
"Sa sa saya Hermawan. Datang karena ingin bertemu dengan tuan muda." Jawabnya.
"Tuan muda?. Siapa yang anda maksudkan?" Reaksi Siska keheranan.
"Tu tu tuan muda Arya. Apakah disini ada orangnya?" Jawab Hermawan berterus terang.
"Ya ada, tapi dia murid saya, dan bukan tuan muda?" Reaksi Siska bertambah penasaran.
"Mana orangnya, tolong tunjukkan pada ku!" Respon Hermawan mendadak senang. dan mencari keberadaan Arya.Tapi tiba tiba Rangga datang menghampirinya.
"Bos!. Kenapa anda datang, bukankah..?" Ujar Rangga keheranan.
"Diam!. Jangan berani kurang ajar!" Bentak Hermawan tidak senang.
Rangga sontak terdiam. Dia tidak menyangka akan dimarahi di depan orang. Dia mengira bosnya datang karena ingin menekan Arya, tapi ternyata malah menekan dirinya.
"Pak Hermawan, ada apa mencari ku?. Apa kau ingin merekrut ku menjadi anak buahmu?" Tanya seseorang yang tiba-tiba mengejutkannya.
"Anda adalah..?"
"Saya Arya, orang yang sedang anda cari." Jawab Arya berterus terang.
Hermawan sejenak memperhatikan Arya, dan ingin memastikan, apakah yang tuan Dave katakan itu benar. Ada terbersit sedikit keraguan, takut dia tersalah orang. Tapi setelah memastikan, barulah Hermawan langsung menyapa Arya.
"Tuan muda!. Mohon maafkan ketidaktahuan ku serta kekurangan ajaran anak buahku pada mu."
"Sungguh kami tidak tahu siapa anda? Ternyata anda adalah ketua agung kami. Mohon tuan muda tidak mengambil hati atas sikap ku juga anak buah ku itu barusan. "Respon Hermawan jadi segan.
Begitu selesai mengatakan itu, Hermawan langsung membungkukkan diri ke arah Arya, hingga membuat semua orang keheranan. diikuti oleh enam orang anak buahnya.
Sontak semua orang memandang ke arah Arya, antara takjub dan tidak percaya, hanya sekedar untuk memastikan, apakah yang dikatakan oleh Hermawan itu benar atau tidak? terkecuali Amanda, karena dia sudah tahu siapa Arya sebenarnya.
Bagi mereka, Arya terlihat biasa-biasa saja, walau mereka tahu hotel bintang 5 itu miliknya, tapi mereka tidak menyangka, kalau di belakang mereka, Arya juga dipanggil dengan tuan muda.
Pemandangan itu, tentu saja membuat mereka jadi terpana. Mereka tidak menyangka, kalau Arya mempunyai status tinggi selain seorang siswa. Jadi yang bisa mereka lakukan sekarang adalah diam, dan melihat apa yang akan dia dan pak Hermawan katakan.
"Bangunlah pak Hermawan!, anda tidak pantas melakukan itu, santai saja."
"Saya cuma ingin mengatakan, lain kali selidiki dulu siapa orang yang ingin anda rekrut, jangan main paksa saja."
"Beruntung saya sudah tahu apa status anda dalam organisasi, kalau tidak, mungkin saya sudah membuat perhitungan dengan anda." Ujar Arya memberi pengarahan pada anak buahnya.
"Terima kasih tuan muda, anda sungguh berlapang dada." Respon Hermawan merasa lega.
***
Satu jam kemudian, dan lima jam sesudahnya, Arya dan rombongannya sudah berada di dalam hotel, dan sedang mengistirahatkan tubuh tubuh mereka karena kelelahan.
Tidak ada yang lebih nikmat selain tidur. Tapi Arya belum bisa melakukannya juga, karena dia sedang dihadapkan pada permasalahan, antara kewajiban seorang siswa dengan rencana usahanya tersebut, mana yang harus didahulukan.
Pernah terbesit dalam pemikiran Arya, untuk meminta bantuan dari Arga, agar dia dan anak buahnya bisa menggantikannya dalam lomba, tapi setelah berpikir dua kali, akhirnya rencana itu dibatalkannya.
__ADS_1
"Hah!. Apa yang harus aku lakukan?. Haruskan aku berterus terang pada mereka, bahwa aku sebenarnya sudah jenuh melakukan ini?"
"Tapi aku seorang siswa, yang dihadapkan hanya pada satu pilihan, berprestasi, ya berarti harus membela sekolahnya, berikut tempat dimana aku bernaung. Jika aku menolak, tentu mereka akan kecewa."
"Tapi kalau begini terus, kapan rencanaku akan terlaksana. Ah, benar benar dilema." Monolog Arya dalam hati. sambil berusaha memejamkan matanya agar bisa tidur.
Tanpa terasa, hari sudah pagi, padahal Arya baru saja tertidur. Jika dia tidak bangun, alamat pertandingan hari ini akan dia lewatkan.
Terbersit sekali lagi, ingin meminta bantuan dari Arga, hanya sekedar untuk muncul di lapangan pertandingan saja, dan itu benar-benar dilaksanakannya. lalu dia melanjutkan tidur.
Dua setengah jam berikutnya Arya sudah benar benar fresh, dan sudah siap untuk melaksanakan kewajibannya. karena mudah buat Arya untuk bertukar tempat dengan Arga, karena anak buahnya tersebut mempunyai kemampuan untuk malih rupa.
Kebetulan waktu Arya dan Arga. bertukar tempat, saat itu jam istirahat, karena pertandingan sudah berlangsung satu setengah jam, atau pada waktu itu baru pukul 9.30 pagi, dan giliran Arya belum tiba.
Saat tiba itu Arya berkata."Untung giliran ku belum tiba, kalau tidak, entah apa komentar para juri? Aku yakin Arga akan lari sekencang kencangnya, untuk mendapatkan juara pertama. Kalau itu terjadi pasti akan muncul kehebohan. Arga pasti lari bagai kesetanan, bisa gawat nanti." Ujarnya.
Priiit!
Kini giliran Arya sudah tiba, dia menempati track nomor enam, dari delapan track yang ada, Arya bertekad untuk langsung menang, agar pertandingan bisa cepat selesai.
Maka sesaat setelah pluit dan tembakan dibunyikan, Arya langsung melesatkan diri sekencang kencangnya, dan sampai digaris finis empat detik berikutnya. Sedangkan yang lain, masih ada di belakang, dan rata rata sampainya, setelah 11 sampai 12 detik sesudahnya.
Dia lupa dengan perkataannya. menuduh Arga yang akan lari bagai dikejar setan. Padahal dia sendiri yang melakukannya.
Saat ini yang ada dalam pikiran Arya, adalah ingin cepat kembali, karena dia ingin agar urusannya cepat selesai. Penampilannya yang spektakuler kali ini, berkat adanya Kasutpada Kacarma, yang entah bagaimana bisa mengerti dengan kegelisahan tuannya?. Maka dengan tenaga dorong sekitar setengah persen, dia membuat tubuh Arya seperti terbang, ringan sekali. Melesat bagai anak panah lepas dari busurnya, dan sampai di sana hanya dalam empat detik saja.
Apa yang Arya lakukan itu, tentu saja membuat semua penonton jadi terdiam. Mana ada manusia lari seratus meter secepat itu, kecuali Arya, dan ini rekor yang paling luar biasa.
Hari itu juga diputuskan, bahwa Arya sebagai juaranya. Sementara Dadung dan Drajat sebagai juara kedua dan ketiga. Amanda, Novi dan bella atau Tasha, juga mendapatkan peringkat pertama dan ketiga. Jadi dalam cabang lari seratus meter, peserta dari SMA Tunas Bangsa yang memborong juaranya. Hal itu tentu saja membuat Siska, Madi dan Pramana merasa senang. Sementara peserta dari sekolah lain tersingkir semua.
Kini tiba saatnya untuk lari 200 meter, setelah istirahat sekitar satu setengah jam untuk makan siang, dan menjalankan kewajiban lainnya. Jika memungkinkan, akan dilanjutkan dengan lari estafet 400 meter secara bergantian.
Lima jam kemudian, semua pertandingan hari ini sudah selesai, dan akan dilanjutkan besok pagi dengan agenda cabang olahraga lompat jauh, serta lari estafet 400 meter, yang hari ini tidak bisa dilanjutkan, karena seluruh peserta sudah kelelahan, kecuali Arya yang masih prima.
"Selamat untuk kalian semua. jerih payah kalian telah dibayar lunas. Provinsi kita, kemungkinan yang akan keluar sebagai juara umumnya, karena juara pertama kedua dan ketiga, berhasil kalian dapatkan."
"Ibu yakin untuk lomba besok, kalian juga bisa memenangkannya. karena pesertanya itu itu juga."
"Tapi bagi yang belum berhasil, kalian jangan berkecil hati, karena lawan memang sangat luar biasa."
"Kehadiran kalian sangat dibutuhkan disini, jadi jangan merasa minder dengan mereka."
"Besok ibu harapkan, penampilan kalian, terutama dari sekolah lain akan maksimal, dan bisa memenangkan lomba. Semangat semua!" Ujar Siska, sesaat sebelum pulang ke hotelnya.
***
"Salam tuan muda!. Semoga panjang umur?" Sapa Himawan, pengusaha kaya dari zona selatan pada Arya.
"Oh silakan pak Hilma. Terima kasih atas doanya!" Respon Arya cukup sopan, sambil membalas penghormatan dari rekan kerjanya.
"Mari silakan duduk!" Ucap Arya lagi, setelah Himawan masuk ke kamar suite nya.
__ADS_1
"Terima kasih ketua!"Respon Himawan sopan juga.
"Wah kami ketinggalan ya?. Ternyata sudah ada tamu penting lainnya?" Ucap seseorang cukup lantang, yang datang bersama dengan enam orang temannya.
"Oh pak Dave juga yang lainnya, silakan masuk." Respon Arya cukup senang. Kemudian berdiri menyambut mereka.
Dua jam kemudian, pembicaraan tentang bisnis dan usaha sudah selesai dilakukan. Keputusan yang diambil menetapkan, bahwa mereka harus melebarkan sayapnya ke penjuru dunia, dengan merangkul asosiasi perdagangan di sana, agar mau bergabung dengan mereka. Sedangkan Arya, berkewajiban menjaga agar usaha mereka tetap aman, dan berjalan sebagaimana mestinya.
Dalam kesempatan itu, Arya mengabarkan, bahwa sebentar lagi, dia akan meluncurkan suatu produk obat obat obatan khusus untuk penyakit dalam, meningkatkan kemampuan metafisika sampai level yang paling tinggi, tapi harganya luar biasa mahalnya.
Mendengar itu, semua yang hadir merasa senang, karena terus terang saja, benda itu sangat mereka butuhkan, terutama untuk mereka yang mengidap penyakit berat sampai ringan. Pun mereka berharap, agar obat tersebut, mampu meregenerasi organ dalam, agar tidak mudah sakit bila tersalah makan dan sebagainya.
Pagi pun menjelang. Seluruh peserta yang akan melakukan pertandingan, sudah berada di lokasi. Cabang olah raga yang akan ditandingkan, adalah lompat jauh dan lari estafet 400 meter, dan yang akan melakukan start pertama adalah kelompok Arya.
Priit!
Tap! tap! tap!
Whus!
Jleb!
"Enam koma delapan meter!" Ucap pengukur jarak lompatan pada pencatat skor yang ada.
Priit!
Tap! tap! tap!
Whus!
Tap!
"Tujuh koma sembilan meter!" Teriaknya lagi.
"Selanjutnya!."
Priit!
Jleb!
"Sepuluh meter!" Teriak juri mendahului pengukur jarak lompatan cukup kuat.
"Sepuluh meter?. Bagaimana bisa?. Lapangan saja cuma sembilan meter. Ini malah 10 meter jauhnya?" Reaksi beberapa orang juri juga peserta lainnya keheranan.
Kemudian melihat sekali lagi, apakah yang dikatakan juri itu benar." Ternyata dia tidak bohong. jarak lompatan anak itu melebihi ukuran lapangan. Ini baru luar biasa!"
"Juara dunia saja tidak sejauh itu lompatannya, tapi anak ini bisa?Luar biasa!" Ucap seseorang pada temannya.
Enam jam kemudian. perlombaan pun selesai dilakukan, dan langsung pula diumumkan siapa juaranya. Ternyata yang keluar sebagai juara umumnya, adalah SMA Tunas Bangsa, karena dari semua yang diperlombakan, mereka yang keluar sebagai pemenangnya.
Satu hari kemudian, sebelum mereka kembali ke kota Seraya, Arya, guru juga teman temannya, menyempatkan diri untuk berkeliling ibukota, dan berbelanja apa saja yang mereka maukan, karena Arya yang akan membayar semuanya.
__ADS_1
Teman dan guru gurunya tentu saja senang, karena baru kali ini, mereka ditraktir oleh murid super kaya. Dia adalah Arya.