
"Arya!" Reaksi Theo merasa senang, saat musuh yang ingin di hancurkannya itu muncul di depannya
"Aku suka dengan keberanian mu itu!. Berani mendatangi ku hanya sendirian saja, tanpa menyertakan orang orang kuat tidak seperti mereka. Mana yang lainnya?" Tanya Theo meledek Arya.
"Aku sendiri saja sudah cukup, ditambah dengan dua anak buah ku ini."
"Hanya dengan mereka saja seluruh anak buah mu berikut markas mu ini bisa aku ratakan!" Jawab Arya cukup terkesan menantang.
"Hahahaha!. Jangan bercanda kau!. Aku master tingkat sembilan, yang jarang ada tandingannya, sedangkan kau itu apa?. Ha?" Reaksi Theo merasa tertantang.
"Aku hanya pemuda biasa, yang datang ingin menantang mu untuk berduel satu lawan satu." Jawab Arya berterus terang.
"Menantang duel?. Satu lawan satu?. Apakah kau mampu?" Respon Theo tambah penasaran.
"Mampu atau tidaknya bisa dibuktikan di lapangan itu. Jika kau kalah maka seluruh anak buah mu harus tunduk pada ku!"
"Tapi jika aku kalah maka..?"
"Tempat usaha mu berikut rumah mu akan menjadi milik ku?" Sambung Theo memotong persyaratan dari Arya.
"Boleh juga!. Harga properti ditambah dengan modal usahanya kurang lebih 15 milyar. Kalau hanya ditukar dengan anak buah mu saja sangat tidak sebanding dengan harganya."
"Jadi aku mau kau menyerahkan properti milik kalian pula, ditambah dengan aset-aset lainnya. Bagaimana?" Jawab Arya menyetujui persyaratan yang diajukan oleh calon lawannya itu.
"Kau bukan berada di posisi berhak untuk berunding dengan ku. Kau hanya kecoak busuk yang menjijikkan. jadi persyaratan ku aku tolak!" Jawab Theo pula.
"Kalau begitu aku juga menolak permintaan mu yang tidak masuk akal itu. Enak di awak sakik di urang!" Balas Arya menggunakan bahasa temannya.
"Kau sudah datang ke tempat ku, berarti apapun yang aku inginkan harus kau setujui. Sedangkan keinginan mu tidak."
"Sekarang bersiaplah. Sebentar lagi tempat usaha juga rumah mu itu akan menjadi milik ku!" Sambut Theo meremehkan Arya
"Sudah bau tanah tapi masih serakah juga. Kurang apalagi kau itu?"
"Usaha hotel di kota sebelah semakin maju.dua minimarket juga begitu. Ditambah dengan sepuluh penginapan kecil dan menengah kau juga punya. walau kau dapatkan dengan cara curang. dari hasil menekan pemilik aslinya, untuk menjual tempat itu dengan harga rendah?"
Sekarang kau menginginkan tempat usaha ku pula sebagai taruhan. Kau pikir aku bodoh apa?"
"Theo, Theo?. Prinsip ekonomi yang kau terapkan itu sungguh keterlaluan. Mau milik orang lain tapi pelit terhadap milik sendiri?"
"Kalau begini caranya aku pulang saja, dan membatalkan tantangan ku tadi. bagaimana?" Tanya Arya.
"Kau pikir bisa datang dan pergi seenaknya saja?. Jangan mimpi kau!" Jawab Theo merasa tersinggung. Kemudian turun dari tempat duduknya dan melompat ke tengah arena.
"Ayo kita bertarung!. Aku ingin melihat seberapa hebatnya kau?. Apakah bisa menghindari serangan kecil ku ini."
"Hiaaaa!"
Slash!
Bugh!
"Hugh!" Keluh seseorang seperti kesakitan. akibat terkena pukulan lawan.
"Lawan mu adalah aku Theo!. Jangan berani memprovokasi master ku!" Ujar penyerang itu merasa tidak senang
"Siapa kau?. Kenapa mencampuri urusan ku?" Reaksi Theo juga tidak senang.
"Kau sudah tak mengenal ku lagi murid ku. Aku guru mu yang akan mengantar mu ke neraka!" Jawab penyerang itu membuat lawan bicaranya gregetan
"Master Arya!. Serahkan ini pada ku, biar aku yang memberi pelajaran pada bocah itu. Anda tidak perlu turun tangan." Ucapnya para Arya.
"Hati hati master Teja. Dia petarung dengan level sembilan. Takutnya anda akan kewalahan menghadapinya." Respon Arya sekedar mengingatkan.
__ADS_1
"Anda tenang saja!. Level ku setingkat lebih rendah dari ya. tapi belum tentu kalah saat melawannya."
"Pengalaman ku jauh lebih banyak darinya. Jadi kemungkinan aku bisa menang darinya." Jawab orang yang dipanggil Teja itu merasa bangga.
"Kalau begitu baiklah!. Aku serahkan dia padamu. Tapi ingat!, saat merasa tidak kuat lagi segeralah mundur. Biar aku yang menghadapinya."
"Kalian pikir aku apa ha?. Barang mainan yang seenaknya saja bisa kalian mainkan?"
"Aku master sembilan kekuatan. Tidak akan mudah kalian kalahkan!"
"Terimalah ini!. Sembilan puluh sembilan pukulan!"
"Hiaaaa!"
Boom!
"Wah gawat!. Bos kita sudah sangat marah. alamat tempat ini akan hancur. Ayo kita menjauh, agar tidak terkena dampaknya." Reaksi anak buahnya mengingatkan. Lalu bergegas lari, agar tidak terlambat menyelamatkan diri.
Wus! Whus!.
Dari tubuh Theo keluar aura berbentuk lingkaran, memancar seperti sinar lampu dari kendaraan besar, hingga menambah tempat itu menjadi terang benderang.
Jaka yang melihat itu sempat terpana diam. Dia berpikir, itukah kekuatan master level sembilan?. Jika benar begitu alamat dia akan keteteran.
"Hiaaaa!"
Bamm!
Swush!
Plak!
Bugh!
Bamm!
Jadinya ada setitik darah segar, yang keluar dari sudut bibirnya itu, yang menandakan bahwa dua kalah.
Huh!. Kekuatan baru seumur jagung, berulah ingin mengalahkan ku!. Guru mu saja belum tentu mampu!"
"Benarkah?" Jawab seseorang yang tiba tiba muncul itu cukup mengejutkan.
"Master Prana!. Ada apa gerangan kau datang ketempat ku malam malam begini. Apakah aku ada masalah dengan mu?" Reaksi Theo sedikit merasa khawatir.
"Yang kau kalahkan itu adalah murid ku. berarti kau telah merendahkan ku, karena baru saja aku mendengar, bahwa guru orang itu tidak mungkin mampu mengalahkan mu. makanya aku datang untuk membuktikannya." Jawab Prana yang kekuatannya berada dua tingkat diatas Theo.
"Apa. Si Jaka itu murid mu? sejak kapan?" Respon Theo penasaran.
"Sejak kau merendahkan jurus yang aku ajarkan padanya. Sejak saat itulah dia menjadi murid ku!" Jawab Prana berterus terang.
"Maksudku bukan begitu master, aku hanya..?"
"Ah sudah terlambat!. Rasakan kekuatan ku ini!"
"Teknik sembilan matahari!"
Blar!.
Bamm!
Dari tubuh Prana muncul siluet matahari yang berjumlah sembilan. Auranya sangat mengintimidasi sekali, dan membuat suasana yang tadinya sejuk menjadi panas
"Aneh!. Malam-malam begini bisa juga teknik seperti itu?, padahal matahari tidak ada?. Lalu darimana kekuatan yang keluar itu?" Batin Arya dalam hati.
__ADS_1
"Jangan terkejut tuan!. Kekuatan yang seperti itu tuan juga punya. Bahkan dampaknya jauh lebih mengerikan dari pada itu!"
"Teknik yang dia terapkan masih berada di level dasar, sedangkan tuan sudah berada di level puncak, sempurna lagi?" Bisik Arga para tuannya.
"Benarkah?. Kenapa aku tidak menyadarinya?" Respon Arya penasaran.
"Karena tuan fokus pada usaha tuan saja, tanpa berusaha untuk menguji kekuatan tuan. Maka jadinya begini." Jawab Arga berterus terang.
"Oh begitu?. Aku kira apa?" Reaksi Arya datar saja
"Hiaaaa!"
Dhuar!
Bugh!
"Ugh!" Keluh Theo kesakitan, saat tubuhnya dihantam oleh sebuah kekuatan besar yang dilancarkan oleh Prana dan telak mengenainya.
"Jangan lanjutkan!. Aku mengaku kalah!" Ucap Theo lemah kemudian ambruk ke tanah dengan nafas tersengal sengal.
Prana segera mendekatinya, dan ingin memastikan bahwa ucapan musuhnya itu benar. Tapi belum juga memeriksa, sebuah pukulan mendarat telak di dadanya, hingga membuatnya terjungkal ke belakang dan muntah darah.
Arya yang melihat itu, langsung berlari menuju Theo, dan menyerangnya dengan kekuatan yang sama, hingga membuat tubuh Theo cukup jauh dan berhenti saat menabrak dinding bangunan di belakangnya hingga membuatnya jebol
"Bos!"
"Bos!"
Seru beberapa anak buahnya ketakutan, saat melihat tubuh bosnya tidak bergerak lagi. Seperti orang yang sudah mati.
Segera setelah itu, bergegas mereka datang, untuk memeriksa kondisi bosnya. Dan benar saja nyawa Theo sudah melayang. Tapi Arya belum meyakininya.
"Minggir kalian!. Biar aku periksa bos kalian itu!" Ujarnya.
"Jangan macam macam!. Kami tahu kau lah yang telah membunuh bos kami ini. Jelas kami akan membahas dendam!" Reaksi anak buah Theo tidak senang
Kemudian berkelebat ke arah Arya dan ingin memukulnya. Tapi belum juga sampai, tubuhnya sudah dan terdorong mundur dan jatuh sesudahnya.
"Jangan berani kurang ajar pada bos kami!. Kalau kau ingin bertarung, hadapi aku dulu!" Ucap Dirga mberbist membela tuannya.
"Kak Dirga!. Ini bukan urusan mu!. Anak itu telah membunuh bos kita. Apakah kau hanya bisa tinggal diam saja?" Jawab salah seorang dari mereka, mencoba mempengaruhi seniornya dulu.
"Bos ku bukan dia tapi itu!" Reaksi Dirga tegas.
Tapi walau bagaimanapun, dia pernah menolong kita. saat diserang oleh kelompok lain. dengan adanya dia nyawa kita jadi terselamatkan?" Protes bawahan Durga dulu.
"Huh banyak bacot lu!"
Wus!
Bugh!
Bugh!
"Sekali lagi banyak bicara, aku habisi kalian!" Teriak Dirga kuat kuat.
"Minggir!. Bos ku ingin memeriksa kondisi pecundang itu. Siapa tau masih bisa diselamatkan?" Ucapnya garang.
"Silakan bos!." ujarnya pada Arya.
"Hemm! terima kasih! Respon Arya senang.
"Para master sekalian, kemari lah!. Aku ingin menunjukkan pada kalian, bagaimana caranya menyembuhkan pingsan yang seperti ini." Ucapnya.
__ADS_1