Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Mencari gara gara


__ADS_3

Sementara itu di bagian Arya. Saat ini entah mengapa dia merasakan suatu kegelisahan yang teramat besar. Semua kegiatan yang diikutinya tidak ada yang masuk ke kepala. Bahkan saat kakak tingkatnya mengajukan sebuah pertanyaan, Arya tetap saja diam, dan tidak memperhatikan pertanyaan kakak seniornya.


"Sekali Lagi aku bertanya. Apa perbedaan kegiatan mahasiswa jaman dulu dengan kegiatan mahasiswa jaman sekarang? Apakah keduanya sama sama penting dan menunjang kinerja mahasiswa?" tanya kakak seniornya pada Arya.


Namun Arya masih tetap diam. Sambil mengeluarkan aura kesadarannya, karena dia merasakan sebuah tekanan yang sangat kuat kearahnya. Sampai keringat sebesar jagung keluar dari pori porinya.


Badannya gemetar dan kakinya juga demikian. Sampai sampai mahasiswa lain melihat kearahnya. Mereka mengira Arya hanya bercanda. Jadi dengan angkuhnya, beberapa orang mahasiswa mencoba mendekatinya. Namun belum juga sampai. tubuh tubuh mereka bertumbangan dan muntah darah karenanya.


Kejadian itu tentu saja membuat kakak kakak pembina menjadi murka. Jadi bertekad untuk menghukum Arya. Agar mahasiswa lain tidak meniru perbuatannya. Lalu dengan pongahnya kembali mendekati Arya.


Namun apa mau dikata. Medan magnet berupa aura yang ada di sekitar Arya, tidak mampu mereka tembus. Bahkan mendekatinya saja tidak bisa. "Sungguh kejadian yang sangat luar biasa!" batin beberapa orang mahasiswa, yang sempat melihat kondisi Arya.


"Hemm! Masih terlalu lemah!" ujar seorang pemuda dari dalam kelasnya.


"Bagaimana dia akan mampu menghadapi naga jelmaan Medusa, kalau kekuatannya cuma sebatas itu? Tidak mungkin aku akan turun tangan?" sambungnya.


"Ah biarlah! Toh kemunculannya masih satu bulan lagi. Jadi masih ada kesempatan untuknya berlatih. Tidak perlu dirisaukan!" guman nya.


"Ayah tidak mengira kalau anak muda yang di rumorkan bakal menyaingi perusahaan kita itu adalah cucu Wangsa. Abdi setia leluhur kita yang mulia?"


"Jika ayah tahu dia orang itu. Sudah sejak lama ayah akan bantu.Tapi sayangnya baru sekarang tahunya."


"Namun masih belum terlambat. Masih ada sebulan lagi untuk dia berlatih. Guna menghadapi ratu ular yang tidak bisa mati itu."


"Jadi kepadamu ayah tugaskan, untuk terus membantunya, agar saat menghadapi Medusa, Arya tidak akan kewalahan. Karena dia belum tahu cara menghadapinya." ucap seseorang melalui tranmisi suara pada Suta.


"Tapi dia masih terlalu lemah ayah. Kekuatan semestanya belum sempurna. Jadi sangat sulit untuk membuatnya digdaya."


"Namun Suta akan terus berusaha, agar anak itu bisa menguasainya." jawab Suta.


"Baguslah kalau begitu. Ayah senang mendengarnya." respon Draco dari ruang dimensinya.


"Apakah ayah akan muncul


guna melawan Medusa untuk yang kedua kalinya?" tanya Suta.


"Ayah sudah tenang di ruang dimensi. Kecuali kalau kejadiannya sangat luar biasa."


"Tanpa kehadiran ayah pun kau bisa membantunya, Karena kekuatan mu sekarang sudah sangat luar biasa!"

__ADS_1


"Ayah saja mungkin akan kalah jika berhadapan denganmu?" jawabnya.


"Ah ayah ini! Kekuatan ayah sudah merupakan legenda. Begitu juga dengan kekuatan bibi Isma. Tidak ada yang bisa menandingi kalian berdua."


"Jika dibandingkan kekuatan kita, antara bumi dengan langit ayah. Jadi Suta malu mengakuinya." respon Suta.


"Tidak mengapa anak ku. Masih ada waktu untuk mu berlatih dan berkembang. Yang penting untuk saat ini. kau latih pemuda yang. bernama Arya itu, agar saat tampil nanti tidak mengecewakan kita." jawab Draco masih dari dalam ruang dimensinya.


"Baik ayah! Suta akan selalu mengingatnya!" jawab Suta patuh saja.


"Oh ya! Mau sampai kapan kau menekan anak itu? Kasihan dia." ujar Arya.


"Oh. Maafkan Suta ayah!. Aku lupa!" jawabnya enteng saja. Lalu segera menghilangkan aura penindasan, yang hanya ditujukan kepada Arya.


Sementara itu dibagian Arya, yang saat ini sudah berada di ruang perawatan. Segera tersadar ketika terlepas dari rasa sakitnya. Itupun masih meringis menahan rasa sakit. Beruntung dua bidadari cantiknya, saat ini sedang bersama Arya.


Merekalah yang telah menolong Arya, saat rasa sakit tidak tertahankan menyerangnya. Hanya dengan menyentuhkan tangannya saja. Arya langsung terdiam.


Sedetik sesaat setelah tersadar itu, Arya langsung berkata dari dalam hatinya." Sangat mengerikan! Aku yang sudah mencapai level semesta saja, masih dibuat sengsara dengan auranya Sebenarnya siapa orang itu? Kenapa kekuatannya sangat luar biasa?" tanya Arya.


"Syukurlah kau sudah sadar. Apa yang sebenarnya terjadi padamu kak Arya?" tanya Amanda.


"Entah siapa gerangan orang itu? Sungguh aku dibuat tidak berdaya karenanya."


"Tapi sepertinya ia berada tak jauh dari kampus ini. Karena jejak auranya masih tertinggal di udara. Aku harus mencarinya!" jawab Arya.


"Apakah kau masih merasa kesakitan anak muda? Atau sudah bisa menangani rasa sakit mu? Kalau sudah baguslah! Tapi jika belum. Telan lah Kianshi Bumi, karena kekuatan mu naik karena itu."


"Namun saat kau memakannya, kerahkan inti kesadaran mu ke Kasutpada Kacarma, yang selalu kau pakai itu. Kemudian kerahkan juga ke rompi Antakusuma yang ada di tubuh mu."


"Seterusnya Kujang Emas yang kau simpan, akan menetralkan auranya. Setelah itu kau akan merasa biasa saja." ucap seseorang melalui tranmisi suara pada Arya.


"Siapa kau? Kenapa kau tahu tentang semua itu? Apakah kau memata matai ku?" respon Arya.


"Belum waktunya kau tahu siapa aku. Sekarang lakukan seperti apa yang aku katakan. Netralkan aura penindasan yang kau alami. Jika tidak, kesaktian mu akan hilang." jawab orang dari seberang sana. Lalu memutuskan sepihak pembicaraan mereka.


"Hei tunggu dulu! Aku belum selesai bicara. Siapa kau sebenarnya?" teriak Arya tidak terima.


"Sudahlah kak! Lebih baik lakukan seperti yang iya katakan. Kami takut kakak kenapa napa." ucap Kanaya mencoba menenangkan Arya.

__ADS_1


"Benar sekali kak Arya. Segeralah telan pil itu. Sebelum apa yang ia katakan menjadi kenyataan." sambung Amanda.


"Baiklah! Demi kalian akan aku lakukan. Tapi setelah ini aku akan mencari orang itu, dan menanyakan apa maksudnya?" jawab Arya.


Setengah jam kemudian. Kondisi Arya sudah membaik. Aura penindasan yang masih tertinggal di tubuhnya sudah tidak ada lagi. Bahkan tenaganya jadi semakin besar. Tubuhnya pun jadi semakin ringan. Mungkin jika dia terbang tanpa bantuan Kasutpada, hal itu akan mudah Arya lakukan. Namun dia belum tahu tentang itu. itulah salah satu kelemahan Arya.


"Semoga dengan ini, anak yang dipersiapkan untuk menaklukkan Sang Naga jadi semakin kuat. dan kau berhak menjadi panglima ku." Guman seseorang dari sobekan ruang. Sambil terus memperhatikan tingkah laku Arya, dan dua orang gadisnya itu.


"Apa yang kakak lakukan? Kenapa terus memandangi orang itu. Apakah kakak tertarik dengan salah satunya?" tanya seorang gadis remaja cantik pada kakaknya.


"Ah kau Jena! Mengagetkan saja!" gerutu pemuda itu yang ternyata adalah Suta.


"Hehehe! Becanda kak. Serius amat?" jawab Jena. atau bila di istana dipanggil Jane Achara. Putri dari perkawinan Dragon dengan Anong Achara. Delapan belas tahun yang lalu.


"Kenapa datang tak bilang bilang? Apa ibunda Anong ada disini juga?" tanya Suta pada adiknya.


"Ya. Tapi ibu langsung masuk ke ruang dimensi. Sedangkan aku ada di depan kakak!" jawab Jena dengan sikap manjanya.


"Ya sudah! Ayo kita temui mereka. Kebetulan kakak sudah lama tidak masuk kesana." respon Suta. Lalu menutup sobekan ruang, dan menghilang sesudahnya.


***


"Kemana orang itu? Kenapa aku tidak bisa merasakan keberadaannya?" batin Arya. Sambil mengedarkan persepsinya. Hingga tanpa sadar dia sudah keluar dari area kampus, dan memasuki lahan orang lain.


"Hei mau kemana kau? Kesini dan serahkan uang mu!" bentak seseorang, yang dikawal oleh delapan belas orang lainnya.


"Siapa? Aku?" reaksi Arya. Sambil menunjuk diri sendiri.


"Kalau bukan kau siapa lagi? Dasar bodoh!" jawab Bawana marah jadinya.


"Memang kita saling kenal? Maaf ya! Aku sedang tidak mood untuk berurusan dengan sampah seperti kalian!" sambung Arya kesal juga.


"Kurang ajar! Mau cari mati kau ya?Aku Bawana, preman di sekitar sini. Jika kau mau selamat,cepat datang dan menyerahkan diri!"


"Jika tidak..?"


"Jika tidak kenapa? Apa kau akan memukuli ku?" tanya Arya. Lalu berjalan begitu saja, dan tidak


memperdulikan Bawana serta kawan kawannya.

__ADS_1


"Badjingan! Cepat tangkap bocah itu, dan kita rampok hartanya! Tapi sebelum itu, buat mulut tajamnya itu merasakan pukulan terkuat ku!" reaksi Bawana kesal dibuat Arya.


__ADS_2