
Saat Arya sedang diperbincangkan itu, saat itu juga dia memutuskan akan memulai latihannya. Baginya menyia nyiakan waktu, adalah suatu kebodohan besar.
Namun ada satu perubahan yang jelas terlihat, yaitu saat ini Arya sedikit sombong, dan memandang orang lain itu rendah. Apakah mungkin karena kekesalannya pada seseorang atau pada yang lain.Itu tidak bisa diketahui kecuali oleh Arya sendiri.
"Eyang! Kenapa aku jadi begini? Tolong bantu aku eyang!" batinnya sangat menyesal.
Tapi sekuat dan sesering apapun dia memanggil, bergumam serta membatin, orang yang dituju tetap tidak datang juga. walau orang itu adalah Wangsa.
"Apa yang terjadi? Kenapa persepsi ku tidak bisa merasakan keberadaan eyang Wangsa. Ada apa dengan dia?" batinnya.
"Ah kenapa aku lupa! Coba aku panggil paman Arga juga panglima Yang Cha. Siapa tahu mereka bisa mendengar suaraku?" ujarnya.
"Paman Arga dan juga kau panglima yang Cha! Datanglah menghadap ku. Aku butuh bantuan kalian!" Seru Arya. Lalu memutuskan menunggu. Siapa tahu ada reaksi dari mereka berdua.
Tapi setelah sekian menit ditunggu, tidak terjadi apa apa. Sampai membuat Arya jadi putus asa." Ah sudahlah!" ujarnya kesal. dan ada sebuah penyesalan besar atas sikapnya selama ini, terutama pada orang yang berbicara padanya barusan.
"Tuan! Siapapun adanya anda, tolong maafkan sikapku yang kelewatan. Ini semua aku lakukan karena aku kesal, hanya bisa mendengar suara tapi tidak bisa melihat orangnya."
"Aku yakin anda orang yang sangat luar biasa. Ditempat yang maha luas ini saja anda bisa datang dan pergi sesukanya. Kalau bukan orang hebat apalagi namanya?"
"Aku yang sudah setinggi ini ilmunya, pun masih tidak bisa menjangkau anda. Sungguh aku malu dibuatnya."
"Setelah ini aku berjanji akan memperbaiki diri, agar apa yang diembankan padaku bisa aku jalankan." tekad Arya. Lalu memulai memasang kuda kuda, untuk berlatih semua ilmu yang didapatkan dari Suta. Tidak ketinggalan melatih juga ilmu yang selama ini sudah dikuasainya.
***
Lima hari kemudian. Pelatihan Arya pun sudah selesai. dan sedang bersiap siap untuk keluar. Tapi menunggu seseorang untuk mengeluarkannya.
Tak lama kemudian penantian Arya akhirnya terjawab, Tubuhnya yang sekarang sudah semakin tinggi dikeluarkan dari ruang hampa, dan langsung ditempatkan di pulau Permata. Tapi ditempat itu Arya tidak lama, karena detik itu juga musuh yang sangat ditakuti oleh semua orang pada jamannya keluar, dan seperti ingin menghancurkan pulaunya.
Boom!
Boom!
Krak!
Dhuar!
"Ah leganya! Akhirnya kita bebas juga Meduza. Ayo kita cari dan buat perhitungan dengannya!" ujar Medusa.
"Ayo kakak! Tanganku pun sudah gatal ingin menghajar orang yang telah mengganggu kita!" jawab Meduza.
Tapi Medusa tidak membalasnya. Malah berkata. "Siapa itu. Sepertinya manusia?" ujarnya.
"Kau benar! Ayo buat dia sebagai menu pertama kita!" sambutnya.
"Tunggu dulu!. Lihat pulau itu! Apakah akan kita biarkan setelah ribuan tahun mengurung kita?" tanya Meduza.
"Ah benar juga. Ayo kita hancurkan!" jawab saudaranya. Kemudian...
Slash!
__ADS_1
Slash!
Dhuar!
Serangannya terpental.
"Ugh! Apa yang terjadi? Kenapa tubuh kita tidak bisa digerakkan dan...?
"Aaargh!" teriak keduanya kesakitan. Lalu tersedot masuk ke ruang hampa yang sudah dipersiapkan oleh Suta.
"Selamat datang makhluk menyeramkan! Apakah kau mencari ku?" tiba tiba terdengar sebuah suara yang cukup membuat mereka penasaran.
"Siapa kau dan dimana kita sekarang?" reaksi Medusa.
"Ini yang dinamakan dunia hampa. Tidak ada seorang makhluk fana pun yang bisa keluar dari dalamnya. Jadi nikmati saja ajal kalian!" jawab Arya yang ternyata itu dia.
"Kurang ajar! Katakan sebelum ku hancurkan tempat ini!" respon Meduza tidak senang.
"Apa yang harus aku katakan! Bukankah tadi sudah aku sampaikan, kalau tempat ini adalah dunia hampa. Ruang hukuman untuk makhluk seperti kalian, apalagi yang sering membuat kehancuran?" jawab Arya mengarang cerita. Tadi mana ada dia berkata demikian
"Tapi bagaimana bisa? Siapa kau sebenarnya?" sanggah Medusa.
"Untuk masalah itu tidak perlu kalian risaukan. Yang perlu kalian pikirkan adalah bagaimana agar bisa selamat dari tempat ini, apalagi selamat dari serangan ku." cuek Arya saat menjawabnya.
"Dasar manusia sombong! Beraninya kau meremehkan ku?" Reaksi Meduza. Lalu tiba tiba tubuhnya berubah menjadi ular, dan langsung menyerang Arya dengan bisanya.
"Huh! Serangan lemah seperti itu yang kau banggakan. Coba terima jurus ku ini!" respon Arya sesaat setelah berhasil menghindari serangan lawannya. Sambil merilis tapak sakti yang memang sudah dikuasainya sejak lama. Dan menyarangkan nya ke tubuh lawan, yang pertahanan terbuka.
Bugh!
Tubuh Meduza oleng dan hampir saja tumbang. Beruntung pertahanan tubuh nya sudah sangat kuat. Namun sakitnya jelas terasa. Sedetik setelah itu kakaknya ikut campur, dan bersama sama menyerang Arya.
Dia tidak terima adik sepupunya dipukul telak seperti itu. Padahal kesaktiannya sudah sangat tinggi, namun masih juga bisa dicelakai oleh lawannya.
"Ayo kita serang bersama sama. Kelihatannya manusia itu bukan orang sembarangan. Kau serang dari depan dan aku setang dari arah belakang." ujar Medusa.
"Baik kakak! Ayo kita hancurkan kesombongannya!" sambut Meduza.
Tak lama kemudian pertempuran sengit pun terjadi. Dimana Arya yang sekarang sudah sakti mandraguna diserang oleh dua makhluk astral dan sulit untuk dikalahkan.
Tapi berkat ilmu, teknik dan jurus sakti yang diberikan oleh Suta. Serangan secara bertubi tubi dari musuh musuhnya itu bisa dia halau. Bahkan sekali sekala serangannya masuk, dan membuat keduanya terjungkal sambil meringis kesakitan.
Menyadari itu keduanya segera merilis ilmu pamungkasnya, yaitu teknik ilusi bisa ular, yang siapapun menghadapinya, tidak akan lepas dari pengaruhnya.
Untuk sesaat Arya terpengaruh oleh teknik mereka. dan sudah dianggap kalah. Namun tiba tiba dari tubuhnya keluar sebuah aura sangat besar, yang langsung menghancurkan ilusi tersebut. Bahkan kekuatan ledakannya membuat tubuh mereka berdua terbakar, dan hancur sesudahnya.
Itu adalah teknik Raja Bajra, yang sudah disempurnakan oleh Suta.
"Hahaha! Aku tidak menyangka ada manusia yang mampu lepas dari belenggu ilusi kita. Kalau begitu aku tidak akan ragu lagi, untuk merilis ilmu pamungkas nomor dua. untuk sekedar membunuh manusia hina itu!"
"Kalau tidak mati juga. jangan panggil aku ratu Medusa!"
__ADS_1
"Ayo saudaraku! Kita keluarkan teknik warisan leluhur, yang pernah kita gunakan untuk
melawan Ditya!" seru Medusa.
"Apakah itu perlu kakak? Bukankah akan menyebabkan umur kita berkurang dan menyedot inti jiwa kita?" protes Meduza.
"Untuk menghancurkan kesombongan manusia itu apa salahnya kalau kita menggunakannya. Toh jiwa kita memang sudah berkurang, dan hanya tinggal menunggu waktunya saja?" bantah Medusa.
"Tapi...?"
"Tidak ada tapi tapi! Lakukan saja!" hardik kakaknya.
"Hoi! Mau sampai kapan kalian berdrama seperti itu. Mau bertarung atau tidak?" ejek Arya.
"Kau tunggulah disitu manusia hina! Tunggu kehancuran mu disana!" balas Medusa. Kemudian merilis teknik andalan kedua mereka. yaitu teknik amukan naga, yang sempat membuat eyang Ditya dulunya kewalahan karenanya.
"Hemm! cukup menarik! Tapi masih terlalu lemah, karena aku juga punya!" ejek Arya. Lalu melakukan hal yang sama untuk melawan teknik mereka.
"Kakak lihat! Bukankah itu teknik yang sama dengan tekgnik milik kita? Bagaimana manusia itu bisa menguasainya?" teriak Meduza.
"Ya kau benar! Sebenarnya siapa dia? Kenapa dia bisa menguasai ilmu itu. Siapa yang mengajarkan nya?" sambung Medusa ikut keheranan.
Sementara itu dibagian Arya. Teknik yang tadi dirilisnya sudah selesai, dan yang di sekujur tubuhnya berpendar aura yang sangat kuat. Lebih kuat dari teknik yang lawannya terapkan. Lalu tiba tiba...
Whus!
Blar!
Tubuh lawannya terpental menjauh karena mereka belum siap untuk mengantisipasi serangan Arya. Disusul...
Bugh!
Bugh!
Bamm!
Bamm!
Kembali tubuh Medusa dan adiknya terpental, walau ukurannya cukup besar. Namun buat Arya itu tidak masalah, sepanjang pukulan saktinya mampu membuat mereka kewalahan.
"Kurang ajar! Dasar makhluk sialan!" geram Medusa tidak terima, saat tubuhnya menjadi bulan bulanan Arya.
"Gerbang kemarahan naga! Aktifkan!" teriak Medusa dengan ekspresi geram.
Slash!
Boom!
Boom!
Lima kali tubuhnya membesar, dan itu hampir memenuhi ruang hampa seperempatnya. yang sebenarnya tidak. Namun sikap Arya sangat tenang dan tidak terpengaruh karena aura lawannya. Tapi tiba tiba...
__ADS_1
"Argh kaki ku!" teriak Arya kesakitan.