
"Tuan putri, mereka ini...?"
"Diam! Berani nya kau membantah ku?" Bentak Kanaya tidak senang, kemudian berusaha menampar pengawal itu, agar bisa bersikap sopan pada tamunya.
"Cukup Kanaya!. Jangan bertindak berlebihan. mereka itu orang orang ku. jadi kau jangan.."Reaksi Borga tidak senang, tapi tidak jadi di ucapkannya. karena dari arah belakang, datang seseorang yang cukup cantik, masih muda lagi.
"Ada apa ribut ribut ini?Bukannya prihatin melihat ayah kalian yang sedang sakit, malah asyik bertengkar di sini?.Anak apa kalian ini?"
"Pergi semua!, aku tidak mau melihat kalian saling bertengkar satu sama lain, demi orang orang yang tidak jelas ini!" Ucapnya cukup mencengangkan.
"Siapa kau?. Kau tidak berhak memarahi kami!. Kau itu hanya ibu...?"Protes Kanaya tidak terima.
"Ya, aku memang ibu sambung kalian, tapi kekuasaan ku cukup besar di rumah ini. Kalau kau kurang percaya, lihat ini!"
"Pengawal!. Cepat usir orang orang itu!. Gunakan segala macam cara untuk melumpuhkan mereka!" Ujarnya memberi perintah.
Lalu tanpa berpikir panjang lagi. Seluruh pengawal yang ada di tempat itu, termasuk 20 pengawal Borga, merangsek maju, untuk mengusir Arya dan rombongannya, agar pergi dari tempat itu.
Tapi sayangnya, belum juga sampai, mereka semua sudah terpental dengan sendirinya, karena enam orang master yang mengawal Arya, sudah bertindak duluan.
Aura kekuatan yang terpancar dari tubuh tubuh mereka, membuat langkah pengawal pengawal itu jadi terhenti, bahkan melemparkan mereka menjauh dari Arya.
Melihat itu. Borga juga ibu sambungnya jadi tercekat diam. Mereka tidak mengira, kalau pengawal Arya bisa sekuat itu.
Mereka kira Arya dan anak buahnya itu, sama dengan para dokter, atau orang pintar, yang datang karena imbalan uang. tanpa dibekali keahlian berkelahi. Tapi nampaknya mereka keliru besar, dan akibat yang harus mereka tanggung adalah rasa malu, karena seluruh anak buahnya dibuat terpental, hanya dengan aura kekuatan lawannya saja.
Karena itu, Borga yang menjadi tuan muda di keluarga tersebut, menjadi sangat emosi. Lalu dengan lantangnya dia berkata." Berdiri kalian semua!. Gunakan pistol yang kalian bawa, dan habisi mereka semua!" Teriak Borga tidak terima.
Kemudian ikutan ikutan mengeluarkan pistol yang ada padanya. Lalu menembakkan pelurunya ke arah Arya. Namun apa yang terjadi, pistol itu tidak bisa meletus juga. bahkan bentuknya berubah menjadi buah pisang, atau ular yang siap mematuk mereka.
"Argh apa ini?. ular!"Teriak nya, juga beberapa orang anak buahnya, sambil berlari ketakutan.
"Dasar tukang sihir!. Kau pikir tipu daya murahan mu itu bisa mempengaruhi ku?"
"Enyahlah!. Hiaaaaa!"
Whus!
Blar!
"Hugh!" Keluh kesakitan dari mulut Carica pun terdengar. dan segera setelah itu, dari mulutnya merembes darah segar, pertanda organ dalamnya terluka. Kemudian dari mulutnya, keluar makian yang cukup kasar, ditujukan pada Arya dan anak buahnya.
Dia tidak menyangka, bisa kalah dari Arya juga anak buahnya. Padahal selama ini, dia menguasai ilmu metafisika cukup tinggi, kenapa bisa kalah ditangan anak buah Arya?. Itu yang membuat dia tidak habis pikir.
Namun setelah diperhatikan, ternyata tingkatan orang orang itu, lebih tinggi dari tingkatan ilmunya. Jadi wajar kalau dia harus kalah dari mereka.
"Menyerah saja!. Jangan halangi niat kami untuk mengobati penyakit tuan kalian. karena jika lambat sedikit saja, maka nyawanya bisa melayang."
"Jadi tolong beri jalan, agar master dewa bisa mengobati tuan kalian!" Ujar Prana cukup mengejutkan.
"Tidak bisa!. Penyakit ayah ku bukan penyakit biasa. Tapi tumor ganas yang hanya bisa sembuh jika dilakukan operasi!"
__ADS_1
"Jadi kalian pergi saja, karena aku tidak akan mengizinkannya!" Ujar Borga, dengan ekspresi tidak senang.
"Benar!.Penyakit suami ku tidak bisa ditangani oleh orang tidak jelas seperti kalian. Jadi cepat tinggalkan tempat ini, dan jual obat di jalan saja." Sambung Carica juga mengejutkan.
"Cukup!. Mereka ini tamu tamu ku, dan itu urusan ku!."
"Selama ini apa yang kalian lakukan?.Tidak ada kan?"
"Kalian hanya memanggil dokter gadungan, juga seseorang yang katanya ahlu pengobatan dalam, tapi apa nyatanya?.Nol!"
"Jadi beri mereka jalan, karena sekarang aku yang akan mengambil alih pengobatan untuk ayah ku, dan jangan mengganggu mereka!" Ucap Kanaya sungguh mencengangkan.
"Aku tidak mau tau!. Kau tidak boleh mengobati penyakit ayah, karena takutnya akan semakin parah?" Respon Borga tidak terima.
"Benar kata kakak mu itu Naya. Biarkan ayah mu beristirahat dengan tenang. agar penyakitnya bisa sembuh."
"Tapi jika kalian mengganggu tidurnya, itu pasti akan memperparah keadaan.Jadi urungkan niat mu, untuk mengobati suami ku. karena dia urusanku!" Bantah Carica mencoba mencegah usaha Kanaya untuk mengobati suaminya.
"Kenapa kalian begitu ketakutan?. Jangan jangan sakitnya ayah ku karena ulah kalian?" Respon Kanaya keheranan.
"Jangan sembarangan kalau bicara!. Ayahmu itu mengidap tumor ganas di kepalanya, jadi tidak ada hubungannya denganku atau dengan kakakmu ini."
"Jika dia menjalani operasi, maka aku yakin penyakitnya itu akan sembuh, bukan dengan cara mendatangkan orang yang tidak jelas ini? Karena kau sendiri tahu, sudah puluhan orang yang berusaha untuk mengobati ayahmu, tapi apa hasilnya? nihil!" Bantah Carica masih juga berusaha menggagalkan usaha dari Kanaya.
"Sembuh kata mu?. Lalu apa yang kalian lakukan selama setahun ini? Kalian hanya membiarkan ayahku terbaring lemah seperti itu, tanpa adanya usaha nyata dari kalian!"
"Lalu apakah aku harus tinggal diam, dan melihat ayahku mati secara perlahan? Sekali kali tidak!"
Kemudian mengajak Arya untuk masuk ke ruangan khusus, di mana ayahnya sedang dirawat itu. Tapi usaha Kanaya, dihalangi oleh Borga dan ibu sambungnya tersebut, dibantu oleh puluhan anak buahnya.
Namun sekali lagi, mereka dibuat terpental, karena kali ini Arya yang langsung turun tangan, dengan cara mengibaskan tangannya ke arah mereka, dan anehnya, seluruh orang orang itu mendadak pingsan, karena pengawalnya yang bernama Arga juga ikut turun tangan.
"Maaf, jika tindakanku terkesan berlebihan. karena mereka memang harus diberi pelajaran."
"Setelah pengobatan ini selesai, nona baru akan tahu, siapa mereka sebenarnya?" Ucap Arya pada Kanaya, dengan ekspresi tidak enak hati.
"Tidak, tidak, tidak!. Justru aku sangat berterima kasih padamu, karena dengan demikian, usahaku tidak ada yang menghalanginya lagi." Jawab Kanaya mendadak senang. sambil mengamati wajah Arya yang tampan tersebut.
Sempat terbersit rasa suka pada Arya, saat melihat sikap Arya yang sopan itu. Tapi sebagai seorang putri keluarga kaya raya, dia menjaga imagenya, agar tidak jatuh, dan tetap bersikap seperti apa adanya.
"Ayo ikuti aku!. Ayahku ada di ruangan yang tak jauh dari tempat ini." Ujarnya gugup, dengan berusaha bersikap normal saat berbicara.
Namun Arya yang berpengalaman itu, bisa menangkap kegugupan tersebut, begitu juga dengan 6 anak buahnya. Tapi mereka hanya bisa saling berpandang pandangan, dan tersenyum ditahan, agar tidak menyinggung perasaan tuan rumah barusan.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan ruangan, di mana tuan Dave sedang dirawat itu. Namun belum juga masuk, langkah mereka sudah dihalangi oleh sebuah kekuatan sihir yang cukup kuat, hingga membuat langkah Arya dan 6 anak buahnya jadi terhenti. sambil keningnya mengerut dalam.
Menyadari tuannya berekspresi seperti itu, membuat Arga tidak enak hati. Kemudian dengan tergesa-gesa, dia menghampiri Arya dan berkata. "Mohon maaf yang mulia!. Formasi sihir di tempat ini tidak bisa kami hancurkan, sementara di tempat lain bisa. Jadi mohon yang mulia jangan kecewa terhadap kami." Ujarnya sambil menunduk hormat pada tuannya.
Arya tidak menjawab perkataan dari Arga, karena dia tidak mau, orang-orang yang akan yang ada di situ menjadi keheran. Dia hanya mengangguk-angguk kecil saja, pertanda memahami apa yang diutarakan oleh anak buahnya barusan.
"Kalian semua mundurlah!. Di seluruh ruangan ini, telah dipasangi formasi sihir jahat, yang tidak sembarang orang bisa menghancurkannya."
__ADS_1
"Namun aku akan berusaha, untuk membuat formasi sihir itu hilang." Ucap Arya pada 6 orang anak buahnya, sekaligus pada Kanaya.
"Mari nona!. Biarkan Master dewa yang melakukan itu, karena kemampuannya jauh lebih tinggi dari kami." Ucap Prana pada Kanaya.
"Apa?. Jadi yang disebut dengan master dewa adalah pemuda itu?" Reaksi Kanaya tidak percaya.
"Ya. Dialah master dewa yang kami maksudkan. Walaupun usianya masih muda, tapi kemampuan metafisikanya sangat tinggi sekali. Kami berenam saja tidak mampu melawannya."
"Oleh karena itu kita percayakan urusan formasi tersebut padanya." Jawab Prana apa adanya.
"Selain ganteng, baik, pandai lagi?"
"Jika aku bisa mendapatkannya, mungkin perusahaan ayahku akan bisa terjaga, dari orang orang tamak yang ingin menguasainya." Batin Kanaya dalam hati, sambil tersenyum malu-malu.
"Formasi bintang kutub. Aktif!" Seru Arya tiba tiba. dan..
Bamm!. Lalu..
"Hancurkan!"
Pyar!
Prang!
"Ugh!. Ada apa ini?. Kenapa sebuah kekuatan besar mendorong tubuhku hingga terpental begini?. Apa yang sebenarnya terjadi?" Reaksi seseorang dari seberang sana keheranan.
Kemudian menghidupkan dupa yang selalu ada di depannya, dengan menaburkan berbagai macam ramuan, hingga membuat api yang semula kecil mendadak menjadi besar.
"Api setan neraka!. perlihatkan apa yang kau ketahui!" Ujarnya. Lalu..
Blamm!
Di depannya, melalui api besar itu, muncul gambaran ruangan yang sedang berusaha untuk dimasuki oleh Arya dan orang orangnya. Tapi anehnya, mereka semua terlihat sangat oleh pandangan orang tersebut.
Lalu dengan emosinya dia berkata. "Kurang ajar!. Ternyata ada sekelompok idiot, yang telah menghancurkan formasi sihir, yang telah aku buat dengan susah payah itu."
"Ini tidak bisa dibiarkan!. Jika mereka bisa masuk ke dalam kamar itu, maka usaha muridku akan terbongkar."
"Jadi aku harus membuat pendinding baru, agar mereka tidak bisa masuk!" Ujarnya panik. lalu merapal mantra, dan dikirimkannya ke rumah Kanaya.
Wus!
Jdar!
"Eh apa yang terjadi? Kenapa ada petir di siang bolong seperti ini?. Apakah hari akan hujan?" Reaksi Kanaya kebingungan.
"Mau main-main denganku ya?. Kau pikir aku tidak tahu siapa yang ada di balik ini?" Ucap Arya cukup kuat, hingga membuat Kanaya menjadi salah paham, dan ingin protes kepada Arya.
"Tenang nona Kanaya!. Dia bukan berbicara pada kita, tapi pada orang yang telah mengirimkan sihir jahat kembali ke rumah ini."
"Jadi jangan berprasangka buruk padanya, sementara dia sedang berusaha untuk mengatasi serangan yang tidak terlihat itu." Ujar Prana berusaha meredakan kesalahpahaman tersebut.
__ADS_1
"Ternyata begitu?. Hampir saja aku tersalah ucap." Reaksi Kanaya malu malu. Kemudian diam seribu bahasa, dan melihat saja apa yang dilakukan oleh Arya di depan matanya itu.