
Sehari setelah pemberian gelar. Arya dan rombongannya kembali ke kabupaten mereka, dan disambut oleh otoritas setempat secara sederhana. Namun tidak mengurangi kemeriahannya.
Arya yang menjadi bintang saat itu, mendapat sambutan baik dari pemerintah setempat, dan dinobatkan sebagai putra terbaik dalam cabang atletik, serta mendapatkan hadiah yang cukup banyak.
Pelatih dan pendampingnya juga mendapatkan penghargaan, terutama buk Siska, yang selama ini menjadi pelatih Arya, yang sebenarnya hanya sebagai formalitas saja.
Disekolah pun Arya mendapat sambutan cukup bagus. Pak Sentanu, kepala sekolah itu, memberi apresiasi yang cukup membanggakan, dimana keenam siswa tersebut dinobatkan sebagai siswa yang berprestasi tahun ini, dan akan diberi gelar duta olahraga, baik untuk tingkat sekolah maupun untuk tingkat kabupaten dan provinsi.
Pemberian gelar itu tentu saja membuat Arya dan teman temannya merasa bangga, karena baru sekali itulah mereka mendapatkannya. Hitung hitung sebagai bonus, untuk memasuki jenjang yang lebih tinggi.
Keberhasilan Arya dan teman temannya tersebut, tentu saja membuat orang orang dari SMA Tunas Karya merasa risih, karena berkat Arya, sekolah mereka jadi tersingkir dari menjuarai pertandingan, dan tidak lagi menjadi wakil provinsi, untuk berlaga di tingkat yang lebih tinggi. Apalagi peringkat sekolah mereka jadi turun, tidak lagi peringkat satu, tapi peringkat 13.
Yang paling sakit hati adalah Arjun, wali kelas Arya dulu. Dia tidak menyangka, kalau Arya bisa bangkit secepat itu, bahkan membuat sekolah yang biasa diremehkannya menjadi juara umum, satu lagi.
Namun apa mau dikata, semua sudah terjadi. Arya bukan lagi siswa di sekolah tersebut, sebaliknya siswa di sekolah saingannya. Mau marah kepada siapa?. Ya, jadinya marah lah kepada diri sendiri. bukan pada Arya.
"Sekarang kau lihat. Anak yang dulunya sering kau buli, kau hina, sekarang sudah menjadi terkenal seperti itu."
"Ketenarannya mengalahkan artis-artis dari Korea maupun dari Bollywood. sekarang kau mau bilang apa?.Apa kau masih berani meremehkan Arya?" Ucap Anita pada Meggia, yang ia tahu Arya dulunya sangat menyukai Meggia.
"Yah, mana aku tahu bakal begini?. Toh dunia berputar juga. Kalau dulu Arya lemah, sekarang dia jadi kuat, bahkan mungkin sudah kaya?" Jawab Meggia cuek saja.
"Kau kan dulunya dekat dengan Arya, dan kabarnya dia naksir sama kamu?.Tapi karena ada Teddy, maka dia jadi kalah saing."
"Bagaimana kalau kau..?"
"Ih amit amit!.Jijay aku!" Respon Meggia geli sendiri, saat temannya belum menyelesaikan kalimatnya.
"Dengarkan dulu perkataan ku.Jangan belum apa apa sudah ngomong begitu. Aku cuma mau bilang, bagaimana kalau kita selidiki Arya, kenapa dia bisa jadi hebat seperti itu?" Protes Anita tidak suka.
"Menyelidikinya?. Maksudmu bagaimana. Dia dimana kita dimana?" Respon Meggia tidak nyambung juga.
"Tenang. Bukankah sebentar lagi ujian semester?. setelah itu libur?. Bagaimana dalam libur itu kita pergi ke kota sebelah?. Liburan sambil menjadi mata mata?" Ucap Anita atau yang biasa dipanggil Nita itu menjelaskan pada temannya.
"Eh boleh juga ide mu itu?. Aku setuju!" Jawab Meggia merasa senang.
"Tapi dimana kita akan tinggal, sedangkan kita tidak punya saudara di sana?" Tanya Meggia tiba tiba.
"Tenang!. Ayah ku punya beberapa rumah sewa di sana. Kebetulan dua diantaranya masih kosong, jadi kita bisa pakai itu buat sementara."Jawab Nita berterus terang.
"Rumah sewa?. Maksud mu seperti ngekos gitu?" Reaksi Meggia sedikit kecewa.
"Eits, jangan salah?. Rumah kos itu sederhana, tapi yang ini tergolong mewah."
__ADS_1
"Perabotannya saja banyak, lengkap lagi?. Orang yang mau menyewa, harus membuat perjanjian, tidak boleh merusak atau mengambil barang barang di dalamnya. Jika berani melanggar, maka penjara lah tempatnya." Jawab Anita menjelaskan.
"Wah hebat dan kaya juga orang tua mu itu ya?. Kok aku baru tahu?"
"Selama ini kemana saja kau?. Kenapa pada teman sendiri main rahasia rahasiaan?" Reaksi Meggia jelas tidak suka.
"Bukan begitu?. Ayahku melarang ku untuk pamer kekayaan. Jadi terpaksa harus diam saja, dan tidak boleh membocorkan pada orang lain. Hidup harus sederhana. katanya?" Jawab Anita cuek saja.
"Ah terserah kaulah!. Yang penting jangan rumah kos saja. Alergi aku!" Respon Meggia mengingatkan, dan terkesan sombong sekali.
"Beres!. Nanti kau akan tahu bagaimana rupanya?" Jawab Anita dengan yakinnya.
Kemudian membatin dalam hati. "Arya!. Tunggu aku di situ!. Aku akan membuat mu menyesal, karena telah berani membuat guru guru ku merasa malu.Tunggu saja!" Batin Anita dalam hati. Kemudian mengemasi buku bukunya untuk pulang ke rumahnya.
***
Dua minggu kemudian. Waktu yang ditunggu pun datang. Penilaian akhir semester, atau ujian semester, yang tahun ini diikuti oleh sekitar 432 orang siswa di sekolah Arya pun digelar.
Pelaksanaannya menggunakan komputer dan dikerjakan dalam waktu yang ditentukan.
"Luar biasa!. Untuk pendidikan matematika peminatan, Arya berhasil mendapatkan nilai 100. Aku yakin di pelajaran lainnya pun juga demikian." Ucap seorang guru matematika, yang mengajar Arya sehari hari merasa senang.
"Dalam pelajaran biologi juga demikian. Jawabannya nyaris sempurna, dan mendapatkan nilai 100 juga." Sambung guru yang lainnya pula.
"Semua soal soal yang sulit itu, bisa dijawabnya dengan mudah, dan mendapatkan nilai sempurna pula."
"Berarti Arya itu benar benar siswa berbakat dan jenius. Pantas saja pak Satya merekomendasikan nya ke sekolah ini.Ternyata dia sangat pintar?" Sambung guru yang lainnya pula merasa bangga.
"Tapi kenapa ya, sekolahnya dulu mengeluarkannya?. Apakah Arya ada berbuat kesalahan, hingga dijatuhi hukuman?" Tanya seorang guru fisika pada rekan rekannya.
"Kan sudah diceritakan, sebab Arya dikeluarkan dulu?. Semua berawal dari hilangnya Arya saat itu, dan tanpa diselidiki terlebih dahulu, langsung main putuskan saja. Keluar!. Ya jadinya begitu deh!"Jawab seorang guru olahraga yang bernama Siska itu menjelaskan.
"Ya aku tahu itu. Tapi kenapa..?"
"Jelas mereka menyesal, karena telah berani membuang jenius seperti Arya. Sekarang mereka sendiri yang kelimpungan, karena Arya telah menunjukkan kelasnya!" Sambung Siska merasa bangga.
"Dengar dengar, guru yang bernama Arjun dari sekolah Arya dulu, mendatangi Arya waktu pertandingan itu. Apakah berita itu benar?" Tanya Ramona, atau pak Ramon ingin mendapatkan penjelasan.
"Kabarnya juga begitu. dan kebetulan aku belum sempat menanyakan hal tersebut pada Arya."
"Tapi dari sumber yang bisa dipercaya, orang itu mengatakan, bahwa ada dua orang guru, yang salah satunya bernama Arjun, dari kabupaten sebelah itu, mendatangi kamar Arya, dan membujuknya agar mau kembali ke sekolah yang lama."
"Lalu apa reaksi Arya?. Apakah dia menolak atau menerimanya?" Respon Togar memotong penjelasan dari Siska.
__ADS_1
"Ya jelas saja tidak!. Bahkan dengan sengaja, Arya mempermalukan guru tersebut, hingga membuatnya marah, dan berniat memukul Arya. Tapi karena segan berada di wisma, maka dia mengurungkan niatnya." Jawab Siska seperti yang ia dengar itu apa adanya.
"Beraninya si Arjun itu!. Kalau saat itu aku ada sana, sudah pasti aku hajar dia!" Respon Togar pada rekannya.
"Kau memang begitu. Sedikit-sedikit main hantam saja. Kalau ada apa-apa bagaimana?" Protes Aryana tidak suka.
"Ya biarlah!. Itu masalah kecil!. Urusan ya urusan lah. Aku tidak peduli!" Respon Togar mengejutkan.
"Kenapa?" Tanya Aryana, sekedar ingin tahu saja.
"Arya itu murid kebanggaan kita. Dalam pelajaran kimia ku, dia yang paling menonjol. Semua hukum fisika, mampu dikuasainya dengan baik. Maka nilainya sempurna seperti itu." Jawab Togar berterus terang.
"Ya, aku juga setuju dengan pendapat mu itu. Arjun memang harus diberi pelajaran!. Kapan kapan kalau aku bertemu dengannya, aku akan memberi dia pelajaran juga." Sambung Ramona menguatkan.
"Ingat!. Kita ini guru, bukan preman?. Segala sesuatu harus diselesaikan dengan kepala dingin. Yang kita bicarakan itu tidak apa apa. Dia masih tetap bersekolah disini. Jadi lupakan masalah usaha Arjun untuk menarik Arya kembali. Toh bukan mudah juga untuk menarik Arya, karena pak Satya pasti akan mempertahankannya." Ucap Sentanu mengejutkan mereka.
"Ketua!" Ucap mereka serempak, kemudian menunduk malu malu. dan tidak berani bertatap muka dengannya.
"Aku sudah mendengar apa yang kalian bicarakan tadi. Arya memang siswa yang luar biasa. Semua mata pelajaran, dia mendapatkan nilai sempurna. Oleh karena itu, tulis di rapotnya sejumlah itu, dan jangan dikurangi lagi. Biar orang orang tahu, bahwa di sekolah kita, ada siswa terjenius di dunia!" Ucap kepala sekolah mereka cukup berwibawa.
Kemudian menyambung ceramahnya kembali. "Satu minggu lagi, penyerahan buku laporan kemajuan siswa pada orang tua akan kita laksanakan."
"Aku ingin acara itu digelar sedikit berbeda, agar orang tua siswa jadi terkesan, Dilengkapi pula dengan pengumuman juara umum sekolah tahun ini pada mereka."
"Aku yakin dengan usaha kecil itu, pamor sekolah kita akan naik, dan tahun depan banyak peminatnya." Ucap Sentanu pada guru gurunya.
***
Satu minggu kemudian. acara yang digadang gadang akan mampu menaikkan pamor SMA Tunas Bangsa, benar-benar telah dilaksanakan.
Semua keluarga besar sekolah tersebut, bahu membahu bekerja sama, untuk mempersiapkan perhelatan yang berbeda itu. Pemilik perusahaan, di mana sekolah itu berada, pun mendukung acara tersebut, dan memberikan biaya yang tidak sedikit, hingga acara yang dilaksanakan berjalan dengan baik.
Mulai saat itu, nama Arya dikenal luas oleh masyarakat. yaitu saat pak Sentanu, yang didampingi oleh pemilik sekolah tersebut mengumumkan, bahwa juara umum tahun ini adalah Arya, dengan nilai sempurna untuk semua mata pelajaran.
Di acara itu, kepala sekolah yang bernama Sentanu juga mengumumkan, bahwa peringkat SMA Tunas Bangsa telah naik secara signifikan, dari peringkat 23 menjadi peringkat satu. Itu berkat usaha enam siswa terbaik di sekolah tersebut, dalam bidang olahraga. dan tidak menutup kemungkinan dalam bidang akademik juga.
Berita keberhasilan Arya meraih juara umum dengan nilai sempurna, telah merebak luas seantero negeri, karena disiarkan secara langsung melalui televisi, dan portal portal berita, serta media sosial yang ada. hingga membuat guru guru Arya dahulu bagai kambing kebakaran jenggot, gerah dan jengah, karena berita tentang Arya, ditulis besar besar, di koran koran yang ada di setiap daerah.
Keberhasilan tersebut, tentu saja tidak terlepas dari peran pak Satya yang sangat kaya dan berkuasa itu. Berkat hartanya yang melimpah, dia mampu membayar media yang ada, untuk menuliskan berita tentang Arya dan sekolahnya, di koran koran mereka juga di televisi yang ada.
Dengan usaha itu, nama Arya mendadak viral. Banyak keluarga yang ingin menikahkan anaknya dengan Arya, karena mereka yakin suatu saat nanti, Arya akan menjadi orang sukses dan berkehidupan baik.
Salah satu keluarga, yang ingin agar anaknya menikah dengan Arya adalah keluarga Permana, dimana anak gadisnya juga seumuran dengan Arya. Dia adalah Anita atau Nita, teman Meggia, yang. berencana akan mencari gara gara dengan Arya.
__ADS_1
Namun apakah usahanya itu akan berhasil, dan usaha orang tuanya berjalan dengan mulus?Jawabannya tentu di episode berikutnya.