
"Gawat!.Markas kita diserang!"
"Cepat bunyikan tanda agar yang lain waspada!" ucap seorang pemimpin pembunuh bayaran pada anak buahnya.
"Sudah terlambat orang tua! Mereka semua sudah mati. Hanya tinggal kalian bertiga saja yang masih hidup!"
"Nampaknya kematian kalian akan kami tunda, karena tuan kami ingin bertemu dengan kalian."
"Jadi bekerja samalah! Mudah mudahan nyawa kalian akan diampuni?" ucap Arga mengagetkan mereka.
"Siapa kalian? Kenapa kalian menyerang tempat kami. Apa kita pernah bermusuhan?"respon Darka tidak suka.
"Bermusuhan atau tidak. Nanti akan kita tentukan. Sekarang ayo ikut kami sebelum kami paksa!" jawab Arga.
"Jangan harap"
Dor! Dor!
Klang! Klang
Klinting!
"Ba ba bagaimana mungkin? Siapa sebenarnya kalian? Kenapa peluru pistol ku tidak mempan di tubuh kalian? Apakah kalian setan?"reaksi Darka keheranan.
Bugh!
Bugh!
Plak!
Bamm!
Tanpa basa basi lagi, dan menjawab pertanyaan dari musuhnya. Arga bergerak sangat cepat, dan langsung memukul mereka. Akhirnya pingsan mereka dibuatnya.
"Cepat bawa mereka!"ujarnya. sesaat setelah berhasil melumpuhkan musuhnya dengan sekali pukulan.
Maka dalam sekejap mata. Ketiga orang itu sudah berada di depan Arya. Bersamaan dengan datangnya orang orang orang lain yang dibawa oleh Yang Cha juga anak buahnya.
"Lapor yang mulia! Disini ada delapan pemimpin dan tujuh ketua. Mereka disinyalir adalah orang yang bertanggung jawab dengan beroperasinya organisasi. Tapi yang mana ketua utamanya belum bisa kami ketahui." ucap Arga melaporkan apa adanya.
"Jangan basa basi. Gunakan segel kejujuran, agar kerja kita tidak terkendala. Cepat lakukan!" respon Arya.
"Dimengerti yang mulia!" jawab Arga.
"Bersiap dengan formasi! Aktifkan!" teriak Arga.
Blar!
Boom!
"Argh!" teriak 15 orang itu berbarengan. dengan wajah penuh ekspresi. Karena secara naluri jiwa dan pikiran mereka menolak untuk mengakui, apalagi tunduk pada kemauan segel itu.
Namun kekuatan serta kesaktian segel tersebut tidak mampu mereka lawan. Jadi akhirnya mereka tidak menyerah, dan siap menjawab pertanyaan."Siapa ketua kalian?" tanya Arga.
"Takuya!"
"Dimana dia?"
Diam saja seperti ingin melawan.
Crash!
"Argh!"
__ADS_1
"Katakan dimana dia?" desak Yang Cha yang terkenal tidak sabaran.
"Thailand Selatan! Tapi sekarang sudah pindah ke Siam?"
"Cambodia maksud mu?" tanya Arga.
Diam lagi.
Slash!
Dhuar!
"A a aku ketua mereka! Tolong jangan habisi kami. Percayalah. Aku tidak bohong!" ucap seseorang yang berekspresi cukup tenang, dan memandang hiba kearah Yang Cha.
"Serahkan ia pada ku!" seru Arya.
"Siap yang mulia!" jawab Arga. Lalu membawa orang yang mengaku sebagai Takuya ke hadapan tuannya.
Tap!
Swush!
Tangan Arya mencengkram kepala Takuya, dan sepertinya sedang memindai ingatannya. Apakah dia jujur atau tidak. Sekaligus melacak keberadaan markas utamanya."Dia bukan Takuya. Tapi orang yang mirip nama dengannya. Habisi dia!"ujarnya.
Crash!
Bugh!
Sebentar saja kepala orang yang mengaku sebagai Takuya asli tanggal dari badan. Karena Yang Cha menghabisinya tanpa perasaan.
Orang lain yang memandang kejadian itu tidak bereaksi, karena mereka dibawah pengaruh segel kejujuran. Otak dicuci dan pikiran dikendalikan. Sedangkan perasaan dihilangkan. Maka jadinya seperti robot yang tergantung dari kehendak tuannya.
"Sebarkan aura kesadaran kalian, agar orang yang bernama Takuya cepat ditemukan!" terdengar suara Arya memberi arahan.
"Mohon yang mulia memberi perintah pada kami untuk menghabisinya!" ucap Arga.
"Berarti persepsi kalian sama dengan persepsi ku. Aku memang sudah menduga bahwa orang itu adalah ketuanya. Kalau begitu urus orang orang ini. dan cepat berangkat kesana!" jawab Arya.
"Dimengerti yang mulia!" respon anak buahnya serempak. Kemudian membawa tawanan itu ke suatu tempat, dan menghabisi mereka disana.
"Baru kali ini terasa sulit menemukan sumbernya. Ternyata jaraknya sangat jauh. Pantas persepsi ku tidak langsung bisa menemukannya." Guman Arya pada diri sendiri, sesaat setelah anak buahnya pergi dan meninggalkan dia sendirian dirumahnya.
Namun tanpa dia sadari. eyang buyutnya selalu memantau apa yang cucunya lakukan. Sekaligus menjaga keselamatannya.
Seandainya bom nano yang dibawa oleh kelima orang itu meledak. tidak akan membuat Arya terluka. Palingan cuma shock saja.
"Ah sudahlah. Aku yakin mereka bisa mengatasi orang itu dan menghabisinya." guman Arya. Lalu menghilang.dan pergi entah kemana.
***
Sementara itu di tempat lain, atau tepatnya semenanjung Krimea. Arga dan sepasukan tentaranya sedang mengepung sebuah bangunan yang sangat besar. Di mana di tempat itu, sedang diadakan rapat untuk menghabisi seorang pemimpin dunia. yang tinggal di teluk Persia.
Orang yang ingin dia mati adalah saingan bisnis dan politiknya. Karena gara-gara orang itu, dia dan orang-orangnya terusir dari negaranya, dan tidak bisa menjadi pemimpin negara tersebut. Malah yang lebih parahnya dia dicap sebagai penghianat bangsa.
Oleh karena dia sangat dendam padanya. Lalu dengan kekayaannya, ia mengundang Robert Harada untuk datang, guna menemukan cara, bagaimana menyingkirkan saingannya.
Namun sayangnya tanpa mereka sadari. Arga dan 700 anak buahnya sedang mengawasi mereka. Sekaligus memastikan bahwa orang yang mereka cari itu memang dia.
"Sudah dipastikan itu memang Harada.Jadi cepat bentuk formasi penghancuran, agar mereka yang ada di dalam juga halaman tidak bisa melarikan diri. Yang mulia ingin musuhnya hancur sampai tidak tersisa!" ujar Arga. Dibarengi dengan aksinya membentuk titik sentral, untuk membuat formasi penghancuran.
"Gabungkan kekuatan! Aktifkan formasi! Mulai!"serunya.
Blam!
__ADS_1
Dhuar!
"Ada apa diluar? Siapa yang menyerang kita?" tanya pemilik rumah besar itu penasaran.
"Tidak ada ketua! Hanya disekitar bangunan juga halamannya seperti terhalang dinding kaca. Tidak ada yang bisa keluar atau masuk ke dalamnya." jawab anak buahnya melaporkan.beberapa detik setelah terjadi ledakan.
"Dinding kaca? Siapa yang memasangnya. Kenapa tidak kalian hancurkan?" tanya pemilik rumah itu lagi.
"Tidak bisa ketua. Peluru apapun tidak bisa menghancurkannya!" jawab anak buahnya.
"Ada apa sebenarnya? Kau bilang sistem pengamanan dirumah mu serba canggih. Tapi kenapa bisa orang lain masuk dan memasang kaca itu di seluruh wilayah mu. Apa kau ingin menjebak ku?" tanya Harada.
"Tidak sama sekali tuan Hara. Lihatlah di sekeliling mu. Semuanya di pasangi jebakan. hingga lalat pun tidak akan bisa masuk. Tapi entah bagaimana tiba tiba kaca itu terpasang disana?" jawab Tatsuya, atau Michael Garba apa adanya.
"Lalu siapa yang memasangnya kalau bukan kalian? Apa kau ingin bermusuhan denganku?"reaksi Harada tidak suka.
"Tuan Harada! Aku masih menghargaimu sebagai rekan kerja. Tapi nampaknya kau tidak mempercayai ucapanku? Jadi sekarang bagaimana. Apakah kita akan berperang satu sama lain. atau sama-sama menyelidiki masalah itu?"jawab Michael Garba tidak suka.
"Baiklah! Untuk sementara aku percaya denganmu. Ayo kita selidiki masalah ini. Aku yakin pertemuan kita sudah di sabotase oleh pihak lain."
"Kalau begini caranya aku batalkan perjanjian kita. dan aku tidak akan ikut campur lagi dalam masalahmu!"ujar Harada.
"Tidak bisa begitu tuan Harada. Aku sudah membayarmu dengan harga mahal. Bahkan pembayarannya sudah dilunasi semua. Jadi mau tidak mau kau harus melakukannya juga!" tegas Michael Garba kembali tidak suka.
"Baik! Untuk sementara kita ketepi kan permasalahan itu dulu. Ayo kita keluar dan sama-sama membuktikan kebenarannya!" jawab Harada.
Tak lama kemudian, mereka berdua pun sudah sampai di depan pintu. yang didampingi oleh 15 orang pengawalnya, dan langsung melihat apa yang ada di depan mereka. Tatsuya yang pertama kali bereaksi dengan berkata." Benda apa itu? Kenapa energinya begitu kuat? Apa tidak berbahaya jika kita menembusnya?"ujarnya.
"Hentikan tuan! Energi dari kaca transparan itu sangat berbahaya. Jika tuan nekat juga, maka kami tidak bisa berbuat apa-apa!"
"Oleh karena itu jangan tuan maju. Biar kami saja!" ucap seorang pengawal pada tuan yang dikawalnya. Lalu maju dan mengeluarkan pistol yang selalu dibawanya.
Dor!
Dor!
Klang?
Klang!
Dua buah peluru yang ditembakkan telak mengenai kaca pembatas itu. Tapi segera mental dibuatnya, dan yang tersisa hanya selongsongnya saja. Bahkan hampir mengenai penembaknya.
"Sialan! Bagaimana mungkin? Siapa yang membuatnya?"reaksi Harada kebingungan. Kemudian mengeluarkan pistolnya juga dan segera menembak kaca pembatas itu, dan...
Dor!
Dor!
Klinting! Jatuh juga peluru yang ditembakkannya, serta berbalik arah menyerangnya. "Ah brengsek!" rutuknya.
"Bawa kemari bazoka nya! Tidak mungkin kaca transparan itu sanggup menahannya?" teriak Harada.
"Cepat tembak!" teriaknya.
Seung!
Blar!
Boom!
Bukan kaca transparan itu yang pecah, tapi tangan penembaknya sendiri yang patah. "Hentikan!" Teriak Tatsuya. "Jangan tembak lagi!. Itu bukan pembatas biasa! Tapi dome yang mengelilingi rumah dan tanah ini!"
"Jika diteruskan, maka kita sendiri yang akan mati!" serunya.
__ADS_1
"Hahahaha! Cerdas juga ternyata kau orang tua! Tapi sayangnya sebentar lagi kau akan mati!" ujar seseorang yang muncul di depan Tatsuya secara tiba tiba.