
"Rasakan ini!. Tinju spirit kematian!"
"Hiaaa!"
Bamm!
Tap! tap! tap!
"Uh!"
"Hebat juga kau bocah?. mampu menahan tinju ku!. Bahkan mampu membuat ku mundur beberapa langkah."
"Biasanya hanya dengan sekali pukul, lawan pasti roboh, tapi kau mampu menahannya hanya dengan satu tangan saja."
"Aku jadi penasaran, siapa kau ini sebenarnya, berikut guru yang mengajari mu?"
"Jika kau mau, aku ingin kau menjadi murid ku, agar aku bisa menurunkan kepandaian ku pada mu." Respon Pranajaya tidak terduga.
"Menjadi murid mu?. Aku rasa kau belum pantas?. Sebaliknya kau yang harus menjadi murid ku, bukan malah sebaliknya?" Reaksi Arya tidak terduga.
"Huh! Dikasi hati malah minta jantung!. Terima ini!. Pukulan penggetar gunung!"
"Hiaaa!"
Dug!
Bugh!
Tik!
Blar!
"Argh!"
"Bagaimana bisa?"
"Pukulan sekuat itu mampu kau tahan, hanya dengan jentikan jari mu saja!"
"Sebenarnya siapa kau ini ha?. Seberapa besar kekuatan mu?"
"Pukulan penggetar gunung, adalah pukulan tingkat tinggi, yang mampu menghancurkan batu sekeras apapun?"
"Tapi kau hanya menahannya dengan telapak tangan saja. bahkan menghancurkan pukulan itu, hanya dengan jari."
"Kalau boleh aku tau siapa guru mu? agar aku bisa minta sedikit petunjuk darinya." Respon Pranajaya seakan tidak percaya.
"Mau tau siapa guru ku?. Aku saja tidak tau?. Kalau kau ingin minta petunjuk, mintalah padaku. bukan kepada orang yang tidak pernah aku lihat itu" Jawab Arya apa adanya.
"Apa?. kau belum pernah bertemu dengan gurumu?. Lalu bagaimana caranya kau bisa belajar hingga bisa sehebat itu?" Reaksi Prana tidak percaya.
"Itu mudah saja!, karena aku adalah guru itu sendiri!. Jadi kalau kau ingin minta petunjuk, mintalah kepadaku!. Bukan pada dia!. Paham?" Jawab Arya cukup mengagetkan.
"Huh!. Baru mempunyai kepandaian sedikit, sudah mengaku-ngaku sebagai guru, bahkan berani melecehkan ku!"
"Kau jangan senang dulu anak muda. Aku belum mengaku kalah!. Tadi itu baru pemanasan saja!"
"Sekarang aku serius!"
"Cakar Naga!. Muncullah!"
"Hiaaa!"
"Trak! Trak!
Blush!
Bamm!
"Hahahaha!. Berhasil!. Akhirnya aku naik level lagi!"
"Cakar Naga ku sudah semakin kuat, dan auranya sangat mendominasi sekali!. Aku yakin dengan level sembilan ini, kau akan kalah!" Teriak Pranajaya merasa bangga.
"Hah!. Cakar pengeruk sampah seperti itu saja sudah merasa bangga?"
"Aku akan tunjukkan cakar yang jauh lebih kuat dari cakar mu itu!. Lihat ini, kalau kau tidak percaya!"
"Cakar penghancur naga!"
Whus!
Krak! Krak!
Blar!
"Ugh!"
Test! tes! tes!
Darah menetes dari jari jari Prana. Semua kuku kukunya patah, menimbulkan bekas hitam besar bercampur darah.
__ADS_1
Tubuhnya roboh dan mengerang kesakitan. Arya yang melihat itu hanya bisa tersenyum sinis. Kemudian mendekati Prana dalam jarak 1 meter.
"Bagaimana tuan Prana?. Apakah pertarungan ini bisa kita lanjutkan?" Ujarnya bertanya.
"Aku tidak mau!. Aku mengaku kalah!"
"Kau lebih hebat dariku. Jurus, teknik dan keterampilan yang aku punya, tidak mampu melukaimu, bahkan tubuhku sendiri yang kau buat tidak berdaya.Tolong beri muka pada ku. Aku bersedia menjadi pengikut mu!" Ucap Prana terdengar tulus.
"Apakah kau serius?. Apa bukan karena modus, sama seperti orang-orang itu?" Respon Arya belum percaya.
"Aku serius, dan aku tidak tahu siapa yang kau maksudkan itu?" Jawab Prana berterus terang.
"Baik!. Untuk sementara aku terima penyerahan mu!. Tapi jika suatu saat nanti kau berkhianat sama seperti mereka, maka jangan salahkan aku jika bertindak kasar padamu!" Sambut Arya penuh dengan ancaman.
"Aku berjanji tidak akan berkhianat padamu. Percayalah!" Jawab Prana tegas. Kemudian menjatuhkan lututnya ke lantai arena. Lalu menyilang kan tangannya di depan dada, pertanda bahwa dia benar-benar takluk.
"Bagus!.Itu baru sportif, Mengaku kalah daripada mati. Aku suka dengan gayamu!" Respon Arya merasa senang, dan mengembalikan kalimat yang tadi diarahkan padanya.
Kemudian mengobati luka Prana dan sembuh seketika.
"Hari ini cukup sampai disini. Aku pergi dulu!. Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi." Ujarnya dengan ekspresi tenang.
Kemudian meninggalkan rumah tersebut, dan pergi kembali ke tempat usahanya.
***
Setengah jam kemudian, datang beberapa orang ke tempat itu, yang berniat ingin menemui tuan rumah.
Tapi begitu mereka sampai, Alex yang menjadi pemimpin kelompok tersebut menjadi keheranan, karena dia melihat ada seorang pria paro baya sedang berlutut di lantai dengan wajah berekspresi marah.
Mau menyapa takut, mau menegur apa lagi.Jadi yang bisa dia lakukan adalah diam, dan menunggu reaksi dari tuan rumah itu.
"Untuk apa kalian datang?, Apakah ingin menerima murka ku?" Tiba tiba terdengar suara yang sangat menakutkan.dan membuat Alex serta lima orang lainnya merasa takut.
"Mohon maaf tuan!. Saya utusan bos Tanu datang tengah malam begini karena ada keperluan. Jika tuan berkenan, mohon menyambut kami." Jawab Alex berterus terus.
Syut!
Bugh!
Gdubrak!
Tubuh Tanu dan anak buahnya terbang, lalu berhenti saat menabrak dinding, dan jatuh terduduk di bawahnya.
Tidak sampai disitu saja. Orang yang bernama Prana langsung maju, dan melompat menuju mereka
"I I iya!. Dia yang menyuruh ku!, tapi bukan untuk dibunuh!"
"Dia ingin meminta bantuan mu untuk menghabisi seseorang!" Jawab Alex berterus terang.
"Menghabisi seseorang?. Siapa?, dan berapa bayarannya?" Respon Prana terkesan tidak senang.
"Kalau masalah itu aku tidak tau tuan. Tuan bisa menanyakannya pada Tanu nanti." Jawab Alex berterus terang.
"Huh!"
Bugh!
"Argh!"
"Kau pikir kau siapa ha?menyuruhku untuk menanyakan berapa bayarannya?"
"Memangnya siapa si Tanu itu?. Apakah dia orang hebat?" Reaksi Prana dengan mimik tidak suka.
"Maafkan aku tuan!. Aku hanya orang suruhan!" Ucap Alex ketakutan.
"Hah! Pergi sana!. Aku bukan orang suruhan mu!. Pergi!" Teriak Prana murka.
"Tapi tuan?"
"Tidak ada tapi tapi!.Pergi!"
Bugh!
Bugh!
Tubuh kelima orang tersebut ditendang, agar cepat pergi dari rumahnya.
"Hiaaa!"
"Tahan master Prana!. dengarkan penjelasan ku dulu!" Ucap seseorang yang tiba tiba datang itu.
"Siapa kau?. Kenapa kau mengenal ku?" Respon Prana tidak percaya.
"Aku Tanujaya!, ketua kelompok orang orang yang ada di terminal Banyu Biru. Orang yang pernah menolong mu saat hendak bepergian dulu." Jawab Tanujaya berterus terang.
"Oh itu kau saudara Tanu?. Ada apa mencari ku?. Apakah ada sesuatu yang kau inginkan dariku?" Reaksi Pranajaya baru percaya.
"Tolong habisi orang itu. Dia membuka usaha di depan hotel Grand Agatha."
__ADS_1
Gara-gara dia, usahaku jadi bangkrut. Saat aku komplain kepadanya dia malah menghinaku, dan menantang siapa saja yang mencoba menghalanginya. Jadi aku rasa semua orang terkena termasuk anda." Jawab Tanu mengarang cerita.
"Dia berkata begitu?. menantang seluruh petarung yang ada di kota ini untuk menghadapinya?" Reaksi Prana mulai terpancing emosi.
"Ya, itu katanya!. Berarti termasuk master Prana kan? Jawab Tanu kembali mengarang cerita.
"Kurang ajar!. Mau cari mati dia?. Belum tau siapa siapa saja yang ada di kota ini?"
"Aku akan ke sana!. kapan kau perlukan?. Kau tidak perlu bayar, karena aku akan merobek mulutnya yang lancang itu, karena dia telah berani meremehkan ku, juga petarung yang ada di sini!" Tanya Prana dengan ekspresi marah.
"Malam ini juga boleh. Kebetulan belum jam 12.00 juga. Mungkin mereka belum pada tidur?. Kalaupun sudah tidur, ya kita dobrak saja pintunya!" Jawab Tanu terlihat semangat.
"Ayo antar aku ke sana!. Aku sudah tidak sabar lagi ingin menghajarnya!" Respon Prana semangat juga.
Satu jam kemudian, atau tepatnya pukul 12.00 tengah malam. Tanu dan orang orangnya sudah berada di depan usaha rumah makan Arya.
Tapi orang yang bernama Prana belum terlihat di situ, mungkin dia sedang ada keperluan?
Namun tak lama kemudian, dia sudah datang, dengan didampingi oleh lima orang, yang sebagian diantaranya dikenal oleh Tanu. tapi tidak oleh anak buahnya.
Baru saja dia sampai, langsung mengerahkan aura kesadarannya dan memindai tempat itu. namun usahanya tidak menemukan apa-apa.
Dicoba sekali lagi tetap tidak ada." Mana orangnya?. kenapa dia tidak ada?" Tanya Prana tidak suka.
"Saya juga tidak tahu master?. Mungkin dia sedang tidur?" Jawab Tanu apa adanya.
"Dobrak pintunya, dan cari orang yang bernama Arya serta seret dia kesini!" Ucap seseorang dengan suara lantang.
"Ada apa mereka ribut ribut dibawah?. Apakah ada perkelahian?" Tanya seorang tamu hotel pada temannya.
"Mana aku tahu?. Datang saja belum lama. jadi belum banyak yang aku ketahui?" Jawab temannya pula.
"Lihat!. Mereka memaksa untuk masuk ke bangunan itu, dengan cara mendobrak pintu!"
"Aku yakin orang yang ada di bangunan tersebut telah mencari gara-gara dengan mereka?" Ucap temannya pula.
"Ah sudahlah!. Itu bukan urusan kita!. Nanti kita pula yang akan menjadi saksinya?"
"Jadi cepat tutup jendela itu, dan jangan menampakkan diri lagi di sana!" Ucap seorang pria yang kemungkinan menjadi ketuanya.
Bruk!
Bruk!
"Ha?. Apa yang terjadi?. Apakah mereka mencoba melawan?" Reaksi Prana merasa penasaran
"Kami juga tidak tahu master?. Saat kami ingin masuk lebih dalam, tiba-tiba kami dihalangi oleh belasan orang, dan kejadian selanjutnya seperti yang terlihat ini?"
"Kurang ajar!. Mana orangnya?. Akan aku cincang tubuhnya itu!Berani pula mencari gara-gara dengan kita?" Respon Prana tidak suka.
Kemudian masuk ke dalam bangunan itu dengan diikuti oleh 5 orang temannya. Tapi belum juga mereka masuk, tubuh mereka sudah terdorong keluar, bahkan ada yang terpelanting akibat terkena hantaman seperti tenaga dalam.
"Bhangsat!. Siapa kalian?. Ayo keluar dan perlihatkan diri pada kami!" Reaksi Prana sudah tidak bisa ditahan lagi. Lalu..
"Hiaaa!"
Wus!
Bamm!
Niat hati ingin menghancurkan tempat itu, dan melukai siapa saja yang ada di dalamnya, malah tubuhnya sendiri yang terkena hantamannya.
Tapi dasar Prana. Dia Tidak kapok dengan apa yang dialami barusan. dia tetap ingin maju, dan tidak mau tahu dengan apa yang terjadi.
"Bantu aku untuk menghancurkan tempat ini. biar orang-orangnya pada keluar!"Teriaknya cukup lantang.
Lalu mengarahkan tinjunya ke depan dengan kekuatan penuh. dengan niat untuk menghancurkan bangunan tersebut. Kemudian...
"Hiaaa!"
Whus!
Blar!
"Argh!" Terdengar jeritan kesakitan dari beberapa orang yang tadi mencoba menghancurkan tempat itu.
Tubuh mereka terbanting ke tanah dengan luka yang cukup parah.
Keadaan menjadi tidak terkendali. Debu dan asap beterbangan di udara, akibat dua kekuatan besar berbenturan di sana.
Hal tersebut tentu saja membuat semua yang melihatnya panik, termasuk Alex dan Tanu.
Di balik pekatnya asap dan debu yang ada di tempat itu, muncul seseorang yang sepertinya mereka kenal.Tapi demi memastikan siapa sebenarnya orang tersebut, mereka menunggu asap dan debu itu pergi.
Tak lama kemudian. mulut semua orang melongo lebar. kecuali lima orang yang tadi ikut dengan Prana. Mereka malah bersikap cuek saja, karena tidak mengenal siapa orang yang keluar dari balik asap tersebut.
Namun Alex, Tanu dan Prana jelas mengenalnya, Dia adalah Arya. orang yang ingin mereka binasakan.
"Apa kabar tuan Prana? Apakah kau sudah merindukanku?"
__ADS_1