Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Sihir penyegel jantung


__ADS_3

"Bagaimana?, apakah master Teja bersedia menolong kita?" Tanya Rangga pada keponakannya.


"Ketemu saja belum. Jadi belum tahu dia bersedia atau tidak?" Jawab Raditya berterus terang.


"Tapi paman tenang saja." Ujarnya lagi. Anak buah ku sedang mencarinya dimana mana, dan aku yakin sebentar lagi dia sudah ada disini." Jawab Raditya apa adanya.


"Huh!. Kita harus bergerak cepat, sebelum mereka mengetahui rencana kita." Respon Rangga merasa ketakutan. Hingga membuat kalimatnya terputus.Tapi tak lama kemudian dia berkata kembali." Kalau bisa, perbanyak anak buah mu, untuk mencari keberadaan master itu." Ujar Rangga lagi, dan terlihat tidak sabaran.


"Apa yang kalian bicarakan?. Untuk apa kalian membawaku kesini?. Katanya ada perusahaan ku yang sedang bermasalah, tapi perusahaan yang mana?" Tanya Dirga, yang datang secara tiba tiba itu dengan ekspresi marah.


"Eh kakak?. Ternyata kau sudah bangun ya?. Bagaimana tidurnya, nyenyak?" Reaksi Rangga pura pura tidak mendengar pertanyaan dari abangnya barusan.


"Duduk dulu ayah!. Biar aku yang menjelaskannya." Sambung Raditya mencoba mencairkan suasana.


"Jangan mengalihkan pembicaraan!. Jawab saja pertanyaan ku. Untuk apa kalian menyuruhku datang, disaat aku sedang banyak pekerjaan di ibukota?" Protes Dirga tidak senang.


"Begini ayah..?"


"Hah!. Tempat paman banyak nyamuknya. tidak asyik!. Mona mau pulang!" Teriak seseorang cukup kuat, sampai membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arahnya.


"Nyamuk apaan?. Kau nya saja yang tidak betahan. Aku biasa biasa aja tuh. malah nyenyak tidurnya." Balas Raditya cukup ketus, dalam menanggapi ocehan dari adiknya itu.


"Ah, kebetulan kalian sudah pada datang. Mari semuanya duduk. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kalian." Reaksi Rangga mendadak senang.


"Ada berita penting apa?. Apakah masalah tanah warisan yang tidak seberapa itu?" Tanya Dirga tidak sabaran.


"Bukan itu kakak!. Kalau masalah tanah itu sudah selesai di urus, dan semuanya sudah mendapatkan bagiannya."


"Yang ingin aku bicarakan adalah...?"


"Ternyata kalian ada disini ya?. Pantesan tidak ada di rumah. Tapi kenapa pergi tidak kasi tahu, jadi aku tidak merasa khawatir." Ujar seseorang dengan ekspresi tidak senang.


"Dona?. Bagaimana kau bisa ada di sini?. Padahal kau tidak tahu dimana rumah ku?" Reaksi Rangga mendadak jadi penasaran.


"Kalian saling kenal?" Respon Dirga tentu saja keheranan.


"Siapa yang tidak kenal dengan pengusaha batu mulia seperti Rangga ini?. Dulu aku langganan tetap nya, tapi setelah dia pindah, aku tidak bisa lagi membeli darinya." Jawab Dona mengarang cerita.


"Oh ternyata begitu?.Aku kira kenal secara pribadi?" Respon Dirga mulai lega.


Raditya hanya diam saja, karena dia tahu apa yang menjadi kekhawatiran dari ayahnya barusan. Dia sangka adiknya itu dekat dengan Dona, walau sebenarnya ia tahu, tapi karena pamannya pandai bersandiwara, maka ayahnya jadi tidak berprasangka buruk apa apa padanya.


Namun apa yang terjadi sesudahnya tidak disangka oleh siapapun. Tiba-tiba saja Mona yang terkenal judes dan ceriwis itu membuka suara." Untuk papa tahu. Tante Dona ini dulunya adalah simpanan om Rangga, bahkan mereka sempat menikah dengannya."


"Tapi entah bagaimana, papa bisa menikah pula dengan Tante Dona?" Ujar Mona apa adanya.


Dirga tidak mampu berkata apa apa, begitu juga dengan Dona dan Raditya. tapi pandangan matanya menyorot tajam ke arah Raditya, seperti meminta penjelasan darinya.


Rangga yang dipandang jadi serba salah. Dia tidak tahu apa yang mau dikatakan pada mereka. Dia malah memandang ke arah mantannya, seakan meminta agar dia yang menjawabnya.


Dirga tentu saja tahu kode itu, dan kemarahannya semakin menjadi jadi, takut kalau Dona memang pernah bersama dengan adiknya.


"Ya!. Aku memang pernah menjadi wanitanya Rangga, karena saat itu aku termakan bujuk rayunya. Jadi terpaksa menurut kemauannya."Ujar Dona sungguh tidak disangka.

__ADS_1


Bamm!


"Apa?.Ja ja jadi..?" Reaksi Dirga tidak menyangka. Kemudian jatuh telentang lalu pingsan, karena jantungnya kumat lagi.


"Ayah!. Sadar ayah!"


"Hah!. Ini gara gara mulut mu yang tidak bisa kau jaga!. Kenapa kau harus mengatakan itu, apa untungnya buat mu?" Ujar Raditya marah pada adiknya tiada terkira.


"A a aku." Bela Mona tidak mampu berkata apa apa.


"Sudah, sudah!. Jangan bertengkar lagi!. Kita selamatkan dulu ayah kalian itu, dengan membawanya ke rumah sakit." Ujar Rangga menghentikan pertengkaran kecil mereka.


"Tidak perlu!. Master Teja dan gurunya sudah datang!" Ucap seseorang dengan suara lantang.


Semua orang memandang ke arah pintu, dan mendapati ada delapan orang yang berdiri di sana.


"Ka ka kalian siapa?" Reaksi Dona malah ketakutan, karena dia merasakan aura penindasan yang sangat kuat, dari salah seorang di antara mereka.


"Master Teja!. Syukurlah anda datang!. Tolong selamatkan ayah ku. Tolong obati penyakitnya."


"Aku janji, akan memberikan apa saja yang master inginkan?" Reaksi Raditya terlihat senang. Kemudian bergegas mendatangi saudara angkatnya, untuk berbasa basi saja.


"Saudara Raditya!. Aku dan guruku tidak bisa mengobati penyakit ayah mu. master yang lainnya juga."


"Satu satunya orang yang bisa meminimalisir penyakit itu adalah master dewa, ketua kami. yaitu...?"


"Siapa?. Cepat katakan!. Kalau dia bisa mengobati penyakit ayah ku, maka aku akan menjadi pengikutnya!" Tanya Raditya mendadak senang, dan kelihatan sudah tidak sabaran lagi.


"Diam kau!. Ini bukan urusan mu!" Hardik Raditya tidak senang.


"Beraninya kau?" Respon Dona tidak suka.


"Kenapa tidak berani?. Ayah ku sakit karena kau. Jadi jangan coba cina memperparah keadaan!" Jawab Raditya cukup mencengangkan.


"Kau?" Respon Dona tercengang.


"Master Teja!. dimana orang itu?. Cepat obati kakak ku ini. Dia sudah tidak sadarkan diri." Ujar Rangga memotong pertengkaran Raditya dan mantannya itu.


"Ketua!. Silakan." Ujar Prana mewakili Teja, untuk meminta Arya agar mau mengobati Dirga.


"Apa apaan ini?. Kenapa master malah menyuruh bocah ini untuk mengobati penyakit ayah ku?. Apa master tidak bercanda?. Siapa dia?" Respon Raditya tidak percaya.


"Dialah master dewa yang kami maksudkan. Hanya dia yang bisa mengubah keadaan."


"Ayahmu sedang sekarat. kalau tidak cepat diobati, takutnya keburu meninggal. Jadi percayakan pengobatan itu padanya." Jawab master Prana mewakili orang orangnya.


"Tidak boleh!. Dia suami ku. Jadi aku yang bisa mengaturnya harus berobat pada siapa. Bukan pada bocah yang tidak jelas ini!" Reaksi Dona tiba tiba. Sambil mengirimkan aura jahat pada Mona, untuk menekan mentalnya.


"Ya benar!. Ayah ku tidak boleh diobati secara sembarangan. apalagi oleh orang yang.." Ujarnya patuh, seperti sedang dikontrol oleh kekuatan tidak terlihat dari Dona.


Tes!


Secara diam diam, Arya memutus pengaruh itu dengan cara mengirimkan aura penyembuhan ke tubuh Mona, seraya mengembalikan aura jahat itu ke pada pemiliknya.

__ADS_1


"Argh!. Apa yang kau lakukan.? Aku murid ki Jana. jadi jangan macam macam dengan ku!" Reaksi Dona tidak terima. sambil menahan kekuatan yang tidak terlihat itu, tapi sayangnya tidak bisa.


"Ugh! Siapa yang telah berani menyakiti murid ku. Kurang ajar dia!. Akan aku beri pelajaran padanya!" Reaksi orang yang dipanggil Ki Jana marah, kemudian menambah kembali ramuan ke tungku yang selalu ada di depannya. dan tiba tiba..


Blar!


Api yang semula kecil, tiba tiba berubah menjadi besar. Dari api itu, terbuka sebuah pemandangan yang cukup mencengangkan, dimana muridnya yang bernama Dona tersebut, saat ini sedang merintih kesakitan, karena aura spiritualnya ditekan oleh sebuah kekuatan yang lebih besar, bahkan kalau itu dia, belum tentu mampu menahannya.


"Kurang ajar!, siapa orang itu?. Kenapa aku tidak bisa melihatnya?. padahal ramuan ku ini yang paling ampuh dari semua ramuan yang aku punya?. Apakah orang itu yang telah menyakiti murid ku?" Ucap Ki Jana tidak terima, kemudian memutuskan untuk menolong muridnya di sana.


"Master Prana, apa yang terjadi?. kenapa perempuan itu tiba tiba kesakitan seperti itu. Apakah dia..?"Tanya Raditya penasaran.


"Ya. Dia sedang dihukum, karena telah berani menggunakan ilmunya, untuk mempengaruhi seseorang agar selalu tunduk padanya."


"Tapi master dewa ini telah menetralkan pengaruh itu, bahkan menghancurkan pengaruh tersebut dengan mudahnya, maka dia jadi seperti itu."


Kekuatan metafisika jahat yang ada di tubuh ayah mu sekarang sudah tidak ada. Karena sudah berhasil dihancurkan oleh master dewa ini."


"Oleh karena itu berterima kasihlah padanya, yaitu setelah penyakit jantung ayah mu hilang, dan kembali seperti sediakala." Jawab Prana apa adanya.


"Hugh!" Terdengar sebuah suara dari mulut Dirga, yang mengisyaratkan bahwa dia sudah kembali siuman.


"Ayah!"


"Papa!" Seru Raditya dan adiknya itu berbarengan, tapi cara memanggilnya berbeda.


"Tenanglah, ayah tidak apa apa!" Reaksi Dirgantara cukup tenang.


"Eh siapa perempuan itu?, kenapa dia berguling guling dilantai?. Apa yang terjadi?" Tanya Dirga keheranan.


"Ayah tidak mengenalnya?" Reaksi Raditya penasaran.


"Ya!. Ayah tidak mengenalnya. Jadi siapa dia?"Jawab Dirga berterus terang, dan kelihatannya asli.


"Argh!" Jerit Mona tiba tiba kesakitan juga, saat secara paksa, sihir penyegel jantung ditarik dari tubuhnya, hingga membuatnya juga berguling guling dilantai. dan tak lama kemudian,dia pingsan juga.


"Master Teja, apa yang terjadi. dan kenapa bisa seperti itu?" Reaksi Raditya jadi penasaran.


"Kalau masalah itu hanya master dewa yang bisa menjawabnya. Jadi silakan tanya padanya saja." Jawab Teja berterus terang.


Raditya memandang ke arah Arya, seperti sedang memastikan, Apakah pernyataan dari saudaranya itu benar atau tidak?. Sebab dari tadi, dia melihat Arya, yang menutupi wajahnya itu tidak melakukan apa apa. Jadi Raditya jadi ragu, apakah benar Arya yang telah melakukan itu?


Namun demi menghormati tujuh master yang ada di tempat itu. Raditya harus bertanya pada Arya juga.


"Maaf master dewa. Apa yang sebenarnya terjadi?. Kenapa penyakit ayahku sembuh secara tiba tiba, dan dia tidak mengenali istri barunya itu?"


"Yang kedua, kenapa adik ku merasa kesakitan, dan pingsan seperti itu?. Apakah ini ada kaitannya dengan perempuan siluman itu?" Tanya Raditya secara terpaksa, dan harus mempercayai ucapan dari master Teja juga.


Namun Arya tidak langsung menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya. Dia malah menatap mata Raditya lekat-lekat, seperti ingin memastikan, apakah dia benar-benar tidak kenal dengannya atau tidak?


Namun tak lama kemudian, Arya memutuskan untuk membuka penutup wajah, yang sejak dari datang tetap dipakainya. dan secara perlahan, dia membuka penutup wajah tersebut, dan langsung memperlihatkan wajah aslinya pada Raditya.


"Kau?. Bagaimana bisa?" Reaksi Raditya tidak percaya. Kemudian mundur beberapa langkah ke belakang, sambil meminta penjelasan dari saudaranya itu, dengan tatapan matanya saja.

__ADS_1


__ADS_2