Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Tanggung jawab besar


__ADS_3

Sedetik kemudian. pertarungan antara Alex dengan Jodi sudah berlangsung. dimana posisi Jodi lebih unggul dari pada lawannya.


Berkali kali tubuh Alex terkena pukulan keras dari Jodi. berkali kali pula dia tumbang. Sementara Jodi hanya tiga kali mendapatkan pukulan, dan satu kali terkena tendangan. Tapi itu tidak membuatnya keteteran, malah membuat semangatnya semakin bangkit.


"Hiaaaaa!"


Des!


"Argh!"


Bruk!


Tubuh Alex hampir terjatuh, akibat upper cut yang dilancarkan oleh Jodi, hingga membuat wajahnya mendongak ke atas, dan dadanya tidak dilindungi, Lalu sekali lagi.


Bugh!


Bruk!


Sekarang Alex benar benar tumbang. Dadanya kembang kempis dan sudah tidak mampu bertarung lagi.


Anak buahnya yang melihat itu menjadi ketakutan. Jika Alex mati, mereka sudah tidak mempunyai sandaran lagi. Sedangkan anak buah Bara juga demikian.


Karena tidak mau menjadi korban, dan membuat Arya serta anak buahnya marah, mereka langsung menjatuhkan lututnya ke tanah, dan memohon ampun kepada Arya, agar tidak dibunuh.


"Sekarang dua pemimpin kalian sudah mati. Siapa lagi yang ingin bertarung dengan anak buahku?. Jika kalian ingin menyusulnya, silakan maju!" Ucap Arya cukup berwibawa.


Mendapat tantangan seperti itu, tidak lantas membuat mereka senang. tapi malah membuat mereka ketakutan, karena mereka tahu apa arti dari tantangan Arya barusan. Jadi mereka terpaksa harus diam saja. dan menunggu apa keputusan Arya.


"Aku ingin selalu berbuat baik, tapi selalunya kalian yang terus berbuat jahat kepadaku."


"Entah apa yang ada di dalam pikiran kalian?. di mana-mana selalu berbuat jahat. Tempat yang sudah bagus kalian hancurkan?. Kehidupan yang sudah nyaman, kalian kacau kan?. Lalu apa maunya kalian?"


"Sampai kapan kalian terus begini?. Diberi ampun dan kesempatan, kalian malah gunakan untuk melawan ku?"


"Entah jenis makhluk seperti apa kalian ini?. Setan bukan manusia juga bukan?. Suka benar berbuat jahat." Ucap Arya menegur mereka.


"Bos Arya!. Mohon ampuni kami!. Kami terpaksa mengikuti kedua orang itu, Karena kekuatan kami tidak cukup untuk melawan mereka."


"Setelah mereka mati. Kami sudah tidak punya sandaran lagi. Jadi tolong ambil kami jadi anak buah anda."


"Kami berjanji tidak akan berkhianat lagi!" Ucap salah seorang diantara mereka memohon belas kasihan dari Arya.


"Siapa nama mu?" Tanya Arya.


"Tara master Arya!"Jawabnya.


"Apa posisi mu dalam kelompok mereka?"Tanya Arya lagi.


"Ketua divisi Intel, merangkap sebagai wakil ketua organisasi." Jawabnya tegas.


"Apakah kau termasuk orang yang melukai anak buahku?" Tanya Arya ingin penjelasan.

__ADS_1


"Tidak master!. Saya hanya bertugas sebagai mata-mata saja, dan tidak pernah ikut andil dalam masalah kejahatan." Jawabnya jujur.


"Menyebutkan lokasi seseorang dan lokasi tempat, itu sudah termasuk kejahatan, karena akibat laporanmu itu, orang jadi tahu di mana seseorang yang ingin dia cari tersebut."


"Jadi menurut ku kesalahan mu sudah cukup fatal, dan pantas untuk dihukum mati!" Respon Arya tegas, sampai membuat Tara menggigil ketakutan, dan langsung menjatuhkan kepalanya ke tanah, pertanda memohonkan ampunan agar jangan dibunuh.


"Tuan!. Anda boleh mengambil orang tersebut, karena kemampuannya sangat bagus sekali."


"Lagi pula dia tidak pernah terlibat memukul, menyerang apalagi mencelakai seseorang. Tugasnya hanya seorang mata-mata."


"Selain dia, masih ada lagi sembilan yang lainnya, yang mempunyai kemampuan yang sama, jadi tuan boleh mengambil mereka sebagai anak buah anda." Bisik Arga pada Arya.


"Hemm!. Cukup masuk akal juga penjelasanmu barusan?" Reaksi Arya pura pura sudah paham.


"Angkat kepalamu!. Jangan pernah lagi berbuat seperti itu!. Tunjukkan!, dimana 9 anak buahmu itu?" Ujarnya penuh penekanan.


"Mereka ini yang ada di belakangku tuan!" Jawab Tara berterus terang. sambil berpikir bagaimana Arya bisa tahu jika anak buahnya berjumlah 9 itu.


"Keluar dari kelompok mereka, dan bentuk kelompok baru!" Perintah Arya pada Tara.


"Baik!" Jawabnya patuh. kemudian mengajak 9 anak buahnya untuk pergi dari kelompok orang-orang itu, dan segera membentuk kelompok baru.


Kelompok yang ditinggal oleh Tara, jadi menggigil ketakutan, karena mereka takut akan mendapatkan hukuman dari Arya.


Serempak mereka menjatuhkan kepalanya ke tanah, seperti yang dilakukan oleh ketua kelompok intelijen itu, dengan harapan, agar mereka juga mendapatkan ampunan dari Arya.


"Aku tidak butuh penghormatan yang seperti itu, karena aku tahu apa maksud kalian melakukan hal tersebut."


"Katakan saja bos, apa persyaratan itu, mudah-mudahan kami bisa memenuhinya?" Reaksi salah seorang dari mereka, yang bertugas sebagai mata-mata juga sekaligus penghubung antar organisasi di beberapa kota cukup tegas.


"Hemm!. Kuat juga mental mu?. Katakan siapa namamu dan apa jabatanmu dalam organisasi?" Tanya Arya ingin tahu.


"Namaku Buana, yang bertugas sebagai mata-mata juga, tapi beda dengan saudara Tara."


"Selain mata-mata, saya juga bertugas sebagai penghubung antar organisasi, yang ada di beberapa kota, dan mereka sudah mengenalku cukup baik." Jawab orang yang bernama Buana tersebut ada apanya.


"Penghubung organisasi?, menarik juga!. Apakah memang ada yang seperti itu master Prana?" Tanya Arya pada master itu.


"Sepanjang yang aku tahu, penghubung organisasi itu memang ada. istilahnya adalah broker atau duta."


"Mereka bertugas untuk menghubungkan banyak kepentingan antar organisasi, yang berada di bawah naungan organisasi besar. Berarti mereka..?"


"Master Prana benar!. Orang yang seperti itu memang ada. Di dalam organisasiku juga ada, tapi lingkup kekuasaannya tidak begitu besar, karena memang sengaja aku batasi."


"Tapi kalau Tara itu aku tidak tahu, karena dia merupakan penghubung bebas, yang tidak terikat oleh organisasi manapun." Sambungnya lagi.


"Tunggu dulu!. Kau bilang penghubung organisasi, dan bernaung dibawah organisasi yang lebih besar, berarti selain organisasi mu ini, masih ada organisasi lain yang berada di atasmu, begitu?" Respon Arya tiba tiba merasa penasaran.


"Benar master!. Jujur saja aku katakan, bahwa organisasiku ini belum begitu besar. iyanya masih berada di bawah bayang bayang seseorang, yang berada di ibukota. dan kekuasaannya sangat besar sekali." Jawab Theo berterus terang.


"Wah semakin melebar nampaknya?. Tapi baiklah!. untuk saat ini masalah tersebut jangan dibahas dulu, karena hari pun sudah terlalu malam."

__ADS_1


"Nanti jika ada kesempatan kita akan berbincang bincang lagi membahas masalah tersebut."


"Untuk kalian yang sedang berlutut itu, kali ini aku masih mau mengampuni kalian, dan akan membiarkan kalian untuk hidup bebas."


"Tapi jika sewaktu-waktu aku panggil dan butuhkan, kalian harus stand by, dan tidak boleh membantah apalagi mencoba melawan?"


"Jika dalam satu panggilan kalian tidak datang, berarti aku anggap kalian mencoba melawanku. dan itu kalian tahu apa resikonya?" Ucap Arya pada mereka, dan membangkitkan semangat mereka, bahwa suatu saat nanti mereka akan menjadi anak buah Arya juga.


"Kami akan selalu siap bos Arya, kapanpun bos butuhkan! Jawab salah seorang dari mereka mewakili teman-temannya dengan perasaan senang.


***


Pagi harinya, Arya memutuskan untuk tidak bersekolah, karena dia harus menyelesaikan permasalahan besar yang menimpa perusahaan kecilnya itu.


Kebetulan hari ini, sekolah tempat dia belajar memang sedang tidak ada kegiatan belajar mengajarnya, yang ada hanya kegiatan bebas, yang rutin diadakan setiap hari sabtu.


Jadi jika Arya tidak datang, tidak akan berpengaruh sama sekali. Lagi pula dia sudah menghubungi pak Satya, supaya memberitahu secara langsung kepada kepala sekolah, yang bertugas di SMA Tunas Bangsa tersebut.


Kebetulan hari ini pula, pak Satya akan mengunjungi sekolah itu, untuk membahas beberapa agenda dengan guru-gurunya di sana.


"Selamat pagi tuan!. Semoga tuan panjang umur!" Sapa Argani pada tuannya.


"Oh kau paman Arga?, mengagetkan saja!. Ada apa pagi-pagi sekali sudah menemuiku?, apakah karena merasa bersalah?" Tanya Arya langsung pada intinya.


"Benar sekali tuan!. Gara-gara kelalaianku juga anak buahku, sampai membuat tempat usaha tuan menjadi berantakan."


"Untuk itu saya mohon, supaya tuan menghukum kami, agar lain kali tidak berbuat kesalahan lagi." Jawab Argani berterus terang.


"Sudahlah!. Barang pun sudah terjadi, tidak perlu disesalkan lagi. Tidak ada yang salah dalam masalah ini, apalagi kalian?"


"Yang salah kemungkinan adalah aku, karena aku lengah dan menganggap sudah cukup hanya dengan 6 orang pengawal itu saja, tapi nyatanya aku salah, sedangkan kalian tidak aku fungsikan."


"Tapi jangan dibahas atau dipikirkan lagi. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah, bagaimana caranya memperbaiki kerusakan yang parah itu, sedangkan biayanya pasti akan besar?" Reaksi Arya cukup legawa sekali.


"Kami bisa membangun ulang tempat itu tuan, bahkan tidak sampai dalam satu malam, asal tuan mempercayakan semua pekerjaan besar itu kepada kami, maka tempat usaha tuan akan bisa digunakan dua hari kemudian." Ucap Argani mengagetkan Arya.


"Apa?. Kalian bisa melakukan itu?. Bagaimana mungkin?" Respon Arya penasaran.


"Tidak ada yang tidak mungkin bagi kami tuan, bahkan kami menganggap bahwa pekerjaan itu masih tergolong kecil."


"Memindahkan atau menghancurkan gunung saja kami mampu, apalagi hanya sekedar membangun ulang tempat itu?" Jawab Argani berterus terang.


"Benarkah begitu paman Arga?. Lalu bagaimana caranya kalian bisa membangun tempat itu, tanpa menarik perhatian orang lain?. sementara di depan, belakang, kanan dan kiri ada terdapat banyak bangunan, serta penghuninya, tentu kegiatan kalian yang mendadak itu akan membuat mereka tertarik, dan kemungkinan akan menyiarkannya ke media sosial?" Reaksi Arya butuh penjelasan.


"Tuan tenang saja!. Untuk masalah itu kami sudah mempunyai cara, agar orang-orang yang tuan sebutkan tadi tidak menyadari apa yang sedang kami lakukan." Jawab Arga apa adanya.


"Baik kalau begitu!, Karena jika berfokus pada pembangunan ulang, yang tentunya harus dirobohkan, semua membutuhkan biaya dan waktu yang cukup besar dan lama, sedangkan anak buahku juga butuh makan?"


"Sementara organisasi yang diserahkan padaku itu juga butuh perhatian. Oleh karena itu aku serahkan urusan besar ini pada kalian, dan aku percaya kalian akan mampu melakukannya!" Jawab Arya cukup melegakan.


"Siap yang mulia pangeran!"Jawab Argani tegas. kemudian meminta izin untuk menemui anak buahnya.

__ADS_1


__ADS_2