
Satu setengah jam kemudian, barulah mereka tahu, bahwa Arya tidak berada di kamar yang dikhususkan untuknya menginap. Amanda begitu juga.
Tapi bukan berarti kamar yang ditempati oleh guru dan teman temannya itu kamar sembarangan. Harga sewa permalamnya saja sudah mencapai belasan sampai puluhan juta. Apalagi kamar yang ditempati oleh Bu Siska, Darmadi, Permana serta guru guru lainnya.
Harga sewa kamar mereka per malamnya sebesar 17.5 juta. karena sarapan, makan siang dan makan malam, diantar langsung ke kamar, serta ada jasa laundry dan setrika baju segala.
Sedangkan harga sewa kamar untuk siswa permalamnya mencapai 9.7 juta. Sarapan, makan tidak perlu turun, karena ruang makan pribadi dekat dengan kamar mereka. Jasa laundry juga tersedia.
Sementara kamar untuk Arya dan Amanda yang terpisah, berkisar antara 150 juta sampai 165 juta rupiah permalamnya, karena kamar yang mereka tempati adalah president suite. dan hanya ada dua di hotel itu.
Sedangkan mereka harus menempati kamar itu selama seminggu, berarti pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh Arya cukup tinggi, bisa mencapai milyaran rupiah.
Tapi itu tidak menjadi masalah buat Arya, karena itu hotelnya sendiri, jadi bisa gratis buat dia, guru dan kawan kawannya.
"Aku heran dengan Arya. kok bisa bisanya membawa kita kesini?. Apa dia tidak takut kalau ditagih biaya tinggi oleh pengurusnya?" Ujar Darmadi pada Permana.
"Itulah yang sedang aku pikirkan. Apa mungkin pak Satya yang memfasilitasi semua ini?. karena Amanda juga bersama kita, atau jangan jangan..?"
"Jangan jangan apa?, curiga sama Arya juga Amanda ya?" Tanya seseorang yang tiba tiba datang tersebut merasa penasaran.
"Eh bu Siska?. Mari silakan duduk!" Respon Permana tidak menduga.
"Turun tak bilang bilang. Memang ada urusan apa di lobby hotel ini, apa ada seseorang yang sedang kalian tunggu?" Ujarnya.
"Eh tidak juga. Kami hanya ingin membuktikan, apa benar ketua panitia, saudara kepala sekolah itu yang mengarahkan kita ke sini. Tapi kok sudah dua jam dia belum datang?" Jawab Permana mewakili Darmadi enteng saja.
"Iya tuh bu Siska?. Ini sudah hampir pukul 1 siang lho. Belum ada konfirmasi juga dari dia?"
"Jadi apa benar dia yang menyuruh kita ke sini?. Kalau tidak, bagaimana nasib kita?. Sedangkan harga sewa di hotel ini kabarnya cukup tinggi? Lalu siapa yang harus bertanggung jawab?" Sambung Darmadi pula.
"Kita percayakan saja pada Arya, karena dia punya kemampuan untuk itu!"
"Satu yang harus kalian ingat, Arya mempunyai usaha kuliner yang sangat maju, bahkan kita saja tidak punya."
"Selain itu, kabarnya Arya juga mempunyai beberapa usaha yang sedang dirintisnya. tapi di mana lokasinya aku tidak tahu."
"Jadi tidak usah mempermasalahkan mau di mana kita tinggal?, yang penting kita percaya saja sama Arya, karena aku yakin, Arya itu bukan orang biasa!" Jawab Siska begitu semangatnya.
"Aku sih belum percaya, kalau restoran yang sangat terkenal di kota kita itu adalah milik Arya. Banyak yang mengatakan, bahwa restoran tersebut milik pak Satya. Sedangkan keberadaan Arya di situ hanya sebagai karyawannya saja." Bantah Darmadi berusaha untuk tidak percaya.
"Hus ngaco kamu!. Udah jelas-jelas restoran tersebut milik Arya, masih juga kalian ragukan?. Jika sempat pak Satya mendengarnya, habislah kalian!" Sergah Siska mengingatkan mereka.
"Dengar baik-baik darmadi dan Permana!" Ujar Siska lagi." Keberadaan pak Satya di dalam perusahaan rumah makan itu, hanya sebagai pelindung saja, sementara pemilik aslinya adalah Arya."
"Jadi tidak ada alasan untuk kita meragukan kepemilikan restoran tersebut?. Toh tidak ada sangkut pautnya juga dengan kita?.
"Restoran restorannya dia, Kenapa pula kalian yang ribut?" Ujarnya lagi.
"Tapi anggaplah benar restoran itu milik Arya, namun ingat bu Siska, kita menginap di hotel mahal seperti ini. Aku yakin biaya per malamnya mencapai belasan bahkan mungkin puluhan juta, atau katakanlah ratusan juta. Bagaimana cara Arya membayarnya?, sedangkan kita menginap di sini selama satu minggu?. apa Ada logika untuk itu?" Bantah Darmadi masih belum puas puasnya bertanya.
"Yah semoga apa yang kau katakan itu benar Madi? bahwa restoran besar tersebut milik Arya, dan penghasilannya mencapai ratusan juta per bulannya. Jadi walau kita tinggal di hotel ini, ya mungkin dia yang akan membayarnya?"
__ADS_1
"Selain itu, aku yakin pak Satya tidak akan membiarkan anak gadisnya menginap di hotel sembarangan, apalagi di penginapan. Bisa saja orang tuanya yang memfasilitasi hotel ini untuk kita?."
"Kalian lihatlah dalam beberapa jam lagi. Aku yakin pak Satya dan istrinya itu akan datang kemari untuk menemui Amanda, karena tidak mungkin saat Amanda ada di ibukota, dia tidak menjenguknya?" Jawab Bu Siska memberi harapan pada mereka.
"Yah semoga saja begitu bu Siska?" Respon Darmadi dan Permana tak bisa apa apa.
Tak! tak! tak!
Bunyi banyak langkah kaki dari dalam hotel nyaring terdengar, bahkan kesannya seperti berlari, menyambut serombongan orang saat sedang ingin memasuki lobby hotel itu.
"Selamat datang ketua!. Juga pembesar pembesar lainnya. Maaf jika kedatangan anda tidak kami sambut sebagaimana semestinya." Ucap dan sapa general manajer pada Dave tua, juga pada bawahannya.
"Apa ketua agung kita sudah tiba?" Tanya Dave tua cukup berwibawa.
"Sudah ketua!. Dia sekarang sedang beristirahat di dalam kamarnya." Jawab Barra apa adanya.
"Dikamar biasa?.Awas kau ya kalau berani menempatkannya di tempat itu!" Respon Dave tua tidak terima
"Ka ka kami tidak berani ketua!. Tuan muda dan nona ditempatkan dikamar tersendiri, president suite lantai 25." Jawab Barra gugup tapi apa adanya.
"Bagus!. Kami semua akan kesana untuk melaporkan sesuatu." Reaksi Dave tua senang atas informasi itu.
"Permisi bapak bapak sekalian!. Siapa yang sedang anda bicarakan itu? apakah Arya juga Amanda?" Ujar Siska memberanikan diri untuk bertanya. karena Dave tua, dan puluhan orang orang nya itu berbicara di dekatnya.
"Kamu siapa?" Tanya Dave tua merasa curiga. dan sikapnya angkuh khas orang yang berkuasa.
"Saya Siska, gurunya Arya juga nona Amanda!" Jawab Siska tegas juga.
"Apa bapak bapak ini juga teman anda?" Tanya Dave tua ingin tahu tentang Madi dan Permana.
"Benar pak...?"
"Pak Dave. Boleh panggil Dave saja!" Respon Dave tua terkesan menunjukkan keramahannya.
Kemudian menyalami Siska, Madi dan Permana secara bergantian. "Halo semuanya, salam kenal!" Ujarnya.
Lalu menyuruh bawahannya untuk bersalaman dengan guru-guru Arya juga.
"Maaf pak Dave!. Tadi saya mendengar, anda mengatakan tuan muda. Kalau boleh tahu siapa tuan muda yang anda maksudkan itu?" Ujar Siska bertanya tiba tiba.
"Apakah ibu guru tidak tahu, orang yang kami panggil tuan muda adalah murid anda?" Jawab Dave tua malah balik bertanya.
"Maksudnya Arya?" Tanya Siska untuk mempertegas saja.
"Ya, dialah orangnya!" Jawab Dave tua apa adanya.
"Bagaimana mungkin? bukankah Arya..?"
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini bu Siska?. Dulu tuan muda boleh saja dikatakan miskin. Orang tak punya, tapi sekarang tidak lagi. Nasib baik telah merubahnya menjadi orang yang dihormati."
"Sekarang dia sudah menjadi orang kaya, ahli metafisika, ahli pengobatan. penguasa banyak organisasi, bahkan kami saja merupakan bawahannya."
__ADS_1
"Jadi tidak ada yang tidak mungkin buatnya saat ini. Bahkan hotel yang kalian tempati ini merupakan miliknya." Ujar Dave tua dengan lancarnya.
"A a apa?. Hotel ini milik Arya, eh maksud ku tuan muda Arya. Ta ta tapi..?" Reaksi Madi seakan bermimpi saja.
"Ya sudahlah!. Sekarang kami akan menemuinya, karena kami semua ini adalah bawahannya." Ujar Dave tua ingin mengakhiri perbincangannya.
"Oh kalau begitu silakan pak Dave. Nanti kami juga ingin menemuinya." Balas Siska makin deg degan saja.
Tak lama kemudian, mereka pun pergi, dan menaiki lif yang khusus diperuntukkan untuk tamu penting, yang menempati President suite yang cuma ada dua di atas sana.
Begitu mereka menghilang, Siska langsung berkata." Apa aku bilang?. Arya itu bukan manusia biasa. Orang sekaliber Dave saja tunduk padanya. apalagi kita?"
"Tapi eh, selepas ini bagaimana kita harus bersikap padanya ya?. Apa seperti biasa atau memanggilnya dengan tuan muda juga?" Ucap Siska tiba tiba tersadar dari ucapannya.
"Aku rasa kita panggil Arya dengan tuan muda saja, karena takutnya dia...?"
"Diakan siswa kita?. Kita ini orang tuanya. Mana ada orang tua memanggil anak nya dengan panggilan pak, tuan, ataupun tuan muda. Kecuali kalau kita memanggilkan untuk orang lain. itu baru mungkin?" Sambung Permana memberi masukan pada teman temannya.
"Benar juga apa katamu Mana?. Kita ini gurunya. Jadi tetaplah panggil dia Arya, bukan tuan muda?" Sambut Siska baru menyadari statusnya.
"Tapi kok bisa ya?. Setahu ku Arya itu pemuda miskin, rumah saja ngontrak, sewa maksudnya."
"Namun kenapa tiba tiba bisa menjadi kaya?. apa dia mengamalkan pesugihan?" Ucap Madi dengan pikiran negatifnya terhadap Arya.
Plak!
"Argh!" Siapa yang tampar aku, setan kah?" Ujar Darmadi tiba tiba.
Plak!
"Ampun, ampun!. Aku tarik perkataan ku tadi. Tolong jangan pukul aku, aku mengaku salah!" Ujarnya lagi sambil meringis kesakitan.
"Ada apa Madi?, kenapa kau ketakutan seperti itu, apa kau melihat hantu di hotel mewah ini?" Respon Siska merasa penasaran.
"Tidak, tidak, aku tadi cuma terkejut saja." Jawab Madi terpaksa berdusta.
"Tapi kenapa pipi mu memerah gitu, bahkan gigi mu berdarah?" Tanya Permana pula.
"Pukul nyamuk, ya pukul nyamuk!. Ah sudahlah, aku mau istirahat saja. Pertemuannya pun bukan hari ini tapi besok." Jawab Madi lagi lagi berdusta.
Kemudian pergi dari tempat itu, dan menuju lif untuk kembali ke kamarnya.
"Ada apa dengannya bu sis? Kenapa tiba tiba ketakutan begitu?" Tanya Permana pada seniornya.
"Mana aku tahu?. Mungkin mulutnya yang ember itu telah membuat penunggu tempat ini tidak suka, jadi ya ditampar la?" Jawab Siska sekenanya.
"Ah ada ada saja bu siska ini?. Hotel bagus begini kok dikatakan berhantu. Kapan sejarahnya?" Reaksi Permana tidak terima. Kemudian meminta izin untuk kembali ke kamarnya.
"Tuan muda, kau memang bukan orang biasa. Pengusaha kaya seperti tuan Dave itu saja tunduk pada mu. apalagi yang biasa biasa saja?"
"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dari kami Arya?" Batin Siska dalam hati. Kemudian ikut ikutan pergi.
__ADS_1