melambaikan tangannya saja. Puluhan orang itu langsung mati, dan berubah menjadi kabut darah. Karena jiwa jiwa mereka langsung terbakar, otomatis tubuhnya juga ikut terbakar. "Mudah sekali membunuh mereka!" batin Arga.
"Dengarkan aku hai anak muda! Matsuya itu hanya nama samarannya saja. apalagi Alex itu. Nama pemimpin kami yang sebenarnya adalah Tatsuya Hashirama. Kaguya itu panggilannya."
"Sementara Matsuya itu adalah aku. dan Alex adalah saudaraku yang sudah kau bunuh itu. Kami kembar bersaudara, walau wajah kami berbeda. Tapi sebenarnya kami bersaudara." ujar Matsuya asli pada Arya.
"Ternyata begitu? Pantas auranya sedikit berbeda. Ternyata itu adalah kamu!"
__ADS_1
"Lalu dimana Hashirama atau Kaguya asli. Apakah dia sedang menyamar juga?" reaksi Arya.
"Saat ini dia sedang...?"
"Ah terlalu banyak omong kau! Lebih baik langsung bunuh saja!"
Plak!
Bamm!
Tiba tiba Bumi dan orang orangnya datang, dan langsung menampar Matsuya hingga terbang. Kemudian dilanjutkan lagi dengan membunuh tujuh orang yang tersisa.
Syut!
Buum!
Semuanya langsung musnah. Dan Awan lah yang punya kerja. Hanya dengan sekali lambaian tangan saja. Mereka yang tersisa semuanya mati mengenaskan. Entah mengapa sikap Awan sekarang sudah berubah. Kalemnya dulu sudah hilang. Berganti dengan sikap kejam. Sekarang sifatnya sudah ketularan temannya, yaitu Bumi. Berangasan dan tanpa banyak pikir panjang lagi. Tangkap langsung bunuh. Hebat sekali dia! Tidak seperti Arya. Masih banyak ragu ragu. Sangat mengecewakan penggemarnya.
"Apa yang kau dapatkan dari pecundang itu Arya? Apakah keberadaan Matsuya sudah kau temukan?" tanya Bumi mendahului temannya Awan.
"Matsuya itu sebenarnya tidak ada. Yang ada adalah Tatsuya Hashirama. Atau yang sering mereka panggil Kaguya. Matsuya itu adalah dia. Sedangkan Alex adalah kembarannya. Dia sudah aku bunuh!" jawab Arya sambil menunjuk kearah Matsuya.
Hasilnya tentu saja sangat mencengangkan. Karena seluruh bangunan itu terbongkar dari dalam, dan hancur sesudahnya.
"Elemen tanah memang mengerikan!" guman Arya takjub dibuatnya.
"Nanti setelah aku pulang aku akan meminta eyang Wangsa untuk mengajariku, agar aku juga keren seperti dia." batin Arya.
"Kalian semua menyingkir lah. Terbang mendekati ku. Karena lokasi ini akan aku ratakan!" tiba tiba Dyah Isma berseru dari udara. Dengan tujuan mengingatkan bawahannya untuk menyelamatkan diri.
Maka dalam sekejap saja. Seluruh anak buah Suta yang sedang ada dibawah itu terbang menuju pemimpinnya, kecuali Gendra dan Masea, karena mereka tidak bisa terbang. Pun ilmunya masih rendah.Tapi tiba tiba diangkat oleh Dyah Isma, dan diberikan pada Arya.
Suta yang saat itu berada cukup jauh dari lokasi bakal penghancuran, pun mendengar seruan Isma. Langsung saja terbang mendekati bibinya, dengan dikuti oleh dua orang anak buahnya.
"Perhatikan mereka! Diantara yang masih hidup, kemungkinannya adalah Tatsuya?" ujar Dyah Isma.
Slash!
Swung!
__ADS_1
Kratak! Kratak!
Dhuar!
Markas besar seluas sepuluh hektar, hancur tidak tersisa. Membunuh siapa saja yang ada didalamnya. Arya yang melihat itu jadi bergidik ngeri. Baginya tindakan itu sangat berlebihan.
"Terkadang kita harus sedikit* kejam Arya. Jika tidak maka kita sendiri yang akan dimakan orang!" ujar Suta mengingatkan Arya.
"Saya mengerti pangeran! Maafkan saya!" respon Arya.
"Ayo kita kembali.Aku yakin Hashirama belum akan datang!" titah Dyah Isma pada mereka.
Tak lama kemudian. Mereka semua sudah berada di depan sang raja. Yaitu Dragon Sang Naga Dunia. Yang saat ini sedang mendengarkan laporan dari adiknya.
"Kalian semua tenanglah! Orang yang sedang kalian cari itu sedang tidak ada di sini. Tapi berada di negara ayahnya. Namun saat ini dia tidak tahu,kalau markas besarnya sudah kalian hancurkan. Jadi untuk sementara kalian masih bisa duduk tenang." ujar Dragon memberi penjelasan pada bawahan nya.
"Kalau kakak sudah tahu, mengapa tidak segera menyampaikannya pada kami. Kenapa malah diam saja?" protes Dyah Isma kesal dibuatnya.
"Itu salah satu program latihan, yang sengaja kakak berikan pada kalian. Terutama pada Jena Achara. Kekuatannya sekarang masih tergolong lemah. Satu tingkat diatas Arya."
"Kalau untuk Jenifer sudah tidak perlu lagi mendapatkan pengarahan, karena saat kalian bertarung itu dia sudah menembus level perubahan.Jadi kekuatannya hampir menyamai Suta."
"Oleh karena itu aku sengaja tidak memberitahu kalian, kalau Hashirama sedang berada di negaranya." jawab Dragon cuek saja.
"Jadi apa yang harus kita lakukan ayah? Apa harus menunggu orang itu datang?" tanya Suta.
"Untuk saat ini belum ada yang bisa kalian lakukan. Lagipula bukti kejahatan Hashirama sudah kalian hancurkan. Jadi tidak ada lagi yang bisa dijadikan alasan untuk menuntutnya." jawab Dragon berterus terang.
"Maafkan saya tuan besar! Sepanjang pengamatan kami.Gangster yang kita hancurkan itu termasuk lemah.Tapi mengapa seseorang menginginkan kita yang mengatasinya?. Bukankah organisasi disini juga bisa?" tanya Bumi tidak tahan untuk terus menyembunyikan keingintahuannya.
"Disitulah masalahnya. Pertama kali menerima permintaan. Aku juga merasa heran. Tapi setelah leluhurku mengatakan yang sebenarnya. Saat itulah aku baru paham. bahwa misi kita disini sangat penting. karena eyang leluhur menugaskan padaku untuk merebut kembali benda penting, yang sempat dibawa saat terjadi penjarahan perang."
"Benda tersebut adalah Kipas Kumala Emas. Milik seorang pendeta wanita, murid dari eyang Ditya. Yang saat ini keberadaannya sudah tidak bisa ditemukan."
"Selain kipas Kumala tersebut. Eyang prabu juga menugaskan padaku untuk menemukan tongkat laut selatan, yang dicuri oleh leluhur Hashirama. Dia juga membawa lari buku asli teknik mata dewa, yang kekuatannya tidak sama dengan kekuatan mata dewa milik Arya."
"Jika kedua teknik itu dipertemukan, maka mata dewa milik Arya akan kalah, karena ia nya mampu menghancurkan benda yang ditatapnya."
"Untuk sementara eyang prabu menyakini, bahwa ketiga benda itu ada pada Hashirama. Jadi dia menugaskan pada kita untuk merebutnya." jawab sang raja apa adanya.
__ADS_1