Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Perdebatan sengit


__ADS_3

"Salam yang mulia!. Pemimpin tertinggi negara Naga, kembali mengirim peralatan tempur ke wilayah anda!"


"Jika ini dibiarkan. Kami khawatir akan membuat tentara di negara ini bereaksi, dan sudah pasti akan memicu peperangan bersekala besar."


"Apa tidak sebaiknya kita kerahkan segenap kekuatan kita, untuk mengantisipasi serangan itu yang mulia?" ujar Yang Cha pada tuannya.


"Itu sudah pasti! Tapi tolong laporkan dulu, apakah pilot pesawat yang pesawatnya tertembak itu sudah siuman?" reaksi Arya.


"Sudah yang mulia! Bahkan sudah kembali ke kesatuannya." jawab Yang Cha apa adanya.


"Bagus! Aku senang mendengar itu!" respon Arya." Lalu empat belas pesawat lainnya bagaimana? Apa sudah dikembalikan ke tempat semula?" tanya Arya.


"Sudah juga yang mulia! Kondisi mental mereka sudah dipulihkan, setelah mengalami distorsi badai ruang. Namun ada satu orang yang kondisinya belum stabil. dan sedang dalam perawatan." lapor Yang Cha.


"Hemm! Ternyata begitu?" Reaksi Arya biasa saja. Diam dan seperti sedang berpikir untuk mengantisipasi sesuatu. Lalu tak lama kemudian melanjutkan kembali perkataannya," Mengenai rencana mereka untuk menyerang negara ini jangan dirisaukan!"


"Kali ini aku yang akan turun tangan. Namun sebelum aku ke sana. Buat tujuh lapisan formasi, untuk mencegah peperangan terjadi!"


"Sebisa mungkin kita berusaha, agar peralatan tempur itu tidak memasuki perairan kita, serta menyadarkan mereka, bahwa kita tidak mudah untuk diintimidasi!" jawab Arya.


"Dimengerti yang mulia!" balas Yang Cha. Lalu meminta izin untuk berlalu, dengan tujuan untuk menemui rajanya.


"Bagus! Pergilah!" reaksi Arya.


"Baik!" jawab Yang Cha patuh. Kemudian menghilang begitu saja.


***


"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa pilot pesawat yang sudah tertembak itu bisa selamat, dan kondisinya sekarang sudah segar bugar?"


"Ditambah lagi, empat belas pesawat tempur berikut pilotnya bisa berada di pangkalan dalam sekejap mata. Keajaiban apa ini sebenarnya?" ujar panglima angkatan bersenjata Nusantara pada para bawahannya.


"Kami juga tidak paham jenderal Tama! Kejadian ini begitu nyata, yang terjadi di depan mata kita."


"Dunia juga tahu, bahwa pesawat tersebut telah tertembak jatuh, dan empat belas pesawat lainnya menghilang begitu saja?"


"Andai mereka tahu bahwa pesawat pesawat berikut pilotnya tidak apa apa. Pasti mereka akan menanyakan ini pada kita?"


"Jadi apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasinya jenderal?" jawab bawahannya kebingungan. Namun melontarkan pertanyaan pada atasannya pula.

__ADS_1


"Untuk sementara kita diamkan dulu. Kita tunggu perkembangannya. Kalau mereka tidak bertanya, ya kita diam saja, dan bersikap seolah olah tidak mengetahui apa apa seperti mereka." jawab kepala angkatan bersenjata cuek saja.


***


Ditempat lain. Ketua dewan perserikatan bangsa bangsa, yang kebetulan dijabat oleh perwakilan dari negara Naga, mati matian meminta dukungan dari dunia, untuk menuntut balas atas meledaknya 35 pesawat tempur mereka. Hal itu sengaja dilakukan, karena ketua itu mendapat tekanan dari pemimpinnya.


Jadi begitu mendengar arahan itu. Dia segera mengumpulkan perwakilan dari ratusan negara, yang duduk sebagai anggota tetap dunia, untuk membahas permasalahan tersebut. Demi untuk memberi dukungan pada mereka.


Negara Naga masih bersikukuh, bahwa kesalahan itu ada pada pihak Nusantara, karena telah berani mengambil pulau Permata juga pulau Angsana, tanpa ijin dari mereka.


Bagi mereka, dua pulau itu masih masuk wilayah teritorial kekaisaran mereka, dan itu sudah ada sejak lama.


Namun keinginan tersebut ditentang oleh beberapa negara, yang selama ini mendukung Nusantara, untuk mempertahankan wilayahnya.


Mengenai meledaknya puluhan pesawat tersebut, itu bukan kesalahan Nusantara. Tapi kesalahan mereka sendiri. Karena dengan sengaja memprovokasi negara lain, dan memasuki wilayahnya.


Tindakan tersebut tentu saja dikecam oleh dunia, dan mereka mendesak agar negara Naga segera menarik balik pasukannya. Selain itu. Mereka juga tahu, bahwa yang salah bukanlah pihak Nusantara, tapi pihak Naga. Karena dengan sengaja memasuki wilayah udara Nusantara, dengan niat untuk menakut nakuti mereka, agar kepemilikan pulau Permata juga pulau Angsana menjadi milik mereka. Sekaligus menguasai bahan tambang yang terpendam di dalamnya.


"Kami tetap tidak setuju dengan tindakan main hakim sendiri! Sudah jelas dua pulau itu milik Nusantara, tapi negara Naga mengklaim bahwa itu milik mereka!"


"Sejarah juga mencatat, bahwa sejak jaman kerajaan Srirama dan Majhendra. Dua pulau itu, bahkan tiga pulau yang tak jauh darinya merupakan milik Nusantara!"


"Jadi tidak ada alasan kalau negara Naga mengatakan, bahwa dua pulau yang sedang disengketakan itu milik mereka?"


"Kalau permasalahan meledaknya puluhan pesawat itu, serta matinya mesin mesin kapal perang mereka, itu bukan kesalahan kami, Karena peralatan tersebut masih berada diperairan internasional."


"Namun pesawat yang meledak itu kami akui telah masuk wilayah udara kami, dan itu jelas tidak diketahui sebabnya."


"Tapi yang perlu kalian tahu, bahwa kami tidak akan membiarkan negara manapun datang untuk merendahkan Nusantara!"


"Jika itu terjadi. Maka seluruh rakyat dan tentara akan membelanya!" ujar menteri luar negeri Nusantara cukup berwibawa.


Pidatonya tersebut tentu saja menarik perhatian peserta sidang, yang notabenenya dari negara yang tidak begitu menyukai Nusantara. Namun karena mereka tahu bahwa menteri yang barusan berbicara itu adalah orang kuat. Jadi sebagian besar peserta hanya diam saja, dan tidak berusaha untuk membantahnya.


"Namun bagaimanapun. Sejarah kekaisaran kami, dulunya adalah penguasa delapan pulau, yang langsung berbatasan dengan teritorial laut kami. Kebetulan pula berdekatan dengan wilayah Nusantara!"


"Jadi delapan pulau itu, kecuali pulau Angsa, adalah wilayah kami. dan anda tidak pantas berkata begitu.Karena sejarah negara kami mencatat, bahwa Nusantara telah melanggar, serta merampas sebagian besar wilayah kami!" bantah ketua PBB itu sangat percaya diri.


"Tidak! Anda jangan mengada ada! Kalau benar delapan pulau itu wilayah anda. Tolong tunjukkan bukti bukti yang mendukungnya. Bukan asal bicara saja!" bantah menteri luar negeri Nusantara pula.

__ADS_1


"Untuk saat ini memang belum. Tapi sebentar lagi anda akan melihatnya. Tunggu saja!" balas perwakilan itu masih terkesan jumawa.


Tak lama setelah dia bicara itu. Entah darimana asalnya. Tiba tiba diruangan sidang yang cukup luas itu. muncul layar virtual yang cukup besar, menampilkan peristiwa yang sedang terjadi di perbatasan udara pulau angsa dan sekitarnya. Dimana ratusan puluhan pesawat tempur asing, berusaha memasuki wilayah Nusantara.


Logo yang tertera di body pesawat adalah gambar naga. Berarti puluhan pesawat pesawat tersebut berasal dari negara naga.


Selain menampilkan puluhan pesawat tersebut. Layar putih besar itu juga menampilkan enam kapal induk, serta puluhan kapal perang, sedang berlabuh di perairan laut lepas. Namun yang anehnya, tidak terlihat aktifitas disana.


"Kalian lihatlah! Negara Naga berniat menyerang kami, dengan persenjataan lengkap. Bahkan mengerahkan enam kapal induknya, serta puluhan pesawat tempur. dan sekarang berusaha memasuki wilayah udara Nusantara kami!"


"Tindakan mereka itu apakah harus kami diamkan, dan membiarkan mereka melintas bebas di wilayah udara negara kami?. Jawabannya tentu saja tidak!"


"Kami akan melawan, walau kami sadar akhirnya akan kalah. Namun sebagai bangsa yang bermartabat, tidak sejengkal tanah pun akan kami ijinkan untuk direbut, walau harus bertaruh nyawa!"


Boom!


Baru saja menteri luar negeri Nusantara mengajukan pembelaan. Dilayar virtual yang terpampang di depan mata mereka memperlihatkan. Belasan pesawat tempur pihak Naga meledak, tanpa diketahui penyebabnya.


Namun yang anehnya. Pilot yang menerbangkannya sudah tidak ada di dalam pesawat itu. Mereka tanpa disadari telah dipindahkan ke tempat lain, serta dikumpulkan disana.


"Apa yang terjadi? Bagaimana pesawat kami bisa meledak di udara, tanpa ada tanda tanda di tembak?. Apa ada sesuatu di sana?" Ujar ketua keamanan Badan Perserikatan Bangsa Bangsa dunia keheranan.


Tapi tidak ada satupun yang berusaha untuk menjawab. Mereka asik melihat puluhan pesawat tempur itu meledak di udara. Disusul oleh puluhan kapal perang yang juga meledak tanpa diketahui penyebabnya.


Bahkan enam kapal induk yang selalu dibanggakan oleh negara Naga. Satu persatu tenggelam ke dasar laut, tanpa sempat untuk diselamatkan.


"Mustahil! Puluhan pesawat tempur, dan puluhan kapal perang hancur begitu saja! Malah enam kapal induk yang begitu besar pun raib ke dasar laut. Ada sebenarnya?" ujar ketua PBB itu tidak mau terima.


"Itulah akibat karena telah berani memprovokasi kami.Tanpa kami turun tangan pun. Peralatan perang yang begitu banyak bisa hancur begitu saja."


"Untuk kalian ketahui! Wilayah udara, laut dan darat negara kami. kemungkinan telah dilindungi oleh kekuatan yang kasat mata, yang entah bagaimana bisa terpasang disana?"


"Kemungkinan itu karena penjaga nya tidak terima, karena ada sebuah negara yang ingin mengusik mereka. Jadi terima saja kehancuran itu. Percuma melawan kami. Toh pada akhirnya hancur juga!" ucap menteri luar negeri bereaksi, serta meluapkan kekesalannya.


"Kurang ajar! Kalian akan kami tuntut, karena telah terbukti memerangi kami!"


Bugh!


Bamm!

__ADS_1


"Argh!"


"Ketua!"


__ADS_2