
"Lapor tuan!. Dibelakang ada sekelompok orang yang sedang mengikuti anda. Apakah yang harus dilakukan pada mereka tuan?" Ucap dan tanya Argani pada tuannya.
"Halangi mereka!. Aku tidak mau acara ku diganggu, dan cari tau siapa mereka dan dari mana?" Jawab Arya tegas dan kuat.
"Ada apa sih?. Apa yang halangi, tidak mau diganggu, kau ngomong apa tadi?" Reaksi Amanda penasaran.
"Oh tidak!.Di belakang ada orang yang sedang mengikuti laju kendaraan ini. Sepertinya mereka sedang mengawasi kita?" Jawab Arya apa adanya.
"Mana?" Respon Amanda kembali penasaran, sambil menoleh ke arah mereka.
"Jangan melihat ke belakang!. Pura-pura saja tidak tahu." Cegah Arya cepat, melarang Amanda agar tidak tampil mencolok.
"Baik-baik!. Tapi siapa mereka?. Kenapa mereka mengikuti kita?."
"Mana aku tahu?. Mungkin orang yang terpesona dengan kecantikan mu. Jadi mereka merasa penasaran, dengan memastikan siapa cowok yang beruntung bisa bersamamu ini?" Jawab Arya masih juga dibawa bercanda.
"Ih kau ini!. Bawaannya bercanda saja." Respon Amanda kesal, sambil mencubit pinggang Arya, hingga membuatnya merasa geli. dan membuat laju kendaraan menjadi oleng.
Ciiit!
"Hati hati bawa motor tuh!
Hampir saja?"
"Kau sih yang salah, kenapa harus mencubit pinggang segala?, kan jadi hilang konsentrasi?" Jawab Arya membela diri.
"Eh tunggu dulu!, sepertinya plat nomor itu aku kenal, plat dari ibukota, milik Raditya." Reaksi Amanda baru ingat.
"Raditya?. Siapa dia?" Tanya Arya penasaran.
"Anak seorang pengusaha, yang bergerak di bidang properti dan perbankan di ibukota. Raditya Permana." Jawab Amanda apa adanya.
"Lalu untuk apa dia mengikuti kita?, apakah ada sangkut pautnya dengan mu?" Ujar Arya asal saja bertanya.
"Tau tuh!. kemungkinan iya. Mentang mentang anak orang kaya, seenaknya saja meminta ku untuk menjadi istrinya.. Bahkan dia tak segan segan lagi menunjukkan rasa sukanya itu, dengan cara mengirimkan beberapa macam bunga setiap hari ke rumah, biar aku mau menjadi pacarnya."Jawab Amanda apa adanya.
"Terus kenapa kau tidak mau menerimanya?. Bukankah dia anak orang kaya, jadi kehidupanmu nanti akan terjamin?" Respon Arya membuat Amanda kesal.
"Siapa juga yang mau dengan orang yang seperti itu?, kerjanya gonta-ganti pasangan saja?"
"Katanya kalau aku mau menjadi pacarnya, maka dia berjanji akan merubah sifatnya itu, dan tidak akan mengulangi perbuatannya."
"Tapi mana aku percaya dengan janjinya itu?. Hari ini bilang A, besok bilang B. Jadi dengan tegas aku menolaknya. Lagipula aku tidak menyukainya." Jawab Amanda membantah pernyataan dari Arya.
"Tapi kenapa kau malah pindah ke kota Kabupaten ini?, Bukankah di ibukota negara jauh lebih enak daripada di sini?" Tanya Arya berniat menggoda lagi.
"Jujur saja aku katakan, kedua orang tuaku tidak menyukai pria itu, karena mereka tahu, dia suka memainkan perasaan wanita."
__ADS_1
"Jadi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ayahku memutuskan untuk memindahkan ku ke tempat ini.Biar jauh dari gangguannya."
"Namun entah bagaimana dia bisa menemukanku, dan sekarang malah sedang berada di belakang kita?" Jawab Amanda apa adanya.
"Tapi, eh di mana mereka?. Kenapa mereka tidak membuntuti kita lagi?" Tanya Amanda penasaran lagi.
"Mungkin mereka sudah bosan mengikuti kita? karena tidak tahan melihat kita berdua mesra begini?" Jawab Arya asal bicara saja.
"Aku sedang serius bang!, jangan dibuat bercanda terus, kita sedang dalam bahaya!" Reaksi Amanda tidak suka.
"Siapa juga yang bercanda?, Coba lihat ke sana. Bukankah itu mobil mereka?" Balas Arya tidak kalah ketusnya. sesaat setelah berhenti dan mematikan motornya.
"Apa!. Bagaimana mungkin?. Mana ada mobil bisa memanjat pohon seperti itu?" Reaksi Amanda keheranan.
"Tu buktinya ada?. Mobil cowok yang bernama Raditya, sekarang sedang ada di atas pohon?. jadi keraguan mu barusan tidak beralasan." Bantah Arya.
"Tapi apa yang terjadi, dan bagaimana..?" Reaksi Amanda.
"Ah sudahlah!. Jangan dipikirkan lagi!. Lebih baik cepat kita pulang, agar ayahmu tidak menuduhku membawa lari anak gadis orang." Jawab Arya menjawab sembarangan.
"Iiihh!" Respon Amanda kesal, kemudian berusaha mencubit pinggang Arya lagi. Beruntung Arya cepat menghindar, lalu menghidupkan motornya kembali, karena tadi sengaja ia matikan.
Sebenarnya apa yang terjadi?. Kenapa mobil Raditya bisa tersangkut di atas pohon?. Apakah ada jalan menuju kesana?
Pertanyaan seperti itu, tentu saja memenuhi benak setiap orang, termasuk Amanda, kecuali Arya. Karena dia sudah tahu siapa yang telah melakukan itu?.
Pemilik mobil tersebut, tentu saja syok dibuatnya. karena sebelum kejadian itu, sepintas dia melihat, bayangan makhluk yang sangat mengerikan menghadang jalannya. kemudian mengangkat mobil yang sedang dinaikinya itu, dan menaikkannya ke atas pohon.
"Bos bagaimana ini?. Pohon ini cukup tinggi. bagaimana kita bisa keluar? Aku takut bos! Tanya sang sopir pada tuannya.
"Tetap tenang!, dan jangan gegabah!. Keluar satu-satu, agar keseimbangan mobil ini tidak oleng." Jawab Raditya mencoba bersikap tenang, padahal sebenarnya dia sangat takut sekali.
"Biar aku duluan yang keluar, karena posisiku kebetulan dekat dengan dahan pohon. Sesudah itu baru kalian. Tapi ingat! jangan berebutan, tetap tenang!" Jawab Raditya memberi arahan pada anak buahnya. yang sebenarnya hanya akal akalan dia saja.
Setengah jam kemudian, penumpang yang berjumlah 6 orang itu. semuanya sudah pada turun, karena tak lama setelah mereka tersangkut itu, datang dua mobil pemadam kebakaran, yang segera beraksi untuk menyelamatkan mereka.
Sementara itu, Arya dan Amanda sudah sampai ke tempat tujuan, dan langsung menemui pak Satya, untuk membuat laporan.
"Terima kasih nak Arya!. Kau memang bisa diandalkan. Ayo masuk dulu, dan makan bersama kami!" Ucap pak Satya menawarkan kebaikan.
"Terima kasih atas tawarannya pak. Tapi untuk hari ini saya tidak bisa kabulkan, karena mereka yang di sana juga butuh perhatian." Jawab Arya berterus terang.
"Kalau begitu sekalian saja bawa mereka. Aku jamin mereka akan mau!" Ujar pak Satya mengagetkan Arya.
"Terima kasih pak Satya, tapi biar kami berusaha sendiri, karena kalau terus dimanja, kami tidak akan jadi mandiri, karena sedikit sedikit dibantu, maka lama-lama kami jadi malas, dan tidak mau berusaha." Jawab Arya cukup bijaksana.
"Baiklah kalau begitu!, tapi lain kali makan di hotel bapak lagi ya?" Respon pak Satya bertambah senang, karena Arya orangnya cukup tahu diri, dan tidak mau menyusahkan orang lain.
__ADS_1
***
Delapan hari kemudian. tempat usaha Arya sudah berubah menjadi baru, dan bentuknya cukup besar sekali, di mana tanah yang berukuran 6.000 meter persegi, kini seluruhnya hampir didirikan bangunan.
Di bagian kirinya, hanya tersisa satu meter, berbatasan dengan bakal pagar. Sedangkan di bagian kanannya disisakan lima meter, untuk dibangun rumah kos bagi karyawan restoran. Sementara di belakangnya cukup satu setengah meter, dan langsung berbatasan dengan calon pagar juga.
Tapi di bagian depan, ukurannya cukup luas sekali, yaitu sekitar 10 meter dari jalan. itupun masih di basi dengan bahu jalan, hingga membuat areal tersebut cukup lapang sekali. Pas untuk tempat parkir calon pelanggan, yang akan makan di restoran itu nantinya.
Sepanjang pengerjaan proyek besar tersebut, tak luput juga dari komentar orang, "Luar biasa sekali cara kerja mereka!. Hanya dalam delapan hari, gedung bertingkat tiga sudah hampir selesai dikerjakan."
"Kalau itu aku, pastinya tidak akan tahan. Lembur setiap hari siapa juga yang mau?" Ucap seorang tenaga pengamanan hotel, pada sesama teman seprofesinya.
"Kenapa juga mengurusi orang?. Kalau itu aku nilai wajar. karena yang bekerja berjumlah ratusan, bergiliran siang malam lagi. Apa ndak cepat selesai?" Respon temannya menganggap itu wajar.
"Tapi kan tidak logis kalau..?
Plak!
"Aduh!. Kenapa kau tampar aku, sakit tau?" Tiba tiba saja Iksan menjerit kesakitan.
"Siapa yang menampar mu?. Dari tadi aku duduk saja dan tidak bergerak sama sekali." Bantah Doni tidak senang.
"Lalu siapa yang menampar ku tadi. rasanya..?" Protes Iksan tidak terima.
"Mana aku tau, hantu kali?" Jawab Doni asal menjawab saja.
"Tu makanya jangan suka menggunjing orang. Yang bekerja siapa yang sewot siapa?"
"Orang giat bekerja tapi kita cuma duduk duduk saja. Sana tuh ikut mereka bekerja, jadi tau bagaimana rasanya jadi mereka. Jangan asal bicara!"Protes Doni tidak suka.
"Ah malas!. Buat apa juga?. Mereka nya saja yang bo..
Plak!
Plak!
Bruk!
"Iksan ada apa?" Reaksi Doni penasaran.Tapi Iksan tak bisa menjawabnya, karena sudah pingsan.
"Mulut mu harimau mu. Rasain itu!" Respon Doni sedikit senang, biar Iksan mendapatkan hukumannya.
Selama ini, sekuriti yang bernama Iksan itu, memang suka bermulut ember. Semua yang tidak berkenan di hatinya, pasti akan digosipkan, termasuk karyawan Arya yang sedang bekerja itu
Hari ini dia mendapatkan bala nya, akibat ditampar oleh Arga, karena Arga merasa tidak senang, saat anak buahnya di anggap tidak waras oleh sekuriti hotel, yang sedang berjaga di pos mereka.
"Ih serem!. Aku kok jadi merinding ya?. Ada apa?" Tanya Doni pada diri sendiri. Lalu membangunkan temannya untuk berjaga kembali.
__ADS_1